cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Peran Suplementasi Seng dalam Menurunkan Intensitas Mukositis Oral Akibat Kemoterapi Fase Konsolidasi pada Anak dengan Leukemia Limfoblastik Akut Manik Trisna Arysanti; Ketut Ariawati; Ida bagus Subanada
Sari Pediatri Vol 23, No 1 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.1.2021.15-22

Abstract

Latar belakang. Mukositis oral merupakan salah satu efek samping kemoterapi yang dapat berdampak buruk terhadap pengobatan kanker. Mikronutrient seng diketahui dapat mempertahankan integritas mukosa oral.Tujuan. Mengetahui efek suplementasi seng dalam menurunkan intesitas mukositis oral akibat kemoterapi.Metode. Uji klinis acak terkontrol tersamar ganda dilakukan pada 40 pasien anak dengan leukemia limfoblastik akut (LLA) yang menjalani kemoterapi fase konsolidasi, dengan membandingkan kejadian dan derajat mukositis oral pada kelompok yang mendapat suplementasi seng atau plasebo. Derajat mukositis oral dievaluasi menggunakan NCI-CTAE versi 3.0. Hasil. Kejadian mukositis oral lebih rendah pada kelompok seng (40%) dibandingkan plasebo (55%), tetapi perbedaan tersebut tidak signifikan (p=0,342). Derajat keparahan mukositis oral lebih rendah secara signifikan pada kelompok seng dibandingkan plasebo (p=0,024; RR 0,306; IK95%;0,089 sampai 1,048). Analisis kesintasan Kaplan-Meier menunjukkan waktu munculnya mukositis oral beserta derajat keparahannya pada kedua kelompok hampir sama sampai minggu kedua, kemudian mulai menurun sampai akhir pengamatan pada kelompok seng. Analisis multivariat Cox Regression menunjukkan variabel akhir sebagai prediktor kuat terhadap kejadian mukositis adalah usia, status gizi, dan kadar seng.Kesimpulan. Pemberian suplementasi seng tidak dapat menurunkan kejadian mukositis oral akibat kemoterapi pada pasien anak dengan LLA, tetapi dapat menurunkan derajat keparahannya bila dibandingkan dengan plasebo.
Gangguan Memori Kerja pada Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas: Suatu Studi Komparatif Evi Evi; Fransiska Kaligis; Tjhin Wiguna; Anak Agung Ayu Agung Kusumawardhani
Sari Pediatri Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.2.2021.88-94

Abstract

Latar belakang. Penelitian menunjukkan memori kerja merupakan prediktor kapasitas belajar yang lebih bermakna daripada intelligence quotient (IQ). Bila fungsi ini terganggu, anak dapat mengalami kesulitan belajar. Studi melaporkan gangguan memori kerja banyak ditemukan pada gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH). Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data proporsi gangguan memori kerja pada anak GPPH dan perbandingan dengan anak tanpa GPPH. Data ini diharapkan dapat menjadi data dasar bagi pengembangan intervensi selanjutnya.Metode. Penelitian ini dilakukan dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode randomized sampling. Instrumen Working Memory Rating Scale (WMRS) yang telah divalidasi dalam Bahasa Indonesia oleh Wiguna, dkk. (2012) digunakan untuk menentukan ada tidaknya defisit memori kerja. Hasil. Proporsi gangguan memori kerja pada kelompok anak dengan GPPH berbeda bermakna dibandingkan kelompok anak tanpa GPPH (44% vs 0%, p<0,05). Pada uji analisis, didapatkan prevalence ratio (PR) 40,4 (95% IK 2,22 - 738,01), artinya anak dengan GPPH berisiko mengalami gangguan memori kerja 40,4 kali lebih besar dibandingkan anak tanpa GPPH. Kesimpulan. Gangguan memori kerja lebih banyak ditemukan pada anak dengan GPPH. Pemeriksaan memori kerja pada anak dengan GPPH diperlukan untuk mengantisipasi kesulitan belajar yang mungkin timbul. Intervensi tambahan dapat dipertimbangkan untuk memperbaiki gangguan memori kerja pada anak dengan GPPH.
Perbandingan Masalah Mental Emosional dan Karakteristik Pasien Remaja dengan Talasemia Mayor di Poli Talasemia RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Qory Aulia Sukma; Rodman Tarigan; Lynna Lidyana
Sari Pediatri Vol 23, No 1 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.1.2021.23-7

Abstract

Latar belakang. Talasemia adalah penyakit genetik hematologik yang berdampak terhadap perubahan fisik dan kegiatan sehari-hari pasien sehingga berpengaruh pada psikososial pasien, terutama pasien remaja yang mengalami perubahan emosional pada fase transisi menuju dewasa.Tujuan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui perbandingan masalah mental emosional dengan karakteristik pasien remaja talasemia mayor di Poli Talasemia RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.Metode. Penelitian ini adalah studi deskriptif-analitik dengan desain potong lintang yang dilakukan pada bulan Agustus– September 2019. Subjek penelitian adalah 96 pasien talasemia di Poli Talasemia RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan kelompok usia 11-17 tahun yang mengisi self-assessment Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ).Hasil. Dari 96 subjek penelitian, 49 (51%) adalah perempuan. Enam puluh empat (67%) adalah kelompok usia 11-14 tahun, dan 46 (48%) di antaranya adalah siswa SMP. Gambaran masalah mental emosional pasien meliputi masalah emosional 17 (18%), conduct 12 (12%), hiperaktivitas 8 (8%), dan masalah hubungan dengan teman sebaya 7 (7%). Kesimpulan. Tidak ada perbedaan antara masalah mental emosional dan karakteristik pasien remaja dengan talasemia mayor.
Efektivitas Granulocyte Colony Stimulating Factor untuk Anak dengan Acute on Chronic Liver Failure Fatima Safira Alatas; Kholisah Nasution; Muzal Kadim
Sari Pediatri Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.2.2021.129-35

Abstract

Latar belakang. Gagal hati akut pada penyakit hati kronik (acute on chronic liver failure/ACLF) memiliki angka mortalitas tinggi dan saat ini terapi utamanya ialah transplantasi hati. Terapi dengan granulocyte colony stimulating factor (GCSF) bermanfaat bagi perbaikan fungsi hati dan mengurangi angka kematian yang cepat pada dewasa dengan ACLF.Tujuan. Melakukan telaah kritis efektivitas GCSF pada pasien anak dengan ACLF untuk memperbaiki fungsi hati.Metode. Penelusuran literatur melalui database Pubmed/Medline, Cochrane, Google Scholar, serta Paediatrica Indonesiana, dan Sari Pediatri 29 Juni 2020.Hasil. Terdapat satu studi acak yang sahih dengan subjek penelitian anak yang menunjukkan perbedaan skor Child-Pugh dan Pediatric End-stage Liver Disease (PELD) di hari ke-14 pemberian injeksi GCSF, tetapi tidak ada perbedaan skor di hari ke-30 dan 60. Skor PELD pada penelitian dipakai untuk anak usia kurang dari 12 tahun, sementara untuk anak lebih besar seperti pada kasus seharusnya memakai skor Model for End-stage Liver Disease (MELD) yang ditunjukkan studi pada kelompok dewasa.Kesimpulan. Terapi GCSF subkutan pada pasien anak dengan ACLF berpotensi efektif memperbaiki fungsi hati yang dinilai dengan skor Child-Pugh dan MELD atau PELD. Untuk dapat menjaga efektifitas terapi lebih lama, dapat dipertimbangkan untuk memperpanjang durasi pemberian GCSF dan memberikannya lebih dini.
Perbedaan dan Pola Jumlah Trombosit, Leukosit, serta Hematokrit pada Penderita Dengue Fever dan Dengue Hemorrhagic Fever di Ruang Rawat Inap Anak RS Kristen Mojowarno Kabupaten Jombang Samira - Assegaf; Dwiyanti Puspitasari; Amor Peraten Ginting
Sari Pediatri Vol 23, No 1 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.1.2021.51-6

Abstract

Latar belakang. Infeksi virus dengue sering menyerang anak rusia di bawah 15 tahun. Jumlah kasus cukup tinggi terdapat di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pola jumlah trombosit, leukosit, dan hematokrit dapat berfungsi sebagai prediktot perjalanan penyakit pada kasus dengue.Tujuan. Untuk mengetahui perbedaan dan pola jumlah trombosit, leukosit serta hematokrit pada penderita DF (dengue fever) dan DHF (dengue hemorrhagic fever) guna memprediksi perjalanan penyakit.Metode. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional pada anak yang telah terdiagnosis DF maupun DHF berdasarkan kriteria WHO 2011 dan menjalani perawatan di ruang rawat inap anak RS Kristen Mojowarno Kabupaten Jombang periode Februari-Juli 2019. Data jumlah trombosit, leukosit, hematokrit, suhu tubuh, hari sakit, dan karakteristik penderita diambil dari rekam medis kemudian dianalisis menggunakan independent sample T test dan Mann Whitney.Hasil. Selama kurun waktu penelitian terdapat 127 responden dengan rerata usia 6,67 tahun untuk kasus DF dan 6,43 tahun untuk DHF. Periode defervescent ditemukan pada hari ke-4 sakit. Rerata trombosit pasien DF dan DHF menurun di hari sakit ke-3 dan sangat rendah pada hari sakit ke-6. Rerata trombosit DHF berada di bawah 100.000 sel/mm3 sejak periode defervescent dengan rerata terendah mencapai 74.727 sel/mm3. Rerata leukosit DF dan DHF menurun sejak hari sakit ke-3 dan mencapai puncak penurunan pada periode defervescent. Rerata hematoktit DHF meningkat sejak hari sakit ke-3 dan mencapai puncaknya pada hari sakit ke-5. Terdapat perbedaan yang signifikan pada rerata hematokrit antara pasien DF dan DHF pada hari sakit ke-5 (p=0,004).Kesimpulan. Terdapat perbedaan yang bermakna signifikan pada rerata persentase hematokrit penderita DF dan DHF.
Infeksi Susunan Saraf Pusat pada Anak: Sebuah Studi Potong Lintang Deskriptif Selama Lima Tahun Gilbert Sterling Octavius; Albertus Boyke Raditya; Ervina Kimberly; Jeremiah Suwandi; Monica Christy; Andry Juliansen
Sari Pediatri Vol 23, No 1 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.1.2021.6-14

Abstract

Latar belakang. Infeksi susunan saraf pusast memiliki morbiditas dan mortalitas apabila tidak ditangani secara tepat. Penanganan yang tidak sesuai juga berisiko tinggi untuk menimbulkan kecacatan pada kemudian hari. Tipe-tipe infeksi susunan saraf pusat dapat berupa meningitis, ensefalitis dan meningoensefalitis yang memiliki etiologi dan manifestasi klinis yang beragam.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik klinis pada setiap infeksi sistem saraf pusat baik dari segi manifestasi klinis, radiologis, serta terapi pada setiap pasien.Metode. Anak berusia 0-18 tahun yang didiagnosis meningitis, ensefalitis dan meningoensefalitis dari Januari 2015 hingga September 2019 diinklusikan pada studi potong lintang ini. Data diambil melalui rekam medis.Hasil. Terdapat 45 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan laki-laki mendominasi pada studi ini (57,8%). Meningitis ditemukan pada 37,8% pasien, ensefalitis pada 22,2% pasien, dan meningoensefalitis pada 40% pasien. Tuberkulosis menjadi etiologi tersering yang ditemukan pada studi ini sebesar 71,1%. Median durasi rawat inap terpanjang ditemukan pada pasien dengan meningoensefalitis (15,5 hari) dan kortikosteroid merupakan pengobatan yang sering digunakan untuk mengatasi infeksi susunan saraf pusat.Kesimpulan. Infeksi SSP lebih sering terjadi pada anak di bawah <5 tahun. Sebagian besar anak-anak datang dengan penurunan kesadaran akut dan TB masih merupakan penyebab utama dari infeksi SSP. Pasien dengan meningitis TB atau meningoensefalitis TB datang dengan derajat MRC 2-3 yang berkorelasi dengan morbiditas dan mortalitas tinggi sehingga diagnosis dan tatalaksana yang tepat diperlukan oleh para klinisi untuk memperbaiki luaran pasien.
Korelasi Cluster of Differentiation 4 dan Viral Load dengan Fungsi Sistolik Ventrikel Kiri pada Anak dengan Human Immunodeficiency Virus Nicholas Adrian; Sri Endah Rahayuningsih; Anggraini Alam
Sari Pediatri Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.2.2021.103-9

Abstract

Latar belakang. Nilai viral load dan cluster of differentiation 4 (CD4) pada infeksi human immunodeficiency virus (HIV) merupakan prediktor independen progresifitas penyakit pada usia >5 tahun. Infeksi HIV memengaruhi organ jantung dalam bentuk gangguan fungsi sistolik ventrikel kiri, pada awalnya dapat tanpa gejala. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran keterlibatan kardiovaskuler pada anak dengan HIV.Tujuan. Mengetahui korelasi antara CD4, viral load dengan fungsi sistolik ventrikel kiri pada anak dengan HIV.Metode. Desain penelitian potong lintang, data dari register penelitian HIV bulan Januari-Februari 2020 di RSUP Dr. Hasan Sadikin. Sampel penelitian adalah anak dengan HIV usia 5 – <18 tahun. Subjek penelitian diperiksa kadar CD4 dan viral load, untuk fungsi sistolik ventrikel kiri diukur melalui fraksi ejeksi dan pemendekan fraksi dengan alat echocardiography. Analisis korelasi menggunakan uji Pearson dan Spearman sesuai distribusi data.Hasil. Subjek penelitian adalah 60 anak dengan HIV. Nilai rata-rata CD4 (822 ± 380/mm3). Viral load 68,3% undetected. Nilai rata-rata pemendekan fraksi (35,8±5%). Nilai rata-rata fraksi ejeksi (65,7±6,8%). Hasil korelasi CD4 dengan pemendekan fraksi (r=0,19 p=0,07), CD4 dengan fraksi ejeksi (r=0,22 p=0,04), viral load dengan pemendekan fraksi (r=-0,10 p=0,20), dan viral load dengan fraksi ejeksi (r=-0,09 p=0,22).Kesimpulan. Terdapat korelasi positif lemah antara CD4 dengan fraksi ejeksi, hasil penelitian mungkin dipengaruhi oleh faktor lain yang belum diteliti seperti status pengobatan pada pasien.
Efektivitas Pemberian Vankomisin Oral Terhadap Kolitis Infektif pada Anak Jeshika Febi Kusumawati; Muzal Kadim
Sari Pediatri Vol 23, No 1 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.1.2021.57-66

Abstract

Latar belakang. Kolitis bermanifestasi sebagai diare kronik dan pada anak perlu diwaspadai karena memiliki komplikasi gangguan tumbuh kembang dan kematian. Sepuluh hingga dua puluh persen kasus diare infeksi akibat perawatan di rumah sakit disebabkan oleh Clostridium difficile. Metronidazol dan vankomisin oral masih menjadi terapi obat lini pertama untuk infeksi Clostridium difficile. Pada pasien diare berat, studi menunjukkan vankomisin oral menjadi pilihan utama dibandingkan metronidazole.Tujuan. Mengetahui efektifitas pemberian vankomisin oral terhadap metronidazol oral dalam menyembuhkan kolitis infektif kronik pada anak.Metode. Pencarian literatur melalui Pubmed dan Cochrane pada bulan Juli 2019 dengan kata kunci “children OR pediatric” AND “infective colitis OR Clostridium difficile” AND “oral vancomycin” AND “ oral metronidazole”.Hasil. Penelusuran artikel pada makalah ini menemukan dua artikel yang relevan terhadap pertanyaan klinis. Igarashi dkk. merupakan meta analisis terhadap lima uji klinis acak dengan total 1101 pasien dan dipublikasikan pada tahun 2018. Artikel yang kedua adalah studi pilot prospektif observatif dari Antoon dkk pada 8 subyek anak berusia 8-17 tahun pada tahun 2016.Kesimpulan. Vankomisin oral disarankan untuk digunakan dalam kolitis infektif berat. Untuk kasus kolitis infektif yang ringan atau sedang, data menunjukkan hasil yang seimbang untuk vankomisin dan metronidazol. Berdasarkan uji observasional, vankomisin oral tidak diabsorbsi dalam darah pada anak.
Perbedaan Fungsi Ventrikel Kiri pada Anak Gizi Kurang dan Gizi Normal dengan Metode Myocardial Performance Index Putria Rayani Apandi; Sri Endah Rahayuningsih; Rahmat Budi Kuswiyanto
Sari Pediatri Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.2.2021.110-14

Abstract

Latar belakang. Gizi kurang pada anak menyebabkan perubahan pada komposisi tubuh, berupa berkurangya masa otot jantung yang akan menyebabkan kelainan pada fungsi kardiovaskuler. Myocardial performance index (MPI) adalah pemeriksaan fungsi ventrikel yang tidak terpengaruh geometri jantung. Pemeriksaan MPI pada anak gizi kurang belum pernah dilakukan sebelumnya. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai perbedaan fungsi ventrikel pada gizi kurang dan gizi normal.Metode. Rancangan penelitian ini adalah potong lintang yang dilakukan pada anak sekolah berumur 6-11 tahun di Kotamadya Bandung selama September – Desember 2014 di 10 Sekolah Dasar. Subyek penelitian di pilih secara random kemudian dibagi menjadi gizi kurang dan gizi normal berdasarkan WHO 2007. Fungsi ventrikel diukur dengan ekokardiografi transtorakal dengan metode Myocardial performance index. Uji t berpasangan dipakai untuk membedakan fungsi ventrikel kiri pada gizi kurang dengan signifikansi P<0,05. Hasil. Rerata MPI ventrikel kiri pada anak gizi kurang adalah 0,37±0,07 dan pada gizi normal adalah 0,35±0,08. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna fungsi ventrikel kiri dengan metoda Myocardial Performance Index pada kedua kelompok.(CI95%:-0,012–0,058 P:0,191)Kesimpulan. Fungsi ventrikel kiri pada anak gizi kurang dan gizi normal yang diukur dengan Metode myocardial performance index tidak berbeda bermakna.
Korelasi Positif antara Neutrophil Lymphocyte Count Ratio dan C-Reactive Protein pada Pasien Sepsis Anak Adri Zamany Anwary; Dzulfikar Djalil Lukmanul Hakim; Djatnika Setiabudi
Sari Pediatri Vol 23, No 1 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.1.2021.1-5

Abstract

Latar belakang. Sepsis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas utama pada anak di seluruh dunia. C-reactive protein (CRP) merupakan penanda infeksi yang paling banyak digunakan, tetapi parameter tersebut terkendala tingkat sensitivitas, spesifisitas, ketersediaan alat, dan biaya. Neutrophil-lymphocyte Count Ratio (NLCR) merupakan pemeriksaan yang mudah dan murah, serta banyak digunakan sebagai penanda diagnostik pada berbagai proses inflamasi.Tujuan. Menganalisis korelasi antara NLCR dan CRP pada pasien sepsis anak.Metode. Studi analitik observasional menggunakan data sekunder dari register sepsis anak di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari 2019–Desember 2019. Pengambilan data berupa karakteristik pasien, nilai NLCR, dan CRP, didapatkan data tidak berdistribusi normal( uji Kolmogorov-Smirnov) maka analisis korelasi dilakukan menggunakan uji Rank Spearman dengan nilai kemaknaan p<0,05.Hasil. Sebanyak 80 subjek memenuhi kriteria inklusi. Median nilai NLCR subjek 2,98 (rentang 0,12-19,38) dan nilai median CRP subjek 2,44 (rentang 0,01-34,04) Nilai NLCR memiliki korelasi bermakna dengan CRP (r=0,310; p=0,005). Kesimpulan. Terdapat korelasi positif yang bermakna antara neutrophil-lymphocyte count ratio dengan CRP pada pasien sepsis anak.

Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue