cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Hubungan Kultur Darah Pasien Tersangka Sepsis dengan Nilai Prokalsitonin dan C- ReactiveProtein Bugis Mardina Lubis; Nelly Nelly; Beby Syofiani; Pertin Sianturi; Emil Azlin; Guslihan Dasa Tjipta
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.214 KB) | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.5-9

Abstract

Latar belakang.Diagnosis sepsis neonatorum sering sulit ditegakkan karena gejala klinis yang tidak spesifik pada neonatus sedangkan pemeriksaan kultur darah merupakan baku emas namun pemeriksaan tersebut hasilnya baru dapat diketahui setelah beberapa hari. Pada beberapa penelitian, nilai prokalsitonin akan meningkat saat sepsis sehingga sudah dikenal sebagai petanda infeksi pada penyakit beratTujuan.Mengetahui hubungan kultur darah dengan nilai prokalsitonin dan C-reactive proteinpada pasien tersangka sepsisMetode. Penelitian menggunakan studi potong lintang yang dilakukan di Divisi Neonatologi RS. H. Adam Malik Medan pada bulan Oktober 2011 – Februari 2012Hasil. Didapatkan 43 bayi diperiksa kultur darahnya dan sebanyak 36 bayi terbukti postif (83.7%). Terdapat hubungan yang bermakna antara hasil kultur darah dengan nilai prokalsitonin (p<0,05) sedangkan dengan nilai CRP tidak terdapat hubungan.Kesimpulan.Hasil kultur darah mempunyai hubungan dengan nilai prokalsitonin.
Ko-Infeksi Tuberkulosis dan HIV pada Anak Retno Widyaningsih; Amar Widhiani; Endah Citraresmi
Sari Pediatri Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.1.2011.55-61

Abstract

Latar belakang.Tuberkulosis (TB) adalah infeksi oportunistik yang sering menjadi ko-infeksi HIV. Diagnosis dan manajemen TB anak menimbulkan tantangan substansial dalam era epidemi HIV. Diagnosis TB pada anak semakin dipersulit oleh adanya ko-infeksi HIV. Tujuan penelitian.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik TB pada anak dengan infeksi HIV di RSAB Harapan Kita Jakarta. Metode.Penelitian ini menggunakan desain potong lintang. Data berasal dari rekam medis pasien HIVTB di RSAB Harapan Kita tahun 2002-2010. Kriteria inklusi adalah anak yang berumur 0-12 tahun, HIV positif dan menderita penyakit TB. Data meliputi faktor risiko infeksi dan sakit TB yaitu umur, parut BCG, kontak dengan penderita TB, status gizi, dan status imunitas HIV. Data lain yang dicatat yaitu gejala klinis HIV dan gejala klinis TB, pemeriksaan laboratorium, foto Rontgen toraks, pengobatan serta outcome.Hasil.Sebanyak 50 anak terdiagnosis infeksi HIV. Dua puluh tujuh anak (54%) menderita penyakit TB, dengan kelompok umur terbanyak usia 1-4 tahun (48%). Dari 27 anak TB-HIV, 20 anak mempunyai status imunitas supresi berat dan 18 anak kategori C. Dua puluh anak menderita TB paru, 3 anak TB milier, 2 anak limfadenitis TB, 1 anak TB diseminata, dan 1 anak perikarditis TB. Lima belas anak mendapat pengobatan TB secara lengkap, 4 anak meninggal dunia, dengan penyebab kematian 1 orang karena pneumonia berat tersangka PCP dan 3 orang tersangka sepsis.Kesimpulan.Diagnosis TB paru ditemukan sebesar 54% pada penderita HIV, sehingga skrining rutin TB harus menjadi bagian penting dari diagnostik hasil pemeriksaan HIV.
Karakteristik, Indikasi, dan Temuan Endoskopi Saluran Cerna Atas pada pasien Anak Deddy Satriya Putra
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.61-4

Abstract

Latar belakang. Pemeriksaan endoskopi saluran cerna pada anak sudah semakin berkembang dan telah banyak dilakukan di berbagai rumah sakit propinsi termasuk propinsi Riau. Berbagai penyakit saluran cerna pada anak diperlukan pemeriksaan endoskopi guna menemukan kelainan dan menentukan pengobatan yang tepat sehingga terjadinya penurunan angka kesakitan dan kematianTujuan. Mengetahui karakteristik, indikasi, dan temuan endoskopi saluran cerna atas pada pasien anak RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru Riau.Metode. Studi prospektif pada pasien pasien yang menjalani pemeriksaan endoskopi saluran cerna atas di Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad, Pekanbaru, dari bulan Agustus 2007 sampai dengan Agustus 2011.Hasil. Didapat 87 pasien dilakukan pemeriksaan endoskopi saluran cerna atas (Gastroskopi) dengan usia terbanyak 5-10 tahun, indikasi berturut turut muntah darah, sakit perut berulang, muntah persisten, dan sakit perut akut dengan hasil temuan terbanyak berdasarkan indikasi berupa, gastroesofageal refluk, gastritis hiperemis, varises esophagus, dan gastritis akut. Dari 45 pasien yang dilakukan biopsi didapatkan 40 (88,9%) pasien positif infeksi Helicobacter pylori.Kesimpulan. Indikasi terbanyak dilakukan endoskopi saluran cerna atas (gastroskopi) pada anak adalah muntah darah dengan penyebab tersering berupa varises esofagus dan di antara 45 pasien didapatkan 88,9% infeksi Helicobacter pylori.
Perbedaan Sekuens Asam Amino Epitop Sel B dan Sel T pada Protein Hemaglutinin (H) Antara Virus Campak Liar dan Virus Vaksin di Indonesia Made Setiawan; Agus Sjahrurachman; Fera Ibrahim; Agus Suwandono
Sari Pediatri Vol 10, No 3 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.3.2008.190-5

Abstract

Latar belakang. Protein H virus campak sangat penting agar virus dapat menginfeksi sel pejamu. Selain itu, protein H dapat merangsang antibodi spesifik yang dapat menetralisasi virus campak, sehingga virus tidak dapat menginfeksi sel. Bila ada perbedaan sekuens asam amino epitop sel B dan sel T pada protein H antara virus campak liar dan virus vaksin campak, maka vaksin tidak dapat merangsang terbentuknya antibodi protektif.Tujuan. Mengetahui perbedaan sekuens asam amino epitop sel B dan sel T pada protein H antara virus campak liar (G2, G3, dan D9) dan virus vaksin CAM-70, Schwarz dan Edmonston-wt.Metode. Ekstraksi dan amplifikasi gen dilakukan di laboratorium menggunakan teknologi biologi molekuler dan analisis gen dan protein dilakukan menggunakan teknologi bioinformatika.Hasil. Ditemukan perbedaan sekuens asam amino epitop sel T pada protein H antara virus campak liar dan virus Edmonstone-wt, sedangkan antara virus campak liar dan virus vaksin (CAM-70 dan vaksin Schwarz) tidak ditemukan perbedaan. Ditemukan perbedaan sekuens asam amino pada epitop sel B protein H antara virus campak liar dan virus vaksin (CAM-70 dan Schwarz, sedangkan antara CAM-70 dan Schwarz tidak ditemukan perbedaan.Kesimpulan. Tidak ada perbedaan sekuens asam amino epitop sel T antara virus campak liar dan virus vaksin (Schwarz dan CAM-70). Perbedaan ditemukan pada epitop sel B antara virus campak liar dan virus vaksin (CAM-70 dan Schwarz).
Hubungan Obesitas Remaja dengan Hipertrofi Ventrikel Kanan berdasarkan Pemeriksaan Elektrokardiografi Shinta Larasaty; Julistio Djais; Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.539 KB) | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.391-6

Abstract

Latar belakang.Perubahan distribusi lemak viseral dan subkutan menyebabkan remaja berisiko mengalami obesitas. Obesitas sering dikaitkan dengan hipoksia kronik akibat obesity hypoventilation syndrome, yang dapat menyebabkan hipertensi pulmonal dan hipertrofi ventrikel kanan.Tujuan. Mengetahui hubungan obesitas remaja dengan hipertrofi ventrikel kanan berdasarkan pemeriksaan EKG.Metode. Studi komparatif dengan rancangan potong lintang, dilakukan Juli–September 2010, pada remaja laki-laki dan perempuan berusia 12–15 tahun dengan obesitas dan gizi normal, di SMPN 14 dan SMPN 17 Bandung. Diagnosis hipertrofi ventrikel kanan ditegakkan berdasarkan pemeriksaan EKG (kriteria voltase). Uji eksak Fisher digunakan untuk mengetahui hubungan antara jenis kelamin dan kriteria diagnosis hipertrofi ventrikel pada obesitas, serta hubungan obesitas dan hipertrofi ventrikel kanan. Hubungan dinyatakan bermakna bila p<0,05.Hasil. Penelitian melibatkan 126 subjek yang terdiri atas 33 remaja laki-laki obes, 30 remaja perempuan obes, 32 remaja laki-laki gizi normal, dan 31 remaja perempuan gizi normal. Hasil interpretasi EKG berupa hipertrofi ventrikel kanan ditemukan pada 27 subjek obes (21,4%), hipertrofi ventrikel kiri pada 2 subjek obes (1,6%) dan satu subjek dengan status gizi normal (0,8%), sedangkan hasil interpretasi elektrokardiogram dari 96 subjek (76,2%) lainnya dalam batas normal. Gelombang T positif di V1berhubungan dengan obesitas khususnya pada remaja laki-laki (p<0,001), dan obesitas berhubungan dengan hipertrofi ventrikel kanan (p<0,001).Kesimpulan. Obesitas remaja berhubungan dengan hipertrofi ventrikel kanan, pemeriksaan EKG menunjukkan ditemukannya gelombang T positif di V1, khususnya pada remaja laki-laki obes.
Luaran Pasien Anak dengan Gagal Ginjal Terminal Oke Rina Ramayani; Rosmayanti Rosmayanti; Rafita Ramayati; Rusdidjas Rusdidjas
Sari Pediatri Vol 14, No 5 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.5.2013.277-82

Abstract

Latar belakang. Gagal ginjal terminal merupakan kondisi yang tidak reversibel dan berlanjut pada kematian. Hal tersebut masih merupakan penyebab penting morbiditas dan mortalitas pada anak.Tujuan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui etiologi dan modalitas terapi pasien gagal ginjal terminal.Metode. Penelitian retrospektif dengan melakukan telaah rekam medis terhadap 38 anak yang didiagnosis gagal ginjal terminal antara tahun 2005-2010 di RS H.Adam Malik, Medan.Hasil. Selama penelitian, 38 anak (38/355) terdiagnosis gagal ginjal terminal di antara keseluruhan anak penyakit ginjal di RS H. Adam Malik, Medan. Selama kurun waktu tersebut 41.130 anak berobat di Bagian Anak atau lebih kurang 0,1%. Dua puluh lima anak di antaranya (25/38) adalah laki-laki. Rerata umur saat datang pertama kali 9,8 tahun. Penyebab utama gagal ginjal terminal adalah glomerulonefritis kronik (24/38), pielonefritis kronik (5/38), hidronefrosis (2/38) dan penyebab lain (7/38). Modalitas terapi untuk pasien tersebut adalah hemodialisis (17/38), dialisis peritoneal mandiri berkesinambungan (DPMB) (4/38), hemodialisis diikuti DPMB (1/38) dan terapi konservatif /menolak dialisis (16/38). Dua puluh empat anak (24/38) meninggal, 7 anak (7/38) tidak dapat dipantau, dan 7 anak lagi bertahan hidup.Kesimpulan. Glomerulonefritis kronik merupakan penyebab utama gagal ginjal terminal pada anak di RS H Adam Malik, Medan.Angka mortalitas pasien anak dengan gagal ginjal terminal masih tinggi.
Karakteristik Densitas Tulang Anak dengan Hiperplasia Adrenal Kongenital yang Mendapat Terapi Glukokortikoid Ariani Dewi Widodo; Jose R. L. Batubara; Evita B. Ifran; Arwin AP Akib; Sudung O. Pardede; Darmawan B. Setyanto
Sari Pediatri Vol 12, No 5 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.408 KB) | DOI: 10.14238/sp12.5.2011.307-14

Abstract

Latar belakang. Anak dengan hiperplasia adrenal kongenital (HAK) mendapat terapi glukokortikoid seumurhidup. Penggunaan glukokortikoid jangka panjang diketahui dapat menyebabkan penurunan densitas mineraltulang (DMT), namun pada anak HAK terapi tersebut bersifat substitusi. Belum diketahui karakteristikDMT pada anak HAK di Indonesia.Tujuan. Mengetahui karakteristik densitas tulang anak dengan HAK yang mendapat terapiglukokortikoid.Metode. Uji potong lintang deskriptif dilakukan di Poliklinik Endokrinologi Departemen Ilmu KesehatanAnak RSUPN Cipto Mangunkusumo selama November 2008-April 2010. Subjek adalah anak HAK yangmendapat terapi glukokortikoid teratur lebih dari 6 bulan. Pada setiap subjek dilakukan pencatatan data danpemeriksaan DMT menggunakan dual energy x-ray absorptiometry (DEXA) di Klinik Teratai RSUPNCM.Hasil. Tigapuluh dua subjek, 25 perempuan dan 7 lelaki, 18 dengan HAK tipe virilisasi sederhana dan 14tipe salt-losing, diikutsertakan dalam penelitian, median usia 6 tahun. Diagnosis 24 subjek ditegakkan padausia <1 tahun, tipe salt-losing terdiagnosis pada usia lebih muda. Semua subjek memiliki status gizi baikhingga obesitas, dan 29/32 subjek memiliki status pubertas sesuai usia. Semua pasien HAK mendapat terapiglukokortikoid teratur sejak saat diagnosis, dengan median dosis 17,7 mg/m2/hari atau 3,8 gram dalam 6bulan terakhir, dan rerata lama pengobatan 7,7 tahun. Terapi mineralokortikoid pada subjek dengan mediandosis 50 mcg/hari. Ditemukan DMT normal pada 24/32 subjek, 7 osteopenia, dan 1 osteoporosis. Delapandi antara pasien dengan DMT normal, memiliki Z-score >+1. Rerata Z-score DMT L1-L4 subjek +0,29 (SB1,46). Terdapat korelasi lemah antara DMT dengan dosis kumulatif glukokortikoid enam bulan terakhir(r= -0,36; p=0,04), dan tidak ditemukan korelasi dengan dosis glukokortikoid/LPB/hari (r= -0,29; p=0,11)maupun dengan durasi terapi (r= -0,07; p=0,69).Kesimpulan. Sebagian besar anak HAK yang mendapat terapi substitusi glukokortikoid memiliki DMTnormal. Terdapat korelasi lemah antara DMT dengan dosis kumulatif glukokortikoid enam bulan terakhir,sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan durasi dosis kumulatif yang berbeda-beda.
Kadar Albumin Pasien Rawat PICU RSAB Harapan Kita Tahun 2010: Dampak Terhadap Mortalitas dan Morbiditas Agnes Praptiwi; G.Dharma Mulyo; Henny Rosita Iskandar; Yuliatmoko Suryatin
Sari Pediatri Vol 14, No 4 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.798 KB) | DOI: 10.14238/sp14.4.2012.256-9

Abstract

Latar belakang. Pada anak dengan sakit kritis sering dihubungkan dengan kadar albumin serum yang rendah.Hipoalbuminemia terjadi karena peningkatan kebocoran kapiler sehingga protein hilang ke ruang interstitial.Pada kasus dewasa, kadar albumin yang rendah tersebut dihubungkan dengan mortalitas dan morbiditaspasien rawat Intensive Care Unit (ICU). Pada pasien anak belum banyak data mengenai hal tersebut.Tujuan. Untuk mendapatkan data kadar albumin serum serta dampaknya terhadap mortalitas dan morbiditaspasien sakit kritis yang dirawat di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) Rumah Sakit Anak Bersalin (RSAB)Harapan kita.Metode. Penelitian kohort retrospektif, kriteria inklusi adalah semua subyek yang dirawat di PICU RSABHarapan Kita, sejak Januari hingga Desember 2010. Kriteria eksklusi adalah subyek yang tidak terdapat datakadar serum albumin saat masuk ruangan PICU. Terdapat 345 pasien rawat, 290 (84%) diikutsertakan,berumur 1 bulan hingga 18 tahun. Dikelompokkan pasien hipoalbuminemia, apabila kadar albumin serum<3,5 g/dL dan normoalbuminemia, apabila kadar albumin serum >3,5 g/dL. Kedua kelompok dibandingkanterhadap mortalitas dan morbiditas, di antaranya risiko pemakaian ventilator, pemakaian obat inotrop/vasoaktif, disfungsi lebih dari dua organ dan lama perawatan.Hasil. Terdapat 190 (65,5%) pasien hipoalbuminemia dan 100 (34,5%) normoalbuminemia. Sebagianbesar berumur 1-12 bulan 118 (40,7%). Terbanyak laki-laki 153 (54,1%) dan perempuan 136 (45,9%).Kelompok hipoalbuminemia mempunyai mortalitas lebih tinggi dibandingkan normoalbuminemia. Risikopemakaian ventilator dan pemakaian obat inotrop atau vasoaktif yang lebih besar dibandingkan kelompoknormoalbuminemia.Kesimpulan. Lebih dari separuh (65,5%) anak sakit kritis yang dirawat di PICU RSAB Harapan Kitamempunyai albumin serum <3,5 g/dL. Hanya sekitar 37 (12,8%) pasien yang mengalami gizi buruk dankurang. Hipoalbuminemia ini mempengaruhi mortalitas, penggunaan ventilador dan pemakaian obatinotrop/vasoaktif pasien rawat PICU.
Korelasi Kadar Seng Serum dan Bangkitan Kejang Demam Iva-Yuana Iva-Yuana; Tjipta Bahtera; Noor Wijayahadi
Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.3.2010.150-6

Abstract

Latar belakang. Kejang demam merupakan kelainan saraf tersering pada anak. Sekitar 2%-5% anak di bawahumur 5 tahun pernah mengalami kejang demam. Prognosis kejang demam baik, namun mengkhawatirkanorang tua. Penelitian tentang hubungan kadar seng serum dengan bangkitan kejang demam belum banyakdilakukan.Tujuan. Membuktikan korelasi kadar seng serum dan bangkitan kejang demam.Metode. Penelitian kasus kontrol dengan subyek penelitian anak berumur 3 bulan-5 tahun di RS Dr.Kariadipada April 2009–Maret 2010, kelompok kasus dengan bangkitan kejang demam dan kelompok kontroldengan demam tanpa kejang. Kadar seng serum diperiksa di laboratorium GAKI FK UNDIP denganmetode atomic absorption spectrophotometry. Data dianalisis dengan uji Chi-square, korelasi Spearman,dan analisis determinan.Hasil. Subyek penelitian 72 pasien, 36 kelompok kasus dan 36 kelompok kontrol. Rerata kadar seng kelompokkasus 111,73 􀁍g/mL dan kelompok kontrol 114,56 􀁍g/mL (p=0,33). Tidak terdapat korelasi antara kadarseng serum dengan bangkitan kejang demam (r=0.114;p>0,05). Analisis determinan menunjukkan urutanbesarnya kontribusi faktor genetik (0,548), infeksi berulang (0,493), riwayat penyulit kehamilan-persalinan(0,364), suhu (0,309), gangguan perkembangan otak (0.141), kadar seng serum (-0,102), umur (-0,041)dengan confusion matrix 81,9% untuk prediksi.Kesimpulan. Rerata kadar seng serum pada bangkitan kejang demam lebih rendah dibanding tanpa kejangdemam, namun tidak bermakna. Tidak terdapat korelasi antara kadar seng serum dengan bangkitan kejangdemam. Kadar seng serum bersama faktor genetik, infeksi berulang, penyulit dalam kehamilan maupunpersalinan, suhu badan, gangguan perkembangan otak, dan umur dapat digunakan sebagai prediktorbangkitan kejang demam meskipun memiliki peranan kecil.
Perbandingan Status Besi pada Remaja Perempuan Obes dengan Gizi Normal Dessy Afrianti; Herry Garna; Ponpon Idjradinata
Sari Pediatri Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.2.2012.97-103

Abstract

Latar belakang. Prevalensi obesitas pada remaja cenderung meningkat. Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara obesitas dan terjadinya anemia defisiensi besi. Anemia defisiensi besi berhubungan dengan kebutuhan yang meningkat sejalan dengan peningkatan berat badan, serta pola makan yang tidak seimbang pada obesitas. Tujuan.Mengukur dan membandingkan status besi yang dinilai berdasarkan pemeriksaan hemoglobin (Hb),reticulocyte hemoglobin content(CHr), dan feritin serum pada remaja perempuan obes dan gizi normal serta penanggulangan sedini-dininya pada remaja dengan defisiensi besi.Metode. Penelitian studi analitik cross-sectionaldi SMP 14, SMP 34, dan SMA 24 Bandung pada bulan November 2011. Subjek penelitian terdiri atas remaja perempuan sehat yang memiliki status gizi normal dan obes berdasarkan standar WHO reference2007 yang diambil secara acak sebanyak 25 orang tiap kelompok. Analisis data menggunakan uji nonparametrik dengan uji Mann Whitney untuk membandingkan status besi yang dinilai berdasarkan pemeriksaan Hb, CHr,dan feritin serum antara kelompok obes dan gizi normal. Dilakukandietary recalluntuk mengetahui asupan makanan pada kedua kelompok penelitian. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p<0,05.Hasil. Kadar Hb, CHr, dan feritin serum antara kelompok obes dan gizi normal tidak menunjukkan perbedaan (p>0,05). Obesitas lebih banyak terjadi pada remaja dengan status sosioekonomi lebih tinggi (p=0,039). Terdapat perbedaan asupan protein hewani, protein nabati, besi, dan vitamin C antara remaja perempuaan obes dengan gizi normal yang memiliki nilai p berturut-turut p<0,001; p<0,019; p=0,026 dan p=0,032.Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan status besi remaja perempuan obes dengan gizi normal. Asupan makanan mempengaruhi status besi pada remaja obes dan gizi normal.

Page 29 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue