cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Ketajaman Klinis dalam Mendiagnosis Bising Inosen Albert Daniel Solang; Najib Advani; I Boediman
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.32-6

Abstract

Latar belakang. Bising inosen adalah bising yang tidak berhubungan dengan kelainanorganik atau kelainan struktural jantung. Kepustakaan menyebutkan bising inosenditemukan pada 50% populasi anak sehat. Bising ini tidak bersifat patologis tetapisering disalahartikan sebagai bising organik, sehingga dilakukan berbagai pemeriksaanpenunjang yang mahal yang sebenarnya tidak diperlukan. Ketajaman klinis seorang dokteranak dalam mendiagnosis bising inosen sangat penting untuk mengatasi biaya tinggidan rasa kecemasan orang tua terhadap kondisi anak. Ketajaman klinis ini dapat diperolehdengan pengalaman dan pelatihan khusus pengenalan bising jantung pada anak.Tujuan. Membandingkan sensitivitas dan spesifitas pemeriksaan fisis denganpemeriksaan ekokardiografi (sebagai baku emas) dalam mendiagnosis bising inosen.Metode dan subyek penelitian. Desain penelitian adalah uji diagnostik. Populasiterjangkau pasien berusia 0 bulan–12 tahun yang berobat di Poliklinik Anak Umum RSDr. Cipto Mangunkusumo dari tanggal 1 Agustus sampai 31 Oktober 2005. Populasitarget adalah pasien dengan bising jantung tanpa sianosis. Baku emas ekokardiografidilakukan pada semua pasien dengan bising jantung untuk mengkonfirmasi hasilpemeriksaan fisis.Hasil. Sensitivitas diagnosis bising inosen berdasarkan pemeriksaan fisis oleh penelitiadalah 97% dan spesifisitas 50%. Nilai duga positif adalah 91% dan nilai duga negatif75%. Rasio kemungkinan untuk hasil positif adalah 1,94 dan hasil negatif adalah 0,6(hasil uji sedang).Kesimpulan. Pemeriksaan fisis oleh peneliti yang telah mendapat pelatihan khususpengenalan bising jantung, cukup dapat dipercaya sehingga dapat menurunkan keharusanpemeriksaan ekokardiografi yang mahal. Pelatihan berkala mengenal jenis-jenis bisingjantung pada anak bagi peserta Program Dokter Spesialis Anak (PPDS) 1 Ilmu KesehatanAnak dan dokter spesialis anak sebaiknya dilakukan untuk menambah kompetensi dalammendiagnosis bising inosen dan menghindari biaya tinggi pemeriksaan penunjang.
Gambaran Limfoma Burkitt di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUP Cipto Mangunkusumo Jakarta Selvi Nafianti; Endang Windiastuti; Djajadiman Gatot
Sari Pediatri Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.1.2008.47-52

Abstract

Latar belakang. Limfoma Burkitt merupakan bentuk keganasan pada anak yang jarang ditemukan dibandingkankeganasan lain. Angka kematian limfoma Burkitt sangat tinggi, namun prognosis menjadi sedikitlebih baik karena banyak pilihan kemoterapi.Tujuan. Mengetahui gambaran limfoma Burkitt pada anak di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta.Metode. Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan mengambil data dari rekam medik Divisi Hematologi-Onkologi RSUPN Cipto Mangunkusumo periode Januari 2001 hingga Desember 2006. Semuapasien yang datang ke Poliklinik rawat jalan dan ruang rawat inap dengan diagnosis Limfoma Burkittdiikutsertakan dalam penelitian.Hasil. Tercatat 7 kasus limfoma Burkitt, terdiri dari 6 laki-laki dan 1 perempuan. Usia termuda 1 tahun 5bulan sedangkan usia tertua 14 tahun 10 bulan. Enam kasus mendapat kemoterapi, yaitu 4 kasus mendapatkemoterapi dan operasi 2 kasus. Dari 7 kasus yang tercatat satu orang meninggal dunia.Kesimpulan. Limfoma Burkitt adalah penyakit keganasan pada anak yang jarang ditemukan.
Perbandingan Kadar Gula Darah Puasa pada Anak Obes dengan Resistensi Insulin dan Tanpa Resistensi Insulin Yose M. Pangestu; Antolis Antolis; Vivekenanda Pateda; Kristellina T; Sarah M. Salendu Warouw
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.161-6

Abstract

Latar belakang. Obesitas pada anak semakin banyak terjadi pada usia sekolah. Anak obes berisiko terjadi diabetes mellitus tipe-2 di kemudian hari. Peningkatan kadar gula darah puasa anak obes terutama yang mengalami resistensi insulin.Tujuan. Mengetahui perbedaan kadar gula darah puasa pada anak obes dengan resistensi insulin dibanding anak obes tanpa resistensi insulin.Metode. Dilakukan penelitian dengan menggunakan metode penelitian analitik observasional dengan pendekatan potong lintang.Hasil. Didapatkan 54 anak obes, rerata usia 12,2 (11,9-12,5) tahun. Tigapuluh empat (63%) anak mengalami resistensi insulin, di antaranya 23 (67,6%) berjenis kelamin laki-laki. Rerata kadar gula darah puasa anak obes dengan resistensi insulin lebih tinggi bermakna dibanding anak obes tanpa resistensi insulin 5,08 (4,9-5,2) mmol/L vs 4,79 (4,6-4,9) mmol/L (p<0,003).Kesimpulan. Anak obes dengan resistensi insulin memiliki kadar gula darah puasa lebih tinggi dibanding anak obes tanpa resistensi insulin.
Pengobatan Testosteron pada Mikropenis Bambang Tridjaja; Jose RL Batubara; Aman Pulungan
Sari Pediatri Vol 4, No 2 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.99 KB) | DOI: 10.14238/sp4.2.2002.63-6

Abstract

Mikropenis atau hipogenitalism adalah suatu keadaan penis dengan bentuk normalnamun dengan ukuran kurang dari 2.5 SD di bawah rerata menurut umur dan statusperkembangan pubertas. Pengukuran penis dilakukan secara fully stretched, menggunakanspatula kayu yang diletakkan sejajar dengan dorsum penis dan ditekan sampai simfisispubis. Panjang penis adalah jarak dari simfisis pubis sampai ujung glans penis dan tidakdalam keadaan ereksi. Pengobatan mikropenis terhadap 23 anak dengan rerata usia 9.6tahun dilakukan dengan pemberian testosteron ester intramuskular setiap 3 minggusebanyak 4 kali. Pasca terapi penis bertambah panjang 85% dibandingkan sebelum terapi.Tidak terlihat adanya pertambahan usia tulang dengan protokol yang digunakan.
Profil klinis Infeksi Saluran Kemih pada Anak di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Miesien Miesien; Taralan Tambunan; Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 7, No 4 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.032 KB) | DOI: 10.14238/sp7.4.2006.200-6

Abstract

Latar belakang. Infeksi saluran kemih (ISK) sering terjadi pada bayi dan anak kecil.Gejala ISK tergantung usia, intensitas reaksi inflamasi dan lokasi infeksi pada salurankemih.Tujuan. Mengetahui profil klinis ISK pada anak di RS Dr. Cipto Mangunkusumo.Metode dan subyek. Desain penelitian ini adalah deskriptif potong lintang. Subyekberusia lebih dari 2 bulan sampai 13 tahun, berobat ke Departemen IKA RSCM dalamkurun waktu Februari sampai dengan Agustus 2004. Diagnosis ISK ditegakkanberdasarkan hasil biakan urin bila pertumbuhan kuman ³ 105 koloni/ml urin.Hasil. Dalam kurun waktu 7 bulan ditemukan 50 subyek (28 laki-laki dan 22perempuan), usia rerata dua tahun (SD±2,4). Terbanyak usia 2 bulan – 2 tahun (32/50). Lima gejala klinis terbanyak adalah demam, nafsu makan menurun, diare, kencingtidak lancar dan muntah. Tiga tanda klinis terbanyak dianatarnya adalah demam, balanitisdan ikterus. Pemeriksaan penunjang sebagian besar normal.Kesimpulan. Infeksi saluran kemih (ISK) terbanyak pada usia 2 bulan – 2 tahun. Gejalaklinis ISK terutama demam. Tanda klinis ISK terbanyak demam, balanitis dan ikterus.Hasil urinalisis normal tidak menyingkirkan diagnosis ISK, sehingga anak demam padausia 2 bulan – 2 tahun dengan penyebab tidak jelas perlu dipikirkan ISK.
Perbandingan Fungsi Kognitif Bayi Usia 6 Bulan yang Mendapat dan yang Tidak Mendapat ASI Eksklusif Lony Novita; Dida A. Gurnida; Herry Garna
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.429-34

Abstract

Latar belakang. Salah satu faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak adalah faktor nutrisi terutamapemberian ASI eksklusif. Hubungan antara ASI eksklusif dan perkembangan kognitif telah diketahui padaanak usia sekolah tetapi pada bayi belum banyak diketahui dan belum ada penelitian yang mengukur IQpada bayi khususnya di Indonesia.Tujuan penelitian. Membandingkan fungsi kognitif bayi berusia 6 bulan yang diberi ASI eksklusi danbukan ASI eksklusif.Metode. Penelitian cohort ini dilakukan pada bulan Mei-Juli 2007. Subjek penelitian bayi usia 4 bulanyang mendapat ASI eksklusif dan noneksklusif yang bertempat tinggal di lingkungan Puskesmas CigondewahBandung diikuti sampai usia 6 bulan. Perkembangan kognitif dinilai dengan skala Griffith dan dikonversikanmenjadi nilai IQ. Dampak ASI eksklusif terhadap perkembangan kognitif dianalisis dengan uji t.Hasil. Dari 86 bayi yang diteliti, 8 bayi drop out, 39 ASI eksklusif dan 39 bayi noneksklusif. Tidak adaperbedaan karakteristik subjek dan karakteristik orangtua subjek. Rata-rata IQ bayi ASI eksklusif 128,3(8,8), rentang IQ bayi ASI eksklusif 112-142 sedangkan bayi ASI noneksklusif rata-rata 114,4 (12,1), rentangIQ 82-137. Kelompok ASI eksklusif IQ di atas rata-rata 32 bayi dan di bawah rata-rata 7 bayi sedangkan ASInoneksklusif IQ di atas rata-rata 19 bayi dan di bawah rata-rata 20 bayi. Pemberian ASI noneksklusif berpeluangterjadinya IQ di bawah rata-rata 1,68 kali lebih besar dibandingkan di atas rata-rata (x2=9,57; p=0,002).Kesimpulan. Dari aspek fungsi kognitif pemberian ASI eksklusif memberikan hasil lebih baik dibandingdengan yang tidak mendapat ASI eksklusif
Perbedaan Status Besi Bayi Normal yang Mendapat Air Susu Ibu Eksklusif dengan Susu Formula Standar Henne Giyantini; Ponpon Idjradinata; Herry Garna
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.127-32

Abstract

Latar Belakang.Anemia defisiensi besi (ADB) pada anak dapat menyebabkan gangguan kognitif, psikomotor, dan tingkah laku menetap meskipun anemia dikoreksi. Pada usia 4−6 bulan, cadangan besi menurun, pertumbuhan cepat dan asupan besi rendah menyebabkan ADB.Tujuan.Menganalisis perbedaan status besi bayi yang mendapat ASI eksklusif dengan susu formula standar (SFS) dan mengetahui waktu pemberian suplemen besi yang tepat. Metode.Penelitian analitik potong-lintang di RSUD Ujungberung dan Cibabat serta RSKIA Astanaanyar Bandung periode Juni−Juli 2012, pada bayi 4, 6 dan 9 bulan, lahir cukup bulan, berat lahir >2.500 g, sehat dan mendapat ASI eksklusif atau SFS. Dilakukan pemeriksaan Hb, MCV, Fe serum, TIBC, dan feritin serum. Uji Mann-Whitney dilakukan untuk mengetahui perbedaan status besi.Hasil.Subjek 60 bayi. Pada kelompok ASI eksklusif dan SFS 4, 6, dan 9 bulan Hb berturut-turut 10,57; 10,86; 9,64 dan 10,77; 11,22; 11,74 g/dL; TIBC 294,3; 265,4; 339 dan 297,5; 268; 317,8 µg/dL; MCV 70,3; 72,9; 62,89 dan 77,57; 72,82; 73,39 fl; serta feritin serum 81,1; 131,7; 26,5 dan 120,2; 56; 45,9 µg/L berbeda bermakna (p=0,017; p=0,049; p<0,001; p<0,001). Fe serum 44,7; 43,1; 26,4 µg/dL dan 33,9; 35,9; 40,8 µg/dL tidak bermakna (p=0,202). Bayi yang mengalami DB dan ADB pada usia 9 bulan lebih banyak terjadi pada bayi yang mendapat ASI eksklusif (p=0,020). Enam dari 10 bayi mengalami DB dan ADB pada usia 4 bulan pada kedua kelompok.Kesimpulan.Status besi bayi normal yang mendapat ASI eksklusif lebih rendah daripada bayi yang mendapat SFS. Rekomendasi pemberian suplemen besi mulai usia 4 bulan, perlu ditinjau ulang.
Absorpsi Karbohidrat Yang Berasal Dari Beras Pada Anak Usia 1-3 Tahun Daniel Effendi; Agus Firmansyah; Sri Rezeki S Hadinegoro; Pramita G Dwipoerwantoro
Sari Pediatri Vol 3, No 4 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.4.2002.206-12

Abstract

Para peneliti mendapatkan bahwa pati beras cukup baik diabsorpsi di saluran cerna,bahkan lebih baik sebagai komposisi bersama elektrolit untuk mengatasi diare. Meskipunkecil, masih terdapat berbagai prevalensi malabsorpsi karbohidrat yang bervariasi, baikdengan pati beras maupun dengan pati lainnya. Khin Maung-U mendapatkan prevalensimalabsorpsi pati beras pada anak di Birma cukup besar (66,5%), sedangkan pati berasmudah didapat di negara-negara dengan beras sebagai makanan pokok sehingga perluditeliti kemampuan absorpsi pati beras pada anak Indonesia. Telah dilakukan uji hidrogennapas pada 86 anak Indonesia usia 1-3 tahun di Kelurahan Pejaten Barat, Pasar Minggu,Jakarta Selatan. Di antara 86 anak yang di beri meal test dengan kue pati beras 80 guntuk setiap anak ternyata 82 anak (95,3%) masih mampu mengabsorpsi pati berasdengan baik, hanya 4 anak (4,7%) yang mengalami malabsorpsi pati beras. Belumdiketahui pasti tipe malabsorpsi pada ke-empat anak ini. Pada penelitian ini terdapat 16anak (18,6%) berasal dari keluarga sosial ekonomi tidak mampu, sebagian besar ibuberpendidikan SLTP ke bawah, dan sebagian besar pekerjaan orangtuanya di sektorswasta dan buruh. Tidak ditemukan hubungan bermakna (p>0,05) pengaruh diare pada6 anak (7%), riwayat BBLR pada 13 anak (15,1%), status gizi kurang ataupun malnutrisipada 35 anak (40,7%) dan infeksi cacing/jamur pada 17 anak (19,8%) terhadapmalabsorpsi pati beras.
Hubungan Kadar Aspartat Aminotransferase (AST) dan Alanin Aminotransferase (ALT) Serum dengan Spektrum Klinis Infeksi Virus Dengue pada Anak Agus Darajat; Nanan Sekarwana; Djatnika Setiabudi
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.359-62

Abstract

Latar belakang. Infeksi dengue memiliki spektrum klinis yang luas, yaitu dapat asimtomatis maupunbermanifestasi klinis sebagai demam dengue (DD), demam berdarah dengue (DBD) maupun sindromsyok dengue (SSD). Pada infeksi dengue didapatkan peningkatan kadar aspartat aminotransferase (AST)dan alanin aminotransferase (ALT) serum. Kadar AST dan ALT serum diduga berperan sebagai indikatortingkat keparahan penyakit.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar AST dan ALT serum dengan spektrum klinis infeksi dengue pada anak.Metode. Penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dilakukan pada 1 Maret-30 April 2007di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Subjek penelitian kasus infeksi dengue,berusia < 14 tahun secara berurutan memenuhi kriteria klinis DD, DBD, dan SSD menurut WHO (1997)yang disertai bukti serologis infeksi dengue. Uji ANOVA digunakan untuk menilai hubungan kadar ASTdan ALT serum dengan spektrum klinis infeksi dengue pada anak. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilaip<0,05. Seluruh perhitungan statistik dikerjakan dengan piranti lunak SPSS versi 13,0 for Windows.Hasil. Terdapat 60 subjek penelitian terdiri dari 25 (41,7%) laki-laki dan 35 (58,3%) perempuan, denganusia termuda 6 bulan dan tertua 14 tahun. Berdasarkan spektrum klinis subjek terdiri dari kelompok DD17 (28,3%), DBD 21 (35%), dan SSD 22 (36,3%) anak. Nilai rerata AST pada DD 63,2±6,6, DBD267,5±116,1, SSD 1491,5±492,4. Nilai rerata ALT pada DD 29,4±2,4, DBD 78,0±25,3, SSD 435,0±122,1.Hasil uji ANOVA menunjukkan terdapat hubungan kadar AST dan ALT serum dengan spektrum klinisinfeksi dengue pada anak (F=6,018; p=0,000).Kesimpulan. Pada anak dengan infeksi dengue semakin tinggi kadar AST dan ALT serum, semakin beratderajat penyakit 
Alternatif Terapi Inisial Sindrom Nefrotik untuk Menurunkan Kejadian Relaps Reni Wigati; Eka Laksmi
Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.494 KB) | DOI: 10.14238/sp11.6.2010.415-19

Abstract

Sindrom nefrotik (SN) merupakan penyakit ginjal yang paling sering ditemukan pada anak. Pernberiansteroid sebagai terapi SN telah terbukti efektif untuk mencapai kondisi remisi (94%) namun insidens relapsmasih tinggi, yaitu hampir 60%. Untuk tata laksana SN pada anak di Indonesia, Unit Kerja KoordinasiNefrologi Ikatan Dokter Anak indonesia telah menyusun konsensus sesuai dengan rekomendasi empirisInternational Study for Kidney Disease in Children (ISKDC). Terapi inisial diberikan prednison dosis penuh60 mg/m2 LPB/hari selama empat minggu dilanjutkan dengan dosis 40 mg/m2 LPB/hari selang sehariselama empat minggu (terapi standar). Makalah ini membahas perbandingan terapi standar dengan terapiinisial yang diperpanjang atau dikombinasi dengan obat imunosupresif lain, apakah terapi alternatif inidapat mengurangi kejadian relaps tanpa meningkatkan efek samping. Kesimpulan dari telaah ini adalahprednison inisial yang diperpanjang terbukti dapat menurunkan kejadian relaps tanpa meningkatkan efeksamping yang berarti. Alternatif lain yaitu kombinasi prednison dengan siklosporin A yang tampaknya jugsmenjanjikan hasil yang balk

Page 48 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue