cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Metode Kanguru Sebagai Pengganti Inkubator Untuk Bayi Berat Lahir Rendah Rulina Suradi; Piprim B. Yanuarso
Sari Pediatri Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.508 KB) | DOI: 10.14238/sp2.1.2000.29-35

Abstract

Penggunaan inkubator untuk merawat bayi berat lahir rendah (BBLR) memerlukanbiaya yang tinggi. Akibat terbatasnya fasilitas inkubator, tidak jarang satu inkubatorditempati lebih dari satu bayi. Hal tersebut meningkatkan risiko tejadinya infeksinosokomial di rumah sakit. Metode kanguru (MK) ditemukan pada tahun 1983 olehdua orang ahli neonatologi dari Bogota, Colombia untuk mengatasi keterbatasanjumlah inkubator. Setelah dilakukan berbagai penelitian, ternyata MK tidak hanyasekedar menggantikan peran inkubator, namun juga memberi banyak keuntunganyang tidak bisa diberikan oleh inkubator. Metode kanguru mampu memenuhikebutuhan asasi BBLR dengan menyediakan situasi dan kondisi yang mirip denganrahim sehingga memberi peluang BBLR untuk beradaptasi dengan baik di dunia luar.Metode kanguru dapat meningkatkan hubungan emosi ibu-bayi, menstabilkan suhutubuh, laju denyut jantung dan pernapasan bayi, meningkatkan pertumbuhan danberat badan bayi dengan lebih baik, mengurangi stres pada ibu dan bayi, mengurangilama menangis pada bayi, memperbaiki keadaan emosi ibu dan bayi, meningkatkanproduksi ASI, menurunkan kejadian infeksi nosokomial, dan mempersingkat masarawat di rumah sakit. Mengingat berbagai kelebihannya, diperlukan upaya yang lebihstrategis untuk mempopulerkan metode yang sangat bermanfaat ini.
Diagnosis Sepsis Neonatal Zulfikri Zulfikri
Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.586 KB) | DOI: 10.14238/sp6.2.2004.81-4

Abstract

Sepsis adalah respon sistemik terhadap infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur,protozoa atau ricketsia. Insiden sepsis pada neonatus rendah yaitu 1-8 perseribu kelahiranhidup, namun angka kematian lebih dari 20-50 % kasus. Tidak ada satupun pemeriksaantunggal laboratorium yang dapat dipakai untuk diagnosis sepsis neonatal. Skor hematologiRodwell dan atau pemeriksaan imunologi sIL2R dapat dipakai sebagai alat diagnostiksepsis neonatal.
Pemberian Insulin pada Diabetes Melitus Tipe-1 Wisman Wisman; Charles D. Siregar; Melda Deliana
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.48-53

Abstract

Abstrak. Pemberian insulin pada diabetes mellitus (DM) tipe-1 merupakan keharusan karena belum adaterapi lain yang dapat dipakai dalam mengobati DM tipe-1. Pedoman untuk menentukan kebutuhaninsulin berdasarkan berat badan, usia, dan status pubertas. Beberapa faktor mempengaruhi keberhasilanpengobatan DM tipe-1, belum ada keseragaman dalam terapi insulin baik dalam jenis, dosis maupunregimen yang dipakai. Untuk mencapai kontrol metabolik yang optimal, mendapatkan dampak insulinyang diharapkan, serta mengurangi kejadian komplikasi seminimal mungkin tanpa mengabaikan kualitashidup pasien, maka pada keadaan tertentu diperlukan penyesuaian dosis insulin, regimen, maupun teknikdan lokasi penyuntikan
Neuroblastoma pada Anak Usia 7 Tahun Laporan Kasus Sri Mulatsih; Vicka Farah Diba
Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.641 KB) | DOI: 10.14238/sp10.5.2009.292-5

Abstract

Neuroblastoma merupakan neoplasma dari sel embrional neural dan salah satu tumor padat terseringpada anak. Paling sering neuroblastoma berasal dari kelenjar supra renal, tetapi dapat juga dijumpai disepanjang jalur syaraf simpatis. Ditemukan kasus neuroblastoma pada usia anak yang lebih tua (7 tahun).Gejala pembesaran perut merupakan gejala awal yang harus diwaspadai adanya suatu tumor jaringanpadat neuroblastoma. Perjalanan sangat cepat, dengan ditandainya penyebaran di rongga pleura, kelenjargetah bening dalam waktu satu bulan. Semua hasil analisis gejala klinis dan pemeriksaan penunjang sangatmendukung diagnosis neuroblastoma stadium IV.
Sepsis pada Neonatus (Sepsis Neonatal) Titut S Pusponegoro
Sari Pediatri Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.2.2000.96-102

Abstract

Sepsis neonatal adalah sindrom klinik penyakit sistemik, disertai bakteremia yang terjadipada bayi dalam satu bulan pertama kehidupan. Angka kejadian sepsis neonatal adalah1-10 per 1000 kelahiran hidup. Sepsis neonatal dapat terjadi secara dini, yaitu pada 5-7hari pertama dengan organisme penyebab didapat dari intrapartum atau melalui salurangenital ibu. Sepsis neonatal dapat terjadi setelah bayi berumur 7 hari atau lebih yangdisebut sepsis lambat, yang mudah menjadi berat dan sering menjadi meningitis. Sepsisnosokomial terutama terjadi pada bayi berat lahir sangat rendah atau bayi kurang bulandengan angka kematian yang sangat tinggi. Karena masih tingginya angka kematiansepsis neonatal, tatalaksana yang utama adalah upaya pencegahan dengan pemakaianproteksi di setiap tindakan terhadap neonatus, termasuk pemakaian sarung tangan,masker, baju dan kacamata debu serta mencuci segera tangan dan kulit yang terkenadarah atau cairan tubuh lainnya.
Konjungtivitis Vernalis Siti Budiati Widyastuti; Sjawitri P. Siregar
Sari Pediatri Vol 5, No 4 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.4.2004.160-4

Abstract

Konjungtivitis vernalis (KV) merupakan inflamasi konjungtiva yang bersifat bilateraldan rekuren. Kelainan ini ditandai oleh papil cobblestone pada konjungtiva tarsaldan hipertrofi papil pada konjungtiva limbus.1-5 Insidens penyakit ini berkisar antara0,1-0,5% diantara penyakit mata lainnya dan meningkat terutama pada musimkemarau. Penyakit ini umumnya terjadi pada anak berusia antara 3-25 tahun, danlebih sering pada laki-laki.1- 5Lebih dari sembilan puluh persen pasien KV memiliki riwayat atopi pada dirinyamaupun anggota keluarganya. Patogenesis dan etiologi penyakit ini belum diketahuidengan pasti. Beberapa peneliti menghubungkan dengan reaksi hipersensitivitas tipeI dan IV.2,4,6-8 Tata laksana adekuat untuk mencegah terjadinya kekambuhan sampaisaat ini belum memberikan hasil yang memuaskan.1,6,8-10 Namun umumnya setelah2 sampai 10 tahun akan terlihat resolusi gejala secara spontan.4,6,8Tujuan laporan kasus ini untuk membahas diagnosis dan tata laksana konjungtivitisvernalis.
Perbandingan Efektivitas Pengobatan Lorazepam Bukal Dengan Diazepam Rektal dalam Tata Laksana awal Kejang pada Anak Susiana Tendean; Hardiono D. Pusponegoro; Bambang Madiyono
Sari Pediatri Vol 8, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.758 KB) | DOI: 10.14238/sp8.4.2007.265-9

Abstract

Latar belakang. Lorazepam bukal dan diazepam rektal digunakan dalam tata laksanainisial kejang pada anak. Penelitian yang membandingkan efektivitas penggunaan lorazepambukal dan diazepam rektal sejauh ini belum pernah dilakukan pada anak di Indonesia.Tujuan. Untuk mengevaluasi efektivitas pengobatan lorazepam bukal dibandingkandiazepam rektal dalam tata laksana inisial kejang pada anak.Metoda. Penelitian ini adalah uji klinis acak terbuka pada anak kejang berusia 6 bulan–6 tahun, sebelum mendapat obat antikonvulsan untuk menghentikan kejang. Subyekpenelitian menerima lorazepam bukal atau diazepam rektal berdasarkan randomisasi.Parameter keberhasilan terapi adalah kemampuan obat untuk menghentikan kejang tanpaefek samping yang berarti dan kecepatan obat menghentikan kejang. Efek sampingdiobservasi setelah pemberian obat.Hasil. Lorazepam bukal efektif menghentikan kejang pada 18 dari 22 pasien, sedangkandiazepam rektal efektif menghentikan kejang pada 20 dari 22 pasien. Pada penelitian inididapatkan efektivitas lorazepam bukal sama dengan diazepam rektal (p = 0,664; 95%IK 0,71 – 1,14). Diazepam rektal lebih cepat dalam menghentikan kejang (44,7 ± 22,1detik) dibandingkan lorazepam bukal (92,2 ± 53,5 detik), perbedaan ini secara statistikbermakna (p = 0,002). Tidak dijumpai efek samping akibat pemakaian lorazepam bukalmaupun diazepam rektal.Kesimpulan. Lorazepam bukal dan diazepam rektal mempunyai efektivitas yang samadalam mengatasi kejang namun diazepam rektal lebih cepat menghentikan kejangdibandingkan lorazepam bukal.
Profil Klinis dan Etiologi Pasien Keterlambatan Perkembangan Global di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta I Gusti Ngurah Suwarba; Dwi Putro Widodo; RA Setyo Handryastuti
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.621 KB) | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.255-61

Abstract

Latar belakang. Perkembangan anak meliputi aspek motorik halus, motorik kasar, bahasa/berbicara, personal sosial, kognitif, dan aktivitas sehari-hari. Keterlambatan perkembangan global (KPG) adalah keterlambatan bermakna pada lebih dari dua domain perkembangan. Etiologi sangat bervariasi, angka kejadian sekitar 1%-3% anak-anak di seluruh dunia, sedangkan di Indonesia sampai saat ini belum pernah dilaporkan.Tujuan. Mengetahui prevalensi, karakteristik, etiologi, dan faktor-faktor yang berhubungan dengan etiologi KPG di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta.Metode. Penelitian retrospektif dilakukan pada 151 anak KPG di Poliklinik Neurologi anak RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta pada Januari 2006-Juli 2008. Kriteria inklusi anak didiagnosis KPG, berumur <5 tahun.Hasil. Prevalensi KPG di Poliklinik Neurologi Anak RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta pada Januari 2006-Juli 2008 didapatkan pada 151(2,3%) dari 6487 kunjungan. Keluhan terbanyak, belum bisa berjalan dan berbicara 71 (47,1%) kasus, 84 (55,6%) laki-laki, dan rerata umur (21,8 ± 13,1) bulan. Riwayat kelahiran 33(21,9%) kurang bulan, 45(29,8%) BBLR, 125(79,2%) lahir pervaginam, 46(30,%) tidak segera menangis. Gangguan perkembangan dalam keluarga ditemukan pada 20(13,2%) kasus. Karakteristik klinis 81(53,6%) mikrosefali, 67 (44,4%) kasus gizi kurang dan gizi buruk. Gambaran dismorfik 19 (12,6%) kasus, riwayat kejang 57(37,7%) kasus. Etiologi dapat diidentifikasi pada 97(64,2%) kasus. Lima etiologi terbanyak 33(21,9%) disgenesis cerebral, 18(11,9%) palsi cerebral, 15(9,9%) infeksi TORCH, 11(7,3%) sindrom genetik, dan 7(4,6%) kelainan metabolik kongenital. Analisis bivariat, ditemukan perbedaaan bermakna pada riwayat kejang, jenis kelamin, mikrosefali, dan gambaran dismorfik antara etiologi yang diketahui dan etiologi tidak diketahui dengan p=0,025; 0,016; 0,018; <0,0001. Analisis multivariat, ada hubungan bermakna antara keberhasilan identifikasi etiologi dengan jenis kelamin, mikrosefali, dan gambaran dismorfik dengan p=0,003; <0,0001 dan 0,006.Kesimpulan. Prevalensi keterlambatan perkembangan global di poliklinik anak RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta 2,3%. Karakterisitik klinis yang berhubungan bermakna dengan keberhasilan identifikasi etiologi adalah jenis kelamin laki-laki, mikrosefali, dan adanya gambaran dismorpik.
Gangguan Fungsi Multi Organ pada Bayi Asfiksia Berat Vera Muna Manoe; Idham Amir
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.073 KB) | DOI: 10.14238/sp5.2.2003.72-8

Abstract

Asfiksia perinatal masih merupakan masalah baik di negara berkembang maupun dinegara maju dan menyebabkan kematian sebesar 20% dari bayi baru lahir. Keadaanhipoksia dan iskemia yang terjadi akibat afiksia akan menimbulkan gangguan padaberbagai fungsi organ. Proses terjadinya gangguan bergantung pada berat dan lamanyahipoksia terjadi dan berkaitan dengan proses reoksigenisasi jaringan setelah proses hipoksiatersebut berlangsung. Faktor risiko terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir terdiri darifaktor ibu, faktor janin dan faktor persalinan/kelahiran. Hal ini penting, karena denganpengenalan faktor risiko tersebut maka persiapan resusitasi bayi dapat dilakukan. Beberapaorgan tubuh yang akan mengalami disfungsi akibat asfiksia perinatal adalah otak, paru,hati, ginjal, saluran cerna dan sistem darah. Dampak jangka panjang bayi yang mengalamiasfiksia berat antara lain ensefalopati hipoksik-iskemik, iskemia miokardial transien,insufisiensi trikuspid, nekrosis miokardium, gagal ginjal akut, nekrosis tubular akut,enterokolitis, SIADH (syndrome inappropriate anti diuretic hormone) kerusakan hati,Koagulasi intra-vaskular diseminata (KID), perdarahan dan edem paru, penyakit membranhialin HMD sekunder dan aspirasi mekonium.
Gambaran Persepsi Orang Tua tentang Penggunaan Antipiretik sebagai Obat Demam Soepardi Soedibyo; Elsye Souvriyanti
Sari Pediatri Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.2.2006.142-6

Abstract

Latar belakang. Pemberian antipiretik pada anak dengan demam, sering dilakukansendiri oleh orang tuanya. Walaupun masih ada yang memberikannya dengan indikasidan cara yang kurang tepat. Semua jenis antipiretik mempunyai efek samping oleh sebabitu, perlu diberikan informasi yang jelas tentang cara penggunaannya pada mereka.Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenaipersepsi orang tua pasien tentang penggunaan antipiretik.Metoda. Penelitian deskriptif ini dengan desain cross sectional yang dilakukan padaorang tua pasien yang datang ke Poliklinik Umum Ilmu Kesehatan Anak, RS.CiptoMangunkusumo, Jakarta pada Desember 2005.Hasil. Pada penelitian ini ditemukan bahwa indikasi pemberian antipiretik cenderungberlebihan bahkan diberikan pada suhu tubuh yang masih normal. Antipiretik yangsering digunakan adalah asetaminofen. Sumber informasi penggunaan antipiretikterbanyak dari dokter.Kesimpulan dan saran. Frekuensi penggunaan antipiretik sudah benar, tetapi dosistidak tepat karena tidak menggunakan sendok takar yang dianjurkan. Antipiretik yangsering digunakan adalah asetaminofen karena mudah didapat dan harga murah.Penggunaan antipiretik terutama didapat dari informasi tenaga medis (88,3%) makadiharapkan tenaga medis yang memberikan pelayanan primer memberikan informasidengan tepat.

Page 69 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue