cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Aspek Praktis Nutrisi Parenteral pada Anak Aryono Hendarto; Sri S Nasar
Sari Pediatri Vol 3, No 4 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.4.2002.227-34

Abstract

Nutrisi parenteral (NP) merupakan salah satu alternatif dukungan nutrisi yang telahterbukti dapat menunjang tumbuh kembang anak selama sakit. NP diindikasikan untukanak sakit yang tidak boleh atau tidak dapat mengkonsumsi makanan secara oral/enteral.Mengingat komplikasinya maka pemberian NP harus benar-benar memperhitungkanrisk and benefit. Langlah-langkah pada tatalaksana NP meliputi: penentuan status nutrisi(klinik, antropometrik & laboratorik), perhitungan kebutuhan nutrisi (energi, cairandan nutrien), pemilihan dan perhitungan cairan yang akan digunakan serta carapemberiannya (masing-masing atau all in one/three in one), penentuan akses NP (sentralatau perifer), pelaksaan pemberian dan pemantauan komplikasi.
Peran Mutasi Gen CRELD1 pada Defek Septum Ventrikel dan Hubungannya dengan Manifestasi Klinis Sri Endah Rahayuningsih; Haruka Hamanoue; Naomichi Matsumoto
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.225-9

Abstract

Latar belakang. Defek septum ventrikel (DSV) merupakan salah satu jenis penyakit jantung bawaan (PJB) yang paling sering ditemukan. Etiologi DSV berhubungan dengan faktor genetik, nongenetik, atau interaksi antara faktor genetik dan nongenetik. Gen CRELD1 adalah suatu gen yang terletak pada kromosom 3p25. Mutasi gen CRELD1 akan menyebabkan gangguan pada pembentukan septum interventrikular.Tujuan. Mengetahui peran mutasi gen CRELD1 pada DSV dan hubungannya dengan manifestasi klinis.Metode. Subjek penelitian adalah 61 pasien DSV dan 110 pasien kontrol tanpa PJB yang memenuhi kriteria inklusi. Deteksi mutasi gen CRELD1 dilakukan dengan pemeriksaan sekuensing terhadap isolasi DNA.Hasil. Ditemukan satu anak dengan mutasi CRELD1, mutasi yang terjadi adalah missense mutations dan tempat mutasi terletak pada ekson 10 c.1136T>C (p. Met379Thr). Mutasi tersebut tidak ditemukan pada kontrol. Mutasi gen CRELD1 terjadi pada anak dengan DSV inlet besar dan disertai hipertensi pulmonal. Ditemukan empat tempat mutasi SNPs, tiga di antaranya telah dilaporkan ke gene Bank sebagai SNPs, dan satu tempat mutasi belum pernah dilaporkan.Kesimpulan. Didapatkan mutasi gen CRELD1 pada DSV inlet besar dan hipertensi pulmonal, sehingga perlu segera dilakukan penutupan defek ventrikel. Maka adanya mutasi gen CRELD1 dapat digunakan sebagai deteksi dini dan tata laksana yang lebih baik terhadap DSV.
Dari Penelitian Ke Praktek Kedokteran Dody Firmanda
Sari Pediatri Vol 3, No 1 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.376 KB) | DOI: 10.14238/sp3.1.2001.42-49

Abstract

Salah satu komponen latar belakang dari tujuan dilakukannya suatu penelitian adalah relevansi penelitian tersebut terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, membuat kebijakan (policy) klinis dalam penatalaksanaan pasien secara individu ataupun kelompok serta kebijakan kesehatan secara lebih luas dalam suatu sistem tingkat institusi penyelenggara kesehatan baik tingkat rumah sakit (standard of procedures) maupun nasional (guidelines). Pada abad 21 ini dengan semakin meningkatnya tekanan dan tuntutan, pesatnya perkembangan teknologi kedokteran/kesehatan dan semakin terbatasnya sumber dana serta perubahan globalisasi, diharapkan pengambilan keputusan yang tepat dan baik akan bergeser ke arah ‘Evidence-based decision making’. “Evidence-based Medicine (EBM)” dan “Evidence-based Health Care (EBHC)” adalah cara pendekatan untuk mengambil keputusan dalam penatalaksanaan pasien (dan atau penyelenggaraan pelayanan kesehatan) secara eksplisit dan sistematis berdasarkan bukti penelitian terakhir yang sahih (valid) dan bermanfaat. Penerapan “Evidence-based Medicine (EBM)” dan “Clinical Governance” dalam suatu sistem organisasi pelayanan kesehatan memerlukan beberapa persyaratan yakni organisastion-wide transformation, clinical leadership dan positive organizational cultures. 
Terapi Farmakologis Duktus Arteriosus Paten pada Bayi Prematur: Indometasin atau Ibuprofen? Henry Gunawan; Risma Kerina Kaban
Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.6.2010.401-8

Abstract

Duktus arteriosus paten (DAP) merupakan kelainan yang sering dijumpai pada bayi prematur. Salah satuupaya tata laksana DAP adalah pemberian terapi farmakologis guna memicu penutupan duktus. Sediaanterapi farmakologis yang umumnya digunakan adalah indometasin, suatu penghambat siklooksigenase(COX). Namun akhir-akhir ini diperkenalkan sediaan ibuprofen sebagai alternatif terapi farmakologisyang memiliki efektifitas setara. Dilaporkan seorang bayi prematur (usia gestasi 30 minggu) dengan duktusarteriosus paten yang berhasil di obati menggunakan ibuprofen. Tinjauan literatur menunjukkan terapiibuprofen pada bayi prematur dengan duktus arteriosus paten memiliki efektifitas tingkat penutupan duktusyang setara dengan indometasin dengan efek samping serebral, gastrointestinal dan renal yang lebih rendah.Keamanan penggunaan ibuprofen pada bayi prematur dengan hiperbilirubinemia masih belum jelas karenaefek peningkatan bilirubin yang ditimbulkannya mungkin meningkatkan risiko ensefalopati bilirubin. Dipihak lain, sediaan ibuprofen peroral tampak memiliki efektifitas yang setara dengan sediaan intravena danefek samping yang terkesan lebih rendah
Pola Defekasi pada Anak Edi S. Tehuteru; Badriul Hegar; Agus Firmansyah
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.129-33

Abstract

Defekasi merupakan salah satu aktivitas manusia yang harus dilalui di dalam kehidupansehari-harinya. Pola defekasi pada anak sangat bervariasi dan sangat bergantung padafungsi organ, susunan saraf, pola makan, serta usia anak. Menilai pola defekasi padaanak berarti menilai frekuensi defekasi, konsistensi dan warna tinjanya. Berdasarkanpenelitian yang telah dilakukan di beberapa negara di Amerika, Eropa, dan Asia-Pasifikdiketahui bahwa terjadi penurunan frekuensi defekasi sesuai dengan bertambahnya usiaanak, sedangkan perubahan konsistensi dan warna tinja sesuai dengan pola makan. Sejauhini belum pernah dilaporkan tentang pola defekasi pada anak Indonesia.
Deteksi Dini, Faktor Risiko, dan Dampak Perlakuan Salah pada Anak Daisy Widiastuti; Rini Sekartini
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.2.2005.105-12

Abstract

Child abuse atau kekerasan pada anak merupakan keadaan yang sering kita jumpaipada kehidupan sehari-hari, fenomena gunung es berlaku pada keadaan tersebut, datapasti mengenai child abuse sulit diperoleh. Kekerasan terhadap anak termasuk semuabentuk perlakuan menyakitkan baik fisik, seksual maupun emosional yang dilakukanorang tua atau orang lain dalam konteks hubungan tanggung jawab atau kekuasaan.Faktor resiko baik pada anak, orang tua/situasi keluarga maupun masyarakat/sosialmempunyai hubungan dengan dugaan kekerasan pada anak. Wawancara terstruktur,pemeriksaan fisik yang cermat, dan pemeriksaan penunjang dapat membantumengetahui kasus kekerasan pada anak. Kekerasan pada anak dapat memberikandampak akut atau kronik bagi tumbuh kembang anak, terhadap keluarga danmasyarakat.
Kadar Svcam-1 pada Penderita Sindrom Nefrotik Kambuh Nanan Sekarwana
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.163-6

Abstract

Latar belakang. Sindrom nefrotik pada anak umumnya sensitif terhadap pengobatan, walaupun demikian60%–80% akan mengalami kekambuhan; 20% jenis kambuh jarang, 40% jenis kambuh sering. Prognosispada sindrom nefrotik kambuh sering kurang baik dikaitkan dengan peningkatan kadar profil lemak kecualiHDL. Untuk petanda aterosklerosis dapat digunakan kadar VCAM-1 dalam serum. Dengan meningkatnyakadar profil lemak pada anak dengan sindrom nefrotik, muncul pertanyaan apakah anak dengan sindromnefrotik juga memiliki risiko menderita aterosklerosis.Tujuan. Mengetahui kadar sVCAM-1 pada sindrom nefrotik kambuh sering dibandingkan dengan sindromnefrotik kambuh jarang dan anak sehat.Metode. Penelitian menggunakan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada 29 anak dengan sindromnefrotik kambuh jarang, 21 anak dengan sindrom nefrotik kambuh sering dan 50 anak sehat.Hasil. Rerata sVCAM-1 masing-masing pada sindrom nefrotik jenis kambuh sering, kambuh jarang dankontrol 871,01; 1038,31 dan 715,30 ng/dl.Kesimpulan. Terdapat perbedaan kadar sVCAM yang bermakna pada ketiga kelompok (F=22,43;p.<0,001). Jenis sindrom nefrotik, baik kambuh sering maupun kambuh jarang, tidak mempunyai kontribusiyang besar terhadap kadar sVCAM-1 (adjusted R2 8,9%), walaupun diketahui bahwa prognosis sindromnefrotik kambuh sering lebih buruk dibandingkan dengan kambuh jarang karena adanya faktor risikoaterosklerosis yang berulang.
Faktor–Faktor yang Berhubungan dengan Kualitas Hidup Pasien Thalassemia Mayor di Pusat Thalassemia Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM Daniel Nugraha Aji; Christopher Silman; Citra Aryudi; Cynthia Cynthia; Centauri Centauri; Damara Andalia; Desi Astari; Diah Pitaloka DMP; Corry Wawolumaya; Rini Sekartini; Pustika Amalia
Sari Pediatri Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.2.2009.85-9

Abstract

Latar belakang. Transfusi darah dan terapi kelasi yang diberikan seumur hidup pada anak dengan thalassemiamayor memberikan harapan hidup yang sama dengan anak sehat. Kualitas hidup menjadi hal yang pentingdengan bertambahnya angka harapan hidup pasien thalassemia.Tujuan. Mengetahui kualitas hidup anak dengan thalassemia mayor di Pusat Thalassemia Departemen IlmuKesehatan Anak FKUI-RSCM serta faktor-faktor yang berhubungan.Metode. Penelitian menggunakan rancangan cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara konsekutifpada bulan Juli 2009. Subjek penelitian adalah anak berusia 13-18 tahun di Pusat Thalassemia DepartemenIlmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM yang datang selama periode penelitian. Penilaian kualitas hidupmenggunakan kuesioner baku PedsQL yang diisi sendiri oleh subjek. Analisis data dengan metode univariatdengan tingkat kemaknaan􀀀􀁁=0,05.Hasil. Dari 97 subjek, 49 (50,5%) memiliki kualitas hidup buruk. Sebaran usia, jenis kelamin, dan pendapatanorang tua berturut-turut didapatkan pada 53 subjek (54,6%) berusia 13-15 tahun, 49 subjek (50,5%) perempuan,dan 53 subjek (54,6%) memiliki orang tua berpendapatan menengah. Kelompok suku bangsa terbanyakadalah Sunda-Sunda (32%). Perubahan fisis dialami oleh 78% subjek yang terdiri dari facies Cooley (58%),hiperpigmentasi (64%), dan perut membuncit (26%). Faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup adalahtingkat pendapatan orang tua (p=0,037), suku bangsa (p=0,019), dan tampilan facies cooley (p=0,006).Kesimpulan. Separuh anak dengan thalassemia mayor di Pusat Thalassemia RSCM (50,5%) memiliki kualitashidup yang buruk. Kualitas hidup tersebut berhubungan dengan tingkat pendapatan orang tua, suku, dantampilan facies Cooley.
Angka Kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah Sebelum dan Semasa Krisis Ekonomi; suatu Penelitian di Rumah Sakit Sjarif Hidayat; Kiki Madiapermana K Samsi; Mia Milanti Dewi
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.311 KB) | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.88-91

Abstract

Krisis ekonomi yang terjadi sejak tahun 1997 memberikan dampak yang luas danmeresahkan masyarakat. Masyarakat menduga krisis ekonomi mengakibatkan gizi burukpada bayi baru lahir dengan indikator bayi berat lahir rendah (BLBR). Ilmu KesehatanAnak menggunakan kelahiran bayi kecil masa kehamilan (KMK) sebagai indikator giziburuk pada bayi baru lahir. Kondisi lain yang mengakibatkan kelahiran BBLR adalahprematuritas. Penulis merasa perlu meneliti sejauh mana pengaruh krisis ekonomiterhadap kelahiran BBLR, baik dalam bentuk KMK ataupun prematuritas. Penelitianini bersifat retrospektif. Subjek penelitian adalah semua BBLR lahir hidup di RumahSakit Hasan Sadikin Bandung sebelum krisis ekonomi antara Oktober sampai Desember1998 (kelompok II). Data didapat dari rekam medik. Dari 83 bayi dalam kelompok Ididapatkan bayi KMK sebanyak 50 bayi (60%), 28 bayi (55%) tipe simetris; bayi prematur25 bayi (30%); bayi prematur-KMK 6 bayi (22%). Sedangkan dari 86 bayi dalamkelompok II didapatkan bayi KMK sebanyak 34 bayi (39,5%), 19 (56%) tipe simetris;bayi prematur 45 bayi (52%); bayi prematur-KMK 7 (16%). Berdasarkan uji X_didapatkan penurunan bermakna dari jumlah bayi KMK pada BBLR semasa krisisekonomi (p=0,007). Namun di lain pihak terdapat peningkatan bermakna dari jumlahbayi prematur pada BBLR semasa krisis ekonomi (p=0,007). Sedangkan jumlah bayiprematur-KMK pada bayi BBLR sebelum dibandingkan dengan semasa krisis ekonomitidak didapatkan perbedaan (p=0.384). Dapat disimpulkan bahwa jumlah kelahiran bayiKMK justru mengalami penurunan semasa krisis ekonomi. Sedangkan krisis ekonomiternyata lebih berdampak pada peningkatan kelahiran bayi prematur yang jugamerupakan permasalahan di bidang kesehatan anak.
Anemia pada Penyakit Keganasan Anak Nababan Rouli; Pustika Amalia
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.98 KB) | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.176-81

Abstract

Anemia merupakan komplikasi yang paling sering terjadi pada penyakit keganasan.Mekanismenya sangat kompleks, yaitu anemia dapat terjadi sebagai dampak langsungdari penyakit keganasan atau akibat dari pengobatannya. Angka kejadian anemia padapasien dengan penyakit keganasan berkisar antara 35% hingga 95% bergantung padajenis penyakit keganasan dan regimen kemoterapi yang dipakai. Radioterapi dankemoterapi seperti cisplatin, etoposid, dan kombinasi dari siklofosfamid, metotreksatdan 5-fluorourasil terbukti dapat menyebabkan anemia derajat sedang sampai berat,oleh sebab itu anemia pada pasien keganasan sangat membutuhkan penanganan yangbaik karena dapat mempengaruhi proses pengobatan, dan kualitas hidup.

Page 32 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue