cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Survei Sero Epidemiologik Infeksi Helicobacter pylori pada Siswa Sekolah Dasar Negeri Jebres Surakarta dengan Metoda PHA B. Subagyo
Sari Pediatri Vol 7, No 3 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.3.2005.149-52

Abstract

Latar belakang. Infeksi H. pylori ditandai dengan ditemukan IgG anti H. pylori.Sebagian infeksi H. pylori tidak memberikan gejala klinik dan merupakan penyebabgastritis kronik dan karsinogenik lambung. Sampai saat ini kemampuan untukmendiagnosis infeksi H. pylori masih terbatas.Tujuan. Untuk mengetahui prevalensi infeksi H. pylori pada siswa Sekolah Dasar NegeriJebres, umur 6-14 tahun di Surakarta.Metoda. Penelitian ini dilakukan secara studi potong lintang, analitik. Infeksi H. pyloriberdasarkan hasil pemeriksaan serologi PHA yang dibuat dari antigen lokal. Populasipada penelitian ini adalah siswa Sekolah Dasar Negeri di Jebres Surakarta, dengan kondisisosial ekonomi yang rendah. Sampel adalah siswa sekolah yang diijinkan orangtuanyamengikuti penelitian ini, dengan menandatangani informed consent.Hasil. Prevalensi infeksi H. pylori didapatkan 107 PHA positip pada 532 siswa (20,1%);siswa perempuan 27.3% dari 205 siswa sedangkan pada laki-laki 12.0% dari 220 siswa.Kelompok umur 6-9 tahun dijumpai PHA positip 13.0% dari 241 siswa. Kelompokumur 10-14 tahun PHA positif 28.0% dari 184 siswa.Kesimpulan. Prevalensi pada siswa perempuan lebih tinggi dari pada siswa laki-lakiPrevalensi kelompok umur 10-14 tahun lebih tinggi dari kelompok siswa umur 6-9tahun. Tingginya prevalensi infeksi H. pylori mungkin sebagai akibat higiene dan sanitasilingkungan yang buruk. Pemeriksaan serologi poliklonal metoda PHA, dibuat dari antigenlokal dan perlu dikembangkan lebih baik dari sisi harga, produksi maupunpendistribusiannya. [
Tata laksana Metformin Diabetes Mellitus Tipe 2 pada Anak Dibandingkan dengan obat Anti Diabetes Oral yang lain Aryana Diani; Aman B. Pulungan
Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.6.2010.395-400

Abstract

Prevalens dan insidens diabetes mellitus tipe 2 (DMT2) pada anak terus mengalami peningkatan di seluruhdunia. Data di Indonesia menunjukkan prevalens diabetes pada anak di daerah perkotaan Jakarta meningkatdari 1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun 1995, namun sayangnya tidak ada data lebih lanjutmengenai prevalens DMT2. Sampai saat ini, obat anti diabetik oral yang sudah disetujui penggunaannyapada anak oleh oleh Food and Drug Administration (FDA) hanya metformin. Sedangkan obat anti diabetikoral golongan lain masih dalam perdebatan. Dari penelusuran literatur didapatkan bahwa secara umummekanisme kerja obat-obat tersebut dalam mengontrol kadar gula darah yaitu dengan meningkatkan sekresiinsulin seperti obat golongan sulfonylurea, menurunkan resistensi insulin seperti obat golongan biguaniddan menurunkan absorpsi glukosa postprandial seperti obat golongan inhibitor􀀀􀁁-glucosidase. Keberhasilanterapi dinilai berdasarkan kadar glukosa darah, kadar HbA1c, dan sindrom metabolik yang menyertainyaseperti obesitas, hipertensi dan hiperlipidemia. Sampai saat ini belum ada data mengenai efektifitas dankeamanan penggunaan obat anti diabetik oral selain biguanid metformin. Uji klinis mengenai penggunaanobat-obatan anti diabetik oral selain metformin pada anak dengan DMT2 masih perlu dilakukan untukdapat dijadikan suatu rekomendasi terapi. Selain mengontrol kadar gula darah, tata laksana DMT2 jugameliputi modifikasi gaya hidup dan mengatasi gejala sindrom metabolik yang menyertainya.
Pengaruh Pemberian Vitamin A terhadap Kadar Vitamin Pengaruh Pemberian Vitamin A terhadap Kadar Vitamin A dalam Darah dan Lama Diare pada Pasien Diare Akut A dalam Darah dan Lama Diare pada Pasien Diare Akut di Bagian Anak RS. Muh. Hoesein Palembang di Bagian Anak RS. Muh. Hoesein Palembang Asteria I. Pramitasari; Achirul Bakri; Nancy Pardede
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.179 KB) | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.61-6

Abstract

Penelitian uji klinik tersamar ganda ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh suplementasi vitamin A terhadap kadar vitamin A dalam darah dan lama diare pada anak. Enam puluh empat anak sejak tanggal 11 Oktober 1994 - 6 Februari 2000 berusia 12-60 bulan yang berobat ke Bagian Anak RS. Muh. Hoesein (RSMH) Palembang (rawat jalan dan rawat inap) dengan diare akut, dan memenuhi kriteria penelitian, dibagi dalam dua kelompok secara acak untuk menerima vitamin A 200.000 IU . Kadar vitamin A plasma diperiksa saat pertama sakit dan saat sembuh. Dikatakan defisiensi bila kadar vitamin A plasma < 20 mg/dl. Defisiensi Vitamin A pada saat diare terdapat pada 25 pasien kelompok kasus dan 28 pasien kelompok kontrol. Sementara itu pada saat sembuh pasien defisiensi adalah 25 dan 27 anak berturut-turut dari kelompok kasus dan kontrol. Rerata kadar vitamin A plasma saat diare pada kelompok kasus 17,34 ± 24,13 mg/dl dan pada kelompok kontrol 12,16 ±12,18 mg/dl (r = 0,282). Pada saat sembuh rerata kadar vitamin A kelompok kasus adalah 14,22 ± 10,37 mg/dl, sedangkan pada kelompok kontrol 12,73 ± 8,80 mg/dl (r = 0,545). Tidak ada perbedaan bermakna antara kadar vitamin A kedua kelompok baik pada saat diare maupun saat sembuh (kasus r = 0,481 ; kontrol r = 0,765). Pasien yang mengalami defisiensi vitamin A saat diare menunjukkan peningkatan kadar vitamin A plasma saat sembuh meskipun disuplementasi atau tidak dan tidak ada perbedaan bermakna antara dua kelompok tersebut. Rerata lama diare adalah 94,55 ± 57,35 jam pada kelompok kasus dan 10,13 ± 55,88 jam pada kelompok kontrol (r = 0,582). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa suplementasi vitamin A saat diare tidak berpengaruh terhadap kadar vitamin A plasma dan lama diare.
Pemeriksaan Dermatoglifik dan Penilaian Fenotip Sindrom Down Sebagai Uji Diagnostik Kariotip Aberasi Penuh Trisomi 21 Sjarif Hidajat; Herry Garna; Ponpon S Idjradinata; Achmad Surjono
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.9 KB) | DOI: 10.14238/sp7.2.2005.97-104

Abstract

Latar belakang: Sindrom Down (trisomi 21) terjadi karena aberasi numerik sebagaiakibat kegagalan proses replikasi dan pemisahan sel anak (non-disjunction). Bentukkariotip aberasi ini dapat berbentuk aberasi penuh dan dapat pula berbentuk mosaik,yang diduga mempunyai implikasi terhadap berat ringannya kelainan fenotip. Di sampingpenting untuk konseling genetik, penelaahan secara cepat di bangsal perinatologi jugadiperlukan untuk asumsi sementara dalam menjawab pertanyaan keluarga pasien.Tujuan: tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan jenis kariotip dengan beratnyaaberasi penuh terhadap beratnya fenotip sindrom Down.Metoda: penelitian dilakukan pada 147 anak usia 0-5 tahun di Yayasan Suryakanti, RSDr. Hasan Sadikin dan Yayasan Dian Grahita Jakarta. Penentuan fenotip sindrom Downdilakukan dengan penelaahan gejala utama dari kelainan tersebut. Dilakukan wawancarariwayat perinatal dan latar belakang keluarga serta pemeriksaan dermatoglifik,pemeriksaan antropometrik khusus dan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaankromosom dari kultur limfosit.Hasil: didapatkan 146 anak mempunyai kelainan kariotip, yang ternyata semuanya trisomi21, sedangkan seorang anak menunjukkan kariotip normal. Hasil analisis menunjukkandermatoglifik, kelainan mata dan kelainan tangan dan kaki mempunyai hubungan yangsignifikan dengan kariotip. Pada dermatoglifik abnormal 78,2% mengarah ke kariotipaberasi penuh. Kelainan jantung bawaan, kelainan mata dan kelainan tangan dan kaki,terdapat masing-masing 82,4%, 77,7% dan 77,6%. Secara bersama-sama yang memberikannilai risiko tertinggi adalah kelainan gerak, kemudian kelainan mata dan dermatoglifik.Sebanyak 47 anak (32%) menunjukkan kariotip mosaik dan 99 anak (68%) jenis aberasipenuh. Diperoleh besarnya risiko terjadinya kariotip aberasi penuh adalah 9,5 kali padakeempat variabel fenotip abnormal dibandingkan dengan subjek tanpa gangguan fenotipdan dermatoglifik. Kelainan dermatoglifik, kelainan mata dan kelainan tangan serta kakisecara bermakna menunjukkan adanya hubungan antara satu variabel dengan lainnya,makin rendah persentase sel normal pada kariotip aberasi penuh, makin abnormal keadaandermatoglifik dan fenotip organ tubuh tersebut.Kesimpulan: pasien kelainan aberasi kromosom numerik, khususnya trisomi 21,mempunyai kelainan gabungan dermatoglifik serta kelainan organ tertentu dalam derajatyang maksimal, dan cenderung menunjukkan kariotip jenis aberasi penuh.
Prevalensi Seropositif Antibodi Anti-rubela pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta: Upaya untuk Menurunkan Angka Kejadian Sindrom Rubela Kongenital Elsye Souvriyanti; Sri Rezeki S Hadinegoro; I Budiman
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.157-62

Abstract

Latar belakang. Infeksi rubela pada ibu hamil dapat mengakibatkan komplikasi yang serius pada janin.Maka remaja perempuan sebagai calon ibu harus telah mempunyai kadar antibodi anti-rubela yang tinggi.Tujuan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi seropositif terhadap antibodi anti-rubelapada remaja perempuan sebagai upaya untuk menurunkan angka kejadian sindrom rubela kongenital.Metode. Penelitian deskriptif potong lintang, dilakukan terhadap 97 orang mahasiswi tingkat I dan IIFakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang dipilih secara konsekutif pada bulan Mei-Juni 2007.Hasil. Usia rerata subjek 18,9 tahun (SD=1,0). Imunisasi MMR didapatkan pada 19 dari 97 subjekpenelitian (19,6%). Angka seropositif terhadap antibodi anti-rubela 71 subjek (73,2%) rerata kadar antibodianti-rubela 159,7 UI/ml (SD = 107,4). Proporsi seropositif antibodi anti-rubela yang diperoleh melaluiimunisasi MMR 19 dari 71 subjek (26,8%) nilai rerata kadar antibodi anti-rubela 148,9 UI/ml (SD =86,4). Proporsi seropositif antibodi anti-rubela yang diperoleh melalui infeksi alamiah 52 dari 71 subjek(73,2%) rerata kadar antibodi anti-rubela 163,6 UI/ml (SD = 114,7).Kesimpulan. Prevalensi seropositif antibodi anti-rubela 73,2%. Imunitas yang ditimbulkan denganpemberian imunisasi MMR sama dengan imunitas yang diperoleh dari infeksi alamiah.
Kesulitan Makan pada Pasien: Survei di Unit Pediatri Rawat Jalan Soepardi Soedibyo; Raden Lia Mulyani
Sari Pediatri Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.2.2009.79-84

Abstract

Latar belakang. Masalah kesulitan makan pada anak sangat sering dihadapi baik oleh para orangtua maupun dokter atau petugas kesehatan yang lain, namun data mengenai kesulitan makan pada anak yang berobat di unit rawat jalan belum banyak diketahui.Tujuan. Mengetahui prevalensi kesulitan makan berdasarkan kelompok usia, keluhan kesulitan makan, karakteristik anak, gejala klinis esofagitis refluks pada kesulitan makan, dan hubungan beberapa variabel ibu dan anak dengan kesulitan makan.Metode. Penelitian cross-sectional dilakukan pada semua pasien yang datang ke Unit Pediatri Rawat Jalan antara bulan November 2007-Januari 2008. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan pemeriksaan fisik. Pengambilan sampel dilakukan dengan consecutive sampling. Pengolahan data dengan program SPSS versi 13.Hasil. Kelompok usia terbanyak mengalami kesulitan makan adalah usia 1 sampai 5 tahun (58%), dengan jenis kelamin terbanyak laki-laki (54%). Empat puluh tiga persen subjek memiliki status gizi kurang. Kesulitan makan didapatkan pada 50 orang dari 109 orang subjek (45,9%). Gejala klinis esofagitis refluks ditemukan dalam jumlah yang sama (45,9%). Keluhan berupa menghabiskan makanan kurang dari sepertiga porsi (27,5%), menolak makan (24,8%) dan anak rewel, merasa tidak senang atau marah (22,9%), hanya menyukai satu jenis makanan (7,3%) hanya mau minum susu (18,3%), memerlukan waktu >1 jam untuk makan (19,3%) dan mengemut (15,6%). Keluhan 72% telah dialami lebih dari 6 bulan , 50% memiliki keluhan gangguan kenaikan berat badan, 22% rewel, 12% nyeri epigastrium, 10% back arching, dan 6% nyeri menelan serta sering muntah.Kesimpulan Anak dengan kesulitan makan terbanyak kelompok usia 1-5 tahun dan lebih sering pada anak laki-laki. Gejala kesulitan makan berturut-turut menghabiskan makanan kurang dari sepertiga porsi, menolak bila diberi makan, rewel, merasa tidak senang atau marah selama proses makan, memerlukan waktu lebih dari satu jam untuk makan, hanya mau minum susu, dan mengemut. Pasien yang mengalami esofagitis refluks gejala klinisnya gangguan kenaikan berat badan disusul oleh rewel/iritabel, nyeri epigastrium, back arching, nyeri menelan, dan muntah.
Perbandingan Efektifitas Klinis antara Kloramfenikol dan Tiamfenikol dalam Pengobatan Demam Tifoid pada Anak Rismarini Rismarini; Zarkasih Anwar; Abbas Merdjani
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.83-7

Abstract

Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia dan kloramfenikolmasih merupakan pilihan utama untuk pengobatan demam tifoid. Dari beberapapenelitian di temukan 3-8% kuman Salmonella telah resisten terhadap kloramfenikol,2-4% mengalami kekambuhan dan menjadi pengidap kuman, disamping adanya efeksamping penekanan sumsum tulang dan anemia aplastik. Seftriakson dan siprofloksasindapat memberikan hasil yang lebih baik tetapi belum dapat dipakai secara luas karenaharganya mahal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbandingan efektifitas kliniskloramfenikol dan tiamfenikol dalam pengobatan demam tifoid pada anak.Penelitian uji acak tersamar ganda dilakukan pada anak dengan demam tifoid yang dirawatdibagian IKA FK UNSRI / RS Moh Husein (RSMH) Palembang antara Maret –Nopember 1999. Lima puluh orang anak memenuhi kriteria penelitian, terdiri dari 27anak laki-laki dan 23 anak perempuan, 41 (82%) anak usia 5 tahun atau lebih, hanya 9(18%) usia di bawah 5 tahun. Dua puluh lima anak mendapat kloramfenikol, yang lainmendapat tiamfenikol. Pada kelompok kloramfenikol demam kembali normal dalamwaktu 3,04 + 2,11 hari sedangkan dengan tiamfenikol dalam waktu 2,68 + 1,57 hari.Secara statistik tidak ditemukan perbedaan bermakna dalam hal lamanya turun demam,membaiknya nafsu makan, hilangnya nyeri perut serta pulihnya kesadaran antarakelompok kloramfenikol dengan kelompok tiamfenikol. Terdapat 1 penderita yang tidaksembuh dengan kloramfenikol sehingga diganti dengan seftriakson, sementara darikelompok tiamfenikol semuanya sembuh. Tidak ditemukan pasien yang kambuh danpengidap kuman setelah pengobatan. Kejadian anemia selama pengobatan sama padakedua kelompok. Walaupun tidak berbeda secara bermakna, kelompok tiamfenikol dapatkeluar rumah sakit 1 hari lebih cepat sedangkan harga obat hanya sedikit lebih mahaldari kloramfenikol.
Kejadian Luar Biasa Hepatitis A di SMPN-259 Jakarta Timur Hanifah Oswari; Tuty Rahayu; Julfina Bisanto,; Soedjatmiko Soedjatmiko
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.172-5

Abstract

Infeksi virus hepatitis A (VHA) ditularkan melalui transmisi fekal-oral, dan merupakanmasalah di banyak negara, termasuk Indonesia. Bila terjadi pada anak usia sekolah akanmempengaruhi proses belajar dan membutuhkan pengeluaran biaya untuk perawatan.Tujuan penelitian ini untuk menentukan attact rate, penyebab, serta gejala penyakitpada Kejadian Luar Biasa (KLB) hepatitis akut di SMPN-259 Jakarta Timur. Penelitianini bersifat prospektif observasional. Pada hasil penelitian didapatkan jumlah muridseluruhnya 1420 orang (usia 12-16 tahun), 1157 orang mengisi kuesioner yang dibagikan.Dari kuesioner didapatkan attack rate penyakit adalah 38,5 % terdiri dari kelas I 165/442 (37,3 %), kelas II 94/338 (27,8 %), kelas III 187/377 (49,6 %). Murid yangmemerlukan perawatan di rumah sakit 19/1157 (4,3 %). Tidak didapatkan murid yangmeninggal (crude fatality rate = 0). Pengambilan sampel dilakukan secara random padakelompok murid yang sakit dengan hasil sebagai berikut: IgM anti HAV positif 38/45(84,4 %) pada murid sakit yang tidak dirawat inap, dan 14/16 (87,5 %) pada muridsakit yang dirawat inap. Gejala klinis pada subyek dengan IgM anti HAV (+) meliputiurin gelap 67 %, lemah 57,7 %, demam 50 %, muntah 48 %, anoreksia 48 %, nyeriperut 46 %, kuning 36,5 %, diare 25 %, dan mialgia 19,2 %. Terdapat 51,6% subyekdengan IgG antiHAV positif pada kelompok subyek yang tidak sakit. Kesimpulan attackrate KLB hepatitis akut di SMPN-259 Jakarta adalah 38,5 % semua anak sembuh 0%.Penyebab KLB hepatitis akut terbukti adalah VHA
Pendekatan Diagnosis dan Tata Laksana Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) pada Anak: laporan kasus Ni Ketut Prami Rukmini; Nia Kurniati; Dadi Suyoko
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.2.2007.101-11

Abstract

Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) pertama kali dilaporkan pada awal tahun 1980-an,merupakan infeksi human immunodeficiency virus (HIV). Penyakit ini telah menjadi pandemi yang meluassecara cepat khususnya di Afrika dan Asia. Pada tahun 2005 terdapat 40,3 juta orang di seluruh duniahidup dengan HIV/AIDS, termasuk diantaranya 4,9 juta infeksi baru dan 3,1 juta tercatat meninggaldunia.1-3 Selama tahun 2005, diperkirakan 700.000 anak di seluruh dunia baru terinfeksi HIV. Sekitar90% memperoleh infeksi dari ibunya selama kehamilan, kelahiran atau menyusui.4,5 Di Rumah SakitCipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, prevalens anak yang terinfeksi HIV 46 anak sepanjang tahun2005. Manifestasi klinis HIV/AIDS ini bermacam-macam sesuai dengan derajat penyakit yang telah terjadi.5Dijumpai beberapa sistem klasifikasi untuk mendiagnosis infeksi HIV pada anak sehingga diharapkandapat menjadi pedoman tata laksana pasien HIV/AIDS.5-9 Tujuan laporan kasus ini untuk mendiskusikantentang anak yang dicurigai terinfeksi HIV, bagaimana menegakkan diagnosis, dan tata laksana AIDSpada anak
Plasmaferesis Sebagai Terapi Sindrom Guillain-Barre Berat pada Anak Vimaladewi Lukito; Irawan Mangunatmadja; Antonius H. Pudjiadi; Tatang M. Puspandjono
Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.6.2010.448-55

Abstract

Plasmaferesis atau plasma exchange merupakan salah satu pilihan terapi bagi sindrom Guillain-Barreberat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa plasmaferesis dan imunoglobulin intravena (IVIg) sebagaiterapi sindrom Guillain-Barre memiliki efektivitas yang sama, namun penggunaan plasmaferesis padapasien anak lebih jarang dilakukan karena membutuhkan peralatan dan persiapan yang lebih kompleks.Tujuan dari laporan kasus untuk melaporkan terapi sindrom Guillain-Barre berat dengan menggunakanplasmaferesis pada pasien anak. Seorang anak perempuan usia 10 tahun dirawat di RSUPN. Dr. CiptoMangunkusumo dengan diagnosis sindrom Guillain-Barre. Pada hari kedua perawatan pasien mengalamiparalisis otot pernafasan sehingga pernafasan harus dibantu dengan ventilasi mekanik. Faktor ekonomi danketersediaan alat menyebabkan plasmaferesis dipilih sebagai terapi, dibandingkan dengan pengobatan IVIg.Plasmaferesis dilakukan empat kali dalam waktu satu minggu dengan menggunakan fraksi protein. Efeksamping plasmaferesis berupa hipotensi dan sepsis yang ditangani dengan pemberian cairan dan antibiotik.Fungsi motorik pasien berangsur membaik dalam waktu satu minggu. Ventilasi mekanik dilepas setelahduapuluh enam hari dan pasien dipulangkan setelah dua bulan perawatan. Plasmaferesis dan IVIg memilikiefektifitas yang sama sebagai terapi sindrom Guillain-Barre berat. Keputusan untuk memilih salah satu terapitersebut berdasarkan pada keadaan klinis pasien, sistem penunjang, dan kemampuan ekonomi orang tuapasien.

Page 68 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue