cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Pneumonia Atipik pada Anak Mardjanis Said
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.141-6

Abstract

Di negara berkembang penyebab utama pneumonia pada balita ialah Streptococcuspneumoniae, Haemophillus influenzae dan Streptococcus aureus, yang responsif terhadapantibiotik golongan beta-laktam. Namun di samping itu ditemukan pula pneumoniayang tidak responsif terhadap antibiotik golongan beta-laktam, yang disebabkan olehMycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumoniae, Chlamydia trachomatis. Infeksi karenaChlamydia trachomatis sering terjadi melalui transmisi vertikal dari ibu pada masapersalinan. Chlamydia pneumoniae kronik diduga berhubungan dengan terjadinyaeksaserbasi asma pada anak, pneumonia atipik yang umumnya responsif terhadapantibiotik makrolid. Peningkatan kewaspadaan terhadap adanya pneumonia atipik,berkembangnya deteksi yang lebih akurat serta pengobatan yang efektif dengan antibiotikmakrolid yang lebih tepat diharapkan akan menurunkan morbiditas penyakit.
Demam Tifoid pada Anak Usia di bawah 5 Tahun di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Hasan Sadikin, Bandung Djatnika Setiabudi; Kiki Madiapermana
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.93 KB) | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.9-14

Abstract

Latar belakang: Di Indonesia demam tifoid bersifat endemik dan dari telaah kasus dibeberapa rumah sakit, menunjukkan kecenderungan yang meningkat dari tahun ke tahundengan rata-rata kesakitan 500/100.000 penduduk dan kematian 0,6 – 5,0 %. Penelitianmengenai demam tifoid pada kelompok usia < 5 tahun belum banyak dilaporkan.Tujuan: mengetahui gambaran klinis dan laboratoris demam tifoid pada anak usiakurang dari 5 tahun dan membandingkan dengan anak usia di atas 5 tahun (5-14 tahun).Metoda: penelitian non-eksperimental bersifat retrospektif. Subjek penelitian adalahpasien demam tifoid anak dengan konfirmasi biakan Salmonella. Data diambil daricatatan rekam medik pasien demam tifoid yang dirawat di Bagian Ilmu Kesehatan AnakFK Unpad/RSHS Bandung dari bulan Januari 1996 sampai dengan Desember 2003.Hasil: Selama kurun waktu 1996 - 2003 didapatkan kasus demam tifoid berusia < 5tahun 108/256 (42,2%). Dengan rasio laki-laki dan perempuan 1 : 1,20. Selain keluhandemam, obstipasi dan diare merupakan gejala yang paling sering ditemukan. Bradikardirelatif, hepatomegali dan lidah tifoid merupakan pemeriksaan yang sering ditemukanselain demam. Lebih dari setengah pasien didapatkan anemia dan trombositopenia.Komplikasi terjadi pada 25% kasus, yaitu gangguan neuropsikiatrik, sepsis dan syokseptik, miokarditis dan ileus. Satu pasien meninggal dengan penyebab kematian syokseptik.Kesimpulan: insidens demam tifoid pada anak usia < 5 tahun cukup tinggi, insidessemakin tinggi sesuai dengan bertambahnya usia. Tidak ada perbedaan yang bermaknadalam gambaran klinis, laboratoris dan komplikasi pada demam tifoid kelompok anakberumur < 5 tahun dibandingkan dengan anak umur > 5 tahun.
Sepsis Neonatal di NICU RSAB Harapan Kita Jakarta Setyadewi Lusyati; Pieter J.J. Sauer
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.532 KB) | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.173-177

Abstract

Latar belakang. Angka kejadian infeksi pada neonatus di negara berkembang sangat tinggi, terutama diUnit Pelayanan Intensif Neonatal (NICU). Pemberian antibiotik diharapkan dapat mengeradikasi infeksineonatal. Namun di lain sisi pemakaian antibiotik spektrum luas dapat memicu munculnya bakteri yanglebih resisten dan berbahaya.Tujuan. Mengetahui angka kejadian sepsis neonatal, bakteri penyebab sepsis dan penggunaan antibiotik.Metode. Uji retrospektif terhadap bayi yang lahir dan dirawat di NICU RSAB Harapan Kita, Jakartaantara bulan Mei 2003 sampai Juni 2005.Hasil. Didapatkan 216 bayi dirawat di NICU, 133 diantaranya dicurigai mengalami infeksi, namunhanya 9 biakan darah positif pada hari I. Antibiotik diberikan terhadap 133 bayi. Pada hari ke 3-5, terdapat63 bayi dengan biakan darah positif pada hari ke 3-5 dari 74 bayi dengan gejala sepsis yang menetap.Semua bayi dengan kecurigaan sepsis mendapat antibiotik antenatal. Bakteri Gram negatif terutama Serratiamarcescens menempati urutan pertama baik pada biakan hari ke-1 maupun ke 3-5. Angka kejadian infeksitidak berhubungan dengan usia gestasi dan antibiotik antenatal.Kesimpulan. Angka kejadian sepsis neonatal pada hari I di RSAB Harapan Kita sebanding dengan dinegara maju. Namun kejadian sepsis pada hari ke 3-5 meningkat tajam, dengan bakteri Gram negatifsebagai penyebab utama. Hal ini menunjukkan tingginya tingkat kejadian infeksi nosokomial.
Mengenal Bayi dengan Sindrom Putus Obat: Laporan Kasus Dina Indah Mulyani; Rinawati Rohsiswatmo
Sari Pediatri Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.906 KB) | DOI: 10.14238/sp11.2.2009.94-101

Abstract

Sindrom putus obat pada bayi baru lahir merupakan kumpulan gejala dan tanda putus obat, dengan karakteristik manifestasi iritabilitas sistem saraf pusat, gangguan sistem autonom, sistem respiratorik serta sistem gastrointestinal tergantung pada masing-masing obat penyebab. Penegakan diagnostik didasarkan pada riwayat penggunaan obat terlarang selama ibu hamil, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang. Keterlambatan diagnosis dapat meningkatkan risiko komplikasi perinatal dan pasca natal yang dapat dialami bayi diantaranya ketuban pecah dini, gawat janin, prematuritas, bayi berat lahir rendah, asfiksi, dan sudden infant death syndrome (sindrom kematian mendadak pada bayi). Dengan sistem skoring yang baik, tata laksana yang diberikan dapat mencapai tujuan yaitu menghilangkan pengaruh obat tanpa menimbulkan gejala putus obat yang berat.
Fungsi Ginjal pada Anak dengan Keganasan di RSUP H. Adam Malik Medan Trie Hariweni; Bidasari Lubis; Rita Carmelia; Nelly Rosdiana; Adi Sutjipto
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.101-5

Abstract

Berbagai keganasan hematologi dan tumor padat mampu mempengaruhi fungsi ginjal.Komplikasi pada ginjal ini dapat terjadi selama perjalanan penyakit keganasan, akibatinvasi keganasan pada ginjal, ureter, kandung kemih, akibat metabolit tumor tersebutserta akibat kemoterapi. Penelitian ini merupakan laporan pendahuluan yang bertujuanuntuk mengetahui keadaan fungsi ginjal pada anak dengan keganasan, hal tersebutdiperlukan dalam pertimbangan pemberian kemoterapi. Penelitian ini bersifat deskriptifrestropektif,data diambil dari rekam medik semua anak rawat inap yang menderitakeganasan dan belum pernah mendapat kemoterapi, di Bagian IKA RS Adam MalikMedan dalam rentang waktu Januari 1997 sampai dengan Desember 2000. Fungsi ginjaldinilai dari laju filtrasi glomerulus. Diperoleh sampel penelitian 127 pasien, usia kurangdari 5 tahun terdiri dari 22 (17%) pasien keganasan hematologi dan 42 (33%) pasientumor padat ganas, sedangkan usia lebih dari 5 tahun terdiri dari 41 (33%) pasienkeganasan hematologi dan 22 (17%) pada pasien tumor padat ganas. Dari 127 pasientersebut 63 pasien mengalami keganasan hematologi terdiri dari 43 laki-laki (34%) dan20 perempuan (16%), sedangkan 64 pasien menderita tumor padat ganas terdiri dari 29laki-laki (23%) dan 35 perempuan (27%). Keganasan hematologi dengan fungsi ginjalnormal didapatkan pada 48 (38%) anak, IRF (impaired renal function) 9 (14,3%), CRI(chronic renal insufficiency) 6 (9,5%) sedangkan pada tumor padat ganas dengan fungsiginjal normal 52 (41%), IRF 5 (7,8%), CRI 2 (3,2%), CRF (chronic renal failure) 5(8%). Terlihat bahwa pada pasien dengan keganasan hematologi dan tumor padatmengalami gangguan fungsi ginjal pada perjalanan penyakitnya.
Leukemia Kutis Melissa Gandi; Endang Windiastuti; Djajadiman Gatot
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.188-96

Abstract

Dilaporkan seorang anak perempuan, A, usia 16 bulan dengan diagnosis LeukemiaMieloblastik Akut - M2 (LMA-M2) dengan infiltrasi leukemia ke kulit (leukemia kutis)berdasarkan hasil aspirasi sumsum tulang dan biopsi kulit. Manifestasi klinis dari leukemiakutis terdiri dari nodus multipel kebiruan numular yang tersebar, diameter 2–3 cm,berbatas tegas, tidak nyeri, pada wajah, ekstremitas atas dan bawah. Hasil pemeriksaanjaringan biopsi kulit menunjukkan infiltrasi sel-sel leukemia pada dermis dan subkutis.Pasien diberi kemoterapi sesuai protokol LMA, sedangkan antibiotik dan transfusidiberikan sesuai indikasi. Prognosis pada pasien ini buruk, karena dengan adanya leukemiakutis (LK) pada LMA, perjalanan penyakit menjadi agresif. Pasien meninggal 2 bulansetelah timbulnya lesi kulit.
Larutan Glukosa Oral Sebagai Analgesik pada Pengambilan Darah Tumit Bayi Baru Lahir: Uji Klinis Acak Tersamar Ganda Yoga Devaera; Hartono Gunardi; Imam Budiman
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.2.2007.127-31

Abstract

Latar belakang. Penanganan nyeri pada bayi baru lahir masih belum menjadi perhatian. Larutan manis dapatdigunakan untuk mengurangi nyeri. Premature infant pain profile (PIPP) merupakan salah satu skala nyeriyang telah divalidasi.Tujuan Penelitian. Mengetahui efek pemberian 0,5 mL larutan glukosa 30% per oral 2 menit sebelumtindakan terhadap skala PIPP saat pengambilan darah tumit bayi baru lahir.Metode. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda pada bayi baru lahir bugar yang perlupengambilan sampel darah melalui tumit di RSCM. Skala PIPP dilakukan oleh dua penilai secara tersamarberdasarkan rekaman video.Hasil. Tujuh puluh tiga bayi terbagi dalam kelompok intervensi (n=37) dan kontrol (n=35). Rerata nilai skalaPIPP kelompok intervensi lebih rendah dibanding kelompok kontrol oleh kedua penilai, yaitu berturut-turut (4,5± 3,1) dan (6,3 ± 4) dibanding (6 ± 3,1) dan (8,4 ± 4,5) (p < 0,05). Koefisien Kappa antar dua penilai ialah 0,726.Kesimpulan. Pemberian 0,5 mL larutan glukosa 30% per oral 2 menit sebelum pengambilan darah melaluitumit bayi baru lahir dapat mengurangi nyeri. 
Hubungan Dosis Kumulatif Prednison dan Gangguan Umur Tulang pada Sindrom Nefrotik Relaps Sering Budi Firdaus; Ina Rosalina; Nanan Sekarwana
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.128 KB) | DOI: 10.14238/sp10.6.2009.357-61

Abstract

Latar belakang. Pemberian prednison jangka panjang selama pengobatan sindrom nefrotik (SN) mengganggu proses pertumbuhan, terutama pertumbuhan kartilago secara langsung dan gangguan faktor-faktor pertumbuhan (growth factors). Pada SN relaps sering, selalu diberikan prednison jangka panjang yang berulang sehingga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan yang dapat diketahui dari gangguan umur tulang.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara dosis kumulatif prednison dan gangguan umur tulang pada anak pasien SN relaps sering.Metode. Penelitian menggunakan rancangan cross-sectional. Subjek penelitian adalah anak pasien SN relaps sering, berumur 1-14 tahun, yang berobat jalan di poliklinik Subbagian Nefrologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung mulai bulan April sampai dengan Juni 2008. Dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisis, penghitungan dosis kumulatif prednison selama pengobatan, dan pemeriksaan umur tulang. Analisis regresi linier multipel digunakan untuk menilai dosis kumulatif prednison, umur awitan penyakit, lama pemberian prednison, dan jumlah relaps, merupakan faktor risiko yang dapat menyebabkan gangguan umur tulang. Dinyatakan bermakna bila p<0,05.Hasil. Didapatkan 23 anak dengan rata-rata dosis kumulatif prednison (9.677,8±5.016,8) mg, umur awitan (53,30±24,7) bulan, lama pemberian prednison (36,3±22,2) bulan, jumlah relaps (4,5±1,7) kali, dan selisih umur tulang adalah (35,52±21,2) bulan. Analisis regresi multipel dari faktor risiko menunjukkan hanya dosis kumulatif prednison yang menunjukkan hubungan yang bermakna (p<0,05) sedangkan umur awitan penyakit akan menunjukan hubungan yang bermakna (p<0,05) bila jumlah sampel minimal 33.Kesimpulan. Terdapat hubungan yang bermakna antara dosis kumulatif prednison dan gangguan umur tulang pada anak pasien SN relaps sering.
Pengaruh Suplementasi Vitamin A Terhadap Campak Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.263 KB) | DOI: 10.14238/sp2.2.2000.72-6

Abstract

Peran vitamin A dan imunitas sudah banyak dibuktikan dari penelitian sebelumnya.Peran suplementasi vitamin A pada imunisasi campak telah diteliti pada bayi usia 6bulan di daerah Bogor yang merupakan daerah endemi defisiensi vitamin A. Penelitiandilakukan secara acak buta ganda, uji klinis kontrol plasebo terhadap 336 bayi usia 6bulan. Subjek dibagi 2 kelompok yaitu kelompok yang mendapat suplementasi vitaminA dosis tinggi (100.000 IU) dan kelompok yang mendapat plasebo pada saat imunisasicampak. Hasil serokonversi terhadap antibodi campak setelah 1 bulan imunisasi adalah78,5% pada kelompok vitamin A dan 84,7% pada kelompok plasebo (p=0,16) sedangkan6 bulan setelah imunisasi didapatkan hasil serokonversi 74,6% pada kelompok vitaminA dan 81,8% pada kelompok plasebo (p=0,13). Perbedaan yang bermakna terlihat padakelompok bayi yang masih mempunyai titer antibodi maternal terhadap campak yangmasih tinggi (>1:25) yaitu serokonversi 1 bulan setelah imunisasi sebesar 43,7% padakelompok vitamin A dan 64,4% pada kelompok plasebo (p=0,04) serta titer protektifsetelah 6 bulan sebesar 50,0% pada kelompok vitamin A dan 69,6% pada kelompokplasebo (p=0,03). Dijumpai pula bayi yang mendapat vitamin A, jumlah ruam setelahimunisasi lebih sedikit daripada kelompok yang tidak mendapat vitamin A. Sebagaikesimpulan dapat dikemukakan bahwa vitamin A dapat menghambat replikasi virusvaksin campak.
Osteopetrosis Theresia Santi; Kemas Firmansyah; Maria Abdulsalam
Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.2.2004.97-102

Abstract

Dilaporkan kasus osteopetrosis maligna pada seorang anak perempuan berusia 3 tahun.Kelainan yang diturunkan secara otosomal resesif ini disebabkan defek pada osteoklas.Pasien datang dengan keluhan pucat dan abses submandibula dengan perdarahan, disertaigigi yang mudah patah dan kebutaan sejak lahir, terdapat frontal bossing, adenoidappearance disertai nistagmus, serta hepatosplenomegali. Pemeriksaan darah tepimenunjukkan pansitopenia dengan gambaran leukoeritroblastosis. Aspirasi sumsumtulang sulit dilakukan karena kerasnya jaringan tulang, memperlihatkan gambaranhipoplasia sistem eritropoietik dan trombopoietik. Diagnosis ditegakkan berdasarkanbone survey yang memperlihatkan keseluruhan tulang yang sklerotik dengan peningkatandensitas tulang, disertai tanda khas berupa mask sign pada tulang tengkorak dan sandwichsign pada tulang vertebra. Dilakukan terapi suportif berupa transfusi sel darah merahdan trombosit, pengobatan medikamentosa berupa prednison dan kalsitriol. Prognosispenyakit ini buruk, dengan angka kematian yang tinggi pada dekade pertama kehidupansebagai akibat perdarahan dan infeksi berulang.

Page 49 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue