cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 12 (5) 2023" : 12 Documents clear
Laporan Kasus: Sparganosis dan Ankilostomiosis pada Kucing Lokal Burhan, Haris; Batan, I Wayan; Erawan, I Gusti Made Krisna
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.713

Abstract

Sparganosis adalah penyakit zoonosis yang ditularkan melalui makanan yang disebabkan oleh larva plerocercoid (spargana) dari diphyllobothroid cacing pita yang termasuk dalam genus Spirometra sp.. Ankilostomiosis adalah penyakit zoonosis pada anjing dan kucing yang disebabkan oleh parasit yang termasuk dalam genus Ancylostoma sp.. Kucing kasus adalah seekor kucing lokal jantan berusia 3,5 tahun dengan bobot badan 4,1 kg. Pemilik mengeluhkan kucingnya kurang aktif dan tinja agak lunak serta belum pernah diberi obat cacing. Feses kucing kasus konsistensinya agak lunak, dengan skor 3,5. Pada pemeriksaan feses dengan metode natif ditemukan telur Spirometra sp. dan Ancylostoma sp.. Kucing kasus didiagnosis menderita sparganosis disertai ankilostomiosis. Kucing kasus diobati dengan menggunakan Caniverm® kaplet sebanyak 1/2 kaplet diberikan secara peroral dua kali dengan selang waktu tujuh hari. Evaluasi kucing setelah 10 hari pascaterapi terjadi perubahan feses dari skor 3,5 ke skor 2 terbentuk dengan baik dan tidak meninggalkan bekas saat diambil. Setelah 10 hari pascapengobatan dilakukan pemeriksaan feses dengan metode natif tidak ditemukan telur cacing. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dan laboratorium dapat disimpulkan bahwa kucing kasus mengalami sparganosis disertai ankilostomiosis dengan prognosis fausta. Terapi kausatif dengan Caniverm® menunjukkan hasil yang baik. Pemeriksaan laboratorium pendukung lainnya yaitu hitung darah lengkap, yang menunjukkan bahwa kucing kasus tersebut mengalami trombositopenia. Dalam kasus ini tidak diberikan obat steroid yang membuat sistem kekebalan tubuh berhenti menyerang dan menghancurkan platelet, karena trombositopenia ringan bisa sembuh dengan sendirinya. Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk mendiagnosis dan mengetahui efektivitas pengobatan pada kucing lokal yang mengalami penyakit sparganosis dan ankilostomiosis.
Kajian Pustaka: Radang Rahim Menular pada Kuda Anindya, Ainaya Luthfi; Islamiati, Feren Salsabila; Dharmawan, I Wayan Chandra; Berutu, Fazral Anshari; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.766

Abstract

Kuda yang terinfeksi bakteri Taylorella equigenitalis dapat mengalami penyakit Contagious Equine Metritis (CEM). Penyakit CEM adalah kondisi medis yang umumnya dikenal penyakit menular seksual pada kuda. Penyebab CEM pada mulanya disebut Contagious Equine Metritis Organism (CEMO), kemudian Haemophilus equigenitalis dan terakhir T. equigenitalis. Bakteri ini memiliki karakteristik Gram negatif dan berbentuk bacillus microaerophiliccocco. Pertumbuhan T. equigenitalis membutuhkan waktu minimal 48 jam hingga 13 hari, tetapi biasanya tidak lebih dari enam hari pada suhu 37°C pada media darah yang dipanasi dan diinkubasi dalam inkubator karbondioksida (CO2) 5-10%. Ukuran koloni bakteri T. equigenitalis sangat kecil, berdiameter 2-3 mm, berwarna abu-abu kekuningan, halus, dan tepinya rata. Bakteri T. equigenitalis tumbuh baik pada media peptone chocolate agar. Penularan T. equigenitalis pada umumnya menyerang kuda betina karena tertular oleh kuda jantan yang terinfeksi selama kawin alami. Namun, penularan T. equigenitalis juga dapat terjadi melalui perkawinan inseminasi buatan yang menggunakan cairan semen yang terinfeksi bakteri tersebut. Penularan bakteri ini juga dapat terjadi melalui transmisi fomites, yaitu melalui permukaan benda-benda yang tidak disengaja tertular selama penanganan kuda sehingga menjadi kontaminan. Pada kuda jantan, penyakit CEM tidak menunjukkan adanya tanda-tanda klinis, hal ini karena T. equigenitalis hanya mengkolonisasi alat kelamin luar hewan jantan, sehingga tidak menimbulkan respons imun pada tubuh hewan. Namun, berbeda pada kuda betina, bentuk akut penyakit ini memiliki gejala klinis yang ditandai dengan timbulnya keputihan mukopurulen dan peradangan yang dapat menyebabkan vaginitis, endometritis, servisitis, dan kemajiran (infertilitas) sementara atau kematian embrio dini. Penanganan pada hewan pembawa penyakit dapat dilakukan dengan membersihkan alat kelamin menggunakan disinfektan dan dikombinasikan menggunakan antimikroba lokal. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui perjalanan dan penanganan penyakit CEM berdasarkan berbagai sumber literasi.
Laporan Kasus: Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata linn) sebagai Terapi Herbal terhadap Penyakit Demodekosis pada Anjing Pomeranian Wardani, Fahrisa Amalia; Anthara, Made Suma; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.668

Abstract

Demodekosis merupakan salah satu jenis penyakit kulit pada anjing yang disebabkan oleh parasit tungau demodex. Penyakit pada anjing bisa didapat dari faktor keturunan (herediter) dan penyakit yang diperoleh dari luar, misalkan disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur. Demodex sp. Hidup pada folikel rambut dan kelenjar sebasea hewan dengan memakan sebum serta debris (runtuhan sel) epidermis. Pengobatan pada penyakit demodekosis sampai saat ini masih menggunakan obat-obatan kimia seperti ivermectin, doramectin, moxidectin, amitraz, dan sampo sulfur. Obat-obatan tersebut memiliki efek samping yang berbahaya, karena penggunaan obat-obatan ini secara terus menerus dapat menimbulkan efek resistensi sehingga terjadi efek samping yang tidak diharapkan. Hewan kasus adalah anjing ras peranakan pomeranian bernama Kukis, berjenis kelamin jantan, berumur tiga bulan, dengan bobot badan 2,05 kg mengalami gatal-gatal. Anjing Kukis dibawa ke Rumah Sakit Hewan Universitas Udayana Sesetan, Kota Denpasar dengan keluhan sering menggaruk tubuhnya selama satu bulan belakangan ini. Awal mula anjing mengalami gatal-gatal pada bagian abdomen kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Akibatnya anjing mengalami alopesia pada kepala, abdomen, dan punggung, krusta pada kepala, kaki dan punggung, serta scale dan eritema pada seluruh tubuh. Pengobatan dilakukan dengan pemberian obat-obatan herbal yang terbuat dari ekstrak daun sirsak. kemudian dilakukan pemberian obat suportif berupa multivitamin Nutriplus gel® selama lima minggu. Hasil terapi selama lima minggu menunjukkan struktur kulit membaik, rambut pada badan, leher, punggung, dan kaki mulai tumbuh serta scale, krusta, eritema mulai berkurang dan masih memerlukan perawatan lanjutan.
Laporan Kasus: Pneumonia Disertai Infiltrasi Interstisial Noduler Non-Efusif pada Kucing Peliharaan Menyerupai Feline Infectious Peritonitis Nurmayani, Seli; Batan, I Wayan; Krisna Erawan, I Gusti Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.722

Abstract

Pneumonia adalah peradangan pada paru-paru dan saluran udara yang menyebabkan terjadinya kesulitan bernapas dan kekurangan oksigen dalam darah. Beragam penyebab pneumonia telah dilaporkan, tetapi penyebab paling umum adalah infeksi virus pada saluran pernapasan bagian bawah. Salah satu virus penyebab pneumonia adalah Feline infectious peritonitis virus (FIPV) yang merupakan mutasi dari Feline Corona Virus (FeCoV). Pada kasus FIP, pyogranulomatous pneumonia tampak secara radiografis sebagai infiltrat paru interstisial yang menyebar, tidak jelas, tidak merata atau noduler. Seekor kucing jantan berumur lima bulan dengan bobot badan 2,35 kg bernama Dana diperiksa di klinik Estimo karena mengalami muntah, diare, anoreksia, dan kelemahan. Pemeriksaan fisik menunjukkan kucing mengalami demam, dehidrasi sedang, dan takipnea dengan tipe pernapasan abdominal dan suara napas abnormal. Pemeriksaan radiografi toraks menunjukkan adanya infiltrat paru interstitial yang menyebar di seluruh bagian paru secara tidak merata atau berbentuk noduler. Hasil pemeriksaan darah lengkap menunjukkan semua parameter masih dalam nilai normal. Hasil pemeriksaan kimia serum menunjukkan kucing kasus mengalami hiperglikemia, Blood Urea Nitrogen, kreatinin rendah, dan penurunan rasio serum albumin-to-globulin (A/G<0,8). Berdasarkan anamnesis, tanda klinis, dan pemeriksaan penunjang, kucing kasus didiagnosis mengalami pneumonia yang mirip dengan pyogranulomatous pneumonia pada FIPV. Penanganan yang dilakukan pada kucing kasus yaitu pemberian oksigen dengan oxygen concentrator, terapi cairan intravena untuk mengatasi dehidrasi, pemberian hematodin (1 mL/hari, IV) dan vitamin C (1 mL/hari, IM) sebagai terapi suportif. Prednisolone (1 mg/kg BB, q24h, IM) diberikan pada hari pertama perawatan. Antibiotik Cefotaxime (35 mg/kg BB, q8h, IV) diberikan untuk mengatasi infeksi sekunder. Aminophylline (4 mg/kg BB, q8h, IV) sebagai bronkodilatator. Kucing kasus mengalami perbaikan kondisi setelah empat hari dirawat di klinik dan pemilik memutuskan untuk membawa pulang.
Laporan Kasus: Dermatofitosis pada Anjing Peranakan Scottish Terrier di Kota Denpasar, Baliatofitosis pada Anjing Peranakan Scottish Terrier Distira, Luh Ayu Yasendra; Batan, I Wayan; Erawan, I Gusti Made Krisna; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.678

Abstract

Dermatofitosis pada anjing adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh kapang dermatofita yang terdiri atas genus Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton. Dermatofitosis dapat menyerang anjing semua umur. Biasanya agen kapang muncul karena tempat yang lembab. Tujuan dari penulisan laporan kasus ini adalah untuk dapat meneguhkan diagnosis dari pemeriksaan klinis dan penunjang, serta untuk dapat memberikan terapi yang tepat sesuai penyakit yang ditemukan. Seekor anjing jantan peranakan scottish terrier berumur satu tahun dengan bobot badan 12 kg dibawa ke Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, dengan keadaan alopesia dan eritema hampir di sekujur tubuhnya. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya krusta, pustula pada bagian ekstremitas kranial dan kaudal, papula pada bagian dorsal, hiperpigmentasi pada dorsal tubuh, dan sisik. Anjing kasus menunjukkan tingkat pruritus yang tinggi. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan tidak adanya perubahan yang berarti pada parameter darah. Pemeriksaan histopatologi biopsi kulit menunjukkan adanya infiltrasi sel radang. Pada pemeriksaan dengan wood’s lamp terlihat adanya pendaran berwarna hijau kekuningan pada hampir seluruh bagian tubuh. Anjing kasus didiagnosis menderita dermatofitosis dan diterapi dengan menggunakan oclacitinib (5,6 mg/ekor, PO, q12h), amoxicillin trihydrate (10 mg/kg BB, PO, q24h) dan dexaharsen (0,2 mg/kg BB, IM, q24h) diberikan selama lima hari. Ketoconazole 2% diberikan dua kali sehari dengan cara dioles secara langsung pada bagian spot-spot yang terlihat. Pasca terapi hari ke-14, anjing kasus menunjukkan hasil yang baik, eritema sudah mulai berkurang dan rambut sudah mulai tumbuh dengan baik. Hal ini juga diamati dengan adanya perubahan lesi makroskopik dan pengamatan dari histopatologi biopsi kulit yang dilakukan pasca terapi.
Laporan Kasus : Infeksi Saluran Pernafasan (ISP) Pada Kucing Peliharaan Baiti, Nur; Batan, I Wayan; Anthara, Made Suma
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.734

Abstract

Penyakit saluran respirasi sering terjadi pada populasi kucing yang dipelihara dalam populasi padat. Penyakit ini merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan pada kucing. Kucing kasus adalah seekor kucing lokal dengan jenis kelamin jantan, bernama Abu, berumur dua tahun, bobot badan 2 kg, berwarna abu-abu, dan belum divaksinasi. Kucing kasus diperiksa di Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Berdasarkan anamnesis, kucing menunjukkan gejala bersin disertai batuk selama empat bulan dan mulai parah satu bulan sebelum dilakukan pemeriksaan. Hidung kucing mengeluarkan leleran mukopurulen disertai leleran serous pada mata. Pada pemeriksaan fisik menunjukkan kucing kasus mengalami sesak napas, hidung mengeluarkan leleran mukopurulen, bagian mata ditemukan leleran serous, mukosa mulut berwarna merah muda pucat, dan pada saat dipalpasi limfonodus mandibularis bagian kanan mengalami pembengkakan. Hasil pemeriksaan X-Ray menunjukkan adanya gambaran sedikit radiopaque pada daerah pulmonum dan penyebaran bercak pada daerah bronkus. Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan kucing kasus mengalami anemia mikrositik hipokromik, leukositosis, dan limfositopenia. Kucing kasus didiagnosis mengalami infeksi saluran pernapasan (ISP) yaitu rhinitis kronis dan bronkopneumonia. Terapi yang diberikan pada kucing kasus terdiri atas antibiotik doxycycline hyclate 5 mg/kg BB secara oral (PO) dua kali sehari selama dua minggu, antiinflamasi methylprednisolone 2 mg/kg BB diberikan peroral satu kali sehari selama empat hari, dan terapi suportif diberikan multivitamin dengan dosis pemberian 1 mL satu kali sehari selama dua minggu. Hasil pengobatan selama dua minggu menunjukkan terjadinya perubahan pada leleran hidung yang tadinya mukopurulen menjadi purulen serta frekuensi bersin dan batuk berkurang.
Laporan Kasus: Anaplasmosis dan Ehrlichiosis pada Anjing Husky Siberia Penderita Penyakit Ginjal Kronis Permatasari, Serly Nur Indah; Batan, I Wayan; Krisna Erawan, I Gusti Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.688

Abstract

Anaplasmosis dan ehrlichiosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri obligat intraseluler yaitu Anaplasma sp. dan Ehrlichia canis. Pada kasus ini, dilaporkan terjadi pada anjing husky siberia yang telah didiagnosis mengalami penyakit gagal ginjal kronis stadium tiga dan rutin dilakukan check up dua minggu sekali. Saat check up ketiga anjing tampak lemas, nafsu makan menurun, terdapat leleran mukopurulen di hidung, dan ditemukan caplak. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan hewan kasus mengalami dehidrasi yang ditandai dengan membran mukosa yang pucat dan turgor kulit menurun. Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing kasus mengalami anemia normositik hiperkromik dan trombositopenia. Hasil pemeriksaan biokimia darah menunjukkan peningkatan kreatinin, Blood Urea Nitrogen (BUN), dan Symmetric Dimethylarginine (SDMA). Pemeriksaan ulas darah menunjukkan adanya badan inklusi pada monosit yang kemudian dikonfirmasi hasil positif dengan uji serologi test kit terhadap Anaplasma sp. dan Ehrlichia canis. Diagnosis definitif anjing kasus adalah gagal ginjal kronis stadium 3 disertai anaplasmosis dan ehrlichiosis. Penanganan yang dilakukan pemberian terapi cairan, antibiotik doxycycline (10 mg/kg BB, selama 28 hari), anti inflamasi metilprednisolon (0,5 mg/kg BB, selama 14 hari), dan pengobatan suportif dengan suplemen herbal Nutrilite® Liver Health with Milk Thistle and Dandelion Plus diberikan satu tablet sehari sekali dan suplemen ginjal AminAvast® diberikan dua tablet sehari sekali. Setelah hari ke-14 pengobatan menunjukkan perbaikan kondisi yang ditandai dengan nafsu makan yang baik, anjing terlihat aktif kembali, serta bebas dari caplak. Hasil pemeriksaan kimia darah setelah hari ke-14 menunjukkan penurunan nilai kreatinin dan Blood Urea Nitrogen (BUN).
Laporan Kasus: Otitis Eksterna Bilateral karena Infeksi Otodectes cynotis pada Kucing Persia Saputra, I Nyoman Dwi Eka; Widyastuti, Sri Kayati; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.745

Abstract

Otitis adalah peradangan yang terjadi pada saluran telinga. Otitis eksterna adalah peradangan pada saluran eksternal telinga, di luar gendang telinga (membran timpanika). Hewan kasus adalah kucing persia dengan jenis kelamin jantan berumur 20 bulan dan memiliki bobot badan 3,4 kg. Kucing kasus datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan kondisi sering memiringkan kepala ke sebelah kiri sejak tiga bulan yang lalu dan sering menggaruk telinga. Pada pemeriksaan klinis, telinga kucing kasus secara inspeksi terdapat serumen pada saluran telinga kanan dan kiri. Serumen berwarna kecokelatan dan berbau khas serumen telinga yang sangat menyengat. Pemeriksaan secara palpasi pada telinga kiri terdengar suara krepitasi. Pada pemeriksaan penunjang dilakukan swab serumen telinga kanan dan kiri diperiksa di bawah mikroskop cahaya dan menunjukkan kucing terinfeksi tungau Otodectes cynotis. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan penunjang, kucing kasus didiagnosis mengalami otitis eksterna bilateral. Terapi kausatif diberikan dengan obat tetes telinga yang mengandung kombinasi ivermectin dan chloramphenicol dengan pemberian sebanyak dua tetes setiap dua kali sehari pada telinga kiri dan kanan selama tujuh hari. Hasil setelah dilakukan pengobatan selama tujuh hari menunjukkan perubahan pada kondisi kucing kasus. Setelah dievaluasi dari gejala klinis kucing yang berjalan dengan kepala miring ke kiri sudah semakin membaik dibandingkan sebelum dilakukan pengobatan dan tingkat pruritus pada kucing kasus semakin berkurang.
Variasi Umur Sapi Fries Holland di Desa Sibang, Kabupaten Badung terhadap Kualitas Susu Ditinjau dari Uji Organoleptik Wahyu Maha Putra, Anak Agung Gede Agung; Suada, I Ketut; Sampurna, I Putu
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.649

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas susu sapi perah terbaik yaitu sapi Fries Holland (FH) yang berumur 5 tahun dan 10 tahun ditinjau dari uji organoleptik dengan 4 parameter yaitu uji warna, uji bau, uji rasa, dan uji kekentalan. Susu merupakan salah satu kebutuhan hewani yang sangat penting untuk meningkatkan kualiatas kesehatan masyarakat. Untuk memperoleh susu segar yang baik, maka semua usaha harus ditujukan untuk memperkecil jumlah bakteri yang ada pada susu dengan memperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas susu, salah satunya yaitu umur sapi. Penelitian ini adalah jenis penelitian observasional yang menggunakan sampel susu sapi perah FH. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan gambaran umum kualitas susu yang dihasilkan sapi FH di Desa Sibang, Kabupaten Badung. Sampel susu diambil dengan cara diperah secara langsung di Desa Sibang, Kabupaten Badung. Hasil pemerahan sapi yang berumur 5 tahun dan 10 tahun kemudian dilakukan uji organoleptik oleh 10 panelis terpilih. Sampel yang telah diperoleh selanjutnya dibawa ke Laboratorium Kesmavet Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Data yang diperoleh dari laboratorium tersebut, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode uji tanda. Hasil dari penelitian terhadap uji organoleptik adalah tidak ada perbedaan yang nyata (P>0,05) ditinjau dari uji rasa, bau, warna, dan kekentalan dari sapi FH umur 5 tahun dengan 10 tahun.
Laporan Kasus: Penanganan Demodekosis General pada Anjing Peranakan Pitbull dengan Labrador Harvani, Bq. Harvani; Batan, I Wayan; Jayanti, Putu Devi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.701

Abstract

Hewan kasus merupakan anjing persilangan pitbull dengan labrador. Anjing kasus bernama El-Chapo, berjenis kelamin jantan, berumur 13 bulan, dengan bobot badan 22,16 kg. Anjing El-Chapo dibawa ke Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Veteriner, Universitas Udayana, Sesetan, Denpasar dengan keluhan sering menggaruk tubuhnya selama satu bulan belakangan ini. Awalnya, anjing kasus mengalami rambut rontok pada siku kaki depan sebelah kanan, kemudian menyebar dari siku ke dada hingga bawah telinga. Selain itu, anjing kasus mengalami eritema pada wajah dan punggung, serta hiperpigmentasi di seluruh permukaan tubuh dan terjadi pembengkakkan pada limfonodus mandibularis, limfonodus popliteus, limfonodus aksilaris, hingga limfonodus parotis. Pemeriksaan hematologi menunjukkan bahwa anjing mengalami anemia makrositik normokromik, limfositosis, dan trombositopenia. Pemeriksaan biopsi kulit menunjukkan adanya potongan tungau Demodex sp. dalam folikel rambut, sedangkan pemeriksaan kerokan kulit hingga berdarah atau deep skin scraping menunjukkan infeksi adanya Demodex sp. Berdasarkan anamnesis, penyebaran lesi, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang laboratorium, maka anjing kasus didiagnosis menderita demodekosis general. Anjing kasus diberikan terapi ivermectin, diphenhydramine, caviplex, minyak ikan, dan dimandikan dengan sabun sulfur. Pada hari ke-21 pascaterapi, teramati rambut sudah tumbuh secara menyeluruh diseluruh permukaan badan, tidak tampak adanya eritema, sisik, krusta, dan papula, serta saat dilakukan kembali pemeriksaan kerokan kulit dalam atau deep skin scraping hasilnya tidak ditemukan tungau Demodex sp.

Page 1 of 2 | Total Record : 12