cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Status Nutrisi sebagai Faktor Risiko Sindrom Syok Dengue Sarah Buntubatu; Eggi Arguni; Ratni Indrawanti; Ida Safitri Laksono; Endy P. Prawirohartono
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.928 KB) | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.226-32

Abstract

Latar belakang. Risiko kematian pada anak dengan sindrom syok dengue (SSD) tinggi. Obesitas diduga sebagai faktor risiko SSD tetapi hasil penelitian sebelumnya masih kontroversial.Tujuan. Mengevaluasi overweight atau obes sebagai faktor risiko SSD pada anak.Metode. Penelitian case control pada anak (0-18 tahun) yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dari bulan April 2012 sampai Maret 2015 dengan infeksi dengue, yang ditegakkan berdasarkan kriteria WHO 2011 dan hasil uji serologi darah atau NS1. Analisis statistik dikerjakan dengan analisis multivariat dan stratifikasi. Kemaknaan faktor risiko dilaporkan sebagai odds ratio (OR) denganinterval kepercayaan 95%.Hasil. Dilaporkan 264 anak terdiri dari 88 kasus (SSD) dan 176 kontrol (non SSD) diikutkan dalam penelitian ini. Anak dengan overweight atau obesitas mempunyai risiko SSD 2,29 kali dibanding bukan overweight atau obes OR=2,29; IK95%:1,24-4,22) dan perempuan mempunyai risiko SSD 1,84 kali lebih tinggi dibanding laki-laki (OR=1,84; IK95%:1,08-3,14). Jumlah trombositmerupakan modifier, yaitu anak overweight atau obes dengan angka trombosit <20.000/μL mempunyai risiko 3,26 kali dibanding anak dengan SSD dengan overweight atau obes dengan angka trombosit ≥20.000/μL (OR=3,26;IK95%:1,22-8,72).Kesimpulan. Overweight atau obes dan jenis kelamin perempuan merupakan faktor risiko untuk SSD dan jumlah trombosit <20.000 /μL merupakan modifier.
Hubungan Higiene Perorangan Anak dengan Kejadian Kusta Anak di Kabupaten Pasuruan Tahun 2014-2015 Nisa Amira; Lilis Sulistyorini
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.138 KB) | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.187-91

Abstract

Latar belakang. Faktor higiene perorangan yang baik merupakan faktor yang dapat mencegah penularan kusta. Penelitian terdahulu menunjukkan adanya hubungan antara higiene perorangan dengan kejadian kusta. Kasus kusta anak merupakan indikasi masih adanya penularan aktif di masyarakat.Tujuan. Menganalisis hubungan antara aspek higiene perorangan anak yang meliputi kebersihan badan dan rambut, kebersihan tempat tidur dan kebersihan handuk dengan kejadian kusta anak di Kabupaten Pasuruan tahun 2014-2015.Metode. Penelitian analitik observasional dengan desain kasus kontrol dilakukan selama bulan Maret-Juni 2016 dengan sampel kasus dan kontrol masing-masing 16 sampel di Kabupaten Pasuruan.Hasil. Kebersihan badan dan rambut anak yang kurang baik merupakan faktor risiko penularan kusta anak di Kabupaten Pasuruan tahun 2014-2015 (OR: 5,000; IK95% 1,096-22,820). Kebersihan handuk yang kurang baik merupakan faktor risiko penularan kusta anak tahun 2014-2015 (OR:11,667; IK95% 1,227-110,953. Kebersihan tempat tidur bukan merupakan faktor risiko penularankusta anak di Kabupaten Pasuruan tahun 2014-2015.
Gambaran Dismenorea pada Remaja Putri Sekolah Menengah Pertama di Manado Hesti Lestari; Jane Metusala; Diana Yuliani Suryanto
Sari Pediatri Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.2.2010.99-102

Abstract

Latar belakang. Masalah yang timbul pada menstruasi seperti dismenorea merupakan masalah ginekologi yang sering dialami remaja putri. Walaupun demikian jarang remaja mencari pertolongan dokter, pada umumnya teman wanita dan orangtua menjadi tempat mencari nasehat. Ketersediaan informasi mengenai hal ikhwal menstruasi dan permasalahannya, khususnya dismenorea merupakan hal yang penting untuk perkembangan pelayanan kesehatan remaja.Tujuan. Mengetahui gambaran dismenore pada remaja putri di SMPN 3 Manado.Metode. Desain studi deskriptif potong lintang, pengambilan sampel secara konsekutif dilakukan pada bulan September 2009, dengan menggunakan kuesioner. Subjek penelitian adalah siswi SMPN 3 Manado yang sudah menstruasi.Hasil. Dua ratus dua responden masuk dalam penelitian, 199 responden (98,5%) di antaranya pernah mengalami dismenorea. Sebagian besar responden (94,5%) mengalami nyeri ringan dan 40,7% remaja putri mengalami dismenorea disertai dengan gejala penyerta. Meski merupakan suatu masalah, 82% remaja hanya membiarkan saja saat nyeri timbul atau hanya minum air hangat dan menekan bagian yang sakit (40,2%), dan hanya 5,5% berobat ke dokter. Para remaja mencari pertolongan ke orangtua (37,2%) mengenai masalah yang timbul dan hanya 6,9% dari remaja putri yang mencari pertolongan ke dokter. Sumber informasi tentang dismenorea sebagian besar berasal dari teman wanita (76,7%) dan orangtua (14,4%).Kesimpulan. Sebagian besar responden pernah mengalami dismenorea. Umumnya informasi tentang dismenorea paling banyak didapatkan dari teman wanita dan orangtua. Saat mengalami dismenore sebagian besar remaja meminta pertolongan kepada orangtua. Edukasi kesehatan tentang masalah menstruasi penting untuk remaja dan orangtuanya, dan perlunya evaluasi rutin masalah menstruasi oleh para klinisi.
Faktor Prognosis Derajat Keparahan Infeksi Dengue Arie Yulianto; Ida Safitri Laksono; Mohammad Juffrie
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.198-203

Abstract

Latar belakang. Infeksi virus dengue (IVD) bersifat akut dan dinamis, perjalanan klinisnya terkadang sulit diprediksi sehingga berakibat keterlambatan pengelolaan. Maka perlu diteliti parameter klinis dan laboratoris di fase kritis / defervescence untuk memprediksi derajat keparahan infeksi dengue.Tujuan. Mengetahui parameter klinis dan laboratoris sebagai faktor prognosis derajat keparahan infeksi dengue.Metode. Penelitian kohort retrospektif, menggunakan data rekam medik pasien anak IVD yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dari Januari 2014 – Desember 2015. Faktor prognosis yang diteliti adalah usia, jenis kelamin, tanda klinis warning signs, serta laboratorium. Kriteria eksklusi adalah adanya penyakit hematologi dan penyakit jantung bawaan. Analisis statistik denganmetode regresi logistik.Hasil. Di antara 188 pasien yang memenuhi kriteria penelitian, 56 (30%) didiagnosis demam dengue (DD), 58 (31%) demam berdarah dengue derajat 1 – 2 (DBD), dan 74 (39%) sindrom syok dengue (SSD). Analisis multivariat menunjukkan nyeri perut (OR 5,06, IK 95%: 1,72;14,87), hepatomegali >2 cm (OR 7,57, IK 95%: 2,86;20,02), hematokrit >45% (OR 5,10, IK 95%: 1,74;14,95), dan trombosit ≤50.000/uL (OR 17,80, IK 95%: 3,78;83,80) merupakan faktor prognosis independen derajat keparahan infeksi dengueKesimpulan. Nyeri perut, hepatomegali >2 cm, hematokrit >45% dan trombosit ≤50.000/uL di fase defervescence merupakan faktor prognosis independen terjadinya infeksi dengue yang lebih berat (DBD dan SSD).
Kesesuaian Nilai C-Reactive Protein dan Procalcitonin dalam Diagnosis Pneumonia Berat pada Anak Irawati Irawati; Heda Melinda; Ponpon S. Idjradinata
Sari Pediatri Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.812 KB) | DOI: 10.14238/sp12.2.2010.78-81

Abstract

Latar belakang. Penyebab pneumonia sulit dibedakan berdasarkan klinis, radiologis, dan pemeriksaan darah rutin, sedangkan pemeriksaan biakan darah memerlukan waktu lama dengan hasil positif 10%-30% kasus. Baku emas biopsi jaringan paru bersifat invasif dan tidak diindikasikan. Procalcitonin merupakan penanda untuk memperkirakan infeksi bakteri dengan sensitivitas dan spesifisitas paling baik.Tujuan Penelitian. Mengetahui kesesuaian C-reactive protein (CRP) dan procalcitonin dalam diagnosis pneumonia berat pada anak, sehingga pemeriksaan CRP dapat digunakan sebagai pengganti procalcitonin.Metode. Penelitian observasional analitik dengan rancangan potong lintang dilakukan di Unit Gawat Darurat dan Rawat Inap Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dan Rumah Sakit Umum Cibabat Cimahi pada bulan Mei-Juni 2010. Pemeriksaan CRP dan procalcitonin dilakukan saat didiagnosis pneumonia berat pada 29 anak berusia 2-60 bulan. Analisis statistik menggunakan kurva analisis receiver operating characteristic (ROC) untuk mengetahui nilai CRP yang dapat digunakan untuk memprediksi infeksi bakteri dan analisis keserasian Kappa untuk menguji kesesuaian antara nilai CRP dan procalcitonin.Hasil. Didapatkan cut off point CRP yang dapat digunakan sebagai prediksi infeksi bakteri adalah >8 mg/L dengan sensitivitas 68,2%, spesifisitas 100% dan akurasi 75,9% dan adanya kesesuaian yang baik antara nilai CRP dan procalcitonin, yaitu K=0,508.Kesimpulan. Terdapat kesesuaian nilai CRP dan procalcitonin dalam diagnosis pneumonia berat pada anak, sehingga CRP dapat digunakan untuk menggantikan procalcitonin. (
Pola Penyakit Infeksi pada Thalassemia Mururul Aisyi; Alan R Tumbelaka
Sari Pediatri Vol 5, No 1 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.724 KB) | DOI: 10.14238/sp5.1.2003.27-33

Abstract

Pasien thalassemia rentan terhadap infeksi akibat faktor penyakitnya maupun akibatpengobatan. Kelebihan besi yang terjadi akibat transfusi berulang mempengaruhi sistimimun, menekan aksi kemotaksis fagositosis, mikrobiosidal leukosit mononuklear danpolimorfonuklear. Penularan infeksi melalui transfusi seperti virus hepatitis, HIV danCMV merupakan komplikasi transfusi yang ditakuti. Infeksi virus hepatitis yangditularkan melalui transfusi antara lain hepatitis A, Hepatitis B, hepatitis C dan hepatitisD. hepatitis C mungkin merupakan penyebab utama sirosis hepatitis pada pasienthalassemia yang mendapat transfusi. Infeksi bakteri S. pneumoniae merupakan penyebabterbanyak bakteremia terutama pada pasien thalassemia yang menjalani operasisplenektomi. Osteomielitis yang terjadi akibat infeksi tulang yang mengalami infarkbiasanya disebabkan oleh spesies Salmonella. Vaksin polisakarida pneumokokusdirekomendasikan pada anak 2 tahun atau lebih dan ulangan diberikan setelah 3-5 tahunpada pasien thalassemia di bawah umur 10 tahun. Infeksi parasit malaria pada thalassemiasangat rendah; terdapat bukti yang terbatas bahwa perubahan respons imun pada pasiendengan varian gen globin mungkin berperan penting pada resistensi terhadap malaria.Mengingat banyaknya penyakit atau komplikasi yang timbul pada pasien thalassemiamaka perlu dilakukan pemantauan seumur hidup.
Thalassemia dan Permasalahannya Di Indonesia Iskandar Wahidiyat
Sari Pediatri Vol 5, No 1 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.1.2003.2-3

Abstract

Thalassemia merupakan kelainan genetikterbanyak di dunia. Kelainan ini diturunkansecara resesif menurut hukum Mendel.Penyakit yang semula ditemukan di sekitar Laut Tengahini ternyata tersebar luas sepanjang garis khatulistiwa,termasuk Indonesia. Tidak kurang dari 300.000 bayidengan kelainan berat penyakit ini dilahirkan setiaptahun di dunia, sedangkan jumlah penderita thalassemiaheterosigotnya tidak kurang dari 250 juta orang.Hingga saat ini belum ditemukan obat yang dapatmenyembuhkan penyakit tersebut. Pengobatan utamapenyakit ini ialah pemberian transfusi darah denganmempertahankan kadar hemoglobin di atas 10 g/dl; tetapiironisnya ialah bahwa jumlah zat besi yang tertimbundalam organ-organ tubuhnya akibat transfusi, menjadisalah satu penyebab kematian. Penimbunan zat besi dalamorgan-organ tubuh seperti hati, jantung, kelenjar endokrindan lain-lain, menyebabkan gangguan fungsi organtersebut. Gangguan fungsi organ mulai tampak pada anakanakyang telah mendapat banyak transfusi darah yaituanak-anak yang berumur 5 th ke atas.
Kelainan Kardiovaskular pada Anak dengan Berbagai Stadium Penyakit Ginjal Kronik Aumas Pabuti; Nanan Sekarwana; Partini P Trihono
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.456 KB) | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.220-5

Abstract

Latar belakang. Penyakit kardiovaskular (PKV) merupakan penyebab orbiditas dan mortalitas tersering pada penyakit ginjal kronik (PGK) anak. Hipertrofi ventrikel kiri (LVH) dan disfungsi diastolik paling awal terlihat.Tujuan. Mengetahui proporsi PKV pada PGK stadium 1, hubungan stadium PGK dengan LVH, dan disfungsi jantung.Metode. Penelitian potong lintang analitik komparatif 26 subjek PGK anak di RS M Djamil Padang/ RS Hasan Sadikin Bandung. Dilakukan pemeriksaan urinalisis, hematologi rutin, ureum, kreatinin (eLFG), EKG, foto toraks, ekokardiografi. LVH dengan ekokardiografi bila left ventricular mass index (LVMI) >persentil 95 (38g/h2,7). Uji stastistik bermakna bila p<0,05.Hasil. Rerata umur subjek 9,1(3,8) tahun. LVH pada 1 dari 3 subjek PGK stadium 1 dan 61,5% pada PGK seluruh stadium, terbanyak stadium 5. Tidak terdapat hubungan bermakna stadium PGK dengan LVH (p=0,055), disfungsi diastolik (p=0,937) dan disfungsi sistolik (p=0,929).Kesimpulan. Pada PGK stadium 1 ditemukan LVH dan disfungsi diastolik. Tidak terdapat hubungan antara stadium PGK dengan LVH dan disfungsi jantung.
Tingkat Pengetahuan, Perilaku, dan Kepatuhan Berobat Orangtua dari Pasien Epilepsi Anak di Medan Johannes H. Saing
Sari Pediatri Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.2.2010.103-7

Abstract

Latar belakang. Beberapa kepustakaan menyatakan, masih kurang pengetahuan orangtua tentang penyakitepilepsi. Perilaku negatif terhadap anak pasien epilepsi disebabkan karena ketidaktahuan dan kesalahanpengertian terhadap penyakit epilepsi.Tujuan. Mengetahui tingkat pengetahuan, perilaku, dan kepatuhan berobat pada orangtua dari anak pasienepilepsi.Metode. Penelitian merupakan suatu studi deskriptif terhadap 65 orangtua dan pengasuh dari anak pasienepilepsi (usia 0-18 tahun) yang datang ke poliklinik neurologi anak RSUP H. Adam Malik Medan, antarabulan Januari-Maret 2008. Digunakan kuesioner yang terdiri dari 39 pertanyaan yang diisi sendiri olehorangtua ataupun pengasuh.Hasil. Dari 65 orang responden, 89,2% adalah orangtua dari anak pasien epilepsi. Responden (46,2%)berusia 31-40 tahun, dan 13,8% berpendidikan setingkat universitas. Dari hasil kuesioner yang menilai tingkatpengetahuan didapat 82,5% pernah mendengar tentang epilepsi, tetapi 92,1% di antaranya menjawabmasih memerlukan informasi lebih tentang epilepsi. Pada 55,6% responden setuju bahwa epilepsi dapatmenyebabkan perubahan perilaku. Mengenai kepatuhan berobat, 79,4% responden secara teratur mendapatobat anti epilepsi.Kesimpulan. Meskipun tingkat kepatuhan berobat cukup baik, tetapi sebagian besar orangtua dan pengasuhdari anak epilepsi pernah mendengar tentang epilepsi tetapi informasi yang didapat masih terbatas. Merekamembutuhkan tambahan informasi tentang penyakit epilepsi dan pengobatannya. Perlu dilakukan programedukasi dan penyebaran informasi pada orangtua dari anak pasien epilepsi dan masyarakat di Medan dansekitarnya.
Platelet Distribution Width dan Mean Platelet Volume: Hubungan dengan Derajat Penyakit Demam Berdarah Dengue Stefanus Gunawan; Felix Candra Sutanto; Suryadi N.N. Tatura; Max F.J. Mantik
Sari Pediatri Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.072 KB) | DOI: 10.14238/sp12.2.2010.74-7

Abstract

Latar belakang. Diperlukan petanda klinis praktis yang dapat digunakan untuk memprediksi progresivitas demam berdarah dengue (DBD) dan sindrom syok dengue (SSD).Tujuan. Mencari hubungan antara platelet distribution width (PDW) dan mean platelet volume (MPV) dengan derajat penyakit infeksi dengue.Metode. Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang. Didiagnosis DBD atau SSD berdasarkan kriteria WHO 1997. Data berupa hematokrit, jumlah trombosit, PDW, dan MPV dikumpulkan selama penelitian. Analisis statistik menggunakan t-test dan regresi linear.Hasil. Didapatkan delapan puluh sembilan anak yang mengikuti penelitian, 71 (79,8%) didiagnosis DBD dan 18 (20,2%) SSD. Korelasi negatif didapatkan antara PDW dan jumlah trombosit (r=-0,77; p<0,05); serta antara MPV dan jumlah trombosit (r=-0,52; p< 0,05). Rerata nilai PDW berbeda secara bermakna pada kelompok trombositopenia dan non trombositopenia (10,46 vs 8,07%; p<0,05) begitu juga nilai MPV (10,12 vs 8,84fl; p<0,05). PDW didapatkan lebih tinggi pada SSD dibanding dengan DBD (11,64 vs. 9,72%; p<0,05) begitu MPV (10,38 vs 8,53 fl; p<0,05). Didapatkan korelasi positif antara hemokonsentrasi dan PDW (r=0,217; p<0,05) begitu juga antara hemokonsentrasi dan MPV (r=0,118; p<0,05).Kesimpulan. PDW dan MPV dapat digunakan sebagai prediktor progresivitas dari DBD.

Page 94 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue