cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 10 (1) 2021" : 16 Documents clear
Respons Antibodi Avian Influenza pada Anak Babi yang Diberi Vaksin Escherichia coli – Avian Influenza Bhaskara, Audrey Febiannya Putri; Mahardika, I Gusti Ngurah Kade; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (1) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.1.61

Abstract

Babi berperan penting dalam ekologi virus influenza, karena babi dapat berperan sebagai wahana untuk reasorsi virus influenza dari unggas dan mamalia. Vaksinasi dengan antigen influenza universal, yaitu nukleoprotein, dapat menurunkan peluang babi dalam memunculkan virus influenza baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengentahui respons antibodi dari vaksinasi dengan nukleoprotein rekombinan - Escherichia coli. Sebanyak 12 anak babi landrace dari tiga induk yang berbeda dipilih secara acak. Enam ekor divaksinasi dengan vaksin nucleoprotein-E. coli pada umur tujuh hari dan diulang pada umur 21 hari. Enam ekor tidak divaksinasi. Serum diambil pada umur 35 hari. Nilai optical density (OD) antibodi terhadap nukleoprotein diuji dengan teknik Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dengan menggunakan Kit ELISA komersial, Avian Influenza Virus Antibody Test Kit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Optical Density rata-rata babi yang divaksinasi (0,367) secara statistika nyata lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak divaksinasi (0,054). Vaksin rekombinan nucleoprotein-E. coli yang dicobakan mampu meningkatan antibodi terhadap virus avian influenza pada anak babi.
Laporan Kasus: Penanganan Vulnus Laceratum pada Leher Atas Kucing Kampung Pratama, Gusti Yohana; Jayawardhita, Anak Agung Gde
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (1) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.1.158

Abstract

Vulnus laceratum adalah luka robek yang disertai dengan kehilangan jaringan yang minimum disebabkan oleh trauma. Kucing berusia dua tahun dengan berat badan 2,8 kg mengalami luka yang cukup lebar pada bagian leher atas. Secara fisik kondisi kucing masih aktif, nafsu makan dan minum juga normal. Kucing didiagnosis mengalami vulnus laceratum yang terdapat pada bagian leher atas dengan prognosis fausta. Vulnus laceratum ditangani dengan melakukan pembedahan. Proses bedah terlebih dahulu dilakukan pembersihan luka (cleansing) dengan hidrogen peroksida (H2O2) 3%, kemudian pengangkatan jaringan yang mati atau rusak (debridement) untuk membuat luka baru agar bisa menyatu, dan dilanjutkan penutupan luka dengan jahitan (suturing). Pascaoperasi diberikan antibiotik amoksisilin secara intramuskuler serta antiinflamasi berupa deksametason secara per oral hingga hari ke-5, serta pemberian serbuk tabur neomisin dan bacitracin serta iodin sebagai antiseptik daerah luar luka agar tidak terjadi infeksi. Pada hari ke-8 pascaoperasi, luka terlihat mulai membaik dan mengering, kondisi kucing mulai aktif menunjukan tanda kesembuhan.
Prevalensi dan Identifikasi Cacing Gastrointestinal pada Monyet Ekor Panjang di Kawasan Pura Pulaki, Banyupoh, Gerokgak, Buleleng, Bali Bellantari, Melinda; Wandia, I Nengah; Dwinata, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (1) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.1.51

Abstract

Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) merupakan salah satu jenis satwa yang hidup di kawasan Pura Pulaki dan Melanting, Banyupoh, Gerokgak, Buleleng, Bali. Keberadaanya berfungsi sebagai salah satu elemen penyeimbang ekosisistem lingkungan dan daya tarik pariwisata yang memiliki kontibusi besar terhadap perekonomian masyarakat sekitar. Ancaman kesehatan pada monyet ekor panjang yang hidup di kawasan yang terdapat aktivitas manusia salah satunya adalah penyakit cacing gastrointestinal. Penelitian ini bertujuan mengetahui prevalensi dan identifikasi parasit cacing gastrointestinal pada monyet ekor panjang di kawasan Pura Pulaki. Sejumlah 55 sampel feses yang diawetkan menggunakan media kalium bikromat 2% diperiksa di Laboratorium Parasitologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Pemeriksaan dilakukan dengan metode pengapungan dan sedimentasi untuk mengetahui adanya infeksi cacing. Data yang diperoleh dikumpulkan dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi infeksi parasit cacing pada monyet ekor panjang di kawasan Pura Pulaki sebesar 71,18%. Cacing gastrointestinal yang terindentifikasi adalah Ancylostoma sp. (74,5%), Strongyloides sp. (29%) dan Trichuris sp. (1,8%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sebagain besar anggota populasi monyet di kawasan Pura Pulaki terinfeksi cacing gastroistestinal.
Daya Hidup dan Motilitas Spermatozoa Ayam Cemani Berpengencer Kuning Telur dan Air Kelapa Hijau pada Penyimpanan Suhu Ruang Heros, Made Novi Lerianti; Bebas, Wayan; Trilaksana, I Gusti Ngurah Bagus
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (1) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.1.116

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motilitas dan daya hidup spermatozoa ayam cemani pada pengencer kuning telur dan air kelapa hijau yang disimpan pada suhu ruang. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tujuh perlakuan, lama waktu penyimpanan sebagai perlakuan masing masing: T0 = 0 menit penyimpanan; T1= 30 menit penyimpanan; T2= 60 menit penyimpanan; T3= 90 menit penyimpanan; T4=120 menit penyimpanan; T5= 150 menit penyimpanan; T6= 180 menit penyimpanan. Masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak empat kali. Parameter yang diamati adalah motilitas (%) dan daya hidup spermatozoa (%). Data hasil penelitian dianalisis dengan sidik ragam, apabila terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan, dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu penyimpanan berpengaruh nyata terhadap motilitas dan daya hidup spermatozoa. Rerata motilitas spermatozoa yang didapat yaitu: T0 = 82,50%; T1 = 75,00%; T2 = 66,50%; T3 = 53,50%; T4 = 45,00%; T5 = 35,50%; dan T6 = 19,75%. Rerata daya hidup spermatozoa yang didapat yaitu T0= 86,00%, T1 = 79,00%, T2 = 66,25%, T3 = 59,50%, T4 = 46,25% T5 = 37,50%, dan T6 = 30,50%. Semen ayam cemani yang disimpan pada suhu ruang dengan menggunakan pengencer kuning telur dan air kelapa hijau layak digunakan untuk IB sampai 120 menit lama penyimpanan (motilitas 45% dan daya hidup 46,2%).
Struktur Histologi dan Histomorfometri Usus Halus Bagian Jejunum Sapi Bali Eristiawan, I Gede Erick; Setiasih, Ni Luh Eka; Suastika, Putu; Heriyani, Luh Gede Sri Surya; Susari, Ni Nyoman Werdi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (1) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.10.1.71

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui struktur histologi dan perbedaan histomorfometri jejunum sapi bali pada bagian anterior, medial, dan posterior. Sebanyak 10 sampel sapi bali betina berusia empat sampai lima tahun diambil di Rumah Potong Hewan Pesanggaran Denpasar digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini. Organ jejunum diambil pada bagian anterior, medial, dan posterior untuk selanjutnya difiksasi menggunakan larutan Neutral Buffered Formalin (NBF) 10%, kemudian diberi pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE) untuk dijadikan preparat histologi. Hasil pengamatan struktur histologi disajikan secara deskriptif kualitatif, sedangkan data histomorfometri disajikan secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menemukan jejunum tersusun atas empat lapisan; tunika mukosa, submukosa, muskularis, dan serosa. Pengukuran histomorfometri menunjukkan ketebalan tunika mukosa, submukosa, muskularis dan serosa pada bagian anterior secara berturut-turut 655,44±73,34 ?m, 191,98±25,78 ?m, 799,04±58,97?m, 122,68±32,90?m, pada bagian medial 726,04±52,87 ?m, 174,96±34,09 ?m, 885,14±69,74 ?m, 138,84±28,71 ?m dan pada bagian posterior 770,92±37,28 ?m, 211,08±27,99 ?m, 958,74±60,97 ?m, 273,2±46,56 ?m. Terdapat perbedaan yang signifikan dalam ketebalan tunika mukosa antara bagian anterior dengan medial dan posterior, tunika submukosa antara bagian medial dengan posterior, tunika muskularis antara bagian anterior dengan posterior, tunika serosa antara bagian anterior dengan medial dan posterior, serta antara bagian medial dengan posterior, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan histomorfometri dari ketiga bagian jejenum sapi bali.
Profil Bobot Badan dan Tingkat Mortalitas Tikus Jantan Galur Sprague Dawley Selama Pembentukan Fibrosarkoma yang Dipicu oleh Benzo(a)piren Sewoyo, Palagan Senopati; Adi, Anak Agung Ayu Mirah; Winaya, Ida Bagus Oka
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (1) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.1.1

Abstract

Benzo(a)piren (BaP) merupakan satu di antara beberapa contoh polisiklik aromatik hidrokarbon yang berasal dari hasil sisa pembakaran tidak sempurna bahan organik. Senyawa BaP seringkali digunakan pada penelitian untuk menginduksi fibrosarkoma. Secara umum pasien yang mengalami kanker akan mengalami penurunan bobot badan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil bobot badan, waktu yang dibutuhkan untuk menimbulkan fibrosarkoma serta tingkat mortalitas tikus jantan galur Sprague Dawley setelah diinjeksi dengan BaP. Penelitian ini digunakan 18 ekor tikus dengan dua perlakuan. Tikus pada perlakuan 0 (P0) tidak diberi perlakuan, sedangkan tikus pada perlakuan I (PI) diinjeksi dengan BaP 0,3% yang dilarutkan dalam oleum olivarum 0,1 mL sebanyak sepuluh kali yang diberikan bertahap dengan interval dua hari melalui injeksi subkutan. Tikus P0 dan PI berjumlah masing-masing enam dan 12 ekor. Larutan BaP dibuat dengan cara dilarutkan dalam oleum olivarum, dicampur dan diaduk sampai homogen. Bobot badan tikus ditimbang pada awal penelitian kemudian dilakukan secara rutin setiap seminggu sekali selama 19 minggu. Diawal penelitian rerata bobot badan tikus pada P0 dan PI secara berurutan adalah 121,43 ± 7,04 g dan 131,49 ± 16,31 g. Rerata bobot badan tikus pada P0 dan PI dari minggu pertama hingga ke-19 adalah 178,53 ± 29,97 g dan 159,20 ± 14,24 g. Waktu yang dibutuhkan untuk memicu fibrosarkoma adalah 85,5 ± 17,6 hari. Tingkat mortalitas pada perlakuan P0 adalah 0% dan pada perlakuan PI 8,33%. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian BaP secara signifikan menurunkan profil bobot bobot badan tikus dan memiliki tingkat mortalitas mencapai 8,33%.
Prevalensi Infeksi Nematoda Tipe Strongyl pada Sapi Bali di Dataran Rendah Basah dan Kering di Provinsi Bali Dina, Putu Ayu; Pasti Apsari, Ida Ayu; Dwinata, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (1) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.1.125

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prevalensi infeksi cacing nematoda tipe strongyl pada sapi bali di dataran rendah basah dan kering di Provinsi Bali. Sampel yang diperiksa adalah feses sapi bali sebanyak 288 sampel yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu dataran rendah basah (163) dan dataran rendah kering (125). Pengambilan sampel sapi bali dilakukan secara purposive sampling di wilayah dataran rendah Bali. Pemeriksaan sampel dilakukan dengan metode apung dengan menambahkan larutan gula sheater. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi infeksi nematoda tipe strongyl pada sapi bali yang berasal dari wilayah dataran rendah basah sebesar 55,8% dan wilayah dataran rendah kering sebesar 39,2%. Faktor risiko kondisi wilayah berhubungan terhadap prevalensi infeksi nematoda tipe strongyl pada sapi bali, sedangkan faktor jenis kelamin dan umur tidak.
Struktur Histologi dan Histomorfometri Duodenum Sapi Bali Betina Dewasa Putra, I Komang Susila Semadi; Suastika, Putu; Susari, Ni Nyoman Werdi; Setiasih, Ni Luh Eka
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (1) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.10.1.82

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur histologi, histomorfometri, dan perbedaan struktur histologi serta histomorfometri duodenum sapi bali. Penelitian ini menggunakan 10 ekor sapi bali betina berumur 4-5 tahun yang dipotong di Rumah Potong Hewan Pesanggaran Denpasar. Sampel duodenum diambil pada tiga bagian berturut-turut yaitu bagian kranial, desenden dan asenden, kemudian sampel difiksasi dengan larutan Neutral Buffered Formalin (NBF) 10% yang selanjutnya dibuat preparat histologi dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE). Hasil pengamatan struktur histologi disajikan secara deskriptif kualitatif, sedangkan data histomorfometri disajikan secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan, struktur histologi duodenum tersusun atas empat lapisan, yaitu tunika mukosa, submukosa, muskularis dan serosa. Perbedaan struktur histologi duodenum pada bagian kranial, desenden dan asenden ditemukan pada bentuk vili, ada tidaknya nodul limfoideus (payer’s patch), kontinuitas lamina muskularis mukosa dan kepadatan kelenjar Brunner. Pengukuran histomorfometri menunjukkan bahwa ketebalan tunika mukosa, submukosa, muskularis dan serosa pada bagian kranial berturut-turut 490,12 ± 55,604 ?m, 1283,00 ± 223,716 ?m, 1905,74 ± 282,900 ?m, 263,30 ± 14,837 ?m, pada bagian desenden berturut-turut 591,02 ± 66,854 ?m, 554,36 ± 62,573 ?m, 972,36 ± 110,316 ?m, 215,78 ± 23,190 ?m dan pada bagian asenden berturut-turut 655,70 ± 87,828 ?m, 420,14 ± 101,476 ?m, 808,78 ± 120,716 ?m, 143,50 ± 27,804 ?m. Histomorfometri tunika mukosa, tunika submukosa, tunika muskularis dan serosa menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara bagian kranial dengan desenden dan asenden. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara bagian desenden dengan asenden pada tunika mukosa, tunika submukosa, tunika muskularis, tetapi terdapat perbedaan yang signifikan pada ketebalan tunika serosa.
Berdasarkan Tanda Radang dan Keropeng Salep Ekstrak Daun Kersen Mempercepat Kesembuhan Luka Insisi pada Mencit Hiperglikemia Kewuta, Maria Natalia Nini; Dada, I Ketut Anom; Jayawardhita, Anak Agung Gde
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (1) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.1.30

Abstract

Hiperglikemia merupakan suatu kondisi ketika kadar glukosa darah meningkat melebihi batas normalnya. Keadaan ini menyebabkan proses kesembuhan luka pada penderita hiperglikemia menjadi lebih lama dibandingkan dengan keadaan normalnya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kecepatan kesembuhan luka insisi pada mencit hiperglikemia menggunakan salep ekstrak daun kersen (Muntingia calabura L) yang mengandung senyawa yang dapat mempercepat kesembuhan luka. Penelitian ini menggunakan 24 ekor mencit yang diinduksi dengan aloksan sehingga mencit mengalami hiperglikemia, lalu dilakukan insisi kulit pada punggungnya. Mencit-mencit tersebut kemudian diberikan empat perlakuan salep ekstrak daun kersen (0%, 30%, 40%, 50%) dan diamati kesembuhan lukanya (tanda radang dan keropeng) selama lima hari. Hasil pengamatan kemudian dianalisis dengan uji Kruskal Wallis menggunakan aplikasi SPSS dan apabila terdapat perbedaan maka dilanjutkan dengan menggunakan uji Mann Whitney. Hasil analisis data yang didapatkan diketahui bahwa kesembuhan luka insisi pada mencit hiperglikemia dilihat dari adanya tanda radang dan adanya keropeng dengan uji Kruskal Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang nyata sehingga dapat dilanjutkan dengan uji Mann Whitney. Hasil uji Mann Whitney diketahui bahwa terdapat perbedaan yang nyata dari perlakuan kontrol (0%) dengan perlakuan 30% dan 40% baik dilihat dari adanya tanda radang maupun adanya keropeng. Hal ini menunjukkan bahwa salep ekstrak daun kersen konsentrasi 30-40% mempercepat kesembuhan luka.
Angka Lempeng Total Bakteri pada Daging Sapi Bali yang Dipasarkan Keluar Bali Rabiulfa, Pramita; Rudyanto, Mas Djoko; Sudarmini, Ni Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (1) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.1.12

Abstract

Pengujian Angka Lempeng Total Bakteri (ALTB) adalah salah satu jenis uji awal dalam mengidentifikasi jumlah mikrob secara umum pada daging. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ALTB pada daging sapi bali yang akan dipasarkan keluar Bali. Sampel berupa daging sapi berjumlah 20, berasal dari empat perusahaan daging sapi di Bali yang akan mengirim daging sapi keluar pulau Bali melalui Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Denpasar. Pengujian dilakukan dengan memasukkan 1 mL inokulum sampel yang telah diencerkan ke dalam cawan petri, kemudian ke dalam cawan tersebut dituangkan Plate Count Agar (PCA) sampai media padat, diinkubasi dan dilakukan perhitungan bakteri yang tumbuh. Cawan Petri yang mengandung jumlah koloni 25 sampai dengan 250 dipilih untuk penghitungan koloni. Berdasarkan hasil penelitian, rerata jumlah koloni bakteri dari pemeriksaan ALTB pada perusahaan A adalah 42,76 x 103 (CFU/g), perusahaan B adalah 7,9 x 103 (CFU/g), perusahaan C adalah 30 x 103 (CFU/g), dan perusahaan D adalah 35,7 x 103 (CFU/g). Semua hasil yang didapat dari setiap perusahaan memiliki jumlah koloni yang berada di bawah standar SNI dan layak untuk dipasarkan dan dikonsumsi.

Page 1 of 2 | Total Record : 16