cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Hubungan Hiperbilirubinemia dan Kematian Pasien yang Dirawat di NICU RSUP Dr Kariadi Semarang M. Sholeh Kosim; Lisa Adhia Garina; Tony Chandra; M. Sakundarno Adi
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.270-3

Abstract

Latar belakang. Hiperbilirubinemia merupakan salah satu masalah kegawatan pada bayi baru lahir.Peningkatan unconjugated bilirubin serum sampai dengan kadar 20 mg/dl sering menyebabkan ”kern ikterus”,sehingga fungsi otak terganggu dan mengakibatkan kecacatan sepanjang hidup atau kematian. Sebagianbesar pasien hiperbilirubinemia yang dirawat di NICU mempunyai prognosis yang kurang menggembirakan.Tujuan. Mengetahui hubungan hiperbilirubinemia dan kejadian kematian pasien yang dirawat di NICURSUP Dr. Kariadi Semarang periode Januari 2005 – November 2006Metode. Studi observasional retrospektif pada pasien di bangsal NICU RSUP Dr. Kariadi Semarang,Januari 2005 – November 2006. Variabel yang diteliti ialah karakteristik umum (masa gestasi, berat badanlahir, cara persalinan, kejadian sepsis) yang merupakan faktor risiko hiperbilirubinemia dan hubunganhiperbilirubinemia terhadap hasil keluaran (hidup atau mati). Kadar bilirubin diperiksa pertama kali padasaat ditemukan ikterus. Analisis statistik menggunakan program SPSS versi 11.5 for Windows.Hasil. Dari 90 pasien dengan ikterus neonatorum, 71 (78,9%) pasien mempunyai kadar bilirubin =10 mg/dL.Limapuluh tiga (58,9%) pasien BBLR, 50 (55,6%) preterm dan 54 (60%) lahir spontan. Limapuluh tujuh bayi(69,5%) pasien dengan sepsis awitan dini, 33 bayi ( 30.5 %) awitan lambat. Angka kematian 80% dan sebagianbesar 65 (90,3%) disebabkan oleh sepsis. Tidak didapatkan hubungan antara hiperbilirubinemia dan hasil keluaran.Sepsis awitan lambat merupakan faktor risiko terjadinya hiperbilirubinemia OR 32,3 (95% CI 7,8 - 125) danpartus dengan tindakan juga merupakan faktor risiko terjadinya hiperbilirubinemia OR 4,5 (95% CI 1,5 – 13,3).Kesimpulan. Sepsis awitan lambat dan partus dengan tindakan merupakan faktor risiko terjadinyahiperbilirubinemia pada pasien yang dirawat di NICU. (
Evaluasi Jumlah Sel T-CD4 dan Berat Badan Anak dengan HIV/AIDS yang Mendapatkan Anti Retro Virus Lini Pertama di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang Irene Ratridewi
Sari Pediatri Vol 11, No 4 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.4.2009.276-81

Abstract

Latar belakang. Infeksi HIV merupakan masalah di dunia dan juga Indonesia. Peningkatan kejadian pada ibu hamil juga meningkatkan kasus HIV anak. Virus HIV menginfeksi dan menurunkan jumlah sel T CD4 sehingga menambah risiko terjadi infeksi oportunistik dan memperburuk gizi.Tujuan. Mengevaluasi jumlah sel T CD4 dan berat badan pada pemberian anti retro virus (ARV) terhadap anak HIV/AIDS di RSU dr Saiful Anwar Malang.Metode. Penelitian longitudinal mengukur CD4 dan perubahan berat badan pada anak HIV/AIDS dengan ARV lini pertama (zidovudine, lamivudine, nevirapine) lebih dari 6 bulan. Data disajikan dalam tabel dan gambar.Hasil. Terdapat 13 kasus HIV (dari total 40) dengan ARV ≥6 bulan, tanpa kasus meninggal. Rerata peningkatan berat badan setelah 6 bulan 29,6% (12 kasus), 1 kasus berat badan turun 2,1%, 6 bulan – 1 tahun 8,7% (11 kasus), 1 kasus berat badan turun 8%. Rerata peningkatan berat badan dalam kurun, Waktu 1–1,5 tahun 7,9% (pada 6 kasus), 1,5–2 tahun 6,5% (3 kasus), 1 kasus berat badan turun 2%, rerata peningkatan berat badan 2–2,5 tahun 11,5% (2 kasus), dan 1 kasus telah mencapai 3 tahun pengobatan (berat badan meningkat 19,1%). Jumlah sel T CD4 cenderung meningkat pada 11 kasus dan menurun pada 2 kasus.Kesimpulan. Terdapat peningkatan jumlah sel T CD4 dan berat badan anak HIV/AIDS dengan ARV ≥6 bulan. Obat ARV lini pertama masih dapat digunakan, perlu dipertimbangkan ARV lini kedua pada dua kasus yang mengalami kegagalan terapi.
Gambaran Fraksi Ejeksi secara Ekokardiografi pada Anak Kurang Energi Protein di RSUP Hasan Sadikin, Bandung Dedet Hidayat; Sri Endah Rahayuningsih; Armijn Firman
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.54-60

Abstract

Sejak lama diketahui bahwa Kurang Energi Protein (KEP) berat dapat menyebabkankelainan kardiovaskular yang dapat menimbulkan kematian. Hal ini disebabkan olehatrofi jantung selama starvasi, tetapi masih tetap diperdebatkan mengenai kapan jantungpada anak KEP mulai menunjukkan gangguan fungsi. Tujuan dari penelitian ini adalahuntuk mengetahui gambaran fraksi ejeksi (FE) ventrikel kiri anak dengan berbagai derajatKEP yang berkunjung ke Instalasi Rawat Jalan serta yang dirawat di Bagian Anak RumahSakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Penelitian ini bersifat deskriptifdengan rancangan cross sectional dilakukan pada bulan Desember 2000 sampai Februari2001 dengan memeriksa FE 30 anak KEP I sampai III berdasarkan klasifikasi Waterlow,menggunakan alat ekokardiografi M-Mode. Pada penelitian ini didapatkan bahwa nilaiFE sudah mulai menurun pada 73,3% anak KEP I, 90,9% anak KEP II dan menurunpada seluruh anak KEP III. Kesimpulan: fraksi ejeksi sudah mulai terganggu pada sebagianbesar anak KEP I.
Gambaran Klinis Glomerulonefritis Akut pada Anak di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Sudung O. Pardede; Partini P. Trihono; Taralan Tambunan
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.144-8

Abstract

Glomerulonefritis akut merupakan glomerulonefritis yang sering ditemukan pada anakditandai dengan hematuria, hipertensi, edem, dan penurunan fungsi ginjal.Glomerulonefritis akut pada anak paling sering ditemukan pada umur 2- 10 tahun danumumnya terjadi pasca infeksi streptokokus.Tujuan: mengetahui gambaran klinis glomerulonefritis akut pada anak di DepartemenIlmu Kesehatan Anak RSCM, Jakarta.Metoda: penelitian deskriptif retrospektif. Data diperoleh dari catatan medik pasiendengan diagnosis glomerulonefritis akut yang berobat di Departemen Ilmu KesehatanAnak RSCM, Jakarta, sejak tahun 1998 sampai 2002.Hasil: selama 5 tahun (1998-2002), didapatkan 45 pasien glomerulonefritis akut (26laki-laki dan 19 perempuan) yang berumur antara 4 – 14 tahun dengan umur palingsering adalah 6-11 tahun. Riwayat infeksi saluran nafas akut didapatkan pada 36 pasien,dan infeksi kulit 14 pasien. Hematuria makroskopik didapatkan pada 29 pasien, anuria/oliguria 31 pasien, dan edem pada 39 pasien. Hipertensi dijumpai pada 39 pasien, 19 diantaranya merupakan hipertensi krisis. Proteinuria dan hematuria mikroskopikdidapatkan pada semua pasien, leukosituria 29 pasien. Penurunan fungsi ginjal didapatkanpada 21 pasien, peningkatan titer ASO 21 pasien, dan komplemen C3 yang menurun32 pasien.Kesimpulan: hematuria, proteinuria, edem, hipertensi, dan oligo/anuria merupakanmanifestasi klinis glomerulonefritis akut yang paling sering ditemukan pada anak.Dibandingkan dengan periode sebelumnya, kejadian glomerulonefritis akut semakinmenurun.
Perbedaan Tingkat Kualitas Hidup Anak dengan Sindrom Nefrotik Primer Kelainan Minimal dan Bukan Kelainan Minimal Di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Dwi Fiona Simatupang; M.P. Damanik; Tonny Sadjimin
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.068 KB) | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.220-6

Abstract

Latar belakang. Mengukur kualitas hidup anak dengan penyakit kronis memberikan gambaran efekterapi, aspek yang terganggu dan dasar pertimbangan dalam melakukan intervensi. Pengukuran kualitashidup pada anak sindrom nefrotik dan faktor-faktor yang mempengaruhinya jarang dilakukan.Tujuan. Mengetahui perbedaan tingkat kualitas hidup antara anak dengan sindrom nefrotik primer kelainanminimal dan bukan kelainan minimal.Metode. Penelitian dilakukan secara kohort dengan responden 70 anak sindrom nefrotik berusia 6-15tahun yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito tahun 2000-2005. Pengukuran menggunakan kuisioner kualitashidup TACQOL (formulir anak dan orang tua). Kuisioner diisi melalui wawancara langsung dengan anakdan orang tua responden.Hasil. Terdapat hubungan bermakna pada tingkat kualitas hidup antara anak dengan sindrom nefrotikprimer kelainan minimal dan bukan kelainan minimal menurut persepsi orang tua (p=0,001), tetapi tidakmenurut persepsi anak. Pada analisis bivariat faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup buruk adalahjenis sindrom nefrotik bukan kelainan minimal RO 0,131 IK 95% 0,035-0,497. Terdapat hubungan yangbermakna antara pola asuh orang tua dengan jenis morfologi sindrom nefrotik (p=0,042). Di antara 7aspek kualitas hidup yang diukur, nilai tertinggi terlihat pada fungsi otonom dan motorik. Nilai terendahmenurut persepsi orang tua dan anak ialah fungsi sosial.Kesimpulan. Terdapat perbedaan tingkat kualitas hidup antara anak dengan sindrom nefrotik primer kelainanminimal dan bukan kelainan minimal menurut persepsi orang tua. Perbedaan morfologi, pola asuh orang tuamerupakan faktor yang mempengaruhi tingkat kualitas hidup anak dengan sindrom nefrotik dan memilikimasalah dengan fungsi sosial menurut persepsi orang tua dan anak.
Dampak Metilfenidat Kerja Panjang 20 Mg Terhadap Pola Perbaikan Gejala Klinis pada Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas (GPPH) Wiguna T; Wibisono S; Susworo Susworo; Sastroasmoro S; Purba Y; Suyatna FX
Sari Pediatri Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.2.2009.142-8

Abstract

Latar belakang. Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (GPPH) merupakan masalah kesehatan mental anak yang serius karena memberikan dampak negatif bagi perkembangan anak. Metilfenidat kerja panjang 20 mg merupakan salah satu obat pilihan utama untuk memperbaiki rentang perhatian anak dalam melaksanakan tugasnya, menurunkan perilaku hiperaktivitas, dan mengurangi perilaku impulsif.Tujuan. Menganalisis dampak pemberian metilfenidat kerja panjang 20 mg selama dua belas minggu dan dampak penghentian obat tersebut selama satu bulan terhadap pola perbaikan gejala klinis GPPH.Metode. Penelitian menggunakan desain time series dengan tujuan untuk melihat pola perbaikan gejala klinis GPPH selama 12 minggu pemberian obat tersebut serta selama obat dihentikan 1 bulan. Duapuluh satu anak dengan GPPH berusia 7–10 tahun yang belum pernah diberikan obat untuk GPPH sebelumnya dan tanpa disertai adanya ko-morbiditas dengan gangguan mental atau gangguan fisik kronik lain diikutsertakan dalam penelitian. Diagnosis GPPH ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis GPPH dari DSM-IV TR dengan bantuan penuntun wawancara MINI for kid. Daftar tilik SPPAHI diisi setiap dua minggu oleh orangtua dan digunakan untuk mengukur pola perbaikan klinis yang terjadi selama 18 minggu penelitian. Uji repeated measures digunakan untuk menganalisis data SPPAHI tersebut.Hasil. Subjek penelitian diberikan metilfenidat kerja panjang 20 mg selama 12 minggu, didapatkan penurunan nilai rerata SPPAHI yang sudah tampak dalam dua minggu pertama pemberian obat dan berlangsung hingga obat dihentikan selama satu bulan (p<0,001). Walaupun dijumpai kecenderungan peningkatan nilai rerata SPPAHI setelah obat dihentikan, namun peningkatan ini masih berada di bawah nilai titik potong SPPAHI untuk orangtua.Kesimpulan. Penelitian membuktikan bahwa pemberian metilfenidat kerja panjang 20 mg selama dua belas minggu berkaitan dengan pola perbaikan gejala klinis GPPH sampai dengan obat dihentikan selama satu bulan.
Terapi Probiotik dan Prebiotik pada Penyakit Saluran Cerna Anak Agus Firmansyah
Sari Pediatri Vol 2, No 4 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.4.2001.210-4

Abstract

Probiotik merupakan kuman yang berasal dari usus manusia, yang bila dikonsumsi peroral akan menimbulkan dampak positif bagi tubuh. Terapi probiotik sebenarnyamerupakan metoda tradisional yang digunakan untuk memperkuat daya tahan tubuhdan melawan penyakit; namun penjelasan ilmiahnya baru diungkapkan pada tahun 1907.Dalam 10 tahun terakhir ini, penelitian mengenai probiotik dan prebiotik berkembangsangat pesat. Terdapat bukti bahwa probiotik bermanfaat dalam pencegahan danpengobatan beberapa penyakit saluran cerna, termasuk diare infeksi, diare karenaantibiotik, travellers diarrhea dan intoleransi laktosa. Penggunaan probiotik sejauh iniaman. Penggunaan prebiotik yang dapat merangsang pertumbuhan kuman probiotikdalam saluran cerna mulai banyak mendapat perhatian.
Masalah Tidur pada Anak MF Conny Tanjung; Rini Sekartini
Sari Pediatri Vol 6, No 3 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1320.474 KB) | DOI: 10.14238/sp6.3.2004.138-42

Abstract

Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, kebutuhan tidur untuk semua umurberbeda. Tidur merupakan keadaan berkurangnya tanggapan dan interaksi dengan lingkunganyang bersifat reversibel dan berlangsung cepat. Gangguan tidur dapat terjadi pada anakdengan manifestasi kesulitan pada saat mulai tidur, mempertahankan tidur, atau gangguanyang berhubungan dengan pernapasan. Penyebab gangguan tidur dapat bersifat internalmaupun eksternal. Faktor lingkungan dapat mempengaruhi kualitas tidur pada anak, demikianpula perilaku dan kebiasaan dapat dihubungkan dengan gangguan tidur.Pengukuran kualitas tidur dapat dilakukan menggunakan polisomnografi (PSG) danaktigrafi (ACG). Cara lain untuk mendeteksi gangguan tidur menggunakan kuesioneratau interview. Brief screening questionnaire for infants sleep problem merupakan kuesioneryang sudah divalidasi terhadap ACG. Tidur yang buruk berdampak negatif terhadap mooddan perilaku bahkan dapat bermanifestasi sebagai gejala psikiatrik. Penanganan bersifatmultifaktor, kadang - kadang terapi medikamentosa dapat digunakan pada kasus khusus.
Perbandingan Pemberian Vitamin K Dosis Tunggal Intramuskular pada Bayi Prematur dan Aterm Terhadap Masa Protrombin Asrul Asrul; Nancy Ervani; Bugis M Lubis; Emil Azlin; Lily Emsyah; Bidasari Lubis; Guslihan D Tjipta
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.17-22

Abstract

Latar belakang. Defisiensi vitamin K atau hypoprothrombinemia pada bayi baru lahir dapat menyebabkanperdarahan karena faktor koagulasi yang bergantung vitamin K tidak adekuat. Bayi prematur kurangmemperlihatkan respon optimal dengan pemberian vitamin K disebabkan imaturitas sel hati.Tujuan penelitian. Mengetahui apakah vitamin K dosis tunggal intramuskular sama efektifnya padabayi prematur dibandingkan dengan bayi aterm terhadap masa protrombin.Metode. Uji klinis bayi baru lahir prematur dan aterm yang dirawat antara bulan Februari – Juli 2006 diRumah Sakit Pirngadi Medan. Kriteria eksklusi ialah menggunakan antibiotik, bayi denganhiperbilirubinemia. Pemeriksaan masa protrombin (PT) dilakukan sebelum pemberian vitamin K padahari pertama dan diulapng pemeriksaan PT pada hari ketiga terhadap bayi prematur dan aterm. Analisisstatistik secara uji t independen dan berpasangan, indeks kepercayaan 95%, kemaknaan p<0,05.Hasil. Dari 38 bayi prematur, 20 laki-laki, 18 perempuan dan 38 bayi aterm, 18 laki, 20 perempuan.Nilai PT bayi prematur hari pertama; rata-rata 38,7±18,4 detik, hari ketiga; 22,9±6,6 detik. Pada bayiaterm PT hari pertama; rata-rata 30,0±17,7 detik, pada hari ketiga rata-rata 16.9±7.3 detik. Tidak bermaknanilai PT pada hari pertama, namun terdapat perbedaan bermakna nilai PT pada hari ketiga antara bayiprematur dan aterm. Rata-rata terjadi penurunan nilai PT pada hari ketiga.Kesimpulan. Terdapat perbedaan bermakna nilai PT antara bayi prematur dengan aterm sebelum dan sesudahdiberikan vitamin K dosis tunggal intramuskular. Perubahan nilai PT antara hari pertama dengan hari ketigabaik pada bayi aterm maupun prematur setelah diberikan vitamin K
Fusi Gen Translocation Ets Leukemia-Acute Myeloid Leukemia 1 (Tel-Aml1) Sebagai Faktor Prognosis pada Leukemia Limfoblastik Akut Anak Sri Mulatsih; Sunarto Sunarto; Sutaryo Sutaryo
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (836.115 KB) | DOI: 10.14238/sp10.6.2009.404-9

Abstract

Fungsi fusi gen TEL-AML1 dalam leukemogenesis adalah mempengaruhi kunci proses pengaturan, termasuk kenaikan proses cell-renewal yang tidak terkontrol, menghentikan proliferasi dan diferensiasi yang menyebabkan resistensi terhadap proses apoptosis. Banyak studi menghasilkan data bahwa prognosis pasien leukemia limfoblastik akut (LLA) dengan fusi gena TEL-AML1 masih kontroversi, khususnya prognosis jangka panjang. Banyak penelitian yang menghubungkan adanya fusi gena ini dengan resistensi terhadap kemoterapi, dan lainnya menggunakan minimal residual disease (MRD) untuk melihat respons terhadap pengobatan. Adanya co-existences gena lain bisa memberikan kontribusi terhadap prognosis pasien LLA dengan fusi gen TEL-AML1. Dibutuhkan lebih banyak studi translasional untuk lebih memahami peran fusi gen dalam klinik. Pengetahuan mendasar mekanisme molekular pada leukemia sangat penting, khususnya dalam penanganan pasien. Pemahaman yang lebih baik tentang patogenesis leukemia bisa menghasilkan pengertian dan pengetahuan baru untuk menyusun strategi baru dalam penanganan pasien LLA yang didasarkan kaidah molekular

Page 71 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue