cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Kejang pada Neonatus, Permasalahan dalam Diagnosis dan Tata laksana Setyo Handryastuti
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.634 KB) | DOI: 10.14238/sp9.2.2007.112-20

Abstract

Kejang pada neonatus sulit didiagnosis karena ada beberapa gejala yang tidak khas sehingga terjadiketerlambatan atau diagnosis yang berlebihan. Demikian juga dalam hal tata laksana seringkali kita hanyaterpaku pada pemberantasan kejang sehingga upaya untuk mencari dan mengobati etiologi terlambat dankurang tepat. Selain itu masih terdapat kontroversi dalam hal tata laksana kejang terutama pemilihan obatantikonvulsan yang tepat. Deteksi kejang secara dini, penelusuran etiologi serta tata laksana yang mencakuppemberantasan kejang dan terapi spesifik terhadap etiologi sangat menentukan mortalitas dan morbiditasneonatus.
Sildenafil Sebagai Pilihan Terapi Hipertensi Pulmonal Pascabedah Jantung Koreksi Penyakit Jantung Bawaan pada Anak Yogi Prawira; Piprim B. Yanuarso
Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.336 KB) | DOI: 10.14238/sp11.6.2010.456-462

Abstract

Definisi hipertensi pulmonal (HP) pada anak dan dewasa adalah sama, yaitu bila mean pulmonary arterialpressure 􀁲25 mmHg saat istirahat atau 􀁲30 mmHg saat aktivitas. Pada anak pascabedah koreksi penyakitjantung bawaan (PJB), HP berat merupakan komplikasi yang sangat dikhawatirkan, dengan angka kejadiansekitar 2%. Sildenafil telah digunakan secara luas pada pasien HP dewasa, baik sebagai terapi tunggalmaupun kombinasi. Makalah ini bertujuan untuk mengevaluasi pemberian sildenafil pada anak denganHP pascabedah jantung koreksi. Kedua pasien dirujuk ke RS Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta (RSCM)dengan keluhan tampak biru, sesak terutama saat menetek, dan berat badan sulit naik. Saat itu keduapasien didiagnosis memiliki kelainan jantung bawaan berupa transposisi arteri besar (TGA), defek septumventrikel (VSD) dan HP. Operasi koreksi total (arterial switch dan penutupan VSD) dilakukan pada saatpasien pertama berusia 3 bulan 10 hari dan pasien kedua berusia 4 bulan 22 hari. Kedua pasien mendapatinhalasi nitric oxide (iNO), inhalasi iloprost, dikombinasikan dengan sildenafil oral, dengan dosis awal 0,5mg/kg berat badan (BB) per kali tiap 6 jam dengan pemantauan tekanan arteri berkala. Pasien pertamadipulangkan pada hari ke-23 pascabedah dan mendapat sildenafil oral dengan penurunan dosis bertahapdalam kurun waktu 6 bulan. Pasien kedua dipulangkan pada hari ke-12 pascabedah dan masih mendapatterapi sildenafil oral dengan dosis yang sama sampai hari ini. Pada kedua pasien tidak dilaporkan kejadianefek samping. Sebagai kesimpulan sildenafil efektif dalam memperbaiki hemodinamika pembuluh darahpulmonal dan bekerja secara sinergik dengan iNO. Sildenafil oral merupakan terobosan terapi yang menarikdan cukup efektif karena mudah pemberiannya dan memiliki efek samping minimal.
Hemartrosis pada Hemofilia Djajadiman Gatot; Setyo Handryastuti
Sari Pediatri Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.1.2000.36-42

Abstract

Hemofilia merupakan penyakit gangguan perdarahan yang bersifat herediter denganberbagai macam manifestasi perdarahan, salah satunya ialah hemartrosis atauperdarahan sendi. Hemartrosis dapat menimbulkan masalah jangka panjang yaituterjadinya artropati kronik. Hal ini dapat dicegah dengan tatalaksana hemartrosissecara baik dan optimal.
Diagnosis dan Tata Laksana Neonatus dari Ibu Hamil Tuberkulosis Aktif Bobby S Dharmawan; Darmawan B Setyanto; Rinawati R
Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.2.2004.85-90

Abstract

Tuberkulosis (TB) pada kehamilan selain dapat mengenai ibu juga dapat menular padabayi baik intrauterin, saat persalinan, maupun pasca natal. Kejadian TB kongenital selamapersalinan sangat jarang. Gejala klinis TB pada neonatus sulit dibedakan dengan sepsisbakterial umumnya dan hampir semua kasus meninggal karena keterlambatan diagnosis.Manifestasi klinis TB kongenital dapat timbul segera setelah lahir maupun dalambeberapa hari. Gejala yang paling sering ditemukan adalah distres pernapasan,hepatosplenomegali, dan demam. Tata laksana TB pada neonatus mencakup beberapaaspek yaitu ibu, bayi yang dilahirkan dan lingkungan keluarga. Untuk diagnosis dantata laksana diperlukan pemeriksaan klinis dan penunjang berupa pemeriksaan patologidari plasenta darah v.umbilikalis, foto toraks, bilas lambung serta evaluasi uji tuberkulinsecara berkala. Deteksi dini TB pada neonatus dan penanganan yang baik pada ibudengan TB aktif akan memperkecil kemungkinan terjadinya TB perinatal.
Modifikasi Sistem Cairan Intravena Menurunkan Infeksi Nosokomial di NICU-Harapan Kita Setyadewi Lusyati; Ferdy P. Harahap; Hulzebos C; Bos AF; Sauer PJ
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.54-8

Abstract

Latar belakang. Infeksi adalah salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di NICU. Sumberinfeksi tidak selalu jelas, cairan intravena mungkin merupakan salah satu penyebab.Tujuan Penelitian. Mengevaluasi pengaruh cairan intravena, baik cara pemberian maupun frekuensipenggantian cairan terhadap kejadian infeksi di NICU RSAB Harapan Kita.Metode. Studi uji silang dilakukan di NICU terhadap 2 kelompok bayi pada periode waktu yang berbeda.Kelompok I (periode Juni-Juli,2006) adalah kelompok ‘infus semi terbuka’ menggunakan buret, digantitiap 2-7 hari. Kelompok II (periode September-Oktober,2006) adalah kelompok ‘infus tertutup’menggunakan semprit, diganti tiap 8 jam. Angka kejadian infeksi dihitung berdasarkan adanya bakteri didalam biakan darah pada periode tersebut.Hasil. Didapatkan 68 bayi dari kelompok I (berat lahir rerata 2364± 840 gram, usia gestasi rerata 35.5±3.9 minggu) dan 54 bayi di kelompok II (BBL rerata 2479±884 gram, usia gestasi 36.2 ±2.6 minggu).Insidensi infeksi nosokomial lebih rendah daripada kelompok II dibandingkan kelompok I (35/68 dan 5/54, OR=0.1; 95% interval kepercayaan: 0.034-0.271; p<0.001). Pada kelompok I, 31/56 bayi didapatkanbiakan darah II menjadi positif, sedangkan pada kelompok II hanya terdapat 3/48 bayi dengan biakandarah II menjadi positif (p<0.001). Hasil biakan kelompok I, 30/35 adalah Serratia, sedangkan padakelompok II didapatkan 5 spesimen ditemukan Serratia.Kesimpulan. Pemberian cairan intravena sistem terbuka merupakan salah satu faktor utama penyebab tingginyainfeksi nosokomial di RSAB Harapan Kita. Dengan memodifikasi cara pemberian dan frekuensi penggantiancairan intravena, kejadian infeksi nosokomial dapat diturunkan
Peran Heat Shock Protein 47 sebagai Faktor Prediktor PrognosisExperimental Autoimmune Neuritis Studi eksperimental untuk mempelajari perjalanan penyakit Sindrom Guillain Barre menggunakan mencit Mus musculus Balb/C Ruslan Muhyi
Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.135 KB) | DOI: 10.14238/sp10.5.2009.296-301

Abstract

Latar belakang. Sindrom Guillain Barre (SGB) adalah salah satu kelainan immune-mediated peripheralneuropathy karena gangguan sistem imun dengan ciri paralisis akut. Penelitian peran Hsp47 pada jaringansaraf pasien SGB tidak mungkin dilakukan pada manusia sehingga perlu model, experimental autoimmuneneuritis (EAN) adalah animal model yang mirip SGB pada manusia. Ekspresi Hsp47 merupakan biomarkerprospektif untuk deteksi prognosis SGB sehingga kelumpuhan dapat dicegah tetapi imunopatogesis peranHsp47 pada perubahan perjalanan penyakit SGB belum jelas.Tujuan. Membuktikan peran Hsp47 sebagai faktor prediktor prognosis perjalanan penyakit SGB.Metode. Penelitian eksperimental, sampel 30 mencit mus musculus Balb/C terdiri kelompok satu 10 sampeldengan pemberian myelin protein dosis 75 μg, kelompok dua 10 sampel pemberian myelin protein 25 μg,dan kelompok tiga 10 sampel diberi CFA (complete freud ajuvant) sebagai kontrol. Kemudian dibandingkankadar HSP47 setiap kelompok berdasarkan derajat kelumpuhan yang dianalisis dengan uji Manova.Hasil. Kelompok satu terjadi 4 mencit lumpuh berat, 6 lumpuh ringan, sedang kelompok dua dan tiga tidaktidak terjadi kelumpuhan. Pada mencit yang lumpuh berat terjadi peningkatan ekspresi Hsp47, Il-2, INF-􀁇dan TNF-􀁁. Pada lumpuh ringan terjadi peningkatan ekspresi Il-5 dan Il-10. Uji statistik menyatakan bahwaterdapat perbedaan bermakna kadar HSP47 antara kelompok perlakuan dengan kontrol.Kesimpulan. Ekspresi Hsp47 meningkat pada lumpuh berat, sehingga HSP47 dapat digunakan sebagaifaktor prediktor prognosis SGB
Aspek Hukum KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) Agus Purwadianto
Sari Pediatri Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.71 KB) | DOI: 10.14238/sp2.1.2000.11-22

Abstract

Imunisasi secara medis merupakan tindakan yang aman, namun sesekali terancam olehefek samping atau efek buruk yang disebut KIPI. Dalam bentuk program, imunisasi massalakan memunculkan kekerapan KIPI yang dapat merugikan jasmani dan bahkan nyawapasien yang semula sebagai klien petugas kesehatan. Hukum, khususnya hukum administrasinegara yang dilandasi oleh etika sosial dan manajemen yang lege artis mengharuskan pejabatkesehatan hingga ke tenaga pelaksana kesehatan melaksanakan program tersebut sehinggatujuan imunisasi tercapai, tanpa menimbulkan gugatan hukum yang tidak perlu dari pasienyang dirugikan akibat KIPI. Efektivitas dan efisiensi program akan seimbang denganyuridisitas dan legalitasnya. Bila gugatan hukum muncul, kerangka hukum penyelesaiandan perlindungannya terdapat dalam lingkup hukum administrasi negara, yang berbedadengan hukum kesehatan perorangan. Petugas kesehatan dilindungi oleh standar proseduroperasional, pemberian informed-consent kolektif, pembuatan surat-tugas dan bahkantindakan diskresioner sesuai dengan kondisi dan situasi lapangan demi kepentingan kliendan pasien. Persyaratan diskresi tersebut secara hukum diuraikan, termasuk rantaitanggungjawabnya hingga ke pejabat tertinggi dalam bidang kesehatan. Pokja KIPI yangberfungsi sebagai lembaga independen dan penasehat pemerintah, dapat berfungsi sebagailembaga yang memverifikasi fakta hukum, penyelesaian kasus sengketa medik pada KIPI,serta usulan pemberian santuan kepada korban bila diperlukan, sebelum kasus tersebutmasuk ke lembaga peradilan resmi yang seringkali justru sulit menciptakan keadilan.
Tata laksana Nutrisi pada Bayi Berat Lahir Rendah Sri Sudaryati Nasar
Sari Pediatri Vol 5, No 4 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.4.2004.165-70

Abstract

Pemberian nutrisi bayi berat lahir rendah (BBLR) tidak sama dengan pemberian padabayi cukup bulan, hal ini karena kematangan fungsi saluran cerna, enzim sertakemampuan pengosongan lambung yang berbeda dengan bayi cukup bulan. Kebutuhannutrisi BBLR merupakan kebutuhan yang paling besar dibandingkan kebutuhan masamanapun dalam kehidupan. Kebutuhan ini mutlak untuk kelangsungan hidup sertatumbuh kembang yang optimal. Belum ada standar kebutuhan nutrien yang disusunsecara tepat untuk BBLR sebanding dengan air susu ibu (ASI). Rekomendasi yang adabertujuan agar kebutuhan nutrien dipenuhi mendekati kecepatan tumbuh dan komposisitubuh janin normal sesuai masa gestasi serta mempertahankan kadar normal nutriendalam darah dan jaringan tubuh. Pemilihan jenis nutrisi sangat penting dan ASI tetapmerupakan piihan utama karena berbagai keunggulannya. Formula prematur terusdisempurnakan agar menyerupai komposisi nutrien ASI dengan menambah glutamatdan nukleotida. Cara pemberian nutrisi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor antaralain keadaan klinis, masa gestasi, juga ketrampilan dan pengalaman petugas di tempatperawatan bayi.
Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu pada Bayi yang Berkunjung ke Unit Pediatri Rawat Jalan Soepardi Soedibyo; Winda F
Sari Pediatri Vol 8, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.355 KB) | DOI: 10.14238/sp8.4.2007.270-5

Abstract

Latar belakang. Makanan pendamping (MP) ASI harus diberikan mulai usia 6 bulankarena mulai usia ini bayi sangat rentan untuk terjadi malnutrisi. Namun, pemberianMP-ASI terlalu dini mempunyai dampak yang kurang baik pada bayi.Tujuan. Untuk mengetahui pengetahuan orangtua mengenai MP-ASI tentang usiapemberian, alasan ibu memberikannya jenis MP-ASI dan cakupan pemberian ASIeksklusif.Metoda. Penelitian deskriptif dengan desain potong lintang, dilakukan pada orang tuapasien yang membawa anaknya berusia 1-12 bulan, yang sudah diberikan makananpendamping untuk berobat di Pediatri Rawat Jalan, RS Dr. Cipto MangunkusumoJakarta.Hasil. Responden perempuan lebih banyak dari pada laki-laki, usia berkisar 17-38 tahun,pendidikan mulai SD sampai perguruan tinggi. Memberikan MP-ASI <4 bulan pada12 responden (12,63 %), 4-6 bulan 80 responden (84,21 %) dan 3 responden memberikanpada usia >6 bulan (3,6 %). Jenis MP-ASI berupa air tajin, bubur susu, buah-buahandan biskuit. Jumlah bayi yang mendapat susu formula 9 (9,47 %).Kesimpulan. Delapan puluh empat persen orang tua memberikan MP-ASI pada usiabayi sesuai anjuran WHO yaitu usia 4-6 bulan. Makanan pendamping ASI yang diberikanpada anak yang termuda adalah air tajin dan air kaldu ceker ayam. Cakupan pemberianASI eksklusif 6,3 %, sedangkan jumlah bayi yang hanya diberi susu formula 9,47 %.
Perbandingan Penggunaan Pediatric Index of Mortality 2 (PIM2) dan Skor Pediatric Logistic Organ Dysfunction (PELOD), Untuk memprediksi kematian pasien sakit kritis pada anak Linda Marlina; Dadang Hudaya S; Herry Garna
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.551 KB) | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.262-7

Abstract

Latar belakang. Penilaian derajat kesakitan (severity score of illness) telah dikembangkan sejalan dengan meningkatnyaperhatian terhadap evaluasi dan pemantauan pelayanan kesehatan. Skor yang telah dikembangkanuntuk anak adalah pediatric logistic organ dysfunction, pediatric risk of mortality, dan pediatric index ofmortality.Tujuan. Membandingkan ketepatan pediatric index of mortality-2 dengan skor pediatric logistic organdysfunction dalam memprediksi kematian pasien sakit kritis pada anak.Metode. Rancangan observasi longitudinal dengan subjek penelitian anak yang menderita sakit kritis, dirawatdi Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSHS pada bulan Februari-Mei 2008. Dilakukan anamnesis, pemeriksaanfisis, dan laboratorium untuk mendapatkan pediatric index of mortality 2 dan skor pediatric logistic organdysfunction. Analisis statistik dengan menggunakan receiver operating characteristic (ROC) untuk menilaidiskriminasi dan Hosmer-Lemeshow goodness-of-fit untuk menilai kalibrasi.Hasil. Didapatkan 1215 anak berobat ke Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Hasan Sadikin Bandung, 120di antaranya merupakan pasien kritis. Pediatric index of mortality 2 memberikan hasil diskriminasi yanglebih baik (ROC 0,783; 95% CI 0,688–0,878) dibandingkan dengan pediatric logistic organ dysfunction(ROC 0,706; 95% CI 0,592–0,820). Pediatric index of mortality-2 memberikan hasil kalibrasi yang baik(Hosmer-Lemeshow goodness-of-fit test p=0,33; SMR 0,85) dibandingkan pediatric logistic organ dysfunction(p=0,00; SMR 1,37). PIM2 dan skor PELOD mempunyai korelasi positif dihitung dengan menggunakanSpearman’s correlation, r=0,288 (p=0,001).Kesimpulan. Pediatric index of mortality-2 memiliki kemampuan diskriminasi dan kalibrasi lebih baikdibandingkan dengan pediatric logistic organ dysfunction.

Page 33 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue