cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Perubahan Kadar Natrium dan Kalium Serum Akibat Pemberian Glukosa 40% pada Latihan Fisik Akut Wahyudi Wahyudi; Suryani Ginting; Charles Siregar; Chairul Yoel; Syahril Pasaribu; Munar Lubis
Sari Pediatri Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.2.2008.77-82

Abstract

Latar belakang. Glukosa sumber energi untuk latihan fisik dan berpengaruh pada keseimbangan metabolisme tubuh. Glukosa menyebabkan masuknya ion natrium ke dalam sel. Sewaktu ATP terhidrolisis menjadi ADP, protein pembawa mengalami fosforilasi dan perubahan konformasi yang menyebabkan ion natrium dilepaskan ke cairan ekstrasel. Kemudian dua ion kalium berikatan di sisi ekstrasel masuk ke sel.Tujuan. Untuk mengetahui dan membandingkan perubahan kadar natrium dan kalium serum sebelum dan setelah latihan fisik akut pada kelompok yang diberikan air putih dan air berglukosa 40%.Metode. Empat puluh anak SLTP sehat yang dipilih secara acak sederhana mendapat minuman glukosa 40% (dosis 1 g/kgBB yang dilarutkan dalam 300cc air) (n=20) dan air putih sebanyak 300 cc (n=20). Semua anak diberi minum 10 menit sebelum latihan fisik, kemudian dilakukan latihan fisik selama 10 menit. Sampel darah vena diambil sebelum anak minum dan setelah melakukan latihan fisik.Hasil. Terjadi perubahan penurunan natrium serum berbeda bermakna setelah latihan fisik akut (p<0,05) pada kelompok air putih, sedangkan pada kelompok air berglukosa 40% terjadi peningkatan natrium serum. Perbandingan kadar natrium serum kedua kelompok berbeda bermakna (p<0,05). Kadar kalium serum tidak mengalami perubahan (p>0,05) pada kedua kelompok.Kesimpulan. �� � � � � � � ��� � � � � � -Pemberian minuman berglukosa 40% sebelum latihan fisik akut dapat menyebabkan peningkatan kadar natrium serum.
Pola Keterlambatan Perkembangan Balita di daerah Pedesaan dan Perkotaan Bandung, serta Faktor-faktor yang Mempengaruhinya Eddy Fadlyana; Anna Alisjahbana; Ilsa Nelwan; Muchlisah Noor; Selly Selly; Yulia Sofiatin
Sari Pediatri Vol 4, No 4 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.4.2003.168-75

Abstract

Periode lima tahun pertama kehidupan akan menentukan kualitas hidup anak dikemudian hari. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran perkembanganbalita di daerah pedesaan dan perkotaan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.Tempat penelitian dipilih secara purposive di 4 wilayah puskesmas (2 perkotaan dan 2pedesaan), Kabupaten Bandung. Penelitian dilakukan secara cross sectional dengan subjekpenelitian anak balita yang sehat dan kooperatif pada saat pemeriksaan, serta orang tuamenyetujui ikut dalam penelitian. Subjek dibagi atas 2 kelompok umur perkembangan(< 2 th, dan 2-5 th), dipilih secara stratified random sampling dengan alokasi sampelditentukan secara proporsional. Tes perkembangan dilakukan oleh 3 dokter denganmenggunakan metode Munchener yang telah dimodifikasi dengan klasifikasi hasil tesnormal dan ada keterlambatan perkembangan. Lima aspek perkembangan yang dinilaiyaitu motorik kasar, motorik halus, persepsi, vokalisasi/pengertian bahasa, dan sosial.Selama periode penelitian sebanyak 498 balita memenuhi kriteria inklusi, terdiri dari227 (46%) laki-laki dan 271 (54%) perempuan. Balita yang mengalami keterlambatanperkembangan di daerah pedesaan sebesar 30% dan di perkotaan 19%, perbedaan inisecara statistik bermakna (p=0,012). Di daerah pedesaan pola keterlambatanperkembangan secara urutan dari yang paling banyak adalah aspek vokalisasi/pengertianbicara (66%), persepsi (38%), motorik halus (35%), motorik kasar (35%) dan sosial(1%). Sedangkan di daerah perkotaan adalah vokalisasi/ pengertian bahasa (58%),motorik halus (38%), persepsi (36%), motorik kasar (26%) dan sosial (12%). Faktorfaktoryang berhubungan dengan status perkembangan adalah umur anak, pendidikanibu, penghasilan keluarga dan tempat tinggal. Perlu dilakukan upaya untukmenanggulangi keterlambatan perkembangan balita di daerah pedesaan maupun diperkotaan terutama pada kelompok umur di bawah 2 tahun.
Kuesioner Praskrining Perkembangan (KPSP) Anak Meita Dhamayanti
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.9-15

Abstract

Latar belakang. Masalah perkembangan anak seperti gangguan berbahasa, perilaku,autisme, saat ini makin meningkat dan sebagai upaya untuk menurunkan angkakejadiannya diperlukan deteksi dini. Skrining merupakan cara deteksi dini yang efektif,namun hal ini masih jarang dilakukan oleh dokter mungkin karena keterbatasan waktudan biaya.Tujuan. Untuk mengetahui efektivitas KPSP sebagai alat praskrining perkembangananak.Metoda. Merupakan penelitian cross sectional yang dilakukan pada Desember 2003sampai Februari 2004 terhadap orang tua yang mempunyai anak umur 15-18 bulan didaerah kumuh wilayah kerja Puskesmas Padasuka, Kiaracondong dan Garuda KotaBandung. Kuesioner yang digunakan adalah KPSP dan Denver II, yang dilakukan olehtenaga terlatih.Hasil. Diantara 494 anak, diduga mengalami gangguan perkembangan 73 anak (15%)menurut KPSP dan 57 anak (12%) menurut Denver II. Sensitivitas dan spesifisitasKPSP masing-masing 60% dan 92%.Kesimpulan. Penggunaan KPSP dapat menimbulkan underdetection. Sebaiknyadilakukan revisi terhadap KPSP yang disesuaikan dengan Parent DevelopmentalQuestions (PDQ) II yang merupakan pengembangan Denver II. Penelitian sebaiknyadilakukan tidak hanya di daerah kumuh.
Kesetaraan Hasil Skrining Risiko Penyimpangan Perkembangan Menurut Cara Kuesioner Praskrining Perkembangan (KPSP) dan Denver II pada Anak Usia 12-14 Bulan dengan Berat Lahir Rendah Fiva A Kadi; Herry Garna; Eddy Fadlyana
Sari Pediatri Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.387 KB) | DOI: 10.14238/sp10.1.2008.29-33

Abstract

Latar belakang. Penilaian perkembangan pada anak penting dilakukan, terutama sampai usia 1 tahununtuk deteksi dini, agar bila ditemukan kecurigaan penyimpangan dapat dilakukan stimulasi dan intervensidini sebelum terjadi kelainan. Depkes RI mengeluarkan revisi buku deteksi dini tumbuh kembang untukidentifikasi dini perkembangan di tingkat kecamatan berupa kuesioner praskrining perkembangan (KPSP)yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan ataupun nonkesehatan terlatih.Tujuan. Penelitian ini membandingkan kesetaraan hasil antara KPSP dan Denver II dalam mendeteksikecurigaan penyimpangan perkembangan.Metode. Penelitian dilakukan dengan metode evaluatif komparatif dan rancangan cross sectional, pada anakusia 12–14 bulan dengan berat lahir rendah di puskesmas Garuda Bandung pada bulan Februari sampaiMaret 2008. Dengan menggunakan metode KPSP skrining dilakukan oleh kader kesehatan terlatih kemudiandibandingkan dengan Denver II oleh dokter, dan dinilai kesetaraan dari dua hasil pemeriksaan tersebutmenggunakan perhitungan coefficient of agreement Kappa.Hasil. Delapan puluh lima subjek penelitian diperiksa status perkembangan oleh 10 orang kader kesehatan(dipilih random dan lolos uji inter dan intra-observer) kemudian oleh 2 dokter. Dari KPSP didapatkansebanyak 82,4% normal dan 17,6% curiga terganggu, menurut Denver II didapatkan sebanyak 77,6%normal dan 22,4% curiga terganggu. Nilai sensitifitas dan spesifisitas untuk KPSP dalam penelitian inimasing-masing adalah 95% dan 63%, dengan nilai Kappa 0,552 dan p<0,0001.Kesimpulan. Pemeriksaan KPSP setara moderate dengan Denver II dan dapat menjadi alat deteksi dini ditingkat Posyandu. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada usia dan tempat yang lebih bervariasi sertadengan jumlah kader yang lebih besar.
Imunogenisitas dan Keamanan vaksin Tetanus Difteri (Td) pada Remaja sebagai salah satu upaya mencegah Reemerging Disease di Indonesia Eddy Fadlyana; Kusnandi Rusmil; Herry Garna; Iwin Sumarman; Soenarjati Soedigo Adi; Novilia Sjafri Bachtiar
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.141-9

Abstract

Latar belakang. Di Indonesia berpotensi terjadi reemerging disease difteri akibat belum ada program imunisasi ulang yang berkesinambungan pada remaja.Tujuan. Menilai imunogenisitas dan keamanan vaksin tetanus difteri (Td) yang diberikan sebagai imunisasi ulang pada remaja.Metode. Uji klinis randomized double-blind controlled dilakukan terhadap 296 pelajar remaja sehat di kota Bandung, usia 10–18 tahun, pada September 2007–September 2008. Didapatkan 296 remaja sebagai subjek penelitian, dibagi dalam 2 kelompok secara acak sederhana. Kelompok I mendapat vaksin Td 0,5 mL intramuskular. Kelompok II mendapat vaksin TT sebagai kontrol. Pemeriksaan kadar antibodi anti difteri dan anti tetanus dilakukan sebelum dan 1 bulan setelah imunisasi menggunakan teknik enzyme-linked immunosorbent assays (ELISAs). Data keamanan dikumpulkan sampai 1 bulan pasca imunisasi menggunakan buku harianHasil. Konsentrasi antibodi seroproteksi (>0,1 IU/mL) terhadap difteri dan tetanus mencapai 93,2% dan 100,0%. The geometric mean titer (GMT) terhadap difteri meningkat dari 0,0618 IU/mL menjadi 0,7583 IU/mL (p<0,001), dan terhadap tetanus meningkat dari 0,4413 IU/mL ke 14,4054 IU/mL (p<0,001). Nyeri pada tempat suntikan terjadi pada 20,3% kelompok Td dan 18,2% pada TT (p=0,028). Demam >37,5°C hanya terjadi pada sedikit subjek dari kedua kelompok (rentang Td: 0,7-4,7%; rentang TT: 3,4–6,7%). Tidak terdapat reaksi kejadian ikutan pasca imunisasi serius dan dapat ditoleransi dengan baik.Kesimpulan. Imunisasi ulang Td meningkatkan kadar antibodi protektif terhadap difteri dan tetanus, serta aman diberikan pada remaja.
Hubungan Asfiksia Neonatorum dengan Gangguan Fungsi Ginjal pada Bayi Baru Lahir Adrian Umboh
Sari Pediatri Vol 4, No 2 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.793 KB) | DOI: 10.14238/sp4.2.2002.50-3

Abstract

Asfiksia neonatorum merupakan problem kesehatan pada bayi baru lahir yang dapatmenyebabkan gagal ginjal akut jika tidak ditangani dengan baik.Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara derajat asfiksia neonatorum dengan derajatgangguan fungsi ginjalMetoda: penelitian analitik observasional pada bayi baru lahir di bangsal NeonatologiBagian IKA/RSUP Manado antara bulan Agustus 1997-Februari 1998 yang memenuhikriteria dilakukan pengukuran kadar ureum dan kreatinin serum serta penentuan lajufiltrasi glomerulus (LFG). Data dianalisis dengan uji Anova dan Chi-Square.Hasil: di antara 129 bayi baru lahir yang memenuhi kriteria terdiri dari 49 bayi sehat,50 asfiksia ringan-sedang, dan 30 asfiksia berat. Terdapat perbedaan bermakna kadarserum ureum dan kreatinin serta LFG antara kelompok bayi sehat dengan asfiksia beratdan antara kelompok asfiksia ringan-sedang dengan asfiksia berat (p<0,01). Lima dari30 kasus asfiksia berat mengalami gagal ginjal akut dan terdapat hubungan bermaknaantara derajat asfiksia dengan derajat gangguan fungsi ginjal (p<0,01).Kesimpulan: terdapat perbedaan antara kadar ureum dan kreatinin serum serta LFGantara bayi asfiksia berat dengan bayi sehat dan asfiksia ringan-sedang. Terdapat pulahubungan antara derajat asfiksia dengan derajat gangguan fungsi ginjal.
Gambaran Kunjungan Pasien Rawat Jalan Endokrinologi Anak dan Remaja FK USU / RS. H. Adam Malik Medan, Tahun 2000-2004 Melda Deliana; Hakimi Hakimi; Siregar CD
Sari Pediatri Vol 7, No 4 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.4.2006.183-7

Abstract

Latar belakang. Masyarakat banyak yang tidak mengetahui bahwa kelainan endokrinpada anak membutuhkan penanganan yang khusus dari ahli endokrinologi anak.Tujuan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kunjunganpasien endokrinologi anak dan remaja di RS H.Adam Malik Medan tahun 2000-2004.Metoda. Penelitian ini merupakan studi deskriptif retrospektif. Data diperoleh daricatatan rekam medik pasien yang berkunjung ke Poliklinik Endokrinologi Anak danRemaja FKUSU/RS. H. Adam Malik Medan dalam kurun waktu Januari 2000-Desember2004.Hasil. Terdapat 93 pasien yang berkunjung ke Poliklinik Endokrinologi Anak danRemaja, 33 anak perempuan (35%) dan 60 anak laki-laki(65%). Sebaran umur padasaat datang pertama kali adalah 33 anak (35%) berusia 0-5 tahun, 25 anak (27%) berusia> 5-10 tahun, 25 anak (27) % > 10-15 tahun, dan 10 anak (11%) berusia >15 tahun.Keluhan utama yang paling sering muncul pada saat pasien datang berobat pertama kaliadalah alat kelamin laki-laki kecil 15 kasus (16%) dan buah zakar tidak turun 15 kasus(16%), keluhan anak pendek 13 kasus (14%), benjolan di leher 12 kasus (13 %). Diagnosisyang dijumpai adalah kriptorkismus (20%), mikropenis (16%) dan hipotiroidismekongenital (13%). Status gizi berdasarkan NCHS WHO 2000 pada pasien yangberkunjung terutama gizi baik, terdapat pada 22 kasus (23,6%).Kesimpulan. Kasus terbanyak berkunjung ke Poliklinik Endokrinologi Anak dan Remajaadalah kriptorkismus (20%), mikropenis (16%) dan hipotiroidisme kongenital (13%).Diduga masih banyak kasus endokrinologi anak dan remaja yang tidak ditangani olehahli endokrinologi anak secara komprehensif oleh karena kemungkinan banyak kasusyang tidak dirujuk.
Nilai APGAR, Trauma Lahir Mekanik dan Mortalitas Neonatal Dini pada Bayi Lahir dengan Presentasi Bokong Di RSUPN Cipto Mangunkusumo Wynda Felisia; Asril Aminullah; Sudigdo Sastroasmoro
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.412-6

Abstract

Latar belakang. Presentasi bokong merupakan bentuk malpresentasi tersering yang ditemukan pada kehamilancukup bulan, sekitar 3%-4% kelahiran. Fasilitas dan pelayanan kebidanan telah banyak mencatat kemajuan,namun mortalitas dan morbiditas bayi presentasi bokong 2-3 kali lebih tinggi dibanding presentasi kepala.Tujuan. Mengetahui gambaran nilai APGAR, trauma lahir mekanik dan mortalitas neonatal dini padabayi presentasi bokong.Metode. Penelitian retrospektif pada bayi yang lahir dengan presentasi bokong di RSUPN CiptoMangunkusumo pada 1 Januari 2004 sampai dengan 31 Desember 2005. Kriteria inklusi adalah bayipresentasi bokong yang lahir hidup, usia gestasi >28 minggu. Kriteria eksklusi apabila dijumpai lahir matidan malformasi kongenital berat.Hasil. Terdapat 386 bayi lahir dengan presentasi bokong yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Mortalitasneonatal dini lebih sering terjadi pada persalinan pervaginam dibanding bedah kaisar (12,2% vs 2,8%). NilaiApgar menit ke-5 <7 lebih sering pada persalinan pervaginam dibanding bedah kaisar (12,9% vs 4,0%). Traumalahir mekanik lebih sering pada persalinan pervaginam dibanding bedah kaisar (14/139, 10,1% vs 15/247, 6,1%)Kesimpulan. Mortalitas neonatal dini, nilai Apgar rendah dan trauma lahir mekanik pada bayi presentasibokong lebih sering terjadi pada persalinan pervaginam
Profil Hipertensi pada Anak di RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Syafruddin Haris; Herlina Dimiati; M.Sidqi Anwar
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.193 KB) | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.105-110

Abstract

Latar belakang. Hipertensi pada anak masih mendapat perhatian yang serius karena dapat menimbulkan cacat menetap dan berakibat kematian. Prevalensi hipertensi anak tidak diketahui secara pasti, dilaporkan sekitar 1%-5%. Hipertensi tersering yang dijumpai di rumah sakit rujukan adalah hipertensi sekunder. Tujuan. Mengetahui profil klinis dan respon terapi pasien hipertensi pada anak di ruang rawat inap anak RSUD Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh selama periode 5 tahun.Metode. Penelitian deskriptif retrospektif untuk melihat gambaran hipertensi pada anak di RSUDZA. Data diperoleh dari catatan medik pasien hipertensi sejak tahun 2007- 2011. Data dikumpulkan berdasarkan derajat hipertensi, penyakit yang mendasari hipertensi, dan pengobatan yang diberikan.Hasil. Selama 5 tahun (2007-2011), terdapat 41 pasien hipertensi (26 laki-laki dan 15 perempuan). Hipertensi derajat satu 10 orang, derajat dua 16 orang, dan hipertensi krisis 15 orang. Umur tersering adalah 10-11 tahun. Tidak terdapat hubungan antara rerata umur dengan derajat hipertensi. Penyakit yang mendasari adalah 16 orang glomerolunefritis akut, 13 sindrom nefrotik, 7 gagal ginjal kronik, serta 5 penyakit lainnya. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara penyakit yang mendasari dengan derajat hipertensi. Respon pengobatan hipertensi dengan satu macam obat 9 orang, dua obat 19, dan 13 respon dengan gabungan tiga atau lebih obat. Terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah obat dengan derajat hipertensi.Kesimpulan. Hipertensi pada anak di RSUDZA paling sering terdapat anak berumur 10-11 tahun. Penyebab tersering adalah glomerulonefritis akut. Terdapat hubungan bermakna antara jumlah obat yang diberikan dengan derajat hipertensi.
Senam Otak Titi S. Sularyo; Setyo Handryastuti
Sari Pediatri Vol 4, No 1 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.1.2002.36-44

Abstract

Proses belajar, berpikir, kreatifitas dan kecerdasan sesungguhnya tidak hanya melibatkanotak tetapi juga seluruh tubuh. Sensasi, gerakan, emosi dan fungsi integrasi otak semuabersumber pada tubuh kita. Oleh karena itu diperlukan suatu sistem yang bisamenghubungkan akal (mind) dan tubuh (body). Senam otak merupakan kumpulangerakan-gerakan sederhana yang bertujuan menghubungkan atau menyatukan akal dantubuh.

Page 67 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue