cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Malnutrisi Rumah Sakit Pada Bangsal Anak Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Aidah Juliaty Aidah Juliaty
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.65-8

Abstract

Latar belakang. Malnutrisi rumah sakit (MRS) ditandai dengan penurunan berat badan saat dirawat di rumah sakit. Kejadian MRS erat kaitannnya dengan dukungan nutrisi selama perawatan. Tujuan. Menentukan prevalensi MRS pada pasien yang dirawat di bangsal anak Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar.Metode.Penelitian observasional kohort retrospektif yang berlangsung dari Januari sampai Desember 2011 di Rumah Sakit Dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Jumlah sampel 1268 menggunakan indikator berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) menurut CDC 2000. Hasil. Prevalensi MRS perempuan 0,12%, dan laki-laki 0,11%. Tertinggi 0,16% pada kelompok umur 25-36 bulan, dan terendah 0,03% pada kelompok umur 49-60 bulan. Pada kelompok subyek tersebut, 0,15% dengan diagnosis multipel, 0,05% dengan diagnosis tunggal, 0,27% status gizi buruk, 0,12% gizi kurang, dan 0,8% gizi baik. Dari subdivisi infeksi diperoleh kejadian MRS 0,17%, dan non infeksi 0,07%(OR 1,1), serta lama rawat >7 hari 0,25%, dan 2-7 hari 0,07%.Kesimpulan.Anak yang dirawat lebih dari satu minggu dengan penyakit kronis dan diagnosis multipel mempunyai risiko MRS lebih besar dibandingkan anak yang dirawat kurang dari seminggu. Penyakit infeksi mempunyai faktor risiko lebih besar mengalami MRS daripada penyakit non infeksi.
Telaah Kritis Makalah Uji Diagnostik Alan R. Tumbelaka
Sari Pediatri Vol 4, No 2 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.163 KB) | DOI: 10.14238/sp4.2.2002.98-102

Abstract

sebagai klinisi, menegakkan diagnosis merupakanbagian terbesar dalam pekerjaansehari-hari kita. Menyadari betapa seringnyakita harus menegakkan diagnosis sebagaibagian tatalaksana pasien, maka jelas sangat pentingbila diagnosis yang tepat dapat ditegakkan. Bila kitamenginginkan suatu diagnosis yang berbasis buktimedis, maka beberapa pertanyaan akan timbul, yaitu:1• Bagaimana caranya membuat diagnosis klinismenjadi lebih memiliki basis bukti?• Bagaimana cara mendapatkan upaya diagnosisyang baik, serta membuktikan kesahihannyaberbasis bukti, dan secara tepat mengimplementasikannyapada pasien kita?• Hal-hal apakah yang diperlukan untuk mampumelakukan prosedur di atas?
Pentingnya Pencegahan Dini dan Tata laksana Alergi Susu Sapi Sjawitri P Siregar; Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 7, No 4 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.4.2006.237-43

Abstract

Alergi susu sapi (ASS) merupakan penyakit atopik pertama pada seorang anak, karenamekanisme pertahananspesifik dan non-spesifik saluran cerna bayi belum sempurna.Diagnosis ASS harus ditegakkan sedini mungkin karena memberikan gejala klinisberaneka ragam seperti dermatitis atopik, urtikaria, muntah, kolik, diare, batuk kronikberulang, asma sampai anafilaksis. Pemeriksaan baku emas untuk ASS adalah doubleblind placebo controlled food challange (DBPCFC) selain anamnesis, tanda-tanda atopipada pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan imunoglobulin E total dan spesifik susu sapi.Penghindaran susu sapi harus dikerjakan sampai terjadi toleransi sekitar usia 2-3 tahunsehingga harus diberikan susu pengganti formula soya atau susu sapi hidrolisat sempurnadan makanan padat bebas susu sapi dan produk susu sapi. Pencegahan alergi harusdikerjakan sedini mungkin pada anak berisiko atopik, dikenal tiga jenis pencegahanyaitu pencegahan primer, sekunder dan tersier.
Pneumonia Pneumosistis I Wayan Gustawan; BNP Arhana; Putu Siadi Purniti; IB Subanada; K Dewi Kumara Wati
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.328-34

Abstract

Pneumonia pnemosistis merupakan penyebab kesakitan yang serius dan kematian pada kasus gangguansistem imun. Pneumonia pnemosistis merupakan infeksi oportunistik tersering pada kasus yang terinfeksiHIV, leukemia dan anak yang menerima transplantasi organ. Organisme penyebab adalah Pneumocystiscarinii. Manifestasi klinis berupa gangguan pernapasan disertai penyakit dasarnya. Diagnosis pasti ditegakkandengan ditemukannya organisme dalam pemeriksaan mikroskopis. Pengobatan secara umum terdiri daritata laksana suportif dan spesifik. Trimetoprim-sulfametoksasol masih merupakan pilihan pertama baikuntuk terapi maupun profilaksis. Angka kematian masih tinggi, terutama yang terlambat mendapat terapi.
Peran Alkohol 70%, Povidon-Iodine 10% dan Kasa Kering Steril dalam Pencegahan Infeksi pada Perawatan Tali Pusat Ari Yunanto; Edi Hartoyo; Lia Yulia Budiarti
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.2.2005.58-62

Abstract

Latar belakang: tali pusat merupakan tempat yang sangat ideal untuk tumbuhnyabakteri, oleh karena itu pencegahan infeksi bakteri merupakan tindakan utama yangharus dilaksanakan dalam perawatan tali pusat. Menjaga agar tali pusat selalu keringdan bersih merupakan prinsip utama. Tujuan penelitian: Mengetahui peran alkohol70%, povidon-iodine 10% dan kasa kering steril dalam pencegahan infeksi padaperawatan tali pusat.Metoda: telah dilakukan penelitian pemberian alkohol 70 %, povidon-iodin 10 %, sertakasa kering steril, dalam perawatan tali pusat pasca pemotongan untuk mencegahterjadinya infeksi, serta membandingkan lama lepasnya tali pusat. Penelitian dilaksanakandi Ruang Neonatalogi Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Ulin/FK UNLAMBanjarmasin. Masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan 12 kali atau sampai talipusat lepas.Hasil: dari tiga jenis perlakuan tidak didapatkan tanda-tanda adanya infeksi tali pusatdemikian pula lama lepasnya tali pusat tidak terdapat perbedaan yang bermakna (alkohol70 %: 7,33 hari, povidon-iodine: 10 %: 7,25 hari, dan kasa kering steril: 6,42 hari).Kesimpulan: dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa perawatan tali pusat denganmenggunakan alkohol 70%, povidone-iodine 10% dan kasa kering steril dapat mencegahterjadinya infeksi tali pusat dan tidak berpengaruh terhadap lama lepasnya tali pusat.Namun bila dipandang dari segi ekonomi perawatan tali pusat dengan kasa kering sterildinilai lebih ekonomis dibandingkan perawatan tali pusat dengan menggunakan alkohol70% dan povidone-iodine 10%.
Penyakit Alergi lain yang Dialami Anak dengan Asma Lily Irsa; Arwin A.P. Akib; Syawitri P Siregar; Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.108 KB) | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.259-63

Abstract

Latar belakang. Perjalanan penyakit alergi memperlihatkan bahwa penyakit alergi saling berhubungandan tampilannya dapat berubah menurut umur sesuai dengan allergic march. Kondisi alergi pada umumnyaberupa rinitis alergi, asma, dan dermatitis atopi yang mempunyai jalur imunopatologi sama.Tujuan. Untuk mengetahui penyakit alergi yang pernah dialami anak dengan asma.Metode. Penelitian retrospektif terhadap anak dengan asma di Divisi Alergi Imunologi, DepartemenIlmu Kesehatan Anak FKUI/ RSCM dari Januari 2000 sampai dengan April 2003. Data dicatat darirekam medik dan dikeluarkan dari penelitian bila data tidak lengkap.Hasil. Didapatkan 148 pasien asma selama kurun waktu penelitian, terdiri dari 83 laki-laki dan 65perempuan. Riwayat atopi keluarga terdapat pada 103 anak. Penyakit alergi yang pernah dialami adalahrinitis alergi 39 (26,3%), dermatitis atopi 34 (23%), urtikaria 13(8,8%), dan konjungtivitis 2(1,4%).Kesimpulan. Dari penelitian ini didapatkan bahwa penyakit alergi lain yang pernah dialami anak asmaadalah rinitis alergi, dermatitis atopi, urtikaria, dan konjungtivitis.
Hipertensi pada Sindrom Metabolik Syafruddin Haris; Taralan Tambunan
Sari Pediatri Vol 11, No 4 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.264 KB) | DOI: 10.14238/sp11.4.2009.257-63

Abstract

Obesitas merupakan masalah yang banyak dijumpai baik di negara maju maupun di negara berkembang.Seiring dengan meningkatnya kejadian obesitas, dikenal sindrom metabolik yang terdiri dari obesitassentral, resistensi insulin, hipertensi, dan dislipidemia berupa kadar trigliserida yang tinggi dan kolesterolhigh density lipoprotein (HDL) yang rendah. Sindrom metabolik terutama disebabkan oleh obesitas danresistensi insulin. Selain sebagai tempat penyimpanan energi, jaringan lemak juga menghasilkan faktor yangmenyebabkan hipertensi. Jaringan lemak dapat menguraikan angiotensin dari sistem angiotensin-renin.Pada obesitas, terjadi resistensi insulin dan gangguan fungsi endotel pembuluh darah yang menyebabkanvasokonstriksi dan reabsorbsi natrium di ginjal dan menyebabkan hipertensi. Penurunan berat badanmerupakan faktor penting dalam tata laksana sindrom metabolik dengan hipertensi yang dicapai dengandiet, latihan, medikamentosa atau gabungan hal-hal tersebut. Obat antihipertensi dapat dipertimbangkansebagai bagian pendekatan holistik dalam tata laksana. (
Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Balita Soedjatmiko Soedjatmiko
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.736 KB) | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.175-88

Abstract

Deteksi dini gangguan tumbuh kembang balita dapat dilakukan melalui anamnesis,pemeriksaan fisis rutin, skrining perkembangan dan pemeriksaan lanjutan. Keluhanorangtua mengenai penyimpangan perkembangan anaknya perlu ditindaklanjuti karenasebagian terbukti benar. Penting pula menanyakan faktor-faktor risiko di lingkunganmikro (ibu), mini (lingkungan keluarga dan tempat tinggal), meso (lingkungan tetangga,polusi, budaya, pelayanan kesehatan dan pendidikan) dan makro (kebijakan program)yang dapat mengganggu tumbuh kembang balita atau dapat dioptimalkan untukmengatasi gangguan tersebut. Pemeriksaan fisis rutin meliputi pengukuran tinggi danberat badan, bentuk dan ukuran lingkar kepala, kelainan organ-organ lain danpemeriksaan neurologis dasar. Skrining perkembangan dapat menggunakan kuesioneratau melakukan pengamatan langsung pada balita. Kuesioner Pra Skrining Perkembangan(KPSP) berisi 10 pertanyaan untuk setiap kelompok umur, yang ditanyakan kepadaorangtua oleh paramedis atau dokter. Buku Pedoman Perkembangan Anak di Keluarga(Depkes RI) menilai 4 keterampilan balita untuk setiap kelompok umur, yang dapatdilakukan oleh paramedis atau kader kesehatan. Pediatric Symptom Checklist (PSC) berisi35 perilaku anak yang dapat ditanyakan oleh paramedis atau dokter kepada orangtua.Kuesioner Skrining Perilaku Anak Prasekolah menyerupai PSC tetapi hanya berisi 30pertanyaan. Skrining Perkembangan Denver II mempunyai kepekaan yang cukup baikuntuk deteksi gangguan gerak kasar, gerak halus, berbahasa dan personal sosial. Selainitu secara tidak langsung dapat mendeteksi gangguan penglihatan, koordinasi matatangan,pendengaran, pemahaman, komunikasi verbal - non verbal, pemecahan masalahdan kemandirian, namun kurang peka untuk gangguan emosional. Checklist for Autismin Toddlers (CHAT) adalah salah satu alat skrining untuk deteksi dini gangguan spektrumautistik (austistic spectrum disorder) anak umur 18 bulan sampai 3 tahun. Pemeriksaanlanjutan yang komprehensif sebaiknya melibatkan berbagai profesi dan disiplin keilmuanuntuk memastikan jenis, derajat dan penyebab gangguan, serta merencanakan tindaklanjut yang komprehensif dan terintegrasi agar anak dapat tumbuh kembang optimal.
Purpura Henoch-Schönlein Susiana Tendean; Sjawitri P. Siregar
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.122 KB) | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.45-9

Abstract

Purpura Henoch-Schönlein (PHS) atau disebut juga sebagai purpura anafilaktoid adalahsindrom klinis yang disebabkan oleh vaskulitis pembuluh darah kecil sistemik. Penyakitini ditandai oleh lesi kulit spesifik berupa purpura nontrombositopenik, artritis, nyeriperut dan perdarahan saluran cerna, serta dapat pula disertai nefritis.1-6 Kelainan inidapat mengenai semua usia, tetapi sebagian besar terjadi pada anak usia antara 2 - 11tahun, lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan denganperbandingan 1,5 : 1. Insidens kelainan ini rata-rata 14 per 100.000 populasi.2-4 DiagnosisPHS dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis saja yaitu dengan ditemukannyapurpura yang dapat diraba terutama di bokong dan ekstremitas bawah, dengan salahsatu gejala berikut yaitu nyeri perut disertai atau tanpa perdarahan saluran cerna, artritis,hematuria atau nefritis.4,5 Di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUPN dr CiptoMangunkusumo (RSCM) ditemukan 23 kasus PHS dalam kurun waktu 5 tahun (1998-2003), terdiri dari 5 anak laki-laki dan 18 anak perempuan.
Pengaruh Menyusui, Glukosa 40% dan Memeluk Bayi terhadap Respon Nyeri pada Bayi Cukup Bulan (Suatu Uji Klinis) Dyah Kanya Wati; Soetjiningsih Soetjiningsih; Retayasa Retayasa
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.207-12

Abstract

Latar belakang. Berdasarkan berbagai penelitian acak, pemberian glukosa, menyusui dan stimulasimultisensoris merupakan penanganan yang dapat dipercaya manfaatnya sebagai bagian dari penanganannon farmakologis.Tujuan. Melihat respon nyeri pada bayi cukup bulan yang diimunisasi intrakutan dalam kondisi disusui,mendapatkan glukosa 40% atau dipeluk oleh ibunya.Metode. Subjek penelitian dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok A untuk menyusui, kelompok Buntuk glukosa 40% dan kelompok C untuk kelompok memeluk bayi. Pada saat penyuntikan, subjekdirekam dengan kamera video dan hasil rekaman dinilai untuk mengetahui respon nyerinya berdasarkanskala DAN (Douleur Aigue Nouveau-ne).Hasil. Dari 116 subjek didapatkan rerata hasil penilaian skala DAN 6,13 (SD 1,17) untuk kelompokmenyusui, 7,93 (SD 1,05) untuk kelompok bayi yang mendapatkan glukosa 40% dan 7,65 (SD 1,12)untuk kelompok memeluk bayi.Kesimpulan. Kelompok menyusui memiliki respon nyeri yang paling rendah secara bermakna. Menyusuimemberikan hasil yang berbeda bermakna dalam memberikan respon nyeri dibandingkan pemberian glukosa40% dan memeluk bayi pada bayi yang diimunisasi.

Page 54 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue