cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
FKIP e-PROCEEDING
Published by Universitas Jember
ISSN : 25275917     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN BAHASA MADURA DI SEKOLAH Akhmad Sofyan
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan problematika pembelajaran Bahasa Madura di sekolah selama ini serta mencari solusi atas problematika tersebut. Problematika pembelajaran BM di sekolah secara umum bersumber dari 2 persoalan pokok, yakni ketersediaan bahan ajar dan kompetensi pengajar. Kedua persoalan pokok tersebut harus segera ditangani secara sinergis dan simultan. Dalam hal ketersediaan bahan ajar, sampai sekarang belum ada buku pegangan yang dapat digunakan sebagai materi pembelajaran BM yang lengkap, praktis, dan mudah. Untuk itu, perlu segera disusun buku ajar BM yang materinya: lebih mudah dipelajari baik oleh guru maupun oleh siswa, sesuai dengan GBPP, dan sesuai dengan tingkat sekolah. Dalam hal kompetensi pengajar, saat ini, tidak seorang pun guru yang memiliki kompetensi sebagai guru BM. Tidak jarang pembelajaran BM di banyak sekolah dilakukan oleh guru yang ketika bersekolah dulu tidak mendapatkan pelajaran BM. Bahkan di beberapa sekolah ada guru yang bukan penutur asli BM. Untuk mengantisipasi problematika ketersediaan guru BM, perlu segera dilakukan pembukaan Jurusan Pendidikan Bahasa Madura di perguruan tinggi di Jawa Timur. Kata-kata Kunci: guru, kompetensi, pembinaan, regenerasi, dan solusi.
PENGEMBANGAN SIKAP BAHASA MELALUI PENDIDIKAN FORMAL: RESPON TERHADAP PEMINATAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA ASING Arju Muti’ah
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Semakin meluasnya minat masyarakat dunia terhadap bahasa Indonesia tentu patut kita apresiasi karena hal tersebut menandakan bahasa Indonesia telah diperhitungkan sebagai salah satu bahasa yang penting dalam konteks komunikasi global. Namun demikian, kita perlu lebih cermat dalam melihat motif dari peminatan terhadap bahasa Indonesia tersebut. Bahasa Indonesia dipelajari karena kebutuhan mendapatkan pekerjaan di Indonesia. Fenomena tersebut tentu akan diikuti masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia , lebih-lebih pasar bebas di kawasan Asia telah terbuka lebar. Bahasa Indonesia juga dipelajari untuk mendapatkan wawasan yang komprehensif tentang Indonesia. Kondisi ini tidak didukung oleh sikap yang positif sebagian masyarakat terhadap bahasa Indonesia. Melalui pendekatan interdisipliner dilakukan kajian deskriptif evaluatif dengan tujuan menyajikan gambaran sikap bahasa masyarakat Indonesia di tengah semakin meluasnya minat dan perhatian masyarakat dunia terhadap bahasa Indonesia beserta gagasan pengembangan sikap bahasa melalui pendidikan formal sebagai upaya antisipatif dalam merespon dampak perluasan peminatan tersebut. Lembaga pendidikan formal, dalam hal ini sekolah dan perguruan tinggi, dipandang sebagai tempat yang tepat bagi pengembangan sikap bahasa. Upaya pengembangan ini dapat ditempuh melalui optimalisasi peran dan partisipasi semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan program sekolah. Kata-kata Kunci: sekolah, sikap bahasa, bahasa Indonesia, bahasa nasional, masyarakat dunia
HIBRIDITAS MULTIKULTURAL DALAM SASTRA INDONESIA Novi Anoegrajekti; Sudartomo Macaryus
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Identitas budaya yang lintas batas terefleksi utuh melalui modifikasi bahasa dan sastra. Keterbukaan dalam menerima pluralitas dan multikulturalitas dapat membuka ruang-ruang pemahaman identitas budaya yang majemuk. Sebagai sebuah produk, budaya hibrid dalam karya sastra Indonesia merupakan bentuk perpaduan dan harmonisasi yang diciptakan dalam mempertemukan modernitas dan lokalitas dalam ruang negosiasi yang terus-menerus. Kata-kata mendeskripsi kenyataan kehidupan manusia. Tetapi kata-kata juga mempunyai kekuatan menciptakan dan membentuk realita. Kata-kata kaum yang kuat mengandung kekuatan lebih besar dari kata-kata kaum yang lemah. Dan memang, sangat sering kaum lemah menggambarkan diri mereka dalam kata-kata ciptaan kaum kuat. Kata-kata Kunci: sastra, hibriditas, multikultural
PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN SASTRA INDONESIA DI ERA GLOBALISASI Ypsi Soeria Soemantri
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Dalam era globalisasi ini, media sosial di dunia berkembang dengan sangat pesat, informasi dari dunia global sangat mudah ditangkap oleh media sosial di dalam negeri. Pelajar-pelajar Indonesia akan menerima informasi global dari berbagai media,terutama dari internet dan televisi. Masuknya film-film dari budaya asing seperti Jepang, Korea, Amerika Serikat, Rusia dan lain-lain akan memberikan dampak negatif pada pelajar-pelajar Indonesia. Pembentukan karakter pelajar-pelajar Indonesia selayaknya diperoleh dari karya-karya yang diciptakan oleh pengarang Indonesia dengan budaya Indonesia, sehingga anak-anak Indonesia menghargai budaya dan karakter bangsanya. Para pelajar Indonesia, terutama di sekolah menengah mendapatkan pelajaran kesusastraan Bahasa Indonesia, namun apakah cukup seimbang dengan budaya asing yang masuk melalui media sosial. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan ciri-ciri pendidikan karakter melalui karya sastra yang perlu diterapkan di Indonesia di era globalisasi ini dan mendeskripsikan strategi yang digunakan dalam mengajarkan pendidikan karakter pada pelajar di Indonesia. Teori yang digunakan adalah teori dari Prof Nyoman Kutha Ratna (2014) dan Rahyono (2015). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif-analisis. Sumber data diambil dari buku-buku Sastra Indonesia yang digunakan di sekolah menengah dan dari internet. Kata-kata Kunci: pendidikan karakter, sastra indonesia, media sosial, pelajar, era globalisasi
MEDIA VIDEO EMOTIF SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN PUISI M. Syirojudin A’malina Wijaya
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk memaparkan pemanfaatan media elektonik sebagai sarana pendidikan karakter pada siswa. Pendidikan karakter merupakan proses pembentukan karakter yang memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosional, spiritualitas, dan kepribadian seseorang. Dengan cara menampilkan media video emotif diharapkan dapat merangsang rasa emosional pada diri siswa. Rangsangan emosi yang mengena pada diri siswa akan tersimpan kuat pada ingatan siswa sehingga dapat membentuk karakter pada diri siswa. Video emotif adalah media yang menyajikan audio dan visual yang bersifat menimbulkan emosi pada diri siswa. Media video emotif sangat cocok untuk ditampilkan pada saat pembelajaran puisi. Puisi yang merupakan karya sastra yang mewakili ekspresi perasaan penulisnya. Sehingga media video emotif dapat ditampilkan pada saat pembelajaran puisi, serta sifat video emotif yang menggunah rasa emosional dapat digunakan sebagai sarana pendidikan karakter pada diri siswa. Kata-kata Kunci: media video emotif, pendidikan karakter, puisi
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA (TULIS) MAHASISWA BIPA TINGKAT LANJUT UNIVERSITAS YALE, USA Esra Nelvi Siagian
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Tujuan utama dan akhir pembelajaran bahasa asing adalah membekali pembelajar dengan kemahiran berkomunikasi. Menulis merupakan bentuk perwujudan komunikasi tidak langsung, tidak bertatap muka dengan orang lain. Untuk itu dituntut memperhatikan struktur yang berkaitan dengan unsur-unsur tulisan agar pembaca dapat memahami pesan yang disampaikan oleh penulis.Tulisan yang baik memiliki ciri jelas, kesatuan dan organisasi, ekonomis, dan pemakaian bahasa dapat diterima.Kemampuan menulis mahasiswa BIPA Universitas Yale sudah cukup baik, tetapi masih memiliki kekurangan-kekurangan.Hal tersebut terjadi karena faktor dari diri pembelajar, seperti adanya pengaruh bahasa ibu (Inggris), minimnya penguasaan kaidah bahasa Indonesia, dan terbatasnya penguasaan perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peta kesulitan khususnya dalam kaidah bahasa Indonesia yang dialami oleh mahasiswa tingkat lanjut. Hal ini sangat bermanfaat bagi pengajar BIPA agar dapat menyusun materi ajar yang tepat sehingga mahasiswa mahir menggunakannya khususnya dalam bahasa tulis. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Jumlah tulisan yang akan dianalisis sebanyak 18 tulisan (hasil tulisan 18 mahasiswa, satu kelas) dari kelas tingkat lanjut disebut kelas L5. Adapun tulisan mahasiswa yang akan dianalisis bertema ‘Musik dan Lagu Indonesia”.Kesalahan aspek berbahasa pada tulisan mahasiswa yang paling banyak adalah sebagai berikut: 1) pilihan kata; 2) stuktur kalimat; 3) kalimat tidak efektif; dan 4) ragam lisan. Kata-kata Kunci: analisis kesalahan berbahasa, mahasiswa BIPA, tingkat lanjut, Universitas Yale
MEMBACA EFEREN-AESTETIK: UPAYA PEMINATAN PEMBELAJARAN BAHASA LINTAS KURIKULUM Rusdhianti Wuryaningrum
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Pada era global, pembelajaran keterampilan berbahasa merupakan piranti penting untuk memahamkan beragam ilmu pengetahuan. Konteks pembelajaran lintas kurikulum merupakan salah satu upaya mencapai kompetensi pembelajaran secara harafiah. Dengan kesuksesan keterampilan berbahasa, kemampuan pebelajar dalam berbagai ranah dapat ditingkatkan secara maksimal. Kegiatan tersebut merupakan upaya menggali potensi keterampilan bahasa siswa dalam memahami materi pembelajaran melalui penangkapan maksud bacaan. Definisi membaca kini berkembang sebagai upaya penangkapan makna dari bahan bacaan dengan pelibatan unsur grafafonik, sintaktis, dan semantik; pelibatan pengetahuan dan pengalaman diri dan konteks kehidupan pembaca. Realisasinya terdapat dalam kegiatan Membaca Eferen-Aestetik (MEA) atau efferent-aesthetic reading. Dalam pembelajaran di Sekolah Dasar (SD), kegiatan MEA diterapkan pada berbagai bahan materi, salah satunya pada Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Pada kegiatan membaca tersebut terdapat pola-pola yang diterapkan sebagai upaya making connection in reading yang dilakukan dengan menghubungkan text-to-self, text-to-text, dan text-to-world. Kata-kata Kunci: membaca eferen-aestetik, wacana lingkungan hidup
KEBERADAAN SASTRA ‘HANYA’ UNTUK MENDUKUNG MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KURIKULUM 2013 (Sebuah Telaah Materi Teks Cerita Pendek dalam Buku Bahasa Indonesia, Ekspresi Diri dan Akademik untuk Kelas XI SMA, Semester 1) Elfi Mariatul Mahmuda
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Sejak Kurikulum 2013 diberlakukan pembelajaran bahasa Indonesia menerapkan pendekatan saintifik. Di samping itu bahasa Indonesia pun diajarkan dengan berbasis teks. Pada jenjang SMA ada tiga teks bermateri sastra dari 15 yang di ajarkan, yaitu cerita pendek, teks pantun, dan teks cerita fiksi dalam novel. Ketiga teks sastra itu dipelajari berdasarkan struktur teks dan kaidah kebahasaannya. Dengan demikian tidak ada lagi pembelajaran khusus sastra karena materi ini menjadi bagian mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ini berarti teks-teks sastra itu ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berbahasa bukan terhadap sastra. Bahasa sastra dengan nonsastra memiliki perbedaan sehingga dalam pembelajarannya pun akan memiliki strategi yang berbeda pula. Ini sebuah fenomena yang menarik karena dalam Kurikulum 2013 semua mata pelajaran menggunakan pendekatan saintifik dalam pembelajarannya. Dengan pendekatan kualitatif peneliti mengkaji bagaimana bahan pembelajaran sastra khususnya teks cerita pendek dijabarkan dalam buku berbasis Kurikulum 2013 diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, berjudul Bahasa Indonesia, Ekspresi Diri dan Akademik untuk SMA, Kelas XI Semester 1. Dengan menelaah materi teks sastra pada buku ini, akan diperoleh alternatif pembelajaran sastra khususnya teks cerita pendek di SMA. Kata-kata Kunci: kurikulum 2013, pendekatan saintifik, pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks, sastra, cerpen
INFERENSI DAN PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN ANALISIS WACANA Surana Surana
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Problematika Pembelajaran Inferensi terletak pada kemiripan istilah Inferensi dengan Presuposisi dan Implikatur dalam konteks Analisis Wacana. Inferensi atau Inference secara leksikal berarti kesimpulan. Dalam bidang wacana, istilah tersebut memiliki arti sebuah proses yang harus dilakukan pembaca atau pendengar untuk memahami makna yang secara harfiah tidak terdapat didalam wacana yang diungkapkan oleh pembicara atau penulis. Pembaca harus dapat mengambil pengertian, pemahaman, atau penafsiran suatu makna tertentu dan harus sesuai dengan pemahaman penulis/pembicara. Dengan kata lain, pembaca harus mampu mengambil kesimpulan sendiri. Sedangkan Presuposisi atau praanggapan penggunaannya juga ditujukan kepada pendengar yang menurut pembicara, memiliki pengetahuan seperti yang dimiliki pembicara. Adapun Implikatur mengindikasikan implikasi dari sebuah percakapan yang dapat bermuara dan bertautan dengan Inferensi-Presuposisi. Hal yang lebih mendukung penafsiran makna yang terdapat pada unsur wacana, lebih tepatnya konteks wacana yang mendukung teks wacana. Presuposisi lebih didukung dan ditentukan oleh unsur internal dari wacana. Jadi, Unsur internal wacana menentukan dan mendukung penafsiran makna suatu wacana. Sedangkan, implikatur diartikan sebagai maksud yang tersembunyi, yang diambil dari proses penyimpulan dan penafsiran yang kebenarannya tidak mutlak. Mengingat dasar penyimpulan suatu tuturan yang memiliki banyak kemungkinan. Kata-kata Kunci: inferensi, problematika pembelajaran, analisis wacana
IDENTITAS KEINDONESIAAN DALAM DRAMA INDONESIA TAHUN 70-AN: SEBUAH PEMBACAAN NEW HISTORICISM Lina Meilinawati Rahayu
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Tulisan ini ingin membuktikan bahwa identitas sebuah bangsa dapat dibaca melalui karya sastra. New Historicism berkeyakinan bahwa selalu ada kaitan antara teks dan sejarah. Pemikiran ini memberi persfektif bahwa “kenyataan sejarah” tidak lagi tunggal dan absolut, tetapi bisa bermacam-macam versi dan sudut pandang. Tulisan ini akan mendeskrispkan “identitas keindonesiaan” dalam drama Indonesia tahun 70-an. Dalam konteks demikian teks sastra Indonesia yang merefleksikan sejarah Indonesia dapat diposisikan sebagai pembacaan sejarah dari versi yang lain. Oleh karena itu, perspektif new historicism menjadi tepat digunakan untuk mendedah fenomena teks sastra yang demikian: yakni, dengan cara menyuguhkan kenyataan-kenyataan di luar teks sejarah yang mainstream. Pendekatan new historicism tidak memisahkan karya sastra dengan pengarangnya, juga tidak memisahkan karya sastra itu dengan konteks zamannya. Teks yang dijadikan objek penelitian adalah Ben Go Tun (1977) karya Saini K.M. dan Topeng (1972) Karya Ikranagara. Teks sengaja dipilih yang terbit awal tahun 70-an dan akhir tahun 70-an agar identitas dalam rentang sepuluh tahun bisa dibandingkan sehingga dapat memberi gambaran bagaimana Indonesia dalam kurun waktu tersebut. Dari analisis kedua drama tersebut menunjukkan bahwa ketimpangan sosial menjadi menjadi masalah utama. Kata-kata Kunci: sejarah, drama, identitas, keindonesiaan, new historicism

Page 6 of 56 | Total Record : 552