cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Uji Fungsi Paru pada Anak Jalanan di Wilayah Jakarta Pusat Mohammad Muchlis; Mardjanis Said; Bambang Madiyono
Sari Pediatri Vol 7, No 3 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.3.2005.169-76

Abstract

Latar belakang. Anak jalanan merupakan kelompok anak dengan risiko tinggi terhadapancaman maupun gangguan kesehatan. Kebiasaan beraktivitas sehari-hari membuat anakjalanan sering terpapar dengan polutan udara di jalan dan juga kebiasaan hidup yang tidaksehat seperti merokok membuat anak jalanan berisiko mengalami penurunan fungsi paru.Tujuan penelitian. Untuk mendapatkan gambaran nilai faal paru anak jalanan sebagaikelompok yang berisiko tinggi akibat pencemaran udara dan faktor-faktor yangmempengaruhinya.Metoda. Desain cross sectional terhadap kelompok anak jalanan di wilayah Jakarta Pusatyang dibina di empat rumah singgah. Pada subyek penelitian yang memenuhi kriteria inklusidilakukan pendataan riwayat pribadi dan penyakit, pemeriksaan fisik serta pengukuran nilaiarus puncak ekspirasi (APE). Subyek dipilih secara stratified random sampling dengan besarsampel ditentukan secara proporsional dan penghitungan untuk mencari koefisien korelasi.Hasil. Telah dilakukan pemeriksaan dan pengukuran nilai APE dengan alat mini wright peakflowmeter (MWPFM) terhadap 99 anak jalanan yang terdiri dari 61 anak laki-laki dan 38anak perempuan. Rentang usia terbanyak laki-laki 13-15 tahun, perempuan 7-12 tahun, 73masih bersekolah dan 26 anak putus sekolah. Dengan kuesioner international study of asthmaallergic in childhood (ISAAC) didapatkan 2 anak dengan riwayat pernah menderita asma.Status gizi anak jalanan menunjukkan 69 anak (70%) dengan gizi baik, 27 anak ( 27%) dengangizi kurang, dan 3 anak (3%) bergizi lebih. Kebiasaan merokok pada anak jalanan banyakditemukan pada kelompok anak laki-laki, yaitu pada kelompok usia 13-15 tahun 9 orang(26%), 16-18 tahun 4 orang (50%) dan 1 orang anak perempuan usia 17 tahun. Kelompokusia terbanyak menunjukkan kelompok usia sekolah tingkat SMP dan SMA.Kesimpulan. Nilai APE pada kelompok anak jalanan dipengaruhi oleh beberapa faktorantara lain jenis kelamin, umur, tinggi badan, berat badan dan luas pemukaan tubuh. NilaiAPE pada anak jalanan laki-laki sebagian besar berada di bawah nilai rata-rata menurutnomogram Godfrey; pada anak perempuan relatif sama baik untuk nilai di atas rata-ratamaupun di bawah rata-rata. Nilai APE pada anak jalanan tidak jelas berhubungan denganlama paparan, namun nilai indeks APE pada kelompok dengan paparan lebih dari 5 tahundan terpapar lebih dari 5 jam sehari cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok anakjalanan yang lain. Nilai APE anak jalanan yang merokok tidak lebih rendah dari pada nilaitersebut pada anak jalanan yang tidak merokok.
Toksisitas Kemoterapi Leukemia Limfoblastik Akut pada Fase Induksi dan Profilaksis Susunan Saraf Pusat dengan Metotreksat 1 gram Ketut Ariawati; Endang Windiastuti; Djajadiman Gatot
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.252-8

Abstract

Latar belakang. Toksisitas kemoterapi dipengaruhi oleh sifat antiproliferasi obat sitostatik dan akanmerusak sel yang mempunyai aktivitas proliferasi yang tinggi. Oleh sebab itu pemberian kemoterapi dapatmenimbulkan efek samping.Tujuan. Mengetahui efek samping kemoterapi leukemia limfoblastik akut (LLA) pada fase induksi danfase profilaksis susunan saraf pusat secara klinis maupun laboratoriumMetode. Penelitian retrospektif deskriptif terhadap semua pasien leukemia limfoblastik akut baru dalamperiode Januari 2005 – Desember 2006 di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM JakartaHasil. Didapatkan 41 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dari 126 kasus baru LLA, terdiri dari pasienrisiko tinggi (12 orang), dan risiko biasa (29 orang). Median usia 5,5 tahun, median lama pengamatan 39minggu. Remisi setelah fase induksi didapatkan 86,2% pada risiko biasa, 75% pada risiko tinggi. Pada faseinduksi penurunan terendah terjadi setelah pemberian kemoterapi yang pertama dan kedua. Pada faseprofilaksis penurunan kadar hemoglobin, leukosit, ANC, trombosit yang terendah terjadi bervariasi yaitusetelah pemberian metotreksat (MTX) 1 g/m2 yang pertama, kedua, dan ketiga. Peningkatan kadar SGOT/SGPT yang tertinggi yaitu 7 – 12 kali normal terjadi pada fase induksi minggu kedua, sedangkan pada faseprofilaksis peningkatan tertinggi yaitu 8,5 – 10 kali normal terjadi setelah pemberian (MTX) 1 g/m2 yangpertama. Didapatkan 7 orang dengan neuropati perifer setelah pemberian vinkristin yang kedua.Kesimpulan. Toksitas kemoterapi LLA pada fase induksi terjadi setelah pemberian kemoterapi yang pertamadan kedua, sedangkan pada fase profilaksis SSP dengan MTX 1gram/m2 terjadi setelah pemberian pertama,kedua, dan ketiga.
Perbandingan Efektivitas antara Probiotik Hidup dengan Probiotik Mati pada Anak dengan Malabsorpsi Laktosa Novie Homenta Rampengan; Jeannette Irene Chirstie Manoppo; Sarah Maria Warouw
Sari Pediatri Vol 11, No 4 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.863 KB) | DOI: 10.14238/sp11.4.2009.250-6

Abstract

Latar belakang. Malabsorpsi laktosa merupakan kondisi paling sering menyebabkan gizi kurang pada anak, karena laktosa tidak dapat dihidrolisis secara sempurna di usus halus. Probiotik merupakan suplemen makanan yang dapat memberikan keuntungan pada pasien dengan malabsorpsi laktosa, tetapi belum jelas apakah probiotik hidup atau probiotik mati lebih efektif.Tujuan. Menentukan efektivitas probiotik hidup dan probiotik mati dengan melakukan Uji Hidrogen Napas setelah diberi probiotik.Metode. Uji klinis dengan desain sebelum dan sesudah diberi perlakuan di lima Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Tuminting, Manado selama bulan Maret sampai Mei 2008. Kriteria inklusi anak sehat umur 10-12 tahun, status gizi >90% menurut kriteria Center of Disease Control (CDC) dan UHN >20 part per million (ppm). Dilakukan pengacakan sederhana pada anak dengan malabsorpsi laktosa.Hasil. Terdapat 130 anak yang diperiksa, 86 anak memenuhi kriteria di bagi dua tiap kelompok, namun hanya 39 anak kelompok probiotik hidup dan 40 anak kelompok probiotik mati dapat menyelesaikan studi. Terdapat perbedaan bermakna dari UHN menit ke-120 sebelum dan sesudah pemberian probiotik hidup dan probiotik mati pada anak dengan malabsorpsi laktosa (p<0,001). Ketika kedua kelompok dibandingkan, tidak terdapat perbedaan pada UHN menit ke-120 sesudah pemberian probiotik hidup dan probiotik mati (p=0,453).Kesimpulan. Pemberian probiotik hidup dan probiotik mati selama 2 minggu dapat menurunkan nilai UHN pada anak dengan malabsorpsi laktosa, namun tidak terdapat perbedaan efektivitas antara kedua kelompok serta tidak dijumpai efek samping selama studi.
Alergi Makanan pada Bayi dan Anak Sjawitri P Siregar
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.219 KB) | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.168-74

Abstract

Alergi makanan sebagian besar didasari reaksi hipersensitivitas tipe I. Gejala terseringpada organ saluran napas, saluran cerna, kulit dan sistemik berupa anafilaksis.Pemeriksaan uji kulit + terhadap makanan harus dilanjutkan dengan uji eliminasi danprovokasi (baku linar). Alergi makanan lebih sering terjadi pada usia tahun pertamakehidupan dan 2/3 akan toleran setelah eliminasi selama 1-2 tahun.
Resisten Trimetoprim – Sulfametoksazol terhadap Shigellosis Selvi Nafianti; Atan B Sinuhaji
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.556 KB) | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.39-44

Abstract

Disentri merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian terutama pada anakusia di bawah 5 tahun. Penyebab tersering disentri adalah Shigella spp. World HealthOranization (WHO) menganjurkan pemberian trimetoprim-sulfametoksazol pada diareberdarah tanpa mengetahui penyebab. Banyak laporan mengenai resistensi trimetoprimsulfametoksazol,sehingga perlu dicari alternatif antimikroba untuk pengobatanshigellosis. Disamping itu, perlu pemahaman yang baik mengenai mekanisme terjadinyaresistensi.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gangguan Perkembangan Neurologis pada Bayi dengan Riwayat Hiperbilirubinemia Baginda Hutahaean; Alifiani Hikmah Putranti; Kamilah Budhi Rahardjani; Magdalena Sidhartani
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.201-6

Abstract

Latar belakang. Salah satu penyebab gangguan perkembangan neurologis (GPN) adalah hiperbilirubinemia.Kerusakan sawar darah otak (SDO) meningkatkan permeabilitas otak terhadap bilirubin. Terdapat beberapafaktor yang menyebabkan kerusakan SDO, yang selanjutnya meningkatkan risiko GPN bayi.Tujuan. Mengetahui faktor risiko yang mempengaruhi GPN pada bayi dengan riwayat hiperbilirubinemia.Metode. Desain longitudinal prospektif, subjek 48 neonatus dengan kadar bilirubin indirek serum (BIS)>10 mg/dL, dirawat Oktober 2004–Agustus 2005, dan dipantau pada usia 3, 6 dan 9 bulan dengan BayleyInfant Neurodevelopmental Screener (BINS). Multivariat cox-regression digunakan untuk analisis.Hasil. Receiver operating curve (ROC) : kadar BIS neonatal dapat sebagai prediktor GPN bayi, dengancut-off point BIS 14,68 mg/dL. Terdapat hubungan bermakna antara BIS dengan GPN (χ2:18,657;p<0,001).Dari uji multivariat Cox-regression : infeksi (Hazard ratio/HR 4.0;CI=0.9;18,1), kadar BIS >14,68 mg/dL(HR 2,5;CI=0.5;12,1) dan tidak mendapat terapi (HR 2.1;CI=0.8;5,6) mempunyai risiko GPN. Asidosisdan hipoglikemia bukan faktor risiko.Kesimpulan. Kadar BIS dapat digunakan sebagai prediktor GPN. Infeksi, kadar BIS >14,68 mg/dL dantidak mendapat terapi merupakan faktor yang meningkatkan risiko GPN pada bayi dengan riwayathiperbilirubinemia.
Epidemiologi Tuberkulosis Cissy B. Kartasasmita
Sari Pediatri Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.841 KB) | DOI: 10.14238/sp11.2.2009.124-9

Abstract

Tuberkulosis (TB) masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak di dunia, namunkurang mendapat prioritas dalam penanggulangannya. Data surveilans dan epidemiologi TB pada anak jarangdidapat. Hal ini disebabkan berbagai faktor antara lain sulitnya diagnosis TB anak, meningkatnya TB ekstraparu pada anak, tidak adanya standar baku definisi kasus, dan prioritas yang kurang diberikan pada TB anakdi banding TB dewasa. Berbagai penelitian menunjukkan prevalensi TB anak tinggi, namun umumnya tanpakonfirmasi pemeriksaan bakteri tahan asam (BTA) positif. Salah satu indikator untuk menilai situasi TB dikomunitas adalah dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI), adalah indeks epidemiologi yangdipakai untuk evaluasi dan monitor keadaan tuberkulosis di suatu komunitas atau negara. Perbedaan angkamorbiditas dan mortalitas TB di berbagai negara dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko, dibedakan antararisiko infeksi TB dan sakit TB.
Respons Imun Terhadap Infeksi Bakteri Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 2, No 4 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.4.2001.193-7

Abstract

Guna menjaga integritas dan identitas individu diperlukan suatu sistem pertahanan tubuhyang adekuat. Mekanisme imunitas terhadap antigen yang berbahaya meliputi pertahananfisik dan kimiawi, simbiosis dengan bakteri flora normal, innate immunity serta imunitasspesifik yang didapat, terdiri dari imunitas humoral serta imunitas selular (cell mediatedimmunity). Antigen Major Histo Compatibility (MHC) berperan pada presentasi antigenoleh makrofag. Respons imun terhadap bakteri meliputi bakteri ekstra seluler dan intraselular. Pada infeksi bakteri yang berat dapat terjadi kelelahan respons imun (exchaustion),dalam keadaan ini pemberian terapi penunjang imunoglobulin intra vena dapatdipertimbangkan.
Penggunaan Sildenafil pada Anak dengan Hipertensi Pulmonal Sri Endah Rahayuningsih; Nono Sumarna; Armijn Firman; Dani Kurnia
Sari Pediatri Vol 6, No 3 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.3.2004.125-8

Abstract

Hipertensi pulmonal merupakan penyakit yang jarang akan tetapi mempunyai tingkatmortalitas yang tinggi. Peran vasodilator, menurut beberapa penelitian dapatmeningkatkan survival rate pasien hipertensi pulmonal. Beberapa laporan kasusmemperlihatkan efektifitas sildenafil sebagai PDE5 inhibitor dalam menurunkan tekananrata-rata arteri pulmonal. Oleh karena itu sildenafil dapat dipertimbangkan sebagai pilihanterapi untuk anak dengan hipertensi pulmonal
Pandangan Baru Pengobatan Glomerulonefritis Dany Hilmanto
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.1-6

Abstract

Glomerulonefritis merupakan penyakit yang diduga melibatkan mekanisme imunologis, dapat menimbulkanreaksi peradangan berat serta pembentukan jaringan fibrosis pada glomerulus. Pengobatan terbaruglomerulonefritis mempunyai dua tujuan yaitu menekan proses peradangan dan menghambat progresifitasfibrosis glomerulus, sehingga gagal ginjal terminal dapat dicegah. Obat yang digunakan untuk menekanproses peradangan adalah mikofenolat mofetil, rapamycin, anti-molekul adhesi, anti-sitokin inflamasi,antibodi monoklonal anti-CD20, dan anti-siklooksigenase-2. Obat yang dapat menghambat progresivitasfibrosis glomerulus adalah antagonis angiotensin II dan pirfenidone. Pengembangan obat baru untukmengatasi peradangan dan mencegah fibrosis pada glomerulonefritis, diharapkan dapat mencegah terjadinyagagal ginjal terminal pada anak

Page 46 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue