cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 7 (1) 2018" : 10 Documents clear
Pola Pertumbuhan Dimensi Lingkar Tubuh Babi Bali Putra, I Made Wira Diana; Sampurna, I Putu; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.08 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.32

Abstract

Pola pertumbuhan dimensi lingkar tubuh babi bali dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah umur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pada umur berapa masing masing dimensi lingkar tubuh babi bali mencapai titik infleksi dan ukuran dewasa. Babi yang digunakan dalam objek penelitian ini adalah babi bali yang dipelihara secara tradisional di Desa Musi, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, umur 0 sampai 26 minggu sebanyak 56 ekor yang terdiri dari babi bali jantan dan betina. Hasil regresi model sigmoid menunjukkan bahwa ukuran babi bali saat lahir memiliki dimensi lingkar yang sama antara babi Bali jantan dan betina. Lingkar leher babi bali jantan dan betina mencapai ukuran dewasa pada umur 21,840 minggu dan 22,893 minggu.
Prevalensi Dan Predileksi Plak Gigi Pada Kucing Di Kota Denpasar Pratama, Dimas Andi; Utama, Iwan Harjono; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.019 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.76

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan predileksi plak gigi pada kucing yang dipelihara di kota Denpasar. Penelitian observasional telah dilakukan terhadap 50 ekor kucing lokal maupun kucing ras di kota Denpasar. Kucing diamati di tempat yang gelap dan gigi diamati pencerahannya dengan Wood’ lamp untuk melacak keberadaan plak gigi. Hasil positif ditandai dengan adanya fluoresensi merah. Hasil penelitian ini, didapatkan 46 kucing positif memiliki plak gigi dengan prevalensi 92%. Predileksi plak gigi terdapat pada bagian gigi incisivus, caninus, molar dan pre molar, tetapi predileksi terbesar terdapat pada pre molar bagian maxillaris. Sehubungan dengan prevalensi tersebut, perlu dilakukan sosialisasi mengenai pentingnya kesehatan gigi dan mulut pada kucing, sehingga dapat mencegah timbulnya penyakit gigi, mulut, serta plak yang berpotensi menimbulkan penyakit periodontal. Pemeriksaan kucing harus difokuskan pada gigi pre molar dan molar untuk kesehatan mulut.
Respons Imun Humoral Anjing Lokal Betina Umur Lebih dari Satu Tahun Pasca Vaksinasi Rabies Norawigaswari, Nengah Desy; Suardana, Ida Bagus Kade; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.284 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.1

Abstract

Pencegahan penyebaran rabies dilakukan dengan cara vaksinasi pada hewan pembawa rabies (HPR) antara lain anjing, kucing, dan kera dalam rangka pemberantasan penyakit rabies. Vaksinasi anjing di lapangan dilakukan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Kota setiap tahun, di setiap banjar-banjar dan bahkan mendatangi rumah penduduk dari pintu ke pintu. Untuk mengetahui apakah HPR yang telah divaksinasi rabies memiliki titer antibodi yang protektif, telah dilakukan penelitian respons imun humoral anjing lokal betina pasca vaksinasi rabies. Penelitian dilakukan di Desa Gulingan, Kabupaten Badung dengan sampel darah dari 10 ekor anjing. Darah diambil dari vena cephalica antibrachii anterior menggunakan spuit 3 ml, kemudian dibiarkan agar terjadi pemisahan antara serum dengan darah. Serum dipindahkan ke eppendorf dan disentrifuse. Dari hasil pengujian menggunakan uji ELISA, 50% memiliki titer antibodi protektif (nilai OD > 0,5 IU) dan 50% titer antibodinya tidak protektif (nilai OD < 50%). Simpulannya adalah perlu dilakukan vaksinasi ulangan pada anjing yang tidak memiliki titer antibodi protektif dengan peningkatam metode vaksinasi untuk menghasilkan antobodi yang protektif.
Studi Histopatologi dan Kadar Timbal pada Ginjal Sapi Bali di Tempat Pembuangan Akhir Suwung Denpasar Janardani, Ni Made Kunti; Berata, I Ketut; Kardena, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.621 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.42

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan histopatologi dan kadar logam berat timbal pada ginjal sapi bali yang dipelihara di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung Denpasar. Penelitian menggunakan 5 ekor sapi yang dipelihara di TPA. Sapi di nekropsi kemudian diambil organ ginjal sebagai sampel dan selanjutnya dibagi menjadi dua bagian, pertama digunakan untuk pemeriksaan logam berat timbal dan bagian kedua untuk pemeriksaan histopatologi. Pemeriksaan kadar logam berat timbal dilakukan dengan metode Atomic Absorption Spectrofotometri (AAS). Untuk pembuatan preparat histopatologi dilakukan dengan teknik embedded block paraffin dan pewarnaan Hematoxilin-Eosin. Hasil Pemeriksaan 5 sampel ginjal sapi bali secara keseluruhan ditemukan adanya cemaran logam berat timbal yang bervariasi yaitu 0,5829 ppm, 1,0504 ppm, 1,0505 ppm, 1,1305 ppm sampai dengan 1,1306 ppm. Sedangkan pada pemeriksaan histopatologi secara keseluruhan ditemukan perubahan berupa infiltrasi sel radang, degenerasi melemak dan nekrosis. Perubahan histopatologi ini kemungkinan disebabkan oleh toksisitas dari logam berat timbal yang terakumulasi di dalam ginjal. Selain itu, faktor-faktor yang tidak dikendalikan kemungkinan juga berpengaruh. Simpulannya adalah ginjal sapi bali yang dipelihara di TPA Suwung terpapar logam berat timbal dengan perubahan histopatologi peradangan, degenerasi melemak dan nekrosis. Perlu penelitian lebih lanjut tentang pengaruh logam berat timbal yang murni tanpa adanya faktor-faktor lain yang mempengaruhi terhadap perubahan histopatologi ginjal.
Pola Pertumbuhan Dimensi Panjang Pada Babi Bali Leonardo, Edo; Sampurna, I Putu; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.583 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.6

Abstract

Penelitian pola pertumbuhan panjang bagian-bagian tubuh babi bali telah dilakukan di Desa Musi, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui panjang kepala, leher, telinga, punggung dan ekor pada saat kelahiran sampai ukuran maksimal yang dapat dicapai, serta menentukan kapan pertumbuhan telah mencapai titik infleksi dan ukuran dewasa. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah babi bali pada usia 0, 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16, 18, 20, 22, 24, dan 26 minggu. Data dianalisis dengan model analisis regresi sigmoid, dengan menentukan panjang kepala, leher, telinga, punggung dan ekor saat lahir, ukuran maksimumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang kepala, leher, telinga, punggung dan ekor mengikuti pola sigmoid. Babi bali jantan dan betina pada saat lahir memiliki ukuran panjang kepala, leher, telinga, punggung dan ekor yang sama, sedangkan untuk ukuran maksimum, panjang bagian-bagian kepala, leher, telinga, punggung dan ekor terdapat perbedaan antara babi bali jantan dan betina. Titik infleksi yang paling cepat dicapai adalah panjang ekor babi bali betina pada usia 2 minggu dan yang paling lambat adalah panjang punggung pada umur 8 minggu, sedangkan ukuran dewasa tercepat dicapai adalah panjang teliga babi jantan pada usia 15 minggu dan yang paling lambat adalah panjang ekor pada umur 45 minggu.
Studi Histopatologi dan Kadar Timbal Pada Otak Sapi Bali Di Tempat Pembuangan Akhir Suwung Denpasar Kartika, Erena Hajar; Berata, I Ketut; Kardena, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.439 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.51

Abstract

Tempat Pembuangan Akhir Suwung sebagai lokasi pemeliharaan ternak dapat menimbulkan risiko kontaminasi logam berat, salah satunya yaitu timbal (Pb). Salah satu jaringan yang rentan terhadap logam berat adalah otak. Meskipun jaringan saraf atau otak dilindungi oleh struktur pembuluh khusus (brain blood barrier) namun Pb mampu melintasi brain blood barrier. Penelitian ini brtujuan untuk mengetahui kandungan logam berat Pb pada otak sapi bali dan gambaran histopatologi otak sapi bali yang dipelihara di TPA Suwung Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan menggunakan rancangan cross sectional study. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5 otak sapi yang berasal dari TPA Suwung Denpasar. Pengambilan sampel jaringan otak sapi bali dilakukan di RPH Dharmasaba. Pengukuran kadar logam berat Pb dilakukan dengan metode Atomic Absorption Specthrophotometry (AAS). Pembuatan preparat histopatologi dilakukan dengan metode pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi kadar logam berat Pb yakni : 0,5582 ppm, 1,1860 ppm, 1,1864 ppm, 1,245 ppm, 1,246 ppm. Perubahan histopatologi yang ditemukan bervariasi diantaranya degenerasi sel neuron, demyelinasi dan peradangan (vaskulitis). Dapat disimpulkan bahwa ada cemaran logam berat Pb dan perubahan histopatologi otak sapi bali yang dipelihara di TPA Suwung Denpasar.
Respon Analgesia, Sedasia dan Relaksasi Tikus Putih Yang Diberi Ekstrak Biji Kecubung (Datura Metel L.) Intraperitoneal Samuel, Josia; Sudisma, I Gusti Ngurah; Dada, I Ketut Anom
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.211 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.16

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon analgesia, sedasia dan relaksasi tikus putih (Rattus norvegicus) yang diberi ekstrak biji kecubung (Datura metel L.). Penelitian dilakukan secara eksperimental di Laboratorium Bedah Veteriner dengan pemberian ekstrak biji kecubung dosis 100 mg/kg BB (P1), 150 mg/kg BB (P2), 200 mg/kg BB (P3), 250 mg/kg BB (P4) dan kelompok kontrol (P5) masing-masing diulang sebanyak enam kali untuk observasi adanya respon analgesia dengan penjepitan pada telinga, ekor dan interdigiti tikus putih. Untuk respon sedasia hilangnya koordinasi dan mengantuk/kelincahan menurun. Untuk respon relaksasi hilangnya tonus otot rahang, lidah dan spinkter ani. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap, dengan jumlah sampel 30 ekor tikus putih. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis Sidik Ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan Uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji kecubung berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap respon analgesia dan sedasia namun tidak memberikan respon relaksasi. Waktu rata-rata untuk induksi analgesia antara 5 menit sampai 10 menit dan waktu rata-rata durasi analgesia antara 98,33 menit sampai 179,17 menit. Untuk efek sedasia waktu rata-rata induksi 5 menit dan 20 menit dan durasi antara 14,16 menit dan 176,66 menit.
Pola Pertumbuhan Panjang Bagian-Bagian Kaki Depan dan Kaki Belakang Babi Bali Sembiring, Ade Vindha Mebrina br; Suatha, I Ketut; Sampurna, I Putu
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.134 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.59

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan dan ukuran panjang bagian-bagian kaki depan dan kaki belakang saat mencapai titik infleksi dan ukuran dewasa. 56 ekor babi bali (umur 0 sampai 26 minggu) digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini. Data dianalisis dengan model analisis regresi sigmoid, dengan menentukan ukuran maksimum panjang bagian-bagian kaki depan dan kaki belakang saat lahir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang bagian-bagian kaki depan dan kaki belakang babi bali mengikuti pola sigmoid. Anak babi pada saat lahir memiliki ukuran panjang kaki yang sama, sedangkan untuk ukuran maksimum, panjang bagian-bagian kaki depan dan belakang terdapat perbedaan antara jantan dan betina. Titik infleksi yang paling cepat dicapai oleh panjang kaki belakang bawah babi jantan pada umur 5 minggu, sedangkan ukuran dewasa tercepat dicapai oleh panjang kaki depan atas babi betina pada umur 58 minggu.
Efikasi Ivermectin Peroral terhadap Infeksi Cacing Nematoda Gastrointestinal pada Ternak Babi di Bali Lestari, Maureen Tyas; Budiasa, Ketut; Dwinata, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.988 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.25

Abstract

Babi merupakan komoditas unggulan dibidang peternakan daerah Bali yang dari dulu telah dipelihara, dibudidayakan, dan diternakan untuk tujuan tertentu terutama untuk memenuhi kebutuhan akan daging atau protein hewani bagi manusia. Sistem managemen pemeliharaan dengan sanitasi kandang yang buruk dan rendahnya kesadaran peternak babi menyebabkan babi mudah terinfeksi cacing nematoda. Penelitian ini merupakan penelitian clinical trial untuk mengetahui efikasi ivermectin peroral terhadap infeksi cacing nematoda gastrointestinal pada babi dengan rancangan pre test dan post test design. Penelitian dilakukan dalam empat tahap, yaitu pengambilan 50 sampel feses babi, pemeriksaan preparat feses babi dengan metode Konsentrasi Apung dan Mc. Master, pemberian ivermectin, dan pengamatan telur nematoda untuk menentukan nilai FECRT (Faecal Egg Count Reduction Test). Hasil penelitian menunjukan efektivitas ivermectin secara oral sangat efektif untuk pengobatan terhadap infeksi cacing nematoda gastrointestinal pada ternak babi sebesar 96,63%,. Efikasi ivermectin secara oral terhadap cacing nematoda gastrointestinal yaitu Ascaris suum 97,3%, Trichuris suis 97,8% , Strongyloides ransomi 100% dan cacing tipe Strongyl sebesar 95,7%.
Respons Imun Anjing Lokal Jantan Umur Diatas Satu Tahun Pasca Vaksinasi Rabies Prasatya, I Gde Made Abdi; Suardana, Ida Bagus Kade; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.625 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.69

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui titer antibodi anjing lokal jantan umur di atas satu tahun pasca vaksinasi rabies. Penelitian menggunakan 10 sampel darah anjing yang diambil di Desa Gulingan dan diuji dengan enzym linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukan dari 10 sampel, 7 sampel (70%) memiliki titer antibodi protektif (seropositif) dan 3 sampel (30%) belum memiliki titer antibodi protektif (seronegatif). Seropositif adalah nilai Optical Density (OD) di atas 0,5 IU, sedangkan seronegatif adalah nilai Optical Density (OD) di bawah 0,5 IU. Rataan nilai OD di atas 0,5 IU/ml ditemukan pada anjing berumur di atas 3 tahun dengan sistem pemeliharaan dilepas dalam lingkungan rumah dan beberapa dilepas liarkan. Nilai OD dibawah 0,5 IU ditemukan pada anjing berumur di bawah 3 tahun dengan sistem pemeliharaan dilepas liarkan.

Page 1 of 1 | Total Record : 10