cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Kejadian Meningitis Bakterial pada Anak usia 6-18 bulan yang Menderita Kejang Demam Pertama Anggraini Alam
Sari Pediatri Vol 13, No 4 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.509 KB) | DOI: 10.14238/sp13.4.2011.293-8

Abstract

Latar belakang. Kebijakan melakukan pungsi lumbal pada anak yang menderita kejang demam pertama sudah di tinggal kan di negara maju seiring dengan penurunan kejadian meningitis bakterial sebagai keberhasilan imunisasi terhadap Haemophilus influenzaetipe B (Hib) dan Streptococcus pneumonia.Namun cakupan kedua jenis imunisasi tersebut di negara berkembang masih sangat rendah, sehingga kebijakan melakukan prosedur pungsi lumbal pada penderita kejang demam pertama masih perlu dipertimbangkan. Tujuan.Mengetahui kejadian meningitis bakterial pada pasien yang mengalami kejang demam pertama pada usia 6-18 bulan. Metode.Penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang dilaksanakan di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, dari 1 November 2007 sampai dengan 31 Desember 2010. Subyek penelitian adalah anak usia 6–18 bulan yang mengalami kejang demam pertama. Semua subyek dilakukan pungsi lumbal, diagnosis meningitis bakterial ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan likuor cerebrospinal (LCS) adalah jumlah sel >7/mm3, perbandingan kadar gula dengan serum <0,4; protein > 80 mg/dL, apus Gram ditemukan bakteri atau hasil biakan positif. Hasil.Di antara 183 subyek penelitian, 72 (39,3%) pasien menderita meningitis bakterial yang terutama ditemukan pada kelompok umur 6–12. Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok meningitis dan bukan, yaitu lama kejang ≥15 menit (p=0,001), frekuensi kejang/24 jam (p=0,001), penonjolan ubun-ubun besar (p=0,001), keluhan muntah, malas minum (p=0,001), serta pernah mendapat antibiotik sebelumnya (p=0,001). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa lama kejang ≥15 menit merupakan faktor utama yang berhubungan secara bermakna dengan kejadian meningitis bakterialis (OR 15,84, IK95% 4,91–51,11, p=0,001). Kesimpulan.Kejadian meningitis bakterial pada kejang demam pertama usia 6–18 bulan masih cukup tinggi terutama pada usia 6–12 bulan. Lama kejang ≥15 menit secara bermakna berhubungan dengan kejadian meningitis bakterial. Disarankan pemeriksaan pungsi lumbal tetap harus dilakukan pada setiap anak usia kurang dari 18 bulan yang menderita kejang demam pertama terutama apabila mengalami kejang lebih dari 15 menit.
Hubungan Antara Status Gizi dan Malaria Falciparum Berat di Ruang Rawat Inap Anak RS. St. Elisabeth Lela, Kabupaten Sikka, Flores, NTT Theresa Laura Limanto
Sari Pediatri Vol 11, No 5 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.122 KB) | DOI: 10.14238/sp11.5.2010.363-6

Abstract

Latar belakang. Diseluruh dunia ditemukan 15 juta kasus malaria dengan 38.000 kematian tiap tahun.Di wilayah Indonesia bagian Timur, hanya 10% kasus malaria mendapat perawatan di fasilitas kesehatanyang memadai. Dilain pihak, malnutrisi bertanggung jawab pada lebih dari 50% angka kematian balitatiap tahun di negara berkembang.2 Malnutrisi juga meningkatkan risiko terhadap penyakit infeksi danpeningkatan angka kematian akibat penyakit infeksi tersebut.Tujuan. Menilai hubungan an tara status gizi dengan timbulnya penyulit pada malaria falciparumpada pasien usia 0-12 tahun yang dirawat di ruang rawat inap RS.St.Elisabeth Lela, kabupaten. Sikka,Flores, NTT.Metode. Dilakukan studi potong lintang dengan jumlah subjek 66 pasien malaria falciparum berusia 0-12tahun di ruang rawat inap anak. Data didapat dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan laboratorium.Hasil. Didapatkan 32 subjek dengan status gizi baik dan 3 subjek gizi buruk. Sembilanbelas subjekmalaria falciparum menunjukkan satu atau lebih penyulit. Distres pernapasan adalah penyulit terbanyakyang ditemukan, pada 17 subjek. Uji chi square, ditemukan X2 hitung sebesar 11,419 dan koefisienkontingensi 0,384.Kesimpulan. Timbulnya penyulit pada malaria falciparum memiliki korelasi terhadap status gizi pasien,dengan kuat hubungan sebesar 0,384 kali
Gambaran Tekanan Darah Anak dengan Diabetes Mellitus Tipe 1 di Indonesia Indra W Himawan; Aman B Pulungan; Bambang Tridjaja; Jose RL Batubara
Sari Pediatri Vol 13, No 5 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.871 KB) | DOI: 10.14238/sp13.5.2012.367-72

Abstract

Latar belakang.Salah satu komplikasi jangka panjang diabetes melitus tipe 1 (DM tipe 1) pada anak adalah nefropati diabetik. Lama menderita diabetes serta masa pubertas merupakan faktor yang mempengaruhi terjadi komplikasi tersebut. Kejadian nefropati diabetik pada umumnya akan disertai gejala peningkatan tekanan darah.Tujuan.Mengetahui gambaran tekanan darah anak dengan DM tipe 1 berdasarkan umur, jenis kelamin, lama sakit, dan kadar HbA1c.Metode.Studi observational retrospektif pada register nasional DM tipe 1 UKK Endokrin Anak IDAI sampai tahun 2010. Variabel yang diteliti adalah umur, jenis kelamin, lama sakit, kadar HbA1c, serta tekanan darah sistolik (TDS) dan diastolik (TDD).Hasil.Di antara 177 anak dengan DM tipe 1, 118 (66,7%) perempuan dan 59 (33,3%) laki-laki. Rerata umur saat pertama kali didiagnosis adalah 11,8 tahun. Dijumpai 1 (0,6 % ) anak perempuan yang menderita DM tipe 1 lebih dari 5 tahun mempunyai tekanan darah sistolik dan diastoik di atas persentil 95. Kesimpulan. Sebagian besar tekanan darah anak dengan DM tipe 1, normal. Terdapat 0,6% kasus dengan hipertensi (>95 persentil) yaitu seorang anak perempuan yang telah menderita DM lebih dari 5 tahun
Hubungan Kebiasaan Makan dan Status Gizi Terhadap Kejadian Apendisitis pada Anak di Yogyakarta Hanum Atikasari; Akhmad Makhmudi
Sari Pediatri Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.2.2015.95-100

Abstract

Latar belakang. Apendisitis merupakan salah satu penyakit akut abdomen yang sering terjadi dan dilakukan operasi pada anak. Statusgizi dan kebiasaan makan yang tidak baik menyebabkan penurunan respon imun dan peningkatan risiko infeksi pada anak.Tujuan. Mengetahui hubungan kebiasaan makan dan status gizi dengan kejadian apendisitis pada anak di Yogyakarta.Metode. Penelitian observasional dengan rancangan penelitian case control yang melibatkan 114 responden berusia 6-15 tahun yangdibagi menjadi dua kelompok. Kelompok kasus adalah pasien anak pasca operasi apendisitis di RS Khusus Anak 45, RSUP Dr. Sardjito,RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, dan RSKIA Bhakti Ibu, sedangkan kelompok kontrol adalah anak yang belum pernahmenjalani operasi apendisitis dan bertempat tinggal satu wilayah dengan kelompok kasus.Hasil. Kebiasaan makan menunjukkan hubungan bermakna terhadap kejadian apendisitis pada anak p=0,001 (OR=14,87;IK95%:3,28-67,43). Status gizi menunjukkan hubungan bermakna terhadap kejadian apendisitis pada anak p=0,042 (OR=2,60;IK95%:1,02-6,65).Kesimpulan. Terdapat hubungan bermakna antara kebiasaan makan, kebiasaan jajan dan status gizi terhadap kejadian apendisitispada anak di Yogyakarta.
Kelengkapan Imunisasi Dasar Anak Balita dan Faktor-Faktor yang Berhubungan di Poliklinik Anak Beberapa Rumah Sakit di Jakarta dan Sekitarnya pada Bulan Maret 2008 Mathilda Albertina; Sari Febriana
Sari Pediatri Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.1.2009.1-7

Abstract

Latar belakang. Program pengembangan imunisasi sudah berjalan sejak tahun 1974. Namun menurut survei kesehatan nasional 2003, cakupan imunisasi lengkap hanya 51% pada laki-laki dan 52% pada perempuan.Tujuan. Mengetahui kelengkapan imunisasi dasar anak balita, alasan ketidaklengkapan imunisasi, serta hubungan pendidikan orangtua, pendapatan keluarga, pengetahuan, dan sikap orangtua dengan kelengkapan imunisasi di beberapa rumah sakit di Jakarta dan sekitarnya.Metode. Penelitian potong lintang menggunakan kuesioner dengan subjek orangtua dari anak usia 1-5 tahun yang berkunjung ke poliklinik anak RS. Dr. Cipto Mangunkusumo, RS. Fatmawati, RS. Tarakan, dan RS. Mary Cileungsi Hijau Bogor.Hasil. Didapatkan kelengkapan imunisasi dasar 61%. Ketidaklengkapan imunisasi umumnya disebabkan orangtua tidak tahu jadwal imunisasi (34,8%) dan anak sakit (28,43%). Terdapat hubungan antara pengetahuan orangtua dengan kelengkapan imunisasi. Tidak terdapat hubungan antara pendidikan orangtua, pendapatan keluarga, serta sikap orangtua dengan kelengkapan imunisasi.Kesimpulan. Kelengkapan imunisasi dasar anak balita di tempat penelitian 61%. Faktor yang berhubungan dengan kelengkapan imunisasi ialah pengetahuan orangtua.
Dismenore dan Kecemasan pada Remaja Handayani Handayani; Indria Laksmi Gamayanti; Madarina Julia
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.54 KB) | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.27-31

Abstract

Latar belakang. Prevalensi dismenore cukup tinggi pada remaja. Dampak yang ditimbulkan dari dismenore adalah penurunan aktifitas sehari-hari sampai memerlukan terapi. Faktor risiko dismenore tidak hanya berkaitan dengan faktor fisiologis tapi juga faktor psikologis termasuk kecemasanTujuan. Mengetahui prevalensi dismenore, prevalensi kecemasan tinggi, dan hubungan antara kecemasan dan dismenore pada remaja di kota Surakarta.Metode. Rancangan penelitian adalah cross sectional. Sembilan puluh subyek remaja putri yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi mengikuti penelitian.Hasil. Prevalensi dismenore pada remaja di kota Surakarta 87,7%. Delapan puluh tujuh koma tujuh persen remaja tetap beraktivitas saat mengalami dismenore dan 12,2% menggunakan analgetik untuk mengurangi keluhan dismenore. Prevalensi skor kecemasan tinggi pada remaja di kota Surakarta 47,8%. Rerata skor VAS 4,1±2,2, dan rerata skor TMAS 22,6±5,7. Pada uji chi square, tidak didapatkan hubungan antara skor kecemasan yang tinggi dengan skor dismenore (RP 1,1 (IK 95% 0,4-2,8, Pearson chi square= 0,05, p=0,82). Hasil uji korelasi Spearman antara skor VAS dan skor TMAS diperoleh nilai 0,04, p=0,74. Berat ringannya dismenore tidak mempengaruhi jumlah subyek yang mencari pertolongan kesehatan (RP 4,1 (IK 95% 0,5-34), p=0,28).Kesimpulan. Prevalensi dismenore pada remaja di kota Surakarta cukup tinggi, namun berat ringannya dismenore tidak mempengaruhi subyek untuk mencari pertolongan kesehatan. Faktor informasi menstruasi, persepsi dismenore, dan karakteristik kepribadian diduga terkait dengan perilaku pencarian pertolongan kesehatan terkait dismenore remaja.
Prevalensi dan Faktor Risiko Enuresis pada A nak Taman Kanak-Kanak di Kotamadya Denpasar I Gusti Ayu Trisna Windiani; Soetjiningsih Soetjiningsih
Sari Pediatri Vol 10, No 3 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.37 KB) | DOI: 10.14238/sp10.3.2008.151-7

Abstract

Latar belakang. Enuresis masih sering merupakan masalah bagi anak dan keluarganya. Prevalensi enuresis bervariasi, dan terdapat berbagai faktor yang berperan. Deteksi dini sangat penting sehingga dampak enuresis terhadap perkembangan anak dapat dicegah.Tujuan. Mengetahui prevalensi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan enuresis.Metode. Penelitian potong lintang, data dikumpulkan dari kuesioner yang diisi oleh orang tua/wali anak pada 7 sekolah TK di Denpasar, dari bulan Januari sampai Februari 2008.Hasil. Prevalensi enuresis pada anak sebesar 36 (10,9%) terdiri dari 15 (41,3%) laki-laki dan 21 (58,7%) perempuan. Riwayat ayah mengalami enuresis OR: 5,3 (95%CI: 1,21-23,1; p=0,004), riwayat saudara mengalami enuresis OR: 23,3 (95%CI: 10,1-53,9; p=0,000), lari ke toilet jika akan berkemih OR: 2,5 (95%CI: 1,2-5,2; p=0,011), jumlah berkemih ≤ 7 kali/hari OR: 0,3 (95%CI: 0,2-0,7; p=0,007), dan tidur yang dalam OR: 8,53 (95%CI: 3,4-21,2; p=0,000) merupakan variabel yang berbeda bermakna antar kelompok penelitian.Kesimpulan. Prevalensi enuresis pada anak TK di Denpasar 10,9%. Riwayat ayah dan saudara yang mengalami enuresis, lari ke toilet jika berkemih, dan tidur yang dalam, merupakan faktor risiko terjadinya enuresis pada anak sedangkan jumlah berkemih ≤7 kali/hari merupakan faktor preventif terjadinya enuresis.
Hubungan antara Defek Septum Ventrikel dan Status Gizi Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.2.2011.137-41

Abstract

Latar belakang. Defek septum ventrikel (DSV) adalah terdapatnya defek pada sekat yang memisahkan ventrikel kiri dan kanan, serta merupakan salah satu penyakit jantung bawaan (PJB). Salah satu komplikasi DSV adalah gangguan status gizi. Tujuan. Mengetahui apakah terdapat hubungan DSV dengan status gizi serta aspek klinisnya yaitu tipe DSV, ukuran defek, aneurisma septum membranous, prolaps katup aorta, dan. hipertensi pulmonalMetode.Subjek penelitian ini adalah pasien DSV yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian merupakan penelitian deskriptif analitik dengan rancangan potong lintang yang dilakukan di RS dr Hasan Sadikin Bandung, pada Juli 2007 sampai 30 Juli 2009 dengan analisis statistik menggunakan perhitungan Rasio Odds Hasil.Terdapat 72,3% dari 101 anak DSV mengalami malnutrisi. Tidak terdapatnya aneurisma septum membranous (p= 0,005)¸ hipertensi pulmonal (p=0.001) berhubungan dengan status gizi. Tipe DSV, ukuran DSV dan prolaps katup aorta tidak berhubungan dengan status gizi.Kesimpulan.Anak yang menderita DSV sering mengalami gangguan gizi.Terdapat hubungan antara tidak terdapatnya aneurisma septum membranous dan hipertensi pulmonal dengan status gizi.
Hubungan Asma, Rinitis Alergik, Dermatitis Atopik dengan IgE Spesifik Anak Usia 6 - 7 Tahun Opy Dyah Paramita; Harsoyo N; Henry Setiawan
Sari Pediatri Vol 14, No 6 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.6.2013.391-7

Abstract

Latar belakang. Alergi adalah reaksi hipersensitivitas diperantarai oleh IgE. Manifestasi alergi adalah asma, rinitis alergik (RA) dan dermatitis atopik (DA). Salah satu pemeriksaan alergi adalah IgE spesifik, dengan diketahui jenis alergen maka kejadian alergi pada anak dapat dicegah.Tujuan. Membuktikan hubungan jenis alergi (asma, RA, dan DA) dengan kadar IgE spesifik tungau debu rumah, kecoa, dan putih telur. Metode. Penelitian cross sectionaldilakukan Januari-April 2011 di dua sekolah dasar. Anak dengan gejala asma, rinitis alergik, dan dermatitis atopik berdasarkan kuesioner International Study of Asthma and Allergies in Childhood(ISAAC) dilakukan pemeriksaan IgE spesifik tungau debu rumah, putih telur, dan kecoa. Uji statistik dengan Fisher exact test,Cramers V, Lambda,dan regresi logistik dengan metode enter.Hasil. Duapuluh enam subjek yang mengikuti penelitian ini, terdiri dari 6 subjek asma, 15RA, dan 5 DA. Hasil pemeriksaan IgE spesifik positif tungau debu rumah, kecoa, dan putih telur secara berturut-turut adalah asma 3, 2, 0; RA 7, 3, 3; dan DA 2, 1, 2. Fischer exact testpada IgE spesifik tungau debu rumah (p=1,000; PR=1,190;95% CI=0,372-3,811), IgE spesifik kecoa (p=1,000; PR=1,190; 95% CI=0,176-8,061), IgE spesifik putih telur (p=0,236; PR=0,357; 95% CI=0,080-1,601). Kesimpulan.Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis alergi (asma, rinitis alergik, dan dermatitis atopik) dengan kadar IgE spesifik tungau debu rumah, kecoa, dan putih telur pada anak usia 6-7 tahun dan jenis alergen terbanyak pada asma, rinitis alergik dan dermatitis atopik adalah tungau debu rumah.
Hubungan Fungsi Tiroid dengan Energy Expenditure pada Remaja Maria Mexitalia; Isfandiyar Fahmi; Rudy- susanto; Taro Yamauchi
Sari Pediatri Vol 12, No 5 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.829 KB) | DOI: 10.14238/sp12.5.2011.323-7

Abstract

Latar belakang. Hormon tiroid adalah hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid yang berfungsi untukmensintesis hormon tiroksin (T4) dan 3,5,3 triodotironine (T3). Tiroid diatur oleh thyroid stimulatinghormone (TSH), glikoprotein yang diproduksi dan disekresi kelenjar hipofisis anterior. Dilaporkan bahwahormon TSH meningkat pada obesitas, sedangkan FT3 dan FT4 masih menjadi perdebatan.Tujuan. Mengetahui hubungan fungsi tiroid dengan energy expenditure pada remaja obesitas dan normal.Metode. Penelitian dilakukan pada anak SMP usia 12-13 tahun di Semarang pada tahun 2008 denganmetode potong lintang. Semua subyek diperiksa komposisi tubuh (indeks masa tubuh / IMT dan persentaselemak tubuh) dengan menggunakan Tanita BC 545, total energy expenditure (TEE) dengan akselerometer danresting energy expenditure (REE) dihitung berdasarkan rumus WHO. Data dianalisis menggunakan tes t tidakberpasangan dan uji korelasi Spearman.Hasil. Subyek penelitian 75 remaja (37 obesitas dan 38 normal), dengan rerata umur 13,2 tahun. FT4 danTSHs remaja laki-laki obesitas lebih tinggi dibanding subyek normal. Terdapat korelasi negatif (r=-0,29)antara FT3 dengan persentase lemak tubuh, korelasi positif antara TSHs dengan IMT (r=0,30) dan persentaselemak tubuh (r=0,34). Tidak didapatkan korelasi antara hormon tiroid dengan REE, tetapi FT3 berkorelasinegatif dengan TEE (r=–0,29), dan TSHs berkorelasi positif dengan TEE (r=0,25).Kesimpulan. Didapatkan korelasi positif antara TSHs dengan komposisi tubuh dan TSHs dengan TEE.Kadar TSHs pada laki-laki obesitas lebih tinggi dibanding normal walaupun hasilnya tidak signifikan secarastatistik.

Page 25 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue