cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Perbedaan Frekuensi Defekasi dan Konsistensi Tinja Bayi Sehat Usia 0–4 Bulan yang Mendapat Asi Eksklusif, Non Eksklusif, dan Susu Formula Noverita Rochsitasari; Budi Santosa; Niken Puruhita
Sari Pediatri Vol 13, No 3 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.3.2011.191-9

Abstract

Latar belakang. Pola defekasi masa bayi sangat bervariasi, sehingga diperlukan data pola defekasi normalpada bayi yang mendapat ASI atau susu formula.Tujuan. Untuk mengetahui adanya perbedaan frekuensi defekasi dan konsistensi tinja bayi sehat umur 0–4bulan yang mendapat ASI eksklusif, non eksklusif, dan susu formula.Metode. Penelitian observasional longitudinal, prospektif, metode time series. Dilakukan di RSUP Dr.Kariadi,RS Kota Semarang, dan RS St Elizabeth Semarang. Subyek yang memenuhi kriteria inklusi diamati padausia 0–4 bulan. Sampling dengan purposive random, dikelompokkan sesuai dengan jenis diet (ASI ekslusif,non ekslusif, dan susu formula). Frekuensi defekasi adalah jumlah berapa kali defekasi/hari selama tiga hariterakhir. Konsistensi tinja adalah tingkat kepadatan atau bentuk tinja sesuai American baby stool form, dicatatpada hari pertama, ketiga dan ketujuh, bulan pertama sampai keempat. Analisis statistik menggunakan UjiChi square, Kruskal Wallis, dan Friedman.Hasil. Subjek terdiri dari 73 bayi.Terdapat perbedaan bermakna rerata frekuensi defekasi pada ketigakelompok ASI eksklusif, non- eksklusif, dan susu formula pada hari ketiga (p=0,05), ketujuh (p=0,00),bulan ketiga (p=0,01) dan keempat (p=0,01), namun tidak bermakna pada hari pertama (p=0,293), bulanpertama (p=0,30), dan kedua (p=0,19). Terdapat penurunan bermakna frekuensi defekasi bayi ASI eksklusifdari bulan pertama sampai keempat (p=0,00). Terdapat perbedaan bermakna konsistensi tinja hari pertama(p=0,028) ketiga (p=0,005), ketujuh (p=0,00) bulan pertama sampai keempat masing-masing (p=0,00), tidakterdapat hubungan bermakna frekuensi defekasi dengan konsistensi tinja pada hari pertama (p=0,405), bulanpertama (p=0,059),dan kedua (p=0,068). Terdapat hubungan bermakna frekuensi defekasi dengan konsistensitinja pada hari ketiga (p=0,041), ketujuh (p=0,00), bulan ketiga (p=0,013), dan keempat (p=0,049).Kesimpulan. Rerata frekuensi defekasi bayi kelompok ASI eksklusif pada bulan pertama lebih tinggidibandingkan kelompok lain. Terdapat perbedaan frekuensi defekasi pada ketiga kelompok bayi sehat padahari ketiga, ketujuh, bulan ketiga, dan keempat Terdapat perbedaan konsistensi tinja pada ketiga kelompok.Terdapat hubungan frekuensi defekasi dengan konsistensi tinja pada hari ketiga, ketujuh, bulan ketiga, dankeempat.
Skrining Gangguan Kognitif dan Bahasa dengan MenggunakanCapute Scales (Cognitive Adaptive Test/Clinical Linguistic & Auditory Milestone Scale-Cat/Clams) Meita Dhamayanti; Murfariza Herlina
Sari Pediatri Vol 11, No 3 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.288 KB) | DOI: 10.14238/sp11.3.2009.189-98

Abstract

Perkembangan kognitif terdiri dari bahasa dan visual-motor. Bahasa merupakan salah satu indikatorperkembangan keseluruhan dari kemampuan kognitif anak. Keterlambatan perkembangan awal kemampuanbahasa dapat mempengaruhi berbagai fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Selain mempengaruhi kehidupanpersonal sosial, juga akan menimbulkan kesulitan belajar, bahkan hambatan saat terjun dalam dunia pekerjaankelak. Identifikasi dan intervensi secara dini dapat mencegah terjadinya gangguan fungsi kognitif danbahasa. Capute scales merupakan alat skrining yang dapat menilai secara akurat aspek-aspek perkembanganutama termasuk komponen bahasa dan visual-motor. Keberhasilannya dalam pengukuran secara cepat danmudah dari aspek-aspek perkembangan akan membantu menegakkan diagnosis banding dari sebagian besarkategori utama gangguan perkembangan (delayed, deviasi, dan disosiasi) pada masa bayi dan kanak-kanakdini, sehingga dapat segera dilakukan intervensi dini untuk memberikan hasil yang terbaik.
Seroproteksi Antibodi Anti-pertusis pada anak usia 6 - 7 Tahun dengan Riwayat Vaksinasi DTP Dasar Lengkap dan Ulangan di Sekolah Dasar di Jakarta Runi Deasiyanti
Sari Pediatri Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.1.2011.26-32

Abstract

Latar belakang. Angka kejadian pertusis semakin meningkat selama dua dekade terakhir walaupun cakupanvaksinasi DTP sudah cukup tinggi. Peningkatan insidens kasus pertusis terutama terlihat pada usia remajadan dewasa, sehingga menjadi sumber penular yang penting terhadap bayi kecil. Kekebalan yang menurunmerupakan salah satu penyebab peningkatan insidens pertusis sehingga kebutuhan booster pertusis padausia remaja dan dewasa menjadi perhatian para peneliti.Tujuan. Mengetahui proporsi seroproteksi dan rerata kadar antibodi anti-pertusis pada anak usia 6-7 tahundi Jakarta, baik yang mendapatkan vaksinasi dasar DTP (3 kali) maupun yang mendapatkan vaksinasi dasardan ulangan (lebih dari 3 kali).Metode. Uji potong lintang deskriptif dilakukan di enam sekolah dasar di Jakarta selama Mei-Juli 2010.Subjek adalah anak usia 6-7 tahun (siswa SD kelas 1) yang telah mendapatkan vaksinasi DTP 3 kali ataulebih. Pada setiap subjek dilakukan pemeriksaan kadar antibodi anti-pertusis.Hasil. Subjek 75 orang anak, 38 lelaki dan 37 perempuan diikutsertakan dalam penelitian, rerata usia (6,2+0,41)tahun. Sebagian besar subjek (68%) memiliki status gizi baik dan 1 subjek (1,3%) dengan gizi buruk. Tigapuluh delapan (50,7%) subjek dengan riwayat vaksinasi DTP sebanyak 3 kali, 31 (41,3%) subjek denganriwayat vaksinasi 4 kali, dan 6 (8%) subjek dengan riwayat vaksinasi 5 kali. Didapatkan proporsi antibodi antipertusisdengan seropositif 56%. Seroproteksi antibodi anti-pertusis pada subjek yang mendapatkan vaksinasiDTP 3 kali adalah 50%, pada subjek dengan riwayat vaksinasi 4 kali 54,8% dan pada subjek dengan riwayatvaksinasi 5 kali 100%. Rentang kadar antibodi anti-pertusis (0-1437,2) EU/mL. Nilai median seroproteksiantibodi anti-pertusis pada subjek dengan riwayat vaksinasi DTP 3 kali adalah 43,6 EU/mL, riwayat vaksinasi4 kali 104 EU/mL, dan riwayat vaksinasi 5 kali 104,9 EU/mL.Kesimpulan. Kekebalan yang didapat dari vaksinasi tidak dapat bertahan lama, sehingga diperlukanpemberian vaksinasi ulangan (booster), baik pada usia 18-24 bulan dan usia sekolah (SD kelas 1). Selain itujuga perlu dipertimbangkan pemberian booster pada usia remaja.
Karakteristik dan Kesintasan Neuroblastoma pada Anak di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo R. Dina Garniasih; Endang Windiastuti; Djajadiman Gatot
Sari Pediatri Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.1.2009.39-46

Abstract

Latar belakang. Neuroblastoma merupakan salah satu penyakit keganasan yang sering terjadi pada anak yang memiliki spektrum klinis serta perjalanan penyakit yang sangat bervariasi, mulai dari regresi secara spontan hingga penyebaran secara menyeluruh.Tujuan. Untuk mengetahui karakteristik, tata laksana, luaran, dan kesintasan neuroblastoma pada anak di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RS Dr. Ciptomangunkusumo Jakarta.Metode. Penelitian kohort retrospektif dilakukan pada semua anak dengan neuroblastoma yang berobat/dirawat di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RS Dr. Ciptomangunkusumo Jakarta dalam kurun waktu Januari 2000 sampai Desember 2007.Hasil. Didapatkan 62 pasien baru neuroblastoma, terdiri dari 36 (58%) laki-laki dan 26 (42%) perempuan. Usia terbanyak pada saat diagnosis adalah 1-<5 tahun, (56%). Demam (74%) dan pucat (74%) merupakan keluhan tersering pada pasien neuroblastoma diikuti dengan lemah (68%), nafsu makan menurun (63%), proptosis (47%), masa di dalam abdomen (44%), dan limfadenopati (35%). Sebagian besar pasien datang dalam stadium yang lanjut, yaitu stadium 3 dan 4 (72%). Jumlah pasien yang mengalami event (meninggal) 23 (37%), lost to follow up 23 (37%), dan hidup 16 (26%). Penyebab kematian tersering adalah sepsis (44%), diikuti oleh penyebab kematian lainnya yaitu perdarahan (30%), infiltrasi ke susunan saraf pusat (22%), dan infiltrasi ke mediastinum (4%). Hasil analisis kesintasan berdasarkan pelbagai karakteristik klinis dan laboratoris dengan metode Kaplan-Meier dan uji log-rank menunjukkan bahwa baik usia maupun stadium tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna dalam kesintasan.Kesimpulan. Usia terbanyak pada saat diagnosis adalah 1-<5 tahun. Keluhan tersering adalah demam dan pucat. Penyebab kematian tersering adalah sepsis. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna dalam kesintasan baik berdasarkan usia maupun stadium penyakit.
Pengaruh Suplementasi Seng dan Probiotik Terhadap Kejadian Diare Berulang Hani Purnamasari; Budi Santosa; Niken Puruhita
Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.2.2011.96-104

Abstract

Latar belakang. Angka kesakitan diare pada balita di negara berkembang masih tinggi. Pada beberapa penelitian terbukti efek seng dan probiotik masing masing dalam mencegah diare dapat menurunkan angka kejadian. Namun pemberian secara bersamaan belum banyak diketahui. Tujuan.Membuktikan pengaruh suplementasi seng dan probiotik secara bersamaan pasca perawatan diare akut pada anak terhadap kejadian diare berulang.Metode. Penelitian kohort prospektif lanjutan Studi I “Pengaruh suplementasi seng dan probiotik terhadap durasi diare akut cair anak”, selama 3 bulan. Subjek adalah 75 anak usia 6-24 bulan pasca rawat diare akut cair di RS Dr. Kariadi Semarang. Pengelompokkan dilakukan secara acak menjadi 4 kelompok, kelompok I hanya mendapat terapi baku tanpa suplementasi, kelompok II mendapat suplementasi seng, kelompok III diberikan suplementasi probiotik, dan kelompok IV kombinasi seng-probiotik. Setiap kelompok mendapat terapi baku, rehidrasi, dan dietetik. Uji statistik menggunakan analisis kesintasan untuk mengetahui kejadian diare berulang, uji Kruskal Wallis untuk perbedaan frekuensi dan lama diare.Hasil. Kelompok suplementasi seng- probiotik bersamaan memiliki rerata survivaldiare berulang terlama yaitu 10,94 minggu (CI 95% 9,24 -12,65), dibanding kelompok lainnya, meskipun secara statistik tidak berbeda bermakna (p=0,892). Frekuensi maupun lama diare berulang keempat kelompok pada bulan pertama, kedua dan ketiga pasca suplementasi secara statistik tidak berbeda bermakna.Kesimpulan. Pemberian suplementasi seng- probiotik bersamaan berpengaruh dalam memberikan rerata perlindungan terhadap terjadinya diare berulang lebih lama. Tidak terdapat perbedaan bermakna dalam rerata survivaldiare berulang, lama dan frekuensi diare berulang di antara keempat kelompok.
Transposisi Arteri Besar: Anatomi, Klinik, Kelainan Penyerta, dan Tipe Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 14, No 6 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.6.2013.357-62

Abstract

Latar belakang. Transposisi arteri besar (TAB) merupakan salah satu penyakit jantung bawaan (PJB) tipe sianotik yang bermanifestasi pada periode bayi baru lahir. Kelainan penyerta yang sering ditemukan adalah defek septum ventrikel (DSV), defek septum atrium (DSA), paten duktus arteriousus (DAP), dan left ventricular outflow tract obstruction.Tujuan. Mengetahui hubungan tipe transposisi dengan kelainan penyerta pada transposisi arteri besar.Metode.Penelitian merupakan penelitian deskriptif analitik. Populasi penelitian semua pasien yang datang ke Instalasi Pelayanan Jantung RS Dr. Hasan Sadikin, Bandung untuk dilakukan ekokardiografi mulai Januari 2006 sampai Januari 2011. Subjek penelitian semua pasien TAB yang memenuhi kriteria inklusi. Diagnosis TAB ditegakkan berdasarkan ekokardiografi, dibagi 2 kelompok berdasarkan tipe tranposisi, yaitu transposisi komplet dan parsial. Kelainan penyerta TAB dibagi 2 kelompok, yaitu kelompok kelainan penyerta kompleks dan tidak kompleks.Hasil. Selama periode penelitian didapatkan 3910 anak yang dilakukan ekokardiografi. Ditemukan 54 anak TAB yang memenuhi kriteria inklusi. Usia termuda saat dilakukan ekokardiografi 4 hari, sedangkan tertua 13 tahun. Ditemukan 47 TAB disertai dengan DSV, tersering tipe perimembran sedangkan tipe doubly commitedpaling jarang ditemukan. Ditemukan 16 anak dengan stenosis pulmonal dan tipe stenosis yang terbanyak tipe infundibular. Transposisi arteri besar dengan kelainan penyerta kompleks ditemukan bersama-sama dengan kelainan lain, yaitu AVSD komplet, atresia mitral, atresia trikuspid, single ventricle,dan dekstrokardia situs inversus. Terdapat hubungan bermakna tipe transposisi dengan kelainan penyerta (p=0,01).Kesimpulan.Transposisi arteri besar dengan tipe transposisi komplet lebih sering disertai dengan kelainan penyerta kompleks.
Korelasi Nilai APGAR Menit Kelima Kurang dari Tujuh dengan Kadar Transaminase Serum pada Bayi Baru Lahir Ali K Alhadar; Idham Amir; Hanifah Oswari; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.562 KB) | DOI: 10.14238/sp12.3.2010.190-6

Abstract

Latar belakang. Asfiksia dapat menyebabkan disfungsi multiorgan pada bayi baru lahir. Belum ada bakuemas mengenai definisi asfiksia. Hingga saat ini belum ada data di FKUI/RSCM mengenai insidens disfungsihati pada bayi yang mengalami asfiksia.Tujuan. Mengetahui insidens disfungsi hati pada bayi baru lahir dengan nilai Apgar menit kelima kurangdari 7 serta mengetahui korelasi antara nilai Apgar menit kelima kurang dari 7 dengan parameter uji fungsihati (AST/SGOT, ALT/SGPT, bilirubin total, bilirubin direk, bilirubin indirek serta waktu protrombin).Penelitian dilakukan di 5 rumah sakit di Jakarta dan Tangerang.Metode. Studi analitik potong lintang sejak Januari-Mei 2010. Subjek penelitian adalah bayi usia gestasi􀁴37 minggu dengan nilai Apgar menit kelima kurang dari 7. Dilakukan satu kali pemeriksaan uji fungsihati dalam rentang waktu usia bayi 24-96 jam. Bayi mengalami disfungsi hati bila didapatkan nilai ASTatau ALT lebih dari 100 U/L.Hasil. Disfungsi hati ditemukan pada 16 (34%) bayi dari 47 bayi dengan asfiksia. Tidak ada subjek yangmengalami kolestasis. Terdapat 5 (11%) subjek dengan pemanjangan PT >1,5 kali nilai kontrol. Tidak terbuktiterdapat korelasi antara nilai Apgar menit kelima kurang dari 7 dengan parameter uji fungsi hati.Kesimpulan. Bayi dengan nilai Apgar menit kelima kurang dari 7 mempunyai kecenderungan mengalamidisfungsi hati. Namun pada bayi dengan nilai Apgar menit kelima kurang dari 7, tidak terbukti adanyakorelasi.
Pengaruh Deferasirox Terhadap Kadar T4 dan TSH Pada B-Thalassemia Mayor dengan Kadar Ferritin Tinggi Dewi Ratih P; Rudy Susanto; Bambang Sudarmanto
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.85 KB) | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.433-9

Abstract

Latar belakang. Iron overload pada pasien 􀁂-thalassemia mayor terjadi akibat transfusi berulang.Pengendapan besi terjadi terutama di jantung, hati dan kelenjar endokrin. Prevalensi hipotiroid akibattoksisitas besi pada pasien 􀁂-thalassemia berkisar 0-35%. Terapi kelasi besi seperti deferasirox sangatefektif menurunkan kandungan besi. Diharapkan timbunan besi pada kelenjar tiroid berkurang, sehinggadisfungsi tiroid tidak terjadi.Tujuan. Membuktikan dan menganalisis pemberian deferasirox pada pasien 􀁂-thalassemia mayor dengankadar ferritin yang tinggi akan menaikkan kadar T4 dan menurunkan kadar TSH serum.Metode. Penelitian pre dan post test desain dilakukan antara bulan September 2009-Maret 2010 terhadappasien 􀁂-thalassemia mayor yang mendapat transfusi berulang di bangsal thalassemia anak RS Dr. KariadiSemarang. Kadar ferritin, T4 dan TSH diperiksa pada awal penelitian dan 6 bulan setelah pemberiandeferasirox. Pemeriksaan ferritin, T4 dan TSH menggunakan alat Vidas® dengan metode ELFA. Analisisstatistik yang digunakan adalah uji t-berpasangan.Hasil. Subyek penelitian 20 orang yang memenuhi kriteria inklusi.Hipotiroidisme ditemukan sekitar 20%.Rerata kadar ferritin setelah 6 bulan lebih rendah dibanding awal penelitian, namun perbedaan tersebuttidak bermakna (I : 1182,7±53,64 dan II : 1182,3±48,42; p=1,0). Rerata kadar T4 tidak berbeda bermaknasetelah 6 bulan pemberian deferasirox (I : 91,8±22,37 dan II : 88,6±20,46 ; p=0,5). Dua pasien dengankadar TSH yang awalnya tinggi menjadi normal, namun penurunan tersebut tidak berbeda bermaknasecara statistik (p=0,2).Kesimpulan. Tidak ada perubahan kadar T4 dan TSH pada pasien 􀇃-thalassemia mayor dengan ferritintinggi yang mendapat deferasirox per oral.
Profil Penggunaan Obat Batuk Pilek Bebas Pada Pasien Anak di Bawah Umur 6 Tahun Soepardi Soedibyo; Arie Yulianto; Wardhana Wardhana
Sari Pediatri Vol 14, No 6 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.6.2013.398-404

Abstract

Latar belakang. Obat batuk pilek over the counter (OTC) banyak digunakan secara luas oleh orang tua untukmengatasi keluhan batuk pilek pada anak. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan untuktidak menggunakan obat batuk pilek yang dijual bebas pada anak usia di bawah 6 tahun oleh karena belumsepenuhnya teruji efektivitasnya pada anak, bahkan terdapat risiko efek samping berbahaya.Tujuan. Mengetahui profil penggunaan obat batuk pilek OTC oleh orang tua pada anak usia di bawah 6tahun di Puskesmas Kelurahan Pegangsaan, Jakarta.Metode. Penelitian deskriptif (survei) dengan teknik wawancara menggunakan kuesioner pada semua orangtua pasien yang membawa anak sakit berumur di bawah 6 tahun di Puskesmas kelurahan Pegangsaan dalamperiode 17 Oktober 2011 sampai 04 November 2011. Pengambilan sampel dilakukan secara konsekutif.Hasil. Didapatkan 106 responden penelitian, 82,1% orang tua memberikan obat batuk pilek OTC denganalasan supaya anak cepat sembuh (47,2%). Kandungan obat batuk pilek OTC yang digunakan adalahklorfeniramin maleat (58,8%), parasetamol (56,5%), gliceryl guaicolate (50,6%), pseudoefedrin (28,2%),dextromethorphan (22,4%) dan bromhexine (9,4%). Efek samping obat dirasakan pada 31% responden,dan gejala terbanyak adalah mengantuk (85%).Kesimpulan. Sebagian besar orang tua memberikan obat batuk pilek OTC apabila anaknya sakit. Komposisikombinasi obat OTC yang banyak digunakan adalah klorfeniramin maleat, parasetamol, gliceryl guaicolate,pseudoefedrin, dextromethorphan dan bromhexine. Efek samping mengantuk yang terbanyak dirasakan olehsubjek.
Hubungan Kekerapan Transfusi Darah dengan Kejadian Kolelitiasis dan Biliary Sludge pada Pasien Talassemia Mayor Anak Dandy Utama Jaya; Lelani Reniarti; Alex Chairulfatah
Sari Pediatri Vol 12, No 4 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.4.2010.217-21

Abstract

Latar belakang. Kolelitiasis (batu kandung empedu) merupakan penyakit kandung empedu yang dapatterjadi pada talassemia. Biliary sludge (pelumpuran kandung empedu) merupakan keadaan yang dapatmenjadi kolelitiasis. Perubahan fungsi kandung empedu akibat penumpukan besi dan peningkatan kadarbilirubin serum akan mempermudah terjadinya kolelitiasis dan biliary sludge.Tujuan.Mengetahui hubungan kekerapan transfusi darah dengan kejadian kolelitiasis dan biliary sludgepada talassemia mayor anak.Metode. Penelitian menggunakan rancangan analitik cross-sectional. Subjek penelitian adalah pasienthalassemia mayor anak di Poliklinik Talassemia RS Hasan Sadikin Bandung berusia 5−14 tahun pada bulanJuni−Agustus 2010. Pada setiap subjek dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan kadar feritindan bilirubin indirek serum serta pemeriksaan ultrasonografi hepatobilier. Analisis statistik menggunakanuji komparasi eksak Fisher, uji t tidak berpasangan dan uji Mann-Whitney.Hasil. Sejumlah 60 subjek memenuhi kriteria penelitian. Kadar rata-rata feritin serum dan bilirubin indirekserum pada subjek yang mengalami kolelitiasis dan biliary sludge dibandingkan dengan yang tidak mengalami,tidak ditemukan perbedaan yang bermakna secara uji statistik (5682 vs 5113,9; 1,19 vs 1,12; p>0,05). Didapatkan6/60 subjek yang mengalami kolelitiasis dan biliary sludge, yaitu 3/60 subjek mengalami kolelitiasis,2/60 subjek mengalami biliary sludge dan 1/60 subjek mengalami kolelitiasis dan biliary sludge Ditemukanperbedaan yang bermakna pada kejadian kolelitiasis dan biliary sludge antara pasien yang mendapat intervaltransfusi darah 􀁤3 minggu dibandingkan dengan >3 minggu (p<0,05).Kesimpulan. Terdapat hubungan kekerapan transfusi darah dengan kejadian kolelitiasis dan biliary sludgepadatalassemia mayor anak.

Page 27 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue