cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Pola Mikroorsganisme dan Sensitivitas dari Spesimen Klinik di UPIN dan “Intermediate ward”s Johanes Edy S; Ferdy H; Latre B
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.864 KB) | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.67-74

Abstract

Latar belakang. Angka kematian neonatus masih tinggi terutama di negara berkembang dan salah satupenyebabnya adalah infeksi dan sepsis. Untuk penanganan yang tepat dan akurat maka pemeriksaan biakandarah, urin, dan cairan tubuh lainnya dianggap penting karena dapat mengetahui kuman penyebab infeksidan juga jenis antibiotika yang sensitif. Pola kuman tidak selalu sama untuk satu periode waktu, hal inimungkin disebabkan oleh karena penggunaan antibiotika yang semakin luas.Tujuan. Mendapatkan data survailans pola mikroorganisme guna meningkatkan kualitas pelayanan dalammanajemen bayi risiko tinggi yang dirawat di ruang neonatal.Metode. Studi observasional potong lintang pada bayi risiko tinggi yang tercatat di Bagian NeonatologiRumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita dari Januari sampai Desember 2004. Pengambilansampel darah atau cairan tubuh lainnya dari bayi yang dicurigai infeksi. Dicatat data antara lain temperatur,frekuensi nafas, frekuensi nadi & denyut jantung, aktivitas menyusui & menangis, umur kehamilan danberat badan, lama dari ketuban pecah dini, warna cairan ketuban, cairan lambung, darah lengkap termasukneutropil granulotoksik, C-reactive protein dan prognosis.Hasil. Jumlah subyek 1331 bayi, ditemukan 264 (47,4%) kuman pada biakan darah dan cairan tubuhlainnya (Serratia sp, K. pneumoniae, E. aerogenes, Klebsiella sp, P. aeruginosa, S. aureus, S. epidermidis,S. pyogenes, Cansdida sp) di UPIN. Sedangkan di intermediate ward ditemukan 164 (34,9%) kuman(Serratia sp, K. pneumoniae, E. aerogenes, E. coli pathogen, Pseudomonas sp, Proteus mirabilis, S. aureus,S. epidermidis, S viridans, Candida sp).Kesimpulan. Keberhasilan penemuan hasil biakan kuman dari darah atau cairan tubuh lain sangat pentinguntuk membantu dalam peningkatan pelayanan medis dengan memberikan antibiotik yang tepat. Hasilbiakan kuman terkait dengan kecepatan, ketepatan dalam pengambilan sampel, penyimpanan, danpengiriman bahan ke laboratorium
Faktor Risiko Lingkungan pada Pasien Japanese Encephalitis I Gede E. Paramarta; I Komang Kari; Sunartini Hapsara
Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.5.2009.308-13

Abstract

Latar belakang. Penyakit Japanese encephalitis (JE) diperkirakan menjadi endemis di seluruh negara Asia,namun hanya sedikit kasus yang telah dilaporkan dari negara-negara tropis Asia seperti Indonesia, Malaysia,dan Pilipina. Di Indonesia terutama di Bali, penelitian mengenai faktor risiko lingkungan pasien JE padamanusia masih sangat terbatas.Tujuan. Mengetahui peran sawah dan babi sebagai faktor risiko JE.Metode. Suatu penelitian kasus-kontrol telah dilaksanakan Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Bali, dariJanuari 2005 sampai Desember 2007. Pasien usia kurang dari 12 tahun dan tinggal di Provinsi Bali denganensefalitis akut atau meningoensefalitis dimasukkan dalam penelitian. Hasil diagnosis JE ditetapkan denganIgM virus-spesifik dalam cairan serebrospinal (CSS) dan serum, dengan metode IgM captures enzyme-linkedimmunosorbent assay (MAC ELISA).Hasil. Empat puluh enam orang telah dimasukkan sebagai subjek penelitian, 23 disebabkan oleh JE.Sawah RR 4,68 (IK 95% 1,29;16,98); p=0,016, babi RR 4,28 (IK 95% 1,24;14,73); p=0,018 dan jarakkandang kurang dari 100 meter RR 8,00 (IK 95% 1,27;50,04); p=0,004 berhubungan dengan terjadinyaJE. Umur rerata pasien JE 65,52 (SD 32,54) bulan. Setelah dilakukan analisis multivariat, variabel sawahdi sekitar tempat kediaman pasien menunjukkan hasil yang bermakna secara statistik RR 69,9 (IK 95%1,55;314,52); p=0,029.Kesimpulan. Sawah di sekitar tempat tinggal pasien merupakan faktor risiko Japanese encephalitis. 
Ulkus Duodenum pada Anak Lily Rundjan; Badriul Hegar
Sari Pediatri Vol 5, No 3 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.3.2003.121-6

Abstract

Ulkus Duodenum merupakan kerusakan lapisan mukosa sampai lapisan otot duodenum yang dihubungkan dengan proses inflamasi kronis. Berbagai faktor diduga sebagai penyebab keadaan ini, salah satu yang menjadi perhatian pada saat ini adalah infeksi Heliobacter pylori (H.pylori). Meskipun jarang ditemukan pada anak, kelainan ini dapat menyebabkan pendarahan dan perforasi saluran cerna. Ulkus duodenum lebih sering merupakan ulkus peptik primer. Manifestasi gejala klinis bervariasi mulai dari rasa mual, muntah, nyeri perut berulang, anemia, gagal tumbuh, hingga hematemasis dan melena. Endoskopi merupakan tindakan diagnostik pilihan pada kasus yang dicurigai kelainan organik,termasuk ulkus duodenum. Terapi yang diberikan berupa pemberian antagonis reseptor H2 atau proton pump inhibitor (PPI). Eradikasi terhadap H.Pylori harus segera dilaksanakan bila ditemukan bakteri tersebut sebagai penyebabnya.
Infeksi Helicobacter Pylori di RSAB Harapan Kita Eva J. Soelaeman; Budi Purnomo; Sukma W. Merati; Hartati N. Soehardjo; Hadjat S. Digdowirogo
Sari Pediatri Vol 5, No 4 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.408 KB) | DOI: 10.14238/sp5.4.2004.178-80

Abstract

Infeksi Helicobacter pylori (HP) merupakan salah satu penyebab penyakitgastrointestinal pada anak yang gejalanya antara lain sakit perut berulang (SPB),dispepsia, muntah, hematemesis atau anoreksia. Pada sebagian besar pasien tersebut,penyebab terbanyak adalah HP. Oleh karena itu diagnosis HP sebaiknya dibuat sedinimungkin. Pengobatan HP pada dewasa masih kontroversial tetapi pada anak beberapapeneliti menganjurkan untuk memberikan pengobatan bila terdapat gejala.Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian HP di RSABHarapan Kita, melaporkan gejala yang ditemukan, cara mendiagnosis, dan pengaruhpengobatan.Hasil: Dari bulan Juli 2002 sampai dengan Juni 2003, telah dilakukan 42 endoskopiatas. Usia rata-rata 5 tahun 2 bulan ( 3 bulan – 16 tahun). Helicobacter pylori positifterdapat pada 23 pasien (54,8%). Gejalanya adalah SPB 15 (65,2%), muntah 6 (26%),hematemesis 5 (21,7%), dispepsia 5 (21,7%) dan anoreksia 4 (17,4%). Diagnosisendoskopi pada pasien HP positif adalah gastroduodenitis 12 (52,3%),esofagogastroduodenitis 5 (21,7%) esofagogastritis 5 (21,7%) dan gastritis 1 pasien(4,3%).Dari pemeriksaan patologi anatomi (PA) ditemukan HP pada duodenum 17, antrumpylori 18, dan korpus gaster 9 pasien. Semua pasien diobati dengan terapi tripel(klaritromisin, amoksisilin dan omeperazol) selama 7 hari. Gejala menghilang pada20 pasien (87%). Sisanya masih menderita SPB, yang membaik dengan pemberianomeperazol selama 2 minggu.Kesimpulan: Angka kejadian HP pada pasien kami 54,8% dengan gejala yang palingsering SPB. H.pylori paling banyak ditemukan di antrum pilori dibandingkanduodenum atau korpus gaster. Dengan pengobatan gejala menghilang pada sebagianbesar pasien.
Pemberian Bubur Formula Protein Hidrolisat dan Bubur Soya dalam Pencegahan Alergi Susu Sapi Zakiudin Munasir; Sjawitri P Siregar; Sri S Nasar; Nia Kurniati
Sari Pediatri Vol 8, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.4.2007.282-8

Abstract

Latar belakang. Alergi susu sapi (ASS) sering merupakan penyakit alergi pertama padaseorang bayi. Upaya pencegahan terhadap alergi protein susu sapi berupa pencegahanprimer, sekunder atau tersier.Tujuan. Untuk membandingkan bubur yang mengandung protein susu sapi hidrolisisparsial dengan bubur yang mengandung isolat protein soya sebagai makanan pendampingpada bayi berisiko alergi tinggi terjadinya ASS.Metoda. Penelitian uji klinik acak buta ganda ini dilakukan pada bayi usia 4-6 bulanyang mempunyai bakat atopik dengan pemberian dua jenis bubur yaitu buburhipoalergenik dan bubur soya.Hasil. Didapatkan 84 bayi yang dapat dievaluasi sampai akhir penelitian, terdiri dari47 (56%) bayi laki-laki dan 37 (44%) bayi perempuan. Subyek dibagi menjadi kelompokbubur hipoalergenik (HA) 47 bayi (56%) dan kelompok bubur bubur soya 37 bayi(44%). Sebagian besar evaluasi skor gejala alergi menunjukkan hasil skor yang tidaktimbul atau skor yang menurun, yaitu masing-masing 39 bayi (46,4%) dan 36 bayi(42,9%). Pengukuran kadar IgE spesifik protein susu sapi pada awal dan akhir penelitiansebagian besar menunjukkan hasil negatif, yaitu masing-masing 62 bayi (86,1%) dan 43bayi (70,5%). Tidak ada hubungan yang bermakna antara evaluasi skor gejala alergiantara kedua kelompok bubur, ataupun antara kadar IgE spesifik protein susu sapi padaakhir penelitian pada kedua kelompok bubur yang hanya menggunakan susuhipoalergenik atau ASI.Kesimpulan. Bubur protein soya yang dikombinasi dengan susu hipoalergenik atauASI mempunyai manfaat yang sama dengan bubur hipoalergenik dalam mencegahtimbulnya ASS. Kedua kelompok bubur juga dapat menghasilkan kenaikan berat badandan panjang badan yang sama.
Kualitas Hidup Anak Epilepsi dan Faktor–Faktor yang Mempengaruhi di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM Jakarta Winny N Wishwadewa; Irawan Mangunatmadja; Mardjanis Said; Agus Firmansyah; Soedjatmiko, Soedjatmiko,; Bambang Tridjaja
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.272-9

Abstract

Latar belakang. Epilepsi merupakan penyakit kronik yang dapat mempengaruhi kualitas hidup anak di masa depan. Saat ini penelitian untuk menilai kualitas hidup anak epilepsi masih terbatas.Tujuan. Melakukan penilaian faktor-faktor klinis, demografi, psikososial dan obat anti epilepsi (OAE) yang mempengaruhi kualitas hidup anak epilepsi dengan menggunakan instrumen Quality of life in childhood epilepsy questionnaire-parent form (QOLCE).Metode. Penelitian dilaksanakan di Poliklinik Neurologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM dalam kurun waktu Desember 2007 sampai April 2008. Terkumpul 68 orang responden yang memenuhi kriteria inklusi dengan melakukan wawancara secara langsung oleh peneliti.Hasil. Jumlah serangan kejang dalam 6 bulan terakhir (faktor klinis), usia anak dan jumlah anak dalam keluarga (faktor demografi), kecemasan orang tua (faktor psikososial) mempengaruhi kualitas hidup anak epilepsi. Jumlah obat anti epilepsi (OAE) berkorelasi dengan komponen restriksi fisik pada fungsi fisik yaitu semakin sedikit jumlah OAE semakin tidak dibatasi aktivitas fisiknya.Kesimpulan. Kualitas hidup anak epilepsi dipengaruhi oleh jumlah serangan kejang dalam 6 bulan terakhir, usia anak, jumlah anak dalam keluarga, kecemasan orang tua, dan jumlah OAE. Pengenalan dini terhadap gangguan kualitas hidup pada anak epilepsi dapat memperbaiki kualitas hidup di masa depan.
Kegawatan Demam Berdarah Dengue pada Anak Darlan Darwis
Sari Pediatri Vol 4, No 4 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.197 KB) | DOI: 10.14238/sp4.4.2003.156-62

Abstract

Kegawatan demam berdarah dengue (DBD) yang mengancam nyawa adalah disfungsisirkulasi atau syok hipovolemik yang disebabkan oleh peningkatan permeabilitas kapilardan perdarahan, sehingga terjadi plasma leakage, penurunan perfusi organ, penurunansuplai oksigen dan nutrien untuk sel yang dapat berlanjut dengan gagal organ multipledan kematian. Tata laksana kegawatan DBD berorientasi pada pendekatan patofisiologikmulti system terpadu yang diarahkan pada pemenuhan kebutuhan oksigen dan nutrien,termasuk didalamnya tunjangan ventilasi, pemberian oksigen, resusitasi cairan dan obatresusitasi. Resusitasi cairan paling baik diberikan saat syok kompensasi, dengan pemberiancairan kristaloid atau koloid secara agresif 10-30 ml/kgbb dalam 6-10 menit untukmeningkatkan preload, curah jantung, volume sirkulasi efektif, memperbaiki perfusiorgan, sehingga mekanisme homeostatis atau mekanisme kompensasi tidak digunakanlagi dan kesembuhan segera pasien sindrom syok dengue dapat diharapkan.
Hemofilia A dengan Komplikasi Epilepsi Pasca Perdarahan Intrakranial Irma Rochima Puspita; Pustika Amalia; Irawan Mangunatmadja
Sari Pediatri Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.2.2006.159-62

Abstract

Seorang bayi laki-laki berumur 9 bulan dengan hemofilia A dirawat di RS Dr.Ciptomangunkusumo Jakarta epilepsi pasca perdarahan intrakranial akibat trauma dikepala. Adanya perdarahan intrakranial dipastikan oleh pemeriksaan CT Scan kepala.Diagnosis hemofilia A ditegakkan pada waktu penderita mengalami perdarahanintrakranial, sedangkan diagnosis epilepsi ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan EEG.Pengobatan yang diberikan kepada penderita pada saat terjadinya perdarahan intrakranialialah konsentrat faktor VIII karena penderita alergi terhadap kriopresipitat. Tindakanbedah tidak dilakukan karena orang tua pasien menolak. Asam valproat diberikan untukpengobatan epilepsi.
Prediktor Penyakit Kardiovaskular pada Anak Obes Usia Sekolah Dasar di Kotamadya Surakarta Sri Martuti; Endang D. Lestari; B. Soebagyo
Sari Pediatri Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.1.2008.18-23

Abstract

Latar belakang. Lingkar pinggang atas seringkali dihubungkan dengan obesitas sentral yang berisiko tinggiterhadap penyakit kardiovaskularTujuan. Untuk mengetahui prevalensi abnormalitas kardiovaskular dan prediktor faktor-faktor risiko penyakitkardiovaskular di antara anak-anak obes.Metode. Penelitian cross sectional dilaksanakan dari Januari sampai Februari 2005. Duapuluh persen dari SDdi setiap kecamatan dipilih secara acak. Semua anak obes diikutsertakan dalam penelitian setelah didapatkanizin dari orangtua. Data dianalisa dengan SPSS 10.05 for windows. Odds ratio (OR) untuk faktor-faktor risikokardiovaskular seperti tekanan darah sistolik dan diastolik yang tinggi, kadar kolesterol total, HDL, LDL,dan trigliserida yang abnormal dibandingkan antara kelompok yang memiliki lingkar lengan atas kecil danlingkar lengan atas besar (77,5 cm). Analisa multivariat dilakukan untuk mengontrol faktor lain.Hasil. Diantara anak-anak yang obes, 45,5% menderita hiper trigliserida. Analisa univariat menunjukkanbahwa OR untuk LDL kolesterol yang abnormal, tekanan darah sistolik yang tinggi, tekanan darahdiastolik yang tinggi masing-masing adalah 1,6 (95% CI: 0,6-4,5); 4,7 (95%CI: 0,5-41,8) dan 1,9 (95%CI: 0,7-5,6). Odds ratio untuk lingkar lengan atas (77,5 cm) terhadap tekanan darah diastolik yang tinggiadalah 4,4 (95% CI: 1,1-17,7); terhadap tekanan darah sistolik yang tinggi adalah 3,7 (95% CI: 0,4-38,5);terhadap kadar kolesterol LDL abnormal adalah 1,7 (95%CI: 0,4-6,5). Odds ratio untuk kadar kolesteroltotal, HDL dan trigliserida yang abnormal adalah 1,3 (95% CI: 0,4-6,5); 1,1 (95% CI: 0,4-3,2) and 1,2(95% CI: 0,5-3,1).Kesimpulan. Prevalensi hipertrigliserida diantara anak obes 45%. Lingkar pinggang atas 77,5 cm harus dipertimbangkansebagai prediktor faktor risiko penyakit kardiovaskular
Hubungan Aspek Klinis dan Laboratorium pada Sindrom Nefrotik Sensitif Steroid dan Sindrom Nefrotik Resisten Steroid Adrian Umboh
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.525 KB) | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.133-6

Abstract

Latar belakang. Sindrom nefrotik (SN) merupakan kelainan ginjal tersering pada anak. Berdasarkan respon terhadap terapi, SN dibagi menjadi sindrom nefrotik sensitif steroid (SNSS) dan sindrom nefrotik resisten steroid (SNRS). Gambaran histopatologik merupakan baku emas untuk menentukan diagnosis, tetapi tidak selalu dapat dilakukan karena bersifat invasif.Tujuan. Mengetahui hubungan antara berbagai aspek klinis dan laboratorium, yaitu jenis kelamin, umur, berat badan lahir (BBL), hipertensi, kadar kolesterol serum dan albumin antara SNSS dan SNRS yang mendapat terapi steroid.Metode. Penelitian retrospektif analitik dilakukan pada pasien SNSS dan SNRS yang dirawat, dari Januari 2007 sampai dengan Desember 2011 di Divisi Nefrologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi/BLU RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou, Manado. Data dikumpulkan dari data rekam medik, meliputi identitas, tekanan darah, kadar kolesterol serum, dan albumin. Analisis univariat dengan uji X2, pengujian hubungan berbagai variabel secara bersama-sama digunakan analisis regresi logistik.Hasil. Terdapat 45 anak dengan sindrom nefrotik yang diikutsertakan dan dibagi ke dalam dua kelompok, terdiri dari 30 anak dengan SNSS dan 15 anak dengan SNRS. Tidak didapatkan perbedaan pada jenis kelamin (p=1,000), umur onset (p=0,247), berat badan lahir (p=0,259), tekanan darah sistole (p=0,671), tekanan darah diastole (p=0,380), kadar kolesterol (p=0,529), kadar albumin (p=0,350) antara dua kelompok.Kesimpulan. Tidak ada perbedaan antara jenis kelamin, umur, BBL, hipertensi, kolesterol dan albumin pada pasien SSNS dan SRNS yang mendapat steroid.

Page 50 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue