cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
FKIP e-PROCEEDING
Published by Universitas Jember
ISSN : 25275917     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
PEMBELAJARAN MACAPAT SEBAGAI UPAYA MELESTARIKAN KEARIFAN LOKAL MADURA Syaiful Arif Wahyudi; Rini Eka Setyawati
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Salah satu masalah yang perlu mendapatkan perhatian di era globalisasi adalah masalah identitas kebangsaan. Derasnya arus globalisasi dikhawatirkan berdampak pada terkikisnya rasa kecintaan terhadap sastra daerah. Agar eksistensi sastra daerah tetap kukuh, maka perlu penanaman terhadap sastra daerah melalui pembelajaran. Pembelajaran karya sastra lisan macapat melalui pembelajaran muatan lokal merupakan salah satu upaya untuk mengenalkan budaya. Tembang macapat merupakan karya sastrawan Madura yang mengandung nilai-nilai local wisdom (kearifan lokal) Madura. Melalu tembang macapat tersebut para sesepuh madura memberikan pendidikan moral dengan cara menyiratkan nilai-nilai yang arif dan adi luhur dalam syair-syair teks tembang macapat untuk mencetak generasi yang bermoral dan berakhlak. Dengan demikian, pada era globalisasi ini perlu perhatian khusus terhadap sastra daerah. Kata-kata Kunci: pembelajaran, macapat, kearifan lokal
MANUSIA INDONESIA DI ERA GLOBAL: REFLEKSI IDENTITAS DALAM NOVEL BURUNG-BURUNG RANTAU KARYA Y.B. MANGUNWIJAYA Akhmad Taufiq
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Globalisasi mengandaikan hadirnya problem identitas sebagai isu utama yang menarik untuk dilakukan kajian. Tulisan ini dimaksudkan untuk menjelaskan problem identitas itu, yang secara khusus berkenaan dengan refleksi identitas manusia Indonesia di era global. Dengan metode deskriptif-kualitatif-reflektif, penelitian ini berusaha secara akademis mendeskripsikan data berupa teks dalam novel Burung-burung Rantau karya Y.B. Mangunwijaya, yang kemudian diikuti dengan proses merefleksikannya secara lebih dalam. Selanjutnya, hasil penelitian ini menyatakan tiga hal sebagai temuannya. Pertama, transformasi manusia Indonesia di era global mengandaikan kesadaran transformatif yang dibutuhkan dalam rangka melakukan adaptasi dan strategi atas globalisasi yang dihadapi. Kedua, kesadaran atas dunia yang sedang berubah dan bergerak tersebut melahirkan kegalauan identitas bagi manusia Indonesia, yang pada proses berikutnya melakukan pencarian identitas sebagai akibat dari kegalauan atas identitas yang diterimanya. Ketiga, kesadaran bahwa manusia Indonesia adalah manusia pascanasional merupakan bentuk kesadaran transformatif. Sebagai implikasinya, menuntut manusia Indonesia memiliki sikap yang terbuka dalam interaksi global yang tidak dapat dihindarinya. Kata-kata Kunci: manusia Indonesia, refleksi identitas, era global, novel burung-burung rantau
MENDUNIAKAN BAHASA INDONESIA DENGAN MENGINDONESIAKANNYA M. Rus Andianto
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Kemungkinan dan harapan bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional berhadapan dengan situasi ironis paradoksal. Meskipun banyak negara lain yang bersemangat menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua, justru banyak sekali orang Indonesia sendiri memperlakukannya dengan kurang simpatik, yang di antaranya dengan lebih menonjolkan unsur-unsur bahasa asing. Akibatnya, bahasa Indonesia terkesan kurang meng-Indonesia. Oleh karena itu, untuk menjadikannya sebagai bahasa internasional atau Menduniakannya, bangsa Indonesia harus meng-Indonesiakannya dengan “mantap”, “cantik”, dan “menarik”. “Mantap” berkenaan dengan penerapan kaidah semantik dan gramatikal serta prinsip pragmatik kerjasama, sedangkan “cantik” terkait dengan penerapan prinsip pragmatik sopan santun, sedangkan “menarik” bergayut dengan penyajian substansial keeksotikaan alam dan budaya Indonesia. Kata-kata Kunci: bahasa indonesia, global, pragmatik
PEMBENTUKAN KARAKTER KRITIS DAN KREATIF MELALUI PEMBELAJARAN BAHASA DAN KETELADANAN GURU BAHASA Agustinus Indradi
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Dalam perkembangan dunia yang begitu pesat, dibutuhkan orang-orang yang memiliki karakter kritis dan kreatif. Pembentukan kedua karakter tersebut bisa dikembangkan melalui proses pendidikan, yang salah satunya melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia. Karakter kritis dan kreatif siswa bisa dikembangkan melalui proses pembiasaan, baik melalui pembelajaran maupun pemerolehan. Proses pembelajaran terjadi secara sengaja di dalam kelas, sedangkan proses pemerolehan terjadi secara alami melalui apa yang dilihat siswa pada gurunya. Sama halnya dengan orang yang belajar bahasa, apa yang didapat melalui pemerolehan akan lebih membekas daripada yang didapat melalui pembelajaran. Pembelajaran membaca dan menulis bisa dipakai sebagai sarana mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa. Pembelajaran membaca bisa banyak membantu dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan pembelajaran menulis bisa banyak membantu mengembangkan kemampuan berpikir kreatif. Tetapi apabila dalam pembelajaran menulis, guru tidak bisa berperan sebagai model yang bisa dijadikan teladan dalam hal menulis, kiranya kreativitas menulis dari siswa sulit untuk dikembangkan secara maksimal. Oleh karena itu, guru Bahasa Indonesia tidak cukup bisa menyampaikan teori bahasa dengan bagus, tetapi juga harus mampu menjadi model dalam menghasilkan karya tulis yang baik. Kata-kata Kunci: pembelajaran, pemerolehan, karakter, kritis, kreatif
AKTUALISASI TTB (TEORI TAKSONOMI BLOOM) MELALUI DRAMA KEPAHLAWANAN GUNA PENANAMAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA PESERTA DIDIK Farhan Aziz; Fajrin Nurjanah; Dyah Permata Sari
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran pengoptimalan implementasi pendidikan karakter dalam pelajaran Bahasa Indonesia, dengan menggunakan teori Taksonomi Bloom. Pendidikan merupakan proses pembentukan sikap dan tingkah laku seseorang maupun kelompok menjadi lebih baik. Pendidikan dilakukan melalui upaya pengajaran dan pelatihan oleh pendidik. Dalam hal ini, 3 ranah yang menjadi acuan dalam mendidik, yaitu (i) kognitif, (ii) afektif, (iii) dan psikomotorik. Akan tetapi, umumnya peserta didik tidak menguasai 3 aspek tersebut secara proporsional, sehingga berdampak pada ketidakseimbangan perkembangan kecerdasan peserta didik. Praktik pementasan drama sebagai salah satu upaya dalam pembentukan karakter peserta didik, menjadi salah satu pilihan tepat untuk mengatasi ketidakseimbangan tersebut. Drama, menurut Balthazar Verhagen adalah kesenian yang melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak. (Suroso, 2015). Pembelajaran drama dilaksanakan dengan cara mewajibkan peserta didik untuk menulis naskah tentang kisah pejuang kemerdekaan Negara Indonesia. Kemudian, guru membentuk 6 kelompok dan memilih 6 naskah terbaik untuk ditampilkan oleh peserta didik. Proses pementasan drama yang meliputi latihan hingga pementasan, akan mendorong terwujudnya perkembangan kecerdasan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik dengan simultan dan signifikan. Lebih dari itu, dengan mementaskan kisah para pejuang kemerdekaan, akan membentuk karakter peserta didik yang cinta akan tanah air dan siap untuk menghadapi era globalisasi. Kata-kata Kunci : taksonomi Bloom, pementasan drama, pendidikan karakter
CERITA-CERITA AIR DI KAWASAN PANTURA JAWA TIMUR: Pola Kekerabatan Sastra dan Paradoks Teks-Konteks Mashuri, Mashuri
FKIP e-PROCEEDING 2018: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #4 EKSPLORASI BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA JAWA TIMURAN SEBAGAI UPAYA
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian cerita-cerita air di Pantai Utara (Pantura) Jawa Timur ini menggunakan elaborasi teori tipe­motif, arkeo-genealogi pengetahuan, dan tafsir kebudayaan. Tujuannya untuk memperoleh pola kekerabatan cerita-cerita air di subkultur pesisiran dan paradoks teks-konteks seputar kesenjangan dan keretakan epistemologis dalam kesejarahan dan tafsir sosiokulturalnya. Dalam hal ini digunakan metode perbandingan. Hasilnya, dari rekonstruksi tiga puluh cerita air di Kabupaten Tuban, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Gresik, dan Kota Surabaya ditemukan lima tipe-motif yang menjadi penanda kekerabatan, meliputi berdasar benda, tabu/larangan, hewan luar biasa, suatu perbuatan/ujian, dan tipe orang tertentu. Beberapa cerita air menyimpan paradoks teks-konteks, karena terdapat pemaknaan yang menyimpang dan bertolakbelakang antara cerita dengan konteks, yang meliputi sakralitas sebagai ancaman, nilai-nilai penjaga lingkungan yang tak berlaku, dan tabu yang dilanggar. Paradoks tersebut muncul setelah melewati proses panjang dalam dialektika waktu dan ruang, sehingga menempatkan cerita air yang berfungsi sebagai memori kolektif dan parameter ideal berposisi ambivalen. Jarak cerita air dengan mesyarakat terkesan karib sekaligus berjarak, bahkan melampaui kondisi­kondisi riilnya, karena berada di jalan silang atau ruang lain dalam tarikan berbagai kepentingan di masyarakat. Dengan menguak paradoks cerita-cerita air, dapat diketahui problem sosiokultural yang bisa dijadikan sebagai modal pembelajaran dalam memahami tradisi dan warisan terkait dengan kesinambungan tata nilai dan kelestarian ekologi, sekaligus berikhtiar menjadikannya sebagai konklusi strategis seiring dengan perubahan, perkembangan dan semangat zaman. Kata kunci: cerita air, Pantai Utara Jawa, pola kekerabatan sastra, paradoks sosiokultur
MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR BAHASA RUSIA Susi Machdalena
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Bahasa Indonesia dewasa ini banyak diminati oleh banyak negara di dunia. Hal ini terlihat salah satunya dari banyaknya permintaan pengajar yang berkualifikasi doctor ( khususnya dalam bidang bahasa Indonesia) untuk mengajar bahasa Indonesia di luar negeri. Permintaan ini masuk ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia melalui kedutaan-kedutaan besar Indonesia di berbagai negara. Salah satu Negara yang selalu meminta pengajar bahasa Indonesia adalah Rusia. Untuk mempelajari bahasa Indonesia penutur bahasa Rusia memiliki cara atau model tersendiri mengingat bahasa Rusia merupakan bahasa berfleksi dan mereka terbiasa dengan berbagai macam aturan bahasa yang kompleks dan teratur. Model-model yang digunakan adalah model pengajaran bahasa yang dimulai dengan sejarah bahasa Indonesia secara singkat lalu bunyi-bunyi huruf dalam alfabet bahasa Indonesia, lalu bunyi-bunyi huruf dan cara-cara pengucapannya serta contoh-contoh katanya. Pengajaran vokal diftong akan mendapat perhatian lebih daripada pengucapan huruf-huruf lain. Selain itu, bunyi /ng/ mendapat perhatian lebih juga karena bunyi-bunyi ini tidak terdapat dalam bahasa Rusia, misalnya, kata angin akan dibaca /an gin/. Suku kata perlu diajarkan lebih awal, lalu latihan pengucapan dengan kata-kata yang sudah dibagi ke dalam suku kata. Teks dipelajari agar pengucapan kata yang berada dalam kalimat-kalimat pendek dapat dihafal tanpa mengetahui gramatika bahasa Indonesia terlebih dahulu. Setelah menguasai kosa kata mulai dipelajari tata bahasa dan kalimat-kalimat sederhana. Kelas kata yang pertama diajarkan adalah nomina, preposisi lalu pembentukan kata dengan prefiks-prefiks secara bertahap, verba refleksif, kontruksi-konstruksi kalimat dengan modal harus, dapat, bisa, kalaimat-kalimat yang menyatakan etika berbicara sampai pada semua pembetukan kata dengan prefiksasi sufikasasi dan konstruksi kalimat majemuk koordinatif dan subordinatif. Pelajaran gramatika dalam seminggu diberikan tiga kali pertemuan, sedangkan latihan dan bacaan diberikan 5 kali dalam seminggu. Dengan jumlah mahasiswa yang sangat ideal antara 6 -12 orang dalam satu grup serta kualifikasi dosen yang sangat tinggi maka target pendidikan akan tercapai dengan sangat baik. Dari pengamatan selama enam tahun di Institut Asii i Afriki di Moskow hasil belajar mahasiswa tercapai 100%. Semua mahasiswa yang lulus dari institute tersebut memiliki kemampuan bahasa Indonesia yang baik dan siap untuk bekerja dibidangnya. Kata-kata Kunci: BIPA, model pembelajaran, Rusia
KEEFEKTIFAN KALIMAT DITINJAU DARI KESATUAN DAN KEHEMATAN PADA ABSTRAK MAHASISWA PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BALI I Putu Gede Sutrisna; Ni Kadek Ary Susandi; Nyoman Dharma Wisnawa
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) kesatuan kalimat pada abstrak mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan STIKES Bali, (2) kehematan kalimat pada abstrak mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan STIKES Bali. Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti menggunakan rancangan deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah abstrak pada skripsi mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan STIKES Bali terbitan tahun 2015. Objek yang dikaji dalam penelitian ini adalah keefektifan kalimat ditinjau dari kesatuan dan kehematan. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dan wawancara. Data dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari 30 sampel abstrak yang dianalisis, diperoleh hasil yang sangat efektif mengenai keefektifan kalimat pada abstrak ditinjau dari segi kesatuan dan kehematan kalimat. Kesangat-efektifan kalimat pada abstrak mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan STIKES Bali ditunjukkan oleh skor yang diperoleh dari analisis yang dilakukan, yaitu sebesar 97. Untuk itu, dapat disimpulkan bahwa kalimat pada abstrak mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan STIKES Bali tergolong sangat efektif ditinjau dari segi kesatuan dan kehematan kalimat. Kata-kata Kunci: keefektifan kalimat, abstrak
FUNGSI BAHASA DALAM LIRIK LAGU ANAK-ANAK Eka Nova Ali Vardani
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Lirik lagu anak-anak dengan menggunakan bahasa sebagai media, yang merupakan lahan subur bagi kajian fungsi bahasa menurut Halliday. Untuk itu, penelitian ini mencoba mengambil bagian dalam mengkaji terhadap sepuluh lirik lagu anak-anak, yang tentunya dengan pendekatan yang berbeda yaitu dengan melihat fungsi bahasa pada lirik lagu anak-anak. Kajian terhadap fungsi bahasa dalam lirik lagu anak-anak akan menarik jika ditinjau dari analisis wacana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama. Adapun prosedur penelitian ini terdiri dari tiga tahap, yaitu: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian. Dari sepuluh lirik lagu anak-anak yang dianalisis dengan menggunakan fungsi bahasa, hasil analisis sebagai berikut. Pertama. Terdapat dua puluh empat yang mengandung fungsi instrumental. Kedua. Terdapat delapan yang mengandung fungsi regulasi. Ketiga. Terdapat tiga puluh satu yang mengandung fungsi pemerian. Keempat. Terdapat empat yang mengandung fungsi interaksi. Kelima. Terdapat tiga belas yang mengandung fungsi perorangan. Keenam. Terdapat tujuh belas yang mengandung fungsi heuristik. Ketujuh. Terdapat sebelas yang mengandung fungsi imajinatif. Kata-kata Kunci: lirik lagu anak-anak, fungsi bahasa
PENGGUNAAN GAYA BAHASA DALAM DEBAT CALON GUBERNUR DAN CALON WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA PERIODE 2017-2022 Baiq Desi Milandari
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Bahasa dan kekuasaan memiliki hubungan yang begitu dekat. Melalui bahasa, seseorang dapat saja mempengaruhi orang lain, dalam hal ini masyarakat untuk melaksanakan apa yang menjadi tujuannya. Banyak dijumpai para pemimpin negara maupun daerah yang menggunakan bahasa untuk menunjukkan jati dirinya. Bahkan bahasa saat ini dapat dikatakan sebagai alat pencitraan diri. Pada era global seperti sekarang ini debat dapat memiliki arti begitu penting. Debat memberikan kontribusi yang sangat besar bagi kehidupan demokrasi, terutama dalam hal politik.Bahasa yang digunakan sangat mempengaruhi keberhasilan dalam debat. Oleh karena itu, dibutuhkan kecerdasan pemakaian bahasa oleh tiap-tiap pasangan calon. Pemakaian bahasa dalam debat berkaitan erat dengan penggunaan gaya bahasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gaya bahasa yang digunakan dalam debat calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif. Sumber data berasal dari video debat putaran pertama, putaran kedua, dan putaran ketiga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya bahaya yang digunakan oleh ketiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur adalah gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat dan berdasarkan langsung tidaknya makna. Gaya bahasa yang berdasarkan struktur kalimatnya, yakni antiklimaks, repetisi, antitesis. Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna, yaitu gaya bahasa retoris meliputi pleonasme, erotesis, koreksio, dan eufimisme serta gaya bahasa kiasan di antaranya alegori, personifikasi, alusi, satire, eponim, simile, dan simbolik. Kata-kata Kunci: bahasa, debat, gaya bahasa

Page 4 of 56 | Total Record : 552