cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Hubungan Berat Molekul dengan Ukuran Molekul Koloid yang Lazim Digunakan dalam Resusitasi Sindrom Syok Dengue Kiki M.K. Samsi; Evelyn Phangkawira; Steve J. Yang
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.807 KB) | DOI: 10.14238/sp10.6.2009.385-91

Abstract

Latar belakang. Resusitasi cairan merupakan langkah penting dalam tata laksana sindrom syok dengue, namun sampai saat ini belum ada keseragaman jenis cairan yang digunakan. Pada umumnya klinisi di Indonesia memilih koloid dengan berat molekul (BM) lebih dari 100kDa untuk mendapatkan "efek sumbatan" (sealing effect) dengan asumsi bahwa semakin berat suatu molekul maka semakin besar ukuran molekul. Dalam uji klinis, perbedaan berat molekul koloid tidak menimbulkan perbedaan outcome sehingga menimbulkan pertanyaan apakah BM mencerminkan ukuran molekul.Tujuan. Menilai apakah ukuran suatu molekul dapat ditentukan hanya dengan BMMetode. Membandingkan bentuk dan ukuran antara empat jenis koloid dengan BM berbeda, dengan menggunakan alat dynamic light scattering.Hasil: Urutan koloid dari BM terberat berturut-turut yaitu HES 200 kDa, HES 40 kDa, dextran 40kDa, dan gelatin 30 kDa. Berdasarkan koefisien difusi, didapatkan ukuran terbesar molekul koloid adalah gelatin 30 kDa (lebih besar 100 x HES 200 kDa)Kesimpulan. Berat molekul tidak berhubungan langsung dengan ukuran molekul. Untuk mendapatkan "efek sumbatan" (sealing effect) perlu memperhitungkan bentuk dan ukuran molekul.
Peran Nitrogen Oksida pada Infeksi Eka Gunawijaya; Arhana BNP
Sari Pediatri Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.55 KB) | DOI: 10.14238/sp2.2.2000.113-9

Abstract

Nitrogen oksida (NO) merupakan molekul kimia reaktif, disintesis dari L-Arginin denganbantuan NO synthase (NOS) dan ko-faktor. Aktifitas biologis NO terbatas dekat tempatbiosintesisnya, karena waktu paruh yang singkat. Nitrogen oksida menyebabkan relaksasiotot polos, menghambat agregasi dan adhesi trombosit, serta menghambat proliferasisel. Otot polos yang dipengaruhi ialah otot polos vaskular, traktus respiratorius,gastrointestinal, dan uterus. Relaksasi otot polos vaskular terjadi setelah sintesis sel endotelvaskular, sedangkan yang non vaskular melalui perannya sebagai neurotransmiter nonadrenergik non kolinergik.Dalam proses imunologis, NO dihasilkan oleh sel yang terpapar infeksi. Meliputi selmakrofag, sel neutrofil, sel Kupffer, sel hepatosit, sel astrosit dan mikroglial, sel kondrosit,sel otot polos vaskular, dan sel otot jantung. Pada keadaan infeksi Nitrogen oksidadisintesis dalam jumlah besar. Nitrogen oksida yang dihasilkan bersifat sitotoksik terhadapsel target, mikroorganisme patogen, dan juga pada sel tubuh normal. Inhibitor enzimNOS dan guanilat siklase bisa mengatasi sepsis, tetapi harus diberikan dini sebelumterjadi syok septik berkepanjangan. Inhibitor tersebut meliputi: deksametason, L-NAME,metilin blue, yomogin, aminoguanidin, econazol, dan indometasin. Nitrogen oksida jugaberperan menimbulkan kerusakan jaringan dan organ akibat terapi reoksigenasi padasyok septik yang mengalami hipoksia.
Infeksi Bakteri Gram Negatif di ICU Anak: epidemiologi, manajemen antibiotik dan pencegahan Amar W. Adisasmito; Sri Rezeki S Hadinegoro
Sari Pediatri Vol 6, No 1 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.56 KB) | DOI: 10.14238/sp6.1.2004.32-5

Abstract

Rumah sakit dan unit perawatan intensif (ICU) merupakan breeding ground atau tempatberkembangnya bakteri yang resisten/multiresisten antibiotik, disebabkan penggunaanalat invasif, kontak yang sering antara staf rumah sakit dengan pasien sehinggamemudahkan terjadi transmisi infeksi, intensitas penggunaan antibiotik yang tinggi sertapenggunaan antibiotik empiris yang berlebihan. Hal tersebut terjadi karena pasien yangdirawat di ICU pada umumnya menderita penyakit berat dan dalam kondisiimunokompromais.1,2Bakteri Gram negatif mempunyai tingkat resistensi tinggi karena mempunyai mekanismeresistensi yang multipel. Mekanisme resistensi bakteri Gram negatif terhadap antibiotikb laktam, terutama disebabkan karena bakteri Gram negatif menghasilkan enzim blaktamase. Berdasarkan hal tersebut, dapat dipastikan bahwa infeksi oleh bakteri Gramnegatif merupakan ancaman, terutama pada pasien imunokompromais
Refluks Vesiko Ureter Indriyani Sang Ayu Kompiyang; Suarta Ketut
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1572.864 KB) | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.218-25

Abstract

Refluks vesiko ureter (RVU) merupakan kelainan traktus urinarius yang biasa terjadipada anak. Kelainan ini seringkali didiagnosis sebagai penyerta pada anak dengan infeksisaluran kemih (ISK), meskipun terjadi peningkatan jumlah kasus yang didiagnosis saatlahir melalui pemeriksaan sonografi terdapat pelvo-kaleaktasis atau hidronefrosis.Kejadian RVU dapat menyebabkan terjadinya parut ginjal disertai hipertensi yang dapatberlanjut menjadi gagal ginjal kronik. Diagnosis dini melalui anamnesis, pemeriksaanfisik, laboratorium dan radiologi khususnya voiding cystourethrogram (VCUG) harusdilakukan untuk menentukan tata laksana yang sesuai. Sebagian besar pasien mendapatpengobatan medikamentosa tanpa memerlukan tindakan pembedahan.
Model Skoring Untuk Memprediksi Anemia Defisiensi Besi pada Bayi 0-6 Bulan Harapan Parlindungan Ringoringo; Iskandar Wahidiyat; Bambang Sutrisna; Rahayuningsih Setiabudy; Rulina Suradi; Rianto Setiabudy; Saptawati Bardososono
Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.5.2009.338-44

Abstract

Latar belakang. Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan salah satu masalah kesehatan gizi di Indonesia. DataSKRT tahun 2001 menunjukkan prevalensi ADB pada bayi 0-6 bulan 61,3%. Belum dijumpai pemeriksaanlaboratorium sederhana yang dapat memprediksi seorang bayi berusia 0-6 bulan menderita ADB.Tuj uan. Mencari model skoring untuk memprediksi ADB pada bayi 0-6 bulan.Metode. Desain penelitian adalah studi kohort prospektif dengan pembanding eksternal. Ada 211 bayi yangikut penelitian, terdiri dari 143 bayi yang lahir dari ibu tanpa anemia dan 68 bayi yang lahir dari ibu dengananemia. Pemeriksaan darah tepi lengkap, gambaran darah tepi, feritin, sTfR dilakukan saat bayi berusia 0bulan, 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 12 bulan. Diagnosis ADB berdasarkan 1) kadar Hb <14g/dL untuk usia 0-3 hari,<11g/dL untuk usia 1 bulan, <10g/dL untuk usia 2-6 bulan, 2) gambaran darah tepi mikrositik dan atauhipokrom, 3) kadar Hb meningkat setelah diberi terapi besi, 4) RDW >14%, 5) Indeks Mentzer >13; 6)Indeks RDW >220.Hasil. Faktor risiko terjadi ADB pada bayi berusia 0-6 bulan adalah diet ibu dan jenis kelamin bayi. Berdasarkanfaktor risiko dibuat model skoring dan klasifikasi risiko untuk memprediksi seorang bayi berusia 0-6 bulanakan menderita ADB atau tidak.Kesimpulan. Model skoring untuk memprediksi ADB pada bayi berusia 0-6 bulan dapat digunakan untukdeteksi dini ADB. (
Tatalaksana Tuberkulosis pada Anak Nastiti N Rahajoe
Sari Pediatri Vol 3, No 1 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.1.2001.24-35

Abstract

dalam tatalaksana tuberkulosis paru anak masalah yang dihadapi adalah masalah diagnosis pada anak. Belum ada uji diagnostik yang memadai untuk dipakai dalam masalah klinis praktis, sedangkan pemeriksaan mikrobiologis paru TB anak tidak dapat terlalu diharapkan karena sulitnya-didapat spesimen untuk diperiksa. Gambaran Klinis dan Radiologis sering tidak spesifik. Pendidikan dari keluarganya penting karena kepatuhan minum obat akan memberi hasil yang baik.  
Prediktor Keberhasilan Ekstubasi pada Bayi dan Anak Deddy Satriya Putra
Sari Pediatri Vol 5, No 3 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.3.2003.117-21

Abstract

Indikasi primer untuk melakukan ekstubasi adalah penyembuhan proses primer yangmembutuhkan pipa endotrakeal ( ETT ). Faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilanekstubasi seperti stabilitas paru, kardiovaskular, sistim saraf pusat dan metabolik. Sejumlahpengukuran seperti kadar oksigen, lamanya pemakaian ventilasi, setting ventilasi, termasuktekanan tahanan nafas, rasio frekuensi nafas dengan volume tidal (RSBI = rapid swallow breathingindex) dan indeks CROP (compliance, rate, oxygenation and pressure ), dapat dipakai untukmemprediksi keberhasilan ekstubasi pada anak. Hal lain yang mempengaruhi keberhasilanekstubasi adalah faktor teknik atau nonfisiologi yang terdiri dari persiapan ekstubasi, teknikekstubasi dan monitoring setelah ekstubasi. Berbagai prediktor yang digunakan untukmemprediksi keberhasilan ekstubasi tidak menjamin seluruh keberhasilan ekstubasi. Akurasidari prediktor ekstubasi sulit diprediksi karena banyak faktor yang menentukan kemampuanpasien untuk bernafas secara spontan, sehingga diperlukan keterampilan dan ketelitian seorangdokter dalam melakukan ekstubasi agar berhasil dengan baik.
Perjalanan Penyakit Purpura Trombositopenik Imun Elizabeth Yohmi; Endang Windiastuti; Djajadiman Gatot
Sari Pediatri Vol 8, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.4.2007.310-5

Abstract

Latar belakang. Purpura trombositopenia imun merupakan kelainan hematologi yangumum dijumpai, ditandai dengan penurunan jumlah trombosit disertai manifestasiperdarahan berupa perdarahan kulit. Tata laksana yang terbanyak adalah pemberiankortikosteroid baik dalam bentuk tunggal atau kombinasi. Sebagian besar pasien akanmengalami remmisi dalam 6 bulan, sedang selebihnya dapat menjadi kronik.Tujuan. Mendapatkan gambaran klinis, respons terhadap terapi dan perjalanan penyakitanak dengan purpura trombositopenik imun (PTI) di Departemen Ilmu Kesehatan AnakRumah Sakit Cipto Mangunkusumo.Metoda. Dilakukan penelusuran data rekam medis pada anak (usia 0-18 tahun) denganPTI baru yang berobat ke Divisi Hematologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RumahSakit Cipto Mangunkusumo antara Juli 2003 sampai Mei 2006.Hasil. Enam puluh enam pasien dengan PTI berhasil diidentifikasi, terdiri dari 43 laki-lakidan 23 perempuan, usia rerata 4,78 tahun (rentang 1 bulan – 14,9 tahun; puncaknya usia 2-5tahun). Manifestasi perdarahan terbanyak berupa petekie (59) diikuti epistaksis (12), perdarahanmukosa mulut (8), perdarahan subkonjungtiva (5), hematemesis/melena (4), dan hematuria(3). Tujuh belas mengalami lebih dari 1 gejala. Tidak ada yang mengalami perdarahanintrakranial maupun meninggal dunia. Pemeriksaan aspirasi sumsum tulang dilakukan pada15 pasien dan hanya 1 yang menunjukkan gangguan pematangan sistem granulopoetik. Tujuhbelas pasien tidak mendapatkan terapi dan hanya memerlukan observasi, sedang 49 pasienlainnya mendapat terapi. Pengobatan terdiri dari pemberian kortikosteroid (24/49),kortikosteroid serta transfusi trombosit (23/49), kortikosteroid dan imunosupresan (1/49),dan kortikosteroid dan imunoglobulin (1/49). Pasien PTI yang mengalami remisi sebanyak38 pasien dan sebagian besar remisi terjadi kurang dari 6 minggu (30/38). PTI kronik didapatkanpada 9 pasien. Sembilan belas pasien tidak diketahui perjalanan penyakitnya karena tidakkontrol. Semua pasien berusia di bawah 1 tahun mengalami remisi dalam 6 bulan dan tidakada yang menjadi kronik. Pasien berusia di bawah 10 tahun lebih banyak yang mengalamiremisi dalam 6 bulan (PTI akut) dibandingkan dengan anak yang berusia di atas 10 tahun.Kesimpulan. PTI ditemukan lebih banyak pada anak laki-laki dari pada anak perempuan(1,8:1). Usia rerata awitan PTI 4,78 tahun; puncak kejadian pada usia 2-5 tahun.Manifestasi perdarahan terbanyak berupa petekie, diikuti epistaksis, perdarahan mukosamulut, perdarahan subkonjungtiva, hematemesis/melena, dan hematuria Sebagian besarkasus sembuh dalam 6 minggu. Sebagian besar pasien mendapatkan terapi kortikosteroid,baik sebagai terapi tunggal ataupun kombinasi. Anak berusia di bawah 1 tahun semuanyamengalami remisi dan tidak ada yang menjadi kronik.
Diare Persisten: Karakteristik Pasien, Klinis, Laboratorium, dan Penyakit Penyerta Deddy S Putra; Muzal Kadim; Pramita GD; Badriul Hegar; Aswitha Boediharso; Agus Firmansyah
Sari Pediatri Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.2.2008.94-9

Abstract

Latar belakang. Diare persisten menjadi perhatian setelah WHO berhasil menurunkan kejadian diare akut dengan upaya rehidrasi oral. Sepuluh persen diare akut karena infeksi berlanjut menjadi diare persisten dengan angka kematian pada balita 35%.Tujuan. Mengetahui karakteristik pasien, manifestasi klinis, laboratorium, dan penyakit penyerta diare persistenMetode. Studi prospektif terhadap anak dengan diare persisten yang berobat di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, sejak 1 Juni sampai 31 Agustus 2005. Data diperoleh dengan mengisi formulir kuesioner yang ditanyakan kepada ibu pasien dan catatan medis pasien saat pertama datang.Hasil. Didapatkan 41 anak menderita diare persisten, usia terbanyak di bawah 5 tahun. Pendidikan ibu terbanyak sekolah menengah atas (48,7%) dengan tingkat ekonomi rendah (80,5%). Sebagian besar anak telah mendapat antibiotik sebelumnya (48,2%). Demam ditemukan pada 63,4% anak, mual dan muntah 48,8%, dan tinja berlendir 53,7%. Penyakit penyerta, gizi buruk 36,6% anak, alergi susu sapi 31,7%, infeksi saluran kencing 24,4%, dan infeksi HIV 19,5%. Anemia dan hipoalbuminemia ditemukan beturut-turut pada 71,4% dan 64,7% anak.Kesimpulan. Diare persisten terutama mengenai balita dengan tingkat ekonomi keluarga dan pendidikan ibu rendah. Demam dan tinja berlendir merupakan manifestasi klinis yang paling sering dijumpai, sedangkan gizi buruk, alergi susu sapi, infeksi saluran kemih dan infeksi HIV merupakan penyakit yang paling sering menyertai diare persisten. Anemia dan hipoalbumineia merupakan kelainan laboratorium yang paling sering ditemukan.
Aspirasi Kacang pada Anak Daisy Widiastuti; Imral Chair
Sari Pediatri Vol 4, No 4 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.4.2003.186-91

Abstract

Aspirasi kacang merupakan keadaan gawat darurat dan dapat mengancam jiwa.1,2,3Dilaporkan kasus aspirasi kacang pada seorang anak berusia 1 tahun 5 bulan. Diagnosisberdasarkan anammesis yang akurat adanya riwayat tersedak, ditunjang oleh pemeriksaanfisik dan foto toraks. Penanganan yang dilakukan sebelum dibawa ke RS agak terlambat;dokter pertama tidak melakukan pemeriksaan secara teliti adanya aspirasi benda asingsehingga diagnosis menjadi terlambat dan terjadi konsolidasi paru. Penting menegakkandiagnosis aspirasi secara dini karena bila terlambat berakibat fatal. Apabila dicurigaiadanya aspirasi benda asing dan secara klinis terdapat tanda – tanda obstruksi salurannapas atas, maka broskhoskopi merupakan suatu keharusan.4 Pada kasus ini penanganandi rumah sakit cukup adekuat sehingga prognosisnya baik. Penting pada kasus ini adalahmencegah terulangnya kejadian ini. Penjelasan terhadap orang tua yang mempunyaianak kecil perlu dilakukan terutama pengetahuan mengenai akibat aspirasi danpencegahan terjadinya aspirasi benda asing. Dilaporkan kasus aspirasi kacang besertaanalisisnya.

Page 47 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue