cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Kadar Bilirubin Neonatus dengan dan Tanpa Defisiensi Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase yang Mengalami atau Tidak Mengalami Infeksi Kamilah Budhi Rahardjani
Sari Pediatri Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.2.2008.122-8

Abstract

Latar belakang. Hiperbilirubinemia merupakan salah satu masalah tersering pada neonatus yang dapat menyebabkan kerusakan sel-sel otak. Defisiensi enzim G6PD merupakan salah satu faktor risiko terjadinya hiperbilirubinemia pada neonatus dan merupakan penyebab tersering ikterus dan anemia hemolitik akut di Asia Tenggara. Infeksi dapat menyebabkan terjadinya hemolisis, akan lebih berat pada defisiensi G6PD.Tujuan. Membedakan kadar bilirubin antara neonatus dengan dan tanpa defisiensi G6PD, yang mengalami atau tidak mengalami infeksi.Metode. Desain penelitian adalah belah lintang. Subjek 101 bayi dirawat di RS Dr. Kariadi Semarang sejak Januari hingga Juni 2006. Dibagi menjadi 4 kelompok (1) neonatus dengan defisiensi G6PD mengalami infeksi, (2) neonatus dengan defisiensi G6PD tanpa infeksi, (3) neonatus dengan G6PD normal mengalami infeksi, dan (4) neonatus dengan G6PD normal tanpa infeksi. Perbedaan rerata antar kelompok diuji dengan Mann-Whitney u test dan Kruskall-Wallis, dengan SPSS versi 13.Hasil. Lima belas persen neonatus mengalami defisiensi G6PD dan 38,6% infeksi. Kadar bilirubin total kelompok neonatus defisiensi G6PD (15,78 ± 7,01) mg/dL lebih tinggi dibanding neonatus G6PD normal (12,94 ± 6,71) mg/dL, tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,11) antara kedua kelompok tersebut. Kadar bilirubin rerata kelompok 1 (21,21 + 6,84) mg/dL lebih tinggi dibanding ketiga kelompok lain, kelompok 2 (11,53 + 3,53) mg/dL, (p=0,002), kelompok 3 (14,56 + 7,49) mg/dL, (p=0,002), dan kelompok 4 (11,62 + 5,9) mg/dL, secara statistik terdapat perbedaan bermakna kadar bilirubin pada ke-4 kelompok (p= 0,000).Kesimpulan. Kadar bilirubin total neonatus defisiensi G6PD lebih tinggi dibanding neonatus G6PD normal. Infeksi pada neonatus defisiensi G6PD meningkatkan kadar bilirubin secara bermakna
Hubungan antara Kadar Zink Plasma dengan Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas (GPP/H) Sir Panggung T.S; Retno Sutomo; Amalia Setyati
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.205-9

Abstract

Latar belakang. Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (GPP/H) atau attention deficit/ hyperactivity disorder (ADHD)merupakan gangguan neuro-behavioral yang paling sering pada anak dengan dampak besar bagi individu dan masyarakat. PrevalensiGPP/H di Indonesia 0,4% - 26,2%. Penelitian di berbagai negara menunjukkan keterlibatan zink dalam etiologi dan terapi GPP/H.Belum didapatkan data mengenai hubungan antara kadar zink plasma dengan GPP/H pada anak di Indonesia.Tujuan. Mengetahui hubungan antara kadar zink plasma dengan GPP/H pada anak.Metode. Penelitian kasus kontrol dilaksanakan di RSUP Dr. Sardjito dan Pusat Pengkajian dan Pengamatan Tumbuh KembangAnak (P3TKA) Yogyakarta pada Desember 2010-Maret 2011. Subyek adalah adalah 69 anak berusia 3-18 tahun, 34 anakdengan GPP/H dan 35 kontrol. Kadar zink plasma diperiksa dari sampel darah vena menggunakan metode atomic absorbancespectrophotometry (AAS). Analisis statisik menggunakan analisis deskriptif dan analisis bivariat dengan uji Chi-square terhadapperbedaan proporsi defisiensi zink antara kelompok kasus dan kontrol.Hasil. Proporsi defisiensi zink pada anak yang menderita GPP/H lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak menderita GPP/H,dengan nilai p=0,028, OR sebesar 8,8 (IK95% antara 1,02-76,07).Kesimpulan. Proporsi defisiensi zink pada anak yang menderita GPP/H lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak menderitaGPP/H, zink kemungkinan mempunyai peran dalam kejadian GPP/H.
Gangguan Kognitif pada Anemia Defisiensi Besi Lily Irsa
Sari Pediatri Vol 4, No 3 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.3.2002.114-8

Abstract

Anemia defisiensi besi masih merupakan masalah kesehatan terutama di negara yangsedang berkembang. Zat besi banyak dibutuhkan otak karena metabolisme oksidasinyayang tinggi. Beberapa enzim dalam proses oksidasi dan metabolisme sel membutuhkanbesi. Gangguan kognitif pada anemia defisiensi besi telah banyak diteliti. Beberapa halyang berhubungan dengan gangguan kognitif pada anemia defisiensi telah dikemukakan;terganggunya enzim-enzim yang berperan dalam metabolisme otak, gangguan dalammielinisasi dan terganggunya oksigenasi sel. Pada pemeriksaan terhadap bayi yangmenderita anemia defisiensi besi didapatkan skor Mental Development Index (MDI)yang rendah dan Infant Behavior Record (IBR) memperlihatkan perbedaan emosi. Padaanak usia sekolah didapatkan prestasi belajar yang rendah dan konsentrasi belajar yangsingkat.
Sindrom Nefrotik Sekunder pada Anak Dengan Limfoma Hodkin Partini Pudjiastuti T; Djajadiman Gatot
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.37-42

Abstract

Sindrom nefrotik sekunder ialah sindrom nefrotik yang berhubungan dengan penyakitatau kelainan sistemik, seperti keganasan. Diantara keganasan tersebut adalah penyakitHodgkin yang ditandai dengan limfadenopati. Beberapa kasus datang dengan gejalayang tidak biasa, di antaranya adalah sindrom nefrotik (0,4%). Sindrom nefrotik dapatmerupakan salah satu sindrom paraneoplastik yaitu kumpulan sindrom klinis yangmenyertai penyakit keganasan, yang timbul akibat efek sistemik keganasan tersebutnamun bukan akibat metastasis. Laporan kasus ini membahas tentang sindrom nefrotiksekunder sebagai manifestasi sindrom paraneoplastik pada pasien limfoma Hodgkin.Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun datang ke poliklinik Hematologi-OnkologiDepartemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RS Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) dengankeluhan bengkak di seluruh tubuh dengan oliguria. Diagnosis limfoma Hodgkin telahditegakkan satu bulan sebelumnya, berdasarkan pemeriksaan patologi anatomi. Tumorprimer berada di kuadran kanan bawah rongga abdomen, serta didapatkan pembesarankelenjar getah bening, soliter, di daerah inguinal kanan. Pemeriksaan laboratoriummenunjukkan adanya anemia, peningkatan laju endap darah (LED), proteinuria masif,hipoalbuminemia, hiperkolesterolemia, dan fungsi ginjal yang normal. Pemeriksaanfoto toraks, CT-scan abdomen, aspirasi sumsum tulang, tes sitologi terhadap urin dancairan serebrospinal, tidak menunjukkan adanya metastasis jauh. Pasien didiagnosissebagai sindrom nefrotik sekunder dan penyakit Hodgkin stadium 2. Pasien mendapatterapi berupa furosemid, infus albumin, prednison, dan sitostatik, yang terdiri darisiklofosfamid, vinkristin, etoposid, doxorubisin, bleomisin serta vinblastin.
Evaluasi Penggunaan Metode Prechtl untuk Menilai Kualitas Gerakan Spontan Bayi Muda Sehat: Pengalaman RSU Dr. Soetomo Surabaya Ahmad Suryawan; Komang Ayu Witarini; Risa Etika; Fatimah Indarso; Irwanto Irwanto; Moersintowati B. Narendra; Sylviati M. Damanik
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.375 KB) | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.363-9

Abstract

Latar belakang. Penilaian kualitas gerakan spontan pada bayi dengan metode “General movements (GMs)”dari Prechtl mempunyai validitas tinggi untuk memprediksi risiko gangguan perkembangan anak. MetodeGMs masih relatif baru di Indonesia, sehingga dibutuhkan evaluasi aspek praktikalnya untuk dapatdiaplikasikan secara optimal.Tujuan. Mengetahui kondisi paling optimal untuk menilai kualitas gerakan spontan bayi muda sehatmenggunakan metode GMs dari Prechtl.Metode. Dilakukan rekaman video secara berurutan pada bayi yang memenuhi kriteria inklusi lahir sehat,cukup bulan, tanpa risiko, dan mendapat persetujuan tertulis dari orangtua, lahir di RSU Dr Soetomo-Surabaya pada kurun waktu Desember 2006-Januari 2007. Teknik perekaman dilakukan sesuai standarisasiPrechtl, dengan berbagai variasi waktu dan kondisi. Analisis video rekaman dilakukan secara persepsiGestalt oleh salah satu peneliti, yang sebelumnya telah mendapat kursus dan sertifikat metode GMs.Parameter aspek praktikal untuk evaluasi digolongkan: optimal dan tidak optimal.Hasil. Tidak didapatkan penolakan dari orang tua untuk seluruh 56 bayi yang memenuhi kriteria inklusi.Tiga (5,4%) video yang tidak dapat dianalisis karena faktor kesalahan teknis perekaman. Kualitas GMslebih optimal untuk dianalisis apabila perekaman dilakukan pada waktu siang hari dibandingkan waktupagi (p=0,026) atau malam (p=0,045), dan dilakukan 30 menit sebelum waktu minum, dibandingkan 30menit sesudahnya (p=0,032). Tingkat kesulitan analisis tidak berbeda bermakna apabila perekamandilakukan di tempat yang khusus dibandingkan dilakukan di boks (p=0,156) atau inkubator (p=0,466).Kesimpulan. Metode Prechtl dapat diterapkan dengan praktis dan optimal apabila pengambilan videodilakukan pada waktu siang hari dan 30 menit sebelum waktu minum. Tempat pengambilan rekamantidak mempengaruhi segi kepraktisannya
Efikasi dan Toleransi Monoterapi Topiramate pada Epilepsi Prastiya Indra Gunawan
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.195-200

Abstract

Latar belakang. Epilepsi merupakan masalah besar dalam bidang pediatri, masih terdapat 10%-15% pasien yang resisten terhadap pengobatan. Topiramate sebagai obat antiepilepsi baru mempunyai spektrum luas untuk anti kejang. Penelitian sebagai add on therapy dan monoterapi dewasa membuktikan topiramate mempunyai potensi yang baik. Data efektifitas dan efek samping topiramate sebagai monoterapi pada anak-anak masih sulit didapatkan.Tujuan. Menilai efikasi dan toleransi topiramate untuk monoterapi pasien pediatri dengan epilepsi.Metode. Penelitian pra-eksperimental dilakukan di Poliklinik Neurologi Anak RSUD Dr Soetomo, Surabaya dengan 15 subjek. Subjek yang sesuai kriteria diberikan terapi topiramate dan dilakukan pengukuran frekuensi kejang, serta efek samping pada minggu 1, 4, 8, 12, 16, 20, dan 24. Gambaran EEG dan pemeriksaan laboratorium dilakukan sebelum dan sesudah terapi selama 6 bulan. Analisis statistik menggunakan T-test for related samples dan McNemar.Hasil. Frekuensi kejang awal 2,7 (1,16) menjadi 0,13 (0,51) dengan 93,7% pasien bebas kejang pada minggu ke-20 (p=0,000). Gambaran EEG awal menunjukkan aktifitas epileptiform menjadi normal pada 20% subyek. Tigapuluh persen sampel mengalami penurunan nafsu makan pada saat awal terapi, dan 7% mengalami rasa kantuk.Kesimpulan. Terdapat reduksi frekuensi kejang dan tidak terdapat perubahan EEG pasca pemberian pemberian topiramate. Efek samping yang ditemukan adalah mengantuk dan penurunan nafsu makan.
Hubungan Status Gizi dan Kekerapan Sakit Balita Penghuni Rumah Susun Kemayoran Jakarta-Pusat Aryono Hendarto; Dahlan Ali Musa
Sari Pediatri Vol 4, No 2 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.958 KB) | DOI: 10.14238/sp4.2.2002.88-97

Abstract

Populasi anak merupakan kelompok yang paling mempunyai risiko mengalami kematiandi negara berkembang dan kematian tersebut sebagian besar disebabkan oleh penyakityang dapat dicegah. Angka kematian balita menggambarkan factor-faktor yanglingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan anak. Balita seperti gizi, sanitasi,penyakit menular dan kecelakaan. Rumah merupakan salah satu lingkungan fisik yangmendukung anak dalam melakukan aktifitas fisik untuk mengembangkan kemampuanmotorik dengan bermain dan rekreasi untuk mengembangkan kreasi dan menambahpengalaman. Masalah permukiman di perkotaan mempunyai hubungan langsung dantidak langsung terhadap kesehatan anak. Keterbatasan dana yang dimiliki orang tua,menyebabkan banyak anak di kota besar terpaksa harus tinggal di pemukiman kumuh.Untuk mengatasi hal ini pemerintah memindahkan mereka dari pemukiman yang kumuhke pemukiman yang layak huni. Karena keterbatasan lahan untuk pembangunanperumahan biasa, maka dibangun rumah susun. Penelitian di beberapa rumah susunmelaporkan bahwa ditemukan beberapa factor yang berpengaruh bukan saja terhadaptumbuh kembang, tetapi juga morbiditas dan mortalitas balita. Penelitian cross sectionaldi rumah susun Kemayoran terhadap 213 balita menunjukkan bahwa prevalensi penyakitselama 1 bulan penelitian sebesar 45.9%. Penyakit-penyakit yang ditemukan pada balitayang tinggal di pemukiman biasa seperti seperti infeksi saluran napas akut, infeksi kulit,panas, batuk kronik berulang, campak, gastroenteritis akut dan kecelakaan jugaditemukan di rumah susun Kemayoran. Ditemukan pula bahwa kekerapan sakit tidakberhubungan dengan status gizi, melainkan dengan kepadatan hunian.
Hernia Bochdalek IGN Sanjaya Putra; Abdul Hamid; IN Semadi
Sari Pediatri Vol 7, No 4 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.131 KB) | DOI: 10.14238/sp7.4.2006.232-6

Abstract

Hernia diafragmatika adalah masuknya organ-organ abdomen melalui defek (lubang) padadiafragma ke dalam rongga toraks. Secara umum terdapat tiga tipe dasar herniadiafragmatika yaitu hernia Bochdalek (melalui defek posterolateral), hernia Morgagni(melalui defek anterio retrosternal) dan hiatus hernia. Diagnosis ditegakkan berdasarkananamnesis, gejala klinik, pemeriksaan radiologik, dan laboratorium. Insiden pasti herniadiafragma sulit diperkirakan karena separuhnya meninggal dalam kandungan ataumeninggal saat neonatus belum dibawa ke pusat rujukan atau sebelum diagnosis ditegakkan.Insiden hernia Bochdalek dilaporkan 1 : 2000-4000 kelahiran hidup dengan perbandinganjenis kelamin laki-laki : perempuan adalah 1,5 : 1. Hernia Bochdalek memberikan gejalakardiopulmonal yang berat, seperti sesak nafas segera setelah lahir dengan mortalitas yangtinggi, 40-50% sebelum pemakaian dan 30 %, setelah pemakaian Extracorporeal MembraneOxygenation (ECMO). Pembedahan dilaksanakan setelah kondisi bayi stabil.
Efektivitas Pemeriksaan Prokalsitonin Sebagai Petanda Dini Sepsis pada Anak Arie L. Runtunuwu; Jeanette I. C. Manoppo; T.H. Rampengan; Novie H. Rampengan; Suyanto Kosim
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.319-22

Abstract

Latar belakang. Sepsis merupakan penyebab utama kematian bayi dan anak di rumah sakit. Diagnosisawal dan pengobatan segera, merupakan cara terbaik untuk penanganan sepsis. Pemeriksaan biakan darahmerupakan cara paling efektif mendiagnosis sepsis namun membutuhkan waktu cukup lama, sehinggadiperlukan pemeriksaan tambahan untuk mendiagnosis sepsis dengan cepat dan akurat yaitu prokalsitonin.Tujuan. Mendapatkan cara mudah dan cepat untuk mendiagnosis sepsis.Metode. Pemeriksaan uji diagnostik dengan pendekatan cross sectional dilakukan pada 56 anak yangdirawat di Bagian Anak RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dari Oktober 2005 - Januari 2006, usia 1bulan - 13 tahun dengan diagnosis sepsis sesuai modifikasi kriteria Bone.Hasil. Dilakukan penilaian sensitivitas, spesifitas, nilai duga positif dan nilai duga negatif. Dari 56 sepsislaki-laki 33 (58,9 %) dan perempuan 23 (41,1 %). Analisis statistik menggunakan uji Z untuk prokalsitonindidapatkan sensitivitas 80,0 %, spesifisitas 11,54 % dengan nilai duga positif 51,1 % serta nilai duganegatif 33,3%.Kesimpulan. Pemeriksaan prokalsitonin dapat digunakan sebagai alat diagnosis dini sepsis pada bayi dananak.
Korelasi Nilai APGAR Menit Kelima Kurang dari Tujuh dengan Kadar Transaminase Serum pada Bayi Baru Lahir Ali K Alhadar; Idham Amir; Hanifah Oswari; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.323-7

Abstract

Latar belakang. Asfiksia dapat menyebabkan disfungsi multiorgan pada bayi baru lahir. Belum ada bakuemas mengenai definisi asfiksia. Hingga saat ini belum ada data di FKUI/RSCM mengenai insidens disfungsihati pada bayi yang mengalami asfiksia.Tujuan. Mengetahui insidens disfungsi hati pada bayi baru lahir dengan nilai Apgar menit kelima kurangdari 7 serta mengetahui korelasi antara nilai Apgar menit kelima kurang dari 7 dengan parameter uji fungsihati (AST/SGOT, ALT/SGPT, bilirubin total, bilirubin direk, bilirubin indirek serta waktu protrombin).Penelitian dilakukan di 5 rumah sakit di Jakarta dan Tangerang.Metode. Studi analitik potong lintang sejak Januari-Mei 2010. Subjek penelitian adalah bayi usia gestasi􀁴37 minggu dengan nilai Apgar menit kelima kurang dari 7. Dilakukan satu kali pemeriksaan uji fungsihati dalam rentang waktu usia bayi 24-96 jam. Bayi mengalami disfungsi hati bila didapatkan nilai ASTatau ALT lebih dari 100 U/L.Hasil. Disfungsi hati ditemukan pada 16 (34%) bayi dari 47 bayi dengan asfiksia. Tidak ada subjek yangmengalami kolestasis. Terdapat 5 (11%) subjek dengan pemanjangan PT >1,5 kali nilai kontrol. Tidak terbuktiterdapat korelasi antara nilai Apgar menit kelima kurang dari 7 dengan parameter uji fungsi hati.Kesimpulan. Bayi dengan nilai Apgar menit kelima kurang dari 7 mempunyai kecenderungan mengalamidisfungsi hati. Namun pada bayi dengan nilai Apgar menit kelima kurang dari 7, tidak terbukti adanyakorelasi.

Page 45 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue