cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Hubungan Ketebalan Intima Media Arteri Karotis dan Massa Ventrikel Kiri pada Remaja Obes David Kaunang; Irna Chandra; Stefanus Gunawan
Sari Pediatri Vol 17, No 4 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.812 KB) | DOI: 10.14238/sp17.4.2015.249-54

Abstract

Latar belakang. Obesitas pada anak berhubungan dengan peningkatan risiko kematian yang disebabkan aterosklerosis dan kardiomiopati pada saat dewasa. Ketebalan intima media (KIM) arteri karotis dan massa ventrikel kiri (MVK) adalah penanda awal aterosklerosis dan kardiomiopati yang dapat diperiksa sejak usia dini.Tujuan.Mengetahui hubungan antara KIM arteri karotis dan MVK pada remaja obes. Metode.Penelitian observasional analitik dengan pendekatan potong lintang terhadap 45 remaja usia 13-18 tahun dari bulan November 2013 – Februari 2014. Subyek dibagi menjadi obes dan tidak obes berdasarkan IMT menurut umur dan jenis kelamin. Penilaian KIM dan MVK dengan ekokardiografi. Pengolahan data dengan uji Mann-Whitney, uji t tidak berpasangan. Hubungan antara KIM dengan MVK ditentukan dengan uji regresi linier.Hasil.Terdapat perbedaan bermakna antara KIM remaja obes (rerata 0,79 mm, SB 0,77) dibandingkan tidak obes (rerata 0,23 mm, SB 0,22) (p<0,001). Rerata MVK remaja obes 456,75 g (SB 204,39) berbeda bermakna dengan rerata MVK tidak obes 138,24 g (SB 24,19) (p<0,001). Terdapat hubungan antara KIM dengan MVK pada remaja obes (r=0,374 p=0,006).Kesimpulan. Ketebalan intima media arteri karotis dan MVK pada remaja obes berbeda bermakna dibandingkan tidak obes. Pada remaja obes terjadi peningkatan KIM dan MVK. Terdapat hubungan peningkatan KIM arteri karotis dengan peningkatan MVK pada remaja obes.
Pengaruh Pemberian Omega-3 Terhadap Kadar C-Reactive Protein pada Remaja Obes Resistensi Insulin Wilson Wilson; Eka Agustia Rini; Hafni Bachtiar
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.047 KB) | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.41-6

Abstract

Latar belakang. Obesitas berperan penting terhadap terjadinya sindrom metabolik yang dapat menyebabkan resistensi insulin,dislipidemia, diabetes mellitus dan hipertensi yang akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Jaringan adiposa padaobesitas akan memproduksi berbagai sitokin antara lain TNF-α dan IL-6 yang selanjutnya merangsang hati untuk menghasilkanC-RP. Omega-3 mempunyai efek anti inflamasi, dapat meningkatkan sensitifitas insulin, mengurangi resistensi insulin, perlemakanhati dan memperbaiki profil lemak serta menurunkan kadar C-RP.Tujuan. Mengetahui pengaruh pemberian Omega-3 terhadap kadar C-RP pada remaja obesitas resistensi insulin.Metode. Penelitian eksperimental dari November 2011 sampai Maret 2012 dengan disain pre and post-test group. Obesitas ditentukanberdasarkan pengukuran indek massa tubuh (IMT) >p-95 WHO-NCHS, resistensi insulin menurut kadar homeostasis model assesmentinsulinresistence (HOMA-IR) >3,16. Sampel terpilih diperiksa kadar C-RP sebelum dan sesudah pemberian Omega-3. Omega-3diberikan selama 3 bulan dengan dosis 250 mg perhari. C-RP diperiksa secara Elisa dengan metode CMIA (chemiluminescentImmunometriz assay), sensitivitas 0,01 mg/dL. Data diolah menggunakan paired t-test (α=0,05).Hasil. Didapatkan 75 orang remaja obesitas dan 21 orang di antaranya (50,7%) mengalami resistensi insulin. Sebanyak 21 sampeldiuji, lebih dari separuh laki-laki (57,1% vs 42,9%). Rerata umur 16±0,68 tahun, rerata IMT 32,88±2,44 kg/m2. Rerata kadarglukosa, insulin puasa dan HOMA-IR, masing-masing adalah 90,36±14,94 mg/dl, 20,89±4,19 μIU/L dan 4,52±0,89. Terdapatpenurunan kadar C-RP sebelum dan sesudah pemberian Omega-3, yaitu 8,69±5,46 mg/dL menjadi 6,41±4,77 mg/dL. Penurunanini bermakna secara statistik (p=0,018).Kesimpulan. Konsumsi Omega-3 selama 3 bulan menurunkan kadar C-RP remaja obesitas resistensi insulin.
Korelasi Pleural Effusion Index Jarak Interpleura Secara Ultrasonografi pada Demam Berdarah Dengue Anak Arum Kusumaningtias; MMDEAH Hapsari; Bambang Satoto
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.337-41

Abstract

Latar belakang. Infeksi dengue merupakan infeksi virus tropis yang paling penting saat ini. Pleural effusionindex (PEI) digunakan sebagai prediktor derajat DBD, berperan dalam menentukan skor kebocoran vaskular(SKV), dan merupakan faktor risiko terjadinya mortalitas pada DSS. Melalui pemeriksaan foto toraks RLD,pengukuran PEI menimbulkan efek radiasi dan sulit dilakukan pada pasien yang tidak dapat dimobilisasi.Pemeriksaan ultrasonografi toraks tidak menimbulkan efek radiasi dan dapat mengetahui estimasi volumeefusi pleura dengan mengukur jarak interpleura pada posisi supine.Tujuan. Menganalisis korelasi pleural effusion index dengan jarak interpleura secara ultrasonografi padademam berdarah dengue anak.Metode. Desain penelitian belah lintang menggunakan 14 pasien DBD anak selama bulan Juli sampaidengan November 2014, dilakukan di RSUD Dr. Kariadi Semarang, dan subjek berusia 10 bulan-12 tahun.Pada hari kelima demam dilakukan pemeriksaan foto toraks RLD, dilanjutkan pemeriksaan ultrasonografitoraks.Hasil. Uji korelasi Rank Spearman memperlihatkan PEI berkorelasi positif sedang dengan jarak interpleurasecara sonografi (p=0,014; rho=0,639).Kesimpulan.Terdapat korelasi bermakna antara nilai PEI dengan jarak interpleura secara sonografi padapasien DBD anak.
Profil Klinis, Laboratorium, dan Serologi Infeksi Virus Dengue pada Bayi Rinang Mariko; Sri Rezeki S. Hadinegoro
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.535 KB) | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.441-6

Abstract

Latar belakang. Kejadian infeksi virus dengue (IVD) meningkat di Sumatera Barat pada beberapa tahunterakhir. Bahkan, terjadi pada anak usia kurang dari satu tahun. Bayi mempunyai karakteristik klinik yangunik dan tidak banyak penelitian mengenai hal ini di Indonesia.Tujuan. Mengetahui profil klinis, laboratorium, dan serologi infeksi virus dengue pada bayi yang dirawatdi RSUP Dr. M Djamil Padang dari tahun 2012-2014Metode. Seri kasus menggunakan data rekam medik bayi yang dirawat di RSUP Dr M Djamil Padang dari1 Januari 2012 sampai 31 Desember 2014. Data mencakup usia, jenis kelamin, hari demam saat diagnosis,gejala dan tanda klinis, serta laboratorium.Hasil. Duabelas bayi dengan usia termuda 3 bulan dan usia terbanyak 5 bulan (5/12). Muntah merupakangejala tambahan yang paling banyak ditemukan (9/12), diikuti oleh ptekie dan syok (6/12), serta batuk(5/12). Infeksi primer didapatkan pada 8/12 bayi.Kesimpulan: Rerata usia dan kelompok usia terbanyak 5 bulan. Muntah merupakan gejala yang banyakditemui, diikuti, petekie, batuk dan syok sebagian besar merupakan infeksi primer.
Penilaian Kualitas Hidup pada Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan Asianosis dan Sianosis Cut Fera Rachmawati; Sri Sofyani; Muhammad Ali
Sari Pediatri Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.2.2014.86-90

Abstract

Latar belakang. Setiap tahun seribu bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan (PJB). Terapi bertujuan mengurangi gejala klinis, mencegah gagal jantung, penutupan defek, dan meningkatkan kualitas hidup. Evaluasi terhadap kualitas hidup menjadi penting karena dengan tata laksana yang baik sekarang ini, anak dengan PJB memiliki harapan hidup yang lebih lama.Tujuan. Menilai perbedaan kualitas hidup anak penderita PJB asianosis dengan sianosis.Metode. Penelitian menggunakan studi potong lintang telah dilakukan dari bulan Maret sampai dengan Juli 2012 di RSUP H. Adam Malik, Medan. Sampel terdiri dari anak usia 5 sampai dengan 18 tahun yang menderita PJB asianosis dan sianosis yang belum dikoreksi dan sudah dikoreksi. Anak dan orangtua mengisi kuesioner PedsQL modul kardio versi 3.0. Penilaian kualitas hidup dilihat dari enam domain yaitu menggunakan T-test independen dengan p<0,05 dan interval kepercayaan 95%.Hasil. Terdapat 52 anak penderita PJB, 17 anak sianosis dan 37 anak asianosis. Kualitas hidup anak PJB asianosis lebih baik daripada anak sianosis dalam empat domain yaitu masalah jantung dan terapi, penampilan fisik, cemas terhadap tindakan terapi dan masalah kognitif.Kesimpulan. Kualitas hidup anak penderita PJB asianosis lebih baik dibandingkan penderita PJB sianosis.
Pengaruh Pemberian Hormon Tiroksin Terhadap Intelligence Quotient pada Anak Sekolah yang Menderita Gondok di Daerah Endemik: Penelitian Terkontrol Acak Tersamar Ganda R. Satriono; Dasril Daud; Yulius Yulius
Sari Pediatri Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.2.2010.124-7

Abstract

Latar belakang. Kekurangan hormon tiroid dapat menyebabkan defisit otak minimal. Gangguan AkibatKekurangan Iodium (GAKI) merupakan salah satu masalah gizi masyarakat dan perlu mendapat perhatianbagi kesehatan karena berpengaruh langsung terhadap kehidupan dan kualitas sumber daya manusia .Tujuan Penelitian. Menilai pengaruh pemberian hormon tiroksin terhadap IQ (intelligence quotient) anaksekolah dasar yang menderita gondok di daerah endemik.Metode. Penelitian terkontrol acak tersamar ganda dengan desain pararel telah dilakukan pada anak sekolahdasar di kecamatan Anggeraja dan kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang provinsi Sulawesi Selatan Maret-Juli 2001, dengan membandingkan IQ anak gondok yang mendapat hormon tiroksin dan kelompok plasebo,sebelum dan sesudah terapi hormon tiroksin dengan dosis 100 ug/hari selama 3 bulan. Nilai IQ diukurdengan menggunakan cara Coloured Progressive Matrices (CPM).Hasil. Tujuh puluh anak sekolah dasar yang menderita gondok berumur 6-11,2 tahun secara acak dibagimenjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan 34 anak dan kelompok kontrol 36 anak. Analisis statistikmenunjukkan perbaikan IQ yang bermakna sesudah pemberian hormon tiroksin pada kelompok perlakuan(p<0,001).Kesimpulan. Pemberian hormon tiroksin 100 ug/hari selama 3 bulan meningkatkan IQ anak yang menderitagondok di daerah endemik kekurangan iodium.
Hubungan antara Prestasi Belajar pada Anak dengan Gangguan Tidur di SDN 03 Pondok Cina Depok Nuri Indahwati; Rini Sekartini
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.175-81

Abstract

Latar belakang. Prevalensi gangguan tidur pada anak terbanyak terjadi pada anak usia sekolah. Di Indonesia, prevalensi gangguan tidur pada anak tergolong cukup tinggi, tetapi kesadaran orang tua masih rendah. Gangguan tidur pada anak dapat berdampak pada prestasi belajar anak.Tujuan. Mengetahui hubungan antara gangguan tidur dan faktor sosiodemografi dengan prestasi belajar anak usia sekolah.Metode. Studi potong lintang dilakukan pada Oktober 2015-September 2016 terhadap anak berusia 7-12 tahun di SDN 03 Pondok Cina, Depok. Orang tua anak mengisi kuesioner sosiodemografi dan kuesioner sleep disturbance scale for children. Prestasi belajar didapat dari nilai rapor mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).Hasil. Sejumlah 154 subjek melengkapi kuesioner dan didapatkan prevalensi gangguan tidur 44,8%, dengan jenis terbanyak gangguan transisi tidur-bangun (50,6%). Gangguan tidur berhubungan dengan prestasi belajar yang rendah pada pelajaran Matematika (p=0,006) dan nilai rata-rata Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA (p=0,025). Faktor sosiodemografi yaitu usia anak, jenis kelamin, usia ibu, pendidikan terakhir ibu, pekerjaan ibu, pendapatan ayah, pendapatan ibu, dan bentuk keluarga berpengaruh terhadap prestasi belajar anak.Kesimpulan. Gangguan tidur dan beberapa faktor sosiodemografi berhubungan dengan prestasi belajar anak usia sekolah.
Pengaruh Susu Fortifikasi Besi-Zink Terhadap Tingkat Kesegaran Jasmani Anak Usia 7-9 Tahun di Sekolah Dasar Surakarta Endang Dewi Lestari; Zusta’in Noor Adhim
Sari Pediatri Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.2.2010.92-8

Abstract

Latar belakang. Defisiensi zat gizi mikro merupakan masalah kesehatan di negara berkembang. Besi danzink merupakan zat gizi mikro yang esensial untuk tubuh. Kekurangan dua jenis zat gizi mikro ini akanmenyebabkan kelainan pertumbuhan dan perkembangan yang berpengaruh terhadap tingkat kesegaranjasmani.Tujuan. Mengetahui pengaruh susu fortifikasi besi-zink terhadap tingkat kesegaran jasmani anak usia 7-9tahun di Sekolah Dasar SurakartaMetode. Penelitian uji klinis acak kasus-kontrol dilakukan pada 220 anak gizi kurang, 114 anak mendapatsusu yang mengandung iron pyrophosphate (12.15 mg) and zinc sulfate (4.4 mg), 106 sebagai kelompokkontrol. Kesegaran jasmani diukur dengan menggunakan modified-Harvard step test. Analisis statistikmenggunakan SPSS versi 16.0.Hasil. Rata-rata modified-Harvard step test score pada kelompok studi saat awal penelitian 10.829.32(SD±6.803.15), dan pada kelompok kontrol 6.407.06 (SD±3.220.03). Setelah 6 bulan pemberiansuplementasi, rata-rata modified-Harvard step test score pada kelompok perlakuan naik menjadi 27.037.92(SD+5.757.64) dan pada kelompok kontrol naik menjadi 21.5333.14 (SD±7.176.76). Terdapat perbedaanpeningkatan modified-Harvard step test score sebesar 4388.9 points pada kelompok perlakuan (p=<0.001;95 % CI 2548.3–6229.6).Kesimpulan. Pemberian susu fortifikasi besi-zink berpengaruh terhadap peningkatan tingkat kesegaranjasmani secara bermakna.
Suplementasi Tempe Meningkatkan Status Besi dan Perkembangan Anak Lidya Diah Wulandari Sidharta; JC Susanto
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.169-74

Abstract

Latar belakang. Anemia defisiensi besi dapat menyebabkan dampak negatif pada kesehatan terutama anak-anak, baik menurunkandaya tahan tubuh maupun mengganggu konsentrasi belajar dan perkembangan anak.Tujuan. Mengetahui manfaat pemberian tempe yang diberikan bersamaan makan pada anak terhadap peningkatan kadar hemoglobin,kadar serum iron, feritin, status antropometri, dan perkembangan pada anak.Metode. Penelitian one group pre and post test design dilakukan di daerah Bululor Semarang pada 30 anak usia 12 -18 bulan yangmemenuhi kriteria inklusi, diberikan tempe goreng 25 gram tiga kali sehari bersamaan makan selama 6 bulan. Sebelum dan setelahperlakuan dilakukan pengukuran antropometri berupa WAZ, HAZ, WHZ, dan pemeriksaan laboratorium kadar hemoglobin,serum iron, feritin, serta pemeriksaan perkembangan dengan tes Bayley berupa mental developmental index (MDI) dan psychomotordevelopmental index (PDI). Analisis statistik menggunakan Paired t test dan uji t tidak berpasangan bila sebaran data normal, Wilcoxontest dan Mann Whitney bila sebaran data tidak normal.Hasil. Terjadi kenaikan status antropometri (WAZ, HAZ, WHZ), status besi (serum besi, feritin) dan status perkembangan (MDI,PDI) yang bermakna secara statistik (p<0,05), walaupun didapatkan juga peningkatan kadar hemoglobin yang tidak bermakna secarastatistik (p=0,057) dengan rerata delta kenaikan hemoglobin sebesar 0,2±0,55 gr/dL.Kesimpulan. Pemberian tempe pada anak usia 12-18 bulan saat makan selama enam bulan dapat meningkatkan kenaikan kadarhemoglobin, serum besi, feritin, WAZ, HAZ, WHZ, dan MDI, PDI. 
Masalah Nutrisi pada Thalassemia Luszy Arijanty; Sri S Nasar
Sari Pediatri Vol 5, No 1 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.1.2003.21-6

Abstract

Gangguan pertumbuhan pada thalassemia disebabkan oleh banyak faktor antara lainfaktor nutrisi. Gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi dapat menyebabkanperawakan pendek. Nutrisi yang adekuat sangat penting untuk pasien thalassemia sebagaimodalitas dalam pengobatan jangka panjang dan untuk mencegah gangguan gizi,gangguan pertumbuhan, perkembangan pubertas dan defisiensi imun. Asupan nutrisiyang dianjurkan pada thalassemia adalah tinggi kalori, protein, kalium, seng, vitaminA,D, E, rendah besi sedangkan vitamin C harus dikurangi karena dapat meningkatkanabsorpsi besi. Suplementasi vitamin C dosis rendah diberikan bersamaan denganpenggunaan desferoksamin untuk membantu meningkatkan pengeluaran besi.

Page 93 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue