cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Hubungan Lingkar Pinggang dengan Faktor Risiko Penyakit Kardiovaskular pada Anak Obesitas Usia Sekolah Dasar Gustina Lubis; Nazardi Oyong
Sari Pediatri Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.167 KB) | DOI: 10.14238/sp8.2.2006.147-53

Abstract

Latar belakang. Obesitas pada masa anak cenderung menetap sampai dewasa danmeningkatnya kemungkinan menderita penyakit kardiovaskuler (PKV) di kemudianhari. Oleh karena itu perlu parameter praktis untuk mendeteksi faktor risiko tersebutlebih dini. Lingkar pinggang (LP) merupakan prediktor yang lebih baik untukmendeteksi faktor risiko PKV pada dewasa; data epidemiologis hubungan ini padaanak masih sedikit.Tujuan penelitian. Untuk mencari apakah ada hubungan antara lingkar pinggangdengan faktor risiko penyakit kardiovaskuler pada anak obesitas usia Sekolah Dasar.Metoda. Penelitian dilakukan secara cross sectional analitik pada 100 anak obes usiaSD yang berasal dari empat SD favorit di Kota Padang bulan Desember 2003 sampaidengan Januari 2004. Subyek dipilih secara consecutif sampling. Subyek penelitian yaituanak obes terjaring ( Indeks massa tubuh > persentase 95, CDC 2000 ) yang telahmendapat persetujuan orangtuanya untuk mengikuti penelitian. Data dianalisis denganmencari korelasi bivariat koefisien Pearson, uji t, ANOVA dan X2 dengan á 0,05 danpower 80%.Hasil. Subyek terdiri dari 59 anak laki-laki dan 41 perempuan, usia 5-13 tahun, 58anak dengan LP > persentil 90 dan 42 anak dengan LP < persentil 90. Peningkatan LPdiikuti peningkatan GDP (r=0,24), ApoB (r=0,20), Kol/HDL (r=0,25) dan LDL/HDL(r=0,25). Tujuh puluh lima persen anak obes dengan LP > p90 sudah terdapat minimal1 faktor risiko dan 58% minimal 2 faktor risiko PKV. Anak obes dengan LP >p90kemungkinan menderita hipertensi sistolik adalah 1,8 kali (p= 0,000 ), hipertensi diastolik1,5 kali (p = 0,001).Kesimpulan. Terdapat hubungan LP dengan beberapa faktor risiko PKV pada anakobesitas usia sekolah dasar. Ukuran LP dapat dipakai sebagai parameter untuk mendeteksifaktor risiko PKV pada kelompok anak tersebut.
Dampak Suplementasi Besi dan Seng dalam Meningkatkan Eritropoiesis pada Malaria Anak yang Diberi Obat Anti Malaria di Daerah Endemis Bidasari Lubis
Sari Pediatri Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.927 KB) | DOI: 10.14238/sp10.1.2008.1-7

Abstract

Latar belakang. Dampak besi dan seng untuk anak pasien malaria pada daerah endemis telah ditelitidapat menurunkan parasitemia. Namun penelitian interaksi keduanya bila diberikan bersama-sama untukmeningkatkan kadar hemoglobin, serum feritin, dan retikulosit masih terbatas.Tujuan. Membandingkan dampak seng dalam meningkatkan absorbsi besi pada anak dengan malaria falciparumyang mendapat pengobatan.Metode. Subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok besi ditambah plasebo dan kelompok besiditambah seng kemudian darah vena diambil sebelum perlakuan (H0) dan pada akhir penelitian (H30).Hasil. Setelah 30 hari suplementasi, 69 anak dapat menyelesaikan penelitian dan memenuhi kriteria untukdapat dianalisis. Terdapat perubahan yang bermakna pada konsentrasi hemoglobin kelompok besi ditambahplasebo dan kelompok besi ditambah seng setelah suplementasi (0,58 dan 0,09 g/dl; p<0,05) tetapi serumferitin dan retikulosit tidak bermakna.Kesimpulan. Suplementasi besi dan seng hanya meningkatkan kadar hemoglobin pada anak penderitamalaria di daerah endemis yang diberi obat anti malaria
Dampak Jangka Panjang Terapi Hormonal Dibandingkan Pembedahan pada Undesensus Testis Windhi Kresnawati; Aman Bhakti Pulungan; Bambang Tridjaja
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.229-33

Abstract

Latar belakang. Pemberian terapi hormonal pada undesensus testis (UDT) masih direkomendasikan di Indonesia sedangkanConsensus Report of Nordic Countries menyatakan bahwa terapi lini pertama untuk undesensus testis adalah operasi dan terapihormonal tidak direkomendasikan lagi.Tujuan. Mengevaluasi dampak samping terapi hormonal dan pembedahan pada undesensus testis berdasarkan bukti ilmiah.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik : Pubmed, Cochrane, Medline, Pediatrics.Hasil. Terdapat 11 penelitian mengenai dampak terapi pada UDT. Lima penelitian prospektif melakukan pemantauan sampaiusia pasien 3 tahun sedangkan 6 penelitian lainnya merupakan studi potong lintang pada pria dewasa dengan riwayat undesensustestis. Volume testis dan kualitas sperma lebih rendah pada pasien yang memiliki riwayat terapi hormonal dibandingkan denganpasien yang menjalani pembedahan saja. Risiko infertilitas meningkat (OR 4,7) pada pasien yang menjalani terapi hormonal.Risiko keganasan meningkat jika pembedahan dilakukan lebih dari usia 10 tahun.Kesimpulan. Terapi hormonal pada UDT dapat meningkatkan risiko infertilitas di kemudian hari oleh karena itu terapi hormonalsebaiknya tidak dianjurkan. Pasien dengan UDT berisiko menderita keganasan testis di usia dewasa dan orkiopleksi dini (sebelumusia 12 bulan) terbukti menurunkan risiko tersebut.
Gambaran Analisa Gas Darah pada Distres Pernapasan Srie Yanda
Sari Pediatri Vol 4, No 3 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.3.2002.135-40

Abstract

Distres pernapasan merupakan salah satu problem yang mengancam jiwa. Analisis gasdarah arteri (AGDA) penting untuk menentukan tata laksana distres pernapasan, sepertimenegakkan diagnosis, menentukan terapi, maupun untuk evaluasi setelah mendapatterapi. Namun interpretasinya harus dilakukan bersamaan dengan penilaian klinis.Kelainan AGDA oleh karena gangguan pernapasan dapat berupa asidosis respiratorik(pada gangguan paru restriktif), alkalosis respiratorik (pada gangguan paru obstruktif)dan asidosis campuran (pada penyakit paru dengan komplikasi). Prinsip umum tatalaksana distres pernapasan ditujukan kepada penyakit utamanya. Perhatian harusditujukan pada perbaikan volume ekstraselular, koreksi elektrolit, menghilangkan zattoksik, dan memperbaiki ventilasi.
Sindrom Sturge Weber Putu Junara Putra; I Komang Kari
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.69-74

Abstract

Sindrom Sturge Weber (SSW) atau disebut juga encephalofacialangiomatosis, merupakankelainan neurokutaneus yang ditandai dengan angioma leptomeningeal dan angiomakutaneus pada kulit wajah (Port Wine stain), terutama khas pada daerah perjalanannervus trigeminalis yaitu nervus oftalmikus (V1) dan nervus maksilaris (V2). PenyakitSSW disebabkan oleh anomali perkembangan bantalan vaskular pada stadium awalvaskularisasi otak yang mengakibatkan kelainan pada otak. Di Amerika, angka kejadianSSW diperkirakan sebesar 1 tiap 50.000. Kejadian SSW tidak dipengaruhi oleh ras danjenis kelamin. Kelainan neurologis dan perkembangan meliputi kejang, kelemahan, stroke,sakit kepala, hemianopsi, retardasi mental, dan kelainan perkembangan. Diagnosisditegakkan berdasarkan manifestasi klinis yang ditemukan pada tiga organ yaitu nervus,kulit dan mata, serta ditunjang oleh pemeriksaan pencitraan yaitu foto kepala, CT scan,MRI, single photon emission computed tomografi (SPECT), dan EEG.
Karakteristik Sindrom Turner di Jakarta I M Arimbawa; Jose RL Batubara; Bambang Tridjaya AAP; Aman B Pulungan
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.386-90

Abstract

Latar belakang. Sindrom Turner adalah kumpulan gejala dengan karakteristik fisik dan hilangnya satukromosom X baik secara komplit maupun parsial, dan sering pula berupa sel mosaik.Tujuan. Untuk mengetahui karakteristik pasien sindrom Turner yang meliputi kariotip, umur saatdiagnosis, perawakan, kelainan penyerta, status pubertas, kadar follicle stimulating hormone (FSH), danusia tulang.Metode. Penelitian merupakan studi deskriptif. Data diperoleh dari Perkumpulan Turner Jakarta dancatatan medik pasien yang berkunjung ke Poliklinik Endokrin Anak RSCM dari tahun 1997-2006.Hasil. Dari 20 kasus yang berhasil dikumpulkan, 17 di antaranya dengan kariotip 45,X, sisanya mosaik.Rerata umur saat diagnosis adalah 7,75 tahun (rentang 0-15 tahun); rerata berat lahir 2590 gram; perawakanpendek 18 pasien (18/20). Terdapat 8 pasien dengan kelainan penyerta yaitu 4 anak kelainan jantung, 3gangguan telinga, dan 1 orang dengan hipertensi. Saat diagnosis tujuh pasien, mengalami pubertas terlambat.Rerata kadar FSH dari 16 pasien adalah 82,94 IU/liter (rentang 13,8-188 IU/liter). Data usia tulang (16pasien) menunjukkan retarded (11 pasien), dan sisanya average.Kesimpulan. Pada penelitian ini karakteristik utama sindrom Turner adalah kariotip 45,X dengankarakteristik fisik perawakan pendek dan pubertas terlambat disertai kelainan penyerta
Korelasi Total Lymphocyte Count terhadap CD4 pada anak dengan Infeksi Human Immunodeficiency Virus Aulia Fitri Swity; Djatnika Setiabudi; Herry Garna
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.914 KB) | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.81-6

Abstract

Latar belakang.Epidemi infeksi human immunodeficiency virus (HIV) merupakan tantangan besar dalam permasalahan kesehatan di dunia. Di Indonesia, jumlah kasus HIV/AIDS anak semakin meningkat tiap tahunnya. Pemantauan jumlah CD4 dapat membantu memutuskan dimulainya pemberian terapi anti- CD4 dapat membantu memutuskan dimulainya pemberian terapi antiretroviral/ARV, tetapi pemeriksaannya mahal dan tidak selalu tersedia di sarana kesehatan. Total lymphocyte count (TLC) diajukan sebagai panduan alternatif selain jumlah CD4 pada keadaan sarana kesehatan yang terbatas. Tujuan. Menentukan korelasi TLC dengan jumlah CD4, dan menentukan jumlah CD4 berdasarkan pemeriksaan TLC pada anak HIV.Metode. Penelitian potong lintang berupa observasional analitik, pengambilan data secara retrospektif rekam medis anak HIV yang dirawat inap di Departemen/SMF Ilmu Kesehatan Anak dan rawat jalan di Klinik Teratai Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Dilakukan analisis regresi linier pada faktor-faktor yang berhubungan bermakna dengan CD4 untuk menentukan korelasi TLC dengan CD4, serta nilai hitung CD4 dari TLC. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p<0,05. Hasil.Subjek penelitian 67 anak HIV, terdiri dari 35 (52%) laki-laki dan 32 (48%) perempuan. Rentang jumlah CD4 berkisar antara 6–3.094 mm3, rerata 444,3 mm3(SD 536,3), median 241 mm3,dan rentang jumlah TLC antara 525–10.738, rerata 3.352,4 (SD 2.020,4), median 2.898. Analisis regresi menunjukkan hubungan linier antara jumlah CD4 sebagai variabel tergantung (Y) dan TLC sebagai variabel bebas (X) menggunakan persamaan Y= -158,209+0,180X. Didapatkan korelasi kuat antara TLC dan jumlah CD4 (r=0,68; p<0,001). Kesimpulan.Terdapat hubungan positif antara jumlah limfosit dan jumlah CD4. Jumlah CD4 pada pasien HIV anak dapat diperkirakan dari jumlah limfosit. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan cut off point TLC dalam inisiasi ARV
Defisiensi Asam Folat Helena Anneke Tangkilisan; Debby Rumbajan
Sari Pediatri Vol 4, No 1 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.729 KB) | DOI: 10.14238/sp4.1.2002.21-5

Abstract

Asam folat adalah salah satu vitamin, termasuk dalam kelompok vitamin B, merupakansalah satu unsur penting dalam sintesis DNA (deoxyribo nucleic acid). Unsur inidiperlukan sebagai koenzim dalam sintesis pirimidin. Kebutuhan meningkat pada saatterjadi peningkatan pembentukan sel seperti pada kehamilan, keganasan dan bayiprematur. Anemia megaloblastik merupakan manifestasi paling khas untuk defisiensiasam folat, walaupun ternyata defisiensi asam folat dapat menyebabkan kelainan-kelainanyang berat mengenai jaringan non hemopoetik. Kelainan ini bahkan sudah bermanifestasisebagai kelainan kongenital yaitu neural tube defect (NTD). Defisiensi asam folat jugamengakibatkan peningkatan homosistenin plasma (hiperhomosisteinemia) yang dianggapsebagai salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular berupa aterosklerosis. Mengingatbesarnya risiko akibat defisiensi folat, FDA (Food and Drug Administration)menganjurkan fortifikasi folat pada makanan yang banyak dikonsumsi sehari-hari olehmasyarakat seperti susu, dengan upaya menurunkan angka prevalensi defisiensi folat.
Masalah Etis dalam Proses Pengambilan Keputusan pada Praktik Pediatri Sudigdo Sastroasmoro
Sari Pediatri Vol 7, No 3 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.273 KB) | DOI: 10.14238/sp7.3.2005.125-31

Abstract

Masalah etika dalam praktik pediatri membawa masalah tersendiri karena ketidakmampuansang pasien (bayi atau anak) untuk memberikan informed consent. Pada umumnya secaralegal dan etis orangtua pasien dianggap sebagai pihak yang berhak memberikan persetujuanuntuk tindakan pengobatan maupun diagnostik. Namun hal tersebut harus dibatasi selamatindakan orangtua tersebut memberi kebaikan pada anak, atau setidaknya tidakmemperburuk keadaan pasien. Dokter anak harus siap dengan konsep informed consent(yang diberikan oleh anak remaja atau dewasa muda), parental permission (izin), sertameminta assent kepada anak untuk melakukan tindakan medis terutama yang bersifattraumatik, invasif, atau membawa bahaya tertentu. Dalam tiap kesempatan sebaiknyadokter anak selalu meminta persetujuan kepada pasien selama yang bersangkutan sudahmemahami (meskipun sebagian) keuntungan dan kerugian bila suatu tindakan dilakukanatau tidak dilakukan. Kunci utama dalam pelaksanaan etika dalam praktik adalahkomunikasi yang harus terselanggara dengan baik antara dokter, orangtua, dan anak.Implikasi legal dari perbuatan yang tidak etis dapat terjadi bila perbuatan dokter yangtidak etis tersebut menyebabkan kerugian di pihak pasien, baik morbiditas, mortalitas,atau kerugian material. Masalah etika dalam praktik menyangkut setiap langkah dalampelayanan pasien, mulai dari appointment, anamnesis, pemeriksaan fisis, tindakandiagnostik, tindakan pengobatan, dan tindak lanjut. Rekam medis merupakan bagian daritugas profesi dokter untuk menjalankannya dengan baik.Banyaknya tuntutan terhadap apa yang sering dituduhkan sebagai malpractice harusdiwaspadai, dan untuk sebagian berkaitan langsung dengan masalah etika itu sendiri.
Penapisan Perkembangan Anak Usia 6 Bulan – 3 Tahun dengan Uji Tapis Perkembangan Denver II Robert Sinto; Salma Oktaria; Sarah Listyo Astuti; Siti Mirdhatillah; Rini Sekartini; Corrie Wawolumaya
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.348-53

Abstract

Latar belakang. Beberapa penelitian di Indonesia mendeteksi gangguan perkembangan pada anak usia pra sekolah12,8%-28,5%. Perkembangan anak berhubungan dengan banyak faktor, satu sama lain saling terkait, sehinggasulit dilihat apakah memang benar ada hubungan antara tiap faktor risiko dengan gangguan perkembangan.Tujuan. Mengetahui hubungan antara beberapa faktor risiko terjadinya gangguan perkembangan padaanak usia prasekolah.Metode. Penelitian cross sectional pada 120 ibu dan anak yang berusia 6 bulan – 3 tahun di RumahSusun Budha Tzu Chi, Jakarta Barat. Pengambilan sampel secara total sampling pada bulan Januari 2007,data primer dari kuesioner dan hasil uji tapis perkembangan dengan metode Denver II.Hasil penelitian. Sebagian besar berusia reproduksi sehat (77,5%), berpendidikan rendah (68,3%),memiliki jumlah anak hidup kurang atau sama dengan dua (67,1%). Sebagian besar anak berjenis kelaminperempuan (51,7%), tidak mendapat ASI eksklusif (72,5%), berat lahir lebih besar dari 2500 gram (90,8%),dan mendapat stimulasi cukup (53,3%). Pada uji tapis perkembangan dengan Denver II didapatkan hasil65,8% normal, 25% keterlambatan, dan 9,2% tidak dapat diuji. Terdapat hubungan yang bermaknaantara kualitas dan kuantitas stimulasi dengan hasil uji tapis perkembangan Denver II (p = 0,033).Kesimpulan. Subjek yang termasuk kategori suspek mengalami gangguan perkembangan pada pemeriksaanuji tapis Denver II 25%. Terdapat hubungan yang bermakna antara kualitas dan kuantitas stimulasi denganhasil uji tapis perkembangan Denver II 

Page 34 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue