cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Sferositosis Herediter: laporan kasus Teny Tjitra Sari; Ismi Citra Ismail
Sari Pediatri Vol 11, No 4 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.166 KB) | DOI: 10.14238/sp11.4.2009.298-304

Abstract

Sferositosis herediter (SH) merupakan salah satu jenis anemia hemolitik yang disebabkan defek molekularpada satu atau lebih protein sitoskleletal sel darah merah. Diagnosis SH sulit untuk ditegakkan karenatidak ada tanda atau gejala yang patognomonik. Seorang bayi laki-laki, usia 5 bulan datang dirujuk seorangdokter spesialis anak dengan dugaan talasemia dan riwayat batuk dan pilek, demam yang tidak terlalu tinggi,kurang aktif, dan didapatkan kadar hemoglobin (Hb) 6,4 g/dL. Diagnosis sferositosis herediter ditegakkanberdasarkan adanya riwayat kuning saat neonatus, anemia, splenomegali, ditemukannya sferosit yang banyakpada pemeriksaan darah tepi, dan analisis protein membran eritrosit menunjukkan defisiensi spektrin alfa.Pasien diberi asam folat dan transfusi darah. Splenektomi belum terindikasi karena anemia masih dapatdikompensasi oleh sumsum tulang.
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Vaksin Kombinasi DPwT (Sel Utuh) dan Hepatitis B Diana Mettadewi Jong; Adji Suranto; Hartono Gunardi; Alan R Tumbelaka
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.72-6

Abstract

Indonesia merupakan wilayah dengan endemis tinggi hepatitis B, maka vaksinasi hepatitisB (hep B) merupakan solusi terbaik untuk mencegah penyakit ini. Kombinasi hep Bdengan DPwT (pertusis whole cell) = sel utuh dalam satu kemasan, memberikankenyamanan pada pasien dan memudahkan pelayanan kesehatan. Di samping keuntunganini, kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) vaksin ini perlu diperhitungkan. Untukmengetahui KIPI vaksin ini, dilakukan studi prospektif pada 74 bayi berumur 2-6 bulandi Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSCM Jakarta antara Juli 2000 sampai dengan Maret2001. Bayi-bayi tersebut diberi 3 dosis vaksin kombinasi DPT dan hep B (DPwT/hepB) dengan selang waktu 5 minggu. Kartu observasi harian terhadap gejala yang timbulselama 5 minggu pasca imunisasi diisi orangtua dan data dikumpulkan pada kunjunganberikutnya. Umumnya KIPI timbul kurang dalam 72 jam setelah pemberian vaksin.Frekuensi KIPI tersering adalah demam (58,8%) diikuti oleh rewel (31,7%) dan demamtinggi (16,2%). Kejang umum timbul pada 1 kasus setelah pemberian dosis pertamadan pada 1 kasus lain kejang disertai demam tinggi. Setelah pemberian dosis ketigapada kedua kasus tersebut, pasien mendapat antipiretik dan kejang berhenti tanpapengobatan anti kejang. Tidak ditemukan KIPI pada vaksin DPwT/hep B yangmemerlukan perawatan di rumah sakit. KIPI yang didapatkan umumnya bersifat ringansampai sedang.
Hipertensi pada Remaja Johannes H. Saing
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.091 KB) | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.159-65

Abstract

Pengukuran tekanan darah saat pemeriksaan kesehatan rutin terhadap remaja akanmemungkinkan ditemukannya hipertensi asimptomatik yang signifikan oleh karenapenyakit yang tidak diketahui, dan memperkuat pernyataan bahwa sering terjadi kenaikantekanan darah yang ringan pada remaja. Penyebab hipertensi pada remaja (usia 13-18tahun) yang paling sering adalah hipertensi esensial (80%), diikuti penyakit ginjal.Hipertensi esensial pada remaja dapat merupakan lanjutan dari masa kanak-kanak danberlanjut ke masa dewasa. Remaja dengan tekanan darah di atas persentil ke-90 menurutumur memerlukan pemeriksaan berkala. Remaja dengan hipertensi ringan yangasimptomatik hanya memerlukan pemeriksaan yang sederhana. Tujuan tata laksanahipertensi pada remaja, untuk menurunkan tekanan darah di bawah persentil ke-95 danmencegah komplikasi. Tata laksana ini mencakup non farmakologik dan farmakologik
Pengaruh Penambahan Bifidobacterium dalam Susu terhadap Perkembangan Mikroflora Saluran Cerna Anak Usia 12-24 Bulan Mien Karmini; Badriul Hegar; Budi Agus Pranoto
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.2.2007.87-92

Abstract

Latar belakang. Bifidobacterium telah diketahui sebagai mikroflora saluran cerna yang dominan padabayi dan mempunyai efek positif bagi kesehatan. Namun, dengan bertambahnya usia jumlah mikrofloratersebut menurun dan digantikan oleh bakteri lain termasuk bakteri patogen.Tujuan Penelitian. Mengetahui pengaruh pemberian susu yang mengandung Bifidobacterium terhadapperkembangan mikroflora saluran cerna dan respon imun pada anak usia 12-24 bulan.Metode. Randomized double blind controlled trial, pengamatan dilakukan selama 4 minggu dengan datayang dikumpulkan meliputi antropometri, jumlah Bifidobacterium dalam tinja, dan titer antibodi.Hasil. Bifidobacterium dalam susu formula dapat meningkatkan jumlah Bifidobacterium dan Lactobacillusdalam saluran cerna anak dan menurunkan jumlah bakteri Coliform. Konsumsi susu formula yangmengandung Bifidobacterium juga dapat meningkatkan sistem imun humoral. PenambahanBifidobacterium ke dalam susu formula tidak mempengaruhi aseptabilitas anak.Kesimpulan. Penambahan Bifidobacterium longum BB536, B. breve M16V, dan B. infantis M63 padasusu formula untuk anak usia di atas 1 tahun dapat meningkatkan mikroflora saluran cerna Bifidobacteriadan Lactobacillus serta menekan pertumbuhan bakteri merugikan, Coliform. Pemberian Bifidobacteriadalam susu formula meningkatkan beberapa komponen sistem imun
Pilihan Terapi Empiris Demam Tifoid pada Anak: Kloramfenikol atau Seftriakson? Sondang Sidabutar; Hindra Irawan Satari
Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.6.2010.434-9

Abstract

Demam tifoid pada anak besar (lebih dari usia sepuluh tahun) pada umumnya mempunyai gambaran klinisdemam tifoid menyerupai dewasa. Demikian juga derajat berat penyakit akan lebih parah dibandingkanpasien anak yang lebih muda. Oleh karena itu, pengamatan keadaan klinis pasien selama mendapatpengobatan harus dievaluasi dengan cermat terutama mengenai parameter keberhasilan pengobatan sepertikeadaan umum, suhu, gejala intestinal, komplikasi baik intra maupun ekstra intestinal, hitung leukosit, fungsihati, dan asupan cairan serta nutrisi. Pemeriksaan biakan darah terhadap Salmonella typhi merupakan bakuemas untuk diagnosis demam tifoid. Walaupun pada saat ini telah terdapat berbagai uji diagnostik cepat(rapid diagnostic test) yang dapat dipergunakan untuk pasien rawat jalan, untuk pasien rawat inap harusdilakukan pemeriksaan biakan Salmonella typhi. Selain untuk menegakkan diagnosis, adanya biakan positifsangat berguna untuk menilai apakah pengobatan empiris yang diberikan saat pertama kali pasien datang kerumah sakit sudah tepat. Perlu diperhatikan bahwa uji resistensi bakteri harus disertakan pada hasil biakan.Hasil uji resistensi diperlukan dalam menilai antibiotik pilihan alternatif apabila pengobatan empiris tidakseperti yang kita harapkan. Kloramfenikol sampai saat ini masih merupakan pengobatan lini pertama untukdemam tifoid pada anak yang dirawat di Departemen Ilmu Kesehatan RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.Namun saat ini banyak dilaporkan adanya keadaan multidrug resistance Salmonella typhi (MDSRT), sepertidilaporkan di Pakistan, Mesir, dan Thailand. Maka untuk kasus MDRST diberikan pilihan pengobatanlini kedua yaitu seftriakson atau kuinolon. Namun karena penggunaan kuinolon masih kontroversi untukanak mengingat dapat menyebabkan artropati, maka seftriakson menjadi pilihan kedua untuk demam tifoidpada anak.
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Sri Rezeki S. Hadinegoro
Sari Pediatri Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.1.2000.2-10

Abstract

Dalam era globalisasi, imunisasi merupakan upaya pencegahan penyakit infeksi menujumasa depan anak yang lebih sehat. Peningkatan pemberian imunisasi harus diikuti denganpeningkatan efektifitas dan keamanan vaksin. Walaupun demikian, peningkatanpenggunaan vaksin akan meningkatkan pula kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI)yang tidak diinginkan. Guna mengetahui apakah KIPI yang terjadi disebabkan olehimunisasi, maka diperlukan pelaporan pencatatan dari semua reaksi yang timbul setelahpemberian imunisasi. Reaksi KIPI dapat dipantau melalui sistim surveilans yang baikuntuk mendapatkan profil keamanan penggunaan vaksin di lapangan. Untuk mengetahuibesaran masalah KIPI di Indonesia diperlukan pelaporan dan pencatatan KIPI dankoordinasi antara pengambil keputusan dengan petugas pelaksana di lapangan, gunamenentukan sikap dalam mengatasi KIPI yang terjadi. Diharapkan surveilans KIPI dapatmembantu program imunisasi, khususnya untuk memperkuat keyakinan masyarakatakan pentingnya imunisasi sebagai upaya pencegahan penyakit yang paling efektif.
Terapi Nonsteroid Anti Inflammatory Drug pada Bayi Prematur dengan Duktus Arteriosus Persisten Sri Endah Rahayuningsih; Nono Sumarna; Armijn Firman; Yunita Sinaga
Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.2.2004.71-4

Abstract

Duktus arteriosus persisten (DAP) adalah penyakit jantung bawaan yang terjadi pada 9-12 % dari seluruh pasien penyakit jantung bawaan. Insidens DAP lebih tinggi pada bayiprematur, keadaan ini berhubungan dengan maturitas bayi. Penutupan duktus arteriosuspersisten pada bayi prematur tidak selalu memerlukan terapi bedah, tetapi dapat denganpemberian indometasin dan ibuprofen. Penelitian penelitian yang telah dilakukanmenunjukkan bahwa ibuprofen mempunyai efek samping obat lebih sedikit dibandingkandengan indometasin, sehingga ibuprofen dapat digunakan sebagai terapi DAP pada bayiprematur
Nutrisi Parenteral Total pada Bayi Prematur Widiasa Widiasa; Suandi Suandi; I. Wayan Retayasa
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.545 KB) | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.39-43

Abstract

Abstrak. Dengan makin pesatnya perkembangan bidang perinatologi, makin banyak bayi kecil yangterselamatkan. Pemberian nutrisi pada bayi prematur merupakan suatu tantangan, karena nutrisi yangdidapat langsung dari plasenta kini harus diberikan peroral. Pemberian nutrisi parenteral total (NPT)ataupun nutrisi parenteral parsial (NPP), merupakan sarana utama dalam perawatan bayi prematur.Pemberian NPT dapat dilakukan melalui jalur perifer atau sentral sesuai dengan kondisi bayi. Larutannutrisi parenteral yang diberikan harus mengandung glukosa, protein, lemak dan multivitamin. Monitoringyang ketat harus dilakukan secara periodik dan berkala untuk mengindari komplikasi baik mekanik,metabolik, ataupun infeksi
Perubahan Epidemiologi Demam Berdarah Dengue Di Indonesia Mulya Rahma Karyanti; Sri Rezeki Hadinegoro
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.6.2009.424-32

Abstract

Dengue berdarah dengue yang ditularkan melalui vektor nyamuk Aedes aegypty masih merupakan masalah kesehatan penting di dunia. Di Indonesia, demam berdarah dengue mulai dikenal pertama kali pada tahun 1968 di DKI Jakarta dan Surabaya, dan terus menyebar ke seluruh tiga puluh tiga propinsi di Indonesia. Pola epidemiologi infeksi dengue mengalami perubahan dari tahun ke tahun, jumlah kasus memuncak setiap siklus 10 tahunan. Dari tahun 1968-2008 angka kesakitan demam berdarah dengue terus meningkat. Pada tahun 2008 didapatkanangka kesakitan 58,85/ 100.000 penduduk. Angka kematian menurun dengan stabil dari 41% pada tahun 1968 menjadi kurang dari 2% sejak tahun 2000, dan pada tahun 2008 angka kematian menurun menjadi 0,86%.Semua serotipe virus dengue ditemukan di Indonesia, namun serotipe virus den-3 masih dominan menyebabkan kasus dengue yang berat dan fatal. Surveilans epidemiologi, dukungan edukasi masyarakat dan program pengendalian vektor diperlukan untuk mencegah transmisi. Pengembangan vaksin dengue merupakan salah satu upaya mencegah penyakit dengue.
Retardasi Mental Titi Sunarwati Sularyo; Muzal Kadim
Sari Pediatri Vol 2, No 3 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.3.2000.170-7

Abstract

Retardasi mental adalah penurunan fungsi intelektual yang menyeluruh secara bermaknadan secara langsung menyebabkan gangguan adaptasi sosial, dan bermanifestasi selamamasa perkembangan. Klasifikasi retardasi mental adalah mild retardation, moderateretardation, severe retardation dan profound retardation.Etiologi retardasi mental dapat terjadi mulai dari pranatal, perinatal dan postnatal.Beberapa penulis secara terpisah menyebutkan lebih dari 1000 macam penyebabterjadinya retardasi mental, dan banyak diantaranya yang dapat dicegah. Ditinjau daripenyebab secara langsung dapat digolongkan atas penyebab biologis dan psikososial.Diagnosis retardasi mental tidak hanya didasarkan atas uji intelegensia saja, melainkanjuga dari riwayat penyakit, laporan dari orangtua, laporan dari sekolah, pemeriksaanfisis, laboratorium, pemeriksaan penunjang.Tata laksana retardasi mental mencakup tatalaksana medis, penempatan di panti khusus,psikoterapi, konseling, dan pendidikan khusus. Pencegahan retardasi mental dapat primer(mencegah timbulnya retardasi mental), atau sekunder (mengurangi manifestasi klinisretardasi mental).

Page 52 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue