cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Acanthosis Nigricans dan Hubungannya dengan Resistensi Insulin pada Anak dan Remaja Jose RL Batubara
Sari Pediatri Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.2.2010.67-73

Abstract

Acanthosis nigricans (AN) bukan hanya sekedar kelainan kulit saja, tetapi dipandang sebagai petanda adanyapenyakit lain yang mendasari, salah satunya adalah resistensi insulin. Prevalensi AN bervariasi dari 7%pada populasi umum sampai dengan 74% pada orang dengan obesitas. Penelitian terakhir memperlihatkanbahwa derajat beratnya AN berhubungan dengan konsentrasi insulin plasma puasa dan indeks masatubuh (IMT). Tidak ada perbedaan insidens antara laki-laki dan perempuan. Secara garis besar AN dibagimenjadi dua kategori besar yaitu jinak (benign) dan ganas (malignant). Acanthosis nigricans pada sindromresistensi insulin disebabkan karena kadar insulin yang tinggi mampu mengaktifkan fibroblas dermal dankeratinosit melalui reseptor insulin-like growth factor yang ada pada sel-sel tersebut. Sebagai hasilnya terjadipeningkatan deposisi glikosaminoglikans oleh fibroblas di dermal. Hal ini menyebabkan papilomatosis danhiperkeratosis. Acanthosis nigricans dilaporkan sebagai salah satu faktor prediktor hiperinsulinemia yangcukup baik. Skrining adanya AN merupakan alat yang cukup sederhana, cepat, mudah, dan murah untukmendeteksi individu yang berisiko menderita diabetes tipe 2 dan penyakit lain yang berhubungan denganhiperinsulinemia. Skrining AN di klinik dan sekolah untuk mengidentifikasi individu yang berisiko tinggimenderita diabetes tipe 2 memiliki implikasi penting dalam pengembangan strategi intervensi melawanDM, terutama di tingkat layanan primer.Tujuan terapi pada AN adalah untuk mengkoreksi penyakit yangmendasarinya. Koreksi hiperinsulinemia dapat mengurangi derajat lesi hiperkeratosis, begitu juga denganpenurunan berat badan.
Pengaruh Penimbunan Besi Terhadap Hati pada Thalassemia Pamela Kartoyo; Purnamawati SP
Sari Pediatri Vol 5, No 1 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.482 KB) | DOI: 10.14238/sp5.1.2003.34-8

Abstract

Thalassemia merupakan penyakit hemolitik kronis dengan gejala utama anemia danmemerlukan transfusi darah berulang. Transfusi darah berulang dan peningkatanabsorpsi besi di usus sebagai akibat eritropoiesis yang tidak efektif pada penderitathalassemia menyebabkan penimbunan besi. Hati merupakan organ utama yangterganggu karena hati merupakan tempat penyimpanan utama cadangan besi. Padakeadaan penimbunan besi, kadar besi serum, saturasi transferin dan feritin akanmeningkat serta transferin binding capacity (TBC) terlampaui, hal ini dapatmenyebabkan reaksi radikal bebas yang bersifat sitotoksik sehingga mengakibatkankerusakan oksidasi lipid, protein dan asam nukleat. Penimbunan besi kronis di hatimengakibatkan fibrosis serta sirosis hati, dan biopsi hati merupakan baku emas untukmenilai penimbunan besi di hati juga dapat memberi informasi mengenai derajatkerusakan hati. Bahaya lain akibat pemberian transfusi darah berulang padathalassemia adalah terinfeksi virus hepatitis C. Pada hepatitis C, kadar besi serum,saturasi transferin dan feritin meningkat dan penimbunan besi ini akan memperberatpenyakit hepatitis C. Hal ini disebabkan besi akan meningkatkan kerusakan radikalbebas pada hepatosit yang telah rusak sebelumnya akibat infeksi virus hepatitis C.Untuk mengatasi penimbunan besi diperlukan zat kelasi besi seperti desferal, dansenyawa anti oksidan seperti vitamin E dapat melindungi hepatosit terhadapkerusakan sel dan peroksidasi lipid. Untuk mencegah dan mengurangi risiko terinfeksivirus hepatitis B dan C pada penderita thalassemia perlu dilakukan uji tapis (skrining)terhadap setiap donor darah.
Pubertas Terlambat pada Thalassemia Mayor Diah Pramita; Jose RL. Batubara
Sari Pediatri Vol 5, No 1 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.2 KB) | DOI: 10.14238/sp5.1.2003.4-11

Abstract

Gangguan kelenjar endokrin akibat penimbunan besi pada pasien thalassemia mayorsemakin sering ditemukan seiring dengan meningkatnya harapan hidup. Kegagalanpubertas merupakan komplikasi endokrin yang paling sering diikuti oleh amenoresekunder. Angka kejadian pubertas terambat pada thalassemia mayor bervariasi tergantungjenis kelamin, riwayat transfusi darah dan terapi kelasi besi yang pemah didapat, danusia saat memulai terapi kelasi.Para peneliti mendapatkan kejadian pubertas terlambat lebih sering terjadi pada lakilaki.Secara umum, penyebab pubertas terlambat dikiasifikasikan menjadi gangguantemporer sekresi gonadotropin, dan steroid seks, kegagalan poros hipotalamus-hipofisisdengan defisiensi sekresi gonadotropin dan kegagalan gonad primer. Gangguan tersebutdiakibatkan oleh proses peroksidasi lipid oleh penimbunan besi di dalam sel-sel kelenjarhipofisis dan kerusakan di hipofisis mi menyebabkan sekresi gonadotropin menurun.Secara klinis keterlambatan pubertas pada perempuan umumnya keterlambatanpertumbuhan payudara dan rambut pubis, sedang pada lakilaki terjadi gangguanperkembangan testis. Penting untuk melakukan pemeriksaan hormonal untuk mengetahuifungsi poros hipotalamus-hipofisis-gonad. Tatalaksana thalassemia mayor denganpubertas terlambat selain terapi pengganti hormonal, perlu diperhatikan status nutrisi,dan pemberian transfusi disertai terapi kelasi yang adekuat.
Eradikasi Polio Hindra Irawan Satari; Laila Fitri Ibbibah; Sidik Utoro
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.245-50

Abstract

Poliomielitis atau yang lebih dikenal dengan polio merupakan penyakit menular yang dapat menyebabkan kelumpuhan dan atrofi otot yang ireversibel, bahkan kematian pada anak. Sejak dilaporkan kejadian luar biasa (KLB) terjadi di Eropa pada abad ke-19, angka kejadian polio terus meningkat hingga menjadi andemi pada awal abad ke-20. Saat ini, gerakan inisiatif global yang dibentuk oleh WHO telah berhasil menurunkan angka insidensi polio sampai 80%, berkat pemberian vaksin yang didukung oleh program pemerintah dan sistem pengawasan yang baik. Namun, muncul masalah terkait pemberian vaksin, oral poliovirus vaccine (OPV), yaitu circulating vaccine derived polio viruses (cVDPVs) dan vaccine associated paralytic poliomyelitis (VAPP). Untuk itu, American Academy of Pediatrics merekomendasikan pemberian inactivated poliovirus vaccine (IPV) sebagai pengganti OPV. Rekomendasi tersebut tidak efektif apabila diterapkan di negara berkembang yang masih banyak terdapat infeksi polio liar, seperti Indonesia, karena perlindungan IPV tidak cukup kuat, tidak dapat menimbulkan herd immunity, dan harganya jauh lebih mahal. Pemberian OPV masih menjadi pilihan, dengan rekomendasi terbaru dari WHO yang mempertimbangkan pemberian bivalent (bOPV) karena trivalent (tOPV) dapat meningkatkan angka kejadian cVDPV akibat virus polio tipe-2 (VP2). Upaya eradikasi polio ditunjang Global Polio Eradication Initiative (GPEI)melalui Eradication and Endgame Strategic Plan dengan target bebas polio pada tahun 2018.
Skrofuloderma pada Anak: Penyakit yang Terlupakan? Johnny Nurman; Darmawan B. Setyanto
Sari Pediatri Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.172 KB) | DOI: 10.14238/sp12.2.2010.108-15

Abstract

Skrofuloderma atau tuberkulosis kulit sering mengalami keterlambatan dalam diagnosis baik pada negaraberkembang ataupun industri dewasa ini. Seorang anak perempuan umur 13 tahun 6 bulan dirujuk dengankeluhan utama pasca biopsi benjolan di leher dan ketiak kanan. Pasien menderita kelainan pada regioservikalis, submandibula dan aksila dekstra berupa benjolan sebesar telur puyuh, keras, tidak nyeri danterfiksasi dan lesi plak eritematosa dengan pinggir kebiruan dan hiperpigmentasi berukuran 1x1 cm sampai5x 10 cm, bentuk tidak teratur, tersusun linier, berbatas tegas. Benjolan dikeluhkan sejak 4 tahun yanglalu dan memburuk sesuai perjalanan waktu. Kuku jari tangan tampak berwarna kuning kecoklatan danmengeras dengan permukaan yang tidak merata. Konsultasi kepada dokter telah dilakukan namun orangtua pasien tidak pernah dijelaskan mengenai penyakit yang diderita anaknya. Pengobatan dengan obatyang tidak jelas dan perawatan luka dilakukan pada setiap konsultasi. Riwayat tuberkulosis dalam keluargadisangkal namun tetangga pasien diketahui menderita batuk berdarah. Hasil uji Mantoux memperlihatkanbula berdiameter >15 mm, kemudian pecah dan menjadi lesi ulkus setelah 2 minggu. Hasil biopsi kulitmenunjukkan seluruh dermis dipadati oleh sel radang terutama limfosit, sel plasma polimorphic multiplenucleous (PMN), dan tampak sel-sel epiteloid dan sel datia Langhans; juga daerah yang granulomatus. Kulturjaringan setelah 8 minggu, memperlihatkan hasil biakan positif Mycobacterium tuberculosis, apusan sedianlangsung tidak ditemukan kuman tahan asam, tetapi uji niasin positif. Berdasarkan telaah dari anamnesis,pemeriksaan fisis dan penunjang, dapat disimpulkan diagnosis skrofuloderma, gizi kurang, perawakan pendekkarena penyakit kronis, tersangka anemia defisiensi besi, dan onikomikosis. Pasien mendapat terapi obatanti tuberkulosis per oral dengan isoniazid 1 x 200 mg/hari dan rifampisin 1 x 300 mg/hari selama 6 bulan,pirazinamid 1 x 400 mg/hari dan etambutol 1 x 500 mg/hari, selama 2 bulan pertama dan menunjukkanpenyembuhan. Pasien dipantau lebih lanjut untuk masalah nutrisi dan perawatan pendek di poliklinik IKARSCM.
Faktor Prediktor Nefritis pada Anak dengan Purpura Henoch-Schonlein Ahmad Wisnu Wardhana; Cahya Dewi Satria; Sunartini Hapsara
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.094 KB) | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.209-13

Abstract

Latar belakang. Penyakit purpura Henoch-Schonlein (PHS) dapat menyebabkan komplikasi nefritis. Nefritis PHS dapat membaik sendiri atau berkembang menjadi penyakit ginjal kronik. Beberapa faktor prediktor telah diketahui berhubungan dengan kejadian nefritis PHS.Tujuan. Menentukan usia ≥10 tahun, purpura persisten, gejala abdomen berat dan relaps sebagai faktor prediktor nefritis pada PHS.Metode. Dilakukan studi kohort retrospektif. Sampel penelitian adalah anak berusia 1 tahun – 18 tahun dengan PHS yang dirawat di Instalasi Kesehatan Anak RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari 2008-Agustus 2016 yang memenuhi kriteria inklusi. Sampel diambil secara konsekutif, kemudian diidentifikasi adanya faktor prediktor nefritis berdasarkan data rekam medis. Analisis bivariat untuk menghitung nilai p serta analisis multivariat dengan regresi logistik.Hasil. Diikutsertakan 80 pasien yang yang diikuti selama 6 bulan. Didapatkan nefritis pada 31 pasien (38,75%). Analisis bivariat dan multivariat menunjukkan bahwa hanya gejala abdomen berat yang merupakan faktor prediktor nefritis dengan nilai p=0,027 dan p=0,021, dan RR 3,759 (IK95%: 1,222-11,562).Kesimpulan. Gejala abdomen berat merupakan faktor prediktor pada kejadian nefritis PHS dan meningkatkan risiko 3,75 kali terjadinya nefritis PHS. Usia ≥10 tahun, purpura persisten, dan relaps tidak terbukti berpengaruh pada kejadian nefritis PHS.
Hubungan antara Malondialdehyde (MDA) dengan Hasil Luaran Sepsis Neonatorum Kamilah Budhi Rahardjani
Sari Pediatri Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.843 KB) | DOI: 10.14238/sp12.2.2010.82-7

Abstract

Latar belakang. Sepsis merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas terbanyak pada neonatus. Pada sepsis terjadi peningkatan stres oksidatif yang menyebabkan kerusakan jaringan dan hemolisis. Kadar MDA serum merupakan biomarker adanya stress oksidatif.Tujuan. Mengetahui hubungan antara MDA serum dengan hasil luaran sepsis pada neonatus.Metode. Penelitian observasional prospektif dilakukan pada neonatus sepsis yang dirawat di PBRT (Peawatan Bangsal Risiko Tinggi) RSUP Dr. Kariadi Semarang, Oktober 2007 sampai dengan Januari 2008. Diagnosis sepsis berdasar gejala klinik dan pemeriksaan laboratorium. Keluaran sepsis dikelompokkan menjadi dua yaitu perburukan (BR) dan perbaikan (BI). Kadar MDA serum diukur dua kali saat terdiagnosis sepsis (MDA1) dan pada hari ke-5 atau bila terjadi disfungsi organ / meninggal / perburukan (MDA2) dengan menggunakan metode spektofotometri. Analisis statistik menggunakan Uji Wilcoxon Signed – Rank, Mann-Whitney, ROC analysis dan Fisher-exact.Hasil. Subjek penelitian terdiri dari 41 neonatus sepsis, 33 neonatus BI dan 8 neonatus BR. Rerata kadar MDA1 2,97±0,14 dan MDA2 3,05±0,34. Kadar MDA 1 kelompok BI 2,95±0,117, kelompok BR 3,08±0,172 (p=0,03). Kadar MDA2 kelompok BI 2,97±0,182, kelompok BR 3,38±0,591 (p=0,006). Kelompok BI MDA2 meningkat tak bermakna (p=0,9), kelompok BR, MDA2 meningkat bermakna (p=0,01). Kurva ROC luas area bawah kurva MDA1 0,75 (p=0,03), cut-off-point= 2,928 ng/mL. Dijumpai hubungan bermakna antara kategori MDA1 dengan luaran sepsis (p=0,02). Risiko relatif MDA1 ≥2,928 ng/mL untuk hasil luaran sepsis perburukan 7,4 X (95% CI=1,4-37,2).Kesimpulan. Terdapat hubungan antara kadar MDA serum dengan hasil luaran sepsis neonatorum. (
Insidens Kandidemia di Paediatric Intensive Care Unit Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Doddy Kurnia Indrawan; Antonius H Pudjiadi; Abdul Latief Latief
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.865 KB) | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.182-6

Abstract

Latar belakang. Kandidemia menjadi salah satu masalah di PICU, angka ejadiannya meningkat setiap tahun dengan angka kematian yang tinggi, serta memperpanjang masa rawat di rumah sakit. Sampai saat ini, data insidens kandidemia pada anak masih terbatas.Tujuan. Mengetahui insidens kandidemia di PICU RSCM.Metode. Penelitian retrospektif dilakukan di RS Cipto Mangunkusumo dengan mencatat data rekam medis pasien kandidemia pada anak periode 1 Januari 2013 sampai 31 Desember 2014. Hasil. Didapatkan 32 kejadian kandidemia dalam kurun waktu pengambilan data. Median usia pasien 12,8 bulan, 57,7% berjenis kelamin laki-laki. Sebagian besar pasien mengalami gizi kurang, 69,2% kasus bedah dan 30,8% non bedah. Penggunaan steroid 11,5%. Selama perawatan di PICU, 96,2% pasien menggunakan ETT, 100% menggunakan kateter vena sentral dan kateter urin. Pasien yang menggunakan antibiotik >15 hari 80,8%. Median skor awal PELOD adalah 12. Median waktu pemberian anti jamur 15,8 hari perawatan di PICU, luaran hidup 65,4%, rerata lama rawat PICU 25,8 hari. Penyakit yang mendasari perawatan di PICU 7,7% infeksi saluran pernapasan, 3,8% infeksi sistem saraf, 19,2% syok sepsis, 3,8% pascabedah kepala leher, 11,5% pasca bedah dada, dan 53,8 pasca bedah abdomen. Rerata lama pemggunaan ETT 10,04 hari, kateter vena sentral 15,65 hari, dan kateter urin 11,15 hari. Jenis kandida terbanyak adalah kandida parapsilosis. Lebih dari dua antibiotik diberikan pada 76,8% pasien sebelum mendapatkan anti jamur.Kesimpulan. Kejadian kandidemia serupa dengan negara berkembang lainnya dan ditemukan meningkat pada pasien dengan status gizi kurang, pasacabedah, penggunaan alat medis invasif, dan penggunaa antibiotik >15 hari.
Gangguan Fungsi Jantung pada Thalassemia Mayor Fajar Subroto; Najib Advani
Sari Pediatri Vol 5, No 1 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.488 KB) | DOI: 10.14238/sp5.1.2003.12-5

Abstract

Penimbunan besi akibat tranfusi darah berulang pada thalassemia dapat mengakibatkanterjadinya komplikasi pada jantung. Gangguan kontraktilitas otot jantung dan iramajantung menunjukkan banyaknya besi yang tertimbun di serabut otot. Toksisitas besiterhadap jantung akan menyebabkan reaksi katalisis dalam sel miokardium dan jaringanparenkim sehingga membentuk hidroksi radikal bebas yang akan mengakibatkankerusakan sel. Kelainan fungsi jantung pada thalassemia‚ mayor terutama berhubungandengan gangguan fungsi ventrikel, septum intraventrikular serta diikuti dilatasi atriumkiri dan ventrikel kanan. Pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) dapat mencerminkanadanya gangguan fungsi hantaran jantung yaitu antara lain adanya perlambatan konduksiatrioventrikular. Pemeriksaan ekokardiografi jantung dapat lebih tepat menilai kelainananatomis dan penurunan fungsi kontraksi jantung antara lain dengan pengukuran fraksiejeksi ventrikel.
Perbandingan Efektivitas dan Keamanan Kombinasi Ketamin/Midazolam Dibandingkan Ketamin Tunggal sebagai Sedasi pada Anak Murti Andriastuti; Dewi Kartika; Andi Ade WR
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.240-4

Abstract

Latar belakang. Penambahan midazolam sebelum pemberian ketamin sebagai obat sedasi pada tindakan aspirasi sumsum tulang atau pemberian kemoterapi intratekal terbukti meningkatkan efektivitas sedasi, mengurangi ansietas dan mengurangi efek samping ketamin yaitu mimpi buruk, halusinasi, dan fenomena pulih sadar pasca pemberian ketamin.Tujuan. Membandingkan efektivitas dan keamanan sedasi antara kombinasi ketamin/midazolam dan ketamin tunggal berdasarkan bukti ilmiah.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik melalui Pubmed, Clinical Key, dan Google Scholar.Hasil. Suatu uji klinis acak tersamar mendapatkan awitan sedasi secara signifikan lebih singkat pada kelompok ketamin/midazolam dibandingkan ketamin yaitu 2,6 menit dan 3,4 menit (nilai p= 0,01). Jumlah subjek yang mengalami amnesia total pada kelompok ketamin/midazolam dibandingkan ketamin yaitu 100% dan 80,3% (p=0,001). Kejadian mimpi buruk pada kelompok ketamin/midazolam dibandingkan ketamin 6,3% dan 19,6% (p=0,04). Lima uji kohort menunjukkan kombinasi ketamin/midazolam dapatmenjadi pilihan sedasi yang cepat, efektif, dan aman bagi anak yang akan menjalani berbagai tindakan di bidang hematologi-onkologi. Kombinasi ini aman dan efisien untuk mengurangi nyeri selama prosedur dan mengurangi kecemasan pasien dan orangtua.Kesimpulan. Berdasarkan penelitian ilmiah yang telah dipaparkan, penambahan midazolam pada ketamin tidak menambah efek samping, dan kombinasi ini lebih baik dibandingkan ketamin tunggal.

Page 95 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue