cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 9 (3) 2020" : 17 Documents clear
Isolasi dan Identifikasi Bakteri Staphylococcus sp. pada Babi Penderita Porcine Respiratory Disease Complex Paramita, Putu Wahyuni; Suarjana, I Gusti Ketut; Besung, I Nengah Kerta
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.426

Abstract

Penyakit pernapasan pada babi umum terjadi pada peternakan babi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Penyakit ini dikenal sebagai porcine respiratory disease complex (PRDC). Porcine respiratory disease complex adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan infeksi pernapasan yang disebabkan oleh polimikroba dengan berbagai kombinasi antara patogen primer dan sekunder pada babi. Staphylococcus sp. adalah salah satu bakteri yang berpotensi patogen menyebabkan terjadinya PRDC. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri Staphylococcus sp. yang berpotensi patogen pada saluran pernapasan babi dan mengetahui pengaruh kelompok umur (babi prasapih dan pascasapih) terhadap jumlah kejadian infeksi Staphylococcus sp. pada babi penderita PRDC. Sampel yang diteliti menggunakan swab nasal pada babi yang menunjukkan gejala klinis penyakit saluran pernapasan dengan jumlah 43 sampel. Sampel diambil dari tiga kabupaten di Bali yaitu Kabupaten Badung, Tabanan dan Gianyar. Isolasi Staphylococcus sp. dilakukan pada media blood agar. Identifikasi bakteri selanjutnya dilakukan dengan pewarnaan Gram, uji katalase, uji oksidase, Triple Sugar Iron Agar (TSIA), Sulphide Indol Motility (SIM), Simmon Citrate Agar, Methyl Red (MR), uji koagulase dan uji gula-gula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan bakteri Staphylococcus sp. pada saluran pernapasan babi penderita PRDC dengan kemungkinan spesies yaitu S. epidermidis, S. saprophyticus, dan S. hyicus subsp. hyicus. Kelompok umur (babi prasapih dan babi pascasapih) tidak mempengaruhi jumlah kejadian infeksi bakteri Staphylococcus sp.
Standarisasi Cemaran Mikrob Daun Sirsak (Annona muricata L.) sebagai Bahan Baku Sediaan Obat Tradisional Putri, Adelia; Sudimartini, Luh Made; Dharmayudha, Anak Agung Gde Oka
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.305

Abstract

Daun sirsak (Annona muricata L.) merupakan tanaman bahan obat tradisional yang berkhasiat dan memiliki komponen aktif sebagai antibakteri, antivirus, antijamur, antiparasit dan antiinflamasi. Ekstrak daun sirsak terbukti efektif sebagai bahan obat tradisional yang dikemas dalam bentuk sediaan salep/krim untuk penyakit dermatitis pada anjing. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jumlah cemaran mikrob daun sirsak yang dibuat menjadi sediaan obat telah memenuhi standar cemaran mikrob yang diperbolehkan berdasarkan parameter dari Farmakope Herbal Indonesia (FHI) sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2019 tentang Persyaratan Mutu Obat Tradisional dan Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat Departemen Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2000. Pemeriksaan cemaran mikrob pada daun sirsak dilakukan dengan Uji Angka Lempeng Total (ALT) dan Uji Angka Kapang/Khamir (AKK). Hasil uji Angka Lempeng Total (ALT) dari sampel daun sirsak menggunakan media Plate Count Agar (PCA) yang diinkubasi pada suhu 35-37oC selama 24 jam menunjukkan angksa 3850 cfu/mL atau 3,85 x 103 cfu/mL. Sampel daun sirsak layak dan memenuhi standar yang ditentukan bentuk sediaan semi padat untuk angka lempeng total yaitu maksimal ? 107 koloni / g. Hasil uji Angka Kapang/Khamir (AKK) dari sampel daun sirsak menggunakan media Potato Dextrose Agar (PDA) yang diinkubasi pada suhu 20-25oC selama 3-5 hari menunjukkan angka 3200 cfu/mL atau 3,2 x 103 cfu/mL. Sampel daun sirsak layak dan memenuhi standar yang ditentukan bentuk sediaan semi padat untuk angka lempeng total yaitu maksimal ? 104 koloni / g.
Potensi Anestetik Sediaan jadi Kombinasi Ketamin Hidroklorida, Atropin Sulfat, dan Xylazin Hidroklorida pada Kucing Jantan Lokal Aprilianti, Yogi; Rahmianti, Dwi Utari; Setyowati, Endang Yuni; Dahlan, Anisah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.475

Abstract

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kini telah tersedia banyak produk obat-obatan untuk anestesi, sehingga terdapat banyak pilihan penggunaan anestetik pada proses operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek anestestik sediaan jadi, berupa kombinasi ketamin hidroklorida, atropin sulfat, dan xylazin hidroklorida terhadap parameter fisiologis kucing jantan lokal berambut pendek. Pengamatan terhadap efek fisiologis dilakukan pada lima ekor kucing jantan lokal berambut pendek di Kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor. Pemberian sediaan anestesi jadi berupa kombinasi ketamin hidroklorida, atropin sulfat, dan xylazin hidroklorida pada kucing jantan lokal berambut pendek dengan dosis 0,1 mL/kgBB menghasilkan waktu induksi rata-rata 5,2 ± 1,6 menit, durasi anestesi yang dihasilkan 53,0 ± 2,5 menit. Rata-rata degup jantung yang diakibatkan oleh pembiusan ini adalah 99,0 ± 63,2 degup per menit, hasil respirasi rata-rata 36,9 ± 1,4 per menit. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa waktu induksi dan durasi anestesi dari sediaan jadi, berupa kombinasi ketamin hidroklorida, atropin sulfat, dan xylazin hidroklorida lebih singkat daripada sediaan anestesi dengan premedikasi.
Ekstrak Sarang Semut Dapat Menekan Tingkat Kerusakan Paru-Paru Tikus Putih yang Diinduksi Gentamisin Dosis Toksik Jihadulhaq, Jihadulhaq; Kardena, I Made; Merdana, I Made; Samsuri, Samsuri
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.351

Abstract

Penelitian bertujuan untuk membuktikan bahwa pemberian gentamisin 250 mg/kgBB mempengaruhi histopatologi paru-paru untuk mengetahui efek protektif sarang semut terhadap paru-paru tikus putih yang diberikan gentamisin dosis toksik. Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus putih jantan dengan berat badan 200-300 g ram yang terdiri dari empat perlakuan, yaitu kontrol (P0) tanpa perlakuan, perlakuan 1 (P1) diberi gentamisin dosis 250 mg/kg BB, perlakuan 2 (P2) diberi gentamisin dosis 250 mg/kgBB ditambah sarang semut dosis 250 mg/kg BB, perlakuan 3 (P3) diberikan sarang semut 250 mg/kg BB selama tujuh hari setelah itu diberikan ekstrak sarang semut dan gentamisin dosis 250 mg/kg BB. Gentamisin dan ekstrak sarang semut diberikan secara per oral selama 10 hari. Setelah itu nyawa tikus percobaan dikorbankan kemudian dilakukan nekropsi dan organ paru-paru diambil secara aseptik untuk pembuatan preparat histopatologi dengan pewarnaan Hematoksilin dan Eosin (HE). Pembuatan preparat histopatologi dengan pewarnaan menggunakan metode HE dibuat di laboratorium patologi. Variabel yang diperiksa adalah infiltrasi sel radang, edema, dan nekrosis. Pada penelitian ini didapatkan hasil pemberian ekstrak sarang semut per oral terhadap tikus putih yang sudah diberi gentamisin (250 mg/kg BB) mengalami perbaikan pada lesi nekrosis, begitu pula pada lesi infiltrasi sel radang dan edema meskipun secara statistik tidak signifikan (P>0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian ekstrak sarang semut dengan dosis 250 mg/kgBB belum mampu memperbaiki kerusakan jaringan paru-paru yang diberikan gentamisin dosis 250 mg/kg BB.
Prosedur Diagnosis dan Kasus Urolitiasis Berulang pada Kucing atau Anjing dalam Praktek Dokter Hewan di Kota Bandung Mulyani, Gita; Setiawati, Elsa Pudji; Rahmiati, Dwi Utari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.435

Abstract

Urolitiasis merupakan kondisi terbentuknya berbagai jenis batuan dalam saluran urinaria. Identifikasi jenis batuan yang dilakukan saat mendiagnosis urolitiasis perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit yang berulang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai prosedur diagnosis kasus urolitiasis pada kucing dan anjing dalam praktek dokter hewan di Kota Bandung dan kasus urolitiasis berulang. Sampel responden diambil menggunakan purposive sampling dan didapatkan sembilan responden dokter hewan. Variabel yang diamati adalah prosedur diagnosis dan kasus urolitiasis berulang. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner berupa google formulir kemudian diolah secara deskriptif. Variabel prosedur diagnosis dikategorikan menjadi prosedur baik dan kurang baik, sedangkan variabel keberulangan dikategorikan menjadi berulang dan tidak berulang. Hasil didapatkan bahwa enam dari sembilan responden memiliki prosedur diagnosis baik. Seluruh responden dengan prosedur diagnosis baik maupun kurang baik mendapati dan menangani kasus urolitiasis berulang. Dalam kasus urolitiasis dokter hewan praktek melakukan prosedur diagnosis menggunakan berbagai alat penunjang diagnosis. Kasus urolitiasis yang berulang terjadi dengan interval yang berbeda, prosedur diagnosis bukan satu-satunya faktor yang bisa mendukung terjadinya keberulangan, faktor lain seperti pakan sangat mendukung terbentuk urolit kembali.
Gambaran Hematologi Anjing Peliharaan di Kota Denpasar Mahindra, Aditya Try; Batan, I Wayan; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.314

Abstract

Anjing merupakan hewan peliharaan yang memiliki hubungan paling dekat dengan manusia.Pemeriksaan kesehatan yang rutin harus ada untuk menjaga stamina anjing supaya tetap dalam kondisi prima. Salah satu indikator untuk mengetahui kondisi kesehatan melalui pemeriksaan darah. Populasi anjing di Kota Denpasar pada tahun 2019 menurut Dinas Pertanian Kota Denpasar adalah sekitar 97.522 ekor. Berbagai analisis gambaran darah pada anjing dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh lingkungan lokal terhadap faktor fisiologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran darah dari anjing peliharaan yang diberi pakan secara rumahan. Objek penelitian yang digunakan adalah anjing yang dipelihara masyarakat di Kota Denpasar dengan jumlah 47 ekor. Pengambilan sampel darah dilakukan pada anjing-anjing yang dipelihara oleh masyarakat Kota Denpasar. Lokasi penelitian dilaksanakan di Labolatorium Diagnosis Klinik, Patologi Klinik, Radiologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan dan di Balai Besar Veteriner Denpasar. Hasil menunjukkan bahwa anjing di Kota Denpasar banyak yang tidak sehat. Kemungkinan yang menyebabkan anjing tidak sehat yaitu dalam hal pemberian gizi yang kurang baik, dan lingkungan yang terinfestasi penyakit. Perlu adanya peningkatan pemantauan pemeliharaan maupun kesehatan anjing di Kota Denpasar, terutama mengenai pemeriksaan laboratorium kemudian peningkatan kebersihan lingkungan supaya anjing terhindar dari serangan penyakit dan pemberian pakan yang memiliki nutrisi yang baik untuk anjing.
Jumlah Fungi Pada Cairan Rumen Sapi Bali Marlissa, Faccettarial Cylon Marchel; Suarjana, I Gusti Ketut; Besung, I Nengah Kerta
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.383

Abstract

Rumen merupakan kompartemen lambung ruminansia terbesar yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan sementara dan di dalamnya terjadi proses fermentasi oleh berbagai mikroba. Fungi membantu degradasi serat pakan yang terjadi dalam rumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah fungi pada cairan rumen sapi bali. Sampel yang diambil pada penelitian ini menggunakan cairan rumen sapi bali yang disembelih di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Pesanggaran, Denpasar yaitu sebanyak 20 sampel. Sampel yang diperoleh selanjutnya diencerkan dengan mengambil 1 mL cairan rumen dan dihomogenkan bersama 9 mL aquades steril sehingga diperoleh pengenceran 10-1, selanjutnya dengan cara yang sama dilakukan pengenceran sampai mencapai tingkat pengenceran 10-4. Kemudian sampel dengan konsentrasi 10-3 dan 10-4 diambil sebanyak 0,1 mL lalu diinokulasikan pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) menggunakan metode sebar secara duplo. Sampel diinkubasikan di dalam wadah kotak yang tertutup rapat pada suhu kamar 26-300C selama 5 hari. Hasil penelitian memperlihatkan jumlah koloni fungi yang tumbuh pada media SDA pada hari kedua , ketiga, keempat dan kelima berturut-turut 37,3.104 CFU/mL, 96,8.104 CFU/mL, 140.104 CFU/mL dan 167.104 CFU/mL. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata jumlah fungi pada cairan rumen sapi bali yang diambil pada pada hari ke 5 sebanyak 167.104±186,425 CFU/mL.
Titer Antibodi Ayam Kampung yang Diberikan Jamu Daun Ashitaba (Angelica keiskei) Menurun Pascavaksinasi Penyakit Tetelo Widyaningsih, Putu Oka; Sudira, I Wayan; Suardana, Ida Bagus Kade
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.446

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian jamu daun ashitaba (Angelica keiskei) terhadap titer antibodi penyakit tetelo atau Newcastle Disease pada ayam kampung (Gallus domesticus). Objek penelitian sebanyak 25 ekor ayam kampung jantan yang dipelihara sejak umur 1-35 hari dengan lima perlakuan, yaitu: satu perlakuan kontrol tanpa diberikan jamu dan empat perlakuan diberikan jamu dengan dosis 50 mg per ekor/hari; 100 mg per ekor/hari; 200 mg per ekor/hari; dan 400 mg per ekor/hari. Vaksinasi penyakit tetelo atau ND aktif La Sota dilakukan pada hari ke 21. Serum diambil sebanyak tiga kali, yaitu: pravaksinasi (umur 18 hari), minggu ke-1, dan minggu ke-2 pascavaksinasi untuk uji hemaglutinasi dan uji hambatan hemaglutinasi. Hasil rerata titer antibodi ND pada ayam kampung yang diberikan jamu dosis 50 mg per ekor/hari; 100 mg per ekor/hari; 200 mg per ekor/hari; dan 400 mg per ekor/hari adalah 5,00 ± 3,80 HI log2; 4,27 ± 3,31 HI log2; 4,07 ± 3,63 HI log2; 3,67 ± 2,35 HI log2; dan 3,73 ± 2,89 HI log2. Hasil penelitian diperoleh titer antibodi ND pada kontrol signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan jamu dosis 200 mg per ekor/hari dan 400 mg per ekor/hari sedangkan perbandingan titer antibodi pada semua perlakuan lainnya tidak berbeda secara signifikan. Hal ini menunjukkan pemberian jamu menghasilkan titer antibodi lebih rendah dari kontrol. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah jamu daun ashitaba tidak dapat meningkatkan titer antibodi ayam kampung.
Seroprevalensi Penyakit Tetelo pada Ayam Kampung yang Disembelih di Rumah Potong Unggas di Kota Denpasar Yulianti, Vanesya; Suardana, Ida Bagus Kade; Sukada, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.392

Abstract

Penyakit tetelo atau Newcastle Disease (ND) merupakan salah satu penyakit infeksius yang penting dalam industri peternakan. Penyakit ND di Indonesia masih bersifat endemis termasuk di wilayah Provinsi Bali. Ayam merupakan unggas yang paling peka terhadap penyakit ND. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapakah seroprevalensi penyakit ND pada ayam kampung di salah satu Rumah Potong Unggas (RPU) yang berlokasi di Kecamatan Denpasar Selatan, Bali. Pengambilan sampel menggunakan metode acak lengkap/random sampling dan dilakukan sebanyak tiga kali, dengan jumlah sampel 24 ekor ayam kampung tiap kali pengambilan. Sampel diuji serologi menggunakan uji Hambatan Hemaglutinasi Cepat (HI Cepat) dan Hambatan Hemaglutinasi Titrasi (HI Titer). Hasil penelitian menunjukkan seroprevalensi terhadap penyakit ND sebesar 19,4%. Waktu pengambilan sampel yang berbeda secara statistika menunjukkan hasil tidak ada perbedaan yang nyata. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa, telah terjadi infeksi virus ND dengan kehadiran antibodi ND pada ayam kampung di salah satu RPU yang berlokasi di Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali.
Perbandingan Kualitas Fisik Objektif Daging Sapi Bali Produksi Rumah Pemotongan Hewan Karangasem, Klungkung, dan Gianyar Anastasya, Sindika; Swacita, Ida Bagus Ngurah; Suada, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.361

Abstract

Pengamanan pangan daging sapi mutlak perlu dilakukan untuk menjamin masyarakat sebagai konsumen mendapatkan daging yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH) untuk dikonsumsi. Sebagai bahan pangan, daging memiliki potensi bahaya yaitu biologi, kimia, dan fisik. Bahaya-bahaya tersebut dapat terjadi pada daging sapi selama proses penyediaannya. Sumber bahaya tersebut salah satunya dapat berasal dari fasilitas Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang kurang memenuhi persyaratan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kualitas daging sapi bali yang ditinjau dari uji objektif dan mengetahui perbedaan kualitas daging sapi bali produksi RPH Karangasem, Klungkung, dan Gianyar. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging sapi bali yang disembelih di RPH Karangasem, Klungkung, dan Gianyar. Daging sapi yang digunakan pada bagian lulur (regio longissimus) sebanyak masing-masing 100 gram/ekor dari 17 sampel daging yang berasal dari RPH Karangasem, RPH Klungkung, dan RPH Gianyar, masing-masing sampel diuji kualitas fisiknya secara objektif meliputi uji pH daging, daya ikat air, kadar air, dan perkiraan jumlah bakteri. Data yang diperoleh, dihitung nilai rataan dan standar deviasinya, dianalisis perbandingan kualitasnya dengan uji sidik ragam. Hasil tersebut dibandingkan kualitasnya dengan standar mutu daging sapi Standar Nasional Indonesia 3932; 2008 dan dijelaskan secara deskriptif kualitatif. Hasil uji sidik ragam menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kualitas daging sapi yang nyata dengan perlakuan asal RPH yang berbeda. Rataan nilai pH 5,79 ± 0,253, daya ikat air 83,31 ± 6,691, kadar air 76,91 ± 1,230, dan perkiraan jumlah bakteri <0,5juta/gram. Kualitas daging sapi asal ketiga RPH dalam kondisi baik dan layak dikonsumsi.

Page 1 of 2 | Total Record : 17