cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Profil Kecukupan Asupan Makanan pada Rawat Inap Julius Anzar; Bagus Pratignyo; M Nazir
Sari Pediatri Vol 14, No 6 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.6.2013.351-6

Abstract

Latar belakang. Kekurangan Jumlah asupan makanan pasien rawat inap sering kali ditemukan.Tujuan. Mengetahui profil kecukupan asupan makanan pada pasien anak rawat inap. Metode. Penelitian cross sectionaldilakukan November 2011- Januari 2012 pada pasien anak rawat inap di RSUP Dr. Mohammad Hoesin, Palembang. Sampel dipilih secara consecutivedengan kriteria usia >1-10 tahun, dirawat >24 jam, tidak menderita sakit kritis, bukan gizi buruk, tidak terdapat kontraindikasi makan per oral, tidak terdapat masa atau asites diberikan asupan nutrisi berdasarkan buku rekomendasi IDAI tentang asuhan nutrisi pediatrik. Data asupan makan dihitung setelah perawatan 3 hari rawat dan data dianalisis dengan uji Fisher. Asupan dinyatakan tidak cukup apabila asupan rata-rata energi dan protein 3 hari pertama <80% kebutuhan.Hasil. Didapatkan 105 pasien yang diteliti, terbanyak usia 6-10 (59%) tahun, jenis kelamin perempuan (52%), status gizi baik (52%). Umur 1–5 tahun, asupan energi tidak cukup 27,9%; asupan protein tidak cukup 34,9%. Umur 6–10 tahun, asupan energi tidak cukup 50%; asupan protein tidak cukup 37,1%. Anak laki-laki, asupan energi tidak cukup 36%; asupan protein tidak cukup 15 30%. Anak perempuan, asupan energi tidak cukup 45,5%; asupan protein tidak cukup 41,8%. Gizi baik, asupan energi tidak cukup 38,2%; asupan protein tidak cukup 36,4%. Gizi kurang, asupan energi tidak cukup 44%; asupan protein tidak cukup 36%.Kesimpulan. Ketidakcukupan energi dan protein lebih banyak dialami oleh perempuan dan kelompok umur 6–10 tahun.
Insidens dan Karakteristik Otitis Media Efusi pada Rinitis Alergi Anak Siti Munawaroh; Zakiudin Munasir; Brastho Bramantyo; Antonius Pudjiadi
Sari Pediatri Vol 10, No 3 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.3.2008.212-8

Abstract

Latar belakang. Rinitis alergi merupakan masalah kesehatan global yang diderita oleh 10% sampai 25% penduduk dunia. Rinitis alergi sering dihubungkan dengan penyakit lain seperti otitis media efusi (OME), namun perannya masih diperdebatkan. Pada anak-anak, OME kadang-kadang bersifat asimtomatik. Namun jika hal ini tidak cepat dikenali dan diatasi maka akan menjadi faktor predisposisi gangguan bicara di kemudian hari. Oleh karena itu, perlu mendeteksi lebih dini gangguan telinga tengah yang berkaitan dengan rinitis alergi.Tujuan. Mengetahui insidens dan karakteristik OME pada pasien rinitis alergi anak usia 4-14 tahun.Metode. Penelitian deskriptif potong lintang pada 64 anak rinitis alergi usia 4-14 tahun di Poliklinik Alergi Imunologi Departemen IKA RSCM. Dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisis, uji kulit, dan pemeriksaan laboratorium serta timpanometri.Hasil. Berdasarkan klasifikasi Liden and Jerger (timpanogram tipe B untuk OME, timpanogram tipe C untuk gangguan fungsi tuba Eustachius (TE)), OME ditemukan pada 11 dari 64 pasien rinitis alergi (17,2%) dan 10 pasien (15,6%) menderita gangguan fungsi TE. Laki-laki 7 dari 11 pasien, lebih banyak diderita pada anak usia 4-6 tahun (6 dari 11 pasien). Rinitis alergi merupakan riwayat atopi terbanyak dalam keluarga (9 dari 11 pasien), sebagian besar pasien OME tidak mengeluh gangguan telinga (8 dari 11 pasien) dan semua pasien yang asimtomatik berusia kurang dari 10 tahun. Pasien dengan OME lebih sedikit terpapar asap rokok (4 dari 11 pasien), sebagian besar tidak memelihara anjing dan kucing (9 dari 11 pasien), semua pasien dengan OME memiliki kadar IgE total meningkat, dan uji kulit positif.Kesimpulan. Insidens OME pada rinitis alergi anak 17,2%. Didominasi oleh laki-laki, usia 4-6 tahun, asimtomatik, peningkatan IgE dan eosnofil total serta uji kulit positif.
Fungsi Adrenal pada Sepsis di Unit Perawatan Intensif Pediatrik R. Irma Rachmawati; Dwi Putro Widodo; Bambang Tridjaja AAP; Antonius H. Pudjiadi
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.821 KB) | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.426-32

Abstract

Latar belakang. Insufisiensi adrenal sering dijumpai pada pasien syok septik dan berhubungan dengankejadian syok refrakter katekolamin dan peningkatan mortalitas.Tujuan. Mengetahui profil fungsi adrenal pada anak yang menderita sepsis di Unit Perawatan IntensifPediatrik RSCM.Metode. Penelitian deskriptif dengan desain potong lintang. Semua subjek menjalani uji stimulasikortikotropin dosis standar. Insufisiensi adrenal (IA) ditegakkan jika respons peningkatan kortisol terhadapuji (􀀧 maks) 􀁤9 μg/dl dan dikelompokkan menjadi absolut (IAA) jika kortisol pra-uji t0 <20 μg/dl danrelatif (IAR) jika t0 􀁴20 μg/dl.Hasil. Tiga puluh anak sepsis (18 laki-laki) diikutsertakan dalam penelitian. usia median adalah 29 (1-153)bulan dan median skor PELOD 12,5 (0-33). Insufisiensi adrenal dijumpai pada 8 (26,7%) pasien (2 IAA and6 IAR), lebih sering pada perempuan (p=0,003), serta cenderung lebih sering pada syok septik (p=0,682).Median t0 32,75 (4,23-378) μg/dl, t30-60 48,20 (16,70-387) μg/dl, dan 􀀧 maks 15,40 (0,90-60,80) μg/dl. Kadar t0 dan t30-60 lebih tinggi pada kelompok syok septik (p=0,03 dan p=0,01) namun tidak berbedaantara subjek dengan dan tanpa IA. Terdapat kecenderungan korelasi positif antara skor PELOD dengant0 dan t30-60 (r=0,7; dan r=0,6; p􀁤0,001). Hipotensi sistolik dijumpai pada seluruh subjek dengan IA dansyok refrakter katekolamin cenderung lebih sering pada kelompok IA (p=0,67). Mortalitas 36,7%, tidakberbeda antara subjek dengan dan tanpa IA.Kesimpulan. Insufisiensi adrenal sering dijumpai pada yang menderita anak sepsis dan harus dipertimbangkanpada kondisi syok septik. Penelitian lanjutan diperlukan untuk menentukan efektivitas terapi steroid.
Efektivitas T-Piece Resuscitator Sebagai Pengganti Continous Positive Airway Pressure Dini pada Bayi Prematur dengan Distres Pernapasan Laila Laila; Rinawati Rohsiswatmo; Hanifah Oswari; Darmawan B Setyanto; Teny Tjitra; Rismala Dewi
Sari Pediatri Vol 14, No 6 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.63 KB) | DOI: 10.14238/sp14.6.2013.374-8

Abstract

Latar belakang. Teknik resusitasi yang tepat dengan penggunaan CPAP dini atau t-piece resuscitator di tempatbayi dilahirkan, dapat diturunkan kebutuhan intubasi, mengurangi penggunaan surfaktan, dan menurunkankomplikasi bronchopulmonary dysplasia (BPD). Penting untuk mengetahui peran t-piece resuscitator sebagaipengganti CPAP dini untuk mencegah kejadian intubasi pada bayi dengan distres pernapasan (DP).Tujuan. Mengetahui peran t-piece resuscitator sebagai pengganti CPAP dini untuk mencegah kejadianintubasi dan mengetahui faktor-faktor risiko yang mempengaruhi kegagalan CPAP pada bayi prematurdengan DP.Metode. Penelitian kohort propektif dengan historical cohort sebagai kontrol pada 141 bayi prematur denganDP di Unit Perinatologi IKA-RSCM, selama Februari-Mei 2011.Hasil. T-Piece Resuscitator terbukti berdampak protektif menurunkan kegagalan CPAP sebesar 90%[RR:0,1,IK95%: 0,02-0,5, dan p=0,003]. Faktor lain yang memengaruhi kegagalan CPAP adalah settingawal FiO2>60% [p=0,005; RR: 1,1,IK95%: 1,03-1,2] dan sepsis neonatal [p=0,000; RR:11,6, IK95%:3,9-34,5].Kesimpulan. T-piece resuscitator berefek protektif menurunkan kegagalan CPAP 90% dan faktor-faktoryang memengaruhi kegagalan CPAP adalah setting awal FiO2>60%, dan sepsis neonatal.
Skala Gangguan Tidur untuk Anak (SDSC) sebagai Instrumen Skrining Gangguan Tidur pada Anak Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Christine Natalita; Rini Sekartini; Hardiono Poesponegoro
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.503 KB) | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.365-72

Abstract

Latar belakang. Dampak gangguan tidur pada remaja adalah penurunan prestasi akademis di sekolah,meningkatkan kenakalan remaja dan meningkatkan angka pemakaian rokok. Deteksi dini gangguan tidurperlu dilakukan karena remaja jarang mengeluh dan mengganggapnya bukan suatu masalah yang serius.Pemeriksaan gangguan tidur menggunakan polysomnography mahal dan tidak praktis, sedangkan pemeriksaanwrist actigraphy sederhana tetapi belum tersedia di Indonesia. Skala gangguan tidur untuk anak atau sleepdisturbance scale for children (SDSC) praktis dan murah.Tujuan. Mengetahui sensitivitas dan spesifisitas SDSC terhadap pemeriksaan wrist actigraphy.Metode. Penelitian uji diagnostik dengan desain potong lintang selama bulan Juli-Oktober 2010. Muridyang memenuhi kriteria inklusi, dilakukan pemeriksaan wrist actigraphy dan pengisian kuisioner SDSCbersama orangtua.Hasil. Sebagian besar subjek berusia 14 tahun (50%). Rerata waktu subjek tidur adalah pukul 22:12, waktusubjek bangun pukul 05:55, dan total waktu tidur subjek 6 jam 47 menit. Terdapat 40 subjek (62,5%)yang menderita gangguan tidur menurut SDSC dengan jenis gangguan yang paling sering adalah gangguantransisi tidur-bangun (25%). Berdasarkan pemeriksaan wrist actigraphy terdapat 42 subjek (65,6%) yangmenderita gangguan tidur. Nilai diagnostik SDSC terhadap wrist actigraphy didapatkan sensitivitas 71,4%dan spesifisitas 54,5%. Nilai duga positif dan nilai duga negatif adalah 75% dan 50%.Kesimpulan. Sensitivitas dan spesifisitas SDSC terhadap pemeriksaan wrist actigraphy adalah 71,4% dan54,5%. Instrumen SDSC dapat digunakan sebagai alat skrining gangguan tidur pada remaja.
Pengaruh Suplementasi Seng Terhadap Insidens Diare dan Tumbuh Kembang Anak pada Usia 24-33 Bulan BRW. Indriasari; JC. Susanto; Suhartono Suhartono
Sari Pediatri Vol 14, No 3 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.017 KB) | DOI: 10.14238/sp14.3.2012.147-51

Abstract

Latar belakang.Defisiensi seng sangat sering terjadi pada anak-anak di negara berkembang. Suplementasi seng dapat menurunkan insidens diare, memperbaiki defisiensi seng, serta memperbaiki pertumbuhan dan perkembangan anak. Tujuan.Membuktikan pengaruh suplementasi seng 20 mg dua kali seminggu selama 12 minggu terhadap insidens diare serta tumbuh kembang pada anak usia 24-33 bulan. Metode.Penelitian eksperimental dengan double-blind, randomized controlled trial, dilakukan di beberapa kelompok PAUD di Kelurahan Tandang, Semarang pada Desember 2010-Februari 2011. Seratus anak usia 24-33 bulan secara random dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok perlakuan (n=50) menerima 5 cc sirup seng elemental 20 mg dua kali seminggu dan kelompok kontrol (n=50) menerima 5 cc sirup plasebo dua kali seminggu selama 12 minggu. Kadar seng plasma diperiksa sebelum perlakuan. Pertumbuhan dinilai dengan antropometri (berat badan, tinggi badan) dan perkembangan (skor bahasa, visual motorik) menggunakan Capute scale test, diukur sebelum dan setelah perlakuan. Data morbiditas diare dan pengukuran tinggi badan dan berat badan dicatat dan diukur setiap 2 minggu, perkembangan kognitif dipantau setiap 4 minggu saat kunjungan rumah. Uji statistik dilakukan dengan Chi-square dan Mann-Whitney test.Hasil. Insidens diare pada kelompok perlakuan 34%, risiko relatif 1,32 (95% IK=0,89-1,95), sedang pada kontrol 22%. Rerata kadar seng serum pada kelompok perlakuan dan kontrol rendah (<60 mcg/dL) dengan nilai p=0,059. Rerata perubahan skor WAZ dan HAZ kelompok perlakuan sama dengan kontrol 0,11 dengan nilai p=0,098. Rerata perubahan skor WHZ kelompok perlakuan 0,19 dan kontrol 0,32 dengan nilai p=0,647. Perubahan skor bahasa kelompok perlakuan 7,72 dan kontrol 6,98 dengan nilai p=0,319 dan perubahan skor visual motorik kelompok perlakuan 6,30 dan kontrol 5,78 dengan nilai p=0,342.Kesimpulan.Suplementasi seng 20 mg dua kali seminggu selama 12 minggu tidak menurunkan insidens diare pada kelompok perlakuan. Terjadi percepatan pertumbuhan serta perubahan skor bahasa dan visualmotorik pada kelompok perlakuan tetapi dengan uji statistik tidak ada perbedaan bermakna.
Hemangioma pada Anak Selvi Nafianti
Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.3.2010.204-10

Abstract

Hemangioma, merupakan tumor jinak endotel vaskular yang paling sering dijumpai pada masa bayi (10%-12% dari seluruh anak mendekati umur 1 tahun ), ditandai dengan fase proliferasi yang berlangsung cepatselama 8 hingga 18 bulan, diikuti dengan fase involusi spontan selama 5 sampai 8 tahun. Hemangiomaumumnya mengenai kulit, terutama kepala dan leher (60%), dan anggota gerak (25%). Ukurannya sangatbervariasi mulai dari beberapa millimeter hingga sentimeter. Hampir pada seluruh kasus, diagnosis dapatditegakkan secara ekslusif berdasarkan pemeriksaan fisis dan riwayat penyakit. Namun demikian, beberapajenis hemangioma dapat disalahartikan sebagai malformasi vaskular atau jenis tumor lain, sehingga diperlukanpemeriksaan penunjang. Umumnya hemangioma tidak menimbulkan komplikasi, dan dapat diobservasihingga terjadi involusi spontan. Pada beberapa kasus diperlukan pengobatan. Banyak pilihan terapi padahemangioma, namun sampai saat ini pemberian obat-obatan masih menjadi pilihan utama di bandingoperasi atau terapi lain. Terapi steroid merupakan terapi pilihan utama walaupun masih banyak kontroversisehubungan dengan efek samping yang mungkin terjadi. Pada kasus yang berat dan gagal dengan terapisteroid sebanyak 2 siklus dapat dipertimbangkan untuk melakukan operasi, radioterapi, dan pemberiansitostatika seperti vinkristin dan bleomisin.
General Movements pada Bayi dengan Riwayat Hiperbilirubinemia Patricia A. Pattinama; Alifiani Hikmah Putranti; Gatot Irawan Sarosa
Sari Pediatri Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.2.2012.122-9

Abstract

Latar belakang. Deteksi dini gangguan perkembangan neurologis pada bayi muda sulit dilakukan. Hiperilirubinemia merupakan salah satu penyebab terjadinya gangguan perkembangan pada anak. Pemeriksaan kualitas general movements(GMs) pada usia fidgety(3 bulan) memiliki nilai prediksi terhadap gangguan perkembangan.Tujuan.Menilai pengaruh hiperbilrubinemia terhadap terjadinya abnormal GMs. Metode.Penelitian kohort dilanjutkan dengan nested case controlpada 44 bayi yang lahir di RSUP Dr.Kariadi, Semarang pada September 2009 sampai dengan Februari 2010. Subyek penelitian terdiri dari kelompok I 22 bayi dengan kadar BIS (bilirubin indirek serum) >12 mg/dl dan kelompok II 22 bayi dengan kadar BIS <12 mg/dl, pada kedua kelompok dilakukan pemeriksaan GMs dengan rekaman video menggunakan standarisasi metode Prechtl pada usia 3 bulan. Analisis hasil rekaman dilakukan oleh ahli. Hasil dari kelompok normal dan kelompok abnormal, dilakukan nested case controlGMs abnormal adalah kelompok kasus dan kelompok kontrol GMs normal berdasarkan skala Likert. Abnormal GMs apabila skor d5. Diteliti hubungan hiperbilirubinemia dengan GMs abnormal. Uji statistik dengan chi-square, Receiver operating curve(ROC), dan multivariat regresi logistik.Hasil. Rerata kadar BIS pada kelompok I 15,0±3,43 mg/dL dan rerata kadar BIS pada kelompok II 8,5±1,68 mg/dL. Pada kedua kelompok terdapat neonatus dengan GMs normal dan abnormal. Rerata kadar BIS pada kelompok abnormal GMs (kelompok kasus) 15,6±4,18 mg/dL, sedangkan kelompok kontrol 9,8±2,63 mg/dL dengan p<0,001. Analisis kurva ROC menunjukkan luas area dibawah kurva ROC untuk kadar BIS 0,92. Kadar BIS neonatal dapat digunakan sebagai prediktor GMs abnormal dengancut-off point BIS 12,67 mg/dL. Kesimpulan.Kadar BIS neonatal t12 mg/dL dapat digunakan sebagai prediktor GMs abnormal.
Faktor Prognosis Terjadinya Syok pada Demam Berdarah Dengue Raihan Raihan; Sri Rezeki S Hadinegoro; Alan R Tumbelaka
Sari Pediatri Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.763 KB) | DOI: 10.14238/sp12.1.2010.47-52

Abstract

Latar belakang. Infeksi virus dengue hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia.Mengingat manifestasi klinis yang sangat bervariasi, diagnosis klinis awal demam berdarah dengue (DBD)sering sulit ditegakkan, apalagi untuk memprediksi apakah seorang pasien akan menjadi syok atau syokberulang. Penilaian akurat terhadap risiko syok merupakan kunci penting menuju tatalaksana yang adekuat,mencegah syok, dan perdarahan.Tujuan. Mencari parameter klinis dan laboratoriss sebagai faktor resiko terjadinya syok pada pasienDBD.Metode. Penelitian retrospektif dengan menggunakan data rekam medik pasien DBD yang memenuhikriteria WHO 1997 dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan serologi di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUPDr Cipto Mangunkusumo Jakarta dari Januari 2007-Desember 2009. Variabel independen adalah lamademam, perdarahan, hepatomegali, hemokonsentrasi, leukosit, trombosit. Faktor prognosis syok merupakanvariabel dependen. Analisis dengan menggunakan analisis regresi logistikHasil. Dari 276 pasien yang memenuhi kriteria penelitian, 139 di antaranya (50,3%) perempuan dan 137(49,6%) laki-laki dengan usia 5-10 tahun sebagai kelompok terbanyak. Lebih separuh pasien (69,2%)mempunyai gizi baik. Syok terjadi pada 103 (37,3%) pasien terutama pada hari keempat sakit (81,6%).Hepatomegali ditemukan pada 49,6% kasus, perdarahan saluran cerna 14,9%, hemokonsentrasi 81,2%,kadar hematokrit 􀁴42% 54,3%. leukosit <5.000/mm3 76,8% dan jumlah trombosit 􀁴50.000-100.000/mm367,4%. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan hepatomegali dan perdarahan saluran cerna adalah faktorprognosis yang paling berperan terhadap terjadinya syok dengan AOR berturut-turut 13,8 dan 8,4.Kesimpulan. Karakteristik klinis yaitu hepatomegali dan perdarahan saluran cerna merupakan faktorprognosis terjadinya syok pada DBD.
Pubertas Terlambat pada Anak Thalassemia di RSAB Harapan Kita Jakarta Hermien W Moeryono; Fajar Subroto; Aditya Suryansyah
Sari Pediatri Vol 14, No 3 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.812 KB) | DOI: 10.14238/sp14.3.2012.162-6

Abstract

Latar belakang. Thalassemia adalah salah satu penyakit kelainan darah yang cukup banyak diderita oleh anak-anak di Indonesia.Dengan penanganan thalassemia yang baik maka angka harapan hidup anak thalassemia meningkat. Transfusi darah terus-menerus menimbulkan masalah timbunan besi dalam tubuh, dan paling sering menyebabkan pubertas terlambat pada anak thalassemia. Tujuan.Melihat angka kejadian keterlambatan pubertas pada anak thalassemia, kadar serum ferritin dan hubungannya dengan terapi kelasi besi yang didapat di RSAB Harapan Kita Jakarta.Metode. Penelitian dilakukan secara deskriptif pada 14 anak thalassemia yang dirawat di Rumah Sakit Anak Bunda (RSAB) Harapan Kita dari 1 Januari 2008 – 31 Maret 2011. Data diambil dari rekam medis dan dianalisis dengan SPSS 17.0Hasil. Pasien thalassemia anak dan berada dalam usia pubertas adalah 28,6% laki-laki dan 71,4% perempuan. Anak yang mengalami keterlambatan pubertas 5 anak (35,7%), yaitu 2 anak (14,3%) perempuan dan 3 anak (21,4%) laki-laki. Kadar serum ferritin di atas 10000 ng/mL dijumpai pada 2 anak (14,3%) dan 13 anak (92,9%) memiliki status gizi kurang. Loss to follow up4 anak (28,6%) dan yang meninggal 2 anak (14,3%). Rata-rata jumlah transfusi 108,6±42,3 cc/kgBB/tahun dan rata-rata kadar serum ferritin adalah 7130,1±3621,4 ng/mL.Kesimpulan. Angka kejadian pubertas terlambat pada thalassemia di RSAB Harapan Kita Jakarta adalah 35,7%. Keterlambatan pubertas itu dapat karena deposit besi yang tinggi dalam tubuh dan terapi besi yang tidak adekuat. Selain itu pubertas juga dipengaruhi oleh status gizi dari anak tersebut. Anak thalassemia di RSAB Harapan Kita 92,9% memiliki status gizi yang kurang. Untuk itu deteksi dini untuk melihat tanda-tanda pubertas pada anak thalassemia sangat diperlukan untuk anak perempuan yang sudah menginjak usia 8 tahun dan anak laki-laki 9 tahun sehingga penanganan dari keterlambatan pubertas dapat dimulai sejak awal. Dengan terapi kelasi besi yang adekuat diharapkan anak thalassemia mengalami perkembangan pubertas yang sama dengan anak normal.

Page 22 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue