cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Nutrisi dan Kesehatan Gigi-Mulut pada Anak Aryono Hendarto
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.009 KB) | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.71-5

Abstract

Nutrisi dan kesehatan gigi dan mulut memiliki kaitan yang erat terutama pada anak yang memiliki fase tumbuh kembang. Nutrisiyang baik dan tepat penting untuk menunjang kesehatan gigi dan mulut. Sebaliknya, kesehatan gigi dan mulut juga penting untukasupan nutrisi yang adekuat. Karies gigi merupakan salah satu penyakit infeksi kronis yang paling sering terjadi pada anak danmemiliki kaitan erat dengan nutrisi. Berdasarkan sifatnya dalam memicu karies, bahan makanan dibagi menjadi tiga kelompok,yaitu anti-kariogenik, kariogenik, dan kariostatik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian ASI tidak terbukti memicukaries. Sebaliknya, kebiasaan konsumsi makanan/minuman berkadar gula tinggi, makanan cepat saji, dan makanan ringan diantarawaktu makan meningkatkan risiko karies pada anak. Anak dengan gizi lebih dan obesitas juga memiliki risiko karies yang lebih tinggi.Peran suplemen fluoride dan silitol dalam pencegahan karies masih kontroversial. Sementara itu, konsumsi probiotik terbukti mampumencegah karies dentis. Pencegahan karies dengan mengurangi kebiasaan konsumsi makanan manis, makanan cepat saji, makananringan, minuman soda, mencegah obesitas pada anak, serta didukung oleh kebiasaan menyikat gigi dengan teratur sangat pentingdalam menjaga kesehatan gigi dan mulut anak.
Prevalensi Alergi Makanan pada Anak Usia Kurang dari 3 Tahun di Jakarta Berbasis Survei dalam Jaringan / Online Meida Tanukusumah; Nia Kurniati; Novie Amelia C
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.365-74

Abstract

Latar belakang. Alergi makanan diasumsikan oleh masyarakat maupun praktisi kesehatan memiliki prevalensiyang tinggi. Pada anak usia <3 tahun di Indonesia, prevalensi alergi makanan belum diketahui.Tujuan. Mengetahui prevalensi alergi makanan pada anak usia <3 tahun di Jakarta.Metode. Studi deskriptif potong lintang menggunakan survei dalam jaringan (daring)/online Januari2011-Oktober 2013. Orangtua anak usia <3 tahun yang mengaku anaknya alergi makanan di Jakarta danmampu mengakses internet, tercatat masuk di www.alergianakku.com, mengisi kuesioner daring modifikasiepidemiology of asthma and allergy in early life (EAAEL) untuk diseleksi. Konfirmasi diagnosis subjekberdasarkan anamnesis (convincing history).Hasil. Terdapat 286 subjek memenuhi kriteria inklusi, 100 (35%) terduga alergi makanan dan 30 diantaranya didiagnosis alergi makanan. Mayoritas subjek laki-laki (60%) dan kelompok usia >12-36 bulan(48%). Usia terbanyak kelompok alergi >6-12 bulan (11/30), gejala reaksi kulit (26/30), dan penyebabnyaadalah susu sapi. Mayoritas subjek mendapatkan ASI hingga usia 12 bulan (13/30), ASI eksklusif <6 bulan(23/30), dan diberikan makanan pendamping pada usia 2-4 bulan (13/30). Riwayat alergi keluarga (27/30),tersering adalah asma (12/30) dengan hubungan keluarga ibu kandung (15/30).Kesimpulan. Prevalensi alergi makanan berbasis survei daring 10,5% dan 30% dari subjek yang diakuorangtua memiliki alergi makanan. Manifestasi terbanyak berupa reaksi kulit, jenis makanan penyebabadalah susu sapi.
Hubungan Antara Rerata Kadar Seng dalam Serum dengan Gejala Klinis Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas pada Anak Berdasarkan Skala Penilaian Perilaku Anak Hiperaktif Indonesia Rininta Mardiani; Nurmiati Amir; Tjhin Wiguna
Sari Pediatri Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.559 KB) | DOI: 10.14238/sp16.1.2014.17-21

Abstract

Latar belakang. Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) merupakan salah satu gangguan jiwa yang dijumpai pada anak. Terdapat tiga tipe gejala utama GPPH, yaitu kesulitan memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Hingga saat ini, belum dapat disimpulkan penyebab pasti terjadinya GPPH. Namun, hasil berbagai penelitian menunjukkan adanya kaitan dengan nutrisi, yaitu adanya defisiensi seng.Tujuan. Mengetahui perbedaan rerata antara kadar seng dalam serum pada anak dengan GPPH dibandingkan dengan kelompok kontrol anak sehat dan mengetahui hubungan antara rerata kadar seng dalam serum dengan gejala klinis pada anak dengan GPPH.Metode. Desain penelitian pendekatan metode potong lintang dengan kontrol anak sehat. Penelitian dilakukan di SDN 01 Pagi Kampung Melayu, Jakarta Timur, pada bulan Mei – Juni 2013. Jumlah sampel pada masing-masing kelompok yaitu 42.Hasil. Didapatkan nilai tengah kadar seng dalam serum untuk kelompok anak GPPH 52,50 μg/L dan kadar seng dalam serum untuk kelompok anak sehat 51,50 μg/L. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara kedua nilai tengah kadar seng dalam serum antara kelompok anak yang menderita GPPH dengan anak sehat. Tidak ada hubungan bermakna antara rerata kadar seng dalam darah dengan gejala klinis GPPH.Kesimpulan. Tidak didapatkan perbedaan rerata kadar seng dalam darah antara kelompok anak GPPH dibandingkan dengan anak sehat, dan tidak didapatkan hubungan kadar seng dalam darah pada anak GPPH dengan gejala klinis GPPH yang dinilai berdasarkan Skala Penilaian Perilaku Anak Hiperaktivitas Indonesia (SPPAHI).
Audit Tata laksana Meningitis Bakterialis pada Anak di RSUP Dr. Sardjito I Putu Ardika Yuda; Sunartini Sunartini; Neti Nurani
Sari Pediatri Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.2.2014.115-20

Abstract

Latar belakang. Angka kematian dan disabilitas pasien meningitis bakterialis masih cukup tinggi serta berhubungan dengan kualitas pelayanan. Audit medis perlu dilakukan sebagai salah satu upaya meningkatkan patient safety.Tujuan. Mengetahui kesesuaian antara praktik tata laksana meningitis bakterialis pada anak yang dirawat di bangsal anak RSUP Dr. Sardjito dengan pedoman pelayanan medis berdasarkan standar pelayanan medis (SPM) RSUP Dr. Sardjito 2005 dan (Pedoman Pelayanan Medis) PPM IDAI 2010.Metode. Audit retrospektif dengan menggunakan pedoman audit berdasarkan SPM RSUP Dr. Sardjito tahun 2005 dan PPM IDAI tahun 2010. Subjek penelitian adalah anak usia 1 bulan-18 tahun dengan diagnosis meningitis bakterialis yang dirawat di bangsal anak RSUP Dr. Sardjito pada 1 Januari 2011 sampai dengan 31 Mei 2013.Hasil. Terdapat 114 anak dengan diagnosis meningitis bakterialis. Rata-rata lama waktu penanganan di UGD adalah 89 menit dengan median 78 menit. Median lama waktu dilakukannya pungsi lumbal sejak pasien masuk adalah 4,5 jam (rata-rata 13,9 jam, rentang interkuartil 2,3–18,2 jam). Enampuluh dua pasien (54,4%; 95%CI: 49,7-59, 1%) yang mendapatkan antibiotik dosis intrakranial dalam waktu 6 jam sejak pasien masuk. Namun, defisiensi ini tidak terbukti memengaruhi outcome kematian (OR: 0,7; 95%CI: 0,18-3,0; p=0,480) maupun terjadinya sekuel (OR: 1,1; 95%CI: 0,4-2,5; p=0,839). Pemeriksaan uji fungsi pendengaran dengan Brainstem Evoked Respons Audiometri (BERA) hanya dilakukan pada 26/63 (41,3%; 95%CI: 29,1-53,5%) pasien.Kesimpulan. Belum semua kasus tata laksana meningitis bakterialis memenuhi standar mutu sesuai pedoman. Perlu diadakan pelatihan atau workshop tata laksana meningitis bakterialis pada anak di RSUP Dr. Sardjito.
Hubungan Antara Parameter Hematologi saat Perawatan Fase Induksi dengan Kejadian Demam Neutropenia pada Anak Leukemia Limfoblastik Akut Adhitya Putra Pratama; Sunartini Hapsara; Eddy Supriyadi
Sari Pediatri Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.571 KB) | DOI: 10.14238/sp16.3.2014.183-8

Abstract

Latar belakang. Demam neutropenia yang terjadi, terutama fase induksi, merupakan keadaan yang mengancam jiwa serta membutuhkan penanganan yang cepat dan segera. Di RSUP Dr. Sardjito, tingkat mortalitas 11% dari 25% insiden demam neutropenia pada Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) fase induksi. Parameter hematologi diduga berperan terhadap kejadian demam neutropenia pada anak LLA fase induksi.Tujuan. Mengetahui hubungan antara parameter hematologi terhadap kejadian demam neutropenia anak LLA pada fase induksi.Metode. Penelitian kasus-kontrol dengan besar sampel 100 anak. Penelitian dilakukan pada pasien yang sedang dan telah menjalani Indonesian Protocol Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) 2006 fase induksi, menderita demam neutropenia, dan berusia kurang dari 18 tahun. Sampel diambil secara konsekutif berdasarkan data rekam medik dan dilakukan matching berdasarkan usia, jenis kelamin, dan demam neutropenia yang terjadi pertama kali saat perawatan. Uji statistik dengan kai kuadrat dan analisis multivariat dengan regresi logistik.Hasil. Secara statistik, hasil analisis multivariat menunjukkan monositopenia dengan jumlah monosit ≤100/mm3 dan merupakan satu-satunya variabel yang berkaitan dengan kejadian demam neutropenia, OR 3,570 (p=0,005;95%CI=1,466-8,695).Kesimpulan. Monositopenia dengan jumlah monosit ≤100/mm3 berhubungan dengan kejadian demam neutropenia pada anak LLA fase induksi.
Occult Infection pada Anak Setelah 10 Tahun Mendapat Imunisasi Hepatitis B Asrawati Asrawati; Yusri Dianne Jurnalis; Yanwirasti Yanwirasti
Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.179 KB) | DOI: 10.14238/sp17.5.2016.343-348

Abstract

Latar belakang. Occult hepatitis B infection (OBI) adalah suatu keadaan ditemukannya deoxyribose-nucleic acid (DNA) virus Hepatitis B (VHB) pada pemeriksaan HBsAg negatif. Mutasi pada preS2/S menyebabkan sekresi HBsAg menurun sehingga kadar HBsAg dalam serum terlalu rendah yang menyebabkan HBsAg tidak terdeteksi. Virus hepatitis B cenderung mengalami mutasi sebab tidak memiliki sistem koreksi selama replikasi karena tidak adanya 3’,5’exonuclease untuk mengkoreksi kesalahan insersi nukleotida saat transkripsi balik.Tujuan. Mengetahui insiden occult infection setelah 10 tahun mendapat imunisasi hepatitis B.Metode. Penelitian observasional dengan menggunakan desain cross sectional study pada anak sekolah dasar di Kota Padang dengan jumlah subjek penelitian 40 anak.Hasil. Jenis kelamin perempuan lebih banyak daripada laki-laki dan status gizi baik lebih banyak dari status gizi kurang. Insiden occult infection ditemukan 10% pada anak setelah 10 tahun mendapat imunisasi hepatitis B. Tidak terdapat hubungan antara antiHBs dengan occult infection.Kesimpulan. Occult infection pada anak setelah 10 tahun mendapat imunisasi hepatitis B adalah 10 %.
Pengaruh Pelatihan Stimulasi Keluarga oleh Ibu dalam Bentuk Tulisan dengan Gambar terhadap Perkembangan Anak Usia Kurang dari 3 Tahun Innike Innike; Asri Purwanti
Sari Pediatri Vol 16, No 4 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.4.2014.284-91

Abstract

Latar belakang. Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. The Golden Agemerupakan kurun usia terpenting dalam kehidupan manusia. Kementerian Kesehatan dan Ikatan DokterAnak Indonesia telah menyusun buku pedoman pelaksanaan stimulasi, deteksi, dan intervensi dini tumbuhkembang anak di tingkat pelayanan kesehatan dasar (KPSP). Buku ini dapat digunakan oleh tenaga medisdan paramedis.Tujuan. Membuktikan perbedaan pengaruh stimulasi keluarga oleh ibu dengan menggunakan buku KPSPjika diterapkan dalam bentuk tulisan dengan gambar terhadap perkembangan anak.Metode. Quasi eksperimental dengan subjek anak usia kurang dari 3 tahun yang memenuhi kriteria inklusi.Pengambilan subjek secara simpel random sampling. Subjek dibagi menjadi dua kelompok. Kelompoksatu, anak yang ibunya mendapat pelatihan dengan buku KPSP bentuk gambar. Kelompok dua, anak yangibunya mendapat pelatihan stimulasi dengan buku KPSP bentuk tulisan. Perkembangan anak dinilai denganDenver-2, yaitu sebelum ibu mendapat pelatihan dan sesudah mendapat pelatihan pada akhir bulan ke-1,ke-3, dan ke-6. Analisis data dengan chi-square test, Hasil signifikan bila p<0,05 (95% CI tidak melewatiangka 1).Hasil. Subjek 130 anak dengan rerata usia (18,18±7,0) bulan. Pada kelompok satu, hubungan stimulasikeluarga oleh ibu terhadap perkembangan motor kasar dan motor halus (p􀁤0,05; p􀁤0,05), personal sosialdan bahasa (p=0,325; p=0,089). Pada kelompok dua, hubungan stimulasi keluarga terhadap perkembanganmotor kasar dan motor halus (p􀁤0,05; p􀁤0,05), personal sosial dan bahasa (p=0,75; p=0,40).Kesimpulan. Cara stimulasi oleh ibu dengan metode gambar lebih baik pengaruhnya terhadap perkembangananak usia kurang dari tiga tahun dibandingkan dengan metode tulisan.
Single Nucleotide Polymorphism (SNP) IL-10 (RS 1800896) pada Infeksi Bakteri Gram negatif dan TLR-2 (RS 3804099) Infeksi Bakteri Gram positif Pada Sepsis Neonatorum Lia Kamelia; Sjarif Hidajat Effendi
Sari Pediatri Vol 17, No 6 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.6.2016.423-7

Abstract

Latar belakang. Sepsis neonatorum merupakan masalah kesehatan dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Kulturdarah sebagai gold standar diagnostic hanya memberikan hasil positif sekitar 40%. Latar belakang genetik saat ini diakui berkontribusiterhadap respons imunologis inangTujuan. Menentukan hubungan SNP IL-10 (rs 1800896) dengan infeksi bakteri Gram negatif dan TLR-2 (rs 3804099)dengan infeksi bakteri Gram positif pada sepsis neonatorum.Metode. Penelitian rancangan cross sectional pada sepsis neonatorum. Subjek dengan hasil kultur darah positif dilakukan analisisgenetik single nucleotide polymorphisms IL-10 (rs1800896) dan TLR-2 (rs3804099), dengan tahapan isolasi deoxyribonucleat acid(DNA), polymerase chain reaction (PCR), dan sekuensing DNA.Hasil. Tidak didapatkan hasil yang bermakna (p>0,05) SNP IL-10 (rs1800896) dengan infeksi bakteri Gram negatifdan SNP TLR-2(rs3804099) dengan infeksi bakteri Gram positifKesimpulan. Tidak terdapat hubungan single nucleotide polymorphism (snp) IL-10 (rs 1800896) dengan infeksi bakteri Gramnegatifdan TLR-2 (rs 3804099) dengan infeksi bakteri Gram positif pada sepsis neonatorm.
Faktor yang Berhubungan dengan Terjadinya Infeksi Clostridium Difficile pada Penderita Diare akibat Antibiotik Delfican Delfican; Yusri Dianne Jurnalis; Hafni Bachtiar; Andani Eka Putra
Sari Pediatri Vol 15, No 6 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.6.2014.408-14

Abstract

Latar belakang. Pemakaian antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan Clostridium Difficile Associated Diarrhea (CDAD).Tujuan. Mengetahui proporsi CDAD, faktor yang berhubungan, dan antibiotik yang paling banyak menimbulkan CDAD.Metode. Penelitian potong lintang terhadap anak yang mendapat antibiotik pada bulan Maret-September 2013. Clostridium Difficile Associated Diarrhea adalah ditemukannya gen tcdB C. difficile dari pemeriksaan PCR. Faktor risiko adalah umur, status gizi, jumlah, dosis, cara dan lama mendapat antibiotik. Analisis dilakukan secara bivariat dan multivariat.Hasil. Terdapat 82 orang anak dengan proporsi CDAD 39%. Persentasenya lebih tinggi pada usia 1 bulan-5 tahun, mendapat lebih dari 1 jenis antibiotik, dosis biasa, pemberian oral dan mendapat antibiotik kurang dari 7 hari dengan nilai p >0,05. Persentase CDAD hampir sama pada anak gizi baik dan gizi kurang. Persentase CDAD tertinggi didapatkan pada anak yang mendapat amoksisilin oral.Kesimpulan. Proporsi CDAD cukup tinggi. Usia muda, jumlah antibiotik, pemberian dosis biasa secara oral dan waktu pemberian yang singkat menunjukkan kecenderungan menderita CDAD lebih besar, walaupun secara statistik tidak bermakna.Usia merupakan faktor paling dominan. Persentase CDAD tertinggi pada anak yang mendapat amoksisilin oral.
Faktor Risiko Non-genetik Inhibitor Faktor VIII pada Pasien Hemofilia A Ahmad Saifudin; Harry Raspati Achmad; Lelani Reniarti
Sari Pediatri Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.2.2015.119-23

Abstract

Latar belakang. Terbentuknya inhibitor atau antibodi terhadap FVIII pada pasien hemofilia A menyebabkan FVIII eksogen yangdiberikan tidak dapat berfungsi. Penyebab bersifat multifaktorial terdiri atas faktor genetik dan lingkungan. Beberapa penelitian telahdilakukan untuk mengetahui faktor risiko terbentuknya inhibitor, akan tetapi masih terdapat pendapat yang kontroversial.Tujuan. Menentukan faktor risiko non-genetik inhibitor faktor VIII pada pasien hemofilia A.Metode. Penelitian desain potong lintang pada pasien hemofilia A yang terdaftar pada Himpunan Masyarakat Hemofilia JawaBarat dari bulan Desember 2012–Juni 2013. Analisis bivariat dilakukan dengan uji chi-kuadrat dan uji t.Hasil. Terdapat 85 pasien hemofilia A yang mendapat terapi koate®. Prevalensi inhibitor 81,13% (69/85), usia inhibitor positif9,96 (6,49) tahun dan inhibitor negatif 8,69 (3,87) tahun. Hubungan faktor risiko usia pertama kali mendapat terapi, jenishemofilia A, riwayat operasi, dan frekuensi terapi dengan inhibitor faktor VIII pada pasien hemofilia A berturut-turut adalahp=0,512; p=0,202; p=0,663; p=0,276.Kesimpulan. Faktor risiko non-genetik tidak berhubungan dengan inhibitor faktor VIII pada pasien hemofilia A.

Page 92 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue