cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Hubungan Status Gizi dan Stimulasi Tumbuh Kembang dengan Perkembangan Balita Mirham Nurul Hairunis; Harsono Salimo; Yulia Lanti Retno Dewi
Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.895 KB) | DOI: 10.14238/sp20.3.2018.146-51

Abstract

Latar belakang. Perkembangan dasar yang terjadi pada masa balita akan memengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Status gizi dan stimulasi merupakan dua faktor yang memengaruhi tumbuh kembang balita. Tujuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan status gizi dan stimulasi tumbuh kembang dengan perkembangan anak Balita di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).Metode. Jenis penelitian ini adalah studi penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari–April 2018. Sampel dipilih secara simple random sampling sebanyak 114 subjek penelitian. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan regresi logistik.Hasil. Berdasarkan hasil analisis multivariat antara status gizi (TB/U) dan stimulasi tumbuh kembang dengan perkembangan didapatkan hasil (b=1,68; IK95%:1,10-2,57; p=0,016) untuk status gizi dan (b=3,48; IK95%:1,42-8,52; p=0,006) untuk stimulasi tumbuh kembang. Kesimpulan. Balita dengan perawakan normal memiliki peluang 1,6 kali mengalami perkembangan yang sesuai dibandingkan anak dengan perawakan pendek dan sangat pendek (stunting). Balita yang mendapatkan stimulasi tumbuh kembang sering memiliki peluang 3,4 kali mengalami perkembangan yang sesuai dibandingkan dengan anak yang mendapatkan stimulasi jarang.
Pengaruh Lactobacillus reuteri DSM 17938 Terhadap Kadar Calprotectin Feses sebagai Penanda Inflamasi Intestinal pada Bayi Kurang Bulan Tisa Rahmawaty Savitri; Sjarif Hidajat; Anggraini Alam
Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.172 KB) | DOI: 10.14238/sp20.3.2018.171-7

Abstract

Latar belakang. Bayi kurang bulan (BKB) berisiko mengalami inflamasi intestinal akibat imaturitas fungsi saluran cerna. Penelitian terdahulu melaporkan pro-kontra probiotik yang dapat menurunkan kejadian penyakit inflamasi intestinal pada BKB, seperti enterokolitis nekrotikans dan sepsis. Pengukuran calprotectin feses sebagai penanda penyakit inflamasi merupakan metode noninvasif, cepat, dan mudah dilakukan.Tujuan. Mengetahui pengaruh Lactobacillus reuteri DSM 17938 terhadap kadar calprotectin feses pada BKB. Metode. Penelitian eksperimental acak terkontrol pada BKB yang lahir di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung selama bulan Maret sampai Juni 2018. Kelompok probiotik diberikan Lactobacillus reuteri DSM 17938 selama 14 hari dan kelompok kontrol diberikan plasebo. Kadar calprotectin feses diperiksa sebelum dan sesudah perlakuan. Calprotectin diperiksakan menggunakan metode enzymed-linked immunosorbent assay (ELISA). Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney dan Wilcoxon Signed Rank, tingkat kemaknaan hasil uji ditentukan berdasarkan nilai p<0,05.Hasil. Empat puluh bayi diikutsertakan, 4 di antaranya mengalami dropout. Tiga puluh enam bayi yang dianalisis terbagi menjadi kelompok probiotik (n=18) dan nonprobiotik (n=18). Karakteristik dasar tidak berbeda antara kedua kelompok. Sebelum perlakuan, kadar calprotectin feses kedua kelompok tidak berbeda secara signifikan (p=0,88). Kadar calprotectin feses kelompok probiotik lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan kelompok nonprobiotik setelah perlakuan (p<0,001).Kesimpulan. Pemberian Lactobacillus reuteri DSM 17938 dapat menurunkan kadar calprotectin feses.
Analisis Durasi Tidur, Asupan Makanan, dan Aktivitas Fisik sebagai Faktor Risiko Kejadian Obesitas pada Balita Usia 3-5 Tahun Wara Fitria Tristiyanti; Didik Gunawan Tamtomo; Yulia Lanti Retno Dewi
Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.203 KB) | DOI: 10.14238/sp20.3.2018.178-84

Abstract

Latar belakang. Obesitas pada balita menjadi perhatian World Health Organization (WHO) dengan menetapkan masalah obesitas sebagai salah satu indikator untuk mengatasi masalah melalui Sustainable Development Goals (SDGs). Pada tahun 2015, prevalensi obesitas balita secara global mencapai 6,2% atau 42 juta balita. Faktor penyebab obesitas di antaranya adalah durasi tidur, asupan makanan, dan aktivitas fisik.Tujuan. Untuk menganalisis hubungan durasi tidur, asupan makanan, dan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada balita usia 3-5 tahun beserta tingkat risiko di wilayah Kota Yogyakarta. Metode. Jenis penelitian ini adalah kasus-kontrol dengan jumlah total subjek adalah 144 balita di wilayah Kota Yogyakarta. Jumlah subjek pada masing-masing kelompok adalah 72 balita. Data durasi tidur diperoleh melalui kuesioner Children’s Sleep Habit Questionnaire (CSHQ) tervalidasi, data asupan makanan dikumpulkan dengan kuesioner recall makan 2x24 jam, dan data aktivitas fisik diperoleh dari kuesioner recall aktivitas fisik 24 jam. Data dianalisis menggunakan uji Chi- square dan regresi logistik. Hasil. Terdapat hubungan yang signifikan antara durasi tidur, asupan makanan, dan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada balita usia 3-5 tahun (p<0,005). Balita dengan durasi tidur kurang (lama tidur <10 jam) berisiko menjadi obesitas 2,5 (OR=2,49; IK95%: 1,04-5,93) kali lebih besar dibandingkan dengan balita dengan durasi tidur yang cukup (lama tidur ≥10jam). Balita dengan asupan makanan lebih (asupan energi >110 % AKG) berisiko menjadi obesitas 4,4 (OR=4,42; IK95%: 2,02-9,69) kali lebih besar dibandingkan dengan balita dengan asupan makanan cukup (asupan energi 80-110% AKG). Balita dengan aktivitas fisik sangat ringan (PAL<1,5) berisiko menjadi obesitas 6,1 (OR=6,15; IK95%: 2,73-13,85) dibandingkan dengan balita dengan aktivitas fisik ringan atau sedang. Kesimpulan. Durasi tidur, asupan makanan, dan aktivitas fisik, secara signifikan berhubungan dengan kejadian obesitas pada balita usia 3-5 tahun.
Hubungan Dosis Kumulatif Doksorubisin Terhadap Fungsi Sistolik Ventrikel Kiri pada Penyintas Leukemia Limfoblastik Akut Patricia Yulita Gunawan; Erling David Kaunang; Max Frans Joseph Mantik; Stefanus Gunawan
Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.896 KB) | DOI: 10.14238/sp20.3.2018.165-70

Abstract

Latar belakang. Seiring meningkatnya angka harapan hidup anak dengan leukemia limfoblastik akut (LLA), kardiotoksisitas akibat kemoterapi seperti antrasiklin menjadi semakin penting. Evaluasi berkala fungsi sistolik ventrikel kiri melalui fraksi ejeksi (FE) dan fraksi pemendekan (FP) direkomendasikan untuk pemantauan efek samping kardiotoksisitas antrasiklin.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara dosis kumulatif doksorubisin dengan fungsi sistolik ventrikel kiri pada penyintas LLA anak. Metode. Penelitian ini menggunakan metode kohort retrospektif dengan menilai perubahan FE dan FP menggunakan ekokardiografi pada penyintas LLA pada bulan Juli-September 2016 di bagian Ilmu Kesehatan Anak, RSU Prof. dr. R. D. Kandou, Manado. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara total sampling. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan korelasi Pearson.Hasil. Terdapat total 18 penyintas LLA yang diteliti, termasuk 12 risiko standar dan 6 risiko tinggi. Fungsi sistolik ventrikel kiri semua penyintas masih dalam batas normal (FE 74,20 ± 11,37 %, FP 42,61 ± 9,98 %). Ditemukan adanya hubungan negatif sedang yang bermakna antara dosis kumulatif doksorubisin dan fungsi sistolik ventrikel kiri [FE (r=-0,532, p=0,012) dan FP (r=-0,518, p=0,014)]. Kesimpulan. Terdapat hubungan negatif antara dosis kumulatif doksorubisin dan fungsi sistolik ventrikel kiri pada penyintas LLA anak. Panduan lokal diperlukan untuk evaluasi ekokardiografi secara berkala pada penyintas LLA anak di Indonesia. 
Frekuensi Ekokardiografi pada Fase Awal Penyakit Kawasaki Najib Advani
Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.332 KB) | DOI: 10.14238/sp20.3.2018.152-7

Abstract

Latar belakang. Penyakit Kawasaki (PK) merupakan suatu vaskulitis akut, terutama menyerang balita. Aneurisme koroner terjadi pada 15%-25% pasien PK yang tidak diobati. Ekokardiografi merupakan sarana non-invasif dengan spesifisitas dan sensitivitas tinggi untuk mendeteksi kelainan koroner pada segmen proksimal. American Heart Association menganjurkan ekokardiografi pada tahap awal, dilakukan tiga kali, yaitu saat diagnosis, 1-2 minggu kemudian dan 4-6 minggu selanjutnya. Tujuan. Untuk mengetahui apakah pada pasien PK yang tanpa komplikasi, ekokardiografi saat awal cukup dilakukan dua kali berturut turut saja.Metode. Dilakukan studi retrospektif dari data rekam medis pasien Kawasaki di lima rumah sakit di Jakarta dan Tangerang beserta hasil ekokardiografi serial sejak Januari 2003 sampai Juli 2013. Semua pasien didiagnosis dan ditatalaksana oleh peneliti berdasarkan kriteria AHA 2004. Kriteria inklusi adalah semua pasien yang memenuhi kriteria diagnosis dan ekokardiografi pertama serta kedua hasilnya normal serta ekokardiogarfi diulang serial hingga akhir masa penelitian, minimal satu tahun.Hasil. Dari 503 pasien Kawasaki pada saat diagnosis, 163 menunjukkan dilatasi koroner dan 340 normal. Di antara 340 pasien tersebut, 228 memenuhi kriteria inklusi dan dilakukan ekokardiografi serial antara 1 hingga 10,5 tahun. Didapatkan bahwa jika hasil ekokardiografi pertama dan kedua normal maka hasil ekokardiografi selanjutnya hingga akhir masa pengamatan tidak tampak kelainan.Kesimpulan. Pada pasien Kawasaki dengan hasil pemeriksaan ekokardiografi pertama dan kedua menunjukkan arteri koroner normal, cukup dilakukan ekokardiografi dua kali dan tidak harus diulang. Hal ini terutama pada pasien yang mengalami kendala akses maupun biaya.
Pengaruh Metode Shared Medical Appointments Terhadap Perbaikan Kontrol Metabolik Penderita Diabetes Melitus Tipe-1 pada Anak dan Remaja Faisal Faisal; Novina Andriana
Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.181 KB) | DOI: 10.14238/sp20.3.2018.138-45

Abstract

Latar belakang. Metode sharing medical appointment (SMAs) merupakan program intervensi edukasi yang melibatkan peran keluarga, pengalaman sesama pasien, motivasi, dukungan komunikasi dari dokter dan edukator untuk pasien dengan penyakit kronik. Tujuan. Mengetahui keefektifan metode SMAs terhadap perbaikan kontrol metabolik DM tipe-1 pada anak dan remaja. Metode. Penelitian analitik dengan rancangan randomized controlled trial untuk membandingkan kontrol metabolik kelompok SMAs berdurasi 60 menit setiap pertemuan dengan kelompok individual. Data demografi, klinis, dan HbA1C dikumpulkan dan dianalisis serta dilakukan uji T untuk membandingkan perbedaan rerata kadar HbA1C dan uji repeated ANOVA untuk membandingkan rerata sekuensial HbA1C pada dua kelompok dengan nilai kemaknaan p<0,05. Hasil. Masing-masing 20 subjek kelompok SMAs dan kelompok IMA disertakan dalam penelitian dengan rerata kadar HbA1C berturut-turut untuk kelompok SMAs adalah 9,73±1,8 pada bulan ke-0, 8,7±1,3 bulan ke-3 dan 8,54±0,7 pada bulan ke-6, lebih baik dibandingkan pada kelompok IMA yaitu 9,57±1,6 pada bulan ke-0, 9,26±1,1 bulan ke-3 dan 9,86±1,2 bulan ke-6. Perbedaan rerata HbA1C didapatkan pada perbandingan bulan ke-0 vs ke-6 [p<0,05 IK95%: 1,32 (0,69-1,95)]. Pada kelompok SMAs didapatkan perbedaan rerata HbA1C antara bulan ke-0 vs ke-3 (p<0,05) dan bulan ke-0 vs ke-6 (p<0,05) tetapi tidak berbeda pada bulan ke-3 vs ke-6 (p>0,05). Kesimpulan. Metode SMAs dengan durasi 3 bulan efektif dalam memperbaiki kontrol metabolik penderita DM tipe-1 pada anak dan remaja.
Probiotik Pada Gangguan Saluran Cerna Fungsional Valerie Andrea; Badriul Hegar
Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.522 KB) | DOI: 10.14238/sp20.3.2018.185-9

Abstract

Probiotik memiliki kemampuan untuk memengaruhi komposisi mikroflora saluran cerna. Ketika dikonsumsi dalam jumlah adekuat, probiotik memiliki efek positif terhadap kesehatan pejamu. Terdapat beberapa penelitian yang menilai efek terapeutik probiotik terhadap berbagai macam penyakit, termasuk gangguan saluran cerna fungsional pada anak. Gangguan saluran cerna fungsional adalah gangguan yang dianggap terkait dengan saluran cerna, namun tidak dapat dijelaskan oleh kelainan struktural maupun biokimia. Penelitian besar menggunakan probiotik pada gangguan saluran cerna fungsional telah banyak dilakukan. Penggunaan probiotik juga dianggap aman dan hampir tidak pernah dilaporkan efek samping pada rawat jalan. Beragam strain, dosis, dan metodelogi penelitian menjadikan kesulitan dalam menerjemahkan dan menyimpulkan secara keseluruhan hasil penelitian yang ada. Walaupun demikian, beberapa penelitian dengan metodelogi yang baik memperlihatkan fakta bahwa peran probiotik terhadap beberapa gangguan saluran cerna fungsional tidak dapat diabaikan.
Perbedaan Rerata Kadar Hemoglobin dan Feritin Berdasarkan Tingkat Inteligensia Anak di Sekolah Luar Biasa Kota Padang Inggrit Anggraini; Eva Chundrayetti; Ellyza Nasrul
Sari Pediatri Vol 20, No 4 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.732 KB) | DOI: 10.14238/sp20.4.2018.207-13

Abstract

Latar belakang. Fungsi intelektual dibawah rata-rata (IQ < 70) yang muncul bersamaan dengan defisit perilaku adaptif dan bermanifestasi pada periode perkembangan disebut retardasi mental (RM). Defisiensi besi merupakan salah satu defisiensi nutrisi yang diduga menjadi etiologi RM.Tujuan. Menilai perbedaan rerata kadar hemoglobin dan feritin berdasarkan tingkat inteligensia anak di Sekolah Luar Biasa Kota Padang.Metode. Penelitian cross sectional comparative pada November 2016 - Mei 2017 di Sekolah Luar Biasa (SLB) kota Padang. Sampel adalah siswa kelas C (tuna grahita) berusia 6-18 tahun. Sampel dikelompokkan berdasarkan tingkat intelligence quotient (IQ). Digunakan metode The Wechsler Intelligence Scale for Children 4th edition (WISC-IV) dan dibagi 3 kelompok, yaitu kelompok tidak RM, RM ringan, dan RM sedang berat. Dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin dan kadar feritin semua kelompok sampel.Hasil. Dari 60 anak di SLB Kota Padang, terdiri dari 20 anak di tiap kelompok. Jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki (55%) dan usia rata-rata 12,96 tahun. Median kadar ferritin kelompok RM sedang berat lebih rendah (12,24 (2,59-39,87) ng/mL) dibandingkan kelompok tidak RM (63,03 (20,29-484,37) ng/mL) dan RM ringan (66,8 (18,19-163,22) ng/mL). Secara statistik terdapat perbedaan yang bermakna kadar hemoglobin dan feritin pada ketiga kelompok berdasarkan tingkat inteligensia (p<0,05).Kesimpulan. Terdapat perbedaan rerata kadar hemoglobin dan feritin berdasarkan tingkat inteligensia anak di Sekolah Luar Biasa Kota Padang.
Hubungan antara Ukuran Lingkar Pinggang dengan Masa Lemak Tubuh, Profil Lipid, dan Gula Darah Puasa pada Remaja Obese Aryono Hendarto; Cut Nurul Hafifah; Damayanti Rusli Sjarif; Ali Khomaini Alhadar
Sari Pediatri Vol 20, No 4 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.382 KB) | DOI: 10.14238/sp20.4.2018.237-41

Abstract

Latar belakang. Obesitas pada anak masih menjadi masalah dunia, termasuk Indonesia. Obesitas abdominal, yang ditandai dengan besarnya ukuran lingkar pinggang, dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, metabolik, dan kematian.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran ukuran lingkar pinggang pada anak obes, serta hubungannya dengan masa lemak tubuh, profil lipid, dan kadar gula darah puasa.Metode. Penelitian ini merupakan studi potong lintang. Subjek penelitian adalah anak usia 14-18 tahun dengan obesitas. Pemeriksaan tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas, lingkar pinggang, dan bioelectric impedance analyzer (BIA) dilakukan untuk memperoleh gambaran antropometri subjek. Pemeriksaan darah puasa dilakukan untuk memperoleh data profil lipid dan gula darah puasa. Hasil. Sebanyak 69 subjek terlibat dalam penelitian ini. Semua subjek mempunyai lingkar pinggang ≥P80, dengan lingkar pinggang terlebar adalah 138 cm. Ukuran lingkar pinggang mempunyai korelasi yang bermakna dengan kolesterol high density lipoprotein (HDL), sedangkan korelasi dengan masa lemak tubuh, profil lipid lainnya, dan kadar gula darah puasa tidak bermakna.Kesimpulan. Obesitas pada anak umumnya disertai dengan ukuran lingkar pinggang yang melebihi P80. Ukuran lingkar pinggang mempunyai korelasi yang bermakna dengan kadar kolesterol HDL. Ukuran lingkar pinggang tidak boleh digunakan secara tunggal untuk memperkirakan masa lemak tubuh, profil lipid di luar kolesterol HDL, dan gula darah puasa.
Prevalensi, Spektrum Klinis dan Gambaran Neurofisiologi Kasus Neuromuskular Mia Milanti Dewi; Dwi Putro Widodo; Roy Amardiyanto; Nurcahaya Sinaga; Nurul Hidayah
Sari Pediatri Vol 20, No 4 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.147 KB) | DOI: 10.14238/sp20.4.2018.214-20

Abstract

Latar belakang. Sebagian kasus neuromuskular dapat ditegakkan berdasarkan klinis. Pemeriksaan penunjang, pemeriksaan imunologi dan analisis genetik sangat penting diperiksa untuk memastikan diagnosis. Ini merupakan penelitian pertama mengenai prevalensi penyakit neuromuskular di Indonesia.Tujuan. Mengetahui prevalensi, spektrum klinis, dan gambaran neurofisiologi kasus neuromuskular di RSCM periode Januari – Desember 2017.Metode. Penelitian ini bersifat retrospektif dari Januari – Desember 2017.Hasil. Di tahun 2017 terdapat 179 pasien (usia 1 bulan – 18 tahun) yang dirujuk untuk dilakukan pemeriksaan elektromiografi, dan 130 pasien memenuhi kriteria diagnostik penyakit neuromuskular. Dari seluruh pasien kelainan neuromuskular yang sering ditemukan berturut-turut adalah neuropati perifer (22,2%), Duchenne muscular dystrophy (15,6%), brachialis plexus injury (15,2%), Bell’s palsy (7,6%), Erb Palsy (6,1%), chronic inflamatory demyelinating polyneuropathy (5,4 %), spinal muscular atrophy type 1 (4,6 %), spinal muscular atrophy type 2 (3,8%), miastenia gravis okular (3,8%), Limb Girdle muscular dystrophy (3,1%), sindrom Guillain Barre (3,1%), sindrom Guillain Barre-tipe acute motor axonal neuropathy (2,3%), sindrom Guillain Barre-tipe acute motor-sensory axonal neuropathy (1,5%), miastenia gravis umum (1,5%), Charcot Marie tooth (1,5%), miotonia kongenital (1,5%), dan miositis viral akut (1,5%). Kesimpulan. Prevalensi kelainan neuromuskular anak RSCM sebesar 2,6 % dari seluruh pasien yang dilakukan datang ke poli saraf anak. Lima terbanyak kelainan neuromuskular adalah neuropati perifer, Ducchenne Muscular dystrophy, spinal muskular atrofi, sindrom Guillain Barre, dan chronic inflamatory demyelinating polyneuropathy.

Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue