cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Perbandingan Efektifitas dan Keamanan Parasetamol Intravena dan Ibuprofen Oral pada Penutupan Duktus Arteriosus Persisten pada Bayi Kurang Bulan Oktaviliana Sari; Ria Nova; Herman Bermawi; Erial Bahar
Sari Pediatri Vol 17, No 4 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.221 KB) | DOI: 10.14238/sp17.4.2015.279-84

Abstract

Latar belakang. Duktus arteriosus persisten (DAP) pada bayi kurang bulan (BKB) dapat menimbulkan gangguan hemodinamika sehingga perlu segera ditutup. Salah satu cara penutupan adalah dengan obat penghambat siklooksigenase (COX), khususnya ibuprofen. Mengingat efek samping yang ditimbulkan ibuprofen, parasetamol yang bekerja menghambat peroksidase mulai diperkenalkan sebagai alternatif dengan efektifitas setara dan efek samping yang minimal.Tujuan. Membandingkan efektifitas dan keamanan antara parasetamol intravena dan ibuprofen oral untuk penutupan DAP pada BKB.Metode. Uji klinis terbuka, acak terkontrol pada bayi dengan usia gestasi ≤37 minggu yang dikonfirmasi DAP dengan menggunakan ekokardiografi. Dilakukan randomisasi blok untuk menerima parasetamol intravena atau ibuprofen oral. Hasil utama yang dinilai adalah respon terapi penutupan duktus arteriosus (DA), efek samping yang timbul, dan kejadian reopening.Hasil. Penutupan DAP terjadi pada 33 dari 36 (91,6%) BKB yang mendapat parasetamol intravena dan 29 dari 40 (72,5%) yang mendapat ibuprofen oral (p=0,03). Pada kelompok ibuprofen, efek samping yang timbul berupa trombositopenia (28,5%) dan perdarahan saluran cerna (25,7%), sedangkan pada kelompok parasetamol intravena tidak dijumpai efek samping. Reopening terjadi hanya pada satu bayi di kelompok ibuprofen oral.Kesimpulan. Parasetamol intravena lebih efektif dan lebih aman dibandingkan ibuprofen oral untuk penutupan DAP pada BKB.
Herpes Zoster Oftalmikus Sinistra Diseminata dengan Infeksi Sekunder pada Anak Patria Vittarina S; Alan R. Tumbelaka
Sari Pediatri Vol 4, No 3 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.429 KB) | DOI: 10.14238/sp4.3.2002.125-8

Abstract

Dilaporkan seorang anak perempuan berumur 6 tahun dengan herpes zoster oftalmikussinistra diseminata yang mengalami infeksi sekunder. Diagnosis ditegakkan berdasarkananammesis dan gambaran klinis yang khas berupa erupsi unilateral dan terbatas padadaerah kulit yang dipersarafi oleh satu ganglion sensorik. Komplikasi herpes zoster padamata relatif tinggi terutama bila mengenai saraf trigeminus cabang nasosiliaris. Pasiendiobati dengan asiklovir 5x200 mg dan, seftriakson 2x500 mg. Pada mata kiri diberikanasiklovir salep mata, air mata buatan, xitrol dan sulfas atropin. Lesi kulit dikompresdengan larutan NaCl 0,9% lalu diberikan salep asam fusidat. Evaluasi pada hari keempatperawatan menunjukkan vesikel sudah menghilang, terdapat krusta kuning kehitamandan pada fase penyembuhan hari keduabelas, pada daerah perut terdapat bercak-bercakhipopigmentasi. Pemeriksaan mata menunjukkan adanya perbaikan, tanpa meninggalkangejala sisa.
Pengaruh Pemberian Vitamin C terhadap Kadar Leukotrien Urin pada Pasien Asma Anak Cece Alfalah; Gustina Lubis; Finny F Yani; Nur I Lipoeto
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.053 KB) | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.416-20

Abstract

Latar belakang. Pada asma anak terdapat peningkatan kadar leukotrien darah dengan hasil metabolit akhirberupa leukotrien E4(LTE4). Vitamin C dapat menghambat lipoksigenase sehingga menurunkan kadar LTE4urin sejalan dengan perbaikan klinis asma.Tujuan. Mengetahui pengaruh pemberian vitamin C terhadap perbaikan klinis asma anak, ditandai denganpenurunan kadar LTE4 urin dan peningkatan nilai C-ACT.Metode. Penelitian intervensi (pre and post group design) pemberian vitamin C 200 mg/hari setelah makanselama 6 minggu, dilakukan pada pasien asma anak dari bulan September sampai dengan Oktober 2013.Kadar LTE4 urin normal 10-60 pg/ml dan nilai C-ACT terkontrol 􀁴20. Perbedaan dua data numerik tidakberdistribusi normal diuji dengan uji Wilcoxon-Rank (p<0,05). Korelasi antara dua data numerik tidakberdistribusi normal diuji dengan korelasi SpearmanHasil. Pemberian vitamin C tidak menurunkan kadar LTE4 urin (60,5%), tetapi terdapat kecenderunganpeningkatan nilai C-ACT (50%), p>0,05. Terdapat korelasi antara kadar LTE4 urin dan nilai C-ACT sebelumdan setelah pemberian vitamin C (r=-0,327 dan -0,359; p<0,05). Terdapat penurunan kejadian seranganasma setelah pemberian vitamin C, p<0,05.Kesimpulan. Pemberian vitamin C dapat memperbaiki klinis asma, meskipun kadar LTE4urin dan nilai C-ACTtidak mempunyai korelasi sebelum dan setelah pemberian vitamin C.
Gangguan Tidur pada Anak Usia Bawah Tiga Tahun di Lima Kota di Indonesia Rini Sekartini; Nuri Purwito Adi
Sari Pediatri Vol 7, No 4 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.4.2006.188-93

Abstract

Latar belakang. Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar untuk tumbuh kembangoptimal bagi seorang anak. Pola tidur dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktorinternal pada diri anak dan faktor lingkungan fisik. Gangguan tidur dapat menyebabkanmasalah perilaku, emosi, menyebabkan mengantuk pada siang hari, dan dapatmempengaruhi konsentrasi belajar serta daya ingat anak.Tujuan. Mengetahui prevalensi gangguan tidur pada anak usia bawah tiga tahunmenggunakan kuesioner BISQ serta hubungan antara faktor sosiodemografi dengangangguan tidur.Metoda. Penelitian ini dilakukan terhadap 385 anak usia bawah 3 tahun di 5 kota diIndonesia. Sejak Januari – Juni 2005. Sampel diperoleh secara consecutive sampling.Merupakan studi analitik seksi silang, menggunakan metode wawancara terpimpindengan kuesioner yang telah diuji coba dan formulir Brief Infant Sleep Questionnaire(BISQ). Definisi gangguan tidur bila ditemukan satu atau lebih kondisi seperti lamatidur malam kurang dari 9 jam, terbangun pada malam hari lebih dari 3 kali dan lamaterbangun pada malam hari lebih dari 1 jam. Data diolah dan dianalisis dengan programSPSS 11, uji Chi-Square, Fisher’s Exact test dan Mann-Whitney U. Hubungan bermaknasecara statistik bila ditemukan nilai p < 0.005.Hasil. Prevalensi gangguan tidur ditemukan pada 44,2% dari 385 subyek terdiri dari198 anak laki-laki dan 187 anak perempuan. Rata-rata usia anak 12 bulan. Tingkatpendidikan orangtua sebagian besar tingkat pendidikan sedang, dengan 66,5% masukdalam katagori tingkat pendapatan rendah. Sebagian besar anak (43,1%) tidur padaposisi telentang, tidur bersama orangtua di tempat tidur yang sama (bed sharing)ditemukan pada 73,5% dan co-sleeping ditemukan pada 18,7%. Dalam cara menidurkananak 56,1% tertidur ketika disusui, dan dari uji statistik didapatkan hubungan bermaknaantara tertidur ketika disusui dengan gangguan tidur. Ditemukan pula hubunganbermakna antara jumlah waktu tidur siang dan waktu mulai tidur malam dengangangguan tidur. Sedangkan faktor sosiodemografi tidak berhubungan bermakna dengangangguan tidur. Meskipun demikian 42,3% orangtua beranggapan bahwa gangguantidur pada anak bukan merupakan suatu masalah.Kesimpulan. Prevalensi gangguan tidur pada anak bawah 3 tahun ditemukan pada44,2% kasus yang diteliti dengan rata-rata usia anak 12 bulan. Ditemukan hubunganbermakna secara statistik antara tertidur ketika disusui dan jumlah waktu tidur siangserta waktu mulai tidur malam dengan gangguan tidur. Tidak ditemukan hubunganbermakna secara statistik antara faktor sosiodemografi dan gangguan tidur. PerangkatBISQ dapat merupakan salah satu alat untuk skrining gangguan tidur pada anak.Prevalensi gangguan tidur yang tinggi dan perhatian orangtua yang kurang terhadapmasalah ini, perlu dilakukan penyebaran informasi dan penyuluhan kepada orang tuatentang manfaat tidur dan dampak yang ditimbulkan dari gangguan tidur.
Hubungan Habitual Snoring dengan Prestasi Akademis Anak Sekolah Dasar Hendri Tanu Jaya; Darmawan B. Setyanto; Hanifah Oswari
Sari Pediatri Vol 15, No 5 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.978 KB) | DOI: 10.14238/sp15.5.2014.313-8

Abstract

Latar belakang. Habitual snoring dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Berbagai penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara habitual snoring dengan prestasi akademis anak yang rendah, tetapi belum terdapat penelitian mengenai hal ini di Indonesia.Tujuan. Mengetahui hubungan habitual snoring dengan prestasi anak sekolah dasar berdasarkan rata-rata nilai mata pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, dan IPA.Metode. Desain studi potong lintang dengan kriteria inklusi berupa anak habitual snoring dan non snoring minimal 6 bulan sebelum penelitian ini berdasarkan kuesioner yang diisi oleh orangtua anak.Hasil. Didapatkan prevalens snoring 29,3 dari 249 subjek dengan prevalens occasional snoring 20,08% dan habitual snoring 9,24%. Prevalens habitual snoring pada anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan anak perempuan (10,87% vs 7,2%) tetapi tidak bermakna secara statistik. Prevalens habitual snoring pada subjek kelompok usia >9 tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan kelompok usia ≤9 tahun. Dari 199 subjek yang memenuhi kriteria inklusi penelitian, terdiri dari 176 subjek non snoring dan 23 habitual snoring. Kelompok subjek habitual snoring memiliki pencapaian nilai rerata mata pelajaran matematika lebih rendah 11,47 point (nilai p=0,001), mata pelajaran IPA lebih rendah 10,75 point (nilai p= 0,001), Bahasa Indonesia lebih rendah 8,01 point (nilai p=0,01), dan pencapaian nilai rerata yang lebih rendah 10,8 point (nilai p=0,001) berdasarkan rata-rata nilai dari ketiga mata pelajaran tersebut dibandingkan kelompok subjek non snoring.Kesimpulan. Anak habitual snoring memiliki prestasi akademis yang lebih rendah dibandingkan dengan anak non snoring.
Batuk Kronik pada Anak: masalah dan tata laksana Darmawan B Setyanto
Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.2.2004.64-70

Abstract

Batuk kronik pada anak cukup banyak dijumpai dalam praktek sehari-hari. Pada pasienanak, gejala batuk yang kronik atau berulang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari,mengurangi nafsu makan, dan pada akhirnya dapat mengganggu proses tumbuhkembang. Orang tua juga akan terganggu terutama bila gejala batuk lebih sering danlebih berat pada malam hari. Batasan batuk kronik bermacam-macam, ada yangmengambil batas 2 minggu atau 3 minggu. Ada pula yang membagi batuk menjadibatuk akut, subakut, dan kronik. Antara batuk kronik dan batuk berulang seringkalisulit dibedakan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganut batasan tersendiriyaitu batuk kronik berulang (b.k.b) yang mencakup pengertian batuk kronik di dalamnya.Dua fungsi utama batuk, pertama sebagai mekanisme pertahanan respiratorik; keduasebagai gejala yang mengindikasikan adanya gangguan / kelainan / penyakit di sistemrespiratorik umumnya, dan sebagian di luar sistem respiratorik. Batuk akan timbul bilareseptor batuk terangsang. Pada anak, berbagai hal, keadaan, atau penyakit dapatbermanifestasi sebagai batuk. Sebagian besar etiologi berasal dari sistem respiratorik,sebagian kecil karena kelainan di sistem non-respiratorik. Untuk mendeteksi etiologibatuk, pemahaman tentang mekanisme batuktermasuk lokasi reseptor batuk sangatpenting diketahui. Dengan pemahaman itu, kita akan tetap ingat bahwa batuk kronikjuga dapat disebabkan oleh kelainan atau penyakit di luar sistem respiratorik. Pasienanak dengan batuk kronik dibagi menjadi dua kelompok, tanpa kelainan dasar yangnyata serta anak relatif tampak sehat, dan pasien dengan kelainan respiratorik yangnyata. Perlu pula diketahui etiologi yang sering timbul pada berbagai kelompok umuranak. Langkah diagnostik dimulai dari penggalian anamnesis yang mendalam,pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang yang relevan. Tata laksana batuk kronikpada anak ditujukan kepada penyakit dasarnya, peran antitusif sangat terbatas.
Pertambahan Berat Badan Pasca Penutupan Patent Duktus Arteriosus secara Transkateter Dewi Hartaty; Noormanto Noormanto; Ekawaty Lutfia Haksari
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.180-4

Abstract

Latar belakang. Patent duktus arteriosus (PDA) merupakan salah satu penyakit jantung bawaan asianotik yang paling banyakdijumpai pada anak. PDA dapat memengaruhi pertumbuhan anak dan menyebabkan malnutrisi pada anak dan malnutrisi yangterjadi merupakan faktor risiko mortalitas dan morbiditas pada anak.Tujuan. Mengetahui pertambahan berat badan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan penutupan duktus pada anak dengan PDAsecara transkateter dan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertambahan berat badan setelah dilakukanpenutupan PDA secara transkateter.Metode. Penelitian observasional pre dan post test design dengan menggunakan data rekam medis. Anak dengan PDA yangdilakukan penutupan secara transkateter. Z-score berat badan menurut umur dinilai sebelum dan pada saat 1, 3, 6, dan 12 bulansetelah penutupan dan dilakukan analisis menggunakan repeated ANOVA test. Faktor-faktor yang memengaruhi pertambahanberat badan 3 bulan setelah penutupan dianalisis menggunakan chi square dan regressi logistik.Hasil. Terdapat 43 anak usia <5 tahun dengan PDA diikutkan dalam penelitian dari Januari 2005 sampai Juni 2011. Sebelumpenutupan 76,7% (33) anak dengan z-score berat badan/umur < -2 SD. Didapatkan perbaikan rerata z-score berat badan/umursebelum dan saat 1, 3, 6, dan 12 bulan setelah penutupan (-2,63 vs -2,41, -2,14, -1,92 and -1,56; p<0,05). Jenis kelamin, umur,z-score berat badan/umur sebelum penutupan, berat lahir, hipertensi pulmonal, gagal jantung, pekerjaan orang tua, pendidikanibu dan penghasilan orang tua tidak berhubungan dengan pertambahan berat badan 3 bulan setelah penutupan.Kesimpulan. Penutupan defek secara transkateter pada anak usia <5 tahun dengan PDA akan memberikan peningkatan z-scoreberat badan berdasarkan umur.
Gambaran Bullying dan Hubungannya dengan Masalah Emosi dan Perilaku pada Anak Sekolah Dasar Soedjatmiko Soedjatmiko; Waldi Nurhamzah; Anastasia Maureen; Tjhin Wiguna
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.174-80

Abstract

Latar belakang. Prevalensi bullying pada anak SD di Indonesia belum diketahui.Tujuan. Mengetahui gambaran dan prevalensi bullying, pemahaman pelajar mengenai istilah bullying, hubungan antara status bullying dengan masalah emosi, dan perilaku serta prestasi akademis.Metode. Penelitian potong lintang dengan subyek pelajar SD kelas V usia 9-11 tahun di SDN Cikini 02 Pagi dan SDS Tunas Bangsa pada bulan Oktober 2011. Bullying dinilai menggunakan Olweus Bully/Victim Questionnaire yang dimodifikasi, sedangkan masalah emosi dan perilaku dideteksi menggunakan self-report Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Prestasi akademis dinilai berdasarkan nilai rapor tengah semester.Hasil. Penelitian dilakukan pada 76 subyek dan didapatkan prevalensi bullying 89,5%. Tidak terdapat perbedaan jenis kelamin pada subyek yang terlibat dalam bullying. Sebagian besar subyek yang terlibat bullying berusia >9 tahun. Subyek dengan status sosio-ekonomi rendah cenderung menjadi korban, sedangkan subyek dengan status sosio-ekonomi menengah dan tinggi cenderung menjadi korban sekaligus pelaku. Tipe bullying tersering adalah fisik. Pelaku bullying terbanyak adalah teman sebaya. Bullying paling sering terjadi di ruang kelas pada waktu istirahat sekolah. Dampak bullying jangka pendek tersering yang dialami korban adalah perasaan sedih. Sebagian besar korban melaporkan bullying yang dialaminya kepada orang lain. Hanya 22% subyek yang mengetahui istilah bullying dengan tepat. Tidak didapatkan hubungan antara status bullying dengan masalah emosi dan perilaku maupun prestasi akademis.Kesimpulan. Prevalensi bullying pada murid kelas V SDN Cikini 02 Pagi dan SDS Tunas Bangsa 89,5%. Pemahaman tentang istilah bullying pada anak SD di Jakarta Pusat rendah. Tidak didapatkan hubungan antara status bullying dengan masalah emosi dan perilaku maupun prestasi akademis.
Hipotiroidisme kongenital di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Ciptomangunkusumo Jakarta, tahun 1992-2002 Melda Deliana; Jose RL Batubara; Bambang Tridjaja; Aman B Pulungan
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.2.2003.79-84

Abstract

Gejala klinis hipotiroidisme kongenital pada neonatus seringkali tidak begitu jelas danbaru terdeteksi setelah 6-12 minggu. Diagnosis dini sangat penting untuk mencegahtimbulnya retardasi mental atau meringankan derajat retardasi mental. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui gambaran klinis awal, laboratorium dan respons terapiawal natrium levotiroksin pada pasien hipotiroidisme kongenital. Data dikumpulkandari catatan rekam medik kasus-kasus hipotiroidisme kongenital yang berkunjung kePoliklinik Endokrinologi Anak dan Remaja FKUI/RSCM Jakarta selama kurun waktu1992-2002. Dalam kurun waktu tersebut terdapat 30 pasien baru, 21 anak (70%)perempuan dan 9 anak (30%) laki-laki. Sebagian besar (53,3%) didiagnosis pada umur1-5 tahun. Berdasarkan status antropometri menurut NCHS-WHO ditemukan gizi burukpada 53,3% kasus (berat badan/umur), perawakan pendek paa 90% kasus (tinggi badan/umur), dan pada 70% kasus perbandingan berat badan/tinggi badan adalah normal.Gejala klinis tersering saat diagnosis adalah perkembangan motorik terlambat (83,3%),konstipasi (73,3%), aktivitas menurun (70%), makroglosia (70%), dan pucat (70%).Ditemukan maturasi tulang terlambat (95,5%), gangguan pendengaran (22,7%),gangguan sistem neuromuskular (16,7%), dan retardasi mental (62,5%). Padapemeriksaan skintigrafi dijumpai agenesis tiroid pada 11,1% kasus. Sebagian besar(26,7%) mendapat terapi awal dosis tinggi (8-10 mg/kg/hari). Gejala klinis berkurang(36,7%) dalam 4 minggu dan fungsi tiroid kembali normal (33,3%) dalam 1-3 bulansetelah terapi awal.
Kortikosteroid sebagai Profilaksis Nefritis pada Purpura Henoch-Schonlein Ratih Dewi Palupi; Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.027 KB) | DOI: 10.14238/sp11.6.2010.409-14

Abstract

Purpura Henoch-Schonlein (PHS) merupakan penyakit vaskulitis tersering pada anak. Sebagian besarkasus PHS bersifat sembuh sendiri (self-limiting). Morbiditas dan mortalitas jangka panjang PHS berkaitandengan keterlibatan ginjal. Nefropati persisten terjadi pada 1% dari keseluruhan kasus PHS dan kurang dari1% mengalami progresifitas menjadi gagal ginjal terminal. Tata laksana PHS terutama bersifat suportif.Kortikosteroid digunakan pada kasus PHS dengan nyeri perut, edema subkutan, dan nefritis. Penggunaankortikosteroid sebagai profilaksis terjadinya gangguan ginjal pada PHS masih merupakan kontroversi.Pemberian kortikosteroid dini tidak dapat mencegah terjadinya keterlibatan ginjal pada PHS namun dapatmengurangi beratnya manifestasi gastrointestinal dan mengurangi risiko kelainan ginjal persisten.

Page 31 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue