cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sejarah dan Budaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 232 Documents
Reproduksi kultural dan habituasi pada masyarakat pendatang Kampung Miliarder Desa Tlobo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar Wibowo, B.Mayang Sada; Naredia, Shubuha Pilar
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 1 (2024): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i12024p106-116

Abstract

This paper aims to describe the cultural reproduction and habituation of immigrant community of the Kampung Miliarder using Bourdieu's cultural reproduction practice scheme. Data collection techniques use observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis techniques using interactive models. Data validity to ensure data validity. The results showed the practice of cultural reproduction that occurred in the immigrant community of Kampung Miliarder. To these actors are attached habitus accumulated with various capitals consisting of cultural capital, social capital, economic capital, symbolic capital. The practice of cultural reproduction results from the struggle that actors engage in with the accumulation of habitus and capital. The forms of cultural reproduction found in this study are; the process of buying and selling, symbolic violence, and gratitude. In the Kampung Miliarder of Tlobo Village, habituation is divided into; socio-cultural and socio-economic. Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan reproduksi kultural dan habituasi masyarakat pendatang Kampung Miliarder menggunakan skema praktik reproduksi kultural milik Bourdieu. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Tenik analisis data menggunakan model interaktif. Validitas data guna menjamin kebsahan data. Hasil penelitian menunjukan praktik reproduksi kultural yang terjadi pada masyarakat pendatang Kampung Miliarder. Pada aktor tersebut melekat habitus yang diakumulasikan dengan berbagai modal yang terdiri atas modal budaya, modal sosial, modal ekonomi, modal simbolik. Praktik reproduksi kultural diakibatkan oleh perjuangan yang dilakukan aktor dengan akumulasi habitus dan modal. Bentuk reproduksi kultural yang ditemukan dalam penelitian ini berupa; proses jual beli, kekerasan simbolik, dan syukuran. Pada Kampung Miliarder Desa Tlobo, habituasi terbagi menjadi; sosio-kultural dan sosio-ekonomi. 
Mitos suleten: pengaruh dalam pelestarian lingkungan DAS Bengawan Solo Huda, Khoirul; Alfahmi, Moch Nizam
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 2 (2023): Dinamika Ekologi di Indonesia: Sejarah, Budaya dan Permasalahannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i22023p246-256

Abstract

The Bengawan Solo River is the largest river on the island of Java with an area of 16,000 km. The Bengawan Solo watershed is located in two provinces, namely Central Java and East Java. The contribution of the Bengawan Solo watershed is very large in people's lives. Inappropriate waste management and people's belief in the myth of suleten are one of the problems that have an impact on environmental sustainability in the Bengawan Solo watershed area. This research discusses the myth of sulleten which is an environmental problem in communities in the upper middle area of the Bengawan Solo watershed in Madiun Regency. This research method is a qualitative descriptive method with ethnographic study. The research results show that the Suleten myth has an impact on environmental sustainability which causes flood disasters due to river overflows. Sungai Bengawan Solo menjadi sungai terbesar di pulau Jawa dengan luas 16.000 km. DAS Bengawan Solo terletak di dua provinsi yakni Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kontibusi DAS Bengawan Solo sangat besar dalam kehidupan masyarakat. Pengelolaan limbah yang kurang tepat dan kepercayaan masyarakat pada mitos suleten menjadi salah satu permasalahan yang berdampak pada kelestarian lingkungan di wilayah DAS Bengawan Solo. Penelitian ini membahas mengenai mitos suleten yang menjadi permasalahan lingkungan di masyarakat wilayah hulu tengah DAS Bengawan Solo di Kabupaten Madiun. Metode penelitian ini adalah metode dekriptif kualitatif dengan studi etnografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa mitos suleten memberikan dampak pada kelestarian lingkungan yang menyebabkan bencana banjir akibat luapan sungai.
Anco Amok: telaah historis atas peran GP Ansor dalam penumpasan PKI di Pamekasan 1965 Afghani, RP. M. Himam Awan
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 1 (2024): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i12024p90-105

Abstract

Anco Amok is a name given to the 1965 purge of PKI members in Pamekasan. Anco Amok is a term given by Chinese ethnic to remember the event. Anco Amok comes from the Madurese language, which is known as Anco Amok. From the naming of the event, it can be assumed that GP Ansor Pamekasan had a big role in the suppression of PKI in Pamekasan. The Anco Amok event involving GP Ansor Pamekasan as the main actor is described using a political sociology analysis by applying Ralph Dahrendorf's conflict theory. This research is a social history study using the historical method which in the process goes through four stages, namely heuristics, verification, interpretation, and historiography. Based on this research, the Anco Amok is closely related to the socio-political conditions that occurred in Pamekasan. The socio-political condition of Pamekasan at that time was dominated by the figure of kyai.  Anco Amok merupakan istilah bagi peristiwa penumpasan anggota PKI di Pamekasan pada tahun 1965. Anco Amok merupakan sebutan yang diberikan oleh etnis Tionghoa untuk mengingat peristiwa tersebut. Anco Amok berasal dari bahasa Madura yakni Ansor Ngamok. Dari penamaan peristiwa tersebut, dapat diduga bahwa GP Ansor Pamekasan memiliki peran besar dalam penumpasan PKI di Pamekasan. Peristiwa Anco Amok yang melibatkan GP Ansor Pamekasan sebagai pelaku utama diuraikan menggunakan pendekatan sosiologi politik dengan menerapkan teori konflik Ralph Dahrendorf. Penelitian ini merupakan kajian sejarah sosial dengan menggunakan metode sejarah yang dalam prosesnya melalui empat tahapan, yakni heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan penelitian ini, peristiwa Anco Amok sangat berkaitan dengan kondisi sosial politik yang terjadi di Pamekasan. Kondisi sosial politik Pamekasan saat itu dikuasai oleh sosok kyai.
Banjir Jambi 1955 dan redupnya peran Sungai Batanghari Kurohman, Muhamad Taofik; Rosdiana, Hilma
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 2 (2023): Dinamika Ekologi di Indonesia: Sejarah, Budaya dan Permasalahannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i22023p183-197

Abstract

The objectives of this study are to explain the history of the ecological relationship between the Jambi people and the Batanghari River, explain the changes in the ecological relationship between the Batanghari River and the Jambi people, and explain the impact of the 1955 flood in Jambi. This research was studied using primary and secondary historical sources. The method used is the historical method, through the process of heuristics, source criticism, interpretation and historiography. The biggest flood recorded and remembered in the collective memory of the Jambi people occurred in 1955 and caused many losses, 80 percent of Jambi was submerged by floods. Flooding in Jambi occurred due to ecological changes along the Batanghari Riverbank that had been going on massively since the colonial period until the Republic. Approximately 350,000 people were affected by the floods, and in some areas the flood level reached four meters. Because of this ecological damage, flooding has become an annual disaster in Jambi. Tujuan dari penelitian ini adalah, menjelaskan sejarah dan hubungan ekologis masyarakat Jambi dan Sungai Batanghari, menjelaskan perubahan hubungan ekologis Sungai Batanghari dan masyarakat Jambi, dan menjelaskan dampak dari banjir di Jambi tahun 1955. Penelitian ini dikaji dengan menggunakan sumber-sumber sejarah primer dan sekunder. Metode yang digunakan adalah metode sejarah, melalui proses heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Banjir terbesar yang tercatat dan terekam dalam memori kolektif rakyat Jambi terjadi pada tahun 1955 dan menimbulkan banyak kerugian, 80 persen wilayah Jambi terendam oleh Banjir. Banjir di Jambi terjadi karena perubahan ekologis di sepanjang bantaran Sungai Batanghari yang telah berlangsung masif sejak masa kolonial hingga Republik. Masyarakat yang terdampak banjir kurang lebih 350.000 jiwa, di beberapa daerah ketinggian banjir mencapai empat meter. Karena kerusakan ekologis itu, banjir menjadi bencana tahunan di Jambi.
Dari pedagang keliling hingga pedagang kaki lima: simbol kebertahanan rakyat kecil di Kota Semarang pada empat dekade abad ke-20 Wijayati, Putri Agus; Utomo, Cahyo Budi; Atmaja, Hamdan Tri
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 1 (2024): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i12024p1-17

Abstract

The presence of itinerant traders and street vendors who are categorized as small traders in the city of Semarang is not a problem that disturbs the order and beauty of the city. However, when their activities are carried out in areas that the gemeente views as spaces that are free from disorder and free from disorder, then both categories of traders will experience a fate that is not in their favor. The big question that is then presented in this article is, how do we understand the existence of traveling traders and street vendors from a historiographic perspective? To answer this problem, it is necessary to present as optimally as possible primary sources to present an adequate historical narrative. Kehadiran pedagang keliling dan pedagang kaki lima yang dikategorikan sebagai pedagang kecil di Kota Semarang, bukan merupakan persoalan yang mengganggu ketertiban dan keindahan kota. Namun ketika kegiatan mereka dilakukan di area-area yang oleh gemeente dipandang sebagai ruang yang bebas dari ketidakteraturan dan terbebas dari ketidaktertiban, maka kedua kategori pedagang tersebut akan mengalami nasib yang tidak berpihak pada mereka. Pertanyaan besar yang kemudian dihadirkan dalam tulisan ini adalah, bagaimana kita memahami keberadaan pedagang keliling dan pedagang kaki lima dalam perspektif historiografis? Untuk menjawab permasalahan tersebut perlu menghadirkan seoptimal mungkin sumber primer untuk menghadirkan narasi historis yang memadai.
Sejarah banjir Bekasi 1924-2002 Lutfi, Surya Zainul
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 2 (2023): Dinamika Ekologi di Indonesia: Sejarah, Budaya dan Permasalahannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i22023p257-271

Abstract

Banjir dan Bekasi sudah menjadi dua hal yang hampir mustahil dipisahkan. Sejarah mencatat banjir sudah terjadi di Bekasi sejak masa Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-5 Masehi yang dituliskan dalam Prasasti Tugu. Pada masa kolonial, banjir di Bekasi selalu melanda setiap musim penghujan tiba. Kondisi ini terus berlanjut hingga pasca Reformasi, bahkan saat ini. Seringnya banjir melanda Bekasi membuat pemerintah yang berkuasa saat itu harus menemukan cara untuk melakukan penanggulangan banjir yang melanda. Tulisan ini berusaha mendeskripsikan sejarah banjir sejak masa kolonial dan mengetahui bagaimana upaya pemerintah Bekasi dalam menangani permasalahan banjir yang sering terjadi. Penulisan artikel ini menggunakan metode sejarah dengan melakukan pembacaan mendalam berbagai sumber, seperti koran, foto, artikel dan buku. Hasil penelitian menunjukan jika banjir yang terjadi di Bekasi disebabkan oleh tingginya curah hujan, terjadinya alih fungsi lahan secara berlebihan serta ketidakmampuan pemerintah dalam melakukan pengelolaan sumber daya air. Selain itu mitigasi banjir yang dilakukan pemerintah dari masa kolonial hingga masa reformasi masih kurang maksimal. Terbukti dari banjir yang tetap terjadi hingga kini dengan intensitas yang lebih sering. Floods and Bekasi have become two things that are almost impossible to separate. History records that flooding has occurred in Bekasi since the time of the Tarumanegara Kingdom in the 5th century AD which was written in the Tugu Inscription. In colonial times, floods in Bekasi always hit every rainy season. This condition has continued until after the Reformation, even today. The frequent floods that hit Bekasi forced the government in power at that time to find a way to deal with the floods that hit. This paper attempts to describe the history of flooding since the colonial period and to find out how the Bekasi government's efforts to deal with frequent flooding problems. The writing of this article uses the historical method by doing in-depth reading of various sources, such as newspapers, photographs, articles and books. The results of the study show that the flooding that occurred in Bekasi was caused by high rainfall, excessive land conversion and the government's inability to manage water resources. In addition, flood mitigation carried out by the government from the colonial period to the reformation period was still not optimal. This is evidenced by the floods that have continued to occur to this day with more frequent intensity.
Memikirkan kembali tradisi sejarah lingkungan di Indonesia Ridhoi, Ronal
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 2 (2023): Dinamika Ekologi di Indonesia: Sejarah, Budaya dan Permasalahannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i22023p131-136

Abstract

Tulisan ini diawali dari kegelisahan terhadap minimnya wadah untuk merepresentasikan kajian sejarah lingkungan di Indonesia. Sebenarnya, sudah sejak lama kita ketahui bahwa tradisi sejarah lingkungan pada awalnya muncul di daratan Amerika sejak awal 1970 an. Hal ini dibuktikan dengan berbagai jurnal yang terbit, seperti Environmental History, Environment and History, Pacific Historical Review, dan sebagainya. Sementara Indonesia bukan tidak pernah mengenal tradisi ini, karena sejak tahun 1992 sudah ada proyek penelitian dan penulisan historiografi lingkungan yang digawangi oleh Peter Boomgaard (Profesor Sejarah Lingkungan dan Ekonomi dari Universitas Amsterdam, Belanda). Proyek ini dikenal dengan nama Economy, Demography, and Ecology in Nusantara (EDEN), yang menghasilkan salah satu produk yaitu buku Paper Landscape (Boomgaard et al., 1997). Buku ini seakan menjadi rujukan wajib ketika sejarawan Indonesia akan menulis tema sejarah lingkungan atau sejarah ekologi di Indonesia.
Perpindahan ibu kota Provinsi Jawa Timur pada masa Revolusi Kemerdekaan tahun 1945-1949 Romzy, Fatih Mohammad; Sapto, Ari
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 1 (2024): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i12024p61-77

Abstract

This study aims to try to find answers to the problems of Why did the capital city of East Java province move during the independence revolution? And what were the conditions of East Java at that time?. The research method used in this writing is the historical research method which includes topic selection, heuristics, verification, interpretation, and historiography by analyzing and interpreting archival sources, photos, newspapers, books, and articles. The results of this study indicate that the relocation of the capital city of East Java province was motivated by the intervention of the Netherlands with the outbreak of the November 10 incident in Surabaya. This resulted in the government having to be implemented outside Surabaya, so the government moved to Sepanjang (Sidoarjo), this relocation continued to other areas such as Mojokerto, Kediri, Malang, Blitar, and then returned to Surabaya after the Round Table Conference in Den Haag. Penelitian ini bertujuan untuk mencoba mencari jawaban dari permasalahan Mengapa Ibu Kota Provinsi Jawa Timur pada masa revolusi berpindah? Serta Bagaimana kondisi Jawa Timur pada masa itu?. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode penelitian sejarah yang meliputi pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi dengan menganalisis serta menginterpretasikan sumber arsip, foto, koran, buku, dan artikel. Hasil penelitian ini menunjukan bahwasannya perpindahan ibu kota provinsi Jawa Timur ini dilatarbelakangi dengan adanya intervensi dari Belanda dengan pecahnya persitiwa 10 November di Surabaya. Hal ini mengakibatkan jalannya pemerintahan harus dilaksanakan diluar Subabaya maka pemerintahan berpindah ke Sepanjang (Sidoarjo), perpindahan ini terus berlanjut ke daerah lainnya seperti Mojokerto, Kediri, Malang, Blitar, dan kemudian kembali ke Surabaya setelah Konfrensi Meja Bundar di Den Haag.
Dinamika ekologi manusia dalam toponimi Subak Gede Pulagan-Kumba Puteri, Hanna Aanisah Juliant; Astiti Laksmi, Ni Ketut Puji; Zuraidah, Zuraidah; Prihatmoko, Hedwi
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 2 (2023): Dinamika Ekologi di Indonesia: Sejarah, Budaya dan Permasalahannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i22023p198-211

Abstract

Subak Gede Pulagan-Kumba is a part of the Subak Landscape of the Pakerisan Watershed. Pakerisan Watershed area is one of the sites that belonged to the Cultural Landscape of Bali Province which has been declared as a world cultural heritage by UNESCO.  The heritage is one of the great example of human ecology dymamics that has existed for hundreds of years. This research itself aims to examine the human ecology dynamics through the toponymy of Subak Gede Pulagan-Kumba. The toponymy is studied to discover interaction between subak’s ecology and its people through human’s view as part of the ecosystem who develops culture. The data in of this qualitative descriptive research was collected by several methods such as interview, observation, and literature review. The data that has been obtained indicates the community’s empirical knowledge of the human and ecology relationship. It is embedded in the toponymy of subak, so that conservation needs to be carried out to maintain the dynamics that have been long existed.     Subak Gede Pulagan-Kumba merupakan bagian dari Kawasan Subak DAS Pakerisan. Kawasan tersebut merupakan salah satu situs yang termasuk ke dalam warisan budaya dunia Lanskap Budaya Provinsi Bali yang telah ditetapkan UNESCO. Pusaka tersebut merupakan salah satu contoh terbaik dalam menunjukkan sifat dinamis ekologi manusia yang telah terjalin ratusan tahun lamanya. Penelitian inii bertujuan untuk menelaah dinamika ekologi manusia tersebut melalui toponimi Subak Gede Pulagan-Kumba. Toponimi dikaji untuk mengetahui interaksi manusia dengan alam berdasarkan pandangan manusia sebagai bagian dari ekosistem yang mengembangkan kebudayaan. Penelitian ini sendiri merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan beberapa metode pengumpulan data diantaranya wawancara, observasi, dan studi pustaka. Data yang telah didapat memberikan hasil penelitian bahwa pengetahuan empiris masyarakat akan hubungan ekologi dengan manusia tertanam pada toponimi subak sehingga pelestarian perlu dilakukan sebagai upaya mempertahankan dinamika yang telah terjalin.  
Implementasi konsep Green History dalam pembelajaran sejarah untuk siswa MAN 1 Malang-Gondanglegi Putri, Naja Waskita
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 1 (2024): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i12024p52-60

Abstract

Green History goes beyond depicting the past, urging people to think and act for environmental sustainability. Often, history education neglects the link between human history and the environment. Data collection involved environmental observations, teacher and student interviews, and learning documentation. Findings show significant positive impacts of applying Green History at MAN 1 Malang – Gondanglegi. Students gain deeper insights into the connections between history, humanity, and the environment. Positive feedback from both students and teachers highlights Green History's role in fostering environmentally friendly attitudes and behaviors crucial for conservation. Thus, the research concludes that implementing Green History successfully broadens students' understanding of the historical-environmental relationship. Green History tidak hanya mencatat kejadian masa lalu, tetapi juga mendorong tindakan proaktif untuk menjaga kelestarian lingkungan di masa depan. Sejarah sering kali mengabaikan keterkaitan antara manusia dan lingkungan. Melalui observasi lingkungan sekolah, wawancara dengan guru dan siswa, serta dokumentasi pembelajaran, data dikumpulkan. Observasi langsung memahamkan interaksi siswa dengan materi, sementara wawancara dengan guru memberikan perspektif tentang tantangan dan kesuksesan penerapan Green History. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan konsep ini di MAN 1 Malang–Gondanglegi memberikan dampak positif. Siswa memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan antara sejarah, manusia, dan lingkungan. Respons positif dari siswa dan guru menegaskan bahwa Green History tidak hanya memberikan pengetahuan sejarah, tetapi juga menciptakan sikap dan perilaku ramah lingkungan yang krusial untuk kelestarian alam. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa penerapan Green History berhasil meluaskan pemahaman siswa tentang hubungan sejarah dan lingkungan.