cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Perbedaan Kecepatan Kesembuhan Anak Gizi Buruk yang Diberi Modisco Susu Formula dan Modisco Susu Formula Elemental Di RSU dr. Soetomo Surabaya Roedi Irawan
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.711 KB) | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.226-30

Abstract

Latar belakang. Dalam tata laksana kasus gizi buruk yang dirawat di rumah sakitmemerlukan nutrisi yang terbaik dalam mempercepat kesembuhannya terhadap penyakitutama maupun upaya dalam memperbaiki status gizi. Oleh karena itu sampai saat inimasih dicari dan diujicobakan beberapa nutrisi yang tepat dan terbaik pada anak giziburuk.Tujuan. Penelitian ini bertujuan mempelajari perbedaan kecepatan kesembuhan padaanak gizi buruk yang diberi modisco susu formula dan modisco susu formula elemental.Metoda. Pengambilan sampel secara acak buta ganda dengan uji eksperimental. Kriteriainklusi yaitu anak umur 1–3 tahun dengan status gizi buruk dan menderita penyakitinfeksi. Subyek penelitian diambil dari 112 populasi anak gizi buruk yang menderitaberbagai macam penyakit infeksi sebagai penyakit primer.Hasil. Didapatkan 49 anak diantaranya yang masuk kriteria inklusi, kemudian dibagidalam 2 kelompok: 27 anak diberi modisco susu formula dan 22 anak diberi modiscosusu formula elemental. Terdapat perbedaan bermakna antara berat badan sebelum dansesudah penelitian pada kedua kelompok (P<0,05). Perbedaan bermakna pada nilai Zskorberat badan terhadap tinggi badan (BB/TB) antara kelompok yang diberi modiscosusu formula dan modisco susu formula elemental (P<0,05).Kesimpulan. Kelompok yang diberi modisco susu formula elemental menunjukkanpenyembuhan yang lebih cepat dibanding kelompok yang diberi modisco susu formula.
Pengaruh Waktu Penjepitan Tali Pusat Terhadap Kadar Hemoglobin dan Hematokrit Bayi Baru Lahir M Sholeh Kosim; Qodri S; Bambang Sudarmanto
Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.5.2009.331-7

Abstract

Latar belakang. Masa setelah bayi lahir, sebelum plasenta dilahirkan, terjadi peralihan peran oksigenasi dariplasenta ke paru bayi. Selama masa tersebut, oksigenasi bayi melalui plasenta masih berlanjut, darah masihditransfusikan ke bayi (disebut transfusi plasenta). Jika peran oksigenasi plasenta dihentikan mendadakdengan penjepitan tali pusat dini, sementara paru belum berfungsi optimal, maka cerebral blood flowmenjadi tidak adekuat. Kapan penjepitan tali pusat seharusnya dilakukan, masih menjadi kontroversi danperdebatan lebih dari satu abad, namun mana yang lebih baik bagi bayi, belum mendapatkan jawabanyang memuaskan.Tujuan. Membuktikan pengaruh waktu penjepitan tali pusat setelah bayi lahir terhadap kadar hemoglobin(Hb) dan hematokrit (Ht) bayi baru lahir.Metode. Penelitian dengan posttest-only control group design, menganalisis pengaruh waktu penjepitan talipusat 45 detik (penjepitan lanjut) setelah bayi lahir terhadap kadar Hb dan Ht bayi baru lahir dibandingkandengan 15 detik (penjepitan dini). Subjek adalah 36 bayi baru lahir (19 subjek dilakukan penjepitan dini),lahir spontan di RSUP Dr. Kariadi Semarang dan rumah Bidan praktek swasta, antara Agustus 2007 -Februari 2008. Uji beda rerata kedua kelompok menggunakan independent t-test. Uji multivariat digunakanuji regresi logistik.Hasil. Kadar Hb subjek kelompok penjepitan dini (13,4-18,4)g% dan lanjut (14,5-20,1)g%. Kadar Ht bayipenjepitan 15 detik (37,6-54,7)% dan penjepitan 45 detik antara (41,6-60,6)%. Pada kelompok penjepitan15 dan 45 detik terdapat perbedaan bermakna rerata Hb subjek (16,30g±1,36) dan (17,34±1,67)g% dan Ht(47,08±4.54)g% dan (51,34±6,07)g% dengan angka signifikansi berturut-turut p=0,048 dan p=0,022.Kesimpulan. Rerata kadar Hb dan Ht kelompok penjepitan tali pusat 45 detik lebih tinggi (secara statistikbermakna) dibandingkan kelompok penjepitan 15 detik.
Penyakit Kawasaki Made Kardana; Ida Bagus Agung Winaya
Sari Pediatri Vol 3, No 1 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.009 KB) | DOI: 10.14238/sp3.1.2001.19-23

Abstract

Penyakit Kawasaki adalah penyakit akibat vaskulitis akut menyeluruh. Sampai saat ini penyebabnya secara pasti belum diketahui, diduga karena infeksi, toksin atau kelainan imunoregulator. Penyakit ini tersebar luas di seluruh dunia, 80% menyerang anak di bawah usia 5 tahun. Diagnosis ditegakkan apabila terdapat panas lebih dari 5 hari, ditambah 4 dari 5 gejala berikut yaitu injeksi konjungtiva bilateral, mukosa mulut dan faring kemerahan atau pecah-pecah, edema dan atau eritema pada ekstremitas, ruam kulit, limfadenopati servikal yang tidak dapat dijelaskan oleh penyakit lain yang penyebabnya diketahui. Dua puluh sampai 25% dapat berkembang menjadi aneurisma arteri koronaria. Pengobatan aspirin dosis tinggi dan gamma globulin bertujuan untuk mengurangi proses inflamasi pada miokardium dan dinding arteri koronaria dan aspirin dosis rendah untuk menghambat agregasi trombosit. Pembedahan dilakukan apabila gejalanya berkembang menjadi angina dan terdapat bukti obstruksi satu atau  lebih arteri koronaria mayor. Prognosis tergantung dari ada tidaknya kelainan arteri koronaria dan kematian sebagian besar akibat infark miokardium.
Gambaran Klinis Kriptorkismus di Poliklinik Endokrinologi Anak RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Tahun 1998 - 2002 Wayan Bikin Suryawan; Jose RL Batubara; Bambang Tridjaja; Aman B Pulungan
Sari Pediatri Vol 5, No 3 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.799 KB) | DOI: 10.14238/sp5.3.2003.111-6

Abstract

Latar belakang: kriptorkismus merupakan kelainan organ seksual lelaki yang seringditemukan. Sampai berapa tahun terapi hormonal dan pembedahan dilakukan masihkontroversial.Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui umur saat berobat pertama kali, asalrujukan, lokasi testis, peran perabaan, penyakit penyerta, dan peran terapi hormonalpada kriptorkismus.Cara kerja: Penelitian dilakukan secara retrospektif dari semua pasien baru yang didiagnosiskriptorkismus di Poliklinik Endokrinologi Anak RSCM selama 5 tahun (Januari 1998 –Desember 2002).Hasil: diteliti 63 pasien baru, 58 pasien diantaranya dengan kriptorkismus murni, dan 5 pasientestis retraktil. Didapat 22,4% kriptorkismus bilateral, 77,6% kriptorkismus unilateral,kriptorkismus kanan dan kiri jumlahnya hampir sama. Pasien yang dirujuk oleh spesialis anak33,3%. Umur pertama datang di poliklinik 9 bulan-2 tahun 24,1%, dan >2 tahun 56,9%.Pada perabaan, lokasi testis paling banyak tak teraba 74,1%, setelah dikonfirmasi dengan USG75% hasilnya sama dengan perabaan. Kriptorkismus disertai skrotum bifidum dan hipospadia12,6%, mikropenis 11,1%, sindrom Prader Willi, sindrom Noonan, sindrom Kallmann masingmasing1,6% dan merupakan penyakit dasar kriptorkismus. Keberhasilan Terapi hormonal65% ( inguinal 77,8% dan pada testis tak teraba 50%) , terapi dimulai sejak umur 9 bulan.Kesimpulan: sebagian besar pasien datang pada umur >2 tahun, sedangkan terapihormonal dimulai pada umur 9 bulan dengan keberasilan 65%. Pemeriksaan fisik samaakurat dibandingkan dengan pemeriksaan USG. Terapi hormonal pada kriptorkismusumur 6 bulan - 2 tahun masih efektif sebelum terapi bedah dilakukan.
Pemantauan pH Esofagus pada Bayi Tidak Mempengaruhi Aktivitas dan Pola Makan, Namun Mengkhawatirkan Persepsi Orangtua Badriul Hegar; Setia Budi; Muzal Kadim; Agus Firmansyah
Sari Pediatri Vol 8, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.4.2007.305-9

Abstract

Latar belakang. Pemantauan pH esofagus (pH-metri) merupakan pemeriksaan bakuuntuk mendiagnosis refluks gastroesofagus (RGE) pada bayi. Hasil pH-metri dipengaruhioleh pola makan dan aktivitas bayi, sedangkan pengaruh prosedur pH-metri itu sendiriterhadap pola makan dan aktivitas bayi belum banyak dilaporkan.Tujuan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah prosedur pH-metrimempengaruhi pola makan dan aktivitas sehari-hari serta bagaimana persepsi orangtuaterhadap prosedur pH-metri.Metoda. Tiga puluh bayi berumur 6-12 bulan dilakukan pH-metri. Orangtua diberikuesioner berisi pertanyaan yang berhubungan dengan pola makan dan aktivitas anakselama pemantauan berlangsung serta persepsi orangtua terhadap prosedur pH-metri.Untuk analisis statistik, setiap variabel dikelompokkan menjadi ’tidak berubah’ dan’berubah’ untuk pola makan dan aktivitas anak, serta ’positif’ dan ’negatif’ untuk persepsiorangtua. Setiap variabel dianalisis berdasarkan hasil pH-metri (’normal’ atau abnormal’).Hasil. Perubahan pola makan terdapat pada 17% bayi sedangkan perubahan aktivitaspada 20% bayi. Kedua hasil tersebut tidak berbeda baik pada hasil pH-metri normalmaupun hasil pH-metri abnormal. Dua puluh tujuh persen orangtua mempunyai persepsipositif terhadap prosedur pH-metri.Kesimpulan. Prosedur pH-metri tidak menyebabkan perubahan pola makan danaktivitas bayi, walaupun demikian hanya sekitar 27% orangtua yang menganggapprosedur pH-metri sebagai prosedur yang tidak mengkhawatirkan.
Pertumbuhan Bayi Berat Lahir Rendah yang Memperoleh Susu “Post Discharge Formula” Modifikasi Dibandingkan dengan Susu “Post Discharge Formula” Komersial Ni Ketut Prami Rukmini; Aryono Hendarto; Rinawati Rohsiswatmo; Sukman Tulus Putra
Sari Pediatri Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.95 KB) | DOI: 10.14238/sp10.2.2008.89-93

Abstract

Latar belakang. Bayi berat lahir rendah (BBLR) memiliki pertumbuhan berat badan (BB), panjang badan (PB) dan lingkar kepala (LK) yang terlambat pada saat keluar dari rumah sakit, sehingga memerlukan nutrisi yang khusus.Tujuan. Mengetahui hubungan antara pemberian susu PDF modifikasi dan susu PDF komersial, dengan peningkatan BB, PB dan LK pada saat usia satu dan dua bulan.Metode. Penelitian ini bersifat studi uji klinis dengan randomisasi tanpa penyamaran.Hasil. Berat badan, panjang badan dan lingkar kepala bulan pertama dan kedua pada BBLR yang memperoleh susu PDF modifikasi tidak berbeda bila dibandingkan dengan yang memperoleh susu PDF komersial. Apabila diperhatikan secara seksama, tampak adanya kecenderungan peningkatan PB dan LK pada bulan pertama dan peningkatan BB, PB, LK yang lebih baik pada bayi yang memperoleh susu PDF modifikasi dibandingkan dengan susu PDF komersial. Pada penelitian kami tidak ada timbul reaksi simpang yang berarti.Kesimpulan. Pemberian susu PDF modifikasi dapat dijadikan alternatif untuk BBLR yang memerlukan susu PDF.
Tata laksana Bayi dari Ibu pengidap HIV/AIDS Rulina Suradi
Sari Pediatri Vol 4, No 4 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.454 KB) | DOI: 10.14238/sp4.4.2003.180-5

Abstract

Sejak diidentifikasi kasus AIDS pada tahun 1981 di Los Angeles, kasus AIDS melandadunia. Di Asia Tenggara jumlah kasus yang dilaporkan pada tahun 1999 adalah 134.671kasus. Di Indonesia secara kumulatif tercatat dari September 1987 sampai denganDesember 2001 terdapat 1904 kasus HIV positif dan 615 kasus AIDS. Transmisi vertikaldari ibu ke bayi dapat secara transmisi intra-uterin, intrapartum dan melalui ASI. Denganberbagai cara misalnya persalinan melalui bedah kaisar dan penggunaan obat obatantirertroviral terjadi pengurangan transmisi vertikal secara intra-uterin dan intrapartum,tetapi transmisi melalui ASI tidak dapat dicegah. Tata laksana bayi dari ibu pengidapHIV/AIDS adalah suportif, meliputi pemberian imunisasi rutin, pemantauanpertumbuhan dan pemeriksaan darah. Bila timbul gejala segera obati dengan obatantiretroviral.
Hubungan Asupan Zat Gizi dan Indeks Masa Tubuh dengan Hiperlipidemia pada Murid SLTP yang Obesitas di Yogyakarta Siti Nurul Hidayati; Hamam Hadi; W. Lestariana
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.185 KB) | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.25-31

Abstract

Latar belakang. Obesitas pada anak dan remaja meningkatkan risiko penyakitdegeneratif dan kardiovaskular. Namun belum jelas apakah remaja yang obesitas berisikomengalami hiperlipidemiaTujuan. Menilai hubungan antara indeks masa tubuh (IMT), asupan karbohidrat danlemak dengan hiperlipidemia pada murid SLTP yang obesitas.Metoda. Penelitian cross sectional di Yogyakarta. Sampel 109 murid SLTP dengan IMT =persentile-95 kurve IMT dari NCHS-CDC, dipilih secara acak dari murid SLTP yang obesitas,yang didapat pada survei obesitas secara cross sectional. Tinggi badan diukur denganmicrotoise dan berat badan diukur dengan timbangan digital. Data asupan karbohidrat danlemak diperoleh dari wawancara menggunakan FFQ periode 3 bulan terakhir.Hasil. Prevalensi obesitas murid SLTP 4,9%, hiperkolesterolemia 88,1% danhipertrigliseridemia 100%. Asupan lemak berhubungan dengan kejadian hiperkolesterolemia(OR=6,48; KI 95%:2,80-15,02) dan hipertrigliseridemia (OR=5,31; KI95%:2,34-12,07). Asupan karbohidrat juga berhubungan dengan kejadianhiperkolesterolemia (OR=5,43; KI 95%:1,85-15,92) dan hipertrigliseridemia (OR=3,71:KI 95%:1,34-10,27). IMT tidak berhubungan dengan kejadian hiperlipidemia.Kesimpulan. Peningkatan asupan lemak dan karbohidrat berhubungan dengan kejadianhiperlipidemia pada anak yang obesitas.
Faktor Risiko Diare Persisten pada Pasien yang Dirawat di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta IGN Sanjaya Putra; Agus Firmansyah; Badriul Hegar; Aswitha D Boediarso; Muzal Kadim; Fatima Safira Alatas
Sari Pediatri Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.1.2008.42-46

Abstract

Latar belakang. Program pengobatan rehidrasi oral telah berhasil mengontrol kematian akibat diare akut.Sekitar 3%-20% kasus diare akut pada anak akan berkembang menjadi diare persisten. Kematian akibatdiare persisten cukup tinggi ± 65% dari seluruh kematian akibat diare.Tujuan. Menentukan faktor risiko terjadinya diare persisten dan mengukur besar pengaruh tiap faktorrisiko tersebut terhadap terjadinya diare persisten pada anak yang dirawat di ruang rawat inap bagian anakRS Dr. Cipto Mangukusumo Jakarta.Metode. Rancang penelitian retrospektif, kasus-kontrol. Data penelitian diperoleh dari catatan medikpasien, semua pasien (54 pasien) diare persisten yang dirawat mulai 1 Januari 2004-30 Juni 2007 yangmemenuhi kriteria inklusi dipilih sebagai kasus dan 108 pasien diare akut dipilih secara consecutive samplingsebagai kontrol.Hasil. Pada analisis univariat didapatkan perbedaan bermakna antara 54 pasien dengan diare persisten(kasus) dan 108 pasien dengan diare akut (kontrol) dalam hubungan melanjutnya diare akut menjadi diarepersisten pada faktor risiko: pemberian antibiotik (p=0,042, RO :1,984, IK : 0,021-3,854), anemia (p=0,005,RO :2,568, IK : 1,313-5,024 ) dan malnutrisi (p= 0,001, RO : 10,974, IK :3,442-34,814). Pada regresilogistik multivariat, dua faktor risiko memperlihatkan hubungan yang bermakna yaitu anemia (p=0,025,RO :2,374, IK : 1,117-5,047) dan malnutrisi (p= 0,001, RO : 12,621, IK :3,580-44,814).Kesimpulan. Anemia dan malnutrisi pada diare akut merupakan faktor risiko untuk melanjutnya diare akutmenjadi diare persisten. 
Korelasi Kadar Hemoglobin dengan Kadar Vascular Endothelial Growth Factor Plasma pada Tetralogi Fallot Vidi Permatagalih; Sri Endah Rahayuningsih; Nanan Sekarwana
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.663 KB) | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.156-60

Abstract

Latar belakang. Vascular endothelial growth factor-A (VEGF-A) diketahui merupakan penanda hipoksia jaringan yang berperan dalam angiogenesis. Anak dengan penyakit jantung bawaan sianotik seperti Tetralogi Fallot (TF) mengalami hipoksia jaringan dengan komplikasi timbulnya pembuluh darah baru kolateral, polisitemia hipoksik, dan anemia relatif.Tujuan. Menentukan korelasi kadar VEGF plasma dengan kadar Hb.Metode. Penelitian analisis cross-sectional yang mengambil data secara konsekutif anak TF yang berobat ke poli rawat jalan dan rawat inap Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Kekuatan korelasi kadar Hb dengan VEGF ditentukan dengan uji korelasi Spearman. Kemaknaan dihitung berdasarkan nilai p<0,05. Analisis data dilakukan dengan program SPSS for windows versi 17.0.Hasil. Duapuluh pasien anak TF yang menjadi subjek penelitian, terdiri atas 9 anak laki-laki dan 11 anak perempuan. Didapatkan korelasi negatif bermakna berkekuatan sedang antara kadar Hb dan kadar VEGF (r=-0,503; p=0,024). Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar VEGF plasma menurut jenis kelamin dan status gizi (p=0,412 dan 0,948), tetapi terdapat perbedaan bermakna kadar VEGF plasma menurut kelompok usia (p=0,048).Kesimpulan. Terdapat korelasi negatif antara kadar Hb dan kadar VEGF plasma. Kadar VEGF plasma dapat diperkirakan dari kadar Hb, apabila kadar Hb semakin rendah, maka kadar VEGF meningkat.

Page 39 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue