cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Penggunaan Acute Illness Observation Scale (AIOS) sebagai Prediktor Infeksi Serius pada Anak 3-36 Bulan dengan Demam A.A.A. Putu Indah Pratiwi; Dimple V. Nagrani; Yusuf Balfast; Alan R. Tumbelaka; Waldi Nurhamzah
Sari Pediatri Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.091 KB) | DOI: 10.14238/sp12.2.2010.116-23

Abstract

Latar belakang. Anak dengan infeksi bakterial serius seringkali tidak menunjukkan gejala khas sehinggasulit dibedakan dengan infeksi ringan. Instrumen tunggal untuk mendiagnosis demam belum ditemukannamun beberapa skala sudah digunakan secara luas untuk memprediksi infeksi bakterial serius pada anak.Acute illness observation scale (AIOS) adalah salah satu skala observasi yang sering digunakan. Skala AIOSsederhana, mudah, dan tidak invasif. Penelitian sebelumnya menunjukkan AIOS memiliki nilai diagnostikyang baik.Tujuan. Mengetahui nilai diagnostik AIOS dalam memprediksi penyakit infeksi bakterial serius pada anakusia 3-36 bulan dengan demam.Metode. Uji diagnostik dilakukan di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, RSUP Fatmawati,dan RSAB Harapan Kita, pada bulan Maret sampai dengan Mei 2010. Subjek adalah anak usia 3-36 bulandengan demam 􀁤7 hari.Hasil. Terdapat 270 subjek yang diikutsertakan dalam penelitian dan 256 subjek di antaranya dapat dianalisis.Sebagian besar subjek berusia 3-12 bulan. Infeksi serius ditemukan pada 62 subjek dengan diagnosispneumonia sebagai diagnosis tersering. Skor AIOS >10 memiliki sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif(NDP), nilai duga negatif (NDN), rasio kemungkinan positif (RKP), dan rasio kemungkinan negatif (RKN)berturut-turut 58,06%, 94,33%,76,6%; 87,56%; 10,24; dan 0,44 untuk memprediksi infeksi serius padaanak 3-36 bulan dengan demam. Ditemukan titik potong baru yaitu skor AIOS >8 dengan sensitivitas,spesifisitas, NDP, NDN, RKP, dan RKN 69,35%; 90,2%; 69,35%; 90,2%; 7,08; dan 0,34.Kesimpulan. Skor AIOS >10 dapat digunakan untuk memprediksi infeksi serius pada anak 3-36 bulan.Ditemukan nilai titik potong baru, yaitu skor AIOS >8 yang memiliki nilai diagnostik lebih baik dari AIOS>10 namun diperlukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan titik potong tersebut
Hubungan Kadar Laktat Serum Inisial dan Skor Pelod pada Anak dengan Sepsis Patricia Yulita Gunawan; Ari Lukas Runtunuwu; Jose Meky Mandei; Jeanette Irene Christie Manoppo; Dedi Kurniawan Saputra
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.192-7

Abstract

Latar belakang. Sepsis merupakan masalah kesehatan penting pada anak. Salah satu alat ukur terbaik untuk memperkirakan keparahan penyakit pada anak sepsis adalah skor pediatric logistic organ dysfunction (PELOD). Kadar laktat serum inisial adalah prediktor lain dalam menentukan keparahan penyakit pada anak sepsis yang mudah dilakukan dan hasilnya cepat diperoleh.Tujuan. Mempelajari hubungan antara kadar laktat serum inisial dan skor PELOD pada anak sepsis.Metode. Penelitian analitik dari bulan November sampai Desember 2013 di Instalasi Gawat Darurat Anak (IGDA) RS Prof Dr.R.D Kandou, Manado. Sampel darah diambil untuk pemeriksaan laktat dan dihitung skor PELOD untuk tiap pasien. Untuk analisis selanjutnya digunakan korelasi Pearson dan regresi linear, signifikan apabila p<0,05.Hasil. Terdapat 45 anak sepsis dengan rerata usia 5 tahun. Rerata kadar laktat serum inisial lebih rendah secara bermakna pada pasien yang bertahan hidup dibandingkan pasien yang meninggal (3,67±0,92 berbanding 6,77± 4,62 mmol/L, p=0,013). Rerata skor PELOD juga lebih rendah secara bermakna pada pasien yang bertahan hidup dibandingkan pasien yang meninggal (13,51±13,16berbanding 25,75±15,82, p<0,01). Didapatkan korelasi rendah antara kadar laktat serum inisial dan skor PELOD (r=0,42, p=0,004).Kesimpulan. Terdapat korelasi positif rendah antara kadar laktat serum inisial dan skor PELOD pada anak sepsis.
Booster Vaksinasi Hepatitis B Terhadap Anak yang Non Responder Kusnandi Rusmil; Eddy Fadlyana; Novillia S Bachtiar
Sari Pediatri Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.016 KB) | DOI: 10.14238/sp12.2.2010.88-91

Abstract

Latar belakang. Berbagai penelitian terhadap respons imun setelah imunisasi hepatitis B dengan menggunakan vaksin monovalen dari plasma maupun yang berasal dari teknik DNA rekombinan menunjukkan antara 5%-15% tidak memberikan respons (non-responder) atau kurang memberikan respons (hypo-responder) Center of Disease Control merekomendasikan terhadap anak yang tidak mempunyai tingkat proteksi antibodi (anti-Hbs) setelah mendapat imunisasi dasar, perlu diberikan 3 kali suntikan rangkaian ke-2. Setelah rangkaian ke-2 imunisasi Hepatitis B tersebut maka 30%-50% diantaranya akan mempunyai kadar yang protektif.Tujuan. Penelitian bertujuan mengeksplorasi lebih mendalam mengenai manfaat pemberian vaksinasi rangkaian kedua pada anak hipo dan non responder sebagai salah satu data yang dapat dipergunakan strategi menghadapi masalah hepatitis B di Indonesia.Metode. Penelitian dilakukan terhadap 144 anak yang telah melaksanakan imunisasi dasar hepatitis B secara lengkap (3 kali) yang merupakan bagian uji klinis vaksin pentavalen (DPT/hepatitis B/Hib). Enam bulan setelah mengetahui kadar anti-Hbs hasil uji klinik pentavalen dilakukan pemberian imunisasi rangkaian ke-2 pada anak-anak hipo/non-responder.Hasil. Sebelas anak mempunyai kadar anti-Hbs <10 mIU/ml (non/hypo responder terhadap vaksinasi Hepatitis B). Terhadap kesebelas anak tersebut dilakukan pemeriksaan kadar anti-Hbs setelah 6 bulan pemberian imunisasi hepatitis B-3, didapatkan 3 anak (27,2%) mengalami peningkatan sehingga mempunyai kadar anti-Hbs >10 mIU/ml, 8 orang anak (72,2%) mempunyai kadar <10 mIU/ml. Pada 8 anak tersebut dilakukan imunisasi rangkaian ke-2 hepatitis B sebanyak 3 kali. Setelah mendapat rangkaian ke-2 imunisasi Hepatitis B, kedelapan subjek (100%) mencapai kadar protektif (>10 mIU/ml).Kesimpulan. Pemberian 3 dosis standar hepatitis B dapat digunakan untuk memberikan kekebalan pada anak sehat dengan hypo/non responder.
Skor Prediksi Kematian Pneumonia pada Anak Usia di Bawah Lima Tahun Ambarsari Latumahina; Rina Triasih; Kristia Hermawan
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.214-9

Abstract

Latar belakang. Pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada anak usia di bawah lima tahun di negara berkembang. Pengembangan sistem skor yang sederhana untuk memprediksi kematian pada pneumonia dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan menurunkan angka kematian anak akibat pneumonia.Tujuan. Menyusun skor prediksi kematian pada anak dengan pneumonia.Metode. Penelitian kohort retrospektif pada anak (umur 2 bulan sampai 5 tahun) yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito dengan pneumonia sejak Januari 2009 sampai Desember 2014. Anak dengan rekam medis tidak lengkap atau dengan infeksi HIV dieksklusi. Digunakan metode Spiegelhalter Knill-Jones untuk penyusunan skor kematian. Prediktor kematian dengan likelihood ratio (LHR) ≤0,5 atau ≥2 dimasukkan dalam sistem skor. Cut off point dari skor total ditentukan dengan kurva receiver operating characteristic (ROC).Hasil. Di antara 225 anak yang memenuhi kriteria, 42 (18,7%) meninggal. Prediktor kematian yang memenuhi kriteria LHR adalah usia <6 bulan (LHR 2,05), takikardia (LHR 2,11), saturasi oksigen (SpO2) <92% (LHR 2,54), anemia (LHR 0,38) dan leukositosis (LHR 2,04). Skor prediksi kematian terdiri atas usia (skor=5 bila usia <6 bulan dan 0 bila >6 bulan); frekuensi nadi skor=6 bila takikardia dan -8 bila normal); saturasi oksigen (skor=3 bila SpO2 <92% dan 0 bila SpO2 >92%); hemoglobin (skor=4 bila anemia dan -6 bila normal), leukosit (skor=3 bila leukosit dan 0 bila normal). Total skor >3 Mempunyai sensitivitas dan spesifitas terbaik, yaitu 85,7% dan 72,1%.Kesimpulan. Skor prediksi kematian pneumonia >3 dapat digunakan untuk memprediksi kematian pada anak dengan pneumonia.
Hepatitis C pada Thalassemia mayor: pengaruh Iron Overload pada perjalanan penyakit Ferry Damardjati; Hanifah Oswari
Sari Pediatri Vol 5, No 1 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.1.2003.16-20

Abstract

Indonesia sebagai negara yang termasuk dalam thalassemia belt juga mengalami masalahdan komplikasi yang timbul akibat penyakit tersebut. Masalah klasik thalassemia adalahpemberian transfusi darah berulang yang mengakibatkan penularan penyakit melaluitransfusi darah seperti hepatitis C, di samping penimbunan besi di dalam berbagaiorgan dan jaringan. Penimbunan besi yang berlebihan (iron overload) akan mengakibatkanpenurunan fungsi sistim imun pada pasien thalassemia yang juga akan berpengaruhpada perjalanan penyakit apabila terinfeksi oleh mikro organisme patogen. Pasienthalassemia yang terinfeksi virus hepatitis C (VHC) akan mengalami kerusakan hatibaik akibat infeksi VHC maupun akibat terjadinya penimbunan besi karena mendapattranfusi darah berulang tanpa pemberian kelasi besi yang adekuat. Pengobatan VHCpada thalassemia sampai saat ini belum ada yang adekuat sehingga uji tapis merupakaninstrumen yang penting dalam mencegah penyakit tersebut.
Perbandingan Efektivitas antara Terapi Sinar Tunggal dengan dan Tanpa Kain Putih pada Bayi Berat Lahir Rendah dengan Hiperbilirubinemia Stanislaus Djokomuljanto; Rinawati Rohsiswatmo; Aryono Hendarto
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.233-9

Abstract

Latar belakang. Terapi sinar adalah terapi utama dalam penanganan hiperbilirubinemia. Meningkatkan intensitas sinar terapi sinar dengan menambahkan kain putih sebagai pemantul dapat meningkatkan efektifitas terapi sinar dan menurunkan kadar bilirubin serum lebih cepat.Tujuan. Membandingkan efektifitas terapi sinar tunggal dengan dan tanpa kain putih pada bayi berat lahir rendah dengan hiperbilirubinemia.Metode. Uji klinis acak terkontrol terbuka yang dilakukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dari bulan September sampai November 2012. Didapat 40 bayi berat lahir rendah dengan hiperbilirubinemia. Subjek dibagi dua kelompok secara random, yaitu kelompok terapi sinar dengan kain satin putih (kelompok intervensi, n=19) dan tanpa kain satin putih (kelompok kontrol, n=21).Tujuan utama adalah membandingkan perbedaan penurunan kadar bilirubin total dan indirek setelah 6 jam terapi sinar, lama penggunaan terapi sinar, dan efek samping dari terapi sinar.Hasil. Median (rentang) penurunan kadar bilirubin serum total setelah 6 jam terapi sinar 2,51 mg/dL (-0,61;5,18) pada kelompok intervensi dan 0,85 mg/dL (-1,67;5,50) kelompok kontrol, p=0,029. Sementara penurunan kadar bilirubin serum indirek setelah 6 jam terapi sinar 2,57 mg/dL (-0,42;5,63) pada kelompok intervensi dan 0,47 mg/dL (-1,63;6,00) kelompok kontrol, p=0,004.Penilaian secara Cox proportional hazard regression menunjukkan median dari penggunaan terapi sinar kelompok intervensi, yaitu 12 jam dan 28 jam pada kelompok kontrol. (perubahan chi-square 7,542; p=0,006; hazard ratio 0,565; IK95%: 0,197-0,762). Selama penelitian, tidak ditemukan efek samping hipertermia, diare, rashes, dan burns.Kesimpulan. Penggunaan kain satin putih meningkatkan efektifitas terapi sinar pada bayi berat lahir rendah dengan hiperbilirubinemia indirek tanpa efek samping.
Pola Kuman dan Uji Kepekaan Antibiotik pada Pasien Unit Perawatan Intensif Anak di Rumah Sakit Umum Daerah Koja, Jakarta Riza Mansyoer; Ivan R. Widjaja
Sari Pediatri Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.2.2017.103-7

Abstract

Latar belakang. Pasien di unit perawatan intensif (UPI) anak (pediatric intensive care unit/PICU) merupakan pasien dengan penyakit kritis sehingga sebagian besar pasien menggunakan antibiotik. Profil resistensi bakteri akan membantu untuk pemilihan terapi empirik yang akan digunakan pada suatu unit.Tujuan. Untuk mendapatkan profil bakteri di PICU RSUD Koja berdasarkan hasil kultur, Metode. Hasil kultur yang dilakukan pada seluruh pasien yang masuk ke PICU pada periode Mei 2015 – April 2016 pada hari kerja pertama dikumpulkan dari departemen patologi klinik RSUD KojaHasil. Didapatkan 486 hasil kultur, 410 di antaranya tidak menunjukkan pertumbuhan kuman. Hasil positif terdapat pada 64 bakteri Gram-positif dan 12 Gram-negatif. Bakteri Gram positif terbanyak ditemukan adalah Staphylococcus hominis (19), Staphylococcus epidermidis (18), Staphylococcus haemolyticus (13), dan Staphylococcus aureus (9). Sementara itu, bakteri Gram negatif terbanyak ditemukan adalah Salmomella typhi (6) dan Acinetobacter baumanii (2). Pada kelompok bakteri Gram positif, antibiotik yang paling sensitif adalah vancomisin (95,2%), gentamisin (68,3%), cotrimoxazole (44,4%), cefotaxime (31,7%), dan ceftriaxone (31,7%). Pada kelompok bakteri Gram negatif, antibiotik yang paling sensitif adalah meropenem (84,6%), cotrimoxazole (84,6%), amikasin (61,5%), gentamisin (53,8%), and cefepime (46,2%).Kesimpulan. Vankomisin merupakan antibiotik yang paling poten untuk digunakan. Cefotaxime dan gentamicin kami pilih untuk digunakan sebagai antibiotik empirik di unit kami, dengan meropenem sebagai lini berikutnya. Vankomisin kami gunakan hanya pada kasus khusus.
Perbandingan Prediktor Mortalitas Skor PRISM III dan PELOD 2 pada Anak Sakit Kritis Non Bedah Tressa Bayu Bramantyo; Sri Martuti; Harsono Salimo
Sari Pediatri Vol 19, No 5 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.5.2018.284-9

Abstract

Latar belakang. Tujuan utama perawatan pasien di PICU adalah untuk menyelamatkan jiwa pasien yang mengalami sakit kritis, tetapi masih dapat disembuhkan. Sarana, prasarana, sumber daya manusia yang terbatas di PICU dengan biaya rawat yang mahal masih menjadi perhatian utama. Sistem skoring digunakan untuk memprediksi luaran dan prognosis pasien. Sampai saat ini, belum ada sistem skoring yang digunakan di PICU secara baku untuk penilaian awal pasien di Indonesia.Tujuan. Menganalisis perbandingan kemampuan prediktor mortalitas antara skor PRISM III dan skor PELOD 2 pada anak sakit kritis non bedah.Metode. Penelitian kohort dilakukan dengan subyek pasien anak berusia 1 bulan-18 tahun yang dirawat di PICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta, dari kelompok pasien non bedah.Hasil. Studi kohort dari bulan Maret sampai dengan Juli 2017 terhadap 40 pasien anak berumur 1 bulan-18 tahun yang dirawat di PICU. Didapatkan hasil skor PELOD 2 >20 berisiko terjadi mortalitas sebesar 7,75 kali lipat dibandingkan dengan pasien dengan skor PELOD 2 <20 (RR 7.750 (95% IK 3.105-19.342), p<0,001). Pasien dengan skor PRISM III ≥8 berisiko terjadi mortalitas sebesar 10 kali lipat dibandingkan dengan pasien dengan skor PRISM III <8 (RR 10,00 (95% IK 3.418-29.256), p<0,001). Skor PRIM III memiliki sentitivitas 76,9% dan spesifisitas 100,0%, sedangkan skor PELOD 2 memiliki sensitivitas 69,2% dan spesifisitas 100,0% untuk memprediksi mortalitas.Kesimpulan. Skor PRISM III lebih unggul dalam memprediksi mortalitas pada pasien anak sakit kritis non bedah bila dibandingkan dengan skor PELOD 2. 
Hubungan antara Gangguan Tidur dengan Gangguan Mental Emosional Anak Usia 4-6 Tahun di Semarang Adriana Lukmasari; Fitri Hartanto; Tjipta Bahtera; Muhammad Heru Muryawan
Sari Pediatri Vol 18, No 5 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.5.2017.345-9

Abstract

Latar belakang. Tidur adalah salah satu kebutuhan dasar untuk mendukung tumbuh kembang anak. Diagnosis dini gangguan tidur masih asing bagi orang tua karena pengetahuan tentang kualitas tidur yang kurang. Gangguan tidur dikaitkan dengan regulasi emosional otak.Tujuan. Menentukan hubungan antara gangguan tidur dan mental emosional pada anak usia 4-6 tahun di Semarang.Metode. Penelitian cross sectional pada anak usia 4-6 tahun sekolah taman kanak-kanak di Kota Semarang dari bulan April-Mei 2016 berdasarkan kriteria inklusi. Cluster sampling dilakukan dalam seleksi mata pelajaran. Gangguan skala tidur untuk anak sleep disturbances scale for children (SDSC) digunakan sebagai alat skrining, sementara perkembangan emosi dan tingkah laku anak digunakan SDQ. Data dianalisis dengan menggunakan SPSS 22, chi-square, dan Fisher exact dengan signifikansi p<0,05.Hasil. Didapat 208 subyek dengan prevalensi gangguan tidur 73,6%. Terdapat hubungan yang signifikan dari gangguan tidur dengan jumlah SDQ skor (RP 2,3, IK95%: 1,1-4,7; p=0,02), skor emosional (RP 2,7, IK95%: 1,3-5,5; p=0,003) dan melakukan skor (RP 1,8, IK95%: 1,1-2,8; p=0,005). Tidak terdapat hubungan yang signifikan dari gangguan tidur pada hiperaktif, masalah dengan teman sebaya, dan perilaku prososial. Kategori pendapatan orang tua, tingkat pendidikan ibu, dan jenis kelamin tidak terbukti sebagai faktor perancu.Kesimpulan. Terdapat hubungan antara gangguan tidur dan masalah mental emosional dalam 4-6 tahun anak.
Tata Laksana Non Imunosupresan Sindrom Nefrotik pada Anak Sudung Oloan Pardede
Sari Pediatri Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.1.2017.53-62

Abstract

Sindrom nefrotik adalah keadaan klinis yang terdiri atas proteinuria masif, hipo­albuminemia (< 2,5 g/dL), edema, dan hiperkolesterolemia. Terapi utama sindrom nefrotik adalah imunosupresan terutama kortikosteroid. Pada sindrom nefrotik relaps sering atau dependen steroid, dan sindrom nefrotik resisten steroid, selain steroid diberikan juga imunosupresan lain seperti siklofosfamid, siklosporin, mikofenolat mofetil, takrolimus, atau pun levamisol. Selain pemberian imunosupresan diperlukan terapi suportif, yang meliputi terapi diitetik,  tata laksana edema, hipertensi, hipovolemia, trombosis, hiperlipidemia, dan infeksi. Tata laksana diitetik terdiri atas kalori yang adekuat, protein sesuai recommended daily allowance, lemak low saturated, dan rendah garam. Komposisi zat gizi yang dianjurkan terdiri atas 10-14% protein; 40-50% lemak poly- dan monounsaturated, 40-50% karbohidrat. Tata laksana  edema terdiri atas restriksi cairan, pemberian diuretik, dan infus albumin jika perlu. Infeksi yang sering terjadi pada sindrom nefrotik adalah selulitis peritonitis, dan pneumonia yang diterapi dengan antibiotik sefotaksim, seftriakson, ko-amoksiklav. Antihipertensi yang digunakan pada anak umumnya diuretik, angiotensin converting enzyme inhibitors, angiotensin receptor blockers, calcium channel blockers, (amblodipin, nifedipin, isradipin), alpha-symphatetic agents, beta blockers dan vasodilator. Aktivitas fisik tidak perlu dibatasi, dan pada edema ringan atau tidak berat tidak perlu dilarang pergi ke sekolah

Page 96 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue