cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Pemberian Diet Formula Tepung Ikan Gabus (Ophiocephalus striatus) pada Sindrom Nefrotik Trully Kusumawardhani; M. Mexitalia; JC. Susanto; Lydia Kosnadi
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.251-6

Abstract

Latar belakang. Pemberian diet dengan protein seimbang pada sindrom nefrotikbertujuan untuk meningkatkan kadar albumin serum. Ikan gabus merupakan ikan airtawar yang banyak dijumpai di Indonesia dan memiliki kadar protein lebih tinggidibandingkan ikan lainnya.Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemberiansuplementasi formula tepung ikan gabus terhadap peningkatan kadar albumin serumpasien sindrom nefrotik.Metodologi. Penelitian uji klinik terbuka dilakukan di Bangsal Anak RS Dr. KariadiSemarang, pada 36 anak dengan sindrom nefrotik kelainan minimal, yang terbagi dalamkelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Kelompok perlakuan mendapatkansuplementasi ikan gabus, dengan cara mengganti 25% kebutuhan protein dengan tepungikan gabus. Suplemntasi ikan gabus diberikan setiap hari selama 21 hari, dengan jumlahprotein total yang diberikan sama dengan kelompok kontrol. Indeks masa tubuh (IMT),protein total, albumin dan globulin serum diukur setiap minggu, sedangkan akseptabilitastepung ikan gabus dinilai setiap hari. Analisis statistik menggunakan uji t independent.Hasil. Pada kedua kelompok didapatkan peningkatan IMT, kadar protein total danalbumin serum pada akhir penelitian dibandingkan dengan data awal. Tidak didapatkanperbedaan kadar protein total dan globulin pada akhir penelitian antara kelompokperlakuan dan kelompok kontrol. Selisih kenaikan kadar albumin pada kelompokperlakuan (2,04 ± 1,47 g/dl) lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan kelompokperlakuan (1,47 ± 0,82 g/dl) dengan nilai p = 0,018.Kesimpulan. Pemberian suplementasi tepung ikan gabus selama 21 hari pada pasiensindrom nefrotik kelainan minimal dapat meningkatkan kadar albumin serum.
Karakteristik Kolestasis Intrahepatik dengan Infeksi Saluran Kemih Elisabeth Hutapea; Julfina Bisanto; Damayanti R. Sjarif; Partini P. Trihono
Sari Pediatri Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.1.2008.71-6

Abstract

Latar belakang. Kolestasis intrahepatik (KI) merupakan salah satu kasus pada bayi yang sering ditemukan.Tata laksana seringkali sulit karena KI sulit menentukan etiologi yang sangat beragam dan memerlukanberbagai pemeriksaan penunjang. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu infeksi ekstrahepatiktersering yang menyebabkan KI pada bayi.Tujuan. Mengetahui karakteristik pasien KI dengan ISK.Metode. Desain penelitian adalah deskriptif retrospektif dari data pasien KI yang berobat ke RS CiptoMangunkusumo dalam kurun waktu Januari 2001 hingga Desember 2006.Hasil. Proporsi ISK didapatkan pada 56 (77%) diantara 73 pasien KI berusia 0-12 bulan di RSCM yangdilakukan biakan urin. Kolestasis intrahepatik dengan ISK lebih sering pada laki-laki (79%), cukup bulan(80%), dan usia tersering 0-3 bulan (75%). Tinja umumnya berwarna kuning (41%) atau dempul fluktuatif(52%). Hepatomegali ditemukan pada 37% pasien. Gejala klinis tersering adalah ikterik asimptomatik(71%). Rerata kadar bilirubin direk didapatkan 6,6 mg/dL (1,8-15,8), kadar bilirubin indirek 1,5 mg/dL(0,2-6,9), kadar AST 134 U/L (23-660), kadar ALT 114 U/L (14-588), kadar GGT 159 U/L (14-1039) danalbumin 3,7 g/dL (2,3-5,0). Anemia didapatkan pada 11 (20%) pasien dan leukositosis pada 7 (12%) pasien.Nilai PT memanjang terdapat pada 10 (22%) pasien. Urinalisis pada 75% pasien dalam batas normal. E.coli merupakan kuman penyebab ISK tersering (52%).Kesimpulan. Proporsi ISK pada KI cukup tinggi (77%). Kejadian ISK pada KI terutama ditemukan padabayi laki-laki, cukup bulan dan berusia 0-3 bulan. Tidak ditemukan gejala klinis spesifik pada KI denganISK. Proporsi tinja berwarna dempul, hepatomegali, anemia, nilai PT memanjang, serta rerata kadar ALTdan AST, meningkat dengan bertambah lamanya kolestasis. Umumnya urinalisis dalam batas normal,sehingga pemeriksaan biakan urin harus dilakukan pada setiap pasien KI untuk mencari kemungkinanISK.
Faktor Risiko Refrakter Trombosit pada Anak Jonliberti Purba; Sri Mulatsih; Neti Nurani; Teguh Triyono
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.091 KB) | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.190-4

Abstract

Latar belakang. Transfusi trombosit sering dilakukan pada pasien anak. Namun transfusi trombosit memiliki risiko terhadap pasien dan menambah biaya perawatan, sehingga perlu dievaluasi.Tujuan. Menilai faktor risiko klinis yakni sepsis, splenomegali, DIC, perdarahan berat dan riwayat transfusi trombosit terhadap kejadian refrakter trombosit.Metode. Penelitian kasus kontrol untuk menilai faktor risiko terjadinya refrakter trombosit seperti sepsis, DIC, splenomegali, perdarahan berat, dan riwayat transfusi trombosit.Hasil. Selama periode Agustus 2010 sampai September 2011 terdapat 1403 kasus transfusi dari keseluruhan kasus tersebut ditentukan 86 kejadian refrakter dan 86 nonrefrakter. Analisis bivariat mendapatkan sepsis [OR 5,91 (2,90-12,05), p=0,000], splenomegali [OR 2,82 (1,32-6,04.12), p=0,006] perdarahan berat [OR 8,41(4,19-16,871), p=0.000], DIC [OR 2,96 (6,73-78,35), p=0,000] riwayat transfusi trombosit [OR 5,33(2,78-10,23), p=0,000] meningkatkan risiko refrakter trombosit. Pada analisis multivariat sepsis (OR 2,96 [95%IK; 1,19-7,32], p=0,019), splenomegali (OR 3,94 [IK 95%;2,21-16,00], p=0,000), perdarahan berat (OR 3,53 [IK 95%; 1,40-8,89], p = 0.008), DIC (OR 5,54 [IK 95%; 1,29-22,75], p=0,021) dan riwayat transfusi trombosit(OR 2,84 [IK 95%; 2,74-9,77], p=0,001) merupakan faktor risiko independen terjadinya refrakter pada anak.Kesimpulan. Sepsis, splenomegali, perdarahan berat, DIC dan riwayat transfusi trombosit merupakan faktor risiko terjadinya refrakter trombosit pada pasien anak.
Tinggi Badan dan Usia Tulang Sindrom Nefrotik yang Mendapat Terapi Steroid Jangka Panjang K Dewi Kumara Wati; Ketut Suarta; Soetjiningsih Soetjiningsih
Sari Pediatri Vol 4, No 2 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.2.2002.83-7

Abstract

Pasien SN anak akan sering mendapat steroid yang memiliki efek samping seperti obesitas,penekanan pertumbuhan, hipertensi serta osteoporosis Tujuan Penelitian untuk menilaitinggi badan dan usia tulang pasien sindrom nefrotik yang mendapat terapi steroidjangka panjang dan mengetahui hubungannya dengan dosis kumulatif, lama terapi danjumlah frekuensi. Retrospektif, deskriptif analitik, dengan subjek pasien sindrom nefrotikyang dirawat di Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak RSUP Denpasar antara 1 Januari1998 hingga 31 Juli 2000. Data diambil dari rekam medik sedangkan penentuan tinggibadan dan usia tulang dilakukan saat penelitian. Analisis regresi linier dilakukan untukmelihat hubungan antara tinggi badan dan usia tulang dengan dosis kumulatif, lamaterapi, serta jumlah relaps. Kemaknaan ditentukan dengan p<0.05. Terdapat 16 pasien,dengan usia 7,3 tahun (+3,3), rerata dosis kumulatif steroid 4,1 mg (+2730), lama terapi9,6 bulan (+2,4), rerata tinggi badan terhadap standar 97% (+4,8), D usia tulang + 8,3bulan (+9,7). Tinggi badan tidak mempunyai hubungan dengan dosis steroid kumulatif,lama terapi maupun jumlah relaps (r=0.16, p>0.05). Usia tulang tidak mempunyaihubungan, baik dengan dosis steroid kumulatif, lama terapi, maupun jumlah relaps(r=0.39, p>0.05). Tinggi badan dan usia tulang pasien sindrom nefrotik pada penelitianini tidak mempunyai hubungan dengan dosis kumulatif dan lama terapi steroid, maupunjumlah relaps.
Gawat Darurat Neonatus pada Persalinan Preterm M. Sholeh Kosim
Sari Pediatri Vol 7, No 4 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.32 KB) | DOI: 10.14238/sp7.4.2006.225-31

Abstract

Persalinan preterm atau kurang bulan akan membawa konsekuensi bayi yang lahirmenjadi bayi preterm atau bayi kurang bulan (BKB) . Bila terjadi kegagalan adaptasipada kehidupan ekstra uterin maka akan terjadi gawat neonatus yang dapat berdampakkematian atau kecacatan. Bayi cukup bulan (BKB) mempunyai banyak risiko ataumasalah akibat kurang matangnya fungsi organ antara lain Penyakit membran hialin,asfiksia, perdarahan intrakranial, gangguan neurologik, hipotermia, gangguan metabolikdan kecenderungan untuk terjadinya infeksi neonatal. Sedangkan komplikasi jangkapanjang antara lain akan mengakibatkan terjadinya retardasi mental, gangguan sensori(gangguan pendengaran dan penglihatan, kelainan retina ROP (retinopathy ofprematurity). Upaya yang paling penting adalah mencegah terjadinya persalinan pretermsemaksimal mungkin dengan pemeriksaan antenatal yang baik, meningkatkan statusgizi ibu, mencegah kawin muda dan mencegah serta mengobati infeksi intra uterin.Apabila sudah terjadi ancaman persalinan, maka pemberian steroid antenatal ternyatamenunjukkan bukti medis yang bermakna dalam mematangkan fungsi paru. Apabilabayi terpaksa lahir sebagai BKB, maka manajemen yang cepat tepat dan terpadu harussudah mulai dilaksanakan pada saat antepartum, intrapartum dan postpartum ataupasca natal. Manajemen intrapartum dengan menerapkan pelayananan neonatal esensial,manajemen pasca natal dengan strategi neuroprotektif, pencegahan sepsis neonatorum,pemberian nutrisi adekuat dan perawatan pasca natal lain nya untuk bayi baru lahir.
Enterobiasis pada Anak Siska Mayasari Lubis; Syahril Pasaribu; Chairuddin P Lubis
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.878 KB) | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.314-8

Abstract

Enterobiasis merupakan infeksi yang sering terjadi dalam satu keluarga atau pada orang yang tinggaldalam satu rumah. Infeksi cacing sering diduga pada anak yang menunjukkan rasa gatal di sekitar anuspada waktu malam hari. Anal swab merupakan metode terbaik dalam mendiagnosis enterobiasis.Pemeriksaan periodik disertai dengan pengobatan yang adekuat akan dapat membantu mengurangi kejadianenterobiasis pada anak. Meskipun demikian, masih terdapat kesulitan dalam mengontrol enterobiasis olehkarena mudahnya penularan dan reinfeksi
Pengaruh Pijat Bayi Menggunakan Minyak Mineral atau Minyak Kelapa terhadap Kenaikan Berat Badan pada Nenonatus Aterm S Ferius; Pustika Efar; Shirley Mansur; Hartono Gunardi
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.337 KB) | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.219-24

Abstract

Latar belakang. Pijat bayi dengan atau tanpa minyak telah menjadi bagian dari budaya masyarakat di sebagian besar belahan dunia, termasuk di Indonesia. Namun, manfaat pijat secara tersendiri dan manfaat penggunaan minyak pijat terhadap optimalisasi pertumbuhan neonatus masih menjadi perdebatan.Tujuan. Menilai pengaruh pijat bayi dan penggunaan minyak pijat yang berbeda, yaitu minyak mineral atau minyak kelapa, terhadap kecepatan kenaikan berat badan neonatus aterm.Metode. Studi eksperimental tidak tersamar dilakukan di sebuah Rumah Sakit Bersalin di Jakarta selama 2 bulan dimulai Juli 2006. Neonatus aterm dengan berat lahir 2500-4000 g dialokasikan dalam 1 kelompok pembanding dan 3 kelompok perlakuan pijat. Pemantauan berat badan dilakukan pada hari ketujuh pemijatan.Hasil. Dibandingkan kelompok pembanding, rerata kecepatan kenaikan berat badan lebih tinggi secara bermakna pada setiap kelompok perlakuan pijat kecuali kelompok pijat tanpa minyak. Rerata kecepatan kenaikan berat badan kelompok yang dipijat dengan minyak lebih tinggi dibandingkan rerata kecepatan kenaikan berat badan kelompok yang dipijat tanpa minyak (p<0,05). Kecepatan kenaikan berat badan kelompok yang dipijat dengan minyak kelapa tidak berbeda bermakna dibandingkan rerata kecepatan kenaikan berat badan kelompok yang dipijat dengan minyak mineral.Kesimpulan. Pijat secara tersendiri tidak mempengaruhi kecepatan kenaikan berat badan neonatus. Penggunaan minyak dalam pemijatan memiliki efek positif terhadap kenaikan berat badan. Minyak kelapa memiliki potensi meningkatkan berat badan sama baik dibanding minyak mineral.
Demam pada Pasien Neutropenia Sri Rezeki S Hadinegoro
Sari Pediatri Vol 3, No 4 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.174 KB) | DOI: 10.14238/sp3.4.2002.235-41

Abstract

Demam merupakan salah satu gejala terpenting dari penyakit infeksi. Di lain pihak,demam tanpa disertai gejala klinis lain sulit menentukan penyebab. Oleh sebab itu,pemeriksaan penunjang sangatlah diperlukan. Namun, dalam keadaan neutropenia baikdisebabkan oleh penyakit utamanya yaitu penyakit keganasan ataupun akibat dari obatsitostatik. Beberapa parameter infeksi seperti jumlah leukosit, laju endap darah, kadartransaminase, dan biakan tidak dapat dipakai untuk membantu menegakkan diagnosisinfeksi pada penyakit keganasan tersebut. Atas dasar hal-hal tersebut di atas, maka telahdibuat kesepakatan pemberian antibiotik pada pasien neutropenia yang mengalamidemam. Pemilihan jenis antibiotik berdasarkan pada kemungkinan jenis bakteri penyebabyang tersering. Diharapkan dengan mentaati pedoman tersebut pengobatan demam padaneutropenia lebih terarah dan dapat mencegah lebih banyak resistensi bakteri
Valvuloplasti Balon Transkateter Perkutan pada Neonatus dengan Stenosis Pulmonal Kritis Herlina Dimiati; Mulyadi M. Djer; Maswin Masyhur
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.246-51

Abstract

Valvuloplasti balon transkateter perkutan/percutaneous transcatheter balloon valvuloplasty (PTBV) padastenosis pulmonal adalah tindakan non bedah untuk mengatasi obstruksi jalan keluar dan mengurangibeban sistolik ventrikel kanan akibat stenosis katup pulmonal dengan menggunakan balon. Metode inimerupakan kardiologi intervensi yang telah berkembang pesat menggantikan peran bedah dalam penangananpenyakit jantung bawaan dengan menawarkan beberapa keuntungan, antara lain: berkurangnya waktuperawatan dan biaya perawatan, alasan kosmetik (tidak menimbulkan jaringan parut di dada) serta kuranginvasif. Dilaporkan seorang bayi laki-laki berumur 2 hari, dirawat di Pelayanan Jantung Terpadu RumahSakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) dengan stenosis pulmonal kritis (SPK), defek septum atrium(DSA) sekundum sedang dengan pirau kanan ke kiri dan duktus arteriosus persisten (DAP) sedang yangpanjang. Tindakan percutaneus transcatheter balloon valvuloplasty (PTBV) harus dilakukan secepatnyauntuk menyelamatkan jiwa pasien
Peran Zinkum Terhadap Pertumbuhan Anak Leon Agustian; Tiangsa Sembiring; Ani Ariani
Sari Pediatri Vol 11, No 4 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.4.2009.244-9

Abstract

Zinkum merupakan zat yang esensial dan berperan dalam reaksi yang luas dalam metabolisme tubuh, terdapat di hampir semua sel tubuh terutama tulang dan otot. Zinkum banyak dijumpai pada daging, susu, dan beberapa makanan laut. Angka kecukupan Zn yang dianjurkan 3-5 mg/hari (bayi), 8 -10 mg/hari (1–9 tahun), dan 15 mg/hari ( ≥10 tahun). Dalam proses pertumbuhan, Zn berperan dalam sintesis protein yang dibutuhkan untuk pembentukan jaringan baru, pertumbuhan, dan perkembangan tulang. Anak mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengalami defisiensi. Pemberian suplementasi Zn pada bayi dan anak memberikan efek yang positif terhadap pertumbuhan.

Page 37 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue