cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Obat Anti Malaria Emil Azlin
Sari Pediatri Vol 5, No 4 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.918 KB) | DOI: 10.14238/sp5.4.2004.150-4

Abstract

Malaria adalah penyakit infeksi parasit pada manusia dan masih menjadi masalahkesehatan masyarakat. Penggunaan obat anti malaria merupakan upaya pentingdalam pemberantasan malaria. Kegagalan pengobatan disebabkan ketidaktepatanregimen dan dosis obat yang diberikan, resistensi dari Plasmodium terhadap obat,serta belum adanya obat anti malaria yang ideal. Penelitian mengenai obat anti malariaterus berkembang seiring dengan peningkatan resistensi dari Plasmodium yangberbeda di tiap daerah. Saat ini obat anti malaria yang tersedia di Indonesia adalahklorokuin, sulfadoksin-pirimetamin, kina, primakuin, dan artemeter.
Pentingnya Stimulasi Dini untuk Merangsang Perkembangan Bayi dan Balita Terutama pada Bayi Risiko Tinggi Soedjatmiko Soedjatmiko
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.164-73

Abstract

Bayi risiko tinggi ialah bayi yang secara klinis belum menunjukkan hambatanperkembangan tetapi berpotensi untuk mengalami gangguan perkembangan akibatfaktor risiko biomedik, lingkungan psikososial atau sosial ekonomi. Faktor risikotersebut secara langsung atau tidak langsung dapat mengganggu perkembangan otak,sehingga mengganggu perkembangan gerak, komunikasi, kognitif, emosi-sosial danperilaku. Plastisitas otak adalah kemampuan susunan saraf untuk menyesuaikan diriberupa perubahan anatomi, kemampuan neurokimiawi atau perubahan metabolik.Stimulasi dini adalah rangsangan auditori, visual, taktil dan kinestetik yang diberikansejak perkembangan otak dini, dengan harapan dapat merangsang kuantitas dan kualitassinaps sel-sel otak, untuk mengoptimalkan fungsi otak. Stimulasi dini harusmemperhatikan tahapan maturasi otak, waktu, jenis stimulasi, cara melakukanstimulasi, intensitas, perbedaan individual, keterpaduan dan dukungan program lainyang berkelanjutan. Peran dokter dan perawat di ruang bayi baru lahir, serta orangtuasangat penting, oleh karena itu mereka perlu dibekali pengetahuan dan ketrampilanmengenai stimulasi dini
Efikasi Kinin-Doksisiklin pada Pengobatan Malaria Falsiparum Tanpa Komplikasi Fitri Arianty Lubis; Syahril Pasaribu; Chairuddin P. Lubis
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.246-9

Abstract

Pengobatan malaria masih merupakan masalah yang sering dihadapi karena terjadinya resistensi terhadap beberapa obat anti malaria. Kombinasi dua macam obat saat ini yang sering dipergunakan, terutama pada daerah hiperendemis, untuk meningkatkan efikasi dari obat tersebut. Kombinasi kinin-doksisiklin adalah salah satu kombinasi obat anti malaria yang dapat diberikan sebagai terapi alternatif untuk pengobatan malaria falsiparum tanpa komplikasi. Pada beberapa penelitian ditunjukkan bahwa kombinasi kedua obat ini mempunyai efikasi yang baik.
Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus pada Anak Sondang Maniur Lumbanbatu
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.2.2003.58-63

Abstract

Glomerulonefritis merupakan penyakit ginjal dengan suatu inflamasi dan proliferasi selglomerulus. Peradangan tersebut terutama disebabkan mekanisme imunologis yangmenimbulkan kelainan patologis glomerulus dengan mekanisme yang masih belum jelas.Pada anak kebanyakan kasus glomerulonefritis akut adalah pasca infeksi, paling seringinfeksi streptokokus beta hemolitikus grup A. Dari perkembangan teknik biopsi ginjalper-kutan, pemeriksaan dengan mikroskop elektron dan imunofluoresen serta pemeriksaanserologis, glomerulonefritis akut pasca streptokokus telah diketahui sebagai salah satucontoh dari penyakit kompleks imun. Penyakit ini merupakan contoh klasik sindromanefritik akut dengan awitan gross hematuria, edema, hipertensi dan insufisiensi ginjalakut. Walaupun penyakit ini dapat sembuh sendiri dengan kesembuhan yang sempurna,pada sebagian kecil kasus dapat terjadi gagal ginjal akut sehingga memerlukanpemantauan.
Penggunaan Antibiotik Khususnya pada Infeksi Bakteri Gram Negatif di ICU Anak RSAB Harapan Kita Amar Widhiani Adisasmito; Alan R Tumbelaka
Sari Pediatri Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.059 KB) | DOI: 10.14238/sp8.2.2006.127-34

Abstract

Pendahuluan. Rumah sakit dan unit perawatan intensif (ICU) merupakan breedingground atau tempat berkembangnya bakteri. Strategi pemberian antibiotik yang terbaikadalah dengan membatasi penggunaan antibiotik yang tidak terindikasi dan mengurangilama penggunaan antibiotik.Tujuan. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi penggunaan antibiotik pada infeksibakteri Gram negatif, mencakup latar belakang diagnosis klinis dan lama penggunaanantibiotik.Metoda. Metode penelitian retrospektif – deskriptif selama periode satu tahun antaraOktober 2001 hingga September 2002. Penelitian dilakukan di ICU Anak RSAB HarapanKita Jakarta. Hubungan bakteri Gram negatif dan antibiotik akan ditampilkan dalamgrafik Pearson correlation. Risiko relatif (RR) untuk mengetahui 1) Lama terapicefotaxime mempengaruhi timbulnya resistensi cefotaxime 2) Lama perawatan akanmempengaruhi timbulnya resistensi.Hasil. Dari semua kelompok umur ditemukan 49 pasien ( 52,7%) dicurigai pneumonia,15 pasien ( 16,1%) dengan sepsis, 7 pasien ( 7,5%) dengan infeksi saluran kencing, 35pasien ( 37,6%) dengan gastroenteritis dan 12 pasien ( 12,9%) dengan bakteremia.Pada grafik Pearson correlation menunjukkan pada pemakaian sulbactam ampicillinyang makin lama, maka resistensi bakteri Gram negatif terhadap antibiotik ini makintinggi. Hal yang sama juga terjadi pada pemakaian antibiotik ampicillin dan amikacin.Perawatan inap yang memanjang juga akan meningkatkan resistensi bakteri Gram negatif( P.aeruginosa dan Enterobacter sp) terhadap cefotaxime dengan RR >1.Kesimpulan. Patogen yang paling utama adalah E.coli, Pseudomonas sp, Klebsiella spdan Enterobacter sp, dua patogen yang terakhir adalah yang paling dominan dari extentedspectrum β lactamases producing-enterobacteriaceae (ESBLPE).
Efektifitas Suplementasi Besi Harian Dibandingkan Mingguan pada Anemia Defisiensi Besi Anak Umur 5 – 11 Tahun I Komang Wijaya; Max Mantik
Sari Pediatri Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.2.2008.129-133

Abstract

Latar belakang. Anemia defisiensi besi (ADB) sering ditemukan pada anak usia sekolah. Pengobatan yang utama adalah mengatasi faktor penyebab dan pemberian zat besi. Ketidakpatuhan minum obat merupakan masalah utama pada strategi suplementasi besi harian sehingga dipikirkan untuk diberikan secara mingguan.Tujuan. Untuk mengetahui efektifitas suplementasi besi harian dibandingkan mingguan pada anak dengan ADB.Metode. Penelitian eksperimen komparatif dengan rancangan the pretest-posttest two group design dilakukan pada 40 anak berumur 5-11 tahun dengan ADB. Kelompok I mendapatkan suplementasi besi harian (sulfat ferosus) dan kelompok II mendapat suplementasi besi mingguan selama 2 bulan. Sebelum dan sesudah suplementasi besi, dilakukan pemeriksaan hemoglobin, MCHC, besi serum, dan kapasitas pengikat besi total.Hasil. Tidak ada perbedaan signifikan antara suplementasi besi harian dibandingkan mingguan pada perubahan hemoglobin, MCHC, besi serum, dan kapasitas pengikat besi total (p>0,05).Kesimpulan. Suplementasi besi harian sama efektifnya dengan mingguan dalam pengobatan anemia defisiensi besi
Perbandingan Fungsi Fagositosis Neutrofil pada Sindrom Nefrotik Resisten Steroid dengan Sindrom Nefrotik Sensitif Steroid Saiful Mujab; Wistiani Wistiani
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.872 KB) | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.210-5

Abstract

Latar belakang. Pasien sindrom nefrotik (SN) mempunyai kelainan fungsi sistem kekebalan tubuh karena kurang protein opsonindan reseptornya. Anak dengan sindrom nefrotik resisten steroid (SNRS) mempunyai prognosis yang lebih buruk dibandingkandengan sindrom nefrotik sensitif steroid (SNSS). Salah satu gangguan sistem imun yang pernah diteliti antara lain fungsi fagositosisneutrofil, tetapi hasilnya tidak konsisten.Tujuan. Membandingkan fungsi fagositosis neutrofil pada anak penderita SNRS dengan SNSS.Metode. Desain cross sectional dengan 2 kelompok, yaitu SNRS dan SNSS. Penelitian dilakukan di RS Dr. Kariadi Semarang padabulan Mei 2013 dengan pengambilan sampel secara consecutive sampling. Fungsi fagositosis neutrofil diukur dengan metode latexyang dinyatakan sebagai indeks fagositosis. Analisis statistik dikerjakan dengan Mann Whitney test.Hasil. Didapatkan 18 anak dengan SN yang terdiri atas 10 anak SNSS, serta 8 anak SNRS. Rerata indeks fagositosis neutrofildari kelompok SNSS lebih rendah daripada anak sehat, tetapi perbedaan ini tidak bermakna secara statistik. Rerata indeks fagositosisneutrofil dari kelompok SNRS bermakna secara statistik lebih rendah daripada anak sehat, tetapi tidak ada perbedaan yang bermaknasecara statistik antara kelompok SNRS dibandingkan dengan kelompok SNSS.Kesimpulan. Tidak ada perbedaan antara fungsi fagositosis neutrofil pada anak penderita SNRS dibandingkan dengan SNSS.
Tata laksana Dermatitis Atopik pada Anak serta Pencegahan Terjadinya Asma di Kemudian Hari Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 4, No 3 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.3.2002.119-24

Abstract

Konsep allergic march saat ini banyak dipakai dalam pencegahan dini timbulnya penyakitalergi pada anak yang lahir dari keluarga atopik. Gejala alergi yang paling sering padabayi usia dini adalah alergi makanan dengan manifestasi dermatitis atopik. Beberapajenis makanan yang mencetuskan dermatitis atopik antara lain susu sapi, telur, ikanlaut, kacang tanah, tomat, jeruk dan coklat. Diet eliminasi makanan alergen utamapada ibu menyusui dapat mencegah timbulnya penyakit alergi di kemudian hari padabayi yang disusui. Penanganan pasien dermatitis atopik relatif sulit. Walaupun demikian,dengan tata laksana yang adekuat dengan kerjasama yang baik antara dokter, pasien dankeluarganya kelainan ini dapat diatasi. Secara garis besar, pengobatan dermatitis atopikmeliputi penghindaran bahan iritan, faktor pencetus, mengatasi rasa gatal dan kekeringankulit serta mengatasi reaksi peradangan dan infeksi sekunder. Pengobatan pencegahandini dengan menggunakan setirisin pada anak dengan dermatitis atopik dilaporkan dapatmenurunkan risiko terjadinya asma di kemudian hari.
Esofagitis Refluks Pada Anak Badriul Hegar; R. Lia Mulyani
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.43-53

Abstract

Esofagitis refluks adalah proses inflamasi pada esofagus akibat refluks gastroesofagus.Toksisitas isi refluks, frekuensi, durasi episode refluks, dan resistensi esofagus terhadapisi refluks merupakan faktor yang berperan terhadap kejadian esofagitis. Gejala klinisesofagitis refluks tidak spesifik. Pada bayi sering terlihat muntah disertai gejala klinisiritabel, tidur tidak nyaman, menolak makan, dan gagal tumbuh, sedangkan pada anakyang lebih besar didapatkan keluhan heartburn dan nyeri epigastrium. Esofagitis tersebarsecara ‘patchy’ dan tidak merata sehingga ketelitian pemeriksaan sangat diperlukan.Secara makroskopis mukosa esofagus dapat terlihat hiperemis, erosi, atau ulkus, sedangkanpada patologi anatomi terlihat gambaran hiperplasia membran basal dengan papila yangmemanjang. Antagonis reseptor H2 dan inhibitor pompa proton (IPP) telah digunakansecara luas untuk terapi esofagitis. Efek jangka pendek, jangka panjang, dan pencegahanrelaps obat-obat tersebut memperlihatkan hasil yang memuaskan, walaupun beberapadata menunjukkan keunggulan IPP dibanding antagonis reseptor H2.
Profil Kasus Artritis Idiopatik Juvenil (AIJ) Berdasarkan Klasifikasi International League Against Rheumatism (ILAR) Ariz Pribadi; Arwin AP Akib; Taralan Tambunan
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.152 KB) | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.370-4

Abstract

Latar belakang. Skema yang dibuat oleh American college of rheumatology (ACR) tentang juvenilerheumatoid arthritis dan skema yang dibuat oleh European league against rheumatism (EULAR) tentangjuvenile chronic arthritis, sering dipertentangkan dalam membuat klasifikasi dan kriteria diagnosis.International League Against Rheumatism (ILAR), berupaya untuk mempertemukan ketidaksepahamanini dengan membuat klasifikasi dan kriteria diagnosis artritis idiopatik juvenil (AIJ).Tujuan. Mengetahui proporsi dan profil pasien reumatik anak berdasarkan klasifikasi ILARMetode. Penelitian deskriptif potong lintang dilakukan untuk memperoleh profil pasien AIJ berdasarkankriteria dan klasifikasi ILAR di RSCM. Populasi anak dengan keluhan artritis diambil dari data rekammedis sejak 1 Januari 2001 hingga 31 Desember 2006.Hasil. Penelitian menemukan 71 pasien AIJ (35,9%) dari 198 pasien dengan keluhan utama artritis.Enampuluh delapan pasien merupakan pasien artritis reumatoid juvenil (ARJ) (34,3%), sedangkan 3 pasienditemukan dari pasien artritis juvenil lainnya. Tipe oligoartritis persisten merupakan jenis terbanyak yangditemukan (40,8%).Kesimpulan. Penggunaan klasifikasi dan kriteria diagnosis ILAR pada penelitian ini hanya mampumenangkap tiga pasien (1,6%) yang tidak tertangkap jika menggunakan klasifikasi dan kriteria ACR

Page 53 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue