cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Leptospirosis Bobby Setadi; Andi Setiawan; Daniel Effendi; Sri Rezeki S Hadinegoro
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.163-7

Abstract

Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh infeksi dari spesiesLeptospira, famili Leprospiraceae ordo Spirochaetales yang patogen, bermanifestasi sebagaidemam akut. Infeksi pada manusia pada umumnya disebabkan oleh roden (misalnyatikus), kadang-kadang babi dan anjing. Organisme ini hidup di air sehingga air merupakansarana penular pada munasia. Sebagian besar kasus leptospirosis akan sembuh sempurna,walaupun sekitar sepuluh persen diantaranya dapat bersifat fatal. Mortalitas meningkatapabila didapatkan gejala ikterus, gagal ginjal, dan perdarahan. Diagnosis ditegakkanberdasarkan gejala klinis, diagnosis pasti apabila ditemukan organisme dalam darah atauurin pada pemeriksaan dark-groun microscope, biakan darah dan urin, uji aglutinasi,serta imunoglobuln.. Antibiotik golongan penisilin dapat diberikan untuk pengobatanleptospirosis. Perawatan diperlukan apabila terdapat komplikasi.
Peran Eritropoietin pada Anemia Akibat Keganasan pada Anak Reni Suryanty; Nelly Rosdiana; Bidasari Lubis
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.34-8

Abstract

Anemi relatif sering terjadi pada kasus keganasan hematologi atau tumor padat, namunpenyebab anemia belum jelas diketahui. Eritropoietin merupakan suatu glikoproteinhormon yang dapat merangsang proliferasi dan diferensiasi sel-sel progenitor darah merah.Salah satu penanganan anemia yaitu pemberian transfusi yang mempunyai banyak risikodiantaranya risiko transmisi infeksi, hemolitik, non- hemolitik, penumpukan besi danpenekanan produksi eritropoietin endogen. Dipertimbangkan pemberian eritropoietineksogen (human recombinan erythropoietin) yang identik dengan eritropoietin endogenpada keganasan terutama yang mendapat kemoterapi bila Hb £ 10 g/dL dengan dosis150 U/kg BB 3x seminggu selama 4 minggu dan dosis dapat ditingkatkan hingga 300U/kg BB dan diberikan selama 4 - 8 minggu. Diperlukan pemeriksaan secara periodikterhadap kadar besi, TIBC, (total iron binding capacity) saturasi transferin dan feritin.Rhu-EPO dipasaran yaitu epoetin alfa dan beta. Efek samping Rhu-EPO antara lainhipertensi, nyeri kepala, nyeri tulang, mual, edem, lemah dan diare. Dilaporkan padaepoetin beta relatif jarang terjadi hipertensi dan dilaporkan tentang terjadinya kasuspure red cell aplasia pada pemberian epoetin alfa (eprex).
Pengaruh Kortikosteroid Inhalasi terhadap Pertumbuhan IB Mahendra; Soetjiningsih Soetjiningsih; Bikin Suryawan
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.196-200

Abstract

Pertumbuhan normal dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk faktor endokrin, lingkungan, nutrisi danpengaruh genetik. Gangguan pada pola pertumbuhan merupakan indikator penting adanya gangguanmedis yang serius. Gangguan pertumbuhan akibat penggunaan kortikosteroid inhalasi dalam waktu yanglama telah menjadi perdebatan para praktisi. Meskipun pengaruh kortikosteroid terhadap penghambatanpertumbuhan telah lama diketahui namun mekanismenya tidak sepenuhnya diketahui. Kortikosteroidinhalasi dalam menekan pertumbuhan tergantung besar dosis dan lamanya pengobatan serta frekuensipemberiannya
Karakteristik Klinis Pasien Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) dengan Fusi Gena TELAML1, BCR-ABL, dan E2A-PBX1 Sri Mulatsih; Sutaryo Sutaryo; Sunarto Sunarto; Allen Yeoh; Yeow Liang; Sofia Mubarika
Sari Pediatri Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.2.2009.118-123

Abstract

Latar belakang. Leukemia limfoblastik akut (LLA) pada anak merupakan penyakit yang heterogen. Berdasarkangambaran selular dan molekular, LLA mempunyai beberapa subtipe yang berbeda. Fusi gena palingsering pada LLA anak adalah TEL-AML1, BCR-ABL, E2A-PBX1, dan MLL-AF4.Tujuan. Mengetahui profil klinis pasien LLA dengan fusi gena TEL-AML1, BCR-ABL, E2A-PBX1.Metode. Studi cross sectional, untuk menganalisis profil fusi gena digunakan metode nested reverse-transcriptasepolymerase chain reaction (RT-PCR).Hasil.Tidak ditemukan perbedaan dalam hal karakteristik klinis seperti jenis kelamin, usia, jumlah leukosit,kelompok risiko, dan tipe LLA diantara pasien LLA dengan fusi gena TEL-AML1 dan E2A-PBX1 (p>0,05).Fusi gena BCR-ABL tipe LLA lebih banyak terjadi pada kelompok pasien dengan leukosit awal >50.000/uLdibanding kelompok yang mempunyai leukosit awal <50.000/uL (p=0,031). Tidak ada perbedaan dalam haljenis kelamin, usia, kelompok risiko dan tipe LLA diantara pasien LLA dengan gena BCR-ABL (p>0,05).Kesimpulan. Karakteristik klinis pasien dengan fusi gena TEL-AML1, BCR-ABL, E2A-PBX1 adalah sama,kecuali pada kelompok pasien dengan jumlah leukosit >50.000/uL lebih banyak terjadi pada pasien denganfusi gena BCR-ABL.
Cacing yang Ditularkan Melalui Tanah pada Anak Sekolah Dasar di Sekitar Klinik Sanitasi di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat Sri S Margono; Is Suhariah Ismid; Widodo Sukardi
Sari Pediatri Vol 2, No 4 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.645 KB) | DOI: 10.14238/sp2.4.2001.188-92

Abstract

Klinik sanitasi di suatu puskesmas di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, memberikanpelayanan pasien yang menderita penyakit dan yang mempunyai masalah sanitasilingkungan. Adanya klinik sanitasi tersebut tidak dapat mencegah tingginya prevalensiinfeksi cacing yang ditularkan melalui tanah pada dua sekolah yang berjarak dekat denganpuskesmas tersebut. Di antara 175 dan 113 anak masing-masing di sekolah dasar A danB. ditemukan infeksi cacing Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura berturut-turutsebanyak 96,6% dan 79,4% di sekolah A, sementara di sekolah B 73,5% dan 69,0%.Untuk mengetahui intensitas infeksi dilakukan hitung telur per gram (TPG) yangmendapatkan angka-angka 3884 dan 2102 untuk Askariasis berturut-turut di sekolah Adan B, sementara untuk Trikhuriasis angka TPG adalah 436 dan 205. Sampel tanahyang dikumpulkan di sekitar rumah memperlihatkan telur Akcaris positif pada 8 (17,0%)di antara 47 rumah murid sekolah A dan 11 (22,9%) di antara 48 rumah murid sekolahB. Kuesioner yang dibagikan kepada keluarga yang tinggal di 95 rumah tersebutmemperlihatkan bahwa fasilitas untuk mendukung kesehatan lingkungan tidak memadaiseperti kakus, tempat sampah, dan air bersih. Tercatat adanya higiene perorangan yangbertaraf rendah.
Podosit dan Slit Diafragma serta Perannya Sudung O. Pardede
Sari Pediatri Vol 6, No 3 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.517 KB) | DOI: 10.14238/sp6.3.2004.119-24

Abstract

Podosit dan slit diafragma adalah bagian dari dinding kapiler glomerulus ginjal yangmempunyai peran yang sangat penting dalam filtrasi glomerulus. Berbagai molekulterdapat pada podosit dan slit diafragma yang berperan penting dalam integritas prosesfiltrasi. Foot processes podosit berinteraksi dengan slit diafragma melalui interaksi antaranefrin dan Neph1 dalam slit diafragma dengan molekul adapter intraselular padamembran foot processes. Molekul adapter intraselular dalam membran foot processespodosit antara lain podosin, CD2AP, ZO-1, a-aktinin-4, dan katenin. Slit diafragmamengandung nefrin, Neph1 dan protein lain seperti P-kaderin dan FAT. Nefrin danNeph1 berinteraksi satu dengan yang lain menjadi tulang punggung slit diafragma.Dalam keadaan normal, foot processes dan slit diafragma membentuk sawar filtrasisehingga hanya molekul tertentu saja yang dapat lolos ke ruang urin. Kelainan pada footprocesses dan slit diafragma dapat menyebabkan proteinuria. Proteinuria pada penyakitginjal proteinurik dapat terjadi karena berkurangnya muatan anion MBG (membranbasalis glomerulus) yang akan meningkatkan pasase protein plasma yang bermuatannegatif melalui filter. Lepasnya foot processes podosit dari membran basalis glomerulusakan meningkatkan aliran plasma melewati membran basalis glomerulus yang gundul,dan kelainan fungsional dan struktural pada komponen slit diafragma menyebabkankebocoran protein melalui slit pore podosit.
Dampak Kardiotoksik Obat Kemoterapi Golongan Antrasiklin Irwan Harpen Siahaan; Tina Christina Tobing; Nelly Rosdiana; Bidasari Lubis
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.2.2007.151-6

Abstract

Pengobatan kanker semakin pesat beberapa tahun terakhir dengan pilihan kombinasi obat kemoterapi,radioterapi dan pembedahan. Salah satu obat kemoterapi yaitu golongan antrasiklin, tetapi obat inimempunyai efek samping terhadap jantung yang tergantung dosis kumulatif pemakaian obat. Efek terhadapjantung dibagi menjadi efek cepat dan lambat. Efek cepat terjadi pada <1% kasus kanker. Sering ditemukanadalah efek lambat, dan seringkali subklinis. Mekanisme kerja obat diduga melalui proses ikatan denganDNA. Setelah pemberian obat intravena kadar obat dalam plasma akan menurun cepat dan bertahan lamadi jaringan, sehingga diperlukan pemantauan seumur hidup. Prosedur diagnostik untuk mendeteksi efekini adalah EKG, ekokardiografi, angiografi dan biopsi endomiokardium. Pencegahan yang dapat dilakukanyaitu penggunaan analog obat, membatasi jumlah obat yang masuk, mencari alternatif cara pemberianobat, dan pemberian obat yang disertai dengan obat yang melindungi jantung. Tantangan pemberian obatgolongan antrasiklin adalah bagaimana mengurangi efek toksik terhadap jantung sementara efek obatterhadap kanker tidak berkurang.
Faktor Genetik Sebagai Risiko Kejang Demam Berulang Tjipta Bahtera; Susilo Wibowo; AG Soemantri Hardjojuwono
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.235 KB) | DOI: 10.14238/sp10.6.2009.378-84

Abstract

Latar belakang. Sepertiga pasien kejang demam pertama mengalami bangkitan ulang kejang demam. Riwayat keluarga adalah pernah kejang demam dan mutasi gen merupakan faktor risiko bangkitan kejang demam berulang.Tujuan. Membuktikan faktor genetik sebagai risiko terjadi kejang demam berulang.Metode. Rancangan penelitian kohort prospektif. Subjek pasien kejang demam pertama, selama 18 bulan diamati terjadi bangkitan ulang kejang demam. Amplifikasi DNA dengan teknik PCR dan sequencing untuk melihat mutasi gen pada kanal ion Natrium. Pengujian hipotesis memakai regresi logistik, dan uji korelasi memakai Rank Sperman corelation.Hasil. Sepertiga pasien kejang demam pertama mengalami kejang demam berulang. Mutasi gen kanal ion Na+ SCNIA 19(61,3%) pasien, terdapat pergantian Argenin (R) oleh asam glutamat (Glu) (Arg1627Glu) (mutasi missense) dan kodon stop (TGA).(mutasi nonsense), sedangkan pada SCNIB 12(38,7%) pasien, terdapat mutasi heterozigot, yaitu kodon 130:GAA /AAA, kodon 96:CGG/TGG, kodon 138:GTC/ATC, kodon 95:AGC /ATT dan kodon:154 GCT/AAT. Ada hubungan mutasi gen dengan umur, suhu dan riwayat keluarga pernah kejang demam, saat kejang pertama. (koefisien korelasi berturut-turut –0,359; -0,339; 0,278). Riwayat keluarga pernah kejang demam dan mutasi gen berisiko 2-3 kali terjadi kejang demam berulang (RR 2.9, p<0,05 dan RR 3.556 p>0,05)Kesimpulan. Sepertiga pasien kejang demam pertama mengalami kejang demam berulang. Riwayat keluarga pernah kejang demam dan mutasi gen merupakan faktor risiko kejang demam berulang. Terdapat hubungan mutasi gen dengan umur, suhu dan riwayat keluarga pernah kejang demam, saat kejang pertama
Aspek Kognitif Dan Psikososial pada Anak Dengan Palsi Serebral Oka Lely AA; Soetjiningsih Soetjiningsih
Sari Pediatri Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.2.2000.109-12

Abstract

Palsi serebral merupakan kelainan motorik yang banyak dijumpai pada anak. Kelainanini disebabkan oleh kerusakan otak yang menetap, tidak progresif, terjadi pada usia dinidan merintangi perkembangan otak normal. Pusat motorik di otak terletak di bagianposterior dari lobus frontalis dan di sebelah anteriornya terletak pusat menyimpan ingatanbaru. Lobus temporal, parietal dan oksipital juga sangat berpengaruh terhadap fungsimotorik yang berat seperti palsi serebral, maka kerusakan otak yang terjadi cukup luasatau penyebar. Gangguan kompetensi kognitif (intelegensi) terjadi primer akibatkerusakan otak pada palsi serebral, juga sekunder akibat gangguan motorik serta kesulitananak mengeksplorasi lingkungan yang diperlukan dalam perkembangan kognitif. Pasienpalsi serebral yang dilatar belakangi kelahiran prematur, BBLR dan kesulitan perawatanlainnya akan menimbulkan hambatan interaksi visual, auditif dan takut terhadaplingkungannya, sehingga akan terjadi selain cacat fisik juga cacat sosial. Pada usiaprasekolah anak palsi serebral mulai merasakan bahwa diri mereka berbeda dengan anaklain. Hal ini menimbulkan rasa takut, tidak nyaman dan ingin lepas dari lingkunganorang tua. Pada usia sekolah akan timbul rasa cemas akan kecacatannya, depresi danpada usia remaja masalah psikososial timbul akibat kemunduran fisik, serta keterlambatanaktivitas. Pada usia dewasa, secara ekonomi sering tergantung pada orang lain dansepertinya mereka mengalami isolasi sosial.
Infeksi HIV pada bayi Boris Januar; Sjawitri P Siregar
Sari Pediatri Vol 6, No 1 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.1.2004.23-31

Abstract

Seorang bayi berusia 5 bulan didiagnosis infeksi HIV dari ibu dengan HIV positif.Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan PCR RNA HIV satu kali, dan ditunjangdengan pemeriksaan klinis serta pemeriksaan serologi terhadap HIV. Seharusnya untukmenegakkan diagnosis infeksi HIV, kita harus melakukan pemeriksaan virologi HIVpaling sedikit dua kali dalam waktu yang berbeda. Sangat disayangkan, tidak ada obatantiretroviral yang dapat diberikan untuk mencegah transmisi penularan HIV dari ibuke bayi baik yang diberikan sebelum maupun sesudah bayi lahir. Hal ini karena tidakadanya informasi dari orang tua. Bayi dengan infeksi HIV harus segera mendapatimunisasi dengan vaksin inactivacted, sedang pemberian vaksin hidup tidak dapatdiberikan sampai diketahui status imunologis bayi tersebut. Pengobatan antiretroviralkombinasi harus diberikan segera pada bayi di bawah 12 bulan begitu diagnosisditegakkan. Konseling keluarga dan kunjungan berkala penting dilakukan untukmemantau progesifitas penyakit, status imunologis, dan ketaatan pengobatan, hal iniuntuk mencegah resisten terhadap pengobatan.

Page 38 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue