cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sejarah dan Budaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 244 Documents
Antonio Vicente Marafioti Garnica (Ed). (2021). Oral History and Mathematics Education. Springer. xx+128. 978-3-030-16310-5. EUR 139.99 Abdi, M Rizal
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 2 (2024): Sejarah Lisan: Menggali Ingatan untuk Memahami Masa Kini dan Membingkai Masa De
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i22024p237-240

Abstract

Ada satu persamaan dari mata pelajaran sejarah dan matematika di sekolah-sekolah Indonesia. Keduanya kerap tidak disukai karena dipahami secara salah kaprah sebagai pelajaran penuh hafalan, dan secara spesifik keduanya terkait dengan numerik atau angka. Kendati demikian, kontribusi vital matematika dan sejarah dalam peradaban modern hampir tak terelakkan. Oleh karena itu, keberadaan buku Oral History and Mathematics Education ini menjadi istimewa sekaligus memancing ruang diskusi yang lebih luas terkait relasi kedua bidang ilmu yang berbeda klaster tersebut.
Kebijakan pemerintah kolonial dalam mengatasi tijgerplaag (wabah harimau) di Pantai Barat Sumatra (1862 – 1942) Rifai, Hanna Haris; Sunjayadi, Achmad
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 19, No 1 (2025): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v19i12025p1-20

Abstract

In the 19th and early 20th centuries tigers were considered a pest or plague (tijgerplaag) in the Dutch East Indies. One of the areas with the highest tiger population was Sumatras's Westkust (West Coast of Sumatra). This research analyzes the colonial government's efforts in dealing with tijgerplaag on the West Coast of Sumatra. This qualitative research is an environmental history research using the historical method. The results showed that the colonial government's policy to exterminate tijgerplaag on the West Coast of Sumatra was ineffective, so that the population of Sumatran tigers was still greater than Balinese and Javanese tigers at the end of the Dutch colonial period in Indonesia. In addition, the Minangkabau people had beliefs about tigers that conflicted with the colonial government's desire to exterminate the tijgerplaag. In this case, the colonial government did not make efforts to conserve the Sumatran tiger, so this animal continues to be hunted. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 harimau dianggap sebagai hama atau wabah (tijgerplaag) di Hindia Belanda. Salah satu daerah dengan populasi harimau tertinggi adalah Sumatras’s Westkust (Pantai Barat Sumatra). Penelitian ini menganalisis upaya pemerintah kolonial dalam menangani tijgerplaag di Pantai Barat Sumatra. Penelitian kualitatif ini merupakan penelitian sejarah lingkungan dengan menggunakan metode sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah kolonial untuk memusnahkan tijgerplaag di Pantai Barat Sumatra berjalan tidak efektif, sehingga populasi harimau sumatra masih lebih banyak dibandingkan harimau bali dan jawa pada akhir masa kolonial Belanda di Indonesia. Di samping itu, masyarakat Minangkabau memiliki kepercayaan tentang harimau yang bertentangan dengan keinginan pemerintah kolonial untuk memusnahkan tijgerplaag. Dalam hal ini pemerintah kolonial tidak melakukan upaya konservasi terhadap harimau sumatra, sehingga satwa ini terus diburu.
Harmonisasi sebagai Fondasi Etika Kerukunan Beragama: Studi Kasus Desa Pancasila Balun Lamongan Annisaa' Fitri Aprillia; Dewa Agung Gede Agung
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 20, No 1 (2026): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v20i12026p1-18

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis harmonisasi sosial yang menjadi fondasi etika kerukunan beragama di Desa Pancasila, Balun, Lamongan. Di tengah maraknya konflik intoleransi, Desa Balun menunjukkan anomali positif di mana umat Islam, Kristen, dan Hindu hidup berdampingan secara damai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Fondasi etika kerukunan terbentuk dari warisan sejarah tokoh Mbah Alun dan pengalaman kolektif peristiwa 1965 yang memperkuat ikatan emosional warga; (2) Etika sosial masyarakat dikembangkan berlandaskan nilai kearifan lokal seperti tepo seliro dan ajaran Tri Hita Karana; serta (3) Praktik nyata toleransi tecermin dalam partisipasi lintas agama pada ritual ibadah dan gotong royong sosial. Kesimpulannya, harmoni di Desa Balun bukan sekadar toleransi pasif, melainkan bentuk etika sosial aktif yang melembaga dalam struktur budaya masyarakat.
Proyek Kriminalisasi Kapital Perkebunan terhadap Petani di Padang Halaban, 1950-1970 Muhammad Syafiq; Zeffry Alkatiri
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 20, No 1 (2026): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v20i12026p19-40

Abstract

Artikel ini mengkaji bagaimana proyek kriminalisasi terhadap petani di Padang Halaban memfasilitasi akumulasi kapital perusahaan perkebunan. Dengan menggunakan pendekatan sejarah berbasis arsip, penelitian ini menunjukkan bahwa kriminalisasi berlangsung bertahap sejak 1940-an dan menjadi efektif pada akhir 1960-an melalui manuver birokratis, reinterpretasi hak atas tanah, manipulasi hukum, pelabelan, dan penggusuran paksa. Proses ini memulihkan kontrol perusahaan atas tanah sekaligus memungkinkan ekspansi produksi perkebunan kapitalis. Dengan menggunakan pendekatan kriminologi Marxis Linebaugh (1993), penelitian ini memaknai apa yang disebut sebagai “pendudukan ilegal” oleh (eks) kuli sebagai bentuk perlawanan terhadap pemagaran tanah, upaya melepaskan diri dari relasi kolonial, dan sarana membangun penghidupan subsisten. Kriminalisasi dengan demikian menjadi kunci bagi akumulasi kapital dan proletarianisasi petani di Padang Halaban.
The British government’s observation of Sukarno’s health condition during the Konfrontasi Era of 1964-1965 Wildan Sena Utama
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 19, No 2 (2025): Tema Alternatif dalam Historiografi Indonesia
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v19i22025p161-178

Abstract

This article investigates British diplomats in Jakarta who directly observed and gathered information from inner palace circles, other foreign diplomats, and the media about Sukarno’s health condition during the Konfrontasi era of 1964 to 1965. Given the importance of the credibility of information on Sukarno’s health, British diplomats even requested an analysis from a trusted health expert at the FO to establish a diagnosis and prognosis for Sukarno’s health condition based on the information they had compiled. Britain’s politics of observing Sukarno in late 1964 and in 1965 was related to Indonesia’s Konfrontasi policy towards Malaysia, in which Sukarno was the most influential figure in determining the direction of Konfrontasi policy. This research argues that, based on various methods of information gathering, the British Foreign Office believed that Sukarno was seriously ill amid the escalation of the Konfrontasi in late 1964 due to problems with both of his kidneys. However, they were very careful not to immediately believe the predictions that Sukarno would not live long due to the severity of his illness, and continued to gather information about Sukarno’s health, including rumours about manoeuvring within Sukarno’s inner circle over succession.
Sejarah transportasi dokar di Malang tahun 1920-1942 Siti Maisaroh; Aniek Handajani
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 19, No 2 (2025): Tema Alternatif dalam Historiografi Indonesia
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v19i22025p240-255

Abstract

Penelitian ini mengkaji mengenai sejarah “Dokar” sebagai salah satu alat transportasi tradisional era kolonial yang beroperasi di masa Gemeente Malang antara tahun 1920-1942. Penulisan ini bertujuan untuk menarasikan sejarah perkembangan dokar di Malang, serta fungsi dan desain dokar di Malang tahun 1920-1942. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah oleh Kuntowijoyo, yang menggunakan sumber-sumber dari arsip terutama koran-koran berbahasa Belanda, foto dari koleksi KITLV, dan didukung dengan buku, artikel ilmiah, dan beberapa literatur yang kredibel dengan penelitian ini. Dengan menggunakan teori pendekatan perubahan sosial, penelitian ini berhasil menunjukkan bahwa, walaupun ada banyak transportasi lain yang berkembang di Malang selain dokar namun, hingga akhir masa kolonial dokar tetap eksis dan turut mendominasi jalanan di Malang. Fokus penelitian ini mengenai sejarah transportasi dokar di Malang, mulai dari sejarah perkembangannya, fungsi dan peminat dokar di Malang, serta desain dokar di Malang pada periode tersebut.
Respon sosial terhadap bencana alam di Surakarta dan Yogyakarta, 1951–1954 Yoga Difa Perdana; Awalia Rahma; Imas Emalia
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 19, No 2 (2025): Tema Alternatif dalam Historiografi Indonesia
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v19i22025p179-191

Abstract

Penelitian ini mengkaji bencana alam di Jawa Tengah dengan fokus pada banjir di Surakarta tahun 1951–1953 dan letusan Gunung Merapi tahun 1954. Penelitian ini bertujuan untuk memahami respons sosial masyarakat, bentuk bantuan pemerintah, serta proses pemulihan sosial pascabencana. Metode yang digunakan adalah metode sejarah melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi dengan memanfaatkan surat kabar sezaman, laporan resmi, serta sumber sekunder. Pendekatan yang digunakan adalah sosiologi. Analisis diperkuat dengan teori kerentanan sosial yang menekankan bahwa dampak bencana ditentukan oleh kondisi sosial sebelum bencana terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banjir dan erupsi tidak hanya dipicu oleh faktor alam, tetapi juga oleh kerusakan lingkungan, ketimpangan tata ruang, dan keterbatasan kapasitas negara. Di sisi lain, praktik gotong royong, solidaritas sosial, dan respons negara melalui bantuan material maupun simbolik menjadi bagian penting dalam pemulihan masyarakat terdampak.
Warisan budaya Sungai Musi: Studi historis peran sungai dalam perkembangan Kota Palembang Juan Fahirza Putra; Rhoma Dwi Aria Yuliantri
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 19, No 2 (2025): Tema Alternatif dalam Historiografi Indonesia
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v19i22025p256-274

Abstract

Sungai Musi merupakan elemen vital dalam sejarah dan budaya Kota Palembang. Sungai ini tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi dan perdagangan, tetapi juga menjadi pusat peradaban, spiritualitas, dan identitas lokal sejak masa Kerajaan Sriwijaya hingga era modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara historis peran Sungai Musi dalam membentuk dinamika sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Palembang. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi pustaka, dokumentasi arsip sejarah, serta wawancara dengan tokoh lokal dan sejarawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Musi berperan sebagai penghubung utama jaringan perdagangan internasional pada masa Sriwijaya, pusat penyebaran Islam di era Kesultanan Palembang, serta ruang sosial budaya masyarakat tradisional dan kolonial. Dalam perkembangan kontemporer, Sungai Musi menghadapi tantangan degradasi lingkungan dan pergeseran fungsi sosial. Meski demikian, berbagai upaya pelestarian dan revitalisasi berbasis partisipasi masyarakat telah digagas untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya sungai ini.
Promosi kepariwisataan Kota Semarang tahun 1970-1985 dalam syair lagu Ki Nartosabdo (sebuah kajian semiotika historis) Chrisnawanto Nugroho; Irfa Rafiatuz Zukhrufin
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 19, No 2 (2025): Tema Alternatif dalam Historiografi Indonesia
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v19i22025p220-239

Abstract

ABSTRACT This study explores the promotion of Semarang City as a tourist destination between 1970-1985. The exploration is conducted through song lyrics from Ki Nartosabdo, using a historical semiotic approach. This research employs a descriptive qualitative research method with Charles Sander Peirce’s semiotic analysis to intepret the meaning embedded in song such as “Candi Baru”, “Simpang Lima Ria”, “Semarang Endah”. The analysis reveals that these lyrics not only depict the visual beauty and dynamics of the city but also reflect the relationship between nature and infrastructure, as well as the cultural values that shapes the identity of Semarang. The study finds that Ki Nartosabdo’s contributions played a significant role in the development of tourism and the local economy. This research emphasizes the importance of art in supporting tourism development in Indonesia ABSTRAK Penelitian ini mengeksplorasi promosi Kota Semarang sebagai destinasi wisata antara tahun 1970-1985. Eksplorasi ini dilakukan melalui lirik lagu dari Ki Nartosabdo, dengan pendekatan semiotika historis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan analisas semiotika Charles Sanders Peirce guna menganalisis makna dalam lagu-lagu seperti “Candi Baru”, “Simpang Lima Ria”, “Semarang Endah”. Hasil analisis menunjukkan bahwa lirik-lirik tesebut tidak hanya menggambarkan keindahan visual dan dinamika kota, tetapi juga mencerminkan hubungan antara alam dan infrastruktur serta nilai-nilai budaya yang membentuk identitas Kota Semarang. Kontribusi Ki Nartosabdo sangat berperan penting dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi lokal. Dengan demikian, karya seni ini mencerminkan dari kondisi sosial dan budaya Kota Semarang. Penelitian ini menegaskan bahwa pentingnya seni dalam mendukung pembangunan pariwisata di Indonesia
Memperebutkan warisan kolonial: Nasionalisasi taman rekreasi Selecta, Desa Tulungrejo 1942-1954 Epifania Puspo Diati Ernawan; Indah Wahyu Puji Utami
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 19, No 2 (2025): Tema Alternatif dalam Historiografi Indonesia
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v19i22025p207-219

Abstract

Taman rekreasi Selecta merupakan salah satu peninggalan pariwisata kolonial di desa Tulungrejo, Kota Batu, yang berkembang di tengah geografis dataran tinggi sejak awal abad ke-20. Kendati dikenal luas sebagai sebuah ikon wisata, proses nasionalisasi Selecta kerap terabaikan dalam historiografi sejarah lokal. Kondisi ini menunjukkan adanya celah penelitian dalam memahami dinamika perubahan sosial di bidang pariwisata kolonial desa Tulungrejo. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses nasionalisasi Taman Rekreasi Selecta dengan menggunakan Metode Sejarah yang meliputi tahap heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan tatanan sosial pada masa Pendudukan Jepang yang turut mempengaruhi dinamika manajerial dan praktek kerja dalam Taman Rekreasi Selecta. Setelah keehancurannya pada masa Agresi Militer Belanda II, masyarakat sekitar kemudian secara mandiri merekonstruksi dan mengelola kembali Taman Rekreasi Selecta, diikuti pendirian PT. Selecta pasca prosesi pembeliannya di tahun 1954.