cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sejarah dan Budaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 232 Documents
Perkembangan perkebunan swasta di Subang, Jawa Barat: P&T Lands Tahun 1812-1957 Kharimah, Ghina
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 1 (2023): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i12023p92-104

Abstract

Pamanoekan en Tjiasemlanden, or P and T Lands, is a privately held plantation corporation that was established in 1813. This article describes the development of P and T Lands from 1812 to 1957, from the establishment of the P and T Lands firm, how this plantation company worked, and how the plantation company experienced a decrease. This study uses historical research methods consisting of topic selection, heuristics, verification, interpretation, and historiography. This study found that after being purchased by British businessmen, the estates of Pamanukan and Ciasem were re-managed. During Hofland's tenure, P and T Lands, on the other hand, really gained up. Various infrastructures were constructed, and the plantation's outcomes provided the proprietors with numerous advantages. Since Peter William Hofland's death, P and T Lands has been in decline, and the company was eventually seized and passed to the Indonesian government.  P dan T Lands atau Pamanoekan en Tjiasemlanden merupakan sebuah perusahaan perkebunan milik swasta yang berdiri sejak tahun 1813. Artikel ini menjelaskan perkembangan P dan T Lands dari tahun 1812 sampai 1957, mulai dari awal berdirinya perusahaan P dan T Lands, bagaimana perusahaan perkebunan ini beroperasi, dan bagaimana perusahaan perkebunan ini mengalami kemunduran. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini menemukan bahwa tanah Pamanukan dan Ciasem mulai kembali dikelola setelah dibeli oleh pengusaha Inggris. Namun, P dan T Lands sendiri benar-benar berkembang pada masa kepemilikan Hofland. Berbagai infrastruktur dibangun dan hasil dari perkebunan yang memberikan banyak keuntungan bagi para pemilik. P dan T Lands mulai mengalami kemunduran sejak Peter William Hofland meninggal yang kemudian nantinya dinasionalisasi dan menjadi milik Pemerintah Indonesia
Kehidupan sosial budaya etnis Tionghoa di Sidoarjo pada masa kolonial Setiawan, Yunanto; Prasetyo, Yudi
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 1 (2023): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i12023p56-65

Abstract

This study aims to describe the socio-cultural life of the Chinese in Sidoarjo during Dutch colonialism. The main focus highlighted was the colonial government's policy towards Chinese descent in Sidoarjo. As well as how the Chinese descent adapts to the culture of the surrounding community, thus changing the social status of the Chinese. This study uses a historical method. This study combines literature reviews from libraries, e-journals, and field research by seeking oral sources. Oral sources are needed to strengthen or complement written sources. The results of the study explained that the policies issued by the colonial government had influenced the socio-cultural life of Chinese descent. In addition, the Western-style education received by the younger generation of Chinese has raised their status among the people. By mastering the Dutch language and dressing in a Western-style, the younger generation of Chinese is in the middle class Penelitian ini bertujuan untuk mendeskrisikan kehidupan sosial budaya etnis Tionghoa di Sidoarjo pada masa kolonialisme Belanda. Fokus utama yang disorot adalah kebijakan pemerintah kolonial terhadap orang – orang Tionghoa di Sidoarjo. Serta bagaimana orang – orang Tionghoa menyesuaikan diri dengan budaya masyarakat disekitarnya, sehingga membuat status sosial orang Tionghoa berubah. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis. Penelitian ini mengkombinasikan antara kajian literatur dari perpustakaan, e-jurnal, dan penelitian lapangan dengan mencari sumber – sumber lisan. Sumber lisan diperlukan untuk memperkuat ataupun melengkapi sumber – sumber tertulis. Hasil penelitian memaparkan bahwa kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial telah mempengaruhi kehidupan sosial-budaya orang – orang Tionghoa. Selain itu, pendidikan ala barat yang diterima oleh generasi muda Tionghoa telah mengangkat derajat mereka dikalangan masyarakat. Dengan menguasai bahasa Belanda dan berpakaian ala Barat membuat generasi muda Tionghoa berada di kelas menengah.
Dinamika usaha penangkapan ikan Pulau Sapeken 1904-1914 Nugroho, Fajar
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 1 (2023): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i12023p66-80

Abstract

Fisheries is one of the two non-agricultural sectors that played an important role in the economy of the people of Sapeken Island in the late 19th to early 20th centuries. This study aims to explain that the role of the fishing elite (owners of capital and moneylenders) succeeded in bringing the fishing business sector to fish in the direction of growth. But on the other hand, the existence of this group makes fishermen bound to the monopoly system they control. The method used in this study is the historical method, namely topic selection, heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The findings produced in this study are that the fisheries sector is a place of business for the elite group of fishermen, they control and dominate this sector starting from the provision of capital, equipment, production, and distribution of fish trade. This condition ultimately results in fishermen not being able to develop their own business network, so that the productivity of the fishing effort becomes erratic. Perikanan merupakan salahsatu dari dua sektor di luar pertanian yang memiliki peranan penting dalam perekonomian masyarakat Pulau Sapeken pada akhir abad 19 sampai awal abad ke 20, munculnya kelompok elit nelayan (pemilik modal dan pelepas uang) berhasil membawa sektor usaha penangkapan ikan ke arah pertumbuhan. Namun di sisi lain, dengan adanya kelompok tersebut membuat para nelayan menjadi terikat terhadap sistem monopoli yang dikendalikannya. Sektor perikanan menjadi tempat ladang bisnis bagi kelompok elit neleyan, mereka menguasi dan mendominiasi sektor ini mulai dari penyediaan modal, peralatan, produksi, dan distribusi perdagangan ikan. Kondisi ini pada akhirnya mengakibatkan para nelayan tidak dapat mengembangkan jaringan usahanya sendiri, sehingga produktivitas usaha penangkapan ikan menjadi tidak menentu. 
Obah trus pitung bumi: gempa bumi di Vorstenlanden 1867 Mohtar, Omar
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 1 (2023): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i12023p14-25

Abstract

This article examines about the earthquake that was shaken Java in 1867. Java is one of the areas in Indonesia that is often hit by earthquakes Shocks often occur due to tectonic activity in the confluence zone of the Indo-Australian and Eurasian Plates in the south of Java, active faults, and also volcanic activity. One of the major earthquakes that were shaken Java, occurred in 1867. To write this event, historical methods were used consisting of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. From the study conducted, the large shaking damaged many buildings in several cities in Java, especially in Vorstenlanden or Surakarta and Yogyakarta regions, and other areas around that regions. Some of the damaged buildings belonged to the Dutch East Indies government, the Surakarta Sunanate, and the Yogyakarta Sultanate The earthquake also killed many people and make severe damage.Artikel ini mengkaji tentang gempa bumi yang pernah mengguncang Jawa di tahun 1867. Pulau Jawa merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang kerap kali dilanda bencana berupa gempa bumi. Guncangan kerap terjadi karena adanya aktivitas tektonik di zona pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia di selatan Jawa, patahan atau sesar aktif, dan juga aktivitas vulkanis gunung api. Salah satu gempa besar yang pernah mengguncang Jawa terjadi pada tahun 1867. Untuk menuliskan peristiwa tersebut, digunakan metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dari kajian yang dilakukan, guncangannya yang besar membuat banyak bangunan di beberapa wilayah di Jawa khususnya Vorstenlanden atau daerah Surakarta dan Yogyakarta, serta daerah lain di sekitarnya rusak. Bangunan-bangunan yang rusak, beberapa di antaranya adalah milik pemerintah Hindia Belanda, Kasunanan Surakarta dan  Kasultanan Yogyakarta. Gempa bumi juga membuat banyak orang meninggal dunia dan menyebabkan kerugian material yang besar.
Budidaya tanaman jarak pada masa pendudukan Jepang di Karesidenan Bojonegoro tahun 1942-1945 Zufaidah, Mila; Leksana, Grace Tjandra
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 1 (2023): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i12023p81-91

Abstract

This article describes the cultivation of jatropha plant which was intensified during the Japanese occupation of the Bojonegoro Residency. Jatropha is a plant whose seeds contain oil which can be used as lubricating oil for weapons and ship engines. Therefore, the government made a strategy for planting jatropha to increase jatropha production in Bojonegoro. This raises the research question what is this historical background of the Bojonegoro Residency? How did the Japanese government implement the strategy of planting jatropha as a result of war economic policies in the Bojonegoro Residency? This research uses the historical method, which in the writing process uses primary sources in the form archives (newspaper, magazine and poster). The author found that the jatropha planting strategy from the Japanese government only increased jatropha yields by intensifying land use, making propaganda, and limiting the distribution of jatropha seeds so they would not leave the production area. Artikel ini menggambarkan budidaya tanaman jarak yang digiatkan selama pendudukan Jepang di Karesidenan Bojonegoro. Tanaman jarak merupakan tanaman yang bijinya mengandung minyak yang dapat digunakan sebagai minyak pelumas senjata dan mesin-mesin kapal. Oleh sebab itu pemerintah membuat strategi atas penanaman jarak untuk meningkatkan produksi jarak di Bojonegoro. Hal ini memunculkan pertanyaan penelitian bagaimana latar historis Karesidenan Bojonegoro? Bagaimana pemerintah Jepang mengimplementasikan strategi penanaman jarak sebagai dampak kebijakan ekonomi perang di Karesidenan Bojonegoro? Penelitian ini menggunakan metode sejarah, yang dalam proses penulisannya menggunakan sumber primer berupa arsip (surat kabar, majalah dan poster). Penulis menemukan fakta bahwa strategi penanaman jarak dari pemerintah Jepang hanya untuk melipat gandakan hasil jarak yang dilakukan dengan mengintensifkan penggunaan lahan, menciptakan propaganda, dan membatasi peredaran biji jarak agar tidak keluar dari daerah penghasilan.
Bagaimana sistem perpajakan kolonial bekerja? Saifullah, Muhammad Renaldi
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 1 (2023): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i12023p123-125

Abstract

Membicarakan sistem perpajakan tidak hanya berkutat kepada bagaimana negara mendapatkan pendapatan terbesar dari segala kegiatan perekonomian dalam wilayahnya. Tapi juga merupakan instrumen pemerintah dalam melakukan kontrol pemerintah terhadap rakyatnya, Mempertahankan hak-hak teritorial dari campur tangan luar, serta menegaskan legitimasi dan wibawa menghadapi ancaman-ancaman dari dalam (Halaman 1). Keseksian tersebut banyak menarik minat banyak peneliti untuk mengulas lebih lanjut mengenai perkembangan perpajakan masa kolonial. Salah satu peneliti yang menulis tentang perkembangan sistem perpajakan di Hindia Belanda adalah oleh Abdul Wahid dengan bukunya yang berjudul Politik Perpajakan Kolonial di Indonesia: Antara Eksploitasi dan Resistensi. Buku ini hadir sebagai upaya untuk mengisi kekosongan dalam penelitian sistem perpajakan yang berfokus kepada kajian sistem sewa pajak (revenue farming) serta penggantinya sistem perpajakan yang dikelola negara dan monopoli-monopoli negara (Halaman 18) masa kolonial Belanda.
Sejarah erupsi Semeru 1994 dan upaya penanganannya di Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang Ning Tias, Ana Ayu; Ridhoi, Ronal; Lutfi, Ismail
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 1 (2023): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i12023p26-42

Abstract

This paper aims to discuss 1994’s Semeru eruption and its aftermath, especially the history of eruption and mitigation in Pronojiwo District, Lumajang Regency. Using the history methods, as well as perusing some newspaper archives, government archives, and interviews, this paper tries to explore the new narratives of the Semeru eruption and how the indigenous faced the disaster. This paper finds out that the eruption of Mount Semeru which occurred in 1994 was one of the most devastating eruptions in its history, which caused a major impact on environmental damage, settlements, agricultural land, forestry land, livestock, and dead life. Several mitigation efforts after the disaster were done by the government in the form of building evacuation posts, alert posts, making check dams, transmigration departures, and material reliefs. These efforts were effective because the aid was distributed to the victims. However, the facts show that the community and the government were not ready to face the impact of natural hazards. Tulisan ini bertujuan membahas erupsi Semeru tahun 1994 dan akibatnya, khususnya sejarah erupsi dan penanganannya di Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang. Dengan menggunakan metode sejarah serta melakukan pembacaan mendalam terhadap beberapa arsip surat kabar, arsip pemerintah, dan wawancara, tulisan ini mencoba menggali narasi baru erupsi Gunung Semeru dan bagaimana masyarakat menghadapi bencana tersebut. Tulisan ini menunjukkan bahwa letusan Gunung Semeru yang terjadi pada Februari 1994 merupakan salah satu letusan yang paling dahsyat dalam sejarahnya, yang menimbulkan dampak besar terhadap kerusakan lingkungan, pemukiman hingga kematian penduduk. Beberapa upaya penanganan pasca bencana yang dilakukan pemerintah yaitu berupa pembangunan posko pengungsian, posko siaga, pembuatan cek dam, pemberangkatan transmigrasi, dan bantuan material. Berbagai upaya tersebut terbukti efektif, karena bantuan bencana disalurkan kepada korban. Meski demikian, fakta menunjukkan bahwa masyarakat dan pemerintah belum siap menghadapi dampak bencana alam yang datang tiba-tiba.
Bertahan hidup di masa sulit: Regentschap Pemalang masa depresi ekonomi 1930an Utomo, Ilham Nur
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 1 (2023): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i12023p1-13

Abstract

This research aimed to find out the condition of Regentschap Pemalang during the economic depression and the community's efforts to overcome the effects of the economic depression. This research used the historical method. The results of this research indicated that Regentschap Pemalang in the 1930s was an area affected by the economic depression. The establishment of sugar factories and plantations connected to international trade was one of the strong reasons for Regentschap Pemalang to become an area affected by the economic depression. The increase in unemployment and poverty during the 1930s occurred in Regentschap Pemalang due to workers’ dismissal, exacerbated by disease outbreaks and increased crime. Efforts made by the community to overcome these problems were by holding charitable activities, including charity night markets, charity football matches, and free food distribution.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi Regentschap Pemalang pada masa depresi ekonomi dan usaha masyarakat mengatasi dampak depresi ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Regentschap Pemalang pada tahun 1930-an merupakan daerah terdampak depresi ekonomi. Berdirinya pabrik gula dan perkebunan yang terkoneksi dengan perdagangan internasional menjadi salah satu alasan kuat Regentschap Pemalang menjadi daerah terdampak depresi ekonomi. Peningkatan pengangguran dan kemiskinan selama tahun 1930-an terjadi di Regentschap Pemalang karena pemecatan buruh dan diperparah oleh munculnya wabah penyakit serta peningkatan kriminalitas. Usaha yang dilakukan oleh masyarakat untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan cara menggelar kegiatan amal, di antaranya melalui pasar malam amal, pertandingan sepak bola amal, dan pembagian makanan secara gratis. 
Masyarakat Madura jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Sumberpakem, Kabupaten Jember tahun 1994-2021 Hidayah, Ibnu; Sumardi, Sumardi; Puji, Rully Putri Nirmala; Prasetyo, Guruh; Triyanto, Jefri Rieski
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 1 (2023): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i12023p43-55

Abstract

This study aims to examine: (1) The background of the formation of the Madurese Community of the GKJW Sumberpakem Congregation, Jember Regency (2) The development of the Madurese Community of the Jawi Wetan Christian Church Sumberpakem in Social and Religious Life in the 1994-2021 Period. This research uses Gottschalk's historical method. The results of this study are (1) the background of the formation of the Madurese Community of GKJW Sumberpakem congregation which began with the migration of Madurese to Sumberpakem in the 19th century. Christianity was entered into Sumberpakem by the Zending envoy Java Committee as evidenced by the baptism of the first Madurese in Sumberpakem in 1882. (2) The development of the Madurese Community of the Jawi Wetan Christian Church congregation in Sumberpakem in Social and Religious Life in the 1994-2021 period experienced developments characterized by the revival of old traditions and the emergence of social movements. Penelitian ini bertujuan mengkaji: (1) Latar belakang terbentuknya Masyarakat Madura  Jemaat GKJW Sumberpakem, Kabupaten Jember (2) Perkembangan Masyarakat Madura Jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan Sumberpakem  dalam Kehidupan Sosial dan Keagamaan Periode 1994-2021. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dari Gottschalk. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) latar belakang terbentuknya Masyarakat Madura Jemaat GKJW Sumberpakem yang dimulai dengan migrasi orang Madura ke Sumberpakem pada abad ke-19.Masuknya agama Kristen ke Sumberpakem dibawa oleh Zending utusan Java Committee yang dibuktikan dengan pembaptisan orang Madura pertama di Sumberpakem tahun 1882. (2) Perkembangan Masyarakat Madura Jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan Sumberpakem dalam Kehidupan Sosial dan Keagamaan Periode 1994-2021m engalami perkembangan yang ditandai dengan adanya tradisi-tradisi lama yang dihidupkan kembali serta munculnya gerakan sosial. 
Banjir dan upaya penanggulangannya di Mojokerto (1970an-2017) Prahardana, Muhammad Wahyu
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 2 (2023): Dinamika Ekologi di Indonesia: Sejarah, Budaya dan Permasalahannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i22023p164-182

Abstract

Sebagai daerah yang memiliki kondisi geografis dan topografi yang beragam, Mojokerto termasuk dalam kawasan yang rentan akan bencana alam. Salah satu bencana yang sering melanda daerah ini adalah banjir. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan sejarah banjir dan upaya mitigasinya secara struktural dan non-struktural di wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto. Melalui metode sejarah dengan melakukan pembacaan mendalam terhadap sumber-sumber arsip, surat kabar, foto, laporan daerah, artikel dan buku penulis berusaha untuk menarasikan peristiwa banjir di Mojokerto dengan perspektif sejarah lingkungan material. Yang mana perspektif ini menjelaskan mengenai perubahan fisik (materi) wilayah hutan, sungai dan perkotaan, baik akibat bencana banjir maupun sebelum banjir terjadi. Tulisan ini menunjukan bahwa bencana banjir di Mojokerto yang telah berlangsung sejak lama ternyata masih berlanjut hingga saat ini. Hal ini dikarenakan upaya mitigasinya yang belum maksimal. Sehingga, diperlukan suatu penanganan yang sistematis dari kerjasama antar pemerintah dan masyarakat yang bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan banjir di Mojokerto. As a region with diverse geographical and topographical conditions, Mojokerto is prone to natural disasters. One of the most common disasters in the area is flooding. This paper aims to explain the history of flooding and its structural and non-structural mitigation efforts in Mojokerto district and city. Through the historical method of conducting in-depth readings of archival sources, newspapers, photographs, regional reports, articles and books, the author attempts to narrate flood events in Mojokerto from the perspective of material environmental history. This perspective explains the physical (material) changes in forests, rivers and urban areas, both as a result of floods and before the floods occurred. This paper shows that flooding in Mojokerto, which has been going on for a long time, continues to this day. This is because the mitigation efforts have not been maximized. So, a systematic handling of cooperation between the government and the community is needed to solve the problem of flooding in Mojokerto.