cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Peran Ikatan Dokter Anak Indonesia Dalam “Millennium Development Goals” IGN. Gde Ranuh
Sari Pediatri Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.084 KB) | DOI: 10.14238/sp10.2.2008.139-44

Abstract

Deklarasi Millennium Development Goals (MDG’s) yang telah dicanangkan dalam pertemuan global tahun 90-an bertujuan untuk mengurangi separuh masalah kelaparan di dunia, mengupayakan semua anak dapat menyelesaikan pendidikan sekolah dasar, menghapus perbedaan jender tanpa melihat tingkat pendidikan, mengurangi dua per tiga angka kematian bayi dan anak balita, mengurangi angka kematian ibu tiga per empat dari angka sekarang, serta menyediakan air bersih bagi separuh penduduk dunia pada tahun 2015. Untuk mencapai sasaran tersebut, Indonesia harus bekerja keras mengingat indikator kesehatan dasar masih jauh tertinggal dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya.Dasar sasaran butir keempat MDG’s adalah anak balita. Mengingat usia anak balita merupakan masa ‘kehidupan emas’, maka dalam masa ini kita mempunyai peluang ‘emas’ untuk dapat melakukan intervensi selama masa tumbuh kembang sehingga dicapai manusia dewasa yang sehat dengan kualitas prima. Memberikan perhatian secara penuh pada perlindungan hak dan kebutuhan seorang anak sangat menguntungkan dan merupakan suatu modal yang tidak ternilai di masa depan. Ikatan Dokter Anak Indonesia, melalui Unit Kerja Koordinasi (UKK) yang merupakan wadah keilmuan kesehatan anak harus perperan aktif dalam intervensi ini. Orientasi terhadap kesehatan komunitas perlu ditingkatkan dalam sikap, pandangan, dan semangat seorang dokter spesialis anak; sehingga peran nyata IDAI bersama pemerintah dapat mensukseskan MDG’s
Perubahan Strong Ion Difference Pasca Resusitasi Cairan antara Ringer Laktat dan Normal Salin pada Anak dengan Syok Yuli Amuntiarini; Silvia Triratna; rfanuddin rfanuddin
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.222-8

Abstract

Latar belakang. Pemberian cairan resusitasi pada syok akan memengaruhi status asam basa tubuh melalui pengaruhnya terhadapstrong ion difference (SID) berdasarkan teori Stewart. Normal salin (NS) dan ringer laktat sering digunakan sebagai cairan resusitasinamun terdapat kekhawatiran bahwa penggunaan NS dapat menyebabkan asidosis hiperkloremik dan masalah ini belum banyakditeliti pada anak.Tujuan. Membandingkan perubahan SID dan pH plasma setelah pemberian cairan RL dan NS pada syok.Metode. Dilakukan uji klinik terbuka acak terkontrol di UPIA RSMH bulan Juli 2014 sampai Maret 2015. Randomisasi blokdilakukan pada 44 subjek penelitian rentang usia 2 bulan sampai 14 tahun.Hasil. Terdapat 23 subjek pada kelompok RL dan 21 pada kelompok NS. Pada kelompok RL, rerata SID dan pH setelah resusitasitidak mengalami perubahan bermakna (SID 32,96±5,26 menjadi 32,32±6,34 mEq/L, p=0,089; pH 7,40 menjadi 7,42 denganp=0,346). Pada kelompok NS (SID 34,44±8,1 menjadi 32,4±7,24 mEq/L, p=0,354; pH 7,290 menjadi 7,345 dengan p=0,434).Antara kelompok RL dan NS, tidak ditemukan perbedaan bermakna dalam rerata selisih SID (􀀧SID RL -1,22 mEq/L dan NS-1,97 mEq/L dengan p=0,177) dan pH (􀀧pH RL 0,013±0,088 dan NS 0,032±0,11 dengan p=0,534). Ditemukan penurunanbermakna kadar kalium pada kelompok NS setelah resusitasi (4,32±1,05 menjadi 3,73 ± 1,06 mEq/L, p=0,032).Kesimpulan. Resusitasi cairan dengan RL dan NS memberikan perubahan SID dan pH yang tidak berbeda pada kasus syok anakdi unit perawatan intensif anak.
Imunogenitas dan Keamanan Vaksin DPT Setelah Imunisasi Dasar Eddy Fadlyana; Suganda Tanuwidjaja; Kusnandi Rusmil; Meita Dhamayanti; Lina H Soemara; R Dharmayanti
Sari Pediatri Vol 4, No 3 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.37 KB) | DOI: 10.14238/sp4.3.2002.129-34

Abstract

Imunisasi difteria, pertusis dan tetanus (DPT) telah lama masuk ke dalam programimunisasi nasional di Indonesia dan telah terbukti menurunkan angka kejadian maupunkematian yang disebabkan penyakit difteria, pertusis dan tetanus. Tujuan penelitian iniuntuk melakukan evaluasi status kekebalan dan faktor keamanan terhadap penyakitdifteria dan tetanus pada bayi yang mendapat imunisasi dasar DPT. Seratus enam puluhsubjek bayi sehat yang dipilih secara random, dilakukan imunisasi secara intramuskulardengan dosis 0,5 ml sebanyak 3 kali pada umur 2, 3 dan 4 bulan, menggunakan vaksinDPT buatan PT. Bio-Farma Bandung. Penentuan titer antibodi difteria dan tetanusdilakukan sebelum dilakukan imunisasi dan 1 bulan setelah imunisasi ke-1, 2 dan 3,menggunakan metode ELISA. Apabila hasilnya < 0,01 IU/ml disebut kelompok rentandan bila > 0,1 IU/ml disebut mempunyai kekebalan lengkap. Kejadian reaksi lokal(nyeri, kemerahan, bengkak, penebalan) dan sistemik (demam, iritabilitas) pasca imunisasidicatat dalam buku catatan harian ibu. Hasil penelitian menunjukkan sebelum dilakukanimunisasi 57% subjek sudah tidak mempunyai perlindungan terhadap difteri dan 6%sudah tidak mempunyai perlindungan terhadap tetanus. Terhadap difteria, rata-ratageometrik titer (GMT) sebelum dan setelah mendapat imunisasi ke-1, 2 dan 3,memberikan hasil berturut-turut 0,008; 0,005; 0,038; dan 0,217 IU/ml; sedang jumlahsubjek yang mempunyai titer > 0,01 IU/ml berturut-turut adalah 44, 28, 44 dan 80%.Terhadap tetanus, rata-rata geometrik titer (GMT) sebelum dan setelah mendapatimunisasi ke-1, 2 dan 3, memberikan hasil berturut-turut: 0,420; 0,273; 0,213; dan0,758 IU/ml; jumlah subjek yang mempunyai titer > 0,01 IU/ml berturtut-turut adalah94; 91; 100 dan 100%. Selama periode penelitian tidak ditemukan adanya reaksi vaksinberat. Reaksi lokal (nyeri, kemerahan, bengkak dan penebalan) dan reaksi sistemik(iritabilitas dan panas) sebagian besar dengan derajat ringan yang selanjutnya menghilangtanpa gejala sisa. Walaupun imunisasi DPT memberikan hasil kekebalan yang tinggidan aman diberikan, namun pada kelompok yang masih rentan perlu mendapat perhatian.
Tata laksana Sindrom Nefrotik Kelainan Minimal pada Anak Husein Albar
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.251 KB) | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.60-8

Abstract

Sindrom nefrotik kelainan minimal (SNKM) berdampak pada kesehatan fisik anak sertamental anak dan orang tua karena penyakit ini sering relaps, pengobatan lama, dantoksisitas obat yang serius. Pengobatan yang tidak adekuat potensial membahayakanhidup anak karena infeksi sekunder dan dapat menyebabkan tromboemboli, kelainanlipid, dan malnutrisi. Tata laksana SNKM meliputi tata laksana suportif, tata laksanakomplikasi, dan tata laksana spesifik dengan obat imunosupresif untuk induksi danmempertahankan remisi tanpa toksisitas obat yang serius. Sampai saat ini, kortikosteroidmasih merupakan pilihan pertama pada anak dengan SNKM dan obat imunosupresiflain digunakan bila tidak respons dengan pengobatan standar kortikosteroid atau padarelaps frekuen atau dependen steroid. Pemberian kortikosteroid sebaiknya tidak segeradimulai setelah onset gejala karena remisi spontan dapat terjadi pada 5% kasus SNKMkecuali kalau edema menetap atau gejala berat pada onset awal.
Insidens Malnutrisi Rawat Inap pada Anak Balita di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar I Gusti Lanang Sidiartha
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.381-85

Abstract

Latar belakang. Malnutrisi merupakan salah satu masalah serius di bidang kesehatan anak balita baik dinegara maju maupun negara sedang berkembang karena angka kesakitan dan kematian masih tinggi.Tujuan. Mengetahui insidens malnutrisi rawat inap pada anak balita dan menganalisis hubungannyadengan berbagai faktor seperti jenis kelamin, umur, jenis penyakit, tipe malnutrisi dan lama rawat.Metode. Penelitian kohort retrospektif dikerjakan terhadap 103 anak balita rawat inap di Bangsal AnakRSUP Sanglah bulan Nopember 2006 sampai Januari 2007. Malnutrisi rawat inap ditentukan denganmenghitung selisih nilai Z-score BB/TB saat masuk rumah sakit dan saat pulang dengan cut off point 0,5SD. Hubungan dengan jenis kelamin, umur, jenis penyakit, tipe malnutrisi dan lama rawat diuji denganuji kai-kuadrat dengan tingkat kemaknaan p <0,05.Hasil. Diantara 103 anak balita 66% laki-laki dan 34% perempuan, 44,6% berumur <12 bulan, 24,3%dengan diagnosis diare, dan lama rawat antara 2–29 hari. Insidens malnutrisi rawat inap dijumpai pada 31dari 103 anak (30,1%). Insidens malnutrisi rawat inap pada anak dengan lama rawat 8-29 hari 58,8% danlama rawat 2-7 hari 15,9%, secara statistik bermakna (p=0,000; RR 3,69; IK95% 2,00; 6,79). Hubunganmalnutrisi rawat inap dengan jenis kelamin, umur, jenis penyakit, dan tipe malnutrisi tidak bermakna(masing-masing nilai p >0,05).Kesimpulan. Insidens malnutrisi rawat inap di RSUP Sanglah 30,1%, risiko malnutrisi rawat inapmeningkat 3,69 kali apabila anak dirawat lebih dari seminggu
Faktor Risiko Kematian Neonatus dengan Penyakit Membran Hialin Alifah Anggraini; Sumadiono Sumadiono; Setya Wandita
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.621 KB) | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.75-80

Abstract

Latar belakang.Angka kematian bayi (AKB) menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2002-2003 adalah 35 per 1000 kelahiran hidup. Dua pertiga kematian bayi merupakan kematian neonatal dan disebabkan terutama oleh persalinan prematur. Penyakit membran hialin (PMH) merupakan penyebab terbanyak dari angka kesakitan dan kematian pada bayi prematur. Tujuan.Mengetahui faktor-faktor risiko yang memengaruhi kematian pasien PMH yang dirawat di Instalasi Maternal Perinatal RSUP Dr. Sardjito.Metode. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kasus-kontrol berdasarkan data sekunder dari data dasar neonatus dan catatan medik pasien bayi baru lahir yang dirawat dan didiagnosis PMH di RSUP Dr.Sardjito, Yogyakarta selama tahun 2007 – 2011.Hasil. Proporsi kematian neonatus dengan penyakit membran hialin di RSUP Dr. Sardjito selama 2007 – Oktober 2011 adalah 52%. Faktor risiko kematian neonatus dengan penyakit membran hialin yang bermakna secara statistik adalah asfiksia dengan OR 4,97 (IK 95% 2,39-10,28). Analisis dengan metode regresi logistik menunjukkan bahwa asfiksia merupakan faktor risiko independen kematian neonatus dengan penyakit membran hialin (aOR 5,15, IK 95% 2,43-10,91). Kesimpulan.Asfiksia merupakan faktor risiko independen kematian neonatus dengan penyakit membran hialin. Penanganan asfiksia dengan resusitasi yang tepat diperlukan untuk menurunkan risiko kematian neonatus dengan penyakit membran hialin. S
Peran Hipersensitivitas Makanan pada Dermatitis Atopik D. Takumansang Sondakh
Sari Pediatri Vol 4, No 1 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.1.2002.7-12

Abstract

Patogenesis hipersensitivitas makanan terhadap dermatitis atopik telah mengalamiperubahan pada akhir abad ini. Peran hipersensitivitas tipe I yang diperantarai oleh Ig Edalam patogenesis dermatitis atopik telah banyak diperdebatkan. Tujuan penelitian iniialah untuk mengetahui peran hipersensitivitas makanan pada kasus dermatitis atopikdan untuk mengetahui apakah uji tusuk kulit bermanfaat untuk diagnosis reaksihipersensitivitas. Telah dilakukan penelitian prospektif pada seluruh pasien dermatitisatopik yang dirawat di RSUP Manado selama periode Januari 1998 sampai Desember1999. Subyek penelitian ini ialah pasien dermatitis atopik yang berusia 4 bulan – 12tahun yang bersedia untuk melakukan uji tantangan. Data yang dikumpulkan meliputianamnesis, uji tusuk kulit (skin prick test), dan eliminasi makanan yang dicurigai. Analisisdata menggunakan distribusi frekuensi. Tiga puluh pasien memenuhi kriteria inklusiterdiri dari 15 laki-laki dan 15 perempuan. Enam belas pasien mempunyai riwayat alergiterhadap makanan yang dicurigai dan 16 penderita disertai penyakit alergi lain. Limabelas pasien mempunyai riwayat atopi pada salah satu orang tua, 3 pasien lainnya riwayatatopi ditemukan pada kedua orang tua. Pada uji tantangan makanan ditemukan 19pasien mempunyai manifestasi alergi yang dicetuskan oleh makanan, yaitu berturutturut40%, 53% dan 40% oleh telur, ikan dan udang. Uji tusuk kulit yang terdiri atas20 jenis alergen makanan dilakukan pada semua pasien yang berumur diatas 2 tahundengan hasil 12 anak di antaranya memberikan hasil positif. Penelitian ini menyimpulkanbahwa hipersensitivitas makanan berperan dalam patogenesis dermatitis atopik padabeberapa anak. Diagnosis dan pengaturan diit yang tepat dapat memperbaiki gejalaklinik yang timbul.
Sindrom Nefrotik Kongenital Sudung O. Pardede
Sari Pediatri Vol 7, No 3 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.3.2005.114-24

Abstract

Sindrom nefrotik kongenital (SNK) adalah sindrom yang timbul dalam usia 3 bulanpertama dengan kejadian kurang lebih 1,5 % dari semua sindrom nefrotik pada anak;dapat dibedakan menjadi SNK primer, SNK yang berhubungan dengan sindrommalformasi, dan SNK sekunder. Pada SNK primer dapat berupa SNK tipe Finnish,sklerosis mesangial difus, dan glomerulosklerosis fokal segmental. Tipe SNK yangberhubungan dengan sindrom malformasi antara lain sindrom Danys-Drash, sedangkanSNK sekunder dapat disebabkan oleh infeksi, lupus eritematosus sistemik, atau keganasan.Jenis SNK yang paling sering ditemukan adalah SNK tipe Finnish yang diturunkansecara autosomal resesif. Biasanya pasien SNK tipe Finnish lahir prematur dengan plasentayang besar. Diagnosis prenatal dapat dilakukan dengan mendeteksi kadar alfa fetoproteinyang tinggi dalam cairan amnion. Masalah utama pada SNK adalah proteinuria yangberat, 90% di antaranya adalah albumin. Manifestasi klinis memperlihatkan edemadengan asites, hipoalbuminemia, proteinuria berat, dan hematuria. Selain albumin,banyak protein yang keluar melalui urin seperti imunoglobulin, transferin, proteinpengikat vitamin D, dan globulin pengikat tiroid. Sering juga ditemukan gejala klinislain seperti hidung pesek, sutura melebar, dan deformitas lainnya. Terapi kuratif padaSNK adalah tansplantasi ginjal, sedangkan kortikosteroid dan imunosupresan biasanyatidak efektif. Sebelum transplantasi ginjal, pasien harus mendapat nutrisi yang adekuat,subsitusi albumin, pemberian obat antiproteinurik, nefrektomi, dan dialisis peritoneal.Pemberian obat antiproteinurik masih diperdebatkan. Prognosis SNK sangat buruk dankematian biasanya terjadi dalam 6 bulan pertama, namun dengan tata laksana yangadekuat prognosis menjadi lebih baik. [
Faktor Risiko Sekuele Meningitis Bakterial pada Anak Muriana Novariani; Elisabeth Siti Herini; Suryono Yudha Patria
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.409 KB) | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.342-7

Abstract

Latar belakang. Mortalitas akibat meningitis bakterial menurun dengan ditemukan antibotik yang potendan penanganan yang baik pada saat pasien kritis. Walaupun demikian, sekuele akibat meningitis bakterialmasih tinggi, sekitar 50%-65% di negara berkembang.Tujuan. Mengetahui faktor risiko yang terkait dengan sekuele pada pasien meningitis bakterial yangbertahan hidup.Metode. Penelitian kasus kontrol dilakukan di RSUP Dr. Sardjito, RSUD Banyumas dan RSU SuradjiTirtonegoro Klaten. Kasus adalah pasien yang terdiagnosis meningitis bakterial pada tahun 2003 – 2006yang hidup dengan sekuele. Kontrol adalah pasien meningitis bakterial yang hidup tanpa sekuele. Datadiambil dari catatan medis, luaran ditetapkan setelah 6 bulan.Hasil. Terdapat 78 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwafaktor risiko yang terkait dengan meningitis bakterial adalah kejang >30 menit saat masuk rumah sakit(OR 4,29; IK 95% 1,38–12,99), PCS (Pediatrics Coma Scale) <8 (OR 3,76 ; IK 95% 1,15-12,28), dankejang yang tidak terkontrol >72 jam (OR 5,24 ; IK 95% 1,49–18,43). Onset - gejala >48 jam mempunyaiOR 2,43 (IK 95% 0,73 – 8,13).Kesimpulan. Kejang >30 menit saat masuk rumah sakit, PCS <8, dan kejang yang tidak terkontrol >72 jammerupakan faktor risiko yang indipenden untuk menimbulkan sekuele.
Ukuran Besar Testis Anak Laki-laki pada Saat Awitan Pubertas Hakimi Hakimi; Charles D. Siregar; Melda Deliana; Lily Rahmawati
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.311 KB) | DOI: 10.14238/sp7.2.2005.68-72

Abstract

Latar belakang: data memperlihatkan terjadi perubahan usia awitan pubertas pada anaklaki-laki dalam beberapa dekade belakangan ini. Hal ini mungkin disebabkan adanyaperbaikan kondisi sosioekonomi, status gizi, kesehatan umum dalam jangka waktutertentu tersebut. Perubahan tersebut mungkin juga mempengaruhi ukuran testis padasaat awitan pubertas anak laki-laki.Tujuan: untuk mengetahui gambaran besar testis anak laki-laki pada saat awitan pubertas.Metoda: penelitian cross sectional pada anak laki-laki di beberapa sekolah SD/ SLTP,dilakukan pada bulan Februari 2004 di kota Medan. Sampel penelitian diambil secarasystematic random sampling. Pemeriksaan ukuran testis dilakukan dengan caraorkidometer Prader.Hasil: diperoleh jumlah subjek 122 orang anak, besar testis anak laki-laki pada saatawitan pubertas dimulai pada ukuran nomor 4 sampai 12. Dijumpai besar testis terbanyakpada ukuran nomor 8 (37,3%) dan 12 (1,6%). Kelompok umur 9-10 tahun memulaiawitan pubertas pada ukuran testis nomor 4, umur 11-12 tahun pada nomor 5, danumur 13-14 tahun memulai pada nomor 6. Pada anak dengan obesitas memulai awitanpubertas pada ukuran testis nomor 5, status gizi lebih pada nomor 6, status gizi baik,sedang, kurang dan buruk masing-masing pada nomor 4.Kesimpulan: besar testis anak laki-laki pada saat awitan pubertas dimulai ukuran nomor4 sampai 12, dan besar testis terbanyak sesuai ukuran orkidometer Prader nomor 8.Kelompok umur yang lebih tua dan status gizi lebih baik memulai awitan pubertas padaukuran testis lebih besar.

Page 70 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue