cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Perbandingan Efektifitas dan Keamanan Midazolam Buccal dengan Diazepam Intravena dalam Tata Laksana Kejang Akut pada Anak Achmad Rafli; Setyo Handryastuti
Sari Pediatri Vol 19, No 4 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.4.2017.231-6

Abstract

Latar belakang. Literatur terbaru menunjukkan bahwa midazolam yang diberikan secara non-intravena memungkinkan untuk pemberian yang lebih cepat, sama efektif, dan aman bila dibandingkan dengan diazepam IV dalam mengatasi kejang akut pada anak.Tujuan. Mengetahui efektivitas dan keamanan midazolam buccal dibandingkan dengan diazepam terutama IV sebagai terapi kejang akut pada anak.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik yaitu Pubmed, Cochrane, MEDLINE, Embase dan Google Scholar.Hasil. Telaah sistematis dan meta-analisis menunjukkan menunjukkan bahwa angka kejadian berhentinya kejang dalam 10 menit pada subyek yang diberikan midazolam buccal sama dengan yang diberikan diazepam IV dengan relative risk (RR) 0,92, 95% interval kepercayaan (IK) 0,81-1,05; waktu yang dibutuhkan untuk mengontrol episode kejang setelah pemberian obat anti-kejang pada subyek yang diberikan midazolam buccal lebih tinggi dengan mean difference 0,63; 95% IK 0,38-0,89; efek samping signifikan yang timbul setelah pemberian diazepam IV lebih tinggi, yaitu apnea pada 4/60 subyek. Midazolam buccal memiliki efektivitas dan keamanan yang sama dengan diazepam IV dalam mengatasi kejang.Kesimpulan. Midazolam buccal memiliki efektivitas dan keamanan yang sama dengan diazepam IV dalam mengatasi kejang. Berdasarkan penelitian ilmiah yang telah dipaparkan, efek samping midazolam buccal seperti depresi napas maupun hipotensi jarang terjadi bila dibandingkan dengan diazepam IV.
Perbedaan Kadar Interferon Gamma pada Tuberkulosis Anak Sitti Ridha Khairani Fatah; Mohammad Juffrie; Amalia Setyati
Sari Pediatri Vol 18, No 5 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.5.2017.385-90

Abstract

Latar belakang. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit akibat infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis, suatu bakteri batang Gram positif. Salah satu sitokin yang diproduksi sel Th1 adalah interferon gamma (IFN-γ) yang berperan penting dalam mengeliminasi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Terjadinya gangguan atau penurunan aktivitas sel Th1 dan sitokinnya yaitu IFN-γ cukup bermakna dalam memengaruhi mekanisme pertahanan tubuh terhadap penyakit TB. Manifestasi klinis penyakit TB terjadi karena adanya defisiensi imun, terutama imunitas selular. Tujuan. Mengkaji perbedaan kadar interferon gamma dilihat dari derajat lesi paru pada pasien TB anak. Metode. Penelitian cross sectional dilakukan di RSUP Dr. Sardjito and RSUD Sleman selama bulan Desember 2014. Subyek penelitian adalah anak kurang dari 15 tahun yang terdiagnosis TB menggunakan skor TB IDAI. Produksi interferon-gamma diukur dengan metode ELISA dan perbedaan kadarnya dibandingkan dengan derajat lesi paru.Hasil. Berdasarkan derajat lesi paru, kadar IFN-γ pada kasus tuberkulosis anak dengan lesi paru minimal (8,37±3,25) lebih tinggi daripada kasus dengan lesi paru sedang (3,52±1,75), dan lesi paru luas (4,83±2,78).Kesimpulan. Ada perbedaan rerata kadar IFN-γ serum TB anak berdasarkan derajat lesi paru minimal, sedang, dan luas, walaupun secara statistik tidak bermakna.
Perbandingan Mortalitas Pasien Anak dengan Acute Respiratory Distress Syndrome yang Menggunakan Delta Pressure Tinggi dan Rendah Tressa Bayu Bramantyo; Sri Martuti; Pudjiastuti Pudjiastuti
Sari Pediatri Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.3.2017.156-60

Abstract

Latar belakang. Strategi ventilasi protektif paru (protective lung strategy) direkomendasikan dalam penanganan pasien acute respiratory distress syndrome (ARDS). Strategi tersebut mencakup pembatasan PEEP dan delta pressure pada penggunaan ventilator untuk mencegah mortalitas. Pembatasan delta pressure ≤13 mmHg diharapkan dapat menurunkan angka mortalitas pasien ARDS dengan ventilator.Tujuan. Mengetahui perbandingan mortalitas pasien anak dengan ARDS yang menggunakan delta pressure tinggi dan rendah.Metode. Penelusuran rekam medis pasien anak berusia 1 bulan-18 tahun yang menderita ARDS yang dirawat di PICU dengan menggunakan ventilator.Hasil. Studi cross sectional dari bulan September 2016 sampai dengan Maret 2017 terhadap 32 pasien anak berumur 1 bulan-18 tahun yang menderita ARDS, didapatkan hasil bahwa mortalitas pasien anak dengan ARDS lebih tinggi pada penggunaan setting ventilator dengan delta pressure tinggi (ΔP>13 cmH2O) dibandingkan dengan yang menggunakan pengaturan ventilator dengan delta pressure yang rendah (ΔP≤13 cmH2O) (p<0,001, OR 45,00 (IK95%: 5,47-370,02).Kesimpulan. Pasien anak dengan ARDS yang menggunakan setting ventilator dengan delta pressure rendah, mortalitasnya lebih rendah dibandingkan dengan yang menggunakan pengaturan ventilator dengan delta pressure tinggi.
Isolasi DNA pada Sampel Darah Tepi dan Swab Buccal pada Bayi Penderita ROP: Perbandingan Hasil Uji Konsentrasi dan Indeks Kemurnian Jo Edy Siswanto; Tiara Berlian; Evira Putricahya; Lidya V Panggalo; Luluk Yuniani
Sari Pediatri Vol 18, No 4 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.4.2016.270-7

Abstract

Latar belakang. Retinopati prematuritas (ROP) adalah gangguan perkembangan dari pembuluh darah retina yang mengenai bayi prematur. Faktor genetik diduga berperan terhadap kejadian ROP. Konsentrasi dan kemurnian DNA hasil isolasi diperlukan untuk analisis pemeriksan genetik pada kasus ROP. Tujuan. Mengetahui konsentrasi dan indeks kemurnian DNA menggunakan sampel whole blood, buffy coat dan swab buccal pada kelompok bayi-bayi prematur yang masuk dalam kriteria penapisan ROP. Metode. Enam puluh dari total 182 subyek yang terdiagnosis ROP terpilih dengan systematic random sampling. Konsentrasi dihitung melalui penyerapan spektrofotometrik sinar ultraviolet. Kemurnian ditentukan dengan menghitung rasio antara OD260 dan nilai OD280. Analisis statistik dilakukan dengan uji Kruskal Wallis dan Mann Whitney. Hasil. Uji konsentrasi DNA menggunakan sampel buffy coat lebih tinggi dibandingkan whole blood dan swab buccal. Sampel whole blood mempunyai indeks kemurnian yang paling baik. Kesimpulan. Konsentrasi DNA sampel buffy coat dan whole blood cukup tinggi dengan indeks kemurnian yang baik untuk analisis genetika. 
Profil Kematian Neonatus di RSUD dr. Soetomo Shanty Djajakusli; Agus Harianto; Risa Etika; Martono TU
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.474-80

Abstract

Latar belakang. Upaya menurunkan angka kematian neonatus belum optimal sesuai dengan yang ditargetkan MDG’s 2015, yaitu menurunkan angka kematian neonatus menjadi 23/1000 kelahiran hidup. Tujuan. Mengetahui profil kematian neonatus berdasarkan faktor maternal, faktor neonatal, sosio-demografi, keadaan klinis neonatus lahir hidup, usia ≤ 7 hari, sampai 28 hari serta mengetahui penyebab kematian neonatus dini dan neonatus lanjut.Metode. Penelitian deskriptif dilakukan di ruang Intensif Instalasi Rawat Darurat, Gedung Bedah Pusat Terpadu dan ruang Intermediate Neonatal SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD dr. Soetomo. Penelitian dimulai 1 September 2014 sampai 28 Februari 2015. Pengumpulan data menggunakan Lembar Pengumpul Data Perinasia Pusat, setiap neonatus yang dirawat kemudian meninggal dimasukkan kematian neonatus dini maupun lanjut, dicatat keadaan klinis, serta faktor risiko dari ibu dan neonatus.Hasil. Dari 807 kelahiran neonatus didapatkan 101 (12,5%) kematian neonatus terdiri dari 63 (7,8%) kematian neonatus dini dan 38 (4,7%) kematian neonatus lanjut. Kematian neonatus dini dan lanjut ditemukan paling banyak pada neonatus BBL ≥2500 g (34,9% dan 50%) , laki-laki (61,9% dan 71,1%), tunggal (95,2% dan 199%) dan sesuai masa kehamilan (79,4% dan 84,2%) serta usia ibu 20-25 tahun (82,5% dan 71,1%). Sesak (95,2% dan 86,8%) dan sepsis (66,7% dan 63,2%) merupakan keadaaan klinis neonatus pada usia ≤ 7 hari sementara keadaan klinis kematian neonatus lanjut sampai usia 28 hari terutama sesak (100%), sepsis (84,2%), dan pneumonia (52,6%).Kesimpulan. Profil penyebab kematian neonatus yang sering ditemukan adalah sepsis, prematuritas, asfiksia, dan kelainan bawaan.
Profil Manifestasi Klinis dan Laboratoris Pasien Dengue Bayi yang Menjalani Rawat Inap di RSUP. DR. Hasan Sadikin Bandung Indri Handayani; Agnes Rengga Indrati; Anggraini Alam
Sari Pediatri Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.3.2017.119-26

Abstract

Latar belakang. Dibanding pada anak dan dewasa, kejadian infeksi virus dengue pada bayi meningkat tiap tahun dengan derajat keparahan yang cepat. Jumlah penelitian mengenai manifestasi klinis maupun laboratoris pada pasien infeksi dengue bayi masih kurang terpublikasi.Tujuan. Untuk menggambarkan manifestasi klinis dan laboratoris pasien infeksi dengue bayi di RSUP DR.Hasan Sadikin tahun 2011-2016.Metode. Penelitian dengan desain observasional deskriptif kuantitatif. Mengambil data manifestasi klinis dan laboratoris selama rawat inap. Hasil. Sampel 62 bayi, termuda berusia 2 bulan. Manifestasi terbanyak adalah ptekie, feses cair, hepatomegali, batuk pilek, muntah efusi pleura dan pendarahan intra abdomen. Dua pasien tidak mengalami demam. Saat nadir, trombositopenia terjadi pada 98,3% pasien. Rerata terendah hemoglobin 9,12 g/dL, hematokrit 26,7%, dan leukosit 8898 /mm3. Terjadi gangguan fungsi hati dari data peningkatan SGPT pada 62,9% pasien dan SGOT pada 88,8% pasien.Kesimpulan. Usia terbanyak adalah rentang umur 4-6 bulan dengan manifestasi paling sering adalah demam, beberapa pasien langsung mengalami manifestasi pendarahan tanpa mengalami demam. Pada EDS manifestasi paling sering yaitu kejang dan penurunan kesadaran. Mayoritas pasien memiliki kadar Hb rendah, trombositopenia dan abnormalitas fungsi hati.
Kasus Kontrol Hubungan Imunisasi BCG dengan kejadian TB Paru pada anak tahun 2015-2016 R. Evi Sofia Riani; Putri Bungsu Machmud
Sari Pediatri Vol 19, No 6 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.6.2018.321-7

Abstract

Latar belakang. Tuberkulosis adalah penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di dunia. Pada tahun 2014 terjadi peningkatan insidens, prevalens bahkan kematian karena TB di Indonesia. Tujuan. Mengetahui besar risiko tidak diimunisasi BCG terhadap kejadian TB Paru pada anak di Kota Sukabumi tahun 2015-2016 setelah dikontrol oleh variabel umur, jenis kelamin, berat badan lahir, pemberian ASI Eksklusif, kunjungan Neonatal, pemberian Vitamin A, pendidikan Ibu dan Pekerjaan Ibu. Sedangkan tujuan sekunder dari studi ini adalah mengidentifikasi status imunisasi BCG dan kejadian TB Paru pada anak serta variable covariatnya dan mengetahui besar risiko anak yang tidak diimunisasi serta mengetahui besar Efektivitas vaksin BCG. Metode. Penelitian ini menggunakan desain case control. Kasus dan kontrol adalah anak kota Sukabumi usia 0-5 tahun yang diperoleh dari laporan rutin program TB, imunisasi, KIA dan Gizi di Dinas Kesehatan Kota Sukabumi. Hasil. Analisis multivariat menunjukkan bahwa risiko anak yang tidak diimunisasi BCG dan KN sebanyak 3 kali adalah 1,13 kali lebih besar untuk terkena TB paru dibandingkan kelompok rujukan dan anak yang diimunisasi BCG. Dari hasil tersebut diketahui bahwa efektivitas vaksin BCG tanpa interaksi 67%, sedangkan dengan interaksi 82%. Kesimpulan. Imunisasi di Kota Sukabumi masih merupakan salah satu upaya yang efektif untuk mencegah terjadinya TB paru pada anak.                                                                      
Hubungan antara Status Gizi dengan Prestasi Belajar Siswa SDN 03 Pondok Cina Depok Tahun 2015 Tazkya Amany; Rini Sekartini
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.487-91

Abstract

Latar belakang. Di Indonesia, kondisi status gizi anak usia sekolah tergolong buruk sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara dengan peringkat indeks pembangunan manusia yang rendah. Status gizi merupakan salah satu faktor yang dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar.Tujuan. Mengetahui hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar siswa SDN 03 Pondok Cina.Metode. Penelitian dilaksanakan bulan Oktober 2015 sampai dengan September 2016 dengan desain potong lintang analitik. Jumlah subjek penelitian 179 siswa. Pengambilan data dilakukan dengan pengukuran BB dan TB, pengisian kuesioner faktor sosiodemografi, dan pendataan nilai rapor. Data dianalisis dengan menggunakan uji chi square.Hasil. Berdasarkan indeks BB/TB, sebagian besar siswa memiliki status gizi normal (46,40%), obesitas (21,20%), gizi kurang (20,10%), dan gizi lebih (12,30%). Terdapat lebih banyak siswa dengan prestasi belajar yang rendah pada mata pelajaran Bahasa Indonesia (50,80%), Matematika (53,60%), dan IPA (50,30%). status gizi (dibagi menjadi normal dan tidak normal) menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan prestasi belajar Bahasa Indonesia (p=0,019) dan IPA (p=0,029).Kesimpulan. Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara status gizi dengan prestasi belajar Bahasa Indonesia dan IPA pada siswa SDN 03 Pondok Cina. 
Pengaruh Pemberian Probiotik pada Anak dengan Dermatitis Atopik Terhadap Kadar Imunoglobulin E Total Ardentry Sumobaskoro; Ganung Harsono; Bambang Soebagyo
Sari Pediatri Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.2.2017.71-5

Abstract

Latar belakang. Dermatitis atopik merupakan penyakit kulit yang memberikan reaksi kulit yang didasari oleh imunoglobulin E (IgE) dan mempunyai kecenderungan menderita asma, rinitis, atau keduanya di kemudian hari. Pemberian probiotik merupakan upaya perbaikan homeostasis sistem biologis penderita yang ditujukan pada imunomodulasi respon imun dengan menyeimbangkan respon imun Thelper 1(Th1) dan Th2 sehingga diharapkan terjadi penurunan kadar IgE total.Tujuan. Menganalisis pengaruh pemberian probiotik pada anak dengan dermatitis atopik terhadap kadar imunoglobulin E total. Metode. Uji klinis dengan randomisasi dilakukan pada bulan Oktober 2016–Maret 2017 di Surakarta (Jawa Tengah) dan Depok (Jawa Barat). Sebanyak 48 anak usia 9-15 tahun dengan dermatitis atopik diambil secara konsekutif dibagi dalam kelompok kontrol dan kelompok perlakuan (probiotik). Data dianalisis menggunakan uji t independen dan Mann Whitney dengan program SPSS 17.0.Hasil. Terdapat perbedaan yang signifikan perubahan IgE total antara kelompok pasien dengan probiotik dan plasebo. Kadar IgE total pada kelompok probiotik mengalami penurunan yang lebih banyak dibandingkan dengan plasebo; penurunan kadar IgE total kelompok perlakuan (probiotik) dengan mean -89.76 + 357.66 dan kelompok kontrol (plasebo) 91,53 +474,75 nilai p=0,010. Kesimpulan. Terdapat pengaruh pemberian probiotik pada anak dengan dermatitis atopik terhadap kadar imunoglobulin E total.
Perbedaan Kadar Alpha 1 Antitrypsin Feses Berdasarkan Tingkat Keparahan Diare Akut pada Anak Fitriyana Fitriyana; Yusri Dianne Jurnalis; Eti Yerizel
Sari Pediatri Vol 19, No 5 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.5.2018.267-72

Abstract

Latar belakang. Diare dapat menyebabkan kekurangan gizi, gangguan pertumbuhan dan gangguan kognitif. Gangguan gizi dapat terjadi karena asupan makanan yang kurang, atau kehilangan langsung karena kerusakan mukosa usus. Kehilangan protein melalui saluran cerna dapat dinilai dengan pemeriksaan kadar alpha 1 antitrypsin feses. Tujuan. Menilai perbedaan kadar alpha 1 antitrypsin feses berdasarkan tingkat keparahan diare akut pada anak.Metode. Penelitian cross sectional dari Januari-Juli 2017. Penelitian dilakukan di RSUP Dr M Djamil dan RS Yos Sudarso Padang. Tingkat keparahan diare dinilai menggunakan Vesikari clinical severity scoring system. Kadar alpha 1 antitrypsin feses diperiksa dengan cara ELISA. Analisis statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis.Hasil. Dari 60 subjek penelitian, rerata kadar alpha 1 antitrypsin adalah 202,32 ± 131,96 mg/dL. Kadar alpha 1 antirypsin feses pada kelompok tingkat keparahan diare ringan didapatkan 123,6 (87-295,1) mg/dL. Pada kelompok tingkat keparahan diare sedang 166,4 (23,8-332,9) mg/dL dan kelompok tingkat keparahan diare berat 268,6 (25,5-511,9) mg/dL. Uji analisis statistik menunjukkan terdapat perbedaan kadar alpha 1 antitrypsin feses yang signifikan pada setiap tingkat keparahan diare dengan nilai p=0,003.Kesimpulan. Terdapat peningkatan kadar alpha 1 anitripsin feses yang bermakna sesuai dengan tingkat keparahan diare.

Page 97 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue