cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Hubungan Kadar Hemoglobin dengan Kejang Demam pada Anak yang Disebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut: Studi Kasus Kontrol Amalia Aswin; Annisa Muhyi; Nurul Hasanah
Sari Pediatri Vol 20, No 5 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.108 KB) | DOI: 10.14238/sp20.5.2019.270-5

Abstract

Latar belakang. Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada anak berusia 6 bulan sampai 5 tahun tanpa disebabkan oleh proses intrakranial. Kejang demam merupakan kelainan neurologi tersering yang dijumpai pada anak.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan kadar hemoglobin dengan kejang demam pada anak yang disebabkan ISPA.Metode. Penelitian analitik observasional dengan desain kasus kontrol. Data diambil dari rekam medik di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda tahun 2016-2017 menggunakan teknik purposive sampling. Variabel bebas adalah kadar hemoglobin, sedangkan variabel tergantung adalah kejang demam yang disebabkan ISPA. Analisis statistik menggunakan uji t tidak berpasangan dan chi-square (x2), kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p<0,05. Hasil. Didapatkan sebanyak 62 pasien dengan rincian 31 kejang demam dan 31 demam tanpa kejang. Prevalensi kejang demam pada anak laki-laki 71%, sedangkan perempuan 29%. Angka kejadian terbanyak kejang demam adalah usia 0-12 bulan dan gizi baik. Berdasarkan analisis data menggunakan uji t tidak berpasangan didapatkan rata-rata kadar hemoglobin pada kejang demam adalah 11,04 g/dL dan demam tanpa kejang 11,6 g/dL (p=0,023). Pada uji chi-square (x2), menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara kadar hemoglobin dengan kejang demam yang disebabkan ISPA (p=0,032, OR=3,906)Kesimpulan. Terdapat hubungan kadar hemoglobin dengan kejang demam pada anak yang disebabkan ISPA.
Faktor Risiko Obstructive Sleep Apnea pada Anak Sindrom Down​ Dewi Kartika Suryani; Bambang Supriyatno; Mulya Rahma Karyanti; Zakiudin Munasir; Sudung O. Pardede; Dina Muktiarti
Sari Pediatri Vol 20, No 5 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.055 KB) | DOI: 10.14238/sp20.5.2019.295-302

Abstract

Latar belakang. Sindrom Down merupakan kelainan kromosom tersering. Anak dengan sindrom Down (SD) di berbagai negara memiliki beberapa faktor risiko terhadap OSA dengan prevalensii antara 30%-60%, dibandingkan 0,7%-2% pada populasi umum. Hingga saat ini belum ada data mengenai OSA pada anak sindrom Down di Indonesia. Tujuan. Mengidentifikasi prevalensi OSA pada anak sindrom Down dan menganalisis hubungan antara habitual snoring, obesitas, penyakit alergi di saluran napas, hipertrofi tonsil, dan hipertrofi adenoid sebagai faktor risiko OSA pada anak sindrom Down. Metode. Penelitian potong lintang dilakukan pada anak sindrom Down berusia 3-18 tahun yang tergabung dalam Yayasan POTADS. Penelitian dilakukan di Poliklinik Respirologi IKA FKUI RSCM dari bulan Juli 2016 hingga Juli 2017. Penegakan diagnosis OSA menggunakan nilai batas AHI≥3 pada pemeriksaan poligrafi. Faktor- risiko yang dianggap berpengaruh dianalisis secara multivariat. Hasil. Penelitian dilakukan terhadap 42 subjek dengan hasil prevalensi OSA pada anak dengan SD 61,9%. Sebesar 42,9% merupakan OSA derajat ringan, 14,3% OSA sedang, dan 4,8% OSA berat. Pada analisis multivariat didapatkan faktor risiko yang bermakna yaitu habitual snoring (p=0,022 dan PR 8,85; IK 1,37-57) dan hipertrofi adenoid (p=0,006 dan PR 12,93; IK 2,09-79). Kesimpulan. Prevalensi OSA pada anak sindrom Down sebesar 61,9%. Faktor risiko yang bermakna yaitu habitual snoring dan hipertrofi adenoid.
Kadar Transforming Growth Factor β-1 Urin pada Berbagai Keadaan Proteinuria Partini P. Trihono; Husein Alatas; Taralan Tambunan; Sudigdo Sastroasmoro
Sari Pediatri Vol 20, No 5 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.14 KB) | DOI: 10.14238/sp20.5.2019.309-15

Abstract

Latar belakang. Proteinuria masif pada sindrom nefrotik (SN) akan menginduksi suatu rentetan reaksi biologis di tubular proksimal. Reaksi ini mengaktivasi peptida vasoaktif dan produksi sitokin, seperti TGF-β1. Di dalam urin, TGF-β1 urin merupakan sitokin fibrogenik yang pluripoten, yang melalui beberapa patomekanisme menyebabkan fibrosis interstisial dan glomerulosklerosis yang pada akhirnya menimbulkan gagal ginjal.Tujuan. Mengetahui kadar TGF-β1 urin pada berbagai keadaan proteinuria, yakni pada anak dengan sindrom nefrotik sensitif steroid (SNSS), dalam keadaan remisi maupun relaps, dan pada anak dengan sindrom nefrotik resisten steroid (SNRS). Metode. Penelitian dengan desain potong lintang ini dilakukan di 8 pusat ginjal anak di Indonesia. Subyek penelitian ini terdiri atas 34 anak dengan SNSS steroid remisi, 31 anak dengan relaps, 55 anak dengan SNRS, dan 35 anak tanpa penyakit ginjal sebagai kontrol. Kadar proteinuria dan TGF-β1 urin diperiksa pada sampel urin sewaktu yang diambil pagi hari. Kadar TGF-β1 urin diperiksa dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (Quantikine kit for human TGF-β1 immuno assay; R&D Systems, Mineapolis, MN). Kadar proteinuria kuantitatif diperiksa dengan cara kolorimetri (Randox kit; Randox Laboratories, United Kingdom)Hasil. Kadar proteinuria tertinggi didapatkan pada SN relaps, yang secara bermakna lebih tinggi daripada kadar SNRS. Namun, kadar TGF-β1 urin pada SN relaps sama tinggi dengan kadarnya pada SNRS yang secara bermakna lebih tinggi daripada kadarnya pada SN remisi. Kadar TGF-β1 urin pada SN remisi tidak berbeda dengan kadarnya pada anak tanpa penyakit ginjal. Terdapat korelasi positif antara kadar TGF-β1 dan protein urin (r=0,649 ;p<0,0001).Kesimpulan. Kadar TGF- β1 urin pada anak dengan SN relaps sama tingginya dengan kadar TGF- β1 urin pada SNRS, yang secara bermakna lebih tinggi bila dibandingkan dengan kadar pada anak dengan sindrom nefrotik remisi, maupun anak tanpa penyakit ginjal.
Peran Reticulocyte Hemoglobin Content (Ret-He) dalam Mendeteksi Defisiensi Besi pada Anak Ika Maya Sandy; Murti Andriastuti
Sari Pediatri Vol 20, No 5 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.032 KB) | DOI: 10.14238/sp20.5.2019.316-23

Abstract

Latar belakang. Defiseinsi besi (DB) didefinisikan sebagai penurunan total kandungan besi dalam tubuh yang ditandai dengan turunnya kadar feritin atau saturasi transferin. Gangguan perkembangan neurokognitif yang timbul akibat DB bersifat permanen. Identifikasi adanya DB penting untuk memulai terapi besi untuk mencegah komplikasi jangka panjang.Tujuan. Mengetahui peran Ret-He dalam mendeteksi DB pada anak dibandingkan dengan pemeriksaan biomarker penanda status besi lain (feritin, saturasi transferin, kadar besi serum, dan total iron binding capacity (TIBC)).Metode. Penelusuran pustaka database elektronik, yaitu Pubmed, Cochrane, ProQuest dan Google scholar dengan kata kunci “iron deficiency”, “AND” “reticulocyte hemoglobin  content”, “AND” “children”.Hasil. Penelusuran literatur diperoleh 4 artikel yang terpilih kemudian dilakukan telaah kritis. Studi oleh Mateos dkk, dengan level of evidence 1c, diperoleh nilai cut-off: ≤ 25 pg, memiliki sensitivitas tertinggi dibanding studi lainnya, yaitu 94% dan spesifisitas 80%, NDP 54%, NDN 97%. Studi lain menentukan nilai cut-off yang berbeda-beda sehingga mempengaruhi nilai sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif dan negatif.Kesimpulan. Berdasarkan penelitian ilmiah yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa Ret-He dapat digunakan sebagai parameter untuk mendeteksi DB pada anak.
Perbedaan Status Gizi dan Perawakan Pendek pada Anak Sakit Perut Berulang dengan Helicobacter Pylori Positif dan Negatif Vanda Elfira; Dwi Prasetyo; Dzulfikar DLH; Kusnandi Rusmil
Sari Pediatri Vol 20, No 5 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.661 KB) | DOI: 10.14238/sp20.5.2019.303-8

Abstract

Latar belakang. Sakit perut berulang (SPB) merupakan keluhan yang paling sering pada anak. Infeksi Helicobacter pylori (H. pylori) saat ini merupakan salah satu penyebab organik terbanyak pada anak SPB. Infeksi H. pylori dapat menyebabkan malnutrisi dan perawakan pendek, tetapi hal ini masih kontroversial.Tujuan. Mengetahui perbedaan status gizi dan perawakan pendek antara anak SPB dengan infeksi H. pylori positif dan negatif.Metode Penelitian potong lintang analitik dilakukan pada anak SMP dan SMA di Bandung yang mengalami SPB. Infeksi H. pylori berdasarkan pemeriksaan serologis menggunakan kit BioM pylori. Analisis perbedaan status gizi dan perawakan pendek antara anak SPB dengan infeksi H. pylori positif dan negatif menggunakan uji chi square.Hasil. Terdapat 224 subjek mengalami SPB dari 1658 subjek yang disurvey. Sebanyak 99 subjek memenuhi kriteria inklusi. H. pylori positif pada 45 subjek. Uji beda memperlihatkan perbedaan proporsi pada status gizi kurang dan infeksi H. pylori positif, namun belum bermakna secara statistik. Pada uji beda perawakan pendek dengan infeksi H. pylori positif tidak didapatkan perbedaan bermakna.Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan bermakna status gizi dan perawakan pendek pada anak SPB dengan infeksi H. pylori positif dan infeksi H. pylori negatif.
Vitamin C Dosis Rendah untuk Skorbut pada Thalassemia Pustika Amalia Wahidiyat; Mikhael Yosia
Sari Pediatri Vol 20, No 5 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.472 KB) | DOI: 10.14238/sp20.5.2019.324-30

Abstract

Belakangan ini beberapa pasien thalassemia mengeluhkan gusi berdarah, purpura dan nyeri disertai bengkak pada sendi. Kondisi berikut merupakan kondisi yang sangat serupa dengan tanda-tanda skorbut (kekurangan vitamin C). Sampai saat ini belum ada panduan  pemberian vitamin C yang aman bagi pasien thalassemia (mengingat vitamin C dapat meningkatkan besi labil yang berbahaya pada pasien thalassemia). Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk membahas informasi mengenai skorbut pada thalassemia disertai observasi manifestasi skorbut pada pasien thalassemia di seluruh dunia. Selain itu juga akan melihat kemungkinan pemberian suplemen vitamin C dosis rendah yang aman untuk mengatasi skorbut. Lima laporan kasus dengan total 7 kasus skorbut pada pasien thalassemia diikutkan dalam laporan ini[nc1] . Laporan kasus yang ditemukan berasal dari Sri Lanka, Kanada, Amerika Serikat dan India. Suplementasi vitamin C diberikan kepada semua kasus dengan dosis berkisar antara 50 mg/hari sampai 500 mg/hari. Semua keluhan hilang setelah pemberian vitamin C. Manifestasi klinis skorbut pada pasien thalassemia adalah gingivitis, perdarahan mukosa, nyeri dan kelemahan sendi dan purpura. Terapi [nc2] vitamin C dengan dosis rendah 50 mg/hari dapat menghilangkan keluhan klinis skorbut pada pasien thalassemia.
Faktor Prediktor Kematian Anak dengan Infeksi HIV yang Mendapat Terapi Antiretrovirus di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dan RSUP Dr. Kariadi Semarang Dyah Perwitasari; Eggi Arguni; Cahya Dewi Satria; MMDEAH Hapsari
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.321 KB) | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.204-8

Abstract

Latar belakang. Kasus infeksi HIV pada anak di Indonesia semakin meningkat dengan angka kematian yang cukup tinggi. Angka kematian anak HIV yang menjalani terapi antiretrovirus disebabkan oleh berbagai faktor.Tujuan. Mengetahui faktor prediktor yang memengaruhi kematian anak dengan infeksi HIV yang telah mendapat terapi antiretrovirus.Metode. Penelitian studi kasus-kontrol dengan matching usia pada anak dengan infeksi HIV yang mendapat terapi ARV di RSUP Dr. Sardjito dan RSUP Dr. Kariadi dari Januari 2007 sampai dengan Desember 2013. Kelompok kasus adalah pasien meninggal dan kelompok kontrol adalah pasien yang hidup setelah mendapat terapi ARV. Data diambil dari catatan medis dengan kuesionerterstruktur. Data dianalisis dengan SPSS 17.0.Hasil. Didapatkan 96 anak dirawat dengan infeksi HIV dan menggunakan terapi ARV selama periode penelitian. Dua puluh pasien meninggal setelah menerima ARV sebagai kasus dan 20 pasien hidup sebagai kelompok kontrol. Pada analisis bivariat terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi, stadium klinis WHO, ketaatan kunjungan, lama terapi ARV terhadap kematian. Pada analisis multivariat, ketidaktaatan kunjungan memiliki OR 13,8 (IK95%: 1,04-184,02) dengan nilai p<0,05 dan lama terapi ARV ≤6 bulan memiliki OR 22,133 (IK95%: 1,202-407,60).Kesimpulan. Ketidaktaatan kunjungan ke Poliklinik dan lama terapi ARV ≤6 bulan merupakan faktor prediktor yang berpengaruh terhadap kematian pada anak dengan infeksi HIV yang mendapat terapi ARV. Namun, lama terapi ARV ≤6 bulan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kematian.
Pemberian Proton Pump Inhibitor Dibandingkan dengan Antagonis Reseptor-H2 pada Anak dengan Penyakit Refluks Gastrointestinal Pramita G. Dwipoerwantoro; Annisa R Yulman
Sari Pediatri Vol 20, No 6 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.07 KB) | DOI: 10.14238/sp20.6.2019.382-91

Abstract

Latar belakang. Pada umumnya anak dengan penyakit gastroesofageal refluks (PRGE) diterapi dengan antagonis reseptor H2 (H2RA) atau inhibitor pompa proton (PPI). Keduanya merupakan obat yang tersering diresepkan pada PRGE anak, namun efikasi keduanya masih kontroversi.Tujuan. Untuk mengevaluasi penggunaan PPI dan H2RA pada anak dengan PRGE melalui telaah sajian kasus berbasis bukti.Metode. Pencarian literatur secara sistematik menggunakan instrumen pencari PUBMED, Cochrane, dan Google Scholar. Pencarian dibatasi pada literatur berbahasa Inggris, yang dipublikasi selama 15 tahun terakhir, dan usia pasien 0–18 tahun. Studi dianggap memenuhi syarat bila dilakukan secara randomized-controlled trials, mengevaluasi PPI dan/atau H2RA untuk pengobatan GERD anak. Studi yang hanya berupa abstrak, yang hanya mengevaluasi selain non-klinis, dan laporan kasus diekslusi.Hasil. Studi kohort oleh Ruigomez dkk mencakup 8172 pasien dengan PPI (24 pasien dengan esomeprazole dan 8148 pasien dengan PPI lainnya) dan 7905 dengan H2RA. Karakteristik dasar keduanya serupa, namun anak dengan PPI cenderung lebih tua usianya. Luaran terkait keselamatan sebanyak 92 hanya pada PPI selain esomeprazole. Mattos dkk memperoleh 735 literatur, 23 studi (1598 pasien yang dirandomisasi) yang diikutsertakan dalam review sistematik. Delapan studi membuktikan bahwa PPI dan H2RA cukup efektif mengatasi manifestasi tipikal GERD. Studi lain menunjukkan bahwa omeprazole lebih unggul dibandingkan rantidin dalam pengobatan manifestasi refluks ekstra esofageal.Kesimpulan. Inhibitor pompa proton (PPI) atau H2RA dapat digunakan untuk pengobatan GERD pada anak. Omeprazol lebih unggul dibandingkan ranitidine pada pengobatan manifestasi refluks ekstra esophageal.
Hubungan Kualitas Tidur dan Masalah Mental Emosional pada Remaja Sekolah Menengah Meita Dhamayanti; Faisal Faisal; Elma Citra Maghfirah
Sari Pediatri Vol 20, No 5 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.482 KB) | DOI: 10.14238/sp20.5.2019.283-8

Abstract

Latar belakang. Tidur berperan penting dalam menjaga kesehatan emosional. Masalah mental emosional berdampak negatif terhadap remaja dan memicu perilaku berisiko tinggi.Tujuan. Menganalisis hubungan kualitas tidur dengan mental emosional pada remaja.Metode. Studi observasional analitik dengan rancangan potong lintang. Pemilihan sampel dilakukan secara simple random sampling. Penelitian dilakukan di SMA di Jatinangor pada bulan April-Juli 2017. Pengambilan data dengan menggunakan kuesioner. Uji statistik deskriptif digunakan untuk analisis data karakteristik subjek, uji koefisien korelasi Crammer’s v untuk analisis korelasi kualitas tidur dan mental emosional.Hasil. Sebanyak 79 siswa berusia 15-17 tahun dari tiga SMA, 39 laki-laki dan 40 perempuan, rerata usia 16 tahun, 36 kualitas tidur baik dan 43 buruk. Kualitas tidur dan masalah mental emosional menunjukkan korelasi signifikan (p<0,05) dengan kekuatan korelasi sedang (Crammer’s v=0,422).Kesimpulan. Terdapat korelasi kualitas tidur dan masalah mental emosional pada remaja SMA di Jatinangor.
Hubungan Perilaku Ibu dalam Praktik Pemberian Makan pada Anak Usia 12-23 Bulan dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Jatinangor Viramitha Kusnandi Rusmil; Rizkania Ikhsani; Meita Dhamayanti; Tisnasari Hafsah
Sari Pediatri Vol 20, No 6 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.166 KB) | DOI: 10.14238/sp20.6.2019.366-74

Abstract

Latar belakang. Stunting merupakan kondisi kurang gizi kronis disebabkan asupan makanan yang kurang dalam waktu lama. Kejadian stunting dapat direduksi oleh salah satu faktor yang memengaruhi pemenuhan gizi anak, yaitu perilaku ibu dalam praktik pemberian makan.Tujuan. Mengetahui hubungan perilaku ibu dalam praktik pemberian makan dengan kejadian stunting.Metode. Studi analitik potong lintang yang dilakukan pada ibu dan anak usia 12-23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Jatinangor. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan instrumen kuesioner yang disusun berdasarkan panduan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan World Health Organization (WHO). Pengukuran panjang badan anak menggunakan infantometer. Analisis menggunakan uji chi kuadrat dan Mann Whitney. Hasil. Lima puluh sembilan subjek (27,2%) dari 217 total subjek termasuk kelompok stunting. Angka kemaknaan pemberian makan cukup dan pemberian makan secara responsif dengan kejadian stunting sebesar 0,003 dan 0,012. Ketepatan waktu dan pemberian makan secara aman dengan kejadian stunting memiliki nilai p>0,05. Perilaku ibu dalam praktik pemberian makan secara keseluruhan menunjukkan nilai p<0,05.Kesimpulan. Praktik pemberian makan secara keseluruhan memiliki hubungan dengan kejadian stunting. Kecukupan dalam pemberian makan dan pemberian makan secara responsif memiliki hubungan dengan stunting, tetapi pemberian makan secara tepat waktu dan aman tidak memengaruhi kejadian stunting.

Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue