cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Pertambahan Bobot Badan Tikus Diabetes Mellitus dengan Pemberian Ekstrak Etanol Buah Naga Daging Putih SRI PUSPATI, NI KETUT; SUMA ANTHARA, MADE; OKA DHARMAYUDHA, ANAK AGUNG GDE
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (2) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.218 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek esktrak etanol buah naga daging putih (H.undatus) terhadap rata-rata bobot badan tikus putih jantan (Rattus norvegicus) yang diinduksi aloksan. Sampel darah diambil dari 25 ekor tikus putih jantan (R. norvegicus) berumur 3 bulan dengan rata-rata bobot badan 150-300 gram. Rancangan yang digunakan adalah berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan yaitu tikus yang tidak diberi perlakuan (kontrol negatif), tikus yang diberi perlakuan aloksan (kontrol positif), tikus yang diberi perlakuan aloksan + ekstrak etanol buah naga daging putih (H. undatus) 2 % dosis I (50 mg/kg bb), tikus yang diberi perlakuan aloksan + ekstrak etanol buah naga daging putih (H. undatus) 2 % dosis II (100 mg/kg bb), tikus yang diberi perlakuan aloksan + glibenklamid 0,02% (dosis 1 ml/ kg bb). Setiap perlakuan diperiksa kadar glukosa darah serta rata-rata bobot badan tikus pada hari ke-0, 3, 7, 14, dan 21. Sebelum diberi perlakuan tikus diadaptasi 2 minggu dan dipuasakan selama 16-18 jam. Masing-masing perlakuan terdiri dari 5 ulangan. Variabel yang diamati adalah rata-rata bobot badan pada masing-masing perlakuan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan jika terdapat perbedaan diantara perlakuan maka pengujian di lanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukan pemberian ekstrak etanol buah naga daging putih (H. undatus) 2% dosis (50 mg/ kg bb) , dosis (100 mg/kg bb) dan glibenklamid 0,02% 1 ml/kg bb secara signifikan dapat meningkatkan bobot badan (P<0,05) pada tikus putih yang diinduksi aloksan. Hal ini menunjukan ekstrak etanol buah naga daging putih (H.undatus) dapat digunakan untuk meningkatkan pertambahan bobot badan.
Jumlah Koliform Pada Telur Itik yang Mengalami Proses Pengasinan dan Penyimpanan MANULLANG, MARGARET ANASTASIA; SUARJANA, I GUSTI KETUT; RUDYANTO, MAS DJOKO
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.549 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh proses pengasinan dan lama penyimpanan telur itik berasal dari UKM Mulyo Mojokerto ditinjau dari jumlah koliform. Sampel telur itik yang dipergunakan berasal dari UKM Mulyo di Ds. Modopuro, Mojokerto. Rancangan penelitian yang dipergunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2x4x3, dengan 2 faktor perlakuan yakni faktor pertama meliputi telur itik dan telur itik dalam proses pengasinan. Sedangkan faktor kedua yakni faktor waktu penyimpanan yang dimulai dari hari ke 1, 8, 15 dan 22 (4 kali pengamatan). Setiap kombinasi diulang sebanyak 3 kali dengan menggunakan 1 butir telur. Data yang diperoleh ditransformasikan ke log Y, kemudian dianalisis dengan Sidik Ragam dan apabila didapatkan hasil yang berbeda nyata dilanjutkan dengan Uji Duncan. Untuk mengetahui seberapa eratnya hubungan antara pengasinan dan lama penyimpanan telur itik terhadap jumlah koliform digunakan uji Analisis Regresi Korelasi. Hasil penelitian menunjukkan proses pengasinan pada telur itik berbeda sangat nyata (P<0,01) menurunkan jumlah koliform. Lama penyimpanan telur itik pada hari ke-1 sampai hari ke-15 mengalami peningkatan yang berbeda sangat nyata (P<0,01) dan pada hari ke-22 mengalami penurunan yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Adanya interaksi yang terjadi antara pengasinan dan lama penyimpanan pada telur itik terhadap jumlah koliform dilakukan berdasarkan Analisis Regresi.
Status Praesen Sapi Bali Dara Madu, Eustokia Yulisa; Suartha, I Nyoman; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.062 KB)

Abstract

Sapi bali (Bibos sondaicus) merupakan sumber daya genetik asli Indonesia. Pelestarian sapi bali dilakukan dengan penyediaan sapi bali dara calon indukan yang sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status praesen sapi bali dara umur  6-18 bulan yang meliputi temperatur tubuh, frekuensi pulsus, frekuensi respirasi, dan frekuensi detak jantung. Status praesen ini penting untuk mengetahui status kesehatan sapi bali dara. Penelitian ini menggunakan 20 ekor sapi bali dara dengan kelompok umur 6-12 bulan sebanyak 10 ekor dan 12-18 bulan sebanyak 10 ekor. Pengukuran status praesen dilakukan pada pagi, siang, dan sore hari. Hasil pengukuran status praesen rataan temperatur tubuh 38,38 ± 0,60°C, frekuensi pulsus 75,55 ± 5,99 x/menit, frekuensi respirasi 20,67 ± 2,28 x/menit, frekuensi detak jantung adalah 76,22 ± 6,33 x/menit. Status praesen ini  diharapkan dapat digunakan sebagai acuan status praesen sapi bali dara yang meliputi temperatur tubuh, frekuensi pulsus, frekuensi respirasi, dan frekuensi detak jantung.
Gambaran Fisik Pemeriksaan Post-Mortem Organ Jantung, Paru-paru dan Hati Sapi Bali yang Berasal dari Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran Kota Denpasar Apriyani, Ester Muki; Swacita, Ida Bagus Ngurah; Suada, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (2) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.567 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.2.106

Abstract

Jeroan merupakan komponen sisa karkas berupa organ internal hewan yang masih layak dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang gambaran fisik pemeriksaan post-mortem organ sapi Bali yang berasal dari Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran Kota Denpasar. Sampel organ dari 90 ekor sapi diperiksa secara post mortem dengan cara inspeksi, palpasi, insisi serta mengamati tanda-tanda patologis penyakit pada organ jantung, paru-paru dan hati. Data penelitian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseluruhan 90 sampel organ jantung dan paru-paru tidak memperlihatkan tanda-tanda patologi maupun keabnormalan lainnya. Infeksi cacing Fasciola sp. ditemukan pada 7 sampel organ hati atau sebesar 7,78% dari total 90 sampel organ hati.
Titer Antibodi Pada Anjing Ras dan Persilangan 6 Bulan Pasca Vaksinasi Rabies Dewi, Desak Made Wiga Puspita; Suardana, Ida Bagus Kade; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (2) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.659 KB)

Abstract

Cakupan vaksinasi terus ditingkatkan untuk memberantas penyakit rabies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui titer antibodi 20 ekor anjing ras dan persilangan, 6 bulan pasca vaksinasi Rabisin Merial Prancis yang dilakukan di Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Darah diambil dari vena cephalica kemudian dibiarkan agar terjadi pemisahan serum dan darah. Serum dipindahkan ke dalam eppendorf dan disentrifugasi kemudian diuji ELISA dengan metode Pusvetma, Surabaya. Hasil penelitian didapatkan bahwa 19/20 sampel (95%) memiliki antibodi protektif dengan rata-rata nilai OD 0,9 IU (nilai OD > 0,5 IU), sedangkan sisanya tidak memiliki antibodi protektif dengan nilai OD 0,4 IU. Tingginya persentase antibodi protektif, menunjukkan bahwa pelaksanaan vaksinasi telah memberikan respon imun yang baik.
Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Telur Ayam Kampung terhadap Jumlah Escherichia Coli ANRIANI LUBIS, HERTATI; RUDYANTO, MAS DJOKO; SUARJANA, I GUSTI KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol.1 (1) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.545 KB)

Abstract

Penelitian mengenai Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Telur Ayam Kampung Terhadap Jumlah Escherichia Coli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama penyimpanan telur ayam kampung terhadap jumlah bakteri Escherichia Coli serta hubungan antara pengaruh suhu dan lama penyimpanan telur ayam kampung yang terhadap jumlah bakteri Escherichia Coli.Penelitian ini menggunakan sampel telur ayam kampung sebanyak 24 butir, terdiri dari 12 butir disimpan pada suhu kamar dan 12 butir pada suhu chilling. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua perlakuan yaitu disimpan pada suhu chilling dan disimpan pada suhu kamar dengan waktu pengamatan hari ke-1, hari ke- 8, hari ke-15 dan hari ke-22 dengan 3 kali ulangan. Parameter yang diamati adalah bakteri Escherichia coli yang tumbuh pada Eosin methylen blue agar (EMBA) pada telur ayam kampung yang disimpan pada suhu chilling dan suhu kamar. Metode yang digunakan untuk menumbuhkan Escherichia coli adalah metode sebar pada media EMBA dan diinkubasi pada suhu 37OC. Data yang diperoleh dianalisis dengan Sidik Ragam, apabila hasilnya berbeda nyata dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan telur ayam kampung pada suhu kamar jumlah Escherichia coli lebih banyak dibanding disimpan pada suhu chilling dan Interaksi suhu dan lama penyimpanan telur ayam kampung terhadap jumlah Escherichia coli, berdasarkan hasil uji Sidik Ragam menunjukkan bahwa berpengaruh sangat nyata ( <0,01 ) terhadap jumlah Esherichia coli.
Isolasi dan Identifikasi Oosista Toxoplasma Gondii pada Feses Kucing dengan Metode Pengapungan Gula Sheater Joy Simamora, Adven Three Any; Suratma, Nyoman Adi; Apsari, Ida Ayu Pasti
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (2) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.202 KB)

Abstract

Kucing merupakan hewan kesayangan yang sangat banyak digemari oleh masyarakat untuk dipelihara namun banyak juga yang hidup liar. Hampir setiap individu hewan khususnya kucing dapat terinfeksi parasit, salah satunya adalah parasit Toxoplasma gondii. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi Oosista T. gondii dengan menggunakan metode pengapungan gula sheater dan mengidentifikasi Oosista T.gondii berdasarkan morfologi dan morfometrinya. Penelitian ini menggunakan 35 sampel feses kucing yang diambil dari sejumalah pasar dan sekitar perumahan di Denpasar. Hasil penelitian mendapatkan, 35 sampel feses yang digunakan ditemukan satu sampel yang positif terinfeksi Oosista T.gondii. Dasar identifikasi Oosista yang ditemukan, morfologinya berbentuk lonjong, memiliki dinding yang jelas dan terdapat dua sporokista yang masing-masing berisi empat sporozoit, dan morfometrinya ukuran Oosista dengan 9,37 x 11,25µm. Metode pengapungan gula sheater dapat dipakai untuk isolasi oosista T.gondii.
Prevalensi Benda Asing pada Rumen Sapi Bali yang Disembelih di Rumah Potong Hewan Kota Denpasar Indahyani, Ni Made Dwi; Adnyana, Ida Bagus Windia; Kardena, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (3) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.851 KB)

Abstract

Pada era modern seperti saat ini banyak pergeseran lokasi penggembalaan sapi. Padang rumput yang dahulunya banyak tersedia, seiring dengan berjalannya waktu telah banyak yang berubah fungsi menjadi hal lain. Salah satunya adalah sebagai tempat pembuangan akhir. Sapi yang seharusnya digembalakan di padang rumput justru banyak dibebasliarkan mencari pakan di tumpukan sampah. Dengan demikian, benda asing yang ada di tumpukan sampah termakan. Benda asing adalah benda yang tidak seharusnya berada di dalam organ maupun tubuh hewan. Benda asing yang terdapat di suatu jaringan atau organ tubuh akan menyebabkan terganggunya fisiologis organ atau jaringan tersebut. Benda asing yang tertelan oleh ternak sapi dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu logam dan non-logam. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 200 ekor sapi bali potong yang disembelih di Rumah Potong Hewan Kota Denpasar periode bulan Mei-Juni 2015. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh melalui observasi langsung pada rumen sapi bali yang telah disembelih. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi observasional dengan metode random sampling. Sampel rumen diamati dan dicatat hasilnya kemudian disajikan secara deskriptif. Prevalensi benda asing pada rumen sapi yang dipotong di Rumah Potong Hewan Kota Denpasar Periode Mei-Juni 2015 adalah 22% (44 dari 200 ekor). Tidak cukup bukti untuk menyatakan adanya hubungan (asosiasi) antara jenis kelamin, umur, berat badan dan asal sapi dengan temuan benda asing pada rumen sapi bali.
Prevalensi dan Intensitas Infeksi Cacing Tetrameres Spp. pada Ayam Buras di Wilayah Bukit Jimbaran, Badung Chandra, Michele; Apsari, Ida Ayu Pasti; Sulabda, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (4) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.373 KB)

Abstract

Cacing Tetrameres spp. merupakan salah satu parasit yang menyerang sistem pencernaan dan berpredileksi di dalam proventrikulus unggas. Keberadaan cacing Tetrameres spp. dalam sistem pencernaan ayam buras dapat menyebabkan anemia dan kekurusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan intensitas infeksi cacing Tetrameres spp. pada ayam buras di wilayah Bukit Jimbaran, Badung. Sampel penelitian yang digunakan adalah 110 proventrikulus ayam buras yang diambil dari wilayah Bukit Jimbaran, Badung, Bali. Cacing Tetrameres spp. dapat terlihat dari permukaan proventrikulus yang berbentuk bulat berwarna merah. Keberadaan cacing Tetrameres spp. diperiksa melalui insisi dan pemencetan bulatan berwarna merah tersebut pada permukaan proventrikulus. Intensitas cacing Tetrameres spp. dihitung per satu proventrikulus yang diperiksa. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan diuji dengan chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa prevalensi infeksi cacing Tetrameres spp. pada ayam buras di wilayah Bukit Jimbaran, Badung sebesar 33,6%. Prevalensi infeksi pada ayam buras jantan sebesar 30,0% dan pada ayam buras betina 35,0%. Jenis kelamin ayam buras tidak ada hubungan (P>0,05) dengan prevalensi infeksi cacing Tetrameres spp. Intensitas infeksi yang ditemukan sebanyak 1 – 25 (6,4 + 5,9) ekor cacing Tetrameres spp. per ayam yang terinfeksi.
Studi Kasus: Operasi Penanganan Hernia Umbilikalis pada Anjing Ras Campuran Pomeranian Antari, Gusti Ayu Made Sri; Wirata, I Wayan; Wardhita, Anak Agung Gde Jaya
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (6) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.492 KB)

Abstract

Hernia merupakan suatu kejadian organ visceral abdominal keluar melalui suatu lubang (gerbang) dan masuk ke dalam suatu kantong yang terdiri dari peritoneum, tunica flava dan kulit. Ada berbagai jenis hernia, salah satunya yang sering dijumpai yaitu hernia umbilicalis. Hernia umbilicalis adalah cacat anatomis karena otot–otot di sekitar umbilicus tidak menyatu dan tetap terpisah sehingga bagian dari usus menonjol dari rongga perut. Adapun tujuan penulisan studi kasus ini adalah untuk mengetahui cara mendiagnosis penanganan dan pengobatan kasus hernia umbilikalis pada anjing. Seekor anjing ras campuran Pomeranian bernama Comel yang berumur empat4 tahun, dengan bobot 6,7 kg berjenis kelamin jantan, didiagnosis menderita hernia umbilikalis dengan prognosis fausta. Sebelum dilakukan tindakan, anjing kasus diberikan premedikasi menggunakan preparat atropine sulfat (1ml) dan sebagai anestesi digunakan ketamine (0,6ml) yang dikombinasikan dengan Xylazin (1ml). Anjing ditangani dengan pembedahan, Insisi dilakukan pada kulit dan subkutan tepat di atas dari cincin hernia hingga terlihat isi hernia. Selanjutnya dilakukan reposisi dengan cara memasukkan isi hernia ke dalam rongga abdomen. kemudian dilakukan penjahitan pada peritoneum, sub cutan dan kulit dengan benang polyglycolic acid 3.0. Pasca operasi diberikan antibiotik injeksi sebanyak 0,5ml (Betamox) yang dilanjutkan dengan pemberian obat jalan dengan antibiotik sirup 15ml/hari (Yusimox syr), pemberian asam mefenamat 2x¼ tab, dan vitamin B complex 1x1tab (livron B plex). Satu minggu pasca operasi anjing dinyatakan sembuh dengan luka operasi yang sudah kering dan menyatu.

Page 4 of 85 | Total Record : 843