cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sejarah dan Budaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 232 Documents
History has become a trump card: historical research and the climate crisis in Southeast Asia Klinken, Gerry van
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 2 (2023): Dinamika Ekologi di Indonesia: Sejarah, Budaya dan Permasalahannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i22023p272-287

Abstract

The climate crisis is above all a human crisis, not simply a technical one. Are the sciences of the humanities ready to offer intellectual leadership? This paper makes three suggestions for Indonesian historians to take a guiding role in bringing about a better, more sustainable, happier future for all Indonesians. The first is to write new kinds of histories. Material environmental histories could focus on deforestation and the petroleum industry. Cultural environmental histories could highlight traditional ecological knowledges that once flourished in villages that are today considered “backward.” The second suggestion is to engage in some of the biggest debates the country has ever had about how to achieve a more sustainable future. All these debates are really historical in nature, but only historians have the knowledge to offer a long-term perspective on them. The third suggestion is to dare to be imaginative – to dream of utopias, and not simply to report “facts” as if we ourselves were not part of them. Krisis iklim terutama sekali adalah krisis kemanusiaan, bukanlah krisis teknis. Apakah ilmu-ilmu humaniora siap memberikan kepemimpinan intelektual? Makalah ini mengajukan tiga saran bagi sejarahwan/wati Indonesia yang ingin berperan aktif menawarkan masa depan yang lebih bahagia kepada keluarga besar Indonesia. Yang pertama adalah, tulislah sejarah dalam bentuk baru. Sejarah lingkungan hidup material dapat menyoroti pembabatan hutan atau industri minyak. Sejarah LH budaya bisa fokus kepada kearifan ekologis tradisional di pedesaan dulu, tempat yang kini dianggap “terbelakang.” Saran kedua adalah: terjunlah ke dalam perdebatan paling dahsyat yang akan terdengar di Indonesia, yaitu bagaimana kita dapat mencapai masa depan yang berkelanjutan. Perdebatan ini pada intinya berpijak pada sejarah, dan hanya sejarahwan yang memiliki pengetahuan yang berwibawa untuk bicara tentang jangka panjang. Saran ketiga: beranikanlah diri untuk berimajinasi – untuk bermimpi tentang utopi, tidak hanya melaporkan “fakta” seolah kita berdiri di luar fakta itu.
Mitos orang suci dan kuasa atas alam Valiant, Raymond
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 2 (2023): Dinamika Ekologi di Indonesia: Sejarah, Budaya dan Permasalahannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i22023p137-151

Abstract

The relationship between nature and humans has given rise to various narratives not only limited to scientific knowledge formation through rationalized instrumentation but also in the form of personal experiences narrated as myths. This article examines the myths associated with the hydrosphere in which humans live, particularly regarding the role of holy men in controlling water as a natural force. The Brantas Watershed in East Java was chosen as the research area, considering that water management and agriculture activities in this river basin date since the 8th century. Specifically, two myths related to holy men's endeavors in the Brantas Watershed are analyzed in this article to show the relationship between power and nature. The research concludes that myths within our hydrosphere are closely related to socio-political changes due to the power struggle over land ownership and water governance. The involvement of holy persons within this frame was an anthropologic response towards a social-political reality that could not be rationally perceived thus making it more viable to approached within a mythological process. Hubungan alam dan manusia memunculkan berbagai narasi yang tidak hanya terbatas pada pembentukan pengetahuan ilmiah melalui suatu instrumentasi rasional, namun juga dalam bentuk pengalaman secara pribadi yang secara kolektif dinarasikan sebagai mitos. Artikel ini menelaah mitos yang berhubungan dengan hidrosfer di mana manusia hidup, khususnya mengenai peran dari orang suci dalam mengendalikan kekuatan alam. Sebagai lokasi penelitian dipilih Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas di Jawa Timur, yang sejak abad VIII telah berkembang dalam sisi pemanfaatan sumber daya air dan lahan untuk kepentingan pertanian. Dua mitos yang berhubungan dengan orang suci di dalam DAS Brantas dianalisis dalam artikel ini untuk menunjukkan relasi kuasa dengan alam. Disimpulkan, mitos yang berkaitan dengan hidrosfer erat kaitannya terhadap perubahan sosial-politik karena adanya pergeseran kekuasaan atas lahan dan air. Pelibatan orang sakti merupakan respon antropologis terhadap realitas sosial-politik yang tidak dapat ditanggapi secara rasional sehingga didekati melalui sebuah proses mitologisasi.
Suara yang terlupakan: memori kolektif para pendukung Konferensi Asia Afrika tahun 1955 Dien, Zukhrufa Ken Satya; Sunarti, Linda
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 1 (2024): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i12024p38-51

Abstract

The Asian-African Conference was an international conference held on April 18-24, 1955 in Bandung. The conference produced the Ten Principles of Bandung, the emergence of independent countries, and the implementation of other international activities. These results were a sign that the conference was successfully held. However, this success meant that only the elite were recognized and written about, unlike the local people who helped make the conference a success. This study found that local people helped make the Asian-African Conference a success. This study uses historical research methods and uses an oral history approach. The results of this study show that the success of the Asian-African Conference was inseparable from the undocumented role of the little people or local communities. The local people involved were selected in various ways, namely through the selection of private parties, or invited by the 2nd party. The involvement of local people in the success of the conference was based on their abilities and expertise. Konferensi Asia Afrika merupakan konferensi tingkat internasional yang diadakan pada 18-24 April 1955 di Bandung. Konferensi tersebut menghasilkan Dasasila Bandung, kemunculan negara yang merdeka, dan terlaksananya kegiatan internasional lainnya. Hasil tersebut menjadi sebuah tanda bahwa konferensi tersebut berhasil terlaksana. Namun, keberhasilan tersebut menyebabkan hanya orang-orang kalangan elit saja yang dikenal dan dituliskan, tidak seperti masyarakat lokal yang membantu menyukseskan konferensi tersebut. Studi ini menemukan bahwa masyarakat local membantu menyukseskan Konferensi Asia Afrika. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dan menggunakan pendekatan sejarah lisan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan Konferensi Asia Afrika tidak terlepas dari peran orang kecil atau masyarakat lokal yang tidak terdokumentasikan. Masyarakat lokal yang terlibat dipilih dengan berbagai cara, yaitu melalui pemilihan pihak swasta, maupun diajak oleh pihak ke-2. Keterlibatan masyarakat lokal dalam keberhasilan konferensi berdasarkan kemampuan dan keahlian yang mereka miliki.
Pemulihan kerusakan lingkungan pertanian pasca gempa bumi 2006 di Daerah Istimewa Yogyakarta Fernandi, Muhammad Farhan; Santoso, Fajar; Maghfiroh, Nurul
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 2 (2023): Dinamika Ekologi di Indonesia: Sejarah, Budaya dan Permasalahannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i22023p212-231

Abstract

The earthquake that struck Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) on March 27, 2006, was considered one of the major earthquakes in Indonesia. The 5.9 magnitude earthquake had a major impact on infrastructure damage, leading to several casualties and environmental damage to farmers. This article poses the following research questions: (1) how the earthquake impacted, (2) how the earthquake affected the agricultural sector, and (3) how the environmental damage in the agricultural sector is being mitigated. This research uses historical research methods. The research found that firstly, the earthquake had damaged city infrastructure, economic infrastructure, and the death toll. The second is that 2,080 agricultural farmers have been killed and 17,605 agricultural infrastructure has been destroyed.  The last, disaster response actions in the agricultural sector are divided into three phases: rescue (1-3 months), recovery which is divided into a rehabilitation and reconstruction program lasting 4-6 months and the final stage, normalization, which takes 7-12 months. Gempa bumi yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 27 Maret 2006 merupakan salah satu gempa besar di Indonesia. Gempa dengan kekuatan 5,9 SR itu memiliki dampak besar terhadap kerusakan infrastruktur, menimbulkan korban jiwa, dan kerusakan lingkungan yang dialami oleh petani. Artikel ini telah mengajukan pertanyaan penelitian yaitu: (1) bagaimana dampak gempa bumi? (2) bagaimana dampak gempa di sektor pertanian? (3) bagaimana upaya penanganan terhadap kerusakan lingkungan di sektor pertanian? Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah. Hasil penelitian yang didapat yaitu Pertama, gempa bumi telah menyebabkan kerusakan infrastruktur kota, infrastruktur ekonomi, dan korban jiwa. Kedua, menyebabkan 2.080 masyarakat pertanian meninggal dan 17.605 fasilitas pertanian rusak. Ketiga, aksi tanggap bencana pada sektor pertanian dibagi ke dalam tiga tahap yakni rescue (1-3 bulan), recovery yang dibagi dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi selama 4-6 bulan serta tahap akhir yakni normalisasi yang membutuhkan waktu 7-12 bulan.
Sebuah Ulasan: Civilisatie/Syphilisatie; Penyakit Kelamin di Jawa 1814-1942 Hartanto, Iman Dwi
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 1 (2024): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i12024p117-120

Abstract

Penulisan sejarah kesehatan yang seringkali ditemui mayoritas berkutat pada asal-usul penyakit, perkembangannya, penyebaran penyakit, dan diakhiri dengan penyelesaian atau proses penyembuhan dari penyakit. Akan tetapi dalam buku Civilisatie/Syphilisatie; Penyakit Kelamin di Jawa 1814-1942, karya Gani A. Jaelani ini bisa dibilang tidak sesuai dengan ‘norma’ tersebut. Hal ini terjadi tidak lain karena penulisnya hen­­dak memperlihatkan bahwa penulisan sejarah kesehatan, utamanya penyakit kelamin, dapat membicarakan secara spesifik mengenai sejarah wacana dari penyakit itu sendiri atau sederhananya membicarakan sejarah bagaimana persepsi setiap kelompok memandang penyakit tersebut di masa lalu.
Melihat banjir di Surabaya dari sudut pandang sejarah Suryanullah, Ahmad Sholehuddin
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 2 (2023): Dinamika Ekologi di Indonesia: Sejarah, Budaya dan Permasalahannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i22023p288-291

Abstract

Kata “banjir” bagi masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi, banyak peristiwa banjir pada akhir-akhir ini, yang mana terjadi karena beberapa faktor, mulai dari kondisi alam dan manusianya. Kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya sudah mengalami permasalahan banjir sejak periode Kolonial, hal itu terjadi karena meningkatnya air laut, eksploitasi hutan, sedimentasi sungai, demografi yang tidak stabil, dan penimbunan wilayah resapan air. Sarkawi B. Husain dalam buku ini menelusuri latar belakang wilayah Kota Surabaya, faktor-faktor penyebab banjir, peristiwa terjadinya banjir, permasalahan demografi serta lingkungan, dan upaya untuk mengendalikan. Buku ini diangkat dari disertasinya di Universitas Gadjah Mada pada 2016.
Tradisi lisan bencana alam di Gunung Telomoyo: studi awal Sasi, Galuh Ambar; Setiyono, Nabella Angellita; Anggoro, Juhan Abel; Wulandari, Sahesti Sri; Uropmabin, Deden
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 2 (2023): Dinamika Ekologi di Indonesia: Sejarah, Budaya dan Permasalahannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i22023p152-163

Abstract

Indonesia is rich in oral traditions. One of them is about natural disasters. Unfortunately, these traditions are often considered non-historical.  As a result, local people's awareness of disasters is low. In this regard, this paper attempts to revisit oral traditions about natural disasters on Mount Telomoyo, the most hospitable mountain in Central Java. Using the corpus analysis method of oral tradition research data, we make three findings. Firstly, natural disasters that occur on Mount Telomoyo are volcanic eruptions, landslides, earthquakes, cold lava and flash floods. These disasters are present in babad or oral history stories, literary works in the form of orally transmitted songs, ceremonies, prayers, knowledge about the village landscape, tax documents, local advice, folklore, and historical gossip. Second, natural disasters as a marker of the transition of power and the balance of the cosmos caused by behavioural deviations. Third, the oral tradition of natural disasters in Mount Telomoyo also represents knowledge about the path of earthquakes.  Indonesia kaya akan tradisi lisan. Salah satunya adalah tentang bencana alam. Sayangnya, tradisi tersebut kerap kali dianggap bukan sejarah.  Akibatnya, kesadaran masyarakat lokal terhadap bencana pun rendah. Sehubungan dengan hal tersebut, tulisan ini mencoba mengkaji kembali tradisi lisan tentang bencana alam Gunung Telomoyo, gunung yang dianggap paling ramah di Jawa Tengah. Dengan menggunakan metode analisis korpus data penelitian tradisi lisan, kami menghasilkan tiga temuan. Pertama, bencana alam yang terjadi di Gunung Telomoyo adalah letusan gunung berapi, tanah longsor, gempa bumi, lahar dingin, dan banjir bandang. Bencana-bencana ini hadir dalam babad atau cerita sejarah lisan, karya sastra dalam bentuk nyanyian yang diwariskan secara lisan, upacara, doa, pengetahuan tentang lanskap desa, dokumen pajak, petuah-petuah lokal, cerita rakyat, dan gosip sejarah. Kedua, bencana alam sebagai penanda peralihan kekuasaan dan keseimbangan kosmos yang disebabkan oleh penyimpangan perilaku. Ketiga, tradisi lisan bencana alam Telomoyo juga merepresentasikan pengetahuan tentang jalur terjadinya gempa.
Cultuurstelsel kopi Mandailing: antara aroma, derita kerja paksa, dan jalan raya Sugandi, Rafid; Hakim, Lukmanul; Erasiah, Erasiah
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 1 (2024): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i12024p78-89

Abstract

This research reveals the history of Cultuurstelsel in Mandailing. The problems are the history of Cultuurstelsel, the practice of forced labor, and the construction of roads. The method used is the historical method. The stages of the historical method are source collection, source criticism, interpretation, and writing. The results showed that the coffee Cultuurstelsel (forced planting system) in Mandailing began in 1841 AD. The Mandailing coffee forced planting system is successful and dominates the world market. Mandailing coffee is the best quality coffee in the world. It is exported to America and Europe. The forced planting of Mandailing coffee and the delivery of coffee from Mandailing to Natal caused many residents to suffer, especially the laborers (coffee transporters). To speed up and multiply the slow coffee transportation, the Natal roadway was built, which was inaugurated by Van Swieten in March 1851 AD. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan Cultuurstelsel di Mandailing. Permasalahannya ialah sejarah Cultuurstelsel, praktik kerja paksa, dan pembangunan jalan raya. Metode yang digunakan adalah metode sejarah. Tahapan metode sejarah yaitu pengumpulan sumber, kritik sumber, penafsiran dan penulisan. Hasil penelitian menunjukkan Cultuurstelsel (sistem tanam paksa) kopi di Mandailing telah dimulai pada 1841 M. Sistem tanam paksa kopi Mandailing berhasil dan merajai komoditi ekspor pasar dunia terutama, Amerika dan Eropa. Kopi Mandailing “Mandheling Coffee” dinobatkan sebagai kopi dengan kualitas terbaik di dunia. Dalam prosesnya kopi dari Mandailing diangkut ke pelabuhan Natal, Padang, dan ke Eropa. Eksploitasi manusia secara paksa selama tanam paksa kopi Mandailing dan pengiriman kopi dari Mandailing ke Natal menyebabkan banyak penduduk yang menderita, terutama para buruh (pengangkut kopi). Oleh karena itu, untuk mempercepat dan memperbanyak pengangkutan kopi sebelumnya berjalan lambat, maka dibangunlah jalan raya Natal (penghubung dari Mandailing ke Natal) yang diresmikan oleh Van Swieten pada bulan Maret 1851 M.
Jejak sejarah program adiwiyata di Indonesia (2006-2022): dampak dan keterkaitannya dengan agenda global tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) Saputra, Mochammad Ronaldy Aji
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 2 (2023): Dinamika Ekologi di Indonesia: Sejarah, Budaya dan Permasalahannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i22023p232-245

Abstract

This research aims to determine the development of the Adiwiyata Program in Indonesia in 2006-2022 and identify its impact and relationship to the SDGs through historical research. This research uses document analysis methods. The analysis results show that the Adiwiyata Program experienced significant development from 2006-2022. From initially focusing on school environmental management, into a holistic platform that encourages the active participation of students and the community in environmental management and sustainable development. This program is developing and experiencing 3 phases. 2006-2011 can be said to be the initial period of the first developments because implementation was only limited to certain provinces. In 2012-2015, it was a period of growth. Then in 2016-2022, there will be widespread implementation of sustainable development. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan Program Adiwiyata di Indonesia pada 2006-2022 dan mengidentifikasi dampak serta hubungannya terhadap SDGs melalui penelitian sejarah. Penelitian ini menggunakan metode analisis dokumen. Hasil analisis menunjukkan bahwa Program Adiwiyata mengalami perkembangan yang signifikan dari tahun 2006-2022. Dari awalnya berfokus pada pengelolaan lingkungan sekolah menjadi platform holistik yang mendorong partisipasi peserta didik dan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Program ini mengalami perkembangan dan mengalami 3 fase. Pada tahun 2006-2011 dapat dikatakan sebagai periode awal mula perkembangan pertama karena implementasinya hanya terbatas pada provinsi tertentu. Pada tahun 2012-2015 yaitu periode pertumbuhan. Kemudian pada tahun 2016-2022 implementasi luas terhadap pembangunan berkelanjutan.
Lumajang: Dari Praaksara Hingga Awal Kemerdekaan (Ulasan Buku) Yuniarta, Aldilla Dinda
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 1 (2024): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i12024p121-127

Abstract

Lumajang tergolong kedalam wilayah penting yang sudah eksis sejak masa praaksara, sayangnya minim sekali sumber - sumber sejarah Lumajang yang dapat ditemukan sehingga fakta - fakta sejarah yang selama ini beredar di masyarakat tidak dapat dipastikan kevalidannya. Minimnya sumber sejarah mengenai wilayah Lumajang ternyata cukup menjadi permasalahan terutama bagi para peneliti. Untuk mengatasi permasalahan - permasalahan yang ada dan untuk meluruskan fakta sejarah mengenai Lumajang, pihak Pemerintah Kabupaten Lumajang bekerja sama dengan Sri Margana, dkk untuk menuliskan buku tentang sejarah Lumajang yang berjudul “Lumajang : Dari Praaksara Hingga Awal Kemerdekaan” secara mendetail yang disertai dengan sumber - sumber valid. Bukuini mendeskripsikan secara rinci mengenai wilayah Kabupaten Lumajang sejak abad ke-13 hingga masa awal kemerdekaan. Adapun isu – isu permasalahan yang diangkat dalam buku ini cukup kompleks, yakni meliputi masalah politik, ekonomi, sosial dan budaya wilayah Lumajang dari masa Praaksara hingga awal Kemerdekaan. Buku ini berhasil menjawab pertanyaan - pertanyaan masyarakat mengenai sejarah Lumajang. Buku ini juga berhasil meluruskan fakta - fakta sejarah dengan menggunakan berbagai macam sumber yang dapat dipertanggung jawabkan kevalidannya. Buku ini cocok digunakan untuk akademisi, penggemar sejarah lokal, atau pembaca umum yang tertarik pada topik kesejarahan.