cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Validasi Kriteria Diagnosis Infeksi Saluran Kemih Berdasarkan American Academy of Pediatrics 2011 pada Anak Usia 2-24 Bulan Ikhsan Trinadi; Eggi Arguni; Kristia Hermawan
Sari Pediatri Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.359 KB) | DOI: 10.14238/sp18.1.2016.17-20

Abstract

Latar belakang. Gejala klinis infeksi saluran kemih (ISK) pada anak yang tidak spesifik dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis. Keterlambatan penanganan berkaitan dengan risiko terbentuknya parut ginjal. Tahun 2011 American Academy of Pediatrics (AAP) mengeluarkan panduan klinis diagnosis ISK anak usia 2-24 bulan dengan akurasi yang baik. Penggunaan lokal kriteria ini belum divalidasi.Tujuan. Validasi kriteria diagnosis ISK AAP 2011 pada anak usia 2-24 bulan di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta.Metode. Penelitian cross sectional periode Januari 2013 hingga Juni 2015 dilakukan terhadap anak usia 2-24 bulan dengan demam yang memiliki data urinalisis dan kultur urin. Hasil penilaian kriteria AAP dibandingkan dengan pemeriksaan kultur urin.Hasil. Berdasarkan hasil kultur didapatkan 21 pasien menderita ISK, sementara 64 pasien di diagnosis diare akut, demam dengue, pneumonia, dan infeksi CMV. Didapatkan sensitifitas, spesifisitas, rasio kemungkinan positif, rasio kemungkinan negatif kriteria diagnosis AAP 2011 adalah 85,7%, 92,2%, 11,0%, dan 0,2%.Kesimpulan. Kriteria AAP 2011 bisa digunakan sebagai alat diagnostik yang reliable untuk memprediksi ISK pada anak.
Korelasi Skala FLACC dengan Kadar Alfa Amilase Saliva pada Anak Palsi Serebral Rissa Puspitari Sabur; Nelly Amalia Risan; Alex Chairulfatah
Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.2.2016.142-5

Abstract

Latar belakang. Skala face, leg, activities, cry, and consolability (FLACC) diketahui dapat menilai nyeri pada anak palsi serebral (PS). Alfa amilase saliva (AAS) yang diambil dari saliva juga meningkat pada anak palsi serebral yang dilakukan tindakan invasif pengambilan darah vena. Korelasi antara kedua jenis pemeriksaan ini belum diketahui.Tujuan. Menentukan korelasi skor FLACC dengan kadar AAS pada anak PS.Metode. Penelitian analitik observasional dengan rancangan potong lintang, yaitu mengukur derajat nyeri menggunakan skala FLACC dengan mengamati perilaku subjek dan menilai perilaku sesuai yang tertera pada formulir FLACC. Kadar AAS diperiksa sebelum dilakukan tindakan fisioterapi. Pengukuran kadar AAS dengan metode spektrofotometri pada anak yang telah didiagnosis PS yang datang berobat di Poliklinik Neurologi Anak dan Unit Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, berusia 6 bulan–14 tahun, periode Januari - Maret 2016. Analisis data digunakan uji korelasi Rank Spearman dengan kemaknaan p<0,05.Hasil. Didapat 42 pasien anak dengan diagnosis PS. Uji statistik menggunakan uji korelasi Rank Spearman menunjukkan terdapat korelasi yang lemah antara skor FLACC dan kadar AAS (r=0,364; p=0,034) pada kelompok usia >24 bulan.Kesimpulan. Peningkatan skor FLACC kecenderungan diikuti dengan peningkatan kadar AAS pada anak PS.
Efektivitas Suplemen Zink pada Pneumonia Anak Audrey M. I. Wahani
Sari Pediatri Vol 13, No 5 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.5.2012.357-61

Abstract

Latar belakang.Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak berusia di bawah lima tahun. Diperkirakan 20% dari seluruh kematian pada anak di bawah lima tahun disebabkan oleh infeksi saluran napas bawah akut dengan 90% di antaranya disebabkan oleh pneumonia. Zink adalah mikronutrien penting pada manusia dan terbukti penting untuk daya tahan tubuh, disamping itu anakanak terutama di negara berkembang kekurangan zink. Defisiensi zink mengakibatkan dampak serius bagi kesehatan terutama sistem imun melemah sebagai akibatnya terjadi peningkatan prevalensi penyakit infeksi pada anak seperti pneumonia. Pemberian zink telah diteliti sebagai suatu untuk pengobatan dan pencegahan dari pneumonia.Tujuan. Mengetahui pengaruh pemberian suplemen zink dalam perbaikan respon klinik anak dengan pneumonia serta waktu pemulihan dan lama tinggal pasien di rumah sakit.Metode.Penelitian quasi eksperimental dengan metodepost-test design with unequivalent control group dalam bentuk observasi prospektif dilakukan pada anak usia 2 bulan-5 tahun yang menderita pneumonia di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Pusat Prof.Dr.R.D.Kandou Manado.Hasil.Didapatkan pemberian zink bermanfaat memperbaiki waktu demam 22,5%, sesak napas 28,9% dan laju napas 65,8% lebih singkat dibandingkan kontrol. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p>0,05) pada kesembuhan batuk dan waktu rawat inap pada kelompok zink maupun kontrol.Kesimpulan.Pemberian suplemen zink 20 mg pada anak dengan pneumonia efektif dalam pemulihan demam, sesak napas, dan laju pernapasan.
Insidens Diare pada Anak dengan Pneumonia, Studi Retrospektif Nurjannah Nurjannah; Nora Sovira; Raihan Raihan; Sulaiman Yusuf; Sidqi Anwar
Sari Pediatri Vol 13, No 3 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.888 KB) | DOI: 10.14238/sp13.3.2011.169-73

Abstract

Latar belakang. Pneumonia dan diare merupakan penyebab utama angka kesakitan dan kematian pada anak. Kedua penyakit dapat terjadi terpisah atau bersamaan. Insidens dari kedua penyakit bersamaan akan menentukan tata laksana kasus tersebut selanjutnya.Tujuan.Mengetahui insidens diare pada anak yang dirawat dengan pneumonia di bangsal anak.Metode.Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan data dari rekam medis pasien mulai 1 Januari 2008 sampai 31 Desember 2009, yang dirawat di RSUD Dr.Zainoel Abidin Aceh. Hasil.Terdapat 347 anak yang diikutkan dalam penelitian dan 54,2% anak menderita diare, 29,4% menderita pneumonia dan 4,3% menderita diare dengan pneumonia. Selama periode penelitian didapatkan 2035 anak dirawat di bangsal anak RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh; 347 anak di antaranya dilakukan analisis. Dari 347 anak, 54,2% menderita diare, 29,4% pneumonia, dan 4,3% diare ditambah pneumonia. Terbanyak (80%) umur kurang dari 1 tahun, 60% dengan gizi kurang, disertai suhu 380C, muntah (46,7%), dan disertai anemia, terdapat pada anak dengan diare dan pneumonia.Kesimpulan.Pada anak yang dirawat inap dalam dua tahun terakhir didapatkan angka infeksi diare lebih tinggi daripada pneumonia. Insidens diare beserta pneumonia 4,3%.
Penggunaan MgSO4 pada Asma Serangan Berat: laporan kasus Bambang Supriyatno; Rismala Dewi; Wahyuni Indawati
Sari Pediatri Vol 11, No 3 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.453 KB) | DOI: 10.14238/sp11.3.2009.155-8

Abstract

Derajat serangan asma dibagi dalam tiga kelompok yaitu serangan ringan, sedang, dan berat, untuk membedakan tata laksananya. Kadang-kadang dengan tata laksana yang sudah sesuai standar pada serangan berat kurang memberikan respons sehingga perlu tata laksana alternatif. Salah satu terapi alternatif adalah penggunaan MgSO4 yang masih menjadi kontroversi efektivitasnya dibandingkan dengan pemberian inhalasi beta-2 agonis dan ipratropium bromida. Di sisi lain pernah dilaporkan keberhasilan penggunaan MgSO4 pada asma serangan berat setelah gagal dengan tata laksana standar. Dilaporkan dua anak dengan asma serangan berat yang tidak responsif dengan terapi standar seperti pemberian oksigen, cairan rumatan, inhalasi dengan dengan beta-2 agonis dan kortikosteroid intravena. dengan penambahan MgSO4 didapatkan respons yang sangat baik. Sebagai kesimpulan MgSO4 dapat digunakan sebagai terapi alternatif pada asma serangan berat.
Profil Diare di Ruang Rawat Inap Anak Sulaiman Yusuf
Sari Pediatri Vol 13, No 4 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.616 KB) | DOI: 10.14238/sp13.4.2011.265-70

Abstract

Latar belakang. Data tentang profil pasien diare pada anak di Rumah Sakit - Rumah Sakit pusat rujukan belum lengkap termasuk di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh. Tujuan. Mengetahui profil pasien diare di ruang rawat inap anak RSUDZA Banda Aceh.Metode. Studi retrospektif dilakukan pada pasien diare di ruang rawat inap anak RSUDZA Banda Aceh, tanggal 1 Juli 2009 s/d 30 Juni 2010. Pencatatan dilakukan tentang umur, jenis kelamin, jenis diare, derajat dehidrasi, status gizi, penyakit penyerta, dan lama rawatan kemudian disajikan secara deskriptif.Hasil.Jumlah pasien rawat terlama periode penelitian 1279 anak, sedangkan pasien diare 104 anak (8,1%). Proporsi diare berdasarkan umur yaitu 1 bulan - <2 tahun 73,1%, 2 - <5 tahun 18,3%, dan 5 - 16 tahun 8,6%. Jenis diare yaitu, diare akut 80,8%, diare melanjut 12,5% dan diare persisten 6,7%. Derajat dehidrasi yaitu, tanpa dehidrasi 26%, dehidrasi ringan-sedang 62,5%, dan dehidrasi berat 11,5%. Status gizi yaitu, obesitas 5,8%, gizi lebih 2,9%, normal 44,2%, gizi kurang 38,5%, dan gizi buruk 8,6%. Pasien diare disertai penyakit penyerta 55,8% yaitu gizi kurang 68,9%, gizi buruk 15,5%, bronkopneumonia 6,9%, tonsilofaringitis akut 3,5%, kejang demam kompleks 3,5%, dan varisela 1,7%. Lama rawatan 90,4% kurang dari 5 hari. Kesimpulan. Kelompok umur terbanyak pasien diare < 2 tahun, diare persisten 6,7%, diare dengan dehidrasi berat 11,5%, dan lama rawat ≥5 hari 9,6%, serta penyakit penyerta terbanyak adalah gizi kurang dan buruk, serta bronkopneumonia.
Perbedaan Kadar Leptin pada Anak yang Menderita Infeksi Dengue Anggia Farrah Rizqiamuti; Sri Endah Rahayuningsih; Dedi Rachmadi; Rachmat Budi
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.244 KB) | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.1-4

Abstract

Latar belakang. Infeksi dengue merupakan infeksi akut yang dapat mempengaruhi kadar leptin. Perbedaan spectrum klinis infeksi dengue menyebabkan perbedaan kadar interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-α(TNF-α). Tujuan. Mengetahui perbedaan kadar leptin pada anak yang menderita infeksi dengue.Metode.Penelitian analitik dengan rancangan potong lintang. Subjek penelitian adalah pasien DB, DBD, dan SSD (pascasyok) yang memenuhi kriteria klinis dan telah dibuktikan melalui pemeriksaan serologis. Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis dan Mann-Whitney untuk menentukan perbedaan kadar leptin pada DB dengan DBD dan SSD.Hasil. Pasien infeksi dengue 48 anak terdiri dari 27 DB, 11 DBD, dan 10 SSD. Terdapat perbedaan bermakna kadar leptin antara DB dengan DBD, dan SSD p=0,002. Rerata kadar leptin pada DD 703,4 (374,1–3616,7), DBD 2.172 (554,3–16631,1), dan SSD 1.321 (250,5–4.714,6). ng/mL Kadar leptin DBD lebih tinggi dibandingkan dengan DD (p<0,001), namun kadar leptin antara DBD dan SSD tidak berbeda bermakna (p=0,132) dan kadar leptin antara SSD (postsyok) dan DD tidak berbeda bermakna (p=0,158).Kesimpulan. Kadar leptin pada DBD lebih tinggi dibandingkan dengan DD, sedangkan kadar leptin antara DBD dan SSD (postsyok) tidak berbeda.
Peran Transforming Growth Factor-B1 pada Penyakit Ginjal Partini Pudjiastuti Trihono
Sari Pediatri Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.1.2011.49-54

Abstract

Peran sitokin dan faktor pertumbuhan(growth factor)sangat penting dalam proses inflamasi yang mendasari pembentukan jaringan sklerotik dan fibrosis pada glomerulonefritis. Transforming growth factor(TGF)-E1merupakan sitokin multipoten yang disekresi oleh berbagai sel dalam tubuh. Sitokin TGF- E1 mempunyai kapasitas untuk mengaktivasi fibroblas interstisial, menginduksi apoptosis (yang menyebabkan sel intrinsik ginjal hilang, digantikan dengan jaringan fibrotik), dan diferensiasi sel tubulus menjadi miofibroblas, sehingga terjadi pembentukan jaringan parut ginjal. Jumlah (TGF)-E1 di daerah tubulo-interstisial berkorelasi dengan derajat inflamasi interstisial dan atrofi tubulus. Keterlibatan TGF-E1 pada pembentukan jaringan parut ginjal juga melalui peningkatan sintesis matriks ekstra selular. Diketahui bahwa TGF-E1 berperan dalam progresivitas penyakit ginjal. Kadar TGF-E1 di dalam urin kasus glomerulonefritis dengan proteinuria berat, sangat meningkat, dan kadarnya sebanding dengan derajat proteinuria. Peran TGF-E1 dalam progresivitas penyakit ginjal juga melalui terjadinya hipertensi. Angiotensin II sebagai hasil aktivasi sistim renin-angiotensin menstimulasi produksi TGF-E1. Inhibitor enzim konvertase (ACEI) dan atau antagonis reseptor angiotensin II terbukti dapat menurunkan proteinuria dan produksi TGF-E1, sehingga kedua obat tersebut dikenal mempunyai efek reno-proteksi.
Peran Ibu Terhadap Durasi Diare Akut Anak Umur 6-24 Bulan Selama Perawatan G.Panji Pati Pati; Ninung Rose DK, I. Hartantyo; Ag. Soemantri
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.619 KB) | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.56-60

Abstract

Latar belakang. Peran ibu (knowledge, attitude, practise) dalam menurunkan durasi diare akut anak selama perawatan sangat penting. Oleh karena itu, diperlukan � � � � � � pemerataan dan peningkatan upaya pencegahan, pemberantasan, dan tatalaksana diare anak sehingga peran ibu diharapkan dapat menurunkan durasi diare.Tujuan. Membuktikan hubungan antara peran ibu dengan durasi diare akut anak selama perawatan di RSUP dr. Kariadi, Semarang.Metode. Rancangan studi potong lintang dengan subjek ibu dan anaknya yang berumur 6-24 bulan yang dirawat di Bangsal Gastroenterohepatologi RSUP Dr. Kariadi, Semarang karena diare akut pada bulan Mei-Agustus 2011. Penilaian peran ibu (knowledge, attitude, practise) dengan wawancara menggunakan kuesioner terpimpin, terdiri atas 15 pertanyaan dengan skor 0-15 untuk pengetahuan dan sikap, 0-45 untuk perilaku. Durasi diare adalah lama hari anak mengalami diare selama perawatan. Durasi pendek apabila dirawat selama 1-4 hari dan panjang >4 hari. Analisis statistik menggunakan analisis bivariat, untuk uji hipotesis dengan Spearman Rho Correlation Test.Hasil. Didapatkan 35 subjek selama periode penelitian. Korelasi skor total pengetahuan ibu terhadap durasi pendek selama perawatan diare didapatkan korelasi positif (0,169), sikap ibu didapatkan korelasi positif (0,220), praktek ibu didapatkan korelasi positif (0,012). Ketiganya dengan kekuatan korelasi lemah, dan untuk korelasi skor total KAP (knowledge, attitude, practise) ibu terhadap durasi pendek didapatkan korelasi positif (0,157) dengan kekuatan korelasi lemah.Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan antara peran ibu dengan durasi diare akut anak selama perawatan.
Perbedaan Respon Hematologi dan Perkembangan Kognitif pada Anak Anemia Defisiensi Besi Usia Sekolah Dasar yang Mendapat Terapi Besi Satu Kali dan Tiga kali Sehari Bidasari Lubis; Rina AC Saragih; Dedi Gunadi; Nelly Rosdiana; Elvi Andriani
Sari Pediatri Vol 10, No 3 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.3.2008.184-9

Abstract

Latar belakang. Anemia defisiensi besi (ADB) dapat menyebabkan gangguan belajar dan mental dalam jangka panjang, bahkan dapat menetap. Tingkat kepatuhan pengobatan yang diberikan tiga kali sehari masih rendah. Hal ini dapat ditingkatkan dengan pemberian satu kali sehari sehingga diharapkan pengobatan akan berhasil.Tujuan. Membandingkan respon pengobatan pada pemberian sulfas frosus satu kali sehari dengan 3 kali sehari pada anak usia sekolah yang menderita anemia defisiensi besi.Metode. Penelitian dilakukan di Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Rantau Prapat terhadap murid sekolah dasar. Anak dengan Hb <12, hipokrom mikrositer, Mentzer Index >13 dan RDW index >220 diikutsertakan dalam penelitian. Fungsi kognitif dinilai dengan Weschler Intelligence Scale for Children. Sampel secara random dibagi menjadi 2 kelompok yang mendapat sulfas ferosus 3 kali sehari dan satu kali sehari dengan dosis yang sama (besi elemental 5 mg/kgBB/hari).Hasil. Lima puluh anak dinilai dengan WISC, didapati rerata Full IQ 83,80 (SD=13,14), Performance IQ 81,08 (SD=14,58) dan Verbal IQ 88,10 (SD=14,20). Didapatkan skor aritmatika yang rendah (7+3,23). Tingkat IQ didapati average 36%, dull normal 28%, borderline 24%, dan mental defective 10%. Konsentrasi yang rendah dijumpai pada 44% dan sangat rendah 10%. Terdapat peningkatan bermakna kadar hemoglobin pada kedua kelompok setelah pemberian terapi besi (p<0,05), namun tidak dijumpai perbedaan bermakna peningkatan Hb antar kedua kelompok (p=0,29).Kesimpulan. Full IQ anak sekolah dasar yang menderita anemia defisiensi besi tidak melebihi tingkat average, didapati gangguan konsentrasi dan fungsi kognitif, terutama dalam matematika. Tidak didapati perbedaan bermakna antara kelompok terapi besi tiga kali sehari dibandingkan satu kali sehari dalam peningkatan Hb.

Page 23 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue