cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Adolescent Development (Perkembangan Remaja) Jose RL Batubara
Sari Pediatri Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.324 KB) | DOI: 10.14238/sp12.1.2010.21-9

Abstract

Adolescent atau remaja merupakan periode kritis peralihan dari anak menjadi dewasa. Pada remaja terjadiperubahan hormonal, fisik, psikologis maupun sosial yang berlangsung secara sekuensial. Pada anakperempuan awitan pubertas terjadi pada usia 8 tahun sedangkan anak laki-laki terjadi pada usia 9 tahun.Faktor genetik, nutrisi, dan faktor lingkungan lainnya dianggap berperan dalam awitan pubertas. Perubahanfisik yang terjadi pada periode pubertas ini juga diikuti oleh maturasi emosi dan psikis. Secara psikososial,pertumbuhan pada masa remaja (adolescent) dibagi dalam 3 tahap yaitu early, middle, dan late adolescent.Masing-masing tahapan memiliki karakteristik tersendiri. Segala sesuatu yang mengganggu proses maturasifisik dan hormonal pada masa remaja ini dapat mempengaruhi perkembangan psikis dan emosi sehinggadiperlukan pemahaman yang baik tentang proses perubahan yang terjadi pada remaja dari segala aspek.
Hasil Pengobatan Leukemia Mieloblastik Akut pada Anak Hikari Ambara Sjakti; Djajadiman Gatot; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.544 KB) | DOI: 10.14238/sp14.1.2012.40-5

Abstract

Latar belakang. Leukemia mieloblastik akut (LMA) merupakan penyakit keganasan yang sering ditemukan pada anak. Hasil pengobatan LMA di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM dalam satu dekade terakhir belum pernah dievaluasi. Tujuan. Mengetahui karakteristik pasien LMA dan evaluasi hasil pengobatan serta protokol pengobatan.Metode. Penelitian deskritif dilakukan secara retrospektif terhadap rekam medis pasien LMA yang didiagnosis antara Januari 2007-Desember 2010 di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM. Karakteristik pasien secara klinis dan laboratoris dicatat, dan hasil pengobatan dianalisis. Estimasi kesintasan dihitung menggunakan metode Kaplan-Meier dengan bantuan program statistik.Hasil. Selama rentang waktu penelitian didapatkan 93 pasien baru LMA. Overall survival (OS) adalah 46,2% (95% IK: 21,1%;31,2%) dan event-free survival(EFS) 6,5% (95% IK: 3,1%;6,2%). Angka loss to follow-upmencapai sepertiga jumlah pasien yang mempengaruhi hasil estimasi kesintasan (overall survival). Rendahnya EFS disebabkan oleh angka kematian yang tinggi mencapai 50 dari 93 pasien dan 62% di antaranya disebabkan oleh sepsis.Kesimpulan. Keberhasilan pengobatan LMA masih sangat rendah dibandingkan laporan penelitian dari negara lain. Faktor yang paling berperan terhadap hal ini adalah kematian yang tinggi akibat infeksi berat atau sepsis. Komplikasi infeksi mungkin terjadi akibat toksisitas obat dan fasilitas perawatan untuk pasien LMA kurang memadai. Stratifikasi risiko pasien LMA dan evaluasi protokol kemoterapi yang diberikan serta penyediaan fasilitas perawatan yang baik akan memperbaiki hasil pengobatan LMA
Skor prediktor kematian sepsis neonatorum awitan dini Rizki Kawa Ramadani; Alifah Anggraini; Setya Wandita
Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.2.2016.117-21

Abstract

Latar belakang. Sepsis neonatorum awitan dini memiliki angka kematian tinggi dan sering memerlukan perawatan intensif. Beberapa sistem skor dikembangkan sebagai prediktor luaran, tetapi sering hanya pada berat lahir rendah atau memerlukan banyak pemeriksaan penunjang. Sistem skoring baru yang mudah, sederhana, cepat, dan dapat diaplikasikan akan memudahkan klinisi memprediksi luaran untuk pemilihan intervensi maupun konseling.Tujuan. Mengembangkan model skor sebagai prediktor kematian sepsis neonatorum awitan dini.Metode. Penelitian kohort retrospektif di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta menggunakan data sekunder bayi lahir bulan Januari 2014 – Mei 2015 dengan sepsis neonatorum awitan dini sesuai kriteria klinis. Bayi dieksklusi jika memiliki kelainan bawaan mayor atau data tidak lengkap. Pengembangan sistem skoring dengan metode Spiegelhalter Knill-Jones. Pembobotan skor digunakan nilai koefisien regresi logistik, sedangkan penentuan nilai titik potong skor digunakan kurva receiver operating characteristics (ROC).Hasil. Seratus delapan subjek memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Mortalitas sebesar 24%. Pengambilan skor 6 variabel yang memenuhi nilai LR, yaitu usia kehamilan (≤33 minggu: skor: 2, >33 minggu: skor -4), asfiksia (ya: 4, tidak: -5), leukopenia (≤5000: 10, >5000: 0), Trombositopenia (≤100.000: 5, >100.000: 0), absolute neutrophyl count (≤2000: 18, >2000: -1), dan biakan kuman (tumbuh: 10, tidak tumbuh: -3). Area under curve (AUC) adalah 83,8% (74,3%-92%). Titik potong pada skor 2 memiliki sensitivitas 84,6%, spesifisitas 64,4%, nilai ramal positif 43%, nilai ramal negatif 93%, likelihood ratio (LR) positif 2,39, dan LR negatif 0,24.Kesimpulan. Skor ≥2 dapat memprediksi kematian sepsis neonatorum awitan dini. 
Hipertensi Sekunder akibat Perubahan Histologi Ginjal Bernadetha Nadeak
Sari Pediatri Vol 13, No 5 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.5.2012.311-15

Abstract

Ginjal merupakan organ yang berperan penting dalam mengatur tekanan darah. Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular degeneratif dengan insidens yang meningkat dari tahun ke tahun. Sel juksta glomerular di dalam ginjal berperan penting dalam terjadinya hipertensi karena dalam juksta glomerulus dihasilkan renin. Renin berfungsi mengubah angiotensinogen menjadi angiotensinogen I, dan oleh pengaruh enzim proteolitik konvertase diubah menjadi angiotensin II yang berfungsi sebagai vasokonstriktor. Selanjutnya korteks kelenjar adrenal untuk melepaskan aldosteron yang mempengaruhi tubulus kontortus distalis untuk mereabsorbsi NaCl dan air. Kelainan pada sel juksta glomerular dapat mengakibatkan hipersekresi renin, sehingga mempengaruhi tekanan darah sistemik. Kelainan pembuluh darah yang sering menimbulkan hipertensi adalah stenosis (penyempitan) karena aterosklerosis, displasia (stenosis non aterosklerosis) dinding arteri di lapisan intima, lapisan media dan adventisia juga turut berperan. Di dalam lapisan intima terjadi fibroplasia intima, yaitu penimbunan jaringan fibrous sehingga lumen arteri menyempit. Pada lapisan media terjadi fibroplasia media, yaitu penimbunan jaringan fibrous dan atrofi otot polos, sehingga lumen arteri menyempit. Pada lapisan adventisia, terjadi penggantian dengan jaringan kolagen yang meluas ke jaringan ikat sehingga menjadi kaku dan sempit. Kelainan pada parenkim ginjal dapat berupa proliferasi sel dan jaringan parut. Jaringan parut itu akan menarik jaringan sekitarnya termasuk jaringan vaskular arteri interlobaris yang akan mengganggu vaskularisasi ginjal. Semua kelainan ini akan menimbulkan hipoksia ginjal, sehingga merangsang pelepasan renin yang berkibat terjadinya hipertensi renoparenkim dan renovaskular.
Rituximab: Apakah Efektif dalam Tata Laksana Sindrom Nefrotik? Sudung O. Pardede; Dimas K. Bonardo
Sari Pediatri Vol 13, No 4 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.757 KB) | DOI: 10.14238/sp13.4.2011.285-92

Abstract

Sebagian besar pasien sindrom nefrotik memberikan respons yang baik dengan steroid, tetapi terdapat pasien yang tidak responsif dengan steroid dan sulit mengalami remisi, disebut sindrom nefrotik refrakter. Berbagai regimen obat telah diberikan untuk menghindari atau mengurangi efek samping steroid, seperti siklofosfamid, klorambusil, siklosporin, vinkristin, mikofenolat mofetil, dan takrolimus dengan hasil yang bervariasi dan berbagai efek samping. Rituximab adalah antibodi monoklonal anti-CD20 yang menginduksi aktivitas imunologis yang dimediasi oleh komplemen dan mencetuskan aktivitas selular tergantung antibodi (antibody-dependent). Rituximab telah diberikan untuk mengobati sindrom nefrotik refrakter, dan pada sindrom nefrotik relaps sering, terjadi remisi dan tidak timbul relaps. Penelitian multisenter untuk sindrom nefrotik dependen steroid dan resisten steroid, memperlihatkan terjadi remisi pada sebagian besar pasien. Pemberian rituximab pada sindrom nefrotik dengan gambaran patologi anatomi kelainan minimal, nefropati membranosa, dan glomerulosklerosis fokal segmental menyebabkan remisi pada sebagian besar pasien. Keberhasilan rituximab dalam tata laksana sindrom nefrotik idiopatik merupakan bukti terdapatnya peran limfosit B dalam patogenesis sindrom nefrotik. Dosis yang sering digunakan 375 mg/m2LPB secara intravena diberikan 4 dosis dengan interval satu minggu atau dosis 750 mg/m2LPB diberikan dua dosis selang waktu dua minggu. Rituximab dapat mengurangi aktivitas penyakit dan memperbaiki sensitivitas terhadap obat imunsupresan. Efek samping yang sering terjadi berupa reaksi akut seperti demam, nyeri abdomen, diare, muntah, ruam kulit, bronkospasme, takikadia, dan hipertensi. Rituximab memberikan hasil yang baik dalam tata laksana sindrom nefrotik refrakter, namun diperlukan uji klinik dengan jumlah sampel yang cukup untuk menilai efikasi dan keamanan obat
Hubungan Gambaran Klinis dan Laboratorium Sebagai Faktor Risiko Syok pada Demam Berdarah Dengue Mayetti Mayetti
Sari Pediatri Vol 11, No 5 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.5.2010.367-73

Abstract

Latar belakang. Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit endemis dengan angka kematian yangmasih tinggi. Gambaran klinis bervariasi, pasien yang awalnya tampak ringan dapat mengalami syok danmeninggal. Sampai saat ini masih sulit mengetahui mana di antara pasien yang akan mengalami syok.Tujuan. Mengetahui hubungan gambaran klinis dan parameter laboratorium sebagai faktor risiko syokpada pasien DBD.Metode. Penelitian kohort retrospektif data rekam medik pasien DBD (kriteria WHO 1997) yang dirawatdi RS. M. Djamil Padang pada Januari-Desember 2007. Dicatat umur, jenis kelamin, status gizi, suhu,manifestasi perdarahan, hepatomegali, nilai hemoglobin, leukosit, hematokrit, dan trombosit saat masukrumah sakit serta derajat DBD, dihubungkan dengan kejadian syok. Analisis memakai uji chi-square,fischer’s exact, risiko relatif dan analisis multivariat regresi logistik.Hasil. Dari 259 pasien yang memenuhi kriteria penelitian, 119 (46%) mengalami syok. Pasien dengansuhu <37,5 oC, perdarahan spontan, dan hepatomegali mengalami syok berturut-turut 55,3%, 90,5%, dan71,9%. Pasien dengan hemoglobin >14 gr%, leukosit >10000/ mm3, hematokrit >50 vol% dan trombosit<20000/ mm3 berturut-turut mengalami syok 65,4%, 70%, 79,3% dan 70%, berbeda bermakna dibandingyang tidak syok (p<0,05). Kemungkinan mengalami syok lebih besar (+2 kali) apabila suhu <37,5oC,perdarahan spontan, hepatomegali, hematokrit >42 vol%, hemoglobin >14gr%, leukosit >5000/mm3 dantrombosit <50000/ mm3. Analisis multivariat menunjukkan faktor yang paling berhubungan dengan syokadalah suhu, perdarahan spontan, hepatomegali, jumlah trombosit, hematokrit, dan leukosit (p<0,05).Kesimpulan. Gambaran klinis berupa perdarahan spontan, hepatomegali, suhu tubuh dan parameterlaboratorium yaitu jumlah trombosit, hematokrit, leukosit paling berhubungan, dan merupakan faktorrisiko syok pada DBD.
Profil Bayi Rujukan Saat Masuk Rawat Ditinjau dari the STABLE Program Ema Alasiry
Sari Pediatri Vol 13, No 4 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.834 KB) | DOI: 10.14238/sp13.4.2011.235-8

Abstract

Latar belakang. Sugar and safe care, temperature, airway, blood pressure, laboratoratorium work and emotional support (S.T.A.B.L.E) program adalah suatu program/pelatihan kepada para pelaku pelayanan kesehatan untuk menilai dan menstabilkan bayi sakit setelah tindakan resusitasi atau sebelum bayi dirujuk. Dalam program ini, seorang bayi sakit harus terhindar dari kondisi tidak stabil yaitu hipoglikemi, instabilitas suhu (terutama hipotermi), gangguan napas (hipoksia), dan hipoperfusi (syok). Keempat kondisi tersebut sangat erat hubungannya dengan peningkatan risiko kematian bayi baru lahir.Tujuan. Mengetahui jumlah kasus rujukan rawat dan jenis ketidakstabilan (menurut the STABLEprogram).Metode. Penelitian retrospektif, mengambil data dari rekam medis bayi yang dirujuk ke ruang perawatan neonatus RS dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, periode Januari - Desember 2010. Subyek dibagi dalam kelompok bayi dengan kondisi stabil dan tidak stabil menurut the S.T.A.B.L.E program, dan dianalisis dengan SPSS 17.0Hasil. Terdapat 139 bayi rujukan yang turut dalam penelitian. Sebagian besar bayi rujukan saat masuk rumah sakit berada dalam kondisi tidak stabil (64,7%). Diagnosis yang tersering menjadi alasan bayi dirujuk adalah infeksi dan gangguan napas, sedangkan kondisi tidak stabil yang paling sering ditemui adalah ketidakstabilan suhu (38,1%) terutama hipotermi. Ketidakstabilan lain adalah hipoksi (36,7%) diikuti dengan hipoglikemi (5%), dan hipoperfusi (1,4%).Kesimpulan. Sekitar dua pertiga bayi rujukan berada dalam kondisi tidak stabil saat masuk rawat di rumah sakit dan jenis kondisi tidak stabil yang tersering adalah hipotermi.
Kadar Kortisol Serum sebagai Indikator Prognosis Sepsis pada Anak Leny Zabidi; M. Supriatna; Maria Mexitalia
Sari Pediatri Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.2.2015.101-6

Abstract

Latar belakang. Salah satu respon utama terhadap stres adalah aktivasi aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal, diketahui denganpeningkatkan produksi kortisol.Tujuan. Membuktikan kadar kortisol dapat digunakan sebagai prediktor luaran sepsis.Metode. Penelitian prospektif, dilakukan di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Sepsis didiagnosis menurut Konsensus Konfrensi Sepsispada Anak tahun 2005, dikelompokkan sebagai luaran perbaikan dan perburukan. Kortisol serum dianalisis dengan metode ELISA.Uji Mann-Whitney U digunakan untuk menganalisis perbedaan kadar kortisol pada luaran sepsis anak. Kadar kortisol dianalisislebih lanjut menggunakan ROC dan ditentukan titik potong yang optimal.Hasil. Sejumlah 30 anak dengan diagnosis sepsis diikutsertakan dalam penelitian. Kadar kortisol serum subyek berkisar 64,62 – 836,15ng/mL, menunjukkan peningkatan (normal 24 – 229) ng/mL. Median kadar kortisol pada luaran perbaikan 187,05 (64,62-509,08)ng/mL dan pada luaran perburukan 740,91 (299,45-836,15) ng/mL. Terdapat perbedaan bermakna kadar kortisol serum pada luaranperbaikan dan luaran perburukan (p<0,001). Luas area di bawah kurva ROC 0,958, dengan titik potong kadar kortisol 323 ng/mL,RR 48,0 (IK95%:4,304–535,256; p<0,001)Kesimpulan. Kadar serum kortisol lebih dari 323 ng/mL merupakan prediktor luaran perburukan pada sepsis anak.
Insidens Defisiensi Besi dan Anemia Defisiensi Besi pada Bayi Berusia 0-12 Bulan di Banjarbaru Kalimantan Selatan: studi kohort prospektif Harapan Parlindungan Ringoringo
Sari Pediatri Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.1.2009.8-14

Abstract

Latar belakang. Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan salah satu masalah kesehatan gizi di Indonesia. Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan prevalensi ADB pada bayi kurang dari 1 tahun 55%.Tujuan. Mengetahui insidens deplesi besi, defisiensi besi, dan anemia defisiensi besi pada bayi berusia kurang dari 1 tahun.Metode. Desain penelitian adalah studi kohort prospektif dengan pembanding eksternal. Dijumpai 211 bayi ikut dalam penelitian, terdiri dari 143 bayi lahir dari ibu tanpa anemia dan 68 bayi lahir dari ibu dengan anemia. Pemeriksaan darah tepi lengkap, gambaran darah tepi, feritin, saturasi transferin (ST) dilakukan saat bayi berusia 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 12 bulan. Diagnosis ADB berdasarkan 1) kadar hemoglobin <14g/dL untuk usia 0-3 hari, <11g/dL usia 1 bulan, <10g/dL usia 2-6 bulan, <11g/dL usia 6-12 bulan, 2) mikrositik dan atau hipokrom, 3) kadar hemoglobin meningkat setelah diberi terapi besi, 4) feritin <12 ug/L usia 6-12 bulan, 5) RDW >14%, 6) Indeks Mentzer >13; 7) Indeks RDW >220. Deplesi besi bila ST <30% untuk usia 0-1 bulan, ST <21% untuk usia 2-6 bulan, feritin<20 ug/L usia 6-12 bulan. Defisiensi besi bila ST <20% usia 0-1 bulan, ST <16% usia 2-6 bulan, feritin <12 ug/L usia 6-12 bulan.Hasil. Insidens deplesi besi, defisiensi besi, ADB berturut-turut 11,4%, 7,6%, 47,4%, tertinggi pada bayi berusia 0 bulan, yaitu berturut-turut 9,5%, 14,2%, 11,8%.Kesimpulan. Insidens deplesi besi, defisiensi besi, ADB paling tinggi dijumpai pada bayi berusia 0 bulan.
Penggunaan Antibiotik Secara Bijak Untuk Mengurangi Resistensi Antibiotik, Studi Intervensi di Bagian Kesehatan Anak RS Dr. Kariadi Helmia Farida; Herawati Herawati; MM Hapsari; Harsoyo Notoatmodjo; Hardian Hardian
Sari Pediatri Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.1.2008.34-41

Abstract

Latar belakang. Masalah resistensi antibiotik di Indonesia sudah mengkhawatirkan. Penggunaan antibiotiksecara bijak merupakan kunci utama pengendalian resistensi.Tujuan. Penelitian bertujuan meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas penggunaan antibiotikdi Bangsal Kesehatan Anak RS Dr. Kariadi dan menguji apakah kualitas dapat ditingkatkan denganpelatihan.Metode. One group pretest and post test subjek adalah 22 dokter yang merawat pasien kelas III, mengikutipelatihan penggunaan antibiotik, dan dapat ditelusuri resep antibiotik yang dibuatnya dalam 6 bulansebelum dan sesudah pelatihan. Variabel tergantung adalah skor kualitas penggunaan antibiotik berdasarkanmodifikasi Kunin dan Gyssen. Variabel bebas adalah pelatihan, pengetahuan, sikap, faktor pendorong, danfaktor penghambat. Pengetahuan dan sikap diukur dengan kuesioner. Analisis statistik bivariat menggunakanUji χ2 dan Mann-Whitney. Analisis multivariat untuk mengukur besarnya pengaruh pelatihan dan faktorfaktorlain terhadap kualitas peresepan antibiotik dengan GEE.Hasil. Diantara 1365 resep antibiotik yang dievaluasi didapatkan penggunaan antibiotik tanpa indikasi setelahpelatihan berkurang dari 42.3% menjadi 23,2%, dan penggunaan antibiotik yang tepat meningkat dari 36,2%menjadi 58,2%. Rerata skor kualitas pengunaan antibiotik meningkat dari 2,0 menjadi 2,8. Perubahanperubahanini bermakna (p<0,05). Pelatihan berperan besar dalam meningkatkan kualitas penggunaandokter, faktor-faktor lain tidak memiliki pengaruh yang bermakna terhadap kualitas penggunaan antibiotik.Kesimpulan. Pelatihan yang efektif dapat meningkatkan kualitas penggunaan antibiotik.

Page 30 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue