cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Pengaruh Perkembangan Bahasa Terhadap Perkembangan Kognitif Anak Usia 1-3 Tahun Fitri Hartanto; Hendriani Selina; Zuhriah H; Saldi Fitra
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.692 KB) | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.386-90

Abstract

Latar belakang.Kemampuan bahasa merupakan salah satu indikator perkembangan kognitif anak. Deteksi dini masalah perkembangan anak sangat menentukan keberhasilan dalam memaksimalkan plastisitas otak pada kompensasi penyimpangan perkembangan.Tujuan.Mengetahui pengaruh perkembangan bahasa terhadap perkembangan kognitif anak usia 1-3 tahun.Metode. Penelitian potong lintang pada kunjungan pasien Poliklinik Tumbuh Kembang Anak RS Dr. Kariadi Semarang, usia subjek 1-3 tahun. Kriteria inklusi keterlambatan bicara, gizi baik, tidak memiliki kelainan kongenital, gangguan neurologi, dan gangguan pendengaran. Dilakukan pemeriksaan kemampuan bahasa dengan Denver II kemudian ditentukan DQ (developmental quotients)menggunakan CAPUTE scale. Untuk menentukan gangguan pendengaran dilakukan konsultasi dengan Bagian THT dan pemeriksaan BERA. Datadianalisissecara statistik dengan uji-t.Hasil.Didapatkan kasus (n=36) dan kontrol (n=36), jumlah sampel laki-laki pada kasus 77.8%. Pada kelompok kontrol rerata DQ CAT(cognitive adaptive test)91,4 (SD+5,6),CLAMS (clinical linguistic & auditory milestone scale)90,1 (SD+6,1) sedangkan pada kasus rerata DQCAT82,7 (SD+6,7),CLAMS57,9 (SD+11,2). Hasil Uji-tdidapatadjustedR20,415 (p=0,000).Kesimpulan.Terdapat pengaruh perkembangan bahasa terhadap perkembangan kognitif pada anak usia 1-3 tahun
Hubungan Kadar Gula Darah Terhadap Mortalitas dan Morbiditas pada Anak Sakit Kritis di Pediatric Intensive Care Unit Agnes Praptiwi; Dharma Mulyo; Henny Rosita Iskandar; Yuliatmoko Suryatin
Sari Pediatri Vol 14, No 5 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.719 KB) | DOI: 10.14238/sp14.5.2013.298-302

Abstract

Latar belakang. Keadaan hiperglikemia sering ditemukan pada anak non-diabetik yang menderita sakit kritis. Sakit kritis adalah kondisi pasien dengan ancaman atau telah terjadinya gagal organ sehingga perlu pemantauan ketat tanda vital atau bantuan napas mekanik dan obat. Angka prevalensi hiperglikemi bervariasi, belum banyak diteliti di Indonesia, dan belum terdapat data di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) Rumah Sakit Anak Bersalin Harapan Kita (RSAB HK). Kondisi hiperglikemi ini sering dihubungkan dengan angka mortalitas dan morbiditas.Tujuan. Mendapatkan data angka prevalensi hiperglikemia pasien rawat PICU RSAB Harapan Kita, serta hubungannya dengan mortalitas dan morbiditas.Metode. Penelitian kohort retrospektif dan deskriptif. Kriteria inklusi adalah semua subyek yang dirawat di PICU RSAB Harapan Kita sejak November 2010 hingga Desember 2011. Kriteria eksklusi adalah subyek yang tidak terdapat data kadar gula darah saat masuk PICU. Sebanyak 371 subyek berusia antara 1 bulan sampai 18 tahun diikutsertakan dalam penelitian. Kelompok hiperglikemia ditetapkan apabila kadar gula darah ≥125 mg/dL dan non hiperglikemia apabila <125 mg/dL. Kedua kelompok dibandingkan dengan mortalitas, lama perawatan PICU, pola napas, pemakaian obat vasoaktif/Inotrop serta adanya disfungsi ≥2 organ sesuai skor PELOD. Analisis data menggunakan program SPSS versi 18.Hasil. Seratus enampuluh (43,1%) adalah kelompok hiperglikemia. Subyek laki-laki 214 (57,7%) lebih banyak dibanding perempuan, dan 171 (46%) subyek berumur 1-12 bulan. Angka kematian 92 (24,8%). Kelompok hiperglikemi mempunyai angka kematian yang lebih tinggi dibanding non hiperglikemi (31,3% vs 19,9% p<0,05). Dihubungkan dengan pemakaian obat vasoaktif/inotrop, pola napas, adanya disfungsi ≥2 organ ternyata hiperglikemi berhubungan dengan lama rawat. Kelompok hiperglikemia dengan lama rawat ≤48 jam, proporsi subyek meninggal lebih besar dibandingkan dengan subyek hidup (28,3% vs 16,1%). Kesimpulan. Prevalensi hiperglikemi pasien anak sakit kritis yang dirawat di PICU RSAB Harapan Kita 43,1%. Hiperglikemia mempunyai hubungan bermakna dengan mortalitas dan lama rawat. Penelitian ini merupakan penelitian awal, perlu penelitian lanjutan dengan mengelompokkan diagnosis saat masuk PICU dan memisahkan kelompok subyek yang meninggal.
Perbandingan Kemampuan Kriteria WHO 1997 dan Klasifikasi DENCO dalam Diagnosis dan Klasifikasi Infeksi Dengue Kiki MK Samsi; Evelyn Phangkawira; Tatang K Samsi
Sari Pediatri Vol 12, No 5 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.305 KB) | DOI: 10.14238/sp12.5.2011.335-41

Abstract

Latar belakang. Sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, spektrum klinis infeksi dengue semakin luas danbervariasi yang diikuti oleh beberapa klasifikasi infeksi dengue baru. Sejauh mana Kriteria WHO-1997 danklasifikasi baru ini mampu mendeteksi infeksi dengue pasien di RS Sumber Waras, belum pernah dinilai.Tujuan. Membandingkan kesesuaian antara hasil konfirmasi laboratorium untuk infeksi dengue dengankriteria WHO-1997, Klasifikasi DENCO, dan modifikasi WHO-1997 di RS Sumber Waras. Selain itudinilai kemampuan ketiga kriteria/klasifikasi dalam mengelompokkan spektrum klinis infeksi dengue.Metode. Merupakan penelitian diskriptif retrospektif dengan menggunakan data penelitian kami terdahulu(cluster study untuk dengue).Hasil. Dalam periode tahun 2004-2008, terdapat 107 subjek penelitian terdiri 98 kasus infeksi virus dengue(serologi dan/atau virology positif) dan 9 sakit namun bukan kasus infeksi virus. Data menunjukkanbahwa dari 98 kasus terbukti infeksi dengue, 96 sesuai dengan Kriteria WHO 1997, 97 sesuai KlasifikasiDenco, dan 97 sesuai Modifikasi WHO-1997 di RS Sumber Waras. Terdapat 24 subjek yang tidak dapatdiklasifikasikan dengan kriteria WHO 1997 yang ternyata 19 subjek dengue dengan tanda peringatan dan5 subjek dengue berat berdasarkan Klasifikasi DENCO, sedangkan dengan modifikasi WHO-1997 RSSW(perdarahan bukan syarat mutlak), didapat 19 subjek DBD, SSD 2 subjek, DBD ensefalopati 1 subjek,dan SSD ensefalopati 2 subjek.Kesimpulan. Kriteria WHO-1997 masih merupakan kriteria yang sesuai dalam diagnosis infeksi dengue,namun untuk dapat mengelompokan spektrum klinis infeksi dengue perlu dipertimbangkan agar manifestasiperdarahan tidak digunakan sebagai syarat mutlak.
Peningkatan Berat Badan Bayi Baru Lahir dengan Seksio Sesarea yang Diberikan Kombinasi ASI dengan Susu Formula Mengandung Probiotik dan Nonprobiotik Tetty Yuniati
Sari Pediatri Vol 14, No 4 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.657 KB) | DOI: 10.14238/sp14.4.2012.251-5

Abstract

Latar belakang. Penelitian terdahulu melaporkan pro-kontra bahwa suplementasi probiotik meningkatkan beratbadan bayi dibandingkan tanpa probiotik.Tujuan. Menentukan perbedaan peningkatan berat badan bayi dari saat lahir sampai usia 4 minggu yang diberikankombinasi ASI dengan susu formula mengandung probiotik dan nonprobiotik.Metode. Penelitian randomized open label clinical dilakukan selama periode November 2009 sampai Oktober2010 pada 96 bayi normal, BBL 􀂕2.500 g dengan orangtua tidak mempunyai riwayat alergi, lahir dengan seksiosesarea di RS Hasan Sadikin Bandung. Selama 4 minggu 48 bayi diberikan ASI dan susu formula probiotik dan48 bayi ASI dan nonprobiotik sebagai kontrol dan setiap hari dicatat lama menyusui dan jumlah formula yangdiberikan. Analisis statistik dengan Chi- square untuk data kategori dan uji t untuk data numerik serta perbedaanpeningkatan berat badan antara kedua kelompok dengan analysis of variance (ANOVA) repeated measure.Hasil. Karakteristik keluarga tidak berbeda bermakna antara kedua golongan bayi. Jenis kelamin antara keduakelompok tidak berbeda (p>0,05). Lama menyusui selama 4 minggu pada golongan probiotik dan nonprobiotikmasing-masing 2.789±1.308,52 dan 3.055±1.515,22 menit (p=0,512), sedangkan jumlah susu formula yangdiberikan selama 4 minggu 7.029±2.031,57 dan 6.583±1.320,17 mL (p=0,496). Berat badan pada saat lahirdan usia 4 minggu pada kelompok probiotik 3.153±326,89 g dan 4.150±413,12 g (p=0,786) dan kelompoknonprobiotik 3.113±395,06 g dan 4.070±490,73 g (p=0,382), sedangkan perbedaan peningkatan berat badan padakelompok probiotik 997±86.23 g dan kelompok nonprobiotik 957±95,67 g (p= 0,258). Hasil uji ANOVA repeatedmeasure menunjukkan jenis susu formula tidak memberikan pengaruh yang bermakna terhadap peningkatanberat badan bayi.Kesimpulan. Peningkatan berat badan bayi sejak lahir sampai usia 4 minggu yang mendapat kombinasi ASI dan susuformula mengandung probiotik dan tidak mengandung probiotik tidak berbeda. 
Faktor Risiko Bangkitan Kejang Demam pada Anak Fuadi Fuadi; Tjipta Bahtera; Noor Wijayahadi
Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.3.2010.142-9

Abstract

Latar belakang. Kejang demam dapat mengakibatkan gangguan tingkah laku, penurunan nilai akademik dansangat mengkhawatirkan orang tua anak. Bila faktor risiko diketahui lebih awal dapat dilakukan pencegahansedini mungkin akan terjadinya bangkitan kejang demam pada anak.Tujuan. Membuktikan dan menganalisis faktor demam, usia, riwayat keluarga, riwayat prenatal (usia ibusaat hamil), dan perinatal (usia kehamilan, asfiksia dan berat lahir rendah) sebagai faktor risiko bangkitankejang demam pada anak.Metode. Studi kasus kontrol pada 164 anak dipilih secara consecutive sampling dari pasien yang berobat diRS. Dr. Kariadi Semarang periode bulan Januari 2008-Maret 2009. Pasien kejang demam sebagai kelompokkasus 82 anak dan demam tanpa kejang sebagai kelompok kontrol 82 anak. Pengambilan data dari catatanmedik dan dilanjutkan wawancara dengan orang tua anak.pada kunjungan rumah. Analisis data dengantes chi square dan uji multivariat regresi logistik.Hasil. Didapatkan hubungan yang bermakna antara faktor risiko dengan terjadinya bangkitan kejang demamyaitu faktor demam lebih dari 39oC dan faktor usia kurang 2 tahun.Kesimpulan. Demam lebih dari 39oC dan usia kurang dari 2 tahun merupakan faktor risiko bangkitankejang demam.
Antibodi Anti DS-DNA Sebagai Faktor Prognosis Mortalitas pada Lupus Erimatosus Sistemik Muslikhah Yuni Farkhati; Sunartini Hapsara; Cahya Dewi Satria
Sari Pediatri Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.2.2012.90-6

Abstract

Latar belakang.Angka kejadian lupus eritematosus sistemik (LES) di RSUP Dr Sardjito meningkat dengan mortalitas tinggi. Antibodi anti double stranded-DNA (ds- DNA ) merupakan antibodi patognomonik pada SLE.Tujuan.Mengetahui hubungan antara antibodi anti ds-DNA dengan mortalitas pasien SLE.Metode.Penelitian kohort retrospektif terhadap pasien SLE yang berusia kurang dari 18 tahun yang didapatkan secara konsekutif. Survivaldihitung menggunakan metode Kaplan Meier. Analisis log rankdan regresi Coxdigunakan untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan mortalitas.Hasil.Didapatkan 46 pasien ikutserta dalam penelitian, 8 (17,4%) laki-laki dan 38 (82,6%) perempuan dengan rerata usia terdiagnosis 11,9 tahun, 21 subyek (45,7%) diantaranya meninggal. Survivalpada tahun pertama, ketiga dan kelima adalah 85%, 60%, dan 30 %. Rerata waktu follow uppasien dengan antibodi anti ds-DNA sebesar 885,5 hari (IK 95% 631,9–1139,1) tampak lebih pendek secara bermakna dibanding pasien dengan antibodi anti ds DNA negatif 4807,5 (IK 95% 4025,4–5389,0). Analisis multivariat menunjukkan antibodi anti ds-DNA merupakan satu – satunya faktor prognostik terhadap mortalitas pasien SLE (hazard ratio6,7; IK 95% 1,38–12,40). Kesimpulan.Antibodi anti ds-DNA merupakan faktor prognosis terhadap mortalitas pasien SLE.
Dampak Pemberian Seng dan Probiotik terhadap Lama Diare Akut di Rumah Sakit Prof. DR. RD. Kandou Manado Christie Manoppo
Sari Pediatri Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.1.2010.17-20

Abstract

Latar belakang. Pemberian suplementasi seng dan probiotik selama diare akut pada anak telah menunjukkan dampak positif terhadap lama diare. Seng memiliki fungsi dalam memperpendek lama diare dan penggunaan probiotik bermanfaat dalam mencegah dan mengobati diare akut.Tujuan. Mengevaluasi efektivitas dari seng dan/atau probiotik dalam penanganan diare akut pada anak-anak.Metode. Penelitian deskriptif dengan menggunakan data retrospektif antara bulan Januari 2007-Desember 2008 di Bangsal Gastroenterologi Anak Rumah Sakit Prof. Dr. RD Kandou Manado. Terdapat 201 anak dengan diare akut yang dibagi dalam 4 kelompok. Kelompok I yang mendapat pengobatan dengan seng, kelompok II mendapat seng dan probiotik hidup, kelompok III mendapat seng dan probiotik mati dan kelompok IV hanya mendapat probiotik mati. Variabel pengamatan adalah lama diare.Hasil. Subjek penelitian 201 anak, 123 anak laki-laki (61,2%) dan 78 anak perempuan (38,8%), usia (rata-rata dan SD) menurut kelompok (p=0,57) dibagi atas 44,6% usia kurang dari 1 tahun, 46,6% umur 1-3 tahun, 4,8% umur 3-5 tahun, 3,8% berusia di atas 5 tahun. Lama diare pada kelompok I adalah 4,85 hari ( 95% CI : 4.44 ; 5.26 ), kelompok II 4,16 hari ( 95% CI : 2.66 ; 5.65 ), kelompok III 5,77 hari ( 95% CI : 4.51 ; 7.03 ) dan kelompok IV 5,86 hari ( 95% CI : 4.87 ; 5.44 ).Kesimpulan. Lamanya diare pada keempat kelompok diatas menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05). Hasil uji F lama diare ke-4 kelompok diperoleh p=0,08.
Manifestasi Renal pada Anak dengan Purpura Henoch­Schoenlein Endang Lestari
Sari Pediatri Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.165 KB) | DOI: 10.14238/sp14.1.2012.36-9

Abstract

Latar belakang. Purpura Henoch-Schoenlein merupakan suatu peradangan akut pembuluh darah kecil sistemik yang diperantarai oleh IgA dan sering terjadi pada anak. Pada perjalanannya, dapat bermanifestasi pada ginjal hingga dapat menyebabkan gagal ginjal terminal. Pemantauan jangka panjang diperlukan agar dapat mengetahui gejala awal manifestasi renal. Tujuan. Mengetahui keterlibatan ginjal pada anak dengan PHS, di samping mengetahui usia dan gejala klinis lain yang timbul. Metode.Penelitian deskriptif retrospektif dengan sumber data sekunder rekam medik Bagian Anak RSAB Harapan Kita Jakarta, selama lima tahun.Hasil. Terdapat 37 pasien anak dengan PHS yang menjalani rawat inap, terdiri dari 16 orang laki-laki (43,2%) dan 21 orang perempuan (56,7%). Manifestasi yang muncul berupa hematuria 18,9% dan/atau proteinuria 10,8%, darah samar urin 21,6%, leukosituria 13,5%. Usia rata-rata yang mengalami nefritis (9,3±3,2) tahun, sedang yang tidak (7,03±2,5). Gejala klinis lain yang ditemukan berupa demam (37,8%), nyeri perut (56,7%), melena (16,2%), dan arthritis/arthargia (54,1%).Kesimpulan. Di antara 37 pasien anak PHS, 8 orang (21,6%) dalam perjalanan penyakitnya didapatkan gejala manifestasi ginjal, dengan darah samar pada urin sebagai manifestasi yang terbanyak. Pasien yang mengalami nefritis PHS pada umumnya berusia lebih tua dibandingkan yang tidak. Nyeri perut menjadi gejala klinis lain yang paling banyak dijumpai.
Gambaran Terapi dan Luaran Infeksi Saluran Kemih oleh Bakteri Penghasil Extended Spectrum Beta Lactamase pada Anak di RSUD Dr. Soetomo Surabaya Ahmad Muhajir; Priyo Budi Purwono; Samsriyaningsih Handayani
Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.2.2016.111-6

Abstract

Latar belakang. Kasus infeksi saluran kemih oleh bakteri penghasil extended spectrum beta-lactamase (ESBL) dilaporkan sudah banyak terjadi di dunia. Informasi terkait ESBL di Indonesia sangat sedikit, terutama pada pasien anak.Tujuan. Mengkaji gambaran terapi serta luaran pasien infeksi ESBL di RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode Januari-Juni 2014.Metode. Penelitian observasional dengan studi deskriptif, digunakan data rekam medis pasien anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode Januari-Juni 2014. Variabel penelitian meliputi bakteri, uji sensitivitas, terapi serta status luaran pasien.Hasil. Pasien anak berjumlah 56, terbanyak penyebab ISK Klebsiella pneumoniae (60,7%). Uji sensitivitas tertinggi meropenem (90,5%). Pilihan terapi definitif meropenem (25%), status luaran membaik 78,57%.Kesimpulan. Meropenem merupakan pilihan terapi infeksi ESBL pada pasien dengan keadaan klinis membaik. Kontrol penggunaan antibiotik secara rasional dibutuhkan untuk pencegahan infeksi ESBL
Asfiksia Neonatorum Sebagai Faktor Risiko Gagal Ginjal Akut Adhie Nur Radityo; M Sholeh Kosim; Heru Muryawan
Sari Pediatri Vol 13, No 5 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.5.2012.305-10

Abstract

Latar belakang.Asfiksia merupakan salah satu penyebab mortalitas dan morbiditas bayi baru lahir yang dapat berakibat kerusakan organ. Sekitar 50% kerusakan organ terjadi pada ginjal yang berakibat gagal ginjal akut (GGA). Diagnosis dan pengenalan GGA merupakan hal penting agar fungsi ginjal tetap terjaga.Tujuan. Membuktikan asfiksia merupakan faktor risiko terjadinya GGA. Metode. Penelitian kohort prospektif dengan subyek sesuai kriteria inklusi bayi baru lahir dengan asfiksia di RSUP Dr. Kariadi Semarang bulan Januari-Desember 2010. Sebagai kelompok terpapar adalah neonatus asfiksia berat dan neonatus asfiksia sedang sebagai kelompok tidak terpapar. Subyek dipilih secara consecutive sampling. Diagnosis GGA berdasarkan kadar ureum, kreatinin dan pengukuran diuresis pada hari keempat dan kelima perawatan. Analisis dengan uji Chi-square, Mann-Whitney, Kolmogorov-Smirnovdan t tidak berpasangan.Hasil. Subjek 63 neonatus., kejadian GGA pada neonatus asfiksia sedang dan berat 39,7%, keseluruhan kasus GGA merupakan tipe oliguria. Neonatus dengan GGA pada hari keempat rerata kadar ureum 33,6 (±13,53) mg/dL, kreatinin 1,54 (±0,35) mg/dL dan diuresis 0,45 (±0,07) mL/kgBB/jam dibandingkan rerata pada hari kelima terdapat peningkatan kadar ureum 41,36 (±14) mg/dL, penurunan kadar kreatinin 1,39 (±0,3) mg/dL, dan rerata diuresis 0,45 (±0,06) mL/kgBB/jam (p<0,05). Insidens GGA terbanyak terjadi pada asfiksia berat 56,3% (p=0,006; RR 2,5; 95%CI 1,2-5,1). Obat nefrotoksik bukan faktor risiko terjadinya gagal ginjal akut (p=0,002; RR 5,08; 95%CI 0,77-33,66). Kesimpulan.Asfiksia berat merupakan faktor risiko terjadinya GGA

Page 24 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue