cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 21, No 4 (2019)" : 10 Documents clear
Hubungan Penggunaan Gawai dengan Keterlambatan Bahasa pada Anak Rae Fernandez; Hesti Lestari
Sari Pediatri Vol 21, No 4 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.4.2019.231-5

Abstract

Latar belakang. Gawai adalah perkembangan teknologi yang dapat menyebabkan ketergantungan penggunanya. Saat menggunakan gawai, anak-anak menjadi kurang interaktif dan komunikatif. Hal ini menyebabkan anak-anak mengalami keterlambatan perkembangan bahasa.Tujuan. Menganalisis hubungan antara intensitas penggunaan gawai dan keterlambatan bahasa pada anakMetode. Merupakan penelitian analitik potong lintang. Sampel adalah anak berusia 15 hingga 36 bulan di empat fasilitas penitipan anak usia dini di daerah Manado, periode Februari hingga April 2018. Kriteria inklusi adalah anak dengan berat lahir normal dan kelahiran cukup bulan. Kriteria eksklusi meliputi anak dengan cacat bawaan dan riwayat penyakit yang dapat memengaruhi perkembangan bahasa. Metode pengambilan sampel adalah purposive sampling. Intensitas penggunaan gawai yang disarankan adalah kurang dari 2 jam per hari, dan frekuensi kurang dari 2 hari per minggu. Keterlambatan bahasa didefinisikan menggunakan Skala CAPUTE, dengan DQ CLAMS <85. Metode analisis data yang digunakan adalah uji chi-square (nilai p<0,05).Hasil. Sampel terdiri dari 51 anak, 33 (62%) di antaranya adalah perempuan. Usia rata-rata adalah 2 tahun 5 bulan (SD 0,6). Didapatkan 3 (5,8%) anak mengalami keterlambatan bahasa, 10 (19,6%) anak menggunakan gawai lebih dari 2 jam per hari dan 36 (70,5%) anak menggunakan gawai lebih dari 2 hari per minggu. Ada hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan gawai lebih dari 2 jam dan keterlambatan bahasa (p=0,034), sementara tidak ada hubungan bermakna antara frekuensi penggunaan gawai lebih dari 2 hari per minggu dan keterlambatan bahasa (p=0,144).Kesimpulan. Didapati hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan gawai lebih dari 2 jam per hari dengan keterlambatan bahasa. Sebaliknya, tidak ada hubungan bermakna antara frekuensi penggunaan gawai lebih dari 2 hari per minggu dan keterlambatan bahasa.
Laporan Kasus Berbasis Bukti: Akurasi Modifikasi Skor Centor (McIsaac) dalam Mendeteksi Faringitis Grup A Streptokokus Agustina Kadaristiana; Afiffa Mardhotillah; Nia Kurniati
Sari Pediatri Vol 21, No 4 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.4.2019.253-61

Abstract

Latar belakang. Grup A streptokokus (GAS) merupakan penyebab utama faringitis bakterialis pada anak yang dapat menyebabkan komplikasi serius. Sayangnya, kultur swab tenggorok tidak selalu tersedia di fasilitas kesehatan yang terbatas. Tujuan. Mengetahui akurasi modifikasi skor Centor (McIsaac) dibandigkan dengan kultur swab tenggorok dalam mendiagnosis faringitis GAS pada anak dengan nyeri tenggorok. Metode. Penelusuran literatur dilakukan oleh dua orang melalui PubMed, Cochrane Library, dan DOAJ untuk mencari penelitian yang relevan. Kata teks dan MeSH digunakan dalam pencarian studi. Hasil. Tiga studi memenuhi kriteria eligibilitas, namun hanya dua studi yang valid. Sensitivitas modifikasi skor Centor (McIsaac) ≥4 berkisar antara 30,4%–66,7%. Sementara itu, spesifisitasnya memiliki rentang antara 69,6%–87,6%. Area under the curve (AUC) skor McIsaac adalah 78,1%. Kesimpulan. Modifikasi skor Centor (McIsaac) ≥4 memiliki spesifisitas yang tinggi sehingga baik untuk mengidentifikasi faringitis GAS. Skor McIsaac bermanfaat sebagai tes triage yang menentukan perlu atau tidaknya kultur swab tenggorok.
Feritin Cairan Serebrospinal sebagai Biomarker untuk Membedakan Meningitis Bakterialis dan Meningitis Tuberkulosis pada Anak Fitria Nuraeni; Dzulfikar DLH; Purboyo Solek
Sari Pediatri Vol 21, No 4 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.4.2019.246-52

Abstract

Latar belakang. Meningitis adalah salah satu penyakit yang memiliki tingkat mortalitas dan morbiditas tinggi. Setiap jenis meningitis memiliki karakteristik masing-masing, tetapi gejala dan tanda klinis serta temuan laboratorium sering tumpang tindih. Feritin sebagai penanda biologis potensial yang diduga dapat membedakan antara meningitis bakterialis dan tuberkulosis untuk pemberian antibiotik secara cepat dan tepat.Tujuan. Membedakan kadar feritin cairan serebrospinal (CSS) antara meningitis bakterialis dan meningitis tuberkulosis pada anak.Metode. Penelitian komparatif potong lintang di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Maret 2019. Bahan penelitian menggunakan CSS bahan biologis tersimpan anak usia 1 bulan−18 tahun yang masing-masing telah didiagnosis meningitis bakterialis dan tuberkulosis. Kadar feritin CSS diperiksa menggunakan metode two-site sandwich immunoassay. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney, tingkat kemaknaan hasil uji ditentukan berdasarkan nilai p<0,05.Hasil. Di antara 46 bahan penelitian, 24 laki-laki, median usia 7 tahun (1 bulan−17 tahun). Dari data karakteristik tidak didapatkan perbedaan yang bermakna. Terdapat perbedaan bermakna kadar feritin CSS meningitis bakterialis dan tuberkulosis (p<0,001). Median kadar ferritin CSS pada kelompok meningitis bakterialis 4,18 ng/mL(1,30–24,26), lebih rendah dibandingkan pada kelompok tuberkulosis sebesar 15,47 ng/mL dengan rentang (1,60–1.069,96).Kesimpulan. Terdapat perbedaan bermakna kadar feritin CSS antara kelompok meningitis bakterialis dan meningitis tuberkulosis pada anak.
Hubungan antara Nilai C−Reactive Protein, Immature To Total Neutrophil Ratio, dan Red Cell Distribution Width dengan Kejadian Sepsis Neonatorum Bayi Prematur Fouad Hakiem; Susi Susanah; Tetty Yuniati
Sari Pediatri Vol 21, No 4 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.4.2019.218-25

Abstract

Latar belakang. Bayi prematur rentan terhadap infeksi yang berisiko sepsis akibat sistem imun yang belum sempurna. Deteksi dini sepsis neonatorum dapat dilakukan dengan menggunakan sistem penilaian modifikasi Tollner yang berdasarkan penilaian klinis dan parameter laboratorium, seperti C-Reactive Protein (CRP), rasio Immature to Total Neutrophil (rasio I/T), dan Red Cell Distribution Width (RDW). Pemeriksaan RDW menunjukkan heterogenitas eritrosit akibat detruksi eritrosit oleh suatu proses infeksi.Tujuan. Mengetahui hubungan antara nilai CRP, rasio I/T, dan RDW dengan kejadian sepsis neonatorum bayi prematur. Metode. Studi kasus kontrol menggunakan data sekunder rekam medis dengan subjek penelitian bayi prematur usia gestasi 28-<37 minggu yang dirawat di ruang neonatus Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) periode Desember 2018−Mei 2019. Kelompok kasus adalah bayi prematur sepsis, sedangkan kelompok kontrol adalah bayi prematur sakit tidak sepsis yang dilakukan pemeriksaan CRP, rasio I/T, dan RDW. Data dianalisis secara bivariat dan multivariat dengan regresi logistik menggunakan program SPSS dan STATA.Hasil. Penelitian ini melibatkan 30 bayi prematur sepsis dan 30 bayi prematur tidak sakit (kontrol). Analisis bivariat menunjukkan nilai CRP dan rasio IT berhubungan bermakna terhadap kejadian sepsis dengan masing-masing p<0,001 dan p<0,011. Analisis multivariat dengan regresi logistik menunjukkan nilai CRP >0,64 mg/dL berisiko 32 kali terhadap kejadian sepsis (p<0,001) dibandingkan rasio I/T >0,119 dan RDW >18,7% yang masing-masing 3,2 kali (p=0,446) dan 0,9 kali (p=0,947) terhadap kejadian sepsis.Kesimpulan. Pemeriksaan CRP merupakan pemeriksaan yang lebih baik dalam membantu menegakkan diagnosis sepsis neonatorum bayi prematur dibandingkan pemeriksaan rasio I/T dan RDW.
Pengaruh Kadar Protein Susu Formula terhadap Status Gizi Lebih Usia 3 hingga 5 bulan Noor Anggrainy Retnowati; Endang Dewi Lestari; Ganung Harsono
Sari Pediatri Vol 21, No 4 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.4.2019.226-30

Abstract

Latar belakang. Ibu berkerja dan merasa ASI tidak mencukupi kebutuhan menjadi alasan di kalangan masyarakarat pemberiaan susu formula difortifikasi zat besi sebagai pengganti ASI. Data statistik Surakarta, prevalensi wanita bekerja meningkat dan mempengaruhi pemberiaan ASI eksklusif. Pemberiaan protein awal kehidupan yang berlebih berdampak gizi lebih. Tujuan. Untuk mengetahui pengaruh kadar protein terhadap status gizi.Metode. Penelitian merupakan studi potong lintang. Subjek berusia 3 sampai 5 bulan di Posyandu Kecamatan Banjarsari, Laweyan dan Jebres antara April hingga Oktober 2018. Hubungan antar variabel dianalisis menggunakan uji chi square dan uji regresi logistik multivariat. Hasil. Uji regresi logistic multivariat menunjukkan kadar protein, frekuensi pemberiaan >12 kali/hari dan ukuran botol >180 ml berpengaruh terhadap gizi lebih. Kesimpulan. Status gizi lebih pada usia 3 hingga 5 bulan dipengaruhi kadar protein, frekuensi pemberiaan susu, dan ukuran botol.
Hubungan antara Kadar 25-OH D3 dengan Derajat Fungsi Ginjal pada Pasien Lupus Sistemik Eritematosus Aninditya Dwi Messaurina; Agung Triono; Retno Palupi Baroto; Cahya Dewi Satria; Sumadiono Sumadiono
Sari Pediatri Vol 21, No 4 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.4.2019.213-7

Abstract

Latar belakang. Defisiensi vitamin D banyak ditemukan pada anak lupus eritematosus sistemik (LSE) dibandingkan dengan anak normal. Berbagai penelitian membuktikan defisiensi vitamin D berkontribusi terhadap perkembangan chronic kidney disease. Belum ada penelitian hubungan vitamin D dengan derajat fungsi ginjal pada anak Lupus. Tujuan. Mengetahui hubungan antara 25-hidroksivitamin D dengan derajat fungsi ginjal pada anak Lupus.Metode. Menggunakan desain cross sectional dengan melibatkan 62 anak Lupus di bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr. Sardjito yang telah mendapatkan protokol dari Januari 2014 sampai April 2018. Hubungan antara kadar serum 25-hidroksivitamin D dan derajat fungsi ginjal dianalisis menggunakan Independent T-test, sedangkan jenis kelamin, kalsium, steroid, dan aktivitas penyakit dengan uji chi-square. Defisiensi vitamin D didefinisikan konsentrasi 25-hidroksivitamin D<20 ng/ml, sedangkan gangguan ginjal didefinisikan GFR<90/ml/mnt/1.73m2.Hasil. Sebagian besar subyek berjenis kelamin perempuan, 93,5% vs 6,5% dengan rerata usia 14,6±3,1 tahun, dan rerata skor Mex-SLEDAI 7,6±5,6. Secara keseluruhan 66% subyek penelitian mengalami defisiensi vitamin D. Analisis dengan Independent T-tes menunjukkan rerata vitamin D yang mengalami gangguan ginjal 14,14±4,9 lebih rendah dibandingkan normal dengan rerata 19,43±10,3 dengan perbedaan yang bermakna p=0,004. Jenis kelamin, kalsium, steroid, dan aktivitas penyakit tidak berpengaruh signifikan terhadap derajat fungsi ginjal, p>0,05.Kesimpulan. Terdapat hubungan signifikan 25-hidroksivitamin D dengan derajat fungsi ginjal pada anak lupus.
Pengaruh Transfusi Sel Darah Merah Terhadap Perubahan Kadar Kalium pada Pasien Thalassemia Mayor Sacharissa Ardelia Larasati; Muhammad Riza
Sari Pediatri Vol 21, No 4 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.4.2019.241-5

Abstract

Latar belakang. Pada sebagian besar penderita thalassemia mayor, diindikasikan transfusi darah seumur hidup karena adanya proses hemolitik yang terjadi terus menerus. Pemberian produk darah mengandung beberapa unsur yang berisiko dan berpotensi menimbulkan efek samping. Metabolisme sel darah merah selama penyimpanan dapat menyebabkan kebocoran pada membran sel darah merah sehingga terjadi peningkatan kadar kalium.Tujuan. Menganalisis pengaruh transfusi sel darah merah terhadap perubahan kadar kalium pada pasien thalassemia mayor.Metode. Penelitian dilakukan di ruang perawatan hematologi anak RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada bulan April-Mei 2018. Subjek penelitian sebanyak 50 pasien diambil secara konsekutif sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Pasien thalassemia mayor yang mendapatkan transfusi darah terakhir pada saat rawat inap, dilakukan pemeriksaan kadar elektrolit kalium sebelum dan setelah transfusi sel darah merah. Data diolah dengan SPSS 17.0. Analisis untuk menilai hubungan kedua variabel menggunakan uji wilcoxon rank test.Hasil. Didapatkan pengaruh transfusi sel darah merah terhadap perubahan kadar kalium pada pasien thalassemia mayor. Nilai rata-rata kadar kalium sebelum transfusi (pre) adalah 3,83±0,45 dan rata-rata kadar kalium setelah transfusi (post) adalah 3,93+0,47. Ada kecenderungan peningkatan kadar kalium sebesar 2,6% (p =0,064) dan tidak ada yang menimbulkan hiperkalemia (K >5 mmol/L). Kesimpulan. Terdapat pengaruh transfusi sel darah merah terhadap perubahan kadar kalium pada pasien thalassemia mayor, meskipun secara statistik tidak signifikan. 
Optimalisasi Pertumbuhan Bayi Prematur dan Pasca Prematur di Indonesia; Mengacu pada Pedoman Nutrisi Bayi Prematur di RSCM Rinawati Rohsiswatmo; Radhian Amandito
Sari Pediatri Vol 21, No 4 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.4.2019.262-70

Abstract

Bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadinya gagal tumbuh dan gagal kembang dibandingkan bayi aterm. Intervensi yang diperlukan penting terutama selama 1000 hari pertama kelahiran. Risiko penyakit metabolik, obesitas, penyakit kardiovaskuler, gangguan tumbuh kembang, merupakan beberapa dari dampak negatif bila pemberian nutrisi yang ridak optimal di 1000 hari pertama. Indonesia merupakan salah satu negara dengan masalah stunting. Stunting bisa dicegah dengan pemberian nutrisi yang adekuat serta pemantauan rutin yang baik dengan grafik khusus bayi prematur. Selama perawatan, dokter anak harus sudah bisa memberikan nutrisi enteral dan parenteral yang agresif untuk mencegah extra-uterine growth restriction (EUGR). Sedangkan setelah pulang, pilihan susu yang tepat sangat penting untuk mencegah gagal tumbuh dan stunting. Di Indonesia tersedia berbagai jenis susu formula dan human milk fortifier untuk membantu bayi yang masih mendapatkan ASI dan berusia di bawah usia koreksi 40 minggu. Bila ASI dan human milk fortifier tidak sesuai, maka pemberian susu formula dapat dipilih dari susu formula standar (20kkal/30ml), formula prematur (24kkal/30 ml), dan formula 22kkal/30ml. Ketiga produk ini masih digunakan secara bergantian di Indonesia. Penentuan produk susu formula berhubungan dengan kondisi klinis dan kebutuhan kalori, serta perlu dipantaunya target kenaikan berat badan yang tampak dari kurva pertumbuhan yang tepat sesuai usia, jenis kelamin, dan usia gestasional. Data dari RSCM menunjukkan bahwa pada bayi dengan ASI eksklusif yang mengalami gagal tumbuh, pemberian susu 22kkal/30ml menyebabkan peningkatan persentil dan mencegah penurunan lebih lanjut. Saat ini, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo telah menyusun panduan untuk memudahkan dokter anak menentukan pemberian nutrisi dari hari pertama kelahiran di rumah sakit, selama perawatan, dan setelah pulang dari keperawatan.
Faktor Risiko Peningkatan Kadar Enzim Alanine Aminotransferase dan Aspartate Aminotransferase pada Human Immunodeficiency Virus Anak dalam Terapi Kombinasi Antiretroviral Lini Pertama Cempaka Kesumaningtyas; Bambang Soebagyo; Ganung Harsono
Sari Pediatri Vol 21, No 4 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.4.2019.236-40

Abstract

Latar belakang. Memiliki harapan hidup yang lebih panjang dan perlunya pengendalian replikasi virus dalam jangka waktu yang lama, anak dengan infeksi HIV dalam terapi kombinasi antiretroviral sangat berisiko terjadi hepatotoksisitas imbas obat.Tujuan. Mengetahui angka kejadian peningkatan kadar enzim AST dan ALT serta faktor yang memengaruhi kadar enzim tersebut pada kasus HIV anak dalam terapi kombinasi antiretroviral lini pertama di RS Dr. Moewardi SoloMetode. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Jumlah subyek penelitian 35 anak. Data subyek penelitian diambil dari data rekam medis, dilakukan pengukuran antropometri serta pemeriksaan enzim AST, ALT, dan kadar CD4 pada setiap subyek. Kemudian data dianalisis dengan program SPSS 25.Hasil. Peningkatan kadar enzim AST dan ALT sebesar 22,9% dan 8,6%. Didapatkan hubungan bermakna (p=0,004) pada kadar ALT dengan jenis kelamin, tidak didapatkan hubungan terhadap usia, status nutrisi, lama penggunaan antiretroviral, terapi antituberkulosis, terapi kotrimoksasol, status imunodefisiensi, serta kombinasi obat antiretroviral. Kesimpulan. Angka kejadian peningkatan enzim AST dan ALT adalah 22,9% dan 8,6%. Didapatkan hubungan bermakna jenis kelamin dengan kadar ALT, peningkatan kadar ALT yang bermakna terjadi pada jenis kelamin perempuan. Tidak didapatkan hubungan peningkatan enzim AST dan ALT terhadap usia, status nutrisi, lama penggunaan antiretroviral, terapi anti tuberkulosis, terapi kotrimoksasol, status imunodefisiensi, serta kombinasi obat antiretroviral.
Pengaruh Pemberian Dadih Terhadap Keseimbangan Mikroflora Usus dan Tinggi Vili Ileum Yusri Dianne Jurnalis
Sari Pediatri Vol 21, No 4 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.4.2019.207-12

Abstract

Latar belakang. Saat ini dikembangkan paradigma baru bahwa probiotik dapat menjadi suplemen terapi diare. Di Sumatera Barat sendiri dikenal probiotik tradisional, yaitu dadih yang merupakan produk susu kerbau fermentasi.Tujuan. Menilai pengaruh pemberian dadih terhadap keseimbangan mikroflora dan tinggi vili ileum mencit diare yang diinduksi dengan Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC).Metode. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan randomized post test only control group. Sampel adalah 30 ekor mencit diinduksi dengan bakteri EPEC. Penelitian dilakukan pada Juni 2016 sampai Mei 2017.Hasil. Rerata total koloni bakteri asam laktat (BAL) meningkat pada kelompok perlakuan dibandingkan dengan kontrol positif dan kontrol negatif (p<0,05). Rerata total koloni bakteri patogen dan E.coli menurun pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol positif dan kontrol negatif (p=0,001). Tinggi vili ileum tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Namun, pada kelompok perlakuan gambaran histopatologis menunjukkan destruksi epitel hanya 30% dan terjadinya reaksi imunologis terhadap infeksi EPEC dibuktikan dengan ditemukannya proliferasi limfoid dilapisan submukosa vili ileum.Kesimpulan. Terdapat pengaruh pemberian dadih terhadap keseimbangan mikroflora, tetapi tidak berpengaruh pada tinggi vili ileum.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue