cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Pola Kuman dan Uji Kepekaan Antibiotik pada Sepsis Neonatorum di Unit Perawatan Neonatus RSUD dr. Pirngadi Kota Medan Rasyidah Rasyidah
Sari Pediatri Vol 15, No 5 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.5.2014.341-4

Abstract

Latar belakang. Sepsis neonatorum merupakan masalah utama dan penyebab kematian terbanyak di negara berkembang. Pemakaian antibiotik yang tidak tepat akan mengakibatkan resistensi kuman dan memperburuk kondisi pasien sehingga diperlukan data jenis kuman serta resistensinya terhadap antibiotik.Tujuan. Mengetahui pola kuman dan uji kepekaan antibiotik pada pasien sepsis neonatorum di Unit Neonatus RSUD dr. Pirngadi Kota Medan.Metode. Penelitian deskriptif mengambil data dari rekam medis pasien sepsis neonatorum dengan hasil kultur darah terbukti sepsis di Unit Neonatus RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan sejak April 2010 sampai dengan April 2012. Data dianalisis menggunakan program SPSS 17.0. dengan tampilan frekuensi dan persentase.Hasil. Didapat 129 neonatus dengan tersangka sepsis yang dilakukan kultur darah, 61 di antaranya terbukti sepsis, dua dieksklusi karena data rekam medis tidak lengkap sehingga didapat 59 subjek penelitian dengan 64,4% laki-laki. Didapat 10 (16,9%) neonatus meninggal. Jenis kuman yang terbanyak dijumpai adalah Enterobacter sp (62,7%), diikuti Proteus sp (27,1%), Klebsiella sp (8,5%) dan Proteus vulgaris (1,7%). Antibiotik seperti amikasin memiliki resistensi 40,7%, ampisilin 83,1%, sefotaksim 72,9%, dan gentamisin 54,2% terhadap seluruh sampel yang diuji.Kesimpulan. Penyebab sepsis neonatorum terbanyak adalah Enterobacter sp. Sebagian besar bakteri penyebab sepsis mempunyai resistensi yang tinggi terhadap ampisilin dan sefotaksim.
Pemahaman Perawat Mengenai Medication Safety Practice (MSP) di Bangsal Perawatan Kanker Anak RSUP Dr. Sardjito Sri Mulatsih; Iwan Dwiprahasto; Sutaryo Sutaryo
Sari Pediatri Vol 17, No 6 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.72 KB) | DOI: 10.14238/sp17.6.2016.463-8

Abstract

Latar belakang. Prosedur aman pemberian obat (medication safety practice/MSP), khususnya kemoterapi, dari sudut pandangmanajemen sangat penting dikaji dengan harap luaran yang lebih baik pada pasien kanker anak.Tujuan. Mengetahui pemahaman perawat terhadap MSP pada pemberian kemoterapi untuk pasien kanker anak dengan LLA diRSUP Dr. SardjitoMetode. Dilakukan penelitian dengan rancang bangun pra dan pasca kuasi eksperimental. Subjek adalah perawat yang melakukanpelayanan pasien kanker anak. Intervensi berupa sosialisasi kebijakan, buku panduan, dan pelatihan MSP. Diukur luaran tingkatpemahaman perawat sebelum dan sesudah intervensi dengan menggunakan kuesioner.Hasil. Tidak ada perbedaan karakteristik subjek (24 pra dan 23 pasca intervensi). Dibandingkan pra intervensi, pada pasca intervensididapatkan peningkatan jumlah perawat yang mendapat materi MSP (82% vs 46%, p=0,027), pemahaman MSP (87% vs 42%),dan implementasi MSP (100% vs 71%, p=0,019). Pasca intervensi juga didapatkan peningkatan tindakan identifikasi pasien, prinsip6 benar cara pemberian obat, perencanaan pemberian dan peresepan kemoterapi sesuai protokol, penggunaan formulir pemesanandan peresepan obat kempoterapi yang standar, dan labelisasi obat kemoterapi yang standar.Kesimpulan. Pemahaman perawat mengenai MSP meningkat setelah dilakukan pelatihan dan sosialisasi buku pedoman. ImplementasiMSP mengalami peningkatan di beberapa jenis tindakan, namun masih diperlukan peningkatan pemahaman khususnya pengertianMSP dan jenis tindakan MSP. Diperlukan metoda pelatihan yang lebih spesifik untuk meningkatkan pemahaman MSP khususnyaperawat.
Evaluasi Sensitivitas Antibiotik dengan Demam Neutropenia Sulaiman Hamid; Pudjo Hagung Widjajanto; Ida Safitri Laksono
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.714 KB) | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.220-4

Abstract

Latar belakang. Pemberian antibiotik sangat penting untuk menurunkan angka kematian pasien demam neutropenia. Di sisi lain, penggunaan antibiotik jangka panjang akan mengubah pola patogen dan uji sensitivitas terhadap antibiotik.Tujuan. Mencari pola patogen, menilai sensitivitas cefotaxime dan gentamicin sebagai antibiotik lini pertama, dan mendapatkan antibiotik alternatif pada demam neutropenia.Metode. Penelitian potong lintang dilakukan pada anak demam neutropenia yang dirawat di Bangsal Onkologi Anak RSUP Dr. Sardjito periode Januari 2004 sampai Desember 2009. Kriteria inklusi adalah demam (didefinisikan sebagai suhu tubuh ≥38,3oC atau ≥38,0oC pada dua kali pengukuran selang 1 jam), neutropenia (absolute neutrophil count/ANC <500 sel/mm3 atau <1000 sel/mm3 yang diperkirakan akan turun menjadi <500 sel/mm3 dalam 48 jam), dan hasil biakan positif. Uji sensitivitas dinilai dengan menggunakan disc diffusion method.Hasil. Terdapat 205 episode neutropenia dari 188 subjek, 135 episode di antaranya mengalami demam neutropenia (rerata ANC 520/mm3). Biakan positif 42 (31%) subjek, 30 (70%) dari biakan yang positif merupakan bakteri Gram negatif. Pseudomonas aeruginosa (19%) dan Escherichia coli (19%) merupakan patogen terbanyak dijumpai pada biakan. Hasil uji sensitivitas antibiotik invitro, gentamicin sensitif pada 45% biakan sedangkan cefotaxime 29%.Kesimpulan. Bakteri Gram negatif merupakan penyebab utama demam neutropenia. Sensitivitas cefotaxime lebih rendah apabila dibandingkan dengan antibiotik yang lain. Cefpirome, cefepime dan ampicillin-sulbactam direkomendasikan untuk menggantikan cefotaxime sebagai obat yang dikombinasikan dengan gentamicin pada pengobatan demam neutropenia.
Efektivitas Kombinasi Parasetamol dan Ibuprofen sebagai Antipiretik pada Anak Dimple G Nagrani; Ari Prayitno
Sari Pediatri Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.932 KB) | DOI: 10.14238/sp17.2.2015.150-4

Abstract

Latar belakang. Beberapa tenaga medis yang menyarankan terapi kombinasi parasetamol dan ibuprofen (secara bersamaan ataupunselang-seling) untuk mengatasi demam. Terapi tersebut dapat membingungkan orangtua dan berpotensi kelebihan dosis obat,sedangkan efektifitas terapi kombinasi dibandingkan monoterapi belum diketahui.Tujuan. Mengevaluasi apakah pemberian terapi kombinasi antara parasetamol dan ibuprofen lebih efektif untuk mengatasi demampada anak dibandingkan dengan terapi tunggal.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik yaitu Pubmed, Cochrane, dan Highwire.Hasil. Satu meta-analisis menyatakan terapi kombinasi yang diberikan secara simultan dapat menurunkan suhu 0,27oC dan 0,7oCberturut-turut pada jam pertama dan keempat dibandingkan dengan terapi tunggal, namun tidak terdapat perbedaan pada kenyamananpasien. Terapi selang-seling dapat menurunkan suhu 0,6oC pada jam pertama dibandingkan dengan terapi tunggal dan jumlah pasienyang memiliki suhu normal pada 3 jam pasca pemberian antipiretik selang-seling lebih banyak dibandingkan dengan terapi tunggal(RR 0,25). Satu uji klinis acak terkontrol menyatakan terapi kombinasi menurunkan suhu (2,19±0,83)oC dibandingkan denganterapi tunggal parasetamol (1,48±0,94)oC ataupun ibuprofen (1,87 ± 0,99)oC, p=0,013.Kesimpulan. Terapi antipiretik yang diberikan secara kombinasi dapat menurunkan suhu <1oC dan dapat memberikan bebas demamyang lebih lama dibandingkan dengan terapi tunggal. Meskipun demikian, tidak ada perbedaan pada tingkat kenyamanan pasienantara cara pemberian kedua regimen terapi tersebut.
Hubungan Kadar Copeptin Serum dengan Derajat Pneumonia pada anak balita Rianasyah Rianasyah; Audrey MI Wahani; Diana Takumansang Sondakh
Sari Pediatri Vol 17, No 4 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.4.2015.292-6

Abstract

Latar belakang. Peran copeptin pada pneumonia masih merupakan kontroversi.Tujuan. Mengetahui hubungan antara kadar copeptin serum dengan derajat pneumonia pada anak balita.Metode. Kami melakukan penelitian secara cross sectional pada anak dengan kriteria pneumonia menurut kriteria WHO dan radiologis. Sampel diambil secara consecutive sampling dan dilakukan pemeriksaan kadar copeptin serum. Orang tua atau wali subjek penelitian diminta menandatangani inform consent. Penelitian ini dilaksanakan dibawah persetujuan Komite Etik.Hasil. Didapatkan hasil 38 anak yang terdiri dari 25 laki-laki dan 13 perempuan dengan rerata umur 14,26 (SD 13,544) bulan. Rerata kadar copeptin serum 13.868 ng/mL. Didapatkan hubungan positf antara kadar copeptin serum dengan derajat pneumonia. (r = 0,781 dan p<0,0001)Kesimpulan. Terdapat hubungan yang sangat bermakna dan kuat antara kadar copeptin dengan derajat pneumonia.
Kecenderungan Gangguan Perilaku pada Anak dengan Sindrom Nefrotik Diarum Puspasari; Indria Laksmi Gamayanti; Madarina Julia
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.1-8

Abstract

Dampak Penambahan Digoksin terhadap Kapasitas Fungsional Penyakit Jantung Bawaan Pirau Kiri ke Kanan yang Mengalami Gagal Jantung Dana Sumanti; Anindita Soetadji; Nanik Tri Mulyani
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.802 KB) | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.385-90

Abstract

Latar belakang. Efek penambahan digoksin terhadap kapasitas fungsional menunjukkan hasil yang berbeda.Beberapa penelitian menyebutkan bahwa digoksin dapat meningkatkan kapasitas fungsional, tetapi penelitianlain tidak. Uji jalan enam menit adalah uji yang mudah dilaksanakan untuk menilai kapasitas fungsionalindividu.Tujuan. Mengetahui manfaat penambahan digoksin selama satu bulan terhadap kapasitas fungsional pasienPJB pirau kiri ke kanan yang mengalami gagal jantung.Metode. Uji klinis dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr Kariadi Semarang. Uji jalan enam menitdilakukan pada kedua kelompok penelitian sebelum dan sesudah perlakuan. Analisis statistik menggunakanuji –t berpasangan dan Mann-Whitney.Hasil. Tigapuluh empat subjek dapat menyelesaikan penelitian. Didapatkan perbedaan jarak tempuh uji jalan6 menit pada kelompok digoksin sebelum dan sesudah perlakuan (p=0,002). Tidak terdapat perbedaan jaraktempuh uji jalan 6 menit pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah perlakuan (p=0,77). Perbandinganselisih jarak tempuh uji jalan 6 menit pada kelompok digoksin dan kontrol berbeda signifikan (p=0,019).Analisis kurva ROC (receiver operating curve) menunjukkan area di bawah kurva ROC untuk delta jaraktempuh sebelum dan sesudah perlakuan pada kedua kelompok 0,82. Delta jarak tempuh sebelum dansesudah perlakuan baik dengan cut of point 2,75 meter.Kesimpulan. Penambahan digoksin dapat meningkatkan kapasitas fungsional pada pasien PJB pirau kirike kanan yang mengalami gagal jantung
Hubungan Antara Derajat Asfiksia dengan Beratnya Hipokalsemia pada Bayi Baru Lahir Edwin Tohaga; Kamilah Budhi; Noor Wijayahadi
Sari Pediatri Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.1.2014.29-34.

Abstract

Latar belakang. Kalsium merupakan ion yang sangat penting untuk proses metabolisme biomolekular. Selama kehamilan, kalsium ditransfer secara aktif melalui kalsium transplasental yang diregulasi hormon parathyroid-related peptide (PTHrP). Hipokalsemia dapat menyebabkan gangguan neuromuskular, irama jantung apneu, dan gangguan gastrointestinal. Asfiksia dapat menurunkan kadar kalsium darah pada bayi baru lahir di bawah batas nadir. Pada asfiksia terjadi insufisiensi ginjal, metabolik asidosis, dan sekresi parathyroid hormon (PTH) kurang sehingga menurunkan kadar kalsium plasma.Tujuan. Mengetahui hubungan antara derajat asfiksia dengan beratnya hipokalsemia pada bayi baru lahirMetode. Desain penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional pada bayi dengan asfiksia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di bangsal perawatan bayi risiko tinggi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr.Kariadi Semarang pada tahun 2012. Derajat asfiksia ditentukan berdasarkan nilai APGAR, yaitu asfiksia sedang dan berat, derajat hipokalsemia ditentukan berdasarkan nilai kadar kalsium serum. Analisis statistik dengan uji chi-square.Hasil. Subjek 66 bayi terdiri dari 29 bayi laki-laki dan 37 bayi perempuan, 20 bayi lahir kurang bulan dan 46 bayi lahir cukup bulan. Terdapat hubungan antara asfiksia dengan hipokalsemia (p=0,013). Hipokalsemia berat pada asfiksia berat PR 4,9, (IK95% 1,2-20,3; p=0,027), Hipokalsemia sedang pada asfiksia sedang PR 4,51(IK95% 1,3-14,6; p=0,009).Kesimpulan. Terdapat hubungan antara derajat asfiksia dengan beratnya hipokalsemia pada bayi baru lahir.
Neutrophil Gelatinase Associated Lipocalin Urin sebagai Deteksi Dini Acute Kidney Injury Siti Aizah Lawang; Antonius Pudjiadi; Abdul Latief
Sari Pediatri Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.3.2014.195-200

Abstract

Latar belakang. Penelitian terkini fokus pada identifikasi biomarker yang lebih dini untuk acute kidney injury (AKI). Salah satunya adalah neutrophil gelatinase associated lipocalin (NGAL), protein 25 kDa yang merupakan potensial biomarker dini untuk AKI.Tujuan. Melihat neutrophil gelatinase associated lipocalin (NGAL) sebagai biomarker dini untuk acute kidney injury (AKI).Metode. Penelitian kualitatif dengan desain uji diagnostik. Pengambilan sampel secara cross sectional dan consecutive sampling pada 50 orang anak, terdiri atas 28 sepsis dan 22 sepsis berat di ruang rawat intensif anak di RS. Cipto Mangunkusomo Jakarta dan RS. Wahidin Sudirohusodo Makassar.Hasil. Terdapat perbedaan sangat bermakna kadar NGAL urin dan kreatinin berdasarkan beratnya sepsis (p<0,001). Nilai rerata sepsis 132,93 ng/mL dan sepsis berat 2159,98 ng/mL. Terdapat perbedaan bermakna antara beratnya AKI menurut kriteria RIFFLE dengan beratnya sepsis (p=0,013). Tidak terdapat hubungan bermakna antara kadar NGAL urin dengan kriteria RIFFLE (p=0,173). Nilai sensitifitas NGAL urin 100% dan spesifisitas 63,63%, positive predictive value 27,27%, negative predictive value 100% dan area under curve (AuOC) 0,826.Kesimpulan. Neutrophil gelatinase associated lipocalin (NGAL) dapat dipakai sebagai skrining AKI.
Korelasi antara Kadar Eosinofil Sekret Hidung dan Darah Tepi pada Anak dengan Rinitis Alergika Enny Karyani; Wistiani Wistiani
Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.5.2016.355-360

Abstract

Latar belakang. Pada pasien rinitis alergika dapat ditemukan eosinofil di sirkulasi darah maupun pada sekret hidung. Belum diketahui apakah terdapat hubungan dua hal tersebut pada rinitis alergikaTujuan. Membuktikan adanya korelasi antara eosinofil sekret hidung dan eosinofil darah tepi pada anak dengan rinitis alergika.Metode. Rancangan penelitian cross sectional dengan subyek penderita rinitis alergika anak pada poliklinik RSUP dr. Kariadi dan RSUD Kota Semarang yang didiagnosis sesuai dengan kriteria ARIA 2008. Pengambilan sampel dengan cara consecutive sampling. Dilakukan pengukuran kadar eosinofil sekret hidung dan eosinofil darah tepi. Kadar eosinofil diinterpretasikan dalam bentuk persentase. Kadar eosinofil dianalisis menggunakan uji korelasi Spermann untuk menentukan adanya korelasi antara kadar eosinofil pada sekret hidung dan darah tepi pada anak dengan rinitis alergika.Hasil. Didapatkan 34 anak rinitis alergika. Median kadar eosinofil sekret hidung 1,0 (0-5,0)%, kadar eosinofil darah tepi 5,0 (4-14,5)%. Terdapat korelasi bermakna antara kadar eosinofil sekret hidung dan eosinofil darah tepi pada penderita rinitis alergika dengan arah korelasi positif dan dengan kekuatan korelasi kuat. (p=0,0001, r=0,871).Kesimpulan. Terdapat hubungan yang kuat antara kadar eosinofil sekret hidung dan darah tepi pada anak dengan rinitis alergika.

Page 81 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue